• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepengurusan Komite Sekolah

Dalam dokumen TESIS. Oleh ITA HENDRIANI /SP (Halaman 36-51)

2. Manfaat Teoritis

2.2.4. Kepengurusan Komite Sekolah

Pengurus Komite Sekolah ditetapkan berdasarkan AD/ART yang sekurang-kurangnya terdiri atas seorang ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang-bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan. Pengurus komite dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis. Khusus jabatan ketua komite bukan berasal dari kepala satuan pendidikan. Jika diperlukan dapat diangkat petugas khusus yang menangani urusan administrasi Komite Sekolah dan bukan pegawai sekolah, berdasarkan kesepakatan rapat Komite Sekolah.

Pengurus Komite Sekolah adalah personal yang ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut.

a. Dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis dan terbuka dalam musyawarah Komite Sekolah.

b. Masa kerja ditetapkan oleh musyawarah anggota Komite Sekolah.

c. Jika diperlukan pengurus Komite Sekolah dapat menunjuk atau dibantu oleh tim ahli sebagai konsultan sesuai dengan bidang keahliannya.

Mekanisme kerja pengurus Komite Sekolah dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

a. Pengurus komite Sekolah terpilih bertanggungjawab kepada musyawarah anggota sebagai forum tertinggi sesuai AD dan ART.

b. Pengurus Komite Sekolah menyusun program kerja yang disetujui melalui musyawarah anggota yang berfokus pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan peserta didik.

c. Apabila pengurus Komite Sekolah terpilih dinilai tidak produktif dalam masa jabatannya, maka musyawarah anggota dapat memberhentikan dan mengganti dengan kepengurusan baru.

d. Pembiayaan pengurus Komite Sekolah diambil dari anggaran Komite Sekolah yang ditetapkan melalui musyawarah.

Komite Sekolah wajib memiliki AD/ART. Anggaran Dasar sekurang-kurangnya memuat:

a. Nama dan tempat kedudukan.

b. Dasar, tujuan, dan kegiatan.

c. Keanggotaan dan kepengurusan.

d. Hak dan kewajiban anggota dan pengurus.

e. Keuangan.

f. Mekanisme kerja dan rapat-rapat.

g. Perubahan AD dan ART, serta pembubaran organisasi.

Anggaran Rumah Tangga sekurang-kurangnya memuat:

a. Mekanisme pemilihan dan penetapan anggota dan pengurus Komite Sekolah.

b. Rincian tugas Komite Sekolah.

c. Mekanisme rapat.

d. Kerja sama dengan pihak lain.

e. Ketentuan penutup.

Pembentukan Komite Sekolah harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan demokratis. Dilakukan secara transparan adalah bahwa Komite Sekolah harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses seleksi calon anggota, pengumuman calon anggota, proses pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan. Dilakukan secara akuntabel adalah bahwa panitia persiapan hendaknya menyampaikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya maupun penggunaan dana kepanitiaan.

Dilakukan secara demokratis adalah bahwa dalam proses pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu pemilihan anggota dan pengurus dapat dilakukan melalui pemungutan suara.

Pembentukan komite Sekolah diawali dengan pembentukan panitia persiapan yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan/atau oleh atau oleh masyarakat. Panitia persiapan berjumlah sekurang-kurangnya 5 (lima) orang yang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan (seperti guru, kepala satuan pendidikan, penyelenggara pendidikan), pemerhati pendidikan (LSM peduli pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan industri), dan orang tua peserta didik.

Panitia persiapan bertugas mempersiapkan pembentukan Komite Sekolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Mengadakan forum sosialisasi kepada masyarakat (termasuk pengurus/anggota BP3, Majelis Sekolah, dan Komite Sekolah yang sudah ada) tentang Komite Sekolah menurut keputusan ini.

b. Menyusun kriteria dan mengidentifikasi calon anggota berdasarkan usulan dari masyarakat;

c. Menyeleksi anggota berdasarkan usulan dari masyarakat;

d. Mengumumkan nama-nama calon anggota kepada masyarakat;

e. Menyusun nama-nama anggota terpilih;

f. Memfasilitasi pemilihan pengurus dan anggota Komite Sekolah;

g. Menyampaikan nama pengurus dan anggota Komite Sekolah kepada kepala satuan pendidikan.

h. Panitia Persiapan dinyatakan bubar setelah Komite Sekolah terbentuk.

Calon anggota Komite Sekolah yang disepakati dalam musyawarah atau mendapat dukungan suara terbanyak melalui pemungutan suara secara langsung menjadi anggota Komite Sekolah sesuai dengan jumlah anggota yang disepakati dari masing-masing unsur. Komite Sekolah ditetapkan untuk pertama kali dengan Surat Keputusan kepala satuan pendidikan, dan selanjutnya diatur dalam AD dan ART. Misalnya dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga disebutkan bahwa pemilihan anggota dan pengurus Komite Sekolah ditetapkan oleh musyawarah anggota Komite Sekolah.

Pengurus dan anggota komite terpilih dilaporkan kepada pemerintah daerah dan dinas pendidikan setempat. Untuk memperoleh kekuatan hukum, Komite Sekolah dapat dikukuhkan oleh pejabat pemerintahan setempat. Misalnya Komite Sekolah untuk SD dan SLTP dikukuhkan oleh Camat dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan; SMU/SMK dikukuhkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota.

Penyelenggaraan pendidikan jalur sekolah sesuai dengan jenjang dan jenis, baik negeri maupun swasta, telah diatur melalui perundang-undangan serta perangkat peraturan yang mengikutinya. Selain itu setiap penyelenggaraan persekolahan dibina oleh instansi yang berwenang. Dengan demikian, kondisi tersebut berimplikasi terhadap tatanan dan hubungan baik vertikal maupun horizontal yang baku antara sekolah dengan instansi lain. Hubungan-hubungan tersebut bisa berupa laporan, konsultasi, koordinasi, pelayanan, dan kemitraan.

Tata hubungan antara Komite Sekolah dengan satuan pendidikan, Dewan Pendidikan, dan institusi lain yang bertanggungjawab dalam pengelolaan pendidikan dengan Komite-komite Sekolah pada satuan pendidikan lain bersifat koordinatif.

2.3. Penger tian Dasar tentang Par tisipasi Or ang Tua dan Masyar akat Istilah partisipasi mengandung arti keikutsertaan. Menurut Kamus Besar Indonesia (1989:679), partisipasi adalah “sejumlah orang yang turut berperan dalam suatu kegiatan; keikutsertaan dan peran serta”.

Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberapa unsur penting yang tercakup dalam pengertian partisipasi, diantaranya: Pertama, dalam

partisipasi yang ditelaah bukan hanya keikutsertaan secara fisik tetapi juga fikiran dan perasaan (mental dan emosional). Kedua, partisipasi dapat digunakan untuk memotivasi orang-orang yang menyumbangkan kemampuannya kepada situasi kelompok sehingga daya kemampuan berfikir serta inisiatifnya dapat timbul dan diarahkan kepada tujuan-tujuan kelompok. Ketiga, dalam partisipasi mengandung pengertian orang untuk ikut serta dan bertanggungjawab dalam kegiatan-kegiatan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa makin tinggi rasa keterlibatan psikologis individu dengan tugas yang diberikan kepadanya, semakin tinggi pula rasa tanggung jawab seseorang dalam melaksanakan tugas tersebut. Beberapa hal yang berhubungan dengan partisipasi orang tua dan masyarakat sebagai berikut:

1. Partisipasi masyarakat merupakan satu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat.

2. Masyarakat akan lebih mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki program tersebut.

3. Partisipasi merupakan hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan.

2.3.1. Bentuk-bentuk Par tisipasi Or ang Tua dan Masyar akat

Keterlibatan seseorang terhadap suatu program akan berbeda-beda, tergantung jenis keterlibatannya yang dapat dibedakan menjadi lima bagian yaitu:

1. Partispasi buah pikiran

2. Partsipasi tenaga 3. Partisipasi harta benda

4. Partisipasi keterampilan atau kemahiran 5. Partisipasi sosial

Dari beberapa jenis partisipasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan oleh sekolah, sehingga partisipasi masyarakat dan orang tua murid terwujud secara optimal. Dalam hal ini sekolah harus mampu menggali semua jenis partisipasi dari masyarakat dan orang tua murid yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing demi kelancaran program sekolah.

Sedangkan partisipasi berdasarkan pengelompokan dapat ditinjau dari tujuan, pengelolaan, frekuensi, langsung dan tidak langsung, serta kelembagaan sebagai berikut:

1. Partisipasi ditinjau dari segi tujuan, meliputi:

a. Partispasi berupa probilisasi, yaitu partisipasi yang bertujuan hanya untuk mendukung kebijaksanaan yang telah ditetapkan dari atas.

b. Partisipasi saling menunjang, yakni partisipasi yang bertujuan tidak hanya mendukung kebijaksanaan yang telah ditetapkan akan tetapi juga mengoreksi serta mengisi kekurangan kebijakan tersebut.

2. Partisipasi ditinjau dari segi pengelolaan, meliputi:

a. Partisipasi pada tahap perencanaan

b. Partisipasi pada tahap pelaksanaan c. Partisipasi pada tahap evaluasi

3. Partisipasi ditinjau dari segi frekuensinya, meliputi:

a. Partisipasi yang hanya dapat dilakukan secara periodik b. Partisipasi yang dilakukan tidak secara periodik

4. Partisipasi ditinjau dari segi langsung tidak langsung, meliputi:

a. Partisipasi langsung yaitu partisipasi yang dilakukan oleh orang yang berkepentingan.

b. Partisipasi tidak langsung yaitu dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama, orang atau warga masyarakat membentuk suatu kelompok, kemudian didalam kelompok tersebut orang atau warga masyarakat mengungkapkan partisipasinya. Kedua, orang-orang atau kelompok tertentu mengungkapkan masalah, kemudian kelompok mengolahnya.

5. Partisipasi ditinjau dari kelembagaan, meliputi:

a. Partisipasi yang disampaikan secara perorangan tanpa adanya lembaga

b. Partisipasi massa

c. Partisipasi teratur melalui lembaga penengah yang menyalurkan aspirasi masyarakat dan wakil-wakil diberbagai golongan masyarakat.

2.3.2. Upaya-upaya Peningkatan Par tisipasi Or ang tua dan Masyar akat untuk mendukung Pr ogram Sekolah

Sangat penting bagi sekolah untuk menjalankan peranan kepemimpinan yang aktif dalam menggalakkan program-program sekolah melalui peran serta aktif orang tua dan masyarakat. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengupayakan partisipasi orang tua dan masyarakat terhadap keberhasilan program sekolah, diantaranya:

1. Menjalin Komunikasi yang Efektif dengan Orang Tua dan Masyarakat

Partisipasi orang tua dan masyarakat akan tumbuh jika orang tua dan masyarakat juga merasakan manfaat dari keikutsertaanya dalam program sekolah. Manfaat dapat diartikan luas, termasuk rasa diperhatikan dan rasa puas karena dapat menyumbangkan kemampuannya bagi kepentingan sekolah. Jadi prinsip menumbuhkan hubungan dengan masyarakat adalah saling memberikan kepuasan. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat adalah menetapkan komunikasi yang efektif.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk membangun komunikasi dengan orang tua dan masyarakat, yaitu:

a. Mengidentifikasi orang-orang kunci, yaitu orang-orang yang mampu mempengaruhi teman lain. Orang-orang itulah yang tahap pertama dihubungi, diajak konsultasi, dan diminta bantuannya untuk menarik orang lain berpartisipasi dalam program sekolah. Tokoh-tokoh semacam itu dapat berasal dari orang tua siswa atau warga masyarakat yang

“dituakan” atau “informal leaders”, pejabat, tokoh bisnis, dan profesi lainnya.

b. Melibatkan orang-orang kunci tersebut dalam kegiatan sekolah, khususnya yang sesuai dengan minatnya. Misalnya tokoh seni dapat dilibatkan dalam pembinaan kesenian di sekolah. Orang yang hobi olahraga dapat dilibatkan dalam program olahraga sekolah. Selanjutnya tokoh-tokoh tersebut diperankan sebagai mediator dengan masyarakat luas.

c. Memilih saat yang tepat, misalnya pelibatan masyarakat yang hobi olahraga dikaitkan dengan adanya PON atau sejenis yaitu saat minat olahraga di masyarakat sedang naik. Pelibatan tokoh dan masyarakat yang peduli terhadap kebersihan/kesehatan dimulai pada hari Kesehatan Nasional misalnya.

2. Melibatkan Masyarakat dan Orang Tua dalam Program Sekolah

Pepatah “Tak senang jika tak kenal” juga berlaku dalam hal ini. Oleh karena itu sekolah harus mengenalkan program dan kegiatannya kepada masyarakat. Dalam program tersebut harus tampak manfaat yang diperoleh masyarakat jika membantu program sekolah. Untuk maksud di atas, sekolah dapat melakukan:

a. Melaksanakan program-program kemasyarakatan, misalnya kebersihan lingkungan, mambantu lalu lintas di sekitar sekolah, dan sebagainya.

Program sederhana semacam ini dapat menumbuhkan simpati masyarakat.

b. Mengadakan open house yang memberi kesempatan masyarakat luas

untuk mengetahui program dan kegiatan sekolah. Tentu saja dalam kesempatan semacam itu sekolah perlu menonjolkan program-program yang menarik minat masyarakat.

c. Mengadakan buletin sekolah atau majalah atau lembar informasi yang secara berkala memuat kegiatan dan program sekolah, untuk diinformasikan kepada masyarakat.

d. Mengundang tokoh untuk menjadi pembicara atau pembina suatu program sekolah. Misalnya mengundang dokter yang tinggal di sekitar sekolah atau orang tua untuk menjadi pembicara atau pembina program kesehatan sekolah.

e. Membuat program kerja sama sekolah dengan masyarakat, misalnya perayaan hari-hari nasional maupun keagamaan

3. Memberdayakan Dewan Sekolah

Keberadaan Dewan Sekolah akan menjadi penentu dalam pelaksanaan otonomi pendidikan di sekolah. Melalui Dewan Sekolah orang tua dan masyarakat ikut merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pengelolaan pendidikan di sekolah. Untuk meningkatkan komitmen peran serta masyarakat dalam menjunjang pendidikan, termasuk dari dunia usaha, perlu dilakukan antara lain dengan upaya sebagai berikut:

a. Melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan terutama ditingkat sekolah. Melalui otonomi, pengambilan keputusan yang menyangkut pelaksanaan layanan jasa pendidikan akan semakin mendekati kepentingan masyarakat yang dilayani.

b. Selanjutnya program imlab swadana, yaitu pemerintah baru akan memberikan sejumlah bantuan tertentu pada sekolah apabila masyarakat telah menyediakan sejumlah biaya pendamping.

c. Mengembangkan sistem sponsorship bagi kegiatan pendidikan.

Melalui upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dan orang tua dalam mendukung program-program sekolah dapat teroptimalkan.

2.3.3. K esejajar an P er an Or ang Tua, Sekolah dan Masyar akat Dalam P endidikan

Comer dan Haynes (1997) mengatakan anak-anak belajar dengan lebih baik jika lingkungan sekelilingnya mendukung, yakni orangtua, guru, dan anggota keluarga lainnya serta kalangan masyarakat sekitar. Sekolah tidak dapat memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan siswa, sehingga diperlukan keterlibatan bermakna oleh orangtua dan anggota masyarakat. Hal ini sangat masuk akal mengingat sebetulnya orangtua, guru dan masyarakat memiliki kesempatan untuk mendiskusikan sejauhmana kemajuan anak. Seiring dengan masyarakat yang semakin kompleks dan penuh tuntutan, maka kebutuhan untuk bermitra seringkali dikesampingkan. Alasannya baik pendidik maupun orangtua tidak memiliki waktu yang cukup untuk bertemu dan membangun hubungan yang baik dalam rangka kemajuan si anak. Sementara ini masyarakat telah menciptakan bias pembagian peran antara orangtua dan guru. Kita terbiasa dengan pandangan bahwa sekolah harus menangani anak dari sisiakademik, sedangkan keluarga mengurusi masalah moral dan

perkembangan emosional anak. Padahal, anak juga belajar mengenai masalah moral dan emosi dari apa yang dijumpainya di ruang kelas. Begitu juga ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat, sesungguhnya mereka juga mengamati sikap-sikap orang dewasa

Permasalahan awal yang harus dipahami adalah bahwa orangtua yang menyekolahkan anaknya rata-rata memiliki hubungan yang kurang kuat dengan sekolah. Banyak dari mereka yang merasa segan untuk membangun hubungan itu, terlebih bagi mereka yang memiliki latar belakang pengalaman tidak menyukai sekolah ketika masih bersekolah dulu. Adapun guru hanya bekerja dan tidak tahu banyak tentang lingkungan sekitar sekolah. Jadi, sebelum ketiga komponen ini membentuk kemitraan, baik guru, keluarga, maupun masyarakat pertama-tama harus belajar percaya dan menghormati satu sama lain.

Kerjasama antara guru, orangtua, kalangan bisnis, dan anggota masyarakat lainnya dalam bentuk mitra penuh berpeluang besar dalam menciptakan program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan lokal yang unik sekaligus menggambarkan keanekaragaman di dalam sekolah. Jadi, mereka dapat membawa iklim sekolah yang baik karena menghargai dan menanggapi adanya perbedaan dan kesamaan di antara siswa. Dengan kata lain partisipasi yang dicita-citakan adalah partisipasi sehat.

Beragam kerjasama dilakukan oleh sekolah dengan berbagai pihak.

Menurut Keith & Girling (1991: 256-259), bentuk hubungan antara sekolah dengan para stakeholder-nya terbagi menjadi tiga model. Model pertama adalah profesional, kedua yaitu advokasi, dan ketiga ialah kemitraan. Model Kemitraan mengandung pembagian tanggungjawab dan inisiatif antara keluarga, sekolah dan masyarakat yang ditujukan pada pencapaian target

kependidikan tertentu. Model ini berbeda dengan dua model lainnya. Model profesional mengandalkan pada layanan pegawai sekolah dan para pakar, sehingga hubungan yang terjalin dengan pihak orangtua atau masyarakat umumnya hanya satu arah. Adapun model advokasi terkesan lebih mendudukkan dirinya sebagai usaha oposisi terhadap kebijakan pendidikan pada umumnya dan sekolah pada khususnya.

Model kemitraan mengandalkan pada kepentingan pribadi orangtua dan anggota masyarakat yang mau tidak mau membuat mereka berpartisipasi dalam aktivitas yang berkaitan dengan sekolah. Kemitraan memandang semua pihak yang memiliki kepentingan terhadap sekolah merupakan pihak yang dapat didayagunakan dan mampu membantu sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, sehingga jejaringnya begitu luas atau dengan kata lain hampir semua orang; siswa, orangtua, guru, staf, penduduk setempat, kalangan pengusaha, dan organisasi-organisasi lokal. Kemitraan memang menitikberatkan pada keterlibatan yang dilandasi oleh kepentingan pribadi, sehingga ketika orangtua terlibat dalam pengambilan keputusan sebenarnya yang melandasi adalah kepentingan anak dari orangtua bersangkutan.

Mitra sekolah selain orangtua adalah masyarakat, dan berkenaan dengan itu Kowalski (2004: 41) menyebutkan alasan kuat perlunya sekolah menjalin kemitraan dengan masyarakat, yakni sebagai berikut:

1. Masyarakat telah membayar pajak untuk terselenggaranya pendidikan 2. Kebanyakan komunikasi sekolah dan masyarakat dilakukan satu

arah, sehingga ada informasi dari masyarakat yang tidak sampai ke sekolah

3. Pendekatan informal cenderung kurang efektif dibandingkan

dengan cara yang lebih sistematis 4. Masyarakat terdiri atas keberagaman

Dengan demikian tidak beralasan lagi mendudukkan sekolah sebagai satu-satunya pranata sosial yang bertanggungjawab atas tumbuhkembangnya sesosok individu. Ada dunia di luar sekolah yang juga memberi kontribusi akan hal itu, dan implikasinya harus ada pensikapan positif dari orangtua dan masyarakat untuk melakukan kerjasama terutama dalam menselaraskan nilai dan pengetahuan siswa dan dukungan penyelenggaraan pendidikan yang dinyatakan dalam bentuk partisipasi pendidikan.

2.3.4. Membangun Kemitr aan Or angtua, Sekolah dan Masyar akat

Pada sebuah penulisan yang dilakukan oleh Bauch dan Goldring (1995: 16-17), dikemukakan adanya implikasi berupa kurang baiknya pengkondisian lembaga dengan nuansa birokratis jika kita bermaksud mengundang lebih banyak partisipasi orangtua. Nuansa ini tercermin dari adanya ukuran sekolah yang terus menerus bertambah besar, semakin peliknya kurikulum, pembedaan siswa, dan terdapat konflik antara staf sekolah dengan pihak eksternal yang mengarah pada masalah akuntabilitas lembaga. Model yang disarankan Bauch dan Goldring untuk dikembangkan adalah model komunitarian, yakni model yang mengedepankan keeratan sosial di antara siswa, orangtua, dan sekolah dengan didasarkan atas nilai, kepercayaan dan harapan yang sama, pengorganisasian kurikulum yang sederhana, tidak

adanya pembedaan siswa, dan ukuran yang tidak terlalu besar.

Membangun kemitraan dengan orangtua menurut Molloy, dkk (1995 :62) dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

Dalam dokumen TESIS. Oleh ITA HENDRIANI /SP (Halaman 36-51)

Dokumen terkait