BAB II PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT YANG
B. Visi Indonesia Menjadi Poros Maritim Dunia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang kini berusaha untuk memanfaatkan potensi kelautan dan pesisir secara maksimal demi kepentingan
81 Firdaus Dahlan, “Indian Ocean Rim Association (IORA) Peran Indonesia Memperkuat Kerja sama di Kawasan Samudera Hindia”, Tabloid Diplomasi, 26 Maret 2015, tersedia di http://www.tabloiddiplomasi.org/indian-ocean-rim-association-iora-peran-indonesia-memperkuat-kerjasama-di-kawasan-samudera-india/, diakses pada 30 September 2019.
61
nasionalnya. Salah satu upayanya ialah memanfaatkan posisi strategis Indonesia diantara dua Samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Hal ini menjadikan sumber daya kelautan Indonesia sebagai salah satu komponen penting dalam kerja sama di kawasan ini.
Pengelolaan kelautan Indonesia tidak terlepas dari visi dan misi Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla saat mereka memulai kampanye dan terpilih dalam Pemilihan Presiden tahun 2014. Pemerintahan Presiden Jokowi mempunyai visi untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia atau “Global Maritime
Axis” dalam visi dan misi untuk 5 tahun masa jabatannya. Gagasan tersebut
merupakan penerjemahan dari Nawa Cita, yaitu 9 agenda prioritas pembangunan pemerintahan Jokowi - JK. Nawa Cita menjadi pondasi perumusan kebijakan luar negeri Indonesia pada era Jokowi.82
Agenda tersebut menjadi prioritas menuju perubahan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, antara lain:
1) menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara, 2) membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, 3) membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, 4) memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan
82 Fitriani dan Vido Chandra Panduwinata, “Analisis Kinerja Kementerian Luar Negeri Indonesia (2015-2018),” CSIS Working Paper Series, (2018), 3.
62
hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya, 5) meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, 6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya, 7) mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, 8) melakukan revolusi karakter bangsa, 9) memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.83
Memahami gagasan Poros Maritim Dunia (PMD) dapat dilihat dalam tiga cara yaitu sebagai visi, doktrin, dan rencana pembangunan ekonomi. Pertama sebagai visi, PMD dipahami sebagai ideologi untuk membangun kembali Indonesia sebagai negara maritim. Kedua sebagai sebuah doktrin, PMD menetapkan bahwa masa depan Indonesia sebagain besar akan ditentukan oleh doktrin ini yang pada gilirannya akan mempengaruhi dinamika Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Ketiga sebagai rencana pembangunan ekonomi, hal ini akan memiliki dampak besar pada sektor maritim khususnya, di bidang sumber daya laut, infrastruktur dan konektivitas maritim, diplomasi maritim, dan pertahanan maritim.84
Poros Maritim Dunia disampaikan dalam pidato Presiden pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) di Nay Pyi Taw, Myanmar 13 November 2014. Implementasi Poros Maritim Dunia dijabarkan melalui lima pilar pembangunan, antara lain pembangunan kembali budaya maritim Indonesia, menjaga dan mengelola sumber daya laut secara optimal untuk kepentingan rakyat
83 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Rencana Strategis tahun 2015-2019, 35-36.
84 Institute of Defence and Strategic Studies, “RSIS Workshop On Indonesia’s Global Maritime Fulcrum Challenges and Trajectories,” Laporan Acara (Juli 2015), 14.
63
dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut, mendorong pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim, melakukan kerja sama maritim melalui diplomasi, dan pembangunan kekuatan pertahanan maritim.85
Ada dua ruang yang menjadi tujuan pelaksaan Poros Maritim Dunia, yaitu internal dan eksternal. Secara internal, tujuan PMD adalah untuk menghidupkan kembali budaya maritim bangsa yang akan mengarah pada penggunaan sumber daya maritim dan ekonomi maritim yang lebih baik, serta untuk memperkuat keamanan negara melalui peningkatan kemampuan pertahanan maritim. Secara eksternal, PMD memanfaatkan lokasi strategis Indonesia di persimpangan dua Samudera, antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta kebutuhan untuk memperluas diplomasi maritim untuk meningkatkan keterlibatan Indonesia dalam kerja sama maritim Internasional.86
Dalam mewujudkan pilar-pilar tersebut Indonesia menyatakan akan memelihara dan mengelola sumber daya laut dengan berfokus pada ketahanan pangan laut, penanganan konflik kelautan, dan pertahanan kelautan. Ketahanan pangan berkenaan dengan pengembangan industri perikanan, infrastruktur, konektivitas maritim yang didalamnya ada industri pelayaran dan pariwisata bahari. Penanganan konflik kelautan berkenaan dengan penangkapan secara ilegal, pelanggarana kedaulatan, sengketa wilayah, pembajakan dan polusi laut. Terakhir
85 Humphrey Wangke, ed., Diplomasi Indonesia dan Pembangunan Konektivitas Maritim (Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2019), 23.
86 Briliantina Putri, “Indonesia’s role in the Indian Ocean Region Cooperation: Post-IORA Chairmanship Strategies,” Intelligente Salzfabrik: Indonesia Self-Integrated Pharmaceutical Raw
64
terkait dengan pertahanan kelautan yaitu untuk melindungi kedaulatan, keamanan dan kekayaan maritim.87
Untuk menunjang kinerja visi Presiden yang akan dicapai, pemerintah mengaktifkan kembali, Kementerian Koordinator Maritim (Kemenko Maritim). Fungsi Kemenko Bidang Kemaritiman difokuskan pada upaya perbaikan mekanisme koordinasi dalam rangka mensinergikan, melaksanakan serta melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan kemaritiman. Hal ini sesuai dengan rencana strategis Kemenko Bidang Kemaritiman 2015-2019 yang dititikberatkan pada upaya koordinasi, sinkronisasi, pengendalian dan pengawasan dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai Negara Kepulauan yang mandiri, maju, dan kuat, menuju poros maritim dunia.88
Dalam menegaskan visi PMD disusun pula Peraturan Presiden No 16 tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI). Pertama kali diluncurkan oleh Menteri Luhut Pandjaitan dalam Konferensi Kelautan Dunia yang digelar di markas PBB.89 Perpres tersebut menjadi payung hukum dan memberikan gambaran yang lebih jelas terkait sektor pengelolaan kelautan Indonesia. Dalam Pasal 1 Perpres tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud PMD merupakan “negara maritim yang berdaulat, maju, dan kuat yang mampu memberikan kontribusi positif bagi
87 Rahmadi dan Arthur Josias Simon Runturambi, “Aceh as Indonesia Maritime Diplomacy Across the Indian Ocean,” dalam International Conference on Social and Political Issues (the 1st
ICSPI, 2016), 602.
88 Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman 2015, 2-3.
89 Biro Perencanaan dan Informasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Menko
Maritim Luncurkan KKI Dalam Sidang Kelautan Dunia, [Siaran Pers], 07 Juni 2017, tersedia di
https://maritim.go.id/menko-maritim-luncurkan-kki-dalam-sidang-kelautan-dunia/ diakses pada 16 September 2019.
65
perdamaian dan keamanan kawasan dan dunia, sesuai dengan kepentingan nasionalnya.”
Terlihat bahwa Indonesia berupaya untuk memperkuat ekonomi maritim dalam memaksimalkan penggunaan potensi bahari di berbagai sektor. Poros Maritim Dunia merupakan visi besar yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan antara dua Samudera, yaitu Pasifik dan Hindia. Indonesia berupaya untuk menyeimbangkan keterlibatannya dalam dua arena maritim tersebut. Visi tersebut secara garis besar berkenaan dengan aspek geografi, geostrategis, dan geoekonomi Indonesia yang dipengaruhi dan mempengaruhi dinamika Samudera Hindia dan Pasifik.90 Diperkuat pula dengan adanya Institusi seperti Kemenko Bidang Maritim.
Indonesia memiliki peran penting bagi dunia internasional, karena terletak pada lokasi strategis yang merupakan jalur lalu lintas pelayaran internasional sebagai Sea Lanes of Communication (SLOC) dan Sea Lines on Trade (SLOT).91
Indonesia juga memiliki tiga jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang dilalui lebih dari 45% total barang dan komoditas perdagangan internasional dengan nilai sekitar USD 1.500 triliun/tahun yang diangkut oleh kapal-kapal niaga melalui laut Indonesia terutama jalur ALKI I (Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Karimata), ALKI II (Selat Lombok dan Selat Makassar), dan ALKI III (Selat Timor, Laut Banda, dan Laut Maluku).92
90 Humphrey Wangke, ed., Diplomasi Indonesia dan Pembangunan Konektivitas Maritim, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018), 62.
91 Wangke, Diplomasi Indonesia dan pembanguan Konektivitas Maritim, 64.
66
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia bertekad menjadikan Samudera Hindia sebagai penyambung konektivitas antara Asia Pasifik dan Afrika serta menjadikan IORA sebagai arsitektur kawasan yang aktif. IORA merupakan kawasan yang sangat diperlukan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi negara-negara di lingkar Samudera Hindia. Kepentingan geopolitik strategis dan ancaman keamanan non-tradisional, seperti penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur, bencana alam, dan perompakan.
Kerja sama strategis Indonesia yang difokuskan dalam forum IORA meliputi enam bidang, yaitu: keamanan maritim, budaya perikanan dan perairan, energi, manajemen resiko bencana, teknologi dan ilmu pengetahuan, pariwisata dan pertukaran budaya. Pada periode kepemimpinannya, Indonesia mengangkat tema “Strengthening Maritime Cooperation in a Peaceful and Stable Indian Ocean”.93
Berdasarkan tema tersebut Indonesia mengajak negara-negara anggota untuk memelihara perdamaian dan stabilitas kawasan. Sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan negara-negara di kawasan.94
Tema ini mempertegas bahwa Indonesia ingin berperan dan meninggalkan sebuah catatan penting dalam posisinya di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia merupakan negara pertama dalam sejarah berdirinya IORA yang mencanangkan tema keketuaan. Periode ini menjadi momentum untuk Indonesia dalam
93 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Laporan Kinerja Ditjen Asia Pasifik dan
Afrika 2016 (Jakarta: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2017), 12.
94 Ludiro Madu, “Urgensi Indian Ocean Rim Association (IORA) Dalam Diplomasi Maritim Indonesia,” Intermestic: Journal of International Studies Vol.2, No.2 (Mei 2018), 173.
67
mengimplementasikan kebijakan kelautannya untuk ikut mendorong pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Langkah itu pula yang menyebabkan Indonesia menjadikan ekonomi biru sebagai instrumen strategi jangka panjang pembangunan ekonomi keluatan yang berkelanjutan dan iklusif di kawasan lingkar Samudera Hindia.