BAB II LANDASAN TEORI
A. Kepemimpinan dan Pemimpin
1. Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam suatu organisasi. Definisi yang tepat tentang arti kepemimpinan sampai saat ini masih diperdebatkan. Akan tetapi secara garis besar kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan proses.
Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi, menggerakkan, dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu (Sujak, 1990:1). Daft (2006:313) juga mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu kemampuan mempengaruhi orang-orang untuk mencapai tujuan organisasional. Menurut Schein (Yukl 2005:4) kepemimpinan adalah kemampuan untuk bertindak di luar budaya...untuk memulai proses perubahan evolusi agar menjadi lebih adaptif. Solso (Tondok dan Andarika, 2004) menambahkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi karyawan dalam sebuah organisasi, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
Kepemimpinan dalam kaitannya dengan kemampuan sangat ditentukan bagaimana cara seorang pemimpin untuk menggerakkan dan
8
mempengaruhi follower-nya. Cara tersebut digunakan agar follower-nya mengikuti keinginannya untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi. Apabila pemimpin tersebut tidak mempunyai kemampuan dalam memimpin, maka tujuannya tidak dapat tercapai.
Kreitner dan Kinicki (2001:551) menjelaskan tentang kepemimpinan sebagai suatu proses pengaruh sosial, dimana pemimpin mengusahakan partisipasi sukarela dari para follower dalam suatu usaha untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan juga didefinisikan sebagai proses pengarahan dan pemberian pengaruh terhadap kegiatan-kegiatan sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya (Stoner dalam Maridjo, 2001). Yukl (2006) mengasumsikan bahwa beberapa definisi kepemimpinan merefleksikan proses mempengaruhi oleh satu orang ke orang lain secara intensional untuk membimbing, menyusun, memfasilitasi aktivitas, dan hubungan dalam group atau organisasi. Selain itu Roach dan Behling (Gadney, 1999) menambahkan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sebuah organisasi terstruktur dalam usaha mengembangkan tujuannya.
Kepemimpinan dalam kaitannya dengan proses, juga menekankan adanya pengaruh dari pemimpin terhadap follower-nya. Pengaruh tersebut dilakukan secara intensional dan tidak memaksa pada follower-nya sehingga bersedia untuk mengikuti kemauan serta arahan dari pemimpinnya. Proses mempengaruhi yang dilakukan secara intensional tersebut dimaksudkan agar suatu organisasi dapat mencapai tujuannya.
9
Oleh karena itu suatu kepemimpinan melibatkan pemimpin dan follower-nya, sebab tujuan organisasi tidak akan tercapai bila seorang follower tidak bersedia mengikuti pemimpinnya.
2. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam suatu organisasi sangat penting sebab kepemimpinan mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Fungsi kepemimpinan menurut Hill dan Carol (Wahyuddin dan Djumino:2006) memiliki dua dimensi meliputi:
a. dimensi yang berkenaan dengan tingkat mengarahkan (direction) yang dalam tindakan atau aktivitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinnya.
b. dimensi yang berkaitan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok atau organisasi, yang dijabatkan atau dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemimpin.
Fungsi kepemimpinan menurut Adair (Mustopodijaja:2007) adalah:
a. planning: melihat semua informasi yang tersedia, mendefinisikan tugas dan tujuan, membuat semua rencana berjalan dengan baik.
b. initiating: memberikan instruksi pada kelompok, mengalokasi tugas, men-setting standar kelompok.
c. controlling: merancang standar kelompok, meyakinkan adanya peningkatan yang objektif, membuat aksi dan keputusan.
10
d. supporting: mengekspresikan penerimaan dari kontribusi seseorang, pendorong dan pendisiplin, menciptakan semangat dalam kelompok, mengurangi ketegangan dengan humor, mencari jalan keluar dari suatu ketidaksetujuan.
e. informing: menjelaskan tugas dan rencana, meyimpan informasi kelompok, menerima informasi dari kelompok, menyimpulkan ide dan saran.
f. evaluating: memeriksa apakah bisa atau tidaknya suatu ide dikerjakan, mencoba beberapa konsekuensi, mengevaluasi performasi kelompok, membantu kelompok untuk mengevaluasi dirinya sendiri.
Kartono (1986: 61) menambahkan fungsi kepemimpinan adalah memandu, menuntun, membangun, memberi atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi atau pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju seseuai dengan ketentuan dan perencanaan.
Berdasarkan penjabaran tentang fungsi kepemimpinan dapat ditarik kesimpulan, bahwa fungsi kepemimpinan sangat berkaitan erat dengan bagaimana seorang pemimpin memberikan pengaruh dalam rangka mengarahkan follower-nya dan memberikan dukungan untuk mencapai tujuan organisasinya.
11
3. Definisi Pemimpin
Kepemimpinan sangat berkaitan erat dengan pemimpinnya karena tanpa seorang pemimpin suatu kelompok akan bergerak sendiri tanpa tujuan yang jelas. Pemimpin mampu memberikan arahan yang jelas bagi suatu kelompok. Hal ini sesuai dengan beberapa definisi pemimpin berikut ini:
a. Nick (Mustopadijaja, 2007) mendefinisikan pemimpin sebagai seseorang yang memikirkan tujuan dengan cara menciptakan image dan harapan tentang pekerjaan yang diambil secara langsung. Pemimpin mempengaruhi bagaimana cara orang berfikir tentang keinginan, kemungkinan dan keuntungan.
b. Pemimpin didefinisikan sebagai seseorang yang menduduki suatu posisi di kelompok, mempengaruhi orang-orang dalam kelompok itu sesuai dengan ekspektasi peran dari posisi tersebut dan mengkoordinasi serta mengarahkan kelompok untuk mempertahankan diri serta mencapai tujuan (Raven dalam Wirjana dan Supardo, 2005:4).
c. Kartono (1986:35) menambahkan definisi pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran tertentu.
Oleh karena itu pemimpin merupakan seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan arahannya untuk mencapai tujuan tepat pada sasarannya sehingga mendapat keuntungan.
12
4. Keterampilan dan Kerakteristik Seorang Pemimpin
Pemimpin tidak dapat bekerja secara individual baik ketika berkelompok atau pun sendiri, karena seorang pemimpin membutuhkan follower-nya untuk mencapai tujuan organisasi (Siagian, 1988:20). Maka, seorang pemimpin harus memiliki keterampilan yang baik dalam memimpin follower-nya. Keterampilan seorang pemimpin menurut Byrd dan Block terdiri dari lima macam (Sujak, 1990:1):
a. Pemberian kekuasaan (empowerment) adalah pembagian kuasa oleh pemimpin terhadap follower-nya.
b. Intuisi (intuition) adalah keterlibatan menejer dalam menatap situasi, mengantisipasikan perubahan, mengambil resiko, dan membangun kejujuran.
c. Pandangan (vision) adalah keterlibatan dirinya dalam mengimajinasi kondisi lingkungan yang berbeda-beda, serta dalam mengimajinasikan suatu kondisi untuk memperbaiki lingkungan organisasi.
d. Nilai keselarasan (congruence value) adalah kemampuannya dalam mengetahui dan memahami nilai-nilai yang berkembang dalam organisasinya, nilai-nilai yang dimiliki follower-nya, serta dalam memadukan dua nilai tersebut menuju organisasi yang efektif.
e. Pemahaman diri (self understanding) adalah kemampuan untuk mengenali kekuatan-kekuatan atau hal-hal positif yang ada pada dirinya dan kemampuan dalam menetapkan upaya mengatasi kelemahan yang ada pada dirinya.
13
Pemahaman awal terhadap kesuksesan dalam kepemimpinan terfokus dalam karakteristik pribadi pemimpin. Karakteristik (traits) adalah karakteristik pribadi yang istimewa dari seorang pemimpin, seperti intelegensi, nilai-nilai, dan penampilan (Daft, 2006:318). Menurut Hogan (1991) dalam Hughes, Ginnett, Curphy (1999:201) trait adalah perilaku yang sering terjadi secara berulang-ulang atau perilaku umum dari seseorang. Selain karakteristik kepribadian, terdapat juga karakteristik fisik, sosial, dan karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan para pemimpin (Daft, 2006:320). Karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. karakteristik pribadi antara lain: percaya diri, kejujuran dan integritas, antusiasme, keinginan untuk memimpin, dan kemandirian; intelegensi dan kemampuan antara lain: intelegensi, kemampuan kognitif, pengetahuan, penilaian, dan ketegasan
b. karakteristik fisik antara lain: energi dan stamina fisik
c. karakteristik sosial: keramahan, keterampilan antar pribadi personal, kemauan untuk berkooperatif, kemampuan untuk bekerja sama, kebijaksanaan, diplomasi
d. karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan antara lain: dorongan keberhasilan, keinginan untuk dapat unggul, sifat berhati-hati dalam mengejar tujuan-tujuan, tekun menghadapi rintangan-rintangan, keuletan.
Menurut Daft (2006:320) penelitian yang pertama mengenai karakteristik kepemimpinan diadakan di University of Lowa oleh Kurt
14
Lewin dan teman-temannya. Penelitian ini membandingkan pemimpin demokratis dan pemimpin otoriter. Pemimpin demokratis (democratic leader) mendelegasikan otoritas kepada orang lain, mendorong adanya partisipasi, dan mengandalkan kekuasaan ahli serta kekuasaan pangacu untuk mepengaruhi bawahannya. Sedangkan pemimpin otoriter (outocratic leader) adalah seorang pemimpin yang cenderung memusatkan optoritas dan mengandalkan kekuasaan sah, penghargaan, dan koersif.
Penelitian ini membandingkan pemimpin demokratis dengan pemimpin otoriter dan menghasilkan beberapa temuan yang menarik. Kelompok yang dipimpin oleh pemimpin otoriter bekerja dengan baik bila diawasi namun tidak senang dengan gaya kepemimpinan yang dekat dan otoriter, serta perasaan permusuhan sering kali muncul. Kinerja kelompok yang dipimpin oleh pemimpin demokratis juga sama baiknya dengan kelompok yang dipimpin oleh pemimpin otoriter. Mereka diberikan perasaan yang positif daripada permusuhan. Bahkan mereka tetap bekerja dengan baik walaupun tidak diawasi oleh pemimpinnya. Teknik-teknik partisipatif dan mayoritas pembuatan keputusan digunakan oleh pemimpin demokratis untuk melatih dan melibatkan follower-nya sehingga dapat bekerja dengan atau tanpa pemimpinnya (Daft, 2006: 320).
15