TRADISIONAL KARO DI MINYAK KARO LAUCIH
4.3. Kepercayaan Dalam Proses Membuat Minak Pengalun
Menurut Foster dan Anderson (1986 : 63-67), penyakit terdiri dari 2 bagian yaitu personalistik dan naturalistik. Sistem medis personalistik adalah suatu sistem dimana penyakit (illness) disebabkan oleh inervensi dari suatu agen yang aktif, yang dapat berupa makhluk supranatural (makhluk gaib atau dewa), makhluk yang bukan manusia seperti hantu, roh leluhur, atau roh jahat maupun makhluk manusia (tukang sihir atau tukang tenun). Penyakit ini hanya dapat diobati oleh tabib atau penyembuh tradisional.
Begitu juga dengan cara penyembuhannya, masyarakat percaya bahwa obat yang digunakan memiliki kekuatan dan makna dalam menyembuhkan penyakit.
Begitu juga dengan sistem pengobatan tradisional karo, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa setiap bahan dan proses dalam pembuatan obat memiliki arti sendiri bagi kesembuhan penyakit. Minak pengalun sendiri dipercayai memiliki makna dalam setiap bahan yang digunakan, proses penghalusan bahan, proses
pembuatan dam memasak hingga memiliki pantangan sehingga dipercayai ampuh dalam menyembuhkan penyakit pada tubuh manusia.
4.3.1. Kepercayaan Kesaya Sebagai Bahan Utama Minak Pengalun Kesaya-kesaya tiga disebut juga kesaya si lima-lima (dalam bahasa Karo) yang terdiri dari jahe, lada, kencur, bawang merah, dan bawang putih. Kesaya-kesaya tiga atau kesaya si lima-lima adalah ramuan obat-obatan yang diperjual belikan di pasar tradisional. Ramuan ini disebut kesaya si lima-lima karena diidentikkan dengan kata ertima yang artinya menanti penyakit keluar dari dalam tubuh dan sehat kembali. Minyak karo laucih sendiri membeli langsung kesaya ini dari desa Suka Kecamatan Tigapanah, yaitu dari petani langsung. Hal ini dikarenakan hubungan kekerabatan pendiri Minyak Karo Laucih di Desa Suka dan berprofesi sebagai Petani yang menanam langsung kesaya ini. Selain itu kesaya yang dibutuhkan banyak karena produksi Minyak untuk kalangan umum.
Adapun keyakinan si pembuat Minak (Ibu Pakenta br Ginting) dalam ramuan kesaya- kesaya tiga atau kesaya si lima-lima adalah sebagai berikut :
1. Bahing (Jahe)
Bahing diidentikkan berasal dari kata baling dengan arti mbalingken pinakit (dalam bahasa Karo) yang artinya mengganggu penyakit. Jadi, jahe diyakini dapat mengganggu penyakit hingga mengeluarkannya dari dalam tubuh. Seperti yang diungkapkan si pembuat minak:
ibas kiniteken Bahing enda banci mbaling ntahpe ngambekken pinakit ibas kula. Jadi bahing enda mejile pepalem pinakit ibas daging kula.
Penggunaan jahe sebagai obat tradisional telah lama digunakan oleh masyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan Paimin B Farry, (2000) jahe memiliki manfaat untuk menyegarkan tenggorokan, mengeluarkan angin, melancarkan peredaran darah dalam tubuh, obat batuk, menyembuhkan luka lecet dan luka tersayat, menyembuhkan luka gigitan ular, menyembuhkan syaraf muka yang sakit, diare. Minyak jahe juga digunakan sebagai obat penambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Jahe segar dan jahe kering juga banyak digunakan sebagai bumbu masak atau pemberi aroma pada makanan dan sebagai minuman penghangat badan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jahe dapat mengeluarkan dan menyembuhkan penyakit dalam tubuh manusia.
2. Merica (Lada)
Lada diidentikkan berasal dari kata sada (satu) yang artinya bersatu melawan penyakit. Lada juga diartikan sada jadi melala (dalam bahsa Karo), yang artinya satu jadi banyak. Lada digunakan sebagai bahan ramuan minyak, agar minyak terasa hangat dan bersatu dalam menyembuhkan penyakit. Seperti yang diungkapkan si pembuat minak:
“guna lada enda emekap gelah minak e melas ras ersada kerina pulungen e guna pepalem pinakit”
Biji lada banyak dimanfaatkan dalam obat-obatan tradisional karena manfaatnya adalah: Sebagai stimulans pengeluaran penyakit, untuk mengeluarkan angin, meningkatkan selera atau nafsu makan, meningkatkan aktivasi kelenjar keringat, mempercepat pencernaan zat lemak, dan untuk
obat rematik
Daun lada dapat dimanfaatkan sebagai insektisida tehadap ngengat dalam lemari pakaian. Bahkan banyak yang memanfaatkan bubuk lada dicampur dengan telur ayam setengah matang sebagai obat kuat fisik. Bisa juga bubuk lada dicampur dengan madu untuk meningkatkan vitalitas ( Rismunandar, 2000 : 19).
3. Kencur (Kaciwer)
Kaciwer berasal dari kata liwer yang diartikan ngeliwerken si la payo (dalam bahasa Karo) yang artinya mengindari hal yang tidak baik. Jadi, kencur diyakini dapat menghindari hal yang tidak baik yang dapat mengganggu kesehatan tubuh. Seperti yang diungkapkan si pembuat minak:
“kaciwer enda iteki guna engkeliwerken si lapayo ibas kula bage pe pinakit si ibas daging kula”
Kencur memiliki banyak manfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti : Influenza pada bayi, sakit kepala, keseleo, menghilangkan lelah, radang lambung, batuk, memperlancar haid, radang anak telinga, menghilangkan darah kotor, mata pegal, diare, dan masuk angin.3
4. Bawang Merah (Pia)
Pia berasal dari kata piah (dalam bahasa Karo) yang artinya akhirnya. Dalam masyarakat karo, Pia diartikan menjadi sebuah harapan. Pia diartikan dalam bahasa Karo dengan piah jore me pagi kerina yang artinya pada akhirnya semua akan baik-baik saja suatu hari nanti. Jadi, bawang merah diyakini dapat
3 http : // sehat-itu-enak.blogspot.com/2008/12/khasiat kencur bagi kesehatan (diakses 20 desember 2020)
mengahsilkan suatu keadaan yang baik suatu hari nanti, misalnya menyembuhkan penyakit dan menjaga kesehatan tubuh. Seperti yang diungkapkan si pembuat minak:
“ibas kiniteken kalak karo pia enda i ertiken pengarapen ntah pe piah.”
Manfaat bawang merah yang digunakan dalam pengobatan tradisional adalah: Untuk obat luka lama, obat sakit mag, obat masuk angin, untuk obat penyakit kencing manis ( diabetes mellitus), menurunkan kadar gula dan kolesterol tubuh ( Wibowo Singgih, 1999 : 133-134).
5. Bawang Putih (Lasuna)
Lasuna berasal dari kata pasu-pasu-Na (dalam bahasa Karo) yang artinya berkat-Nya. Lasuna juga diartikan dalam bahasa Karo dengan masu-masu-Dibata yang artinya Tuhan mermberkati. Jadi, bawang putih diyakini dapat menyembuhkan penyakit dan merawat kesehatan tubuh dengan berkat dari Tuhan. Seperti yang diungkapkan si pembuat minak:
“ibas kalak karo e iartiken pasu-pasuna, gelah pasu-pasu Dibata pepalem pinakit ras njaga kesehaten daging kula”
Manfaat bawang putih untuk menyembuhskan berbagai penyakit seperti:
Batuk, cacingan, tekanan darah tinggi, gatal-gatal, tifus, mag, diabetes Infeksi usus, infeksi saluran pernapasan, kulit, dan luka-luka akibat gigitan binatang berbisa dapat disembuhkan dengan obat yang ramuannya menggunakan bawang putih. Bahkan bawang putih dapat digunakan untuk obat awet muda atau
menghambat penuaan, meningkatkan kesuburan perempuan, meningkatkan gairah seks dan menguatkan otot-otot badan ( Wibowo Singgih, 1999 : 79).
4.3.2. Kepercayaan Dalam Cara menghaluskan ramuan minak
Dalam menghaluskan ramuan yang menjadi bahan pembuatan minak pengalun dilakukan dengan cara dibersihkan terlebih dahulu. Hal ini supaya kebersihan dan kesterilan bahan dapat dijaga karena digunakan untuk pengobatan.
Setelah dibersihkan ramuan-ramuan dihaluskan dengan berbagai cara agar ekstraksi ramuan menjadi maksimal, yaitu dengan cara digiling (igiling), ditumbuk ( itutu), diperas ( ipereh), dan diiris (ikeret).
Seperti yang diungkapkan Bang Kaban sebagai pengelola, penghalusan ini dilakukan agar ekstrak dari ramuan menjadi maksimal. Secara pengamatan dan telah dilakukan penelitian terkait pengekstrakan tanaman herbal, bahwa tidak semu sama caranya. Bahan yang keras seperti jahe harus digiling sehingga ekstraknya maksimal ketika dimasak dalam media minyak. Bahan seperti daun harus diiri agar tidak mengalami over ekstraksi. Sehingga banyak pengobatan tradisional karo pada umumnya keliru dalam mengekstraksi ramuan. Hal ini menjadi adaptasi dalam cara membuat obat tradisional sehingga obat tersebut lebih maksimal.
Secara kepercayaan masyarakat Karo terdapat juga cara menghaluskan ramuan. Menurut Bang Kaban cara ini sudah diterjemahkan dalam keadaan saat ini yang mana telah terdapat banyak penelitian tentang hasiat dan cara mengekstraksi tanaman herbal. Dari Minyak Karo Laucih sendiri sudah
melakukan uji Lab dan pengamatan sehingga tidak sembarangan dalam mengekstraksi. Tetapi secara kepercayaan masyarakat Karo, tidak dikesampingkan karena memiliki tujuan dalam memaksimalkan hasiat obat tradisional.
kepercayaan dalam cara menghaluskan ramuan minak seperti yang diungkapkan oleh Pakenta Br Ginting sebagai pemilik adalah :
1. Dicuci atau Dibersihkan
Cara menghaluskan ramuan minak dilakukan dengan dicuci atau dibersihkan terlebih dahulu karena dipercaya dapat membersihkan penyakit yang ada di dalam tubuh.
“Pulungen minak perlu icuci entahpe ibersihken lebe sope igilingi eme gelah minak e kari banci mbersihken pinakit”.
2. Digiling
Cara menghaluskan ramuan minak dilakukan dengan digiling karena dipercaya dapat menggiling penyakit yang ada di dalam tubuh.
“Pulungen minak e igilingi eme gelah banci nggiling pinakit e seh mate”.
3. Ditumbuk
Cara menghaluskan ramuan minak dilakukan dengan ditumbuk karena dipercaya dapat menumbuk penyakit di dalam tubuh.
“Pulungen minak e itutu asa melumat gelah banci nutu pinakit seh getem”.
4. Diperas
Cara menghaluskan ramuan minak diperas karena dipercaya dapat memeras penyakit agar keluar dari dalam tubuh.
“Pulungen minak ipereh asa ndarat launa entahpe tasina gelah banci mereh pinakit gelah ndarat”.
5. Diiris
Cara menghaluskan ramuan minak diiris karena dipercaya dapat mengiris penyakit sampai terlepas dari dalam tubuh.
“Pulungen minak ikeret eme gelah ngkeret pinakit gelah lepas bas daging kula nari”.
4.3.3. Kepercayaan dalam proses memasak Minak
Dalam proses memasak minak dilakukan pengadukan sebanyak dua puluh kali searah jarum jam pada saat api sudah dinyalakan. Hal ini agar ramuan ramuan yang dimasak menjadi mujarap dan ampuh melawan penyakit secara kepercayaan sipembuat minak. Dalam proses pengadukan, dahulu diucapkan doa-doa (tabas-tabas) pada ramuan. Doa ini berisi harapan-harapan agar minak menyembuhkan penyakit penggunanya.
Sehingga percaya pada saat digunakan, doa ini menjadi berkat ( Pasu-pasu) dari pencipta untuk menyembuhkan penyakit. Dalam proses pengadukan juga agar ramuan bersatu melawan penyakit. Seperti dituturkan si pembuat minak
“ sanga nasakken minak e, iaduk duapuluh kali kuarah jam erputar.
sie gelah minak reh mbisana mbunuh pinakit ras gelah ersada kerina kesaya e ngelawan pinakit si lit ibas daging kula. Adi nai minak e ibere tabas-tabas gelah pasu-pasu Dibata erbansa pinakit ibas daging kula reh pedasna madan”.
Tetapi menurut bang Kaban, proses pengadukan dilakukan agar ramuan dan minak cepat merata, sehingga pada saat proses memasak dengan media minyak, semua ramuan dapat terekstrak dengan sempurna. Bang menuturkan bahwa sudah dilakukan pengamatan pada saat proses mengaduk.
Hasil pengamatan itu adalah ketika diaduk searah, percampuran ramuan dengan media minak menjadi lebih menyatu. Pengadukan juga harus minimal dua puluh kali adar ramuan ini tercampur dengan sempurna.
4.3.4. . kepercayaan dalam pantangan
Dalam masyarakat Karo terdapat beberapa pantangan yang dipercayai dalam obat tradisional. Larangan ini diturunkan dari leluhur dan orang tua sehingga penggunaan obat tradisional tidak kehilangan hasiat. Pantangan tersebut juga disarankan oleh si pembuat obat atau tabib (guru sibaso) yang dipercayai masyarakat. Pantangan ini juga terdapat di minyak karo Laucih yang secara turun-temurun dipercaya oleh sipembuat. Pantangan tersebut antara lain:
1. Tidak boleh dilangkahi(La banci tingkahi) 2. Tidak boleh dilangkahi(La banci tingkahi) 3. Tidak boleh diduduki (La banci kunduli) 4. Tidak boleh di injak (La banci dedeh) 5. Harus diatas pinggang (Harus i datas awak)
Ketika pantangan dilanggar, pembuat minak percaya bahwa hasiat dalam minak akan hilang sehingga penyakit tidak dapat disembuhkan. Hal ini karena doa yang dipanjatkan tidak akan berguna dalam penyembuhan. Kata sipembuat kuning:
“ adi pantangen e i langgar maka minak enda lanai mbisa janah lanai banci pepalem pinakit, sebab pasu-pasu na e enggo bene”
Menurut Bang Kaban sendiri pantangan ini diterjemahkan dan menjadi etika dan norma manusia dalam menghargai leluhur. Bang kaban mengatakan bahwa pengobatan tradisional merupakan cipta karya leluhur terlebih dahulu yang diturunkan kepada penerusnya, sehingga pantangan ini adalah salah satu cara etika untuk menghargai cipta karya tersebut. Bang kaban juga mengatakan bahwa pantangan seperti harus menyimpan diatas pinggang berguna dalam penyimpanan sehingga keawetan dan kebersihan obat tradisional tetap terjaga. Dan obat tradisional tidak sembarang meletakkannya.