BAB IV KEPENTINGAN PEMERINTAH INDONESIA
2. Kepentingan Ekonomi
Kerja sama IORA didirikan untuk mengembangkan ekonomi negara-negara anggota. Hal itu berdasarkan Piagam IORA yang menyatakan bahwa tujuan IORA ialah untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan yang seimbang di kawasan Samudera Hindia dan negara-negara anggotanya dan untuk menciptakan landasan bersama bagi kerja sama ekonomi regional.
IORA menjadikan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan mengacu pada konsep ekonomi biru. Komitmen tersebut terangkum dalam deklarasi ekonomi IORA pada Pertemuan Dewan Menteri Ke-14 di Perth, Australia tahun 2014 yang menyatakan untuk lebih memfokuskan IORA pada pengembangan ekonomi biru sebagi model bisnis dan ekonomi, inovasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.118
Komitmen tersebut diperkuat dengan diadakannya Konferensi Ekonomi Biru Tingkat Menteri pertama pada tahun 2015 dan mengadopsi Deklarasi Ekonomi Biru. Tujuan dari deklarasi ini adalah menciptakan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan mempromosikan kelestarian lingkungan dengan melestarikan laut dan sumber dayanya secara bijaksana.119 Ada enam pilar prioritas dalam ekonomi
118 14th Meeting of the Council of Ministers of the Indian Ocean Rim Association,”IORA Economic Declaration,” 9 Oktober 2014.
85
biru IORA, antara lain: Perikanan dan Akuakultur, Energi Laut Terbarukan, Pelabuhan dan pelayaran, Hidrokarbon Lepas Pantai dan Mineral Dasar Laut, Bioteknologi Kelautan, Penelitian, dan Pengembangan, dan Pariwisata bahari.120
Hal ini juga sejalan dengan prinsip-prinsip Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI) yang salah satunya ialah ekonomi biru. Ekonomi biru menurut pemerintah Indonesia merupakan sebuah pendekatan untuk meningkatkan pengelolaan kelautan berkelanjutan serta konservasi laut dan sumber daya pesisir beserta ekosistemnya dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip-prinsip antara lain keterlibatan masyarakat, efisiensi sumber daya, meminimalkan limbah, dan nilai tambah ganda (multiple revenue).121
Dengan demikian, melalui IORA diharapkan mampu untuk membangun kerja sama ekonomi antar anggota yang saling menguntungkan dan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara anggota dalam pengelolaan sumber daya maritim. Dari enam pilar tersebut, Indonesia merekomendasikan berbagai area yang belum berkembang di kawasan IORA untuk dielaborasi seperti perikanan budidaya, pariwisata maritim, keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur, jaringan pelabuhan, pembiayaan yang inklusif, dan ancaman sampah plastik.122
120 Indian Ocean Rim Association, “IORA Round Up 2015,” tersedia di https://www.iora.int/media/23409/151222_iora_round_up.pdf, diunduh pada 10 September 2019.
121 Penjelasan Atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2014 Tentang Kelautan Pasal 14 Ayat 1.
122 A.P Sulistiawan, “Indonesia Promosikan Konsep Kemitraan untuk Bantu Pembiayaan
Nelayan Kecil,” MARITIMNEWS, 8 Mei 2017, tersedia di
http://maritimnews.com/2017/05/indonesia-promosikan-konsep-kemitraan-untuk-bantu-pembiayaan-nelayan-kecil/, diakses pada 16 Sepember 2020.
86
Bagi Indonesia, perikanan tangkap laut dan budidaya berpotensi mempekerjakan sekitar 7 juta orang, yang merupakan sumber pekerjaan penting bagi populasi pesisir.123 Perikanan budidaya merupakan sektor yang sangat potensial. Ada sekitar 24 juta hektar wilayah perairan laut dangkal Indonesia yang sesuai untuk usaha budidaya laut, dengan potensi produksi lestari sekitar 60 juta ton per tahun dan nilai ekonomi langsung sekitar US$ 120 miliar per tahun.124
Namun, menurut data FAO pada tahun 2014, kerugian Indonesia akibat IUU
Fishing mencapai Rp 30 triliun. Sementara itu, menurut hitungan Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) kerugian negara per tahun mencapai US$ 20 miliar atau Rp 240 triliun.125Laut menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir. Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 melaporkan sekitar 7,87 juta jiwa atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional menggantungkan hidupnya dari laut. Mereka tersebar di 10.666 desa pesisir yang berada di 300 dari total 524 kabupaten dan kota se-indonesia.126
Dengan sekitar 140 juta dari 250 juta penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir, ekonomi maritim berpotensi menyediakan lapangan kerja bagi 40 juta orang
123 Staf International Bank for Reconstruction and Development Bank Dunia, Perkembangan
Triwulan Perekonomian Indonesia, 40.
124 Rokhmin Dahuri, “Potensi Sektor Kelautan Indonesia 1,3 Triliun Dolar AS per Tahun,”
Republika.co.id, 15 November 2016, tersedia di https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme- warga/wacana/16/11/15/ogoboq396-potensi-sektor-kelautan-indonesia-13-triliun-dolar-as-per-tahun, diakses pada 14 Agustus 2020.
125 Detik Finance, “Menteri Susi: Kerugian Akibat Illegal Fishing Rp 240 Triliun,” 01 Desember 2014, tersedia di https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-2764211/menteri-susi-kerugian-akibat-illegal-fishing-rp-240-triliun, diakses pada 9 Agustus 2020.
126 Jeany Hartriani, “Potensi Besar Laut Indonesia,” 13 Februari 2017, tersedia di https://katadata.co.id/adekmediaroza/infografik/5e9a56adcf179/potensi-besar-laut-indonesia, diakses pada 14 Agustus 2020.
87
atau sepertiga dari total angkatan kerja di Indonesia. Kontribusi tersebut masih kalah dengan sumbangan PDB beberapa negara terhadap PDB nasionalnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina mencapai 48,5%. Selain itu negara tetangga Vietnam berkontribusi sebesar 57,63% terhadap total PDB.127
Dengan adanya keterlibatan akademisi dalam forum IORA banyak potensi kerja sama sektoral yang bisa digali. Kerja sama alih pengetahuan dan keterampilan mengenai metode penangkapan ikan dan pengolahan hasil tangkapan dapat berpotensi menjadi kerja sama sektoral untuk memperkuat ekonomi kelautan Indonesia.
Selain itu, penting melibatkan para pelaku bisnis untuk memperluas potensi pasar Indonesia dengan negara-negara anggota IORA. Sebab dari potensi pasar di Afrika yang mencapai $ 550 miliar pada tahun 2016, Indonesia hanya memperoleh $ 4,2 miliar, sedangkan potensi pasar di Timur Tengah mencapai $ 975 miliar, tetapi Indonesia hanya memperoleh $ 5 miliar.128
Berhubungan dengan perikanan dan perluasan potensi pasar maka dibutuhkan pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim. Potensi kepadatan lalu lintas kapal-kapal yang melalui perairan Indonesia harus dimanfaatkan, sehingga dibutuhkan infrastruktur pelabuhan yang memadai. Sistem transportasi laut yang baik dan efisien akan meningkatkan daya saing ekonomi dan
127 Andi Perdana Gumilang, “Ekonomi Kelautan dan Poros Maritim,” Investor Daily
Indonesia, 24 November 2016, tersedia di https://investor.id/opinion/ekonomi-kelautan-dan-poros-maritim, diakses pada 9 Agustus 2020.
128 The Jakarta Post, “Indonesia to boost trade in IORA Countries,” The Jakarta Post, 10 Maret 2017, tersedia di https://www.thejakartapost.com/news/2017/03/10/indonesia-to-boost-trade-in-iora-countries.html, diakses pada 15 Oktober 2020.
88
mempertahankan keutuhan wilayah kedaulatan Indonesia. Namun, jaringan infrastruktur laut yang ada belum dikembangan dengan baik.
Berdasarkan Laporan Persaingan Global (The Global Competitiveness
Report) tahun 2015-2017 Indonesia berada pada nilai 3,9 hingga 4,0 atau rangking
82 lalu naik ke-72 dari 137 negara. Jika dibandingkan dengan negara-negara anggota IORA Indonesia berada di peringkat 14 dari 21 negara. Oleh karena itu, pelabuhan-pelabuhan yang menjadi pelabuhan hub atau strategis harus dimodernisasi sesuai dengan standar internasional.
Presiden Jokowi merencanakan sejak tahun 2015 meningkatkan pembangunan 6 pelabuhan internasional, 24 pelabuhan komersial baru, dan lebih dari 1000 pelabuhan komersial. Biaya yang akan dihabiskan diperkirakan mencapai US$ 6-7 miliar.129 Tujuan utama pembangunan infrastruktur pelabuhan hub internasional di daerah-daerah terluar sebagai langkah untuk mengintegrasikan Indonesia dengan sistem jaringan logistik regional dan global. Salah satu pelabuhan hub strategis di kawasan Samudera Hindia yang sedang dibangun ialah Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara.
Di sisi lain negara-negara lingkar Samudera Hindia belum mempunyai suatu jaringan komunikasi antarpelabuhan, yang ada hanya lewat Port of Rotterdam di Belanda. Jaringan komunikasi ini penting agar bisa saling mengumpulkan para operator pelabuhan dan saling mengetahui kapasitas pelabuhan masing-masing. Di kawasan ini juga tidak mempunyai jaringan kepabeanan. Jaringan ini penting untuk
89
saling mengetahui biaya transaksi, produk yang tepat untuk dipasarkan, dan ekspor yang perlu ditingkatkan oleh Indonesia.130
Melalui kerja sama ekonomi di IORA diharapkan juga mampu mengurangi ancaman-ancaman yang telah merugikan sektor-sektor ekonomi maritim Indonesia. Merujuk hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Unversitas Georgia, Amerika Serikat, mempublikasikan pada tahun 2015 menyatakan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik mencapai 187,2 juta metrik ton.131
Secara global Indonesia berada di bawah Cina, namun di atas Filipina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Keenam negara tersebut diperkirakan menyumbang lebih dari 50 persen dari total sampah plastik di lautan. Sampah plastik yang sangat banyak ini dapat menghambat perkembangan positif industri pariwisata bahari yang masih dikembangkan oleh Indonesia.132
Pada tahun 2017 salah satu destinasi wisata Indonesia yang berada di pesisir Samudera Hindia, Bali mendeklarasikan “darurat sampah” karena pantai-pantai populer seperti Jimbaran, Kuta, dan Seminyak dipenuhi oleh sampah plastik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Making Oceans Plastic Free Initiative memperkirakan bahwa polusi kantong plastik menyebabkan hilangnya pendapatan
130 Biro Komunikasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, “Talkshow IORA: Indonesia dan Ekonomi Biru RRI Pro3,” 5 Mei 2017, tersedia di https://maritim.go.id/talkshow-iora-indonesia-dan-ekonomi-biru-rri-pro3-5-mei-2017/, diakses pada 5 September 2020.
131 Markus Makur, “Laut Dunia Darurat Sampah Plastik, Indonesia Turut Menyumbang,” 05 Desember 2017, tersedia di https://sains.kompas.com/read/2017/12/05/170700623/laut-dunia-darurat-sampah-plastik-indonesia-turut-menyumbang-, diakses pada 10 Agustus 2020.
132 Staf International Bank for Reconstruction and Development Bank Dunia, Perkembangan
90
sebesar US$ 140 juta per tahun untuk sektor pariwisata Indonesia, dengan US$ 55 juta dari Bali saja.133
Selain ancaman di atas, masalah perompakan, pembajakan, dan terorisme maritim menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia. Merujuk data laporan
Oceans Beyond Piracy di wilayah Asia yaitu dari pantai timur India hingga Laut
Banda di Indonesia menjelaskan bahwa nilai-nilai kapal curian, barang-barang kru, dan kargo yang di bajak diperkirakan mencapai US$ 6,3 juta pada tahun 2017, naik dari US$ 4,5 juta pada tahun 2016.134
Selanjutnya, berdasarkan data laporan tahunan dari divisi spesial
International Chamber of Commerce (ICC) yaitu International Maritime Bureau
(IMB) dan Armed Robbery Against Ships yang dirilis dari Januari 2011 hingga Desember 2015 dengan pengambilan sampel data di Selat Malaka. Kegiatan terorisme maritim yang terjadi di Indonesia menempati urutan tertinggi. Keuntungan di pihak teroris diperkirakan mencapai US$ 2,2-2,3 juta.135
Oleh karena itu, pada tahun 2016 ekonomi kelautan Indonesia hanya mampu berkontribusi 22% terhadap PDB nasional. Hal tersebut di bawah potensi ekonomi kelautan di Indonesia yang diperkirakan mencapai US$ 280 miliar setiap tahunnya. Pengelolaan potensi kelautan Indonesia yang berkelanjutan di kawasan Samudera
133 Staf International Bank for Reconstruction and Development Bank Dunia, Perkembangan
Triwulan Perekonomian Indonesia, 53.
134 Maisie Pigeon, Emina Sadic, Sean Duncan, Chuck Ridgway, dan Kelsey Soeth, The State
of Maritime Piracy 2017: Assesing the Economic and Human Cost (USA: Broomfield CO, 2018),
20.
91
Hindia akan mendorong pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, ketahanan pangan, melindungi ekosistem untuk generasi mendatang, dan mewujudkan visi Indonesia menjadi “Poros Maritim Dunia.”136
Selain itu, negara-negara anggota didorong untuk saling bertukar informasi darurat seperti pusat peringatan tsunami di kawasan Samudera Hindia. Informasi tersebut berguna untuk mengawasi kerentanan negara-negara di kawasan Samudera Hindia terhadap bencana. Penting untuk berbagi informasi dan pengalaman terkait mitigasi dan adaptasi terhadap ancaman perubahan iklim dan mengawasi kerentanan lingkungan. Sebab, bencana dapat merugikan dan merusak ekosistem perekonomian yang telah dibangun.