% Nilai Pendidikan
9) Kerendahan hati
Rendah hati diartikan sebagai sikap pribadi seseorang mengakui keadaan diri dengan jujur, tidak menggunakan kesombongan dan
meningkatkan kesadaran diri sendiri untuk memperbaiki kearah yang lebih baik. Selain itu kerendahan hati juga digambarkan dengan pandangan diri sama dengan orang lain tanpa adanya perbedaan dalam hal apapun seperti kutipan-kutipan berikut.
Pakaiannya yang compang-camping, tidak layak apabila digunakan oleh raja, nama yang sudah ganti menjadi Gusti Pinesti/Panesti membuatnya tidak dikenal oleh orang-orang yang dulu mengenali dirinya (LGP, 4)
Kutipan di atas menunjukkan sikap kerendahan hati yang dimliki seorang raja. Walaupun R. Rana Wijaya dulunya seorang raja, yang dulunya seorang raja ia mau dan tidak malu menggunakan pakaian compang-camping tanpa mempermasalahkan latar belakangnya.
Meskipun jauh dan syarat layak untuk dihuni. Nyai Sariti seorang janda utusan raja Mataram bersama kakaknya yakni Kyai Jalumampang tinggal di dalam hutan untuk menunggu hutan perbatasan antara wilayah kekuasaan Mataram dan tanah Perdikan (Tanah yang dibebaskan pajak oleh raja) Mangir (LSN, 20)
Sikap rendah hati yang ada pada kutipan di atas bisa dilihat dari sikap Nyai Sariti, ia tetap mau tinggal di hutan dengan fasilitas seadanya. Walaupun sebelumnya Nyai Sariti berasal dari kerajaan Mataram yang biasa hidup dengan serba ada. Namun, dia diutus untuk menjaga hutan bersama kakaknya.
"syukurlah, terima kasih Pak Wongso. Semoga kebaikanmu bisa mendatangkan berkah" kata Bekel Atmorejo (AUBM, 28) Ungkapan di atas merupakan sebuah bukti kerendahan hati yang dimiliki oleh Bekel Atmorejo. Sebagai seorang lurah atau pimpinan bagi masyarakatnya ia tetap mempunyai kerendahan hati untuk mengucapkan terimakasih atas suatu kebaikan yang sudah diberikan orang lain kepadanya.
Saat itu Raden Mas Murtejo membuka mata setelah bertapa beberapa hari. Di sana dia melihat aktivitas warga yang tidak terlalu banyak sambil tersenyum. Warga desa yang ramah selalu menyapa siapa pun yang datang termasuk Raden Mas Murtejo.
Mbah Setro Karyo si pemilik tanah yang sedang bercocoktanam bahan pangan untuk di jual (AUPPS, 16)
Kalimat di atas merupakan bukti sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh Raden Mas Muretjo kepada rakyatnya. Walaupun ia adalah seorang putra mahkota kerajaan Raden Mas Murtejo tetap ramah dan rendah hati kepada masyarakat sekitar. Selalu menyapa siapa pun merupakan cerminan sikap rendah hati seseorang.
10) Integritas
Integritas adalah sebuah sikap keteguhan dari hati sekaligus konsistensi terhadap sesuatu. Hal ini sangat lekat dengan moral terutama kejujuran pada diri seseorang. Sikap ini juga berkaitan erat dengan berpikir, berkata dan berperilaku dalam setiap kesempatan.
Mempunyai sikap integritas yang baik biasanya memiliki sadar diri yang tinggi, simpati dan empati yang baik, tatanan emosional yang stabil, sekaligus membuat seorang individu menjadi lebih bijaksana.
Berikut data yang ditemukan terkait dengan integritas.
Resi Mahameru lalu bercerita mengenai keadaan Majapahit, hal ini membuat Sang Resi tersinggung tentang keyakinan yang dianutnya. Karena, dalam ajarannya suatu keyakinan tidak boleh dipaksakan (LGP, 4)
Pada kutipan di atas menunjukkan tentang sikap integritas yang dimiliki Sang Resi Mahameru. Hal tersebut dibuktikan oleh pemikirannya bahwa sebuah sebuah keyakinan atau kepercayaan yang dianut seseorang tidak bisa dipaksakan. Karena meyakini memeluk sebuah agama itu berasal dari kepercayaan hati nurani seseorang.
Sikap integritas ini adalah contoh seseorang yang berintegritas tinggi pada ideologinya.
"Nyi, kekeringan sedang melanda desa, semua sawah mulai kekeringan, apa tidak lebih baik kita mengalirkan air dari sendang ini ke sawah-sawah warga?" tanya Kyai Jalumampang (LSN, 20)
Integritas yang ada pada kalimat di atas ditunjukkan oleh sikap Nyai Sariti yang berusaha mencari jalan keluar untuk bencana kekeringan yang sedang melanda rakyatnya. Hal tersebut membuktikan integritas Nyai Sariti kepada rakyat dan daerahnya untuk keluar dari keterpurukan. Hal ini menjadi sebuah sikap integritas seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Atmorejo menjadi seorang yang sangat disegani. Namun karena adanya tekanan dari atasannya (pemerintah Belanda) dia juga sering bertindak kejam. Kekejaman bekel Atmorejo bukan asli wataknya tetapi karena pengaruh pekerjaannya saat itu. Bila bekel Atmorejo tidak patuh terhadap atasannya maka ia akan dihukum dan diberhentikan dari pekerjaannya (AUBM, 26) Pada masa pemerintahan Belanda memang banyak pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan kekerasan. Salah satunya pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Atmorejo, ia terkenal dengan kekejamannya karena kepatuhan dan tekanan yang ia peroleh dari atasan yakni pemerintah Belanda. Sikap tersebut menjadi sebuah bukti sikap integritasnya kepada pekerjaan dan pimpinannya.
B. Pembahasan
Folklor yang terdapat di Kabupaten Bantul merupakan sebagai salah satu wujud warisan budaya yang di dalamnya terdapat banyak nilai-nilai kehidupan maupun kompleksitas wujud budayanya. Isi folklor di Kabupaten Bantul mayoritas menceritakan tentang perjuangan orang terdahulu. Cerita-cerita ini diperoleh dari narasumber yang benar-benar mengetahui setiap cerita yang dikaji. Pada penelitian ini ada enam folklor yang dikaji dari Kabupaten Bantul antara lain: Asal Usul Bukit Panguk, Legenda Gua Payaman, Kisah Ratu Malang, Asal Usul Pantai Pandansimo, Legenda Sendang Nggembel Sebagai Sumber Mata Air, dan
Asal Usul Bakda Mangiran. Alasan peneliti memilih judul- judul folklor tersebut diambil dari alur cerita dan hasil penggambaran tokoh- tokoh dalam masing-masing folklor.
Permasalahan yang dibahas dari penelitian ini berkaitan dengan nilai pendidikan karakter, kompleksitas ide, kompleksitas aktivitas dan kompleksitas hasil, dengan kajian antropologi sastra. Tujuan dari analisis folklor Kabupaten Bantul ini tentunya dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar siswa SMP maupuan SMA, karena di dalamnya terdapat banyak nilai pendidikan karakter yang sangat penting dimiliki oleh para pelajar di tengah perkembangan teknologi yang secara tidak langsung dapat mengikis karakter dalam diri anak jika tidak digunakan dengan bijak, selanjutnya wujud budaya berupa kompleksitas ide, kompleksitas aktivitas dan kompleksitas hasil digunakan sebagai wujud pelestarian peninggalan terdahulu berbentuk folklor agar tidak hilang karena perkembangan zaman. Pembahasan dari data-data yang diperoleh dari kutipan folklor dalam penelitian ini berdasarkan teori yang dikemukakan oleh pakar pada bidang masing-masing dan penelitian relevan yang mempunyai hubungan dengan penelitian ini. Berikut pembahasan penelitian nilai pendidikan karakter dan wujud budaya pada folklor di Kabupaten Bantul.