BAB II LANDASAN TEORI
D. Kepemimpinan Transformasional
1. Pengertian Kepemimpinan Transformasional
Gagasan tentang transforming leadership yang pada awalnya dikemukakan oleh Burn, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Bass menjadi teori kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional (Yukl, 2006:264). Kepemimpinan transformasional yang merupakan pengembangan dari kepemimpinan transaksional, tidak menekankan pada penukaran atau pemberian hadiah dalam sistemnya. Namun, kepemimpinan transformasional menantang follower-nya untuk tidak memperdulikan kepentingan diri sendiri namun mendorong pengejaran tujuan organisasi dan kepentingan kelompok, serta tidak menggerakkan follower dari hanya memperhatikan pertukaran atau hadiah menjadi perhatian untuk meraih prestasi dan pertumbuhan organisasi (Bass dan Avoilo dalam Hughes, 2005).
Shamir, House, dan Arthur mengatakan bahwa kepemimpinan transfomasional membangun kepribadian dan identitas sosial antara
22
follower dengan misi atau tujuan pemimpin dan organisasinya. Sehingga follower merasa keterlibatan, kepaduan, komitmen, potensi, dan performansinya menjadi lebih tinggi (Bass, Avolio, Jung, dan Berson, 2003).
Burns mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai suatu proses menaikkan moral dan motivasi pemimpin serta follower ke tingkat yang lebih tinggi (Dewanti, 2004). Burns juga mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai perkembangan dari sebuah hubungan kebutuhan bersama, aspirasi-aspirasi, dan nilai-nilai yang pemimpin lihat dari alasan kesanggupan follower untuk mencari pemuasan kebutuhan paling tinggi dan mengikutsertakan follower secara utuh (Hughes, 2005).
Menurut Stoner dalam Musliatun (1997) kepemimpinan transformasional merupakan pemimpin yang lewat visi dan energi pribadi, memberi inspirasi pada para follower-nya dan mempunyai dampak besar untuk organisasi mereka. Atau masih menurut Stoner kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang membutuhkan tindakan memotivasi follower agar mau bekerja demi sasaran-sasaran yang tinggi dan dianggap melampaui kepentingan pribadinya saat itu.
Maka dapat disimpulkan bahwa terjadinya kepemimpinan transformasional jika pemimpin berhasil mepengaruhi dengan cara memotivasi follower untuk memakai tujuan organisasinya sebagai bagian
23
dari kepentingannya sendiri dan mengejar kepuasan pribadi melalui pencapaian maksud bersama yaitu tujuan organisasi.
2. Karakteristik Kepemimpinan Transformasional
Bass memformulasikan karakteristik kepemimpinan transformasional menjadi tiga antara lain idealized influence, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Lalu Bass merevisi teori tersebut dan menambahkan inspirational motivation sehingga menjadi empat tipe. Revisi paling akhir yang dilakukan oleh Bass dan Avolio yaitu memisahkan skala idealized influence menjadi idealized influence behavior dan idealized influence attributions, meskipun tidak jelas mengapa pada akhirnya digunakan dalam kuesioner untuk mengukur perilaku yang diamati (Yukl, 2006:264-265; Hughes, Ginnett, Curphy, 1999:318) :
a. Idealized influence attribute dan idealized influence (behavior): karakteristik ini sangat penting untuk mengukur kepemimpinan karismatik dan menilai sejauh mana seorang pemimpin menanamkan rasa bangga dan membangun emosi follower-nya. Selain itu memperlihatkan kekuatannya, mengorbankan diri atau memperjuangkan kesempatan baru, memperhatikan etika atau kensekuensi moral, dan membicarakan pentingnya memiliki hasrat dalam menjalankan tugas.
b. Inspirational motivation: kemampuan pemimpin untuk mengeluarkan atau membicarakan pandangannya tentang masa
24
depan dengan menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan follower dan memberikan contoh yang tepat. Menilai sebaik apa standar kompetisi yang dibuat oleh pemimpin dan berdiri diatas isu-isu yang kontroversial atau sedang diperdebatkan.
c. Individualized consideration: memperhatikan bagaimana seorang pemimpin menyenangkan follower-nya sebagai individu dan seberapa banyak seorang pemimpin mengawasi atau melatih follower-nya. Selain itu seberapa banyak pemimpin memberikan perhatian secara personal, dukungan atau dorongan, pelatihan-pelatihan, saran-saran, dan kesempatan untuk berkembang kepada follower.
d. Intellectual stimulation: memperhatikan pandangan seorang pemimpin dan perilaku-perilakunya sehingga meningkatkan pemahaman follower dalam menghadapi masalah. Pemimpin menjelaskan atau menunjukkan masalah yang sedang dihadapi sekarang ini dan membandingkan pandangan mereka di masa depan sehingga follower terpengaruh untuk menyelesaikan masalah dari perspektif yang baru.
Karakteristik dari kepemimpinan transformasional ini mencakup hal-hal yang mempengaruhi seseorang untuk berperilaku dalam kepemimpinan karismatik. Penekanan dari karismatik adalah identifikasi pribadi yang diatribusikan. Inti dari karisma adalah dipandang luar biasa
25
oleh pengikut yang bergantung pada pemimpinnya untuk bimbingan dan inspirasinya.
Bass menyatakan bahwa karisma merupakan komponen yang diperlukan dalam kepemimpinan transformasional dan seseorang bisa menjadi pemimpin karismatik namun tidak transformasional. Inti dari kepemimpinan transformasional adalah memberikan inspirasi, mengembangkan dan memberikan wewenang pada follower-nya. Hal ini dapat mengurangi atribusi dari karisma. Jadi, proses mempengaruhi dari kepemimpinan transformasional tidak sepenuhnya dapat dibandingkan dengan proses mempengaruhi dari kepemimpinan karismatik, yang melibatkan ketergantungan yang besar pada pemimpinnya (Yukl, 2005:313).
Kelebihan-kelebihan kepemimpinan transformasional dikemukakan oleh berbagai kalangan, antara lain digambarkan sebagai bentuk kepemimpinan yang mampu meningkatkan komitmen staff (Hunt dalam Pramastuti, 2006), mengkomunikasikan suatu visi dan implementasinya (Dunphy dan Stace dalam Pramastuti, 2006), memberikan kepuasan dalam bekerja dan mengembangkan fokus yang berorientasi pada klien (Shaskin dan Kiser dalam Pramastuti, 2006) dan menawarkan pada kepemimpinan langsung di dalam suatu organisasi. 3. Pemimpin Transformasional
Kepemimpinan transformasional mempercayakan kemampuan pemimpinnya untuk menginspirasi follower untuk terus berkreasi dan
26
menyebarkan pandangan pemimpinnya. Pemimpin harus mengkomunikasikan pandangannya pada follower dan mengajak mereka mengejar tujuan organisasi. Gron menerangkan bahwa kepemimpinan transformasional menciptakan kesempatan belajar bagi follower dan memberi kekuasaan pada mereka untuk memecahkan masalahnya sendiri untuk membantu meningkatkan kemampuan kepemimpinan mereka (Hughes, 2005).
Avoilo dan Yammarino (Hughes, 2005) mengatakan bahwa seorang pemimpin transformasional fokus pada pandangan-pandangan, ide-ide, nilai-nilai, resiko dan kesempatan. Pemimpin transformasional mengajak follower untuk mengejar kebutuhan yang paling tinggi dengan mengenali kebutuhan follower-nya.
Tahap-tahap seorang pemimpin menggunakan kepemimpinan transformasional tergantung oleh sikap, nilai, dan keterampilan pemimpin tersebut. Selain itu seorang pemimpin transformasional memiliki atribut-atribut. Atribut-atribut tersebut merupakan ciri dari pemimpin transformasional yang efektif. Atribut-atribut tersebut antara lain (Yulk, 1998):
a. Mereka melihat diri mereka sebagai agen-agen perubahan b. Mereka adalah para pengambil resiko yang berhati-hati
c. Mereka yakin pada orang-orang dan sangat peka terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka
27
d. Mereka mampu mengartikulasikan sejumlah nilai inti yang membimbing perilaku mereka
e. Mereka fleksibel dan terbuka terhadap pelajaran dan pengalaman
f. Mereka mempunyai keterampilan kognitif, dan yakin kepada pemikiran yang berdisiplin dan kebutuhan akan analisis masalah yang hati-hati
g. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai visi yang mempercayai intuisi mereka
Hal tersebut juga diungkapkan oleh Devanna dan Tichy. Mereka mengatakan bahwa ciri pemimpin transformasional yang efektif, yaitu (Safaria, 2004:62-63):
a. mengidentifikasikan diri sebagai agen perubah
b. mereka mendorong keberanian dalam mengambil resiko c. mereka percaya pada orang lain
d. mereka dilandasi oleh nilai-nilai
e. mereka adalah seorang pembelajar sepanjang hidup (life longs learns) f. mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi kompleksitas,
ambiguitas, dan ketidakpastian g. pemimpin yang visioner
Boehnke dkk (Chandra, 2003) melakukan penelitian tentang penerapan kepemimpinan transformasional diberbagai budaya. Mereka menemukan bahwa semua pemimpin transformasional memiliki kesamaan perilaku, yaitu:
28
1) visioning adalah memberikan rumusan masa depan yang mereka inginkan
2) inspiring adalah menimbulkan kegairahan
3) stimulating adalah menimbulkan minat untuk hal yang baru 4) coaching adalah memberikan bimbingan satu persatu 5) team-building adalah bekerja melalui team work
Tingkat sejauh mana seorang pemimpin disebut transformasional oleh Bass, jika dapat membuat follower-nya merasa percaya, mengagumi, loyal, respect terhadap pemimpinnya, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada seharusnya yang mereka lakukan.
Hal itu juga diungkapkan oleh Burns, Day, Zaccaro dan Halpin (Hughes, 2005) bahwa hubungan antara pemimpin transformasional dan follower mendorong perbuatan yang dilakukan melebihi harapan. Pemimpin transformasional dapat memotivasi follower untuk melakukan lebih dari rencana semula dan bahkan melebihi apa yang mereka kira tidak mungkin.
Masih menurut Bass pemimpin transformasional mengubah dan memotivasi follower-nya dengan cara (Yukl, 2006:264):
a. membuat mereka sadar akan kepentingan memperolah keuntungan b. membujuk follower-nya untuk melebihi ketertarikan mereka sendiri
demi organisasi atau teamnya
29