• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPALA BPSDM DAN PMDDTT KEMENDES PDTT RI (JAJANG ABDULLAH, S.Pd, M.Si.):

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 39-48)

Berjenjang Pak.

F-PD (drh. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Berapa?

Karena kami bicara 35 ribu profesional, tidak ada jenjang di sini. Maksud saya, jangan bikin terminologi, dulu tidak ada istilah ini. Jangan kami Bapak, ini sudah lama saya amati, Bapak itu sudah, 1 ini sudah tidak bermitra tapi membuat kebodohan-kebodohan, itu yang bikin kami marah. Bapak bilang berjenjang, oke, silakan jenjangnya, penjelasan profesional 35 ribu orang, karena disini ada kata profesional. Bicara professional, ada standar ya toh? Kalau saya bagi 35 ribu dengan 1.6 triliun, hanya 45 juta 1 orang. Even 45 juta dibagi 12 bulan berapa, kurang lebih sekitar di bawah 4 juta, profesional apa? Bapak jangan bikin kami tambah …, saya sudah cape, dulu Pak Sekjen, dulu di situ, tapi semakin Bapak ngelabui kami, di situ marah begituloh, seolah-olah kami ini kalau Bapak anggap ini ya tidak lulus SD sebetulnya. Bapak bikin profesional, dulu kayak tidak ada kata profesional, bagaimana Bapak profesional hanya bicara 3 ribu sekian. Tolong dong, jangan seolah-olah Bapak mengelabui kami itu sebetulnya saya sudah tidak perduli. Kenapa tidak perduli? Ya memang di sini kok yang lain-lain itu, BUMDes 50 tidak ada nothing itu, makanya saya tidak pernah bicara masalah

BUMDes, bicara ini, miliar tetapi mohon maaf, betul saya sih, Ibu Restu tadi keras, di sini banyak pertanyaan memang di sini. Bayangkan Pak dulu kan saya bilang sama Sekjen waktu dia, oke sekarang dengan struktur badan di badan, dulu Dirjen Pemberdayaan Masyarakat, terminologinya juga sebetulnya.

Yang ke dua, terminologi gaji juga tidak benar, gaji itu adalah Pegawai Negeri Tetap, sedangkan katakanlah pegawai tidak tetap bukan gaji, honor, ya kan? Jadi tolong juga bapak jangan membuat kita ini membuat suatu kata-kata yang kita akhirnya seolah-olah dibodoh-bodohi. Itu saja sebetulnya Pak, sudah tidak ada mitranya, tidak ada berpengertian, semakin hari Bapak sudahlah, tidak perduli itu. Tolong itu saja sebetulnya, saya sudah capek sebetulnya, tidak tertarik sebenarnya tetapi ini apa, tambah kata profesional ya.

Pak, kita ini sama lulus SD Pak, sama lulus SD, sama-sama birokrat, saya juga di birokrat, paham betul saya, istilahnya ngono yo ngono ning ojo ngonolah. Saya marah banget tadi itu Mbak, oh kaget juga saya, masih ada yang lebih keras, lebih marah dari Pak Jhoni Allen begituloh. Ya mungkin dia sudah menjaga untuk KPA itu satu, dan saya akan tetap mendamping dan ini saya minta Pak Sekjen, dulu anda di sini tidak pernah ada, saya minta khusus katakanlah Sumatera Utara, kayak apa sih sistemnya, yang berjenjang berapa orang di dapil saya Sumatera Utara, kok itu saja. Bapak lihat semua, semua uraian kerja Bapak agak sedikit lebih terarah, BUMDes agak terarah detailnya, dari tahun ke tahun ini tidak pernah terarah. Contoh kenapa tidak terarah? Rp1,6 triliun, saya hanya masuk di sini saja, saya tidak perduli dengan yang lain. Oke, Bapak tidak sebutkan penyebarannya 35 ribu di mana performance-nya. Kenapa, ada apa ini begituloh dari dulu begini, yang lain contoh, Balai ini ada, BUMDes ada, ini tidak pernah anu. Per provinsi, berapa per orang, daerah kabupaten, berapa penyebaran anggarannya, sesuai dengan kata Bapak tadi berjenjang, hanya begitu doang ini Bapak, gaji …(suara tidak jelas).. padahal anggaran Bapak di situ hampir 60%, tapi tidak ada sedih. Begini saja, dari dulu, dulu pemberdayaan masyarakat, penyebarannya katakanlah Sumatera Utara, dari Sumatera Utara oke sekian Kabupaten/Kota, terjelek per provinsi, kalau tidak bisa, masa tidak bisa, sedangkan pendamping itukan ada di kabupaten, masa tidak bisa? Dan itukan sudah menjadi rutinitas. Betul.

Jadi oleh karena itu Pimpinan, khusus ini kalau BUMDes apalah, desa wisata segala macam, tidak ada apa-apanya sebetulnya juga dari nilai masyarakatnya silakanlah, tapi ini dulu kita sudah ada, kok tidak bisa sih ya teman-teman dulu kok bicara kemitraan kok tidak bisa terwujud, itu satu. Yang ke dua, saya dapat informasi walaupun itu informasi itu bisa tidak benar. Ini hati-hati ini, kalau ini bisa kita bikin Panja ini. Bahwa sudah di-SK-kan untuk 5 tahun. Kalau itu terjadi berarti Bapak melanggar Undang-Undang. Wong namanya ini saja sekarang dia itu outsourcing kok, apalagi yang begini,

maksimal itu hanya sekian per 6 bulan, per tahun. Jadi sudah tidak bisa. Hati-hatilah Pak, ini bisa kita angkat kalau betul-betul ada sekalian sampai per 5 tahun, ini ada apa? Tidak ada, melanggar. Mudah-mudahan itu informasi itu tidak benar.

Oleh karena itu Pak Jajang, saya mengertilah. Satu saja himbauan saya mau tidak Bapak bermitra, saya sampaikan ke agreement. Itu dari awal kok, kita sudah dulu dengan teman-teman juga, ya mohon maaf bukan saya itu, sudah bang, itu teman-teman yang lain keluhannya. Apa sih sulitnya?

Pak, bayangkan di kampung saya sendiri, masa tenaga pendamping saja tidak boleh kenal. Di kampung saya, di desa saya, di kabupaten, ini apa ini? Ini juga teman-teman yang lain yang ngono yo ngono ning ojo ngonolah. Di kampung saya sendiri, kabupaten Bapak saya lahir, kabupaten Ibu saya lahir, masa saya tidak tahu di sini, bahkan Lurah Desanya pun ada disitu Adik saya, Kepala Desa, Pegawai Negeri, ini-ini ya kan? Walaupun tetapi ya kontennya begitu, karena apa? Ya itu yang saya bilang tadi oleh Pak Dewo ini, entah dicekokin apa, saya bilang jangan begitulah. Boleh-boleh saja, tetapi harus ada standar umumlah, bahwa ada standar-standar spesial ya tapi jangan juga spesial tidak memperdulikan etika.

Pak Sekjen, ya begituloh dan dulu kita kan lama berdebat ini, karena sampean dulu disitu sebelum Pak Jajang waktu masih di striminologinya Dirjen yang sekarang badan. Itu saja keluhan-keluhan teman-teman, yang lain itu BUMDes, Desa Wisata, tidak seberapa itu kok. Secara nilainya juga kalau saya terus terang saja ya daripada menyebar BUMDes sekian, lebih bagus tertentu tapi tumbuh, crit-crit-crit-crit, bablas angine, ngapain begitu? Ada yang sudah bagus, itu dikembangkan titik-titik itu, itu silakanlah walaupun dari anggaran tidak.

Itu saja saya kira. Jadi terus terang saja karena saya agak kaget walaupun sebetulnya itu sudah saya rasakan ya, tapi apakah Bapak mau tutup kuping terus? Ya terserahlah, masa, Pak Irjen, Ibu, Ibu secara anggaran dengan pagu sebetulnya tidak terlalu potong. Saya mengertilah, tapi paling tidak bikin telaahanlah, saya mengerti Ibu juga tidak bisa terlalu banyak berbuat apa-apa, tapi paling tidak bikin telaahan staf kalaupun Ibu staf daripada Ratas Eselon I kan? Kan begitu kira-kira ya kan? Masa Ibu juga tidak capek kupingnya dengar, dengar yang benar begitu. Kecuali kalau dengar yang salah Ibu jawab sekarang. Ibu tantang begitu loh kalau memang pertanyaan-pertanyaan kita sangat tidak masuk akal, tantang dong, saya mentatang eksekutif, pernah saya tantang dulu, legislatif waktu saya di DKI karena apa? Tidak masuk akal, karena saya lebih mengerti rumah saya. Boleh anda Pengawas Legislatif, tapi jangan dong anda mengerti tapi keluar dari koridor-koridor normative, itu saja. Jadi semuanya bicara soal kemitraan dan bahkan sudah pernah terjadi kementerian sebelumnya, sampai walk out sampai terjadi begitu. Apa mesti terjadi begitu, kan bagus, apalagi ini

struktural, sahabat semua ini, sahabat semua ini, orang-orang lama semua, itu saja. Masa sih gara-gara kemitraan ini tidak bisa dibangun, kemitraan dia mengertilah, pahamlah begituloh, tidak jadi bagi rata.

Saya kira itu saja pointnya Pimpinan, saya tidak mau perdalam. Ya, Pak Sekjen sama Ibu Irjen sudah tahu betul itu, kalian mau follow up syukur, kalau kalian tidak follow up, ya monggo saja begini terus nanti, begini terus, tidak ininya.

Matur nuwun.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan. Niat saya niat baik. Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Pak Hamka silakan. F-PDIP (SRI RAHAYU):

Saya izin juga Pak. KETUA RAPAT:

Oh Bu Sri, ya Bu Sri dulu. F-PDIP (SRI RAHAYU):

Terima kasih Pimpinan.

Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota serta Para Dirjen dan jajaran dari Kemendes.

Saya ringan-ringan saja.

Yang pertama adalah evaluasi terkait dengan Pendamping Pak. Pendamping ini harapannya kan mampu memberikan pendampingan terhadap bagaimana penyusunan program di desa adanya dana desa, kemudian bagaimana memberikan pelaporan sekaligus membantu pengawasannya seperti apa. Tetapi dalam kenyataannya, ada yang Pendamping itu tugasnya membantu membuat laporan, dalam arti bagaimana

baiknya begitu sajalah intinya. Artinya, bisa juga dikatakan itu tidak benar begitu, ada juga yang seperti itu. Ada juga yang apapun yang takut ini, apapun yang dikatakan Kepala Desa ikut saja.

Nah oleh karena itu, hal-hal semacam ini kalau mau melakukan Inspeksi jangan bilang di desa-desa itu. Kalau Inspeksinya bilang-bilang ya tidak ada gunanya begitu, pasti baik-baik saja semuanya. Ya itu menjadi penting, sehingga perlu adanya evaluasi terhadap Pendamping Desa karena memang kenyataannya seperti itu. Kita bukan mengada-ngada Pak ini, bukan mengada-ngada tapi realitanya seperti itu.

Kemudian yang ke dua, saya ingin menyampaikan dengan Inspektorat ya ini tadi? Sekjen, Kesekjenan, Sekretariat Jenderal. Pak, saya tidak paham yang ada di dalam halaman 8 paparan Bapak, persentase penurunan jumlah complaint stakeholder terhadap layanan pengadaan barang dan jasa itu 65%. Bayangan saya dalam pikiran saya kalau semakin tinggi itu berarti komplainnya semakin banyak persentasenya, tapi kalau semakin turun itu berarti komplainnya semakin sedikit. Nah ini yang complaint 65%. Artinya, kalau dilogikakan itu 65% itu masih lebih dari 50%. Artinya, banyak yang complaint. Di Tahun 2022 itu komplainnya banyak jumlah. Kenapa saya tanyakan? Karena berbanding bukan lurus ini, berbanding terbalik itu, karena di dalam, kalau saya perhatikan saya baca dari indikator-indikator yang ada ini, regulasinya bagus. Ada yang 100% targetnya, kemudian persentase penanganan hukumnya juga bagus, informasi publiknya juga bagus 95%, kemudian nilai kinerjanya atas pelaksanaan rencana kerja juga bagus 85%. Artinya dengan baik-baik inikan berarti komplainnya menurun, tetapi kenapa masih 65%, tolong nanti saya diberikan penjelasan.

Kemudian yang ke dua, saya tidak banyak, seperti yang disampaikan tadi, tadi sudah disampaikan banyak. Hanya saja di dalam realisasi atau Realisasi Anggaran per ini ya ada evaluasi Tahun 2021, kemudian dibandingkan dengan juga sama persis yang Tahun 2022 ininya, nomenklaturnya itu sama persis. Yang ingin saya pertanyakan apa sih sebenarnya yang Bapak harapkan ini di Kemendes ini desa yang ke depan itu seperti apa? Karena kalau kita lihat misalnya dari model peningkatan daya saing dari apa? Program-program yang Bapak misalkan desa menjadi ini-ini, jumlahnya itu sedikit begitu. Kalau setiap tahun hanya beberapa desa, misalnya desa cerdas saja 1.000 per tahun, berapa tahun akan menjadi cerdas semua begitu kan? Inikan 74 ribu desa itu lebih. Artinya, dalam jangka waktu 74 tahun, bagaimana dengan nanti 2045 begitu. Saya minta penjelasan Pak terkait dengan hal ini. Kenapa saya minta penjelasan? Kalau tahu secara persis apa ujungnya itu, berarti kita bisa melihat bagaimana dengan penggunaan dana desanya, arahnya ke mana. Kemudian, program-program dari Kemendes, bagaimana bisa menyatukan sehingga tujuan yang digariskan itu semuanya tercapai, karena harapan kita bahwa ke depan ini desa adalah menjadi indikator dari kemajuan sebuah bangsa atau sebuah

negara khususnya di Republik Indonesia ini, dengan Desa itu maju, Desa Indonesia akan maju, kemudian Indonesia juga akan berdaulat. Oleh karena ini betul-betul harus menyatu dengan apa yang menjadi program kementerian pedesaan dengan Undang-Undang Desa, kemudian muncul Dana Desa, ini juga harus menyatu, arahnya harus sama, ujungnya sama, sehingga akan tercapai apa yang diharapkan oleh negara.

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Pak Hamka silakan, 5 menit ya. F-PG (Drs. HAMKA B. KADY, MS.):

Terima kasih Pimpinan.

Ya mudah-mudahan saya tidak terlalu lama, karena saya juga baru datang, baru selesai juga di Banggar, ini masih di Banggar masih berlangsung juga.

Pak Sekjen dan Para Eselon I yang hadir pada hari ini dan seluruh jajarannya yang saya hormati.

Pertama, saya ingin memberikan satu ingatan kembali apa yang saya sampaikan pada saat Rapat Kerja dengan Menteri dan Pak Ketua juga yang pimpin rapat pada hari ini juga menyampaikan bahwa tema RKP Pemerintah itu adalah pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Nah saya belum terlalu membaca banyak mengenai program kerja mengarah kesana atau tidak di mana letak reformasi pemulihan ekonominya dan di mana letak reformasi strukturalnya? Itu menjadi catatan Bapak-bapak dan Ibu semuanya.

Yang ke dua, memang Kementerian Desa ini agak sulit kita mengevaluasi dengan cakupan kerja yang luas dengan anggaran yang cuma 3 koma sekian T, makanya harus fokus kita. Saya ambil contoh misalnya Inspektorat Jenderal, tentu hanya mengawasi APBN dan Kinerja Kementerian dan mungkin tidak bisa masuk pada Dana Desa. Nah itu berarti bahwa memang ada kesulitan-kesulitan teknis di dalam implementasi output dan outcome dari Bapak-bapak semuanya dan Ibu.

Contoh yang ke dua, BUMDes. Tadi sudah disampaikan, saya di ruangan ini sama-sama juga, kita melahirkan BUMDes di sini, tapi tidak berarti bahwa yang dominan itu adalah bantuan dari Kementerian, ini perlu kita pahami semua. Kenapa? Karena Kementerian Desa itu membantu

BUMDes itu hanya stimulan saja. Kita tidak bisa samaratakan 74 ribu, saya paham itu, karena dana desa itupun bisa dijadikan modal. Kalau semakin besar volume usahanya, kan ada dana desa bisa dimanfaatkan sesuai dengan Undang-Undang. Yang saya inginkan di sini adalah pengawasan terhadap Badan Usaha Milik Desa. Yang selanjutnya adalah seluruh program yang sedikit, sedikit, sedikit itu semua hanya semacam stimulan saja, tetapi bukan berarti bahwa kita harus dengan stimulan yang ada itu kita tinggal diam melihat itu. Banyak sebenarnya yang harus kita lakukan. Makanya ke depan saya belum melihat secara detail banget mengenai program ini. Karena ini masih pendahuluan sifatnya, saya berharap Pak Sekjen di dalam reformasi struktural yang saya sebutkan tadi itu tolong ditunjukan. Apakah itu berada di sumber daya manusia, ataukah dibawa-bawa ataukah di desa? Itu yang ingin saya sampaikan.

Kemudian yang selanjutnya adalah mengenai sistem 1 data di desa. Mungkin tugasnya dari apa namanya ini, Badan Pengembangan dan Informasi Desa. Apa yang Bapak sudah lakukan sebenarnya di dalam pengembangan sistem informasi ini? Dan apakah Bapak menggunakan dana Kementerian itu untuk melakukan pendataan 1 data juga di bawah? Setahu saya, desa itu melakukan pendataan 1 data yang mengarahkan kepada SDGs, itu ada anggarannya tersendiri dari dana desa. Mudah-mudahan tidak ada double penggunaan dananya. Ini yang saya takutkan ini. Kan semua desa itu saya sudah pantau utamanya di dapil saya, Pak. Kepala Desa itu mengeluarkan uang untuk mengumpulkan data, mengarah kepada satu data. Mudah-mudahan dalam kerjaan Bapak dalam pengembangan sistem informasi ini, apakah ter-cover di situ di dalam anggaran ini atau tidak, ataukah jangan sampai terjadi overlapping di situ. Ini sebenarnya ini bagus. Kalau kita sudah ketemukan data 1 desa itu yang 1 data karena basisnya 1 data, semua bantuan sosial itu bisa tepat sasaran. Bagaimana peran Bapak di dalam merampungkan 1 data? Jadi tidak ke mana-mana, hanya dari desa itu saja menjadi data seluruh Indonesia.

Saya kira itu saja yang bisa saya sampaikan Pak Sekjen dan seluruh Dirjen yang hadir. Reformasi Struktural jangan melihat like and dislike kepada orang, jangan mengutamakan perketemanan dan sebagainya, lihat proporsional dan profesionalisme dari orang.

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Selanjutnya Pak Sukamto terakhir ya.

Saya ingatkan ya waktunya, jam 1 selesai kita. F-P.NASDEM (ROBERTH ROUW):

Ya berarti saya masih ada 20 menit ya? Ya terima kasih Pimpinan.

Saya langsung Pimpinan. Saya yang pertama, saya melihat anggaran BPSDM yang Pagu Anggaran 2022 itu sebanyak Rp1,8 sekian miliar ya. Lalu untuk membayar gaji tenaga pendamping profesional yang jumlahnya 35 orang, itu dihabiskan sebesar Rp1,576 miliar ya? Ini saya kira dari Pagu Anggaran ini habis ini duitnya untuk bayar gaji pegawai profesional ini pendamping ini. Jadi kalau dipotong 1,57 sekian dengan 1,804 ya Bapak sudah tidak usah lagi bikin program-program yang lain, sudah habis programnya, cuman untuk itu saja program Bapak yang utama.

Yang berikut, saya mohon penjelasan Pak. Ini Rp1,5 miliar apa Rp15 miliar, apa Rp1,5 triliun ini? Soalnya kalau Rp1,5 miliar Pak kita bagi dengan 35 ribu orang, itu gajinya berapa? Berarti 1 orang itu 45 ribu 42 rupiah ya kalau saya bagi itu? Realistis tidak itu Pak, kalau kita, ya? Triliun ya? Oh iya. KETUA RAPAT:

Dalam ribuan, tapi sudah dijelaskan itu. F-P.NASDEM (ROBERTH ROUW):

Soalnya saya baru datang, saya bingung saya baca ini, saya bingung soalnya. Kalau triliun ya masuk akal-lah, kalau ini ya bingung saya ini darimana bayar orang cuman 45 ini saku makan 1 hari habis itu.

Yang berikut ini saya kira, saya fokus di tenaga, peran tenaga pendamping professional ini. Saya kira harus ada evaluasi apakah dengan kehadirannya tenaga pendamping ini manfaat atau guna daripada mereka ini yang didapat itu apa ya kan? Apakah mereka masih diperlukan lagi, ya kan? Karena kan mereka ini pendamping untuk memberikan suatu pengetahuan agar 4 desa itu lebih bisa lebih baik ke depan. Kalau sudah baik, sudah inikan tidak perlu itu Pak, tidak perlu ada lagi dana pendamping ini ya kan? Karena terus terang ya kita bicara politik Pak, kami curiga sebagai Politikus saya ini ya kan jangan-jangan Kementerian programnya ikut bermain politik di dalam disini. Jadi inipun harus jelas karena kami kontrol ini pun susah, kami tidak tahu perekrutannya bagaimana kami ini, siapa saja mereka ini, latar belakangnya ada dan seperti apa ininya. Jadi harus ada suatu penjelasan Pak mereka ini sampai kapan ya kan? Apakah sudah tidak diperlukan apa

memang harus diperlukan terus keberadaan mereka ini? Supaya jangan sampai ini dipakai untuk berpolitik. Jadi mohon penjelasannya, Pak.

Yang berikut, mungkin saya lihat ini juga di Jayapura ada program 450 orang yang akan dilatih di bidang BUMDes Pak, Desa Wisata dan Calon Transmigran. Ini akan diadakan dimana saja Pak? Dan apakah program ini akan melibatkan kami sebagai Anggota Dewan yang punya dapil ini Pak? Tolong dijelaskan Pak. Itu, saya kira tidak banyak, Ketua. Itu saja yang ingin saya berikan tanggapan dan penjelasan.

Terima kasih Pimpinan. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Roberth.

Terakhir, Pak Sukamto virtual. Silakan Pak Sukamto. Ya silakan Pak.

F-PKB (H. SUKAMTO, S.H.): Baik.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Pimpinan dan Bapak-bapak Anggota Komisi V yang sangat saya hormati, Pak Sekjen, Pak Irjen yang saya hormati,

Hadirin dan Hadirat sekalian.

Sedikit saya ingin menyampaikan, hanya beberapa menit saja Pak. Yang pertama, apa yang disampaikan saudara kita Pak Dewo dari Semarang tadi memang semuanya benar. Untuk itu, saya hanya mengusulkan, bagaimana untuk pengadaan pendamping itu dibicarakan yang sebaik-baiknya lagi dengan kita atau perlu kita membuat Panja Pak. Karena pendamping memang sangat masih kita perlukan tapi harus se-efektif mungkin bagaimana cara perekrutan dan semuanya dengan kerja-kerja apa harus jelas. Tidak hanya silaturahmi seperti yang dikatakan oleh Pak Dewo itu saja tidak, tetapi justru karena walaupun dengan Anggota Komisi V seolah tidak kenal.

Yang ke dua Pak, sedikit kami menyinggung apa yang disampaikan oleh salah satu Anggota Dewan kemarin bahwa ada kembali Anggota Transmigran ke asalnya. Ini tidak hanya di Jawa Timur saja, sudah tidak punya apa-apa, kembali ke daerahnya. Ini karena sangat sulitnya di sana

Pak, kami melihat bahwa disana banyak sekali mengalami kesulitan-kesulitan. Jalannya tidak ada, jalannya rusak, pasarnya jauh, kalau belanja

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 39-48)

Dokumen terkait