IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
10. Kepemilikan lahan budidaya tanaman akar Budidaya tanaman akar wangi yang diterapkan para Budidaya tanaman akar wangi yang diterapkan para
pencangkulan, pemanenan. Bibit dan akar. S Permasalahan
mengakibatkan rendemen berkurang hama. Hama tidak
menyerang lahan kepemilikan laha Gambar 10 Budidaya biasanya dilaku Sebagian besar dengan tanaman dan singkong. untuk memenuhi tumpang sari,
walaupun lahan ditanami lebih dari satu je 5-10 ha
40% >10% 24%
keuangan seperti bank karena mekanismenya yang dan berbelit-belit.
Budidaya akar wangi dimulai dengan pembibitan, pencangkulan, penanaman, penyiangan, pemberian pupuk
. Bibit akar wangi diperoleh dengan cara memisahkan . Setelah itu diambil bonggol akarnya untuk Permasalahan yang muncul adalah cuaca yang tidak menentu mengakibatkan rendemen berkurang adalah curah hujan yang
Hama tidak menyerang seluruh area lahan tanam, tetapi lahan-lahan tertentu. Gambar 10 menunjukan kepemilikan lahan budidaya tanaman akar wangi.
10. Kepemilikan lahan budidaya tanaman akar Budidaya tanaman akar wangi yang diterapkan para
dilakukan dengan sistem monokultur dan tumpang Sebagian besar petani (84%) melakukan sistem budidaya tumpang
tanaman hortikultura seperti kol, tomat, kentang, kubis, singkong. Umur panen akar wangi adalah satu tahun,
memenuhi kebutuhan harian petani, mereka melakukan tumpang sari, selain itu tidak ada penurunan kualitas akar
lahan ditanami lebih dari satu jenis tanaman. <5 ha 36% 10 ha dianggap dengan pembibitan, pupuk dan memisahkan daun untuk ditanam. menentu yang yang tinggi dan tanam, tetapi hanya menunjukan sebaran
kar wangi diterapkan para petani
tumpang sari. tumpang sari kentang, kubis, cabai, tahun, sehingga melakukan pola kualitas akar wangi
<5 ha 36%
Jumlah petani yang tidak melakukan pemupukan sebesar 12 persen. Hal tersebut terjadi karena tidak sesuainya harga beli dan biaya operasional yang dikeluarkan. Pada sistem tanam monokultur, petani berpendapat jika tanaman akar wangi akan lebih bagus jika tidak diberi pupuk. Untuk sistem tanam tumpang sari pemupukan diutamakan untuk tanaman tumpangnya daripada tanaman akar wangi. Petani lain menggunakan pupuk organik dan anorganik. Jenis pupuk anorganik yang digunakan adalah ZA, TSP, NPK, KCL, kecuali pupuk UREA. Sedangkan pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang.
Petani menjual akar wangi langsung kepada penyuling atau kepada pengumpul akar wangi yang berada di daerah sekitarnya. Ada pula petani yang berperan sebagia penyuling. Petani penyuling ini akan melakukan kegiatan penyulingan akar wangi yang telah dipanennya sendiri. Petani umumnya menyuling akar wangi di tempat penyulingan milik penyuling dengan ketentuan bahwa produk yang dihasilkan dijual ke pemilik alat suling. Selain itu, ada pula petani yang melakukan penyulingan dengan sistem sewa alat suling dan menyuling akar wanginya di tempat penyulingan milik penyuling, Namun, minyak akar wangi yang dihasilkannya tidak dijual kepada pemilik alat penyulingan melainkan langsung dijual ke pengumpul besar.
Pemasaran akar wangi tidak mempunyai kendala yang signifikan. Semua hasil panen pasti terserap pasar. Hal tersebut terjadi karena permintaan minyak akar wangi lebih besar dari pada hasil produksinya. Harga akar untuk wangi basah berkisar antara Rp 1200 – Rp 3000 per kilogram. Pada praktiknya semua akar wangi dijual dalam keadaan basah. Harga akar wangi cenderung menurun akibat cuaca saat ini yang tidak menentu sehingga kualitas tidak sebagus musim kemarau. Sebagian besar petani menjual akar wangi dengan harga Rp 2.000 per kilogram.
Modal petani dalam usaha budidaya akar wangi ini kebanyakan adalah modal sendiri atau mendapat modal pinjaman dari saudara. Bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani biasanya mendapat
pinjaman modal dari ketua kelompoknya. Investasi dalam budidaya akar wangi per hektar selama satu periode penanaman kurang dari Rp 25.000.000. Kendala modal sering dihadapi oleh petani karena lamanya masa tanam, sehingga terkadang petani menjual akar wangi dengan sistem ijon saat tanaman masih berumur delapan bulan dan siap dipanen setelah berumur 12 bulan. Sebagian besar petani tidak memanfaatkan fasilitas kredit lembaga keuangan karena persyaratan yang dirasa terlalu memberatkan dan berbelit-belit. Oleh karena itu diharapkan peran pemerintah dalam bantuan permodalan atau meringankan persyaratan pinjaman bagi lembaga keuangan.
4.3.2 Aktivitas Pengumpul Akar Wangi
Pengumpul akar wangi membeli akar wangi langsung dari petani setelah panen atau membeli dengan sistem ijon saat akar wangi masih di lahan. Pengumpul akan menjual akar wangi kepada penyuling atau pengumpul lain yang melakukan penyulingan. Pengumpul biasanya mendapat modal dari penyuling untuk mencari akar wangi. Para pengumpul terkadang mencari akar wangi sampai ke luar wilayah untuk memenuhi kekurangan pasokan akar wangi. Pengumpul akar wangi terkadang juga melakukan penyulingan sendiri dengan menyewa alat suling kepada penyuling dan membayarnya dengan minyak akar wangi.
Pengumpul akar wangi dalam sehari mampu mengumpulkan 4-5 ton akar wangi dengan harga berkisar antara Rp 2.000 - Rp 3.000 per kilogram. Sistem pemesanan dilakukan secara langsung dengan mekanisme bayar cash and carry. Jumlah pengumpul tidak banyak untuk setiap wilayah, hanya ada satu atau dua pengumpul dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Pengumpul bekerja sendiri karena tidak adanya kelompok pengumpul dan cenderung bersaing antar pengumpul. Kendala yang dialami pengumpul adalah ketersediaan akar wangi yang tidak konsisten dan mutu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
4.3.3 Aktivitas Penyuling Akar Wangi
Penyuling akar wangi tersebar di empat kecamatan yaitu Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Sebanyak 75 persen penyuling bergabung dalam Koperasi Usaha Rakyat (USAR) yang diketuai oleh Bapak H.Ede Kadarusman, koperasi ini baru berdiri tahun 2010. Sebagian besar penyuling (58%) bertindak sebagai petani yang disebut juga petani-penyuling. Penyuling yang tidak menanam akar wangi memenuhi kebutuhan akar wangi dengan membeli langsung dari petani/kelompok tani dan pengumpul akar wangi. Rata-rata penyuling diberi pinjaman modal oleh eksportir atau pengumpul minyak dengan syarat mereka harus membayar pinjaman modal tersebut dengan minyak. Pengiriman minyak dilakukan setelah minyak terkumpul selama 10 hari dengan jumlah rata-rata sebanyak 40 kg. Namun, pada musim kemarau penyuling dapat memproduksi minyak lebih banyak dengan jumlah 50 kg selama satu minggu.
Produk minyak akar wangi yang diperdagangkan berupa minyak akar wangi kasar. Penyulingan dilakukan dengan menggunakan ketel stainless steel dengan sistem kukus (46%). Penyulingan yang menggunakan sistem boileratau sistem uap terpisah sebesar 45 persen. Penyuling yang masih menggunakan sistem rebus yaitu sebesar 9 persen. Bahan bakar yang digunakan saat ini didominasi oleh minyak solar dan oli bekas. Namun masih ada juga yang menggunakan kayu bakar. Gambar 11. menyajikan alat penyuling yang digunakan penyuling.
Gambar