Teoderikus Bimo Koordinator Tim Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya
“Sekarang satu-satunya cara yang kita lakukan bukan dengan menyerah tidak melakukan apapun, melainkan kita harus jaga produktivitas kita agar dalam situasi seperti ini kita produktif namun aman dari Covid-19, sehingga diperlukan tatanan yang baru”. Demikian yang disampaikan Juru Bicara Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam keterangan pers di Graha BNPD, Kamis 28 Mei 2020 sebagaimana dikutip oleh media online tirto.id. Seiring pernyataan tersebut, masyarakat mengenal istilah new normal atau kenormalan baru atau sebagaimana disebut Achmad Yurianto sebagai tatanan baru.
New normal atau kenormalan baru atau beberapa ada yang menyebut tatanan baru merupakan frasa yang belakangan ini sering kita baca atau dengar,
baik itu dari infografis berita di media sosial, headline surat kabar harian, artikel-artikel di media daring, website resmi instansi pemerintahan atau bahkan obrolan daring di grup-grup chat.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan new normal? Sebagaimana disebutkan oleh ahli bahasa Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat dari Universitas Indonesia sebagaimana dilansir oleh detiknews.com “Badan bahasa sudah memberikan istilah Indonesianya yaitu Kenormalan Baru. Kata normal sebetulnya dalam bahasa Inggris sudah dijadikan nomina padanannya menjadi kenormalan. Karena kalau normal itu adjektiva kata sifat, jadi Kenormalan Baru.”
Dapat kita simpulkan bahwa kenormalan baru merupakan situasi yang kita ciptakan sebagai upaya untuk menyesuaikan diri pada suatu tantangan yang dihadapi masyarakat. Dalam konteks kenormalan baru di masa pandemi Covid-19 berarti kita diajak untuk beradaptasi pada kebiasaan-kebiasaan baru yang mendukung upaya bersama untuk menghambat persebaran virus corona atau dari sudut pandang lain untuk mengurangi jumlah pasien positif Covid-19 namun juga masih dapat melakukan aktivitas sosial ekonomi.
Beberapa kebiasaan baru dalam kaitan dengan kenormalan baru untuk mencegah persebaran virus corona antara lain; penggunaan hand sanitizer, kebiasaan cuci tangan, dan penggunaan masker selama bepergian dan beraktivitas di luar ruangan. Kebiasaan-kebiasaan ini bagi sebagian kita mungkin bukanlah kebiasaan baru, seperti kita ketahui bahwa sebagian dari kita sudah memiliki kebiasaan menyediakan hand sanitizer di tasnya, mencuci tangan sebelum maupun setelah beraktivitas, dan membawa serta menggunakan masker bahkan jauh sebelum virus corona menyebar. Kalau hendak kita renungkan bersama, sebenarnya kebiasaan-kebiasaan itu mengajak kita untuk hidup lebih bersih dan sehat lagi dari sebelumnya. Sebagaimana perihal etika bersin maupun batuk yang sempat muncul di awal masa pandemi ini. Etika ini mengajak kita menggunakan siku tangan untuk menutup area hidung dan mulut ketika bersin ataupun batuk, dengan maksud untuk menghindari persebaran
Lalu apakah kenormalan baru benar-benar merupakan hal baru bagi kita? Mari kita lihat kembali di masa lampau. Black Death atau kematian hitam, di mana wabah pes pertama kali mengguncang dunia pada abad ke-14, sekitar 50 juta penduduk atau 60% dari populasi penduduk Eropa tewas karena wabah ini. Wabah ini pun pernah melanda Indonesia di jaman Hindia Belanda (sumber: historia. id). Hal ini mengakibatkan berkurangnya jumlah tenaga kerja secara ekstrim di Eropa. Pasca wabah black death ini disepakati kenormalan baru di Eropa dengan menaikkan upah dan meningkatkan kepedulian terhadap kelayakan kondisi kerja (sumber: narasinewsroom).
Adapun wabah Flu Spanyol yang terjadi di tahun 1918 yang merenggut 50-100 juta jiwa (menurut penelitian Nial Johnson dan Juergen Mueller) sebagaimana dikutip oleh historia.id. Adapun kenormalan baru yang muncul setelah wabah flu Spanyol ini adalah larangan untuk meludah sembarangan di tempat umum, hal ini dilakukan karena virus ini dinilai dapat menular melalui cairan dari mulut, selain itu mulai juga muncul gerakan untuk menggunakan masker di tempat umum sebagaimana dikutip oleh narasinewsroom.
Pun seperti yang pernah dialami seluruh penduduk dunia ketika tragedi pengeboman World Trade Center di Amerika Serikat pada 9 November 2001 atau yang dikenal masyarakat luas sebagai tragedi 9/11. Tragedi tersebut memunculkan kenormalan baru yang kita rasakan bersama. Setiap kita hendak memasuki mall selalu ada pemeriksaan ketat, kendaraan kita diperiksa, tas kita diperiksa, kita harus melewati gerbang metal detector, di setiap bandar udara pun kita berhadapan dengan pemeriksaan yang lebih ketat lagi. Hal itu terjadi demi menekan ruang gerak pelaku teror.
Sementara itu kenormalan baru di masa pandemi di Indonesia diatur oleh pemerintah melalui pedoman yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) dan Surat Edaran Kementerian Kesehatan yang beberapa di antaranya mengenai pembentukan tim penanganan Covid-19 di tempat kerja, penerapan prosedur pengukuran suhu badan di setiap pintu masuk dan pengaturan waktu kerja agar tidak panjang (sumber: www.cnnindonesia.com). Seperti Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/528/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada situasi Pandemi 2020 sebagaimana coba diterjemahkan oleh merdeka.com melalui infografis. Dalam surat keputusan tersebut kita diajak untuk tidak memperlakukan kasus positif corona sebagai suatu stigma negatif, hal ini supaya kita menciptakan atmosfir masyarakat yang baik dan saling mendukung. Pun dalam surat keputusan yang sama, para pengusaha dan pekerja diminta untuk meniadakan lembur dan shift ketiga (waktu kerja yang dimulai pada malam hingga pagi hari), hal ini supaya pekerja masih memiliki waktu yang cukup untuk istirahat sehingga kesehatan dan sistem imunnya dapat terjaga dengan baik. Pun dalam surat keputusan yang sama, kita diajak untuk rajin mencuci tangan setiap saat, hal ini tentu untuk mengurangi penularan virus melalui tangan yang menyentuh banyak benda di tempat kerja maupun di tempat umum.
Sebagaimana kita lihat di beberapa point yang ada pada surat Keputusan Kementerian Kesehatan (Kepmenkes) tersebut, sejatinya mengajak kita untuk lebih peduli lagi terhadap sesama dan lingkungan sekitar kita, supaya lingkungan kita dapat terjaga kebersihannya. Menurut hemat saya, justru ini menjadi momentum berharga bagi kita untuk menunjukkan keprihatinan kita terhadap kehidupan antarumat manusia, yang mau untuk saling peduli, mau untuk saling mengasihi lewat aksi-aksi kita dalam kehidupan sehari-hari. Aksi-aksi kecil yang kita penuhi dengan rasa kasih terhadap kehidupan umat manusia. Aksi-aksi kecil seperti berbagi porsi makanan kepada orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi, seperti mengurangi jam kerja pada pekerja-pekerja yang bekerja di toko atau perusahaan, seperti menyediakan kran untuk cuci tangan beserta sabun cuci tangannya, seperti berbagi masker gratis untuk orang-orang yang membutuhkan atau yang tidak bisa membeli karena kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mampu, atau bahkan mungkin menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang terpaksa dirumahkan pada masa pandemi seperti sekarang ini.
Aksi kasih kita tidak menuntut skala yang besar atau kecil, karena toh perbuatan baik kita tidak untuk diperlombakan mana yang paling besar atau mana yang paling kecil, mana yang lebih dahulu melakukan atau mana yang terlambat melakukan. Aksi kasih kita menjadi baik bila kita melibatkan segenap kasih dalam hati kita. Semoga Tuhan Memberkati.
Kabupaten Pacitan terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur. Berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di Utara, Kabupaten Trenggalek di Timur, Samudera Hindia di Selatan, serta Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) di barat. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Luas wilayah 1.389,87 kilo meter persegi, Total jumlah jiwa kurang lebih 728.049 jiwa. Jumlah umat Katolik di Pacitan jumlahnya tidak sampai 300 jiwa.
Terkait dengan pandemi Covid-19; Pacitan memiliki perkembangan kasus yang unik. Penyebaran kasusnya cukup terlambat. Selain disebabkan klaster-klaster utama (klaster Sukolilo Surabaya
dan Temboro Magetan) ; pola penyebarannya juga didapati dengan pola klaster-klaster baru yang diduga bersumber dari para carrier (OTG) yang massif pulang kampung. Rata-rata mereka dari kota-kota besar yang wilayahnya terpapar cukup serius yang kemudian pulang kampung dalam rangka lebaran atau memang di kota sudah tidak bisa bertahan karena krisis ekonomi.
Menanggapi pandemi Covid-19, umat Stasi Pacitan menjalankan aksi kemanusiaan dalam wadah Karina Segoberkat dengan basecamp di Gereja Santo Fransiksus Xaverius. Bersama komunitas kemanusiaan Sor Asbes (SA) yang dikoordinir Kristanto Waluyo, Karina Segoberkat membentuk ‘wadah’ bernama Komporsiyum yang merupakan akronim dari Komunitas Para Orang Koplak yang Suka Bikin
Opini
RD. Sabas Kusnugroho Romo Stasi Fransiskus Xaverius, Pacitan