RD. Albertus Widya Rahmadi Putra
Romo Kepala Paroki Santa Maria, Jombang
Dunia yang Berubah
Nama virus SARS-CoV-2 agak sulit untuk diingat dan diucapkan secara spontan. Tetapi kita tahu bahwa dialah virus penyebab wabah Covid-19. Siapa menyangka bahwa dunia bisa berubah karena mahkluk super kecil, rapuh, dan lemah dengan sebutan corona? Sejatinya rapuh dan lemah karena di luar tubuh air sabun adalah musuh utamanya. Nyatanya kehadiran virus ini telah mengubah dunia. Hampir semua aspek kehidupan terdampak oleh kehadirannya: kesehatan, ekonomi, politik, sosial budaya, dan agama. Kecepatan dan kemudahan penyebarannya membuat banyak pihak tergagap karena tak siap menghadapinya. Banyak hal yang dulu kita anggap normal, kini menjadi tidak pasti. Cara kita berelasi, bagaimana kita bekerja –belajar– atau berdoa, cara kita bepergian, mengungkapkan dan mengelola perasaan, bahkan kesempatan kita untuk merayakan Ekaristi. Semua berubah. Bahkan bagi para penderita yang langsung terkena, kematian pun harus dialami dalam kesendirian atau tatap mata dan doa dari kejauhan.
Seorang kawan pekan lalu bertanya: “Mengapa Tuhan diam saja meskipun banyak orang sudah dan terus berdoa? Tak bisakah pandemi ini segera diakhiri dan kita semua hidup ‘normal’ kembali?” Kawan ini memang sedang gelisah. Mau menyalahkan Tuhan, tak punya alasan. Ingin meneruskan laku kehidupan seperti biasa, asa ditelan ketakutan.
Kegelisahan ini tampaknya mewakili perasaan banyak orang lainnya. Tak sedikit yang putus asa karena langsung terkena dampak pandemi. Persis di titik inilah terbersit tanya: “Sikap macam apa yang selayaknya diambil orang beriman di tengah pandemi yang tak jelas kapan akan berhenti?”
Sikap dalam Iman
Sikap iman lahir dari relasi manusia dengan Allah dan gambaran yang dimiliki tentang-Nya. Dalam Kitab Mazmur, para penulis memandang Allah sebagai
Sang Pencipta & Penyelenggara kehidupan, Penebus & Penyelamat dari kehancuran, serta Pemberi segala anugerah. Relasi mereka diikat dalam perjanjian dengan Allah. Hiduplah baik di hadapan Allah. Berkat akan tercurah. Sebaliknya, bersiaplah menerima kutuk (derita) bila hidup jauh dari perintah dan kehendak-Nya. Sikap hidup keseharian ditempa dalam keyakinan akan adanya berkat atau kutuk dari Allah sebagai ganjaran.
Di hadapan gambaran Allah semacam ini, kerapkali dalam doa para pemazmur terungkap dua sikap dasar: memuji atau mengeluh. Dua sikap dasar ini
merangkum reaksi mereka atas aneka peristiwa kehidupan yang dialami.
Keagungan dan kebaikan Allah yang dihayati, direnungkan, dan bahkan kemudian dirayakan dalam ibadat, mendorong pemazmur secara spontan mengungkapkan pujian. Berkat mata iman, tatkala melihat keindahan ciptaan, penulis mazmur berseru: “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mazmur 8:2). Kali lain saat malapetaka dapat dilewati batin mereka pun bersorak dan memuji: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2). Atas kesetiaan Allah yang menyelenggarakan kehidupan, senandung pujian mereka lantunkan: “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya.” (Mazmur 136:1).
Namun tak selamanya situasi hidup berjalan seperti diinginkan. Bencana alam, wabah atau penyakit bisa melanda. Kemalangan perang pun menyiksa. Siapa pun bisa terkena dan menderita. Inilah persoalan dasar bagi pemazmur pada masanya. Bagaimana mungkin Allah, sumber segala kebaikan, membiarkan semua itu terjadi pada diri umat-Nya. Berhadapan dengan peristiwa yang mengancam kehidupan, tak jarang pemazmur menyampaikan keluhan. “Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.” (Mazmur 69:4). Dalam kesakitan pemazmur mengeluh: “Kasihanilah
Keluhan tanda Kepercayaan
Covid-19 bukanlah satu-satunya wabah yang pernah terjadi dalam sejarah manusia. Situasi penderitaan yang mengancam kehidupan juga pernah dialami para penulis Kitab Mazmur. Dalam konteks hidup mereka, selain perang, bencana alam adalah ancaman bagi kehidupan. Bencana alam itu bisa datang dalam rupa kemarau panjang, serangan belalang, atau wabah penyakit. Semuanya mengancam kehidupan. Wajarlah dalam pemikiran tentang berkat dan kutuk, mereka mengeluh dan bertanya: “Mengapa derita sakit, perang, atau kelaparan Kau timpakan juga kepada umat-Mu yang setia?”
Mazmur 6:2-6 dapat menjadi contoh inspirasi bahwa keluhan orang beriman bukanlah sikap dan tanda keputusasaan. Sebaliknya, sikap dan tanda kepercayaan.
2) Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.
3) Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,
4) dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?
5) Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.
6) Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?
Mazmur ini disusun oleh seorang yang tampaknya sedang sakit keras. Dalam konteks jamannya, ia memandang penyakit sebagai hukuman dari Allah yang tidak dimengertinya. Maka ia menyapa nama Tuhan. Ia memohon belas kasihan dalam doa agar dijauhkan dari hukuman (ayat 2-4). Ia serukan keluhan dalam tangisan, betapa penderitaannya tak lagi tertahankan. Daya pun telah hilang dari mata dan hati (ayat 7-8). Bahkan ia merasa akan segera mati. Karena itu permohonan diajukan: “kembalilah.. luputkanlah.. selamatkanlah..”. Ia percaya bahwa Allah akan bertindak menyelamatkan berdasarkan kasih setia-Nya (ayat 5-6). Ia pun menegaskan keyakinan imannya, bahwa Tuhan (akan) mengabulkan permohonannya. Tinggal menunggu waktunya. Keadilan Tuhan akan ditegakkan dan para musuh-Nya akan mendapat malu (ayat 9-11).
Bagaimana Kita Bersikap pada Kondisi Normal Baru
Sudah hampir 3 bulan kita semua mengalami pandemi Covid-19. Segala perasaan muncul dan tercampur hingga tersimpul pada pertanyaan: “Kapan kita bisa hidup normal kembali?”. Banyak orang merasa bosan, kuatir, atau takut. Diam di rumah mungkin dapat membuat orang terhindar dari kematian akibat virus. Tapi kelaparan akibat berhentinya pemasukan adalah ancaman lain atas kehidupan. Godaannya; peduli amat dengan segala macam aturan. Kalau memang sudah waktunya... pasrah dan percaya saja.
Tentu ini bukanlah sikap yang tepat bagi seorang beriman. Percaya kepada penyelenggaraan Allah tak berarti bisa ambil sikap gegabah. Mengabaikan segala
protokol kesehatan di tengah wabah yang belum berhenti tak beda dengan mengabaikan kehendak Allah dan mencari mati sendiri. Seperti nasehat Santo Paulus: “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” (Roma 13:1-2).
Ajakan pemerintah untuk hidup dalam pola normal baru adalah tanda harapan, bukan kepasrahan. Setapak lebih maju dalam perspektif iman, kita tak lagi berpikir tentang berkat atau kutuk sebagai ganjaran dalam relasi dengan Allah. Wabah bukanlah hukuman. Wabah tak pernah pula memilih mangsa, menyasar pendosa dan melewati orang yang banyak berdoa. Wabah ini menghampiri kita semua. Kita pun rentan terkena, tanpa hak istimewa.
Allah berbicara dan menyapa kita lewat banyak cara. Lewat pengetahuan dan budi yang bisa memilah informasi. Lewat anjuran para ahli yang giat mencari solusi. Lewat beragam gerak solidaritas pada para korban pandemi. Juga lewat anjuran untuk berani meneruskan kehidupan dalam pola normal baru. Itulah jalan-jalan keselamatan yang ditawarkan Allah kepada manusia beriman di tengah pandemi ini.
Dunia kita memang tak lagi sama seperti sebelum Desember 2019. Ada tambahan warga baru bernama virus corona. Dunia berubah, kita pun mesti berubah jika ingin terhindar dari wabah. Bersama gerak para ahli yang sedang mencari solusi, setiap pribadi bisa berpartisipasi. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak,tak meludah sembarangan adalah sebagian contoh keterlibatan pribadi yang bisa dilakukan. Seraya tetap berdoa, bentuk kenormalan baru mesti dihidupi. Normal baru bukanlah seperangkat norma dan aturan. Normal baru adalah komitmen dan kesediaan, praksis untuk hidup dengan kebiasaan baru demi kebaikan bersama. Inilah bentuk sikap iman, terlibat bersama Allah yang senantiasa mau menyelamatkan.