• Tidak ada hasil yang ditemukan

WAKIL KETUA (SYARIF ABDULLAH ALKADRIE): Terima kasih

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 48-52)

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh. Dari Meja Pimpinan.

Silakan Pak Syarif.

WAKIL KETUA (SYARIF ABDULLAH ALKADRIE): Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Pimpinan beserta Anggota Komisi yang saya hormati,

Pak Sekjen, Kepala Pengembangan SDM, Inspektorat Jenderal, Kepala Badan Pengembangan dan Informasi.

Ini semuanya sudah definitif? Semua, tiga-tiga? Oh. Ya cepat definitifkan Pak, dikejar, sudah lama itu Plt.-Plt.

Pertama, berkaitan dengan pemerintahan desa. Filosofinya bentuknya kementerian ini, ini kan dalam rangka untuk mempercepat proses pembangunan di desa. Artinya, bagaimana masyarakat desa yang sekian besar masyarakat itu berada di perdesaan yang masih sebagian besar juga ketertinggalan, berkaitan dengan ekonomi dan sebagainya itu. Memang kalau sistem pemerintahan, seharusnya tidak ada pemerintahan desa, ya? Kalau dengan sistem pemerintahan. Kenapa? Pemerintahan Desa itu adalah penyelenggara pemerintahan yang terbawah. Artinya, dalam suatu pemerintahan, struktur pemerintahannya ya, tentu ya relevannya memang di Kementerian Dalam Negeri dalam menyelenggarakan pemerintahan, tetapi filosofinya setelah reformasi ini bagaimana desa itu untuk dipercepat.

Nah saya tidak menutup kemungkinan, tidak menapikkan terhadap hal itu dengan adanya pemerintahan desa, ternyata pemerintahan desa juga cukup berkembang. Nah itu salah satu hal yang positif karena kenapa itu ya indikatornya Lurah-Lurah banyak menuntut Dana Desa juga, Dana Kelurahan kemarin, karena dianggap dengan adanya Dana Desa itukan salah satu Kementerian Desa itu sehingga ada Dana Desa yang dibantu oleh Pemerintah. Banyak kelurahan akhirnya minta juga, kan ketertinggalan dengan tercepatnya pembangunan desa. Itu salah satu persoalan yang saya kira positif.

Namun dengan demikian tentu kaitan dengan ini, saya cuman ingin menyampaikan terutama Pendamping Desa, tadi juga sudah cukup besar Pak, Rp1,6 triliun. Rp1,6 triliun itu kalau pembangunan infrastruktur desa cukup besar itu. Jadi bagaimana pendamping desa ini betul-betul yang punya kemampuan terhadap untuk meningkatkan terhadap apa yang menjadi persoalan di desa baik dari sisi administrasinya, baik juga memberikan edukasi di dalam pemerintahan desa, sehingga ada manfaatnya. Jangan sampai nanti pendamping desa itu hanya sekedar, ya untuk kepentingan-kepentingan yang seharusnya tidak terjadi di dalam penyelenggaraan pemerintahan. Karena terus terang saja saya melihat kalau kita lihat semuanya bukan hanya pemerintahan desa, pendamping-pendamping ini cukup banyak. Ini saja Kementerian Desa yang cuman scope-nya kecil 1,8, belum lagi yang lain saya lihat, pendampingan-pendampingan yang begitu luar biasa. Seharusnya saya melihat ini kenapa harus ada pendampingan, kan lebih baik kan mengadakan kerja sama dengan Perguruan Tinggi. Tidak sedikit itu Perguruan Tinggi dan tidak sedikit juga yang punya kemampuan untuk itu, sehingga untuk melepahkan itu mekanismenya harus dilakukan, ya apakah dengan melakukan seperti menunjuk suatu outsourcing? Inilah saya kira yang dipisahkan oleh teman-teman sampai-sampai, ya maaf karena mungkin tadi kaitannya ini, kebetulan Pak Jhoni ini dari bajunya ini Pendamping Desanya takut nanti. Padahal saya yakin Pak Menteri tidak seperti itu. Nah ini perlu pemahaman kan? Pemahaman kepada itu, mungkin takut ketemu Pak Jhoni, wah nanti saya ditegur oleh Pak Menteri atau saya diputus. Ya wajar Pak manusia, saya tidak nyalahin itu, karena ada itu. Nah ini tugasnya Pak Sekjen sebagai pengendali itu.

Jadi saya kira betul Pak Menteri bilang sini, beri akses kepada Pendamping Desa. Ternyata teman-teman juga kesulitan, oh ya ini, saya sendiri belum pernah Pak, belum penah mengundang mereka. Ya tapi karena memang banyak yang pendamping desa yang kenal saya begitu, tapi bukan lewat saya sebagai Komisi V karena ya tahulah Pak Madjid. Jadi saya kenalnya dari situ, oh ini pendamping desa, komunikasinya dan sebagainya, tetapi saya Komisi V belum pernah atau dia melapor, dia datang. Seharusnya kan dia datang “Pak, kita punya program ini. Belum ada Pak.”. Pendamping yang lain banyak Pak, datang dia Pak, kita nanti ada ini Pak, rencananya seperti ini. Terutama di Komisi V ya, kan pendamping kayak di PU kan ada

pendampingan itu beberapa berkaitan dengan BSPS dan sebagainya, mereka komunikasi ada kegiatan. Tapi saya kira ini perlu yang harus dibenahi. Ya silakanlah, saya tidak terlalu mempersoalkan yang macam-macam tetapi mekanisme itu harus dibentuk begitu. Artinya dengan Komisi V mereka tahu, kita ingin tahu juga bagaimana sebenarnya perkembangan desa.

Yang ke dua, Pemerintahan Desa Kementerian ini harus membuat target, tahun berapa kita sudah harus menjadi desa mandiri, karena harus ada Pak, tahunnya. Nah sehingga itu masuk kepada program ini apa yang harus dilakukan? Sehingga anggaran itu terserap kriteria untuk mendukung itu. Karena kita menginginkan kalau dari desa mandiri itu kan dari sisi ekonominya baik, SDM-nya cukup ini begitu ya. Sehingga nanti ke tujuan daripada pemerintahan desa itu dalam rangka untuk mempercepat terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan sumber daya manusia, saya kira bisa terwujud, sehingga kita punya. Saya belum ada melihat dari paparan yang disampaikan itu belum ada grand design kita, sampai tahun berapa kita harus untuk menuju ke sana. Jadi itu.

Kemudian kaitan yang lain, saya kira memang semua ini kadang-kadang saya bingung juga, semua sektor ya. Seharusnya kalau kita ini sudah selesai koordinasi lintas sektor, lintas sektor kita bagus, komunikasi, saya kira tidak semua kementerian itu harus memprogramkan hal yang sama tupoksinya. Katakan Pemerintah Desa memberikan bantuan alat pertanian, pertanian juga, padahal itukan tupoksinya pertanian. Menteri Sosial juga memberikan bantuan sapi, padahal tupoksinya pertanian di situ. Sama juga yang lain-lain.

Jadi ini ya saya melihatnya apakah memang, apa hanya di muka saja yang dikatakan lintas sektoral itu. Ternyata ketika mereka berada pada posisi yang masih juga terpaku kepada ego masing-masing sektoral, ya tapi saya belum bisa mengatakan itu, karena saya belum ada penelitian secara itu apa manfaatnya dari sisi ini, cuma akhirnya kan seperti ini. Termasuk padat karya, semua kementerian melakukan padat karya. Diborong kan masih, tapi kalau ada cuman Rp1 miliar padat karya mau apa begitu? Mungkin dia datang ke sana sudah habis biayanya datang kesana dari daerah yang ini.

Nah ini saya kira ini beberapa hal berkaitan dengan ini di dalam rapat ini ya kami juga tidak akan terlalu mendalam karena memang berkaitan dengan, hari ini kita rapat bukan pada, nanti siang mungkin kepada hal-hal yang teknis. Saya kira itu.

Terima kasih.

Wallahumma Fiq Illa Aquamitoriq,

Selamat siang. KETUA RAPAT:

Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih Pimpinan dan Para Anggota yang telah menyampaikan pertanyaan dan pendalaman.

Luar biasa memang Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ini, satu kementerian yang lahir dari rahim ya spirit reformasi yang sekarang dipertanyakan banyak pihak termasuk Pak Pimpinan tadi. Pak Sekjen dan Ibu/Bapak Eselon I yang kami hormati.

Memang ada satu perlakuan khusus, konstitusi memperlakukan khusus terhadap desa ini ya. Bahkan istimewa ya, tetapi posisi khusus yang dijamin oleh konstitusi kita ini harus betul-betul dimaknai sebagai sebuah upaya ya, negara hadir untuk mengangkat posisi desa. Sehingga betul-betul tidak hanya persoalan bagaimana membangun di desa itu sendiri tetapi termasuk salah satunya adalah SDM, ujung-ujungnya kesejahteraan masyarakat di desa. Nah tentu pekerjaan ini salah satu yang menjadi agen tunggalnya adalah Kementerian Desa. Nah kalau melihat dari beberapa pendalaman yang disampaikan oleh Anggota tadi memang banyak sekali pertanyaan, banyak sekali konfirmasi yang harus disampaikan terkait dengan perjalanan Kementerian Desa ini sesuai dengan semangat reformasi.

Nah khawatir kita itu termasuk saya merasa khawatir posisi istimewa yang diberikan oleh konstitusi ini malah seperti dimaknai perlakuan ayah terhadap anak yang sangat istimewa bahkan terkesan memanjakan begituloh, sehingga anaknya terus sapenake dewe begitu, seenaknya sendiri atau mungkin ya manja begituloh. Tidak fokus juga.

Jadi catatan-catatan yang disampaikan oleh Anggota saya kira penting sekali untuk diklarifikasi, dijelaskan kembali oleh Pak Sekjen dan Kawan-kawan, saya kira melalui forum khusus. Saya pribadi sepakat kita bentuk Panja terkait dengan Tenaga Pendamping atau Panja Problem Perdesaan ini. Tidak hanya Tenaga Pendamping saya kira, mungkin persoalan lain yang ada di desa. Mungkin Panja Pengawasan ya bisa kita bentuk dalam kesempatan Rapat Internal yang terdekat.

Nah kami dari meja Pimpinan juga ingin menambahkan Pak beberapa alokasi program teknis dalam Pagu Indikatif 2022 yang disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat. Saya tidak tahu ini model kegiatan pelatihan-pelatihan ya, program pelatihan, sebanyak 55 ribu orang, lalu juga akademi desa. Menurut saya,

program-program yang kayak begini ini, tolong nanti dijelaskan lebih detail ya. Ini ada pelatihan 5 ribu orang, ada pelatihan 4.229 orang, siapa yang dilatih ini? Apakah kita mau melatih 74.000 perwakilan desa pada nantinya loh ya? Apakah seperti itu ya? Atau mungkin kita menambah lagi beberapa cluster di desa itu, yang perempuannya-lah, yang pemudanya-lah atau apa begitu. Ini apa? Arahnya itu ke mana begituloh? Menurut saya sekarang ini pelatihan-pelatihan ataupun juga model pemahaman terhadap masyarakat di desa juga harus dilihat prioritasnya. Apakah tahun ini 5 ribu nanti, tahun depan 5 ribu lagi, terus begitu dan sebagainya.

Saya minta untuk program teknis pelatihan yang target 5.000 orang, 4.200 ini memang tidak jelas Pak Roberth. Kalau Pak Roberth tadi tanya itu, bingung itu memang wajar, memang saya juga bingung ini membacanya kan? Lalu kalau yang tenaga pendamping profesional 35 ribu orang itu memang jika Perpres-nya bisa dirubah Pak Jhoni atau Bu Sadarestu tadi, mungkin anggaran tenaga pendamping ini yang di sini disebut gaji itu bisa juga dialihkan bagian dari dana desa mungkin juga bisa, karena dalam konteks di desa itu terlalu gede Pak. Ya coba itu beberapa pelaku, namanya apa? Satker atau apa, teman-teman di situ itu gajinya kecil, honornya kecil, tapi ini pendampingnya lumayan gede. Kalau di desa itu gede juga Pak Jhoni, 2.5 atau sampai 3.5 itu mungkin ya. Barangkali bisa diusulkan Perpres-nya dirubah, honornya ini di-include-kan saja di Dana Desa, biar apa ya? Biar menyatu dengan teman-teman di desa begituloh, tidak terlalu ini, sampai Kepala Desanya tidak tahu, apalagi seperti itu kan Pak? Jadi minta penjelasan ini Pak Kepala. Kalau saya usulnya konkrit, di-cancel saja dulu ini pelatihan-pelatihan seperti ini, lalu Akademi Desa itu program-program seperti ini, pandemi ini di-stop dululah yang kayak-kayak begini-begini, ini menurut saya loh ya. Akademi Desa, berapa biayanya inikan? Karena totalnya banyak ini. Ini juga, Rp19 miliar, lumayan gede juga Rp19 miliar. Saya kira itu.

Silakan kami berikan kesempatan untuk menjawab secara lisan atau tertulis? Tertulis saja?

Tolong Pak disiapkan secara tertulis selengkap-lengkapnya kami tunggu untuk sebelum pada kegiatan Rapat RDP atau Raker terdekat itu sudah ada di kami dan setuju ya tertulis ya?

F-PD (drh. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Ya tertulis, tapi sedikit.

KETUA RAPAT:

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 48-52)

Dokumen terkait