SOFT DIPLOMACY KOREA SELATAN DI INDONESIA
A. Kepentingan Nasional Korea Selatan di Indonesia
Korea Selatan memiliki dua kebijakan nasional utama dalam pelaksanaan politik luar negerinya yakni, mengembangkan ekonomi nasional sambil memperkuat kekuatan pertahanannya. 60 Namun, disamping itu Pemerintah Korea Selatan juga bermaksud untuk memberikan peran dan berkontribusi yang lebih besar bahkan lebih lengkap dalam forum internasional untuk mengatasi masalah-masalah global seperti non-proliferasi dan pemberantasan kemiskinan. Korea Selatan juga berkepentingan meningkatkan citra nasional melalui penyelesaian berbagai masalah diplomatik dan kerjasama internasional dengan meningkatkan infrastruktur diplomatik.
Pemerintah Korea Selatan berupaya memperkuat sumber daya manusia dengan tujuan untuk mengangkat kemampuan diplomatik guna memastikan bahwa Korea Selatan telah sepenuhnya mencerminkan kapasitas nasional dan internasional dalam rangka mewujudkan visi Global Korea yang menjadi tujuan utama dalam Pemerintahan Presiden Lee Myung Bak. Visi Global Korea tersebut dimaksudkan agar tercipta sebuah citra bangsa Korea yang tidak hanya bekerja sama secara aktif tetapi juga dapat memberikan solusi untuk menangani permasalahan yang dihadapi masyarakat internasional.61
60 Yang Seung-Yoon dan Mohtar Mas’oed. 2004. Politik Luar Negeri Korea Selatan. Yoyakarta: UGM Press. Hal. 8
61 Lee Myung-Bak. 2009. The Lee Myung-Bak Administration’s Foreign Policy and National
Security Vision: Global Korea The National Strategy of the Republic of Korea .
39 Setelah berhasil bangkit dari masa imperialisme Jepang, penderitaan perang Korea dan kemiskinan, Korea Selatan telah berhasil memulihkan kedaulatan negaranya selama beberapa dekade ini serta mencapai hasil pembangunan ekonomi dan demokrasi yang kuat. Dewasa ini, Korea Selatan berada dalam waktu yang tepat untuk dapat menjadi negara yang lebih bermartabat dan menempati posisi sejajar dengan negara-negara maju seiring dengan pembangunan ekonomi, demokrasi, dan industri teknologinya yang semakin meningkat. Oleh karena itu, Korea mengadopsi sikap yang lebih terbuka dalam mengimplementasikan kepentingan nasional dan pelaksanaan kebijakan luar negerinya karena keberlangsungan hidup dan masa depan suatu bangsa dipengaruhi oleh totalitas interaksinya dengan masyarakat internasional.
Perwujudan citra Global Korea dapat menjadikan Korea sebagai aktor global yang memiliki cakrawala luas dengan terlibat secara proaktif dalam pergaulan internasional untuk menciptakan perdamaian dunia. Pencitraan Global Korea juga mengacu pada tujuan Korea yang meninggalkan kebiasaan diplomasinya yang sempit dimana hanya diarahkan untuk penyelesaian konflik Semenanjung Korea dan menjadikannya sebuah bangsa yang berbudaya modern. Dengan demikian, Pemerintah Korea Selatan menggunakan soft power yang dapat membangun kapasitasnya untuk menjadi aktor global. Hal tersebut ditunjang oleh kemajuan ekonomi, pengembangan industri teknologi yang semakin canggih, potensi budaya yang artistik dan menarik serta kesejahteraan
40 masyarakat yang disertai dengan kualitas pendidikan yang dimiliki oleh Korea Selatan. 62
Dalam Diplomatic White Paper Republik Korea tahun 2011 dinyatakan bahwa atas dasar disadarinya peranan soft power menjadi semakin penting dan budaya telah meningkat sebagai unsur inti daya saing antarbangsa dan sumber daya ekonomi yang menghasilkan nilai tambah, diplomasi budaya telah menjadi salah satu pilar dalam pelaksanaan diplomasi yang diterapkan oleh Pemerintah Korea Selatan. Korea Selatan sebagai negara middle power yang tidak dapat menjadi balance of power diantara Jepang dan China dengan mengandalkan hard power, sehingga pemberdayaan soft power dianggap penting. Keberhasilan perekonomian Korea dan penyerbarluasan budaya Korea melalui Korean wave dapat menjadi faktor pendorong peningkatan soft power yang dimiliki oleh Korea Selatan.63
Dalam rangka memaksimalisasikan pemberdayaan soft power yang dimilikinya, Korea Selatan membuka cakrawala baru dalam diplomasi yakni dengan soft diplomacy. Sejak tahun 2006, Ministry of Foreign Affairs and Trade (MOFAT) secara tidak langsung terus mendukung penyebaran Korean wave sebagai soft diplomacy dalam meningkatkan soft power yang dimiliki oleh Korea Selatan serta menjadi langkah modal dalam mewujudkan tujuan nasional Global Korea. MOFAT berupaya membangun jaringan global agar Korea Selatan dapat terus menjangkau lebih banyak negara dan lebih meningkatkan hubungan kerjasamanya dengan negara lain. Dengan menjalin
62 Ibid.
63 Joseph S.Nye. Why South Korea Should Go Soft. Korea 2020: Global Perspective for the Next
41 jaringan yang luas secara global, Pemerintah Korea Selatan dapat memperbaiki citra ataupun reputasinya di luar negeri dengan meningkatkan brand Korea dan memperkuat posisinya dalam kepemimpinan global melalui bentuk pendekatan yang lebih proaktif dalam berinteraksi dengan masyarakat internasional.
Sejalan dengan langkah pencapaian kepentingan nasional, Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan kebijakan New Asia Initiative sebagai langkah membangun jaringan global dengan semakin memfokuskan kerjasama di kawasan Asia terutama dengan negara-negara ASEAN sebagai salah satu organisasi regional terbesar di Asia. Apalagi Korea Selatan yang tidak terlepas dari konflik dengan Korea Utara tentunya dapat mengganggu stabilitas dan keamanan nasional sehingga Korea Selatan harus bisa menjalin hubungan baik dengan negara tetangga agar ke depannya Korea Selatan mendapat dukungan dari negara lain dalam upaya reunifikasi antar-Korea. Selain itu, kebijakan tersebut juga mengindikasikan ASEAN sebagai salah satu kawasan dan pasar terbesar bagi Korea Selatan di Asia, maka dari itu menjalin dan mempererat hubungan dengan negara-negara anggota ASEAN menjadi penting bagi Korea Selatan. Indonesia sebagai salah satu anggota ASEAN, menjalin hubungan diplomatik dengan Korea Selatan secara resmi pada tanggal 18 September 1973. Korea-Indonesia terus melakukan upaya perluasan kerjasama bilateral secara regional dan internasional serta menjanjikan untuk mempertahankan ikatan kerjasama yang erat dengan Indonesia.64
64 Ministry of Foreign Affairs and Trade. 2009. Diplomatic White Paper 2009. Republic of Korea. Hal. 68.
42 Peningkatan hubungan kerjasama kedua negara tersebut disepakati dengan menandatangani MoU Joint Declaration on Strategic Partnership between RI and ROK pada bulan Desember tahun 2006 untuk memperluas bidang hubungan kerjasama seperti pembangunan, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Peningkatan hubungan mitra strategis tersebut ditandai dengan ditandanganinya kerjasama bidang kebudayaan pada tahun 2008. Kemudian, Korea-Indonesia bekerja sama menjadi host ‘Bali Democracy Forum’ pada tahun 2010 di Indonesia yang mana berkontribusi untuk memperkuat hubungan kerjasama dengan kedua negara sebagai salah satu upaya untuk mempromosikan demokrasi di wilayah Asia Timur dan setuju untuk memperkuat kerja sama pada masalah Korean Peninsula.65
Hubungan bilateral yang dijalin Korea-Indonesia dilandasi beberapa kepentingan nasional Korea di bidang politik, ekonomi dan sosial-kebudayaan, namun kepentingan ekonomi menjadi kepentingan utama yang ingin dicapai Korea Selatan di Indonesia. Hal tersebut berdasarkan penyataan Mr. Kim Do Hyung, first secretary of Republic of Korea Embassy in Indonesia, Beliau mengungkapkan bahwa:
Kepentingan nasional utama lainnya yang ingin dicapai Korea Selatan di Indonesia adalah di bidang ekonomi. Korea Selatan ingin mempromosikan kerjasama substansial menengah dan rencana ekonomi pembangunan jangka panjang di Indonesia. Korea Selatan sedang berusaha untuk memperluas perannya dalam masyarakat internasional dengan melakukan modernisasi ekonomi dan kebudayaan guna memberikan pengalaman dan
65 Ministry of Foreign Affairs and Trade. 2011. Diplomatic White Paper 2011. Republic of Korea. Hal. 91
43 keahliannya dengan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.66
Upaya mencapai kepentingan nasional suatu bangsa perlu ditopang oleh citra ataupun reputasi negaranya. Maka dari itu, Pemerintah Korea mendirikan President Council on Nation Branding (PCNB) pada 22 Januari 2009 untuk meningkatkan citra nasionalnya dalam komunitas internasional dengan menerapkan strategi sistematis dan komprehensif. Tujuan PCNB adalah untuk menginformasikan kepada dunia untuk mengenal Korea dan mempromosikan citra Korea sebagai sebuah negara yang memberikan kontribusi bagi masyarakat internasional yang menghasilkan produk dan layanan kelas dunia serta sebagai sebuah negara yang menghargai budaya lain.67
Upaya membangun citra ataupun nation-branding Korea Selatan menjadi Global Korea dilakukan dengan mengembangkan unsur kebudayaan. Kebudayaan dijadikan sebagai daya tarik untuk menjalin hubungan bilateral dengan Indonesia agar dapat mengundang investor masuk ke Korea ataupun investor Korea dapat melakukan investasi di Indonesia serta menarik kunjungan wisatawan Indonesia ke Korea. Kebudayaan itu sendiri tidak hanya akan memberikan dampak sosial melainkan dapat pula mempengaruhi bidang
66 Hasil Wawancara terhadap Narasumber Kim Do Hyung pada tanggal 17 April 2012 Pukul 11.00 Wib di Jakarta.
67 President Council on Nation Branding. Vision and Strategy. [Online].
http://www.koreabrand.net/gokr/en/cms/selectKbrdCmsPageTbl.do?cd=0120&m1= 1&m2=5. Diakses pada tanggal 30 Maret 2012 pada pukul 12.00 Wita
44 politik dan ekonomi suatu negara.68 Maka dari itu, Pemerintah Korea Selatan sangat mendukung agar popularitas musik pop Korea di luar negeri terus dilanjutkan agar dapat menarik 20 juta wisatawan asing setiap tahun sampai tahun 2020 sebagai salah satu upaya untuk peningkatan kekuatan perekonomian negara. 69 Peneliti P2P LIPI, Indriana Kartini juga mengungkapkan bahwa:
Korea Selatan adalah friendly country yang tidak mendahulukan kekerasan. Korea Selatan butuh citra tersebut mengingat Korea Selatan yang sedang dalam konflik dengan Korea Utara, disamping persaingan dengan Jepang. Citra yang dibangun tentunya diharapkan untuk mencapai kepentingan ekonomi di Indonesia melalui industri ekspor otomotif serta industri teknologi komunikasi. Tentunya Pemerintah Korea Selatan ingin meningkatkan sektor perekonomian negaranya, sehingga melalui K-Pop yang dijadikan daya tarik tentunya menciptakan minat pasar masyarakat Indonesia terhadap segala bentuk produk Korea dan mulai mengkonsumsinya.70
Korean wave memang telah dipersiapkan untuk dipasarkan ke dunia internasional sejalan dengan adanya dukungan penuh dari Pemerintah sejak masa Pemerintahan Presiden Kim Dae Jung (1993-1998) yang slogan politiknya adalah “Creation of the New Korea”. Dengan kata lain, Pemerintah Korea ingin menghapus citra bangsa yang tradisional dan membuat citra nasional yang lebih baru dan modern. Kebijakan budaya di masa Pemerintahan Kim Dae Jung dimaksudkan untuk membangun identitas budaya dari
68 Jason Strother. 2009. Korea’s Image Problem. [Online].
http://www.asiacalling.kbr68h.com/ur/news/south-korea/805-koreas-image-problem. Diakses pada tanggal 24 desember 2011 pukul 16.41 Wita.
69 KBS. 2012. Kementrian Kebudayaan Umumkan Proyek Untuk Tahun 2012. [Online]. http://world.kbs.co.kr/indonesian/news/news_Cu_detail.htm?No=25593. Diakses pada tanggal 11 maret 2012 pada pukul 09.28 Wita.
70 Hasil Wawancara terhadap Narasumber Indriana Kartini pada tanggal 27 Maret 2012 Pukul 11.00 Wib di Jakarta.
45 perspektif internasional dan untuk membangun kreatifitas budaya suatu bangsa sehingga mantan Presiden Kim dikenal sebagai “President of Culture”. Pada awal tahun 2000-an, setelah krisis finansial yang melanda kawasan Asia di tahun 1997, Pemerintah Korea mulai menargetkan ekspor budaya populer Korea sebagai bentuk inisiatif pelaksanaan sektor perekonomian baru. Mantan Presiden Kim mendirikan Basic Law for the Cultural Industry Promotion pada tahun 1999 dengan mengalokasikan dana senilali US$148.5 juta untuk mengembangkan dan menyebarluaskan budaya popular Korea melalui cara-cara inovatif dengan menggabungkan budaya tradisional mereka dengan budaya modern.71
Tujuan akhir dari soft diplomacy adalah untuk mempromosikan citra positif dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk menarik perhatian negara lain. Seperti banyak bangsa, Korea telah berusaha untuk meningkatkan posisinya dalam tatanan internasional seiring dengan perkembangan soft power di dunia internasional. Dengan demikian, era dimana sektor industri yang memimpin pertumbuhan ekonomi suatu negara juga menjadi sangat didukung dari sektor kebudayaan dan hal tersebut berhasil dilakukan Korea Selatan.
Atas dasar pemulihan dari krisis keuangan global, Pemerintah Korea Selatan telah terus-menerus membuat upaya untuk memperkuat dasar bagi pertumbuhan jangka panjang dan meningkatkan ekonomi riil dengan membangun citra bangsa “Global Korea”. Beberapa tahun ini Korea Selatan telah menjadi tuan rumah beberapa event besar tingkat internasional, berawal
71 Sung Sang-Yeon. 2008. Why are Asians Attracted to Korean Pop Culture?. The Korea Herald (eds). Korean wave. Seoul: Jimoondang. Hal. 16-17.
46 dari World Cup 2002, Summit G-20 2010, Yeosu Expo World Exhibtion 2012 dan Winter Olympic Pyeongchang yang akan digelar tahun 2018, sekaligus dapat menjadi sarana pelaksanaan soft diplomacy dan meningkatkan citra negaranya sehingga dapat semakin memperkuat posisinya di forum Internasional.