• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT YANG

C. Pengelolaan Sumber Daya Laut Berkelanjutan Dalam Kerja

DALAM KERJA SAMA IORA

Lautan dan wilayah pesisir merupakan komponen penting yang terintegrasi dalam ekosistem bumi dan berguna untuk pembanguan berkelanjutan. Selain itu, sumber daya laut dan pesisir menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat

69 Indian Ocean Rim Association, “Special Fund,” tersedia di https://www.iora.int/en/special-fund diakses pada 9 September 2019.

70 Indian Ocean Rim Association, “Special Fund,” tersedia di https://www.iora.int/en/special-fund diakses pada 9 September 2019.

71 Saripudin, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association (IORA) Tahun 2015-2017:

53

pesisir, menjaga ketahanan pangan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu,

Proposal Open Working Group on Sustainable Development Goals yang diajukan

ke Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Agustus 2014 memuat tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) 14 yang bertujuan untuk “Konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya kelautan, samudera, dan laut untuk pembangunan berkelanjutan.”72

Lalu, target SDG 14.7 berfokus pada peningkatan manfaat ekonomi bagi Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS) dan Negara Tertinggal (LDCs) dari penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan, meliputi pengeloaan perikanan tangkap, budidaya perairan, dan pariwisata yang berkelanjutan.73 Keberlanjutan menjadi prinsip utama dalam pengembangan ekonomi laut. Pertumbuhan ekonomi melalui ekonomi biru merupakan strategi jangka panjang yang menjadi pembahasan bagi semua Negara Anggota IORA.

Hal itu dikarenakan Samudera Hindia memiliki potensi nilai ekonomi sumber daya yang besar bagi pertumbuhan perekonomian. Perlu adanya visi bersama yang akan menjadikan sektor ini sebagai pendorong pembangunan ekonomi yang seimbang di kawasan lingkar Samudera Hindia. Pembahasan tentang ekonomi biru mendapatkan momentumnya di IORA pada Pertemuan Tingkat Menteri ke-14 di Perth, Australia 9 Oktober tahun 2014.

72 Sustainable Development Goals Knowledge Platform, “Ocean and Seas,” tersedia di https://sustainabledevelopment.un.org/topics/oceanandseas, diakses pada 9 September 2019.

73 Strategic Policy Advisory Unit UNDP Kenya Country Office, “Leveraging the Blue Economy for Inclusive and Sustainable Growth,” Policy Brief Issues No:6 (April 2018), 1.

54

Pertemuan tersebut menghasilkan Komunike Perth dimana para anggota menyepakati untuk memperkuat ekonomi biru. Tidak dijelaskan secara spesifik terkait definisi dari ekonomi biru ini, namun secara umum dituliskan bahwa ekonomi biru adalah kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan maritim. Kegiatan tersebut bermaksud untuk memperluas perdagangan dan investasi di kawasan agar menstimulasi pertumbuhan dan peningkatan ketahanan energi dan makanan yang meliputi: kegiatan perikanan, eksplorasi sumber daya mineral, pengembangan energi terbarukan, dan pariwisata bahari.74

Dialog mengenai ekonomi biru, pertama kali diadakan di Goa, India pada 17-18 Agustus 2015. Dialog ini membahas tentang aspek-aspek inti dari ekonomi biru. Aspek-aspek tersebut meliputi, kerangka keuangan, perikanan dan akuakultur, energi laut terbarukan, pelabuhan, jasa pengiriman dan manufaktur, dan eksplorasi mineral dan dasar laut. Dalam Deklarasi ini juga menyatakan bahwa definisi bersama terkait ekonomi biru masih terus berkembang. Tetapi kegiatan ini berhubungan dengan kerangka dasar ekonomi kelautan dan ekonomi pesisir.75

Setelah itu, dilanjutkan dengan konferensi tingkat Menteri pertama Ekonomi Biru atau IORA Ministerial Blue Economy Conference diadakan di Mauritius, pada 2-3 September 2015. Konferensi ini menghasilkan Deklarasi Ekonomi Biru. Dalam deklarasi tersebut tercantum beberapa prinsip sebagai panduan dalam mendorong

74 Perth Communique, 9 Oktober 2014.

75 Research and Information System for Developing Countries, “IORA Blue Economy Dialogue on Prospects of Blue Economy in the Indian Ocean,” tersedia di https://ris.org.in/iora/iora-blue-economy-dialogue-%E2%80%9Cprospects-blue-economy-indian-ocean%E2%80%9D, diakses pada 10 September 2019, 1.

55

penerapan ekonomi biru di wilayah Samudera Hindia. Hal itu berkenaan dengan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut agar berjalan optimal, namun menjadi kewajiban bagi negara-negara untuk melestarikan dan melindungi laut untuk generasi mendatang. Secara umum prinsip-prinsip tersebut, antara lain:76

Paradigma ekonomi biru didasarkan pada pendekatan ekosistem, termasuk konservasi berbasis ilmiah tentang sumber daya laut dan ekosistemnya sebagai sarana untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Sektor prioritas IORA dalam ekonomi biru, meliputi: Perikanan dan akuakultur, Energi laut terbarukan, Pelabuhan dan pelayaran, Hidrokarbon lepas pantai dan Mineral dasar laut yang harus dikembangkan secara ramah lingkungan untuk kepentingan sosial ekonomi masyarakat.

Pengelolaan sumber daya laut Samudera Hindia secara berkelanjutan harus dilaksanakan berdasarkan hukum internasional terkait, terutama UNCLOS dan Perjanjian Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity). Negara-negara anggota didorong untuk merumuskan langkah-langkah dalam pengembangan ekonomi biru secara berkelanjutan. Kerja sama dalam pengumpulan data dan pengembangan informasi dasar (baseline data) lingkungan antar anggota IORA menjadi modal penting dalam setiap pengambilan keputusan dan pengembangan kebijakan.

Meningkatkan penelitian, jaringan, dan mempromosikan program pertukaran peneliti di antara negara-negara anggota dan mitra dialog sangat penting untuk

56

memastikan pembangunan berkelanjutan di wilayah ini. Melibatkan kemitraan antara pemerintah dan swasta untuk meingkatkan produktivitas dan upaya pemasaran di berbagai sektor ekonomi biru. Kebutuhan untuk mengatur atau merevisi kerangka kerja peraturan regional dan tata kelola yang ada dengan pengembangan ekonomi biru di wilayah tersebut, berdasarkan pada studi kasus yang ada dan pengalaman yang sesuai dengan wilayah tersebut.

Partisipasi organisasi multilateral lainnya dapat memberikan kontribusi yang berharga bagi pembangunan ekonomi biru berkelanjutan. Pengembangan ekonomi biru dinegara-negara anggota akan menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif dan menarik investasi asing untuk mendorong pertumbuhan. Negara-negara anggota dan Mitra dialog harus mempromosikan pengembangan kapasitas untuk peningkatan keterampilan profesional untuk pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dari berbagai sektor ekonomi biru.

Deklarasi ini berupaya untuk mendorong pemanfaatan sumber daya laut demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan inovasi baru, sembari menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun, pada Pertemuan Tingkat Menteri ke-15 di Padang, Indonesia direkomendasikan menjadi 6 (enam) pilar prioritas dalam ekonomi biru. Selanjutnya, direvisi oleh Sekretariat berdasarkan konsultasi dengan negara-negara anggota, antara lain:

1) Perikanan dan akuakultur, 2) energi laut terbarukan, 3) pelabuhan dan pelayaran, 4) hidrokarbon lepas pantai dan mineral dasar laut, 5) bioteknologi kelautan, penelitian, dan pengembangan, 6) pariwisata bahari. Untuk

57

mempromosikan ekonomi biru sebagai pendorong pembangunan berkelanjutan, penelitian dan pengembangan, investasi, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas harus didorong untuk mengeksplorasi potensi penuh dari lautan dan memastikan bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi biru.77

Dengan demikian, dapat disimpulkan pembahasan bab ini bahwa potensi ekonomi kelautan yang ada di lingkar Samudera Hindia terdiri dari berbagai macam, meliputi potensi sumber daya kelautannya baik dari segi mineral, migas, non-migas dan perikanan, jalur perdagangan dan pelayaran, dan potensi pasar yang besar. Oleh karena itu, IORA sebagai organisasi terbesar di kawasan yang telah berdiri sejak tahun 1997 bertujuan untuk mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pembangunan yang seimbang bagi anggota-anggotanya.

Tujuan tersebut tidak lepas dari tantangan yang dihadapi oleh kebanyakan dari anggotanya yang terdiri atas berbagai tingkat ekonomi. Selain itu, Asosiasi ini melibatkan perwakilan dari pemerintah, pelaku bisnis, dan akademisi. Asosiasi ini dipimpin oleh Dewan Menteri yang memiliki otoritas untuk merumuskan kebijakan dan pembuat keputusan tertinggi. Namun, semua keputusan harus berdasarkan pada konsensus seluruh anggota. Adapula komite pejabat senior yang bertugas pada hal-hal yang sifatnya administatif dan mengawasi fungsi keseluruhan Asosiasi. Terkait pengelolaan sumber daya kelautan, IORA telah menyepakati dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-14 di Perth yang terangkum dalam Komunike Perth yaitu ekonomi biru.

77 Indian Ocean Rim Association, “IORA Round Up 2015,” tersedia di https://www.iora.int/media/23409/151222_iora_round_up.pdf, diunduh pada 10 September 2019.

58

BAB III

KETERLIBATAN INDONESIA DALAM KERJA SAMA IORA

Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar yang berinteraksi langsung dan aktif dalam menjalin kerja sama di kawasan baik di Asia Tenggara melalui

Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan organisasi lainnya di

kawasan, tidak terkecuali di kawasan Samudera Hindia. Dengan demikian dalam bab ini, peneliti akan menjelaskan melalui tiga sub bab. Pertama, latar belakang keikutsertaan Indonesia dalam Indian Ocean Rim Association (IORA). Kedua, visi Indonesia menjadi poros maritim dunia. Ketiga, posisi strategis Indonesia dalam