BAB IV
GERAKANSOSIAL BERORIENTASI NILAI DALAM GERAKAN DAKWAH JAMAAH TABLI>GH DI TEMBORO, MAGETAN
A. Kepercayaan Terhadap Nilai: KeyakinanAtas Ajaran dan Pengalaman
Sudut pandang yang digunakan oleh Jamaah Tabli>gh dalam melihat realitas sosial tidak lain adalah melalui sudut pandang agama melalui sudut pandang pendirinya. Sebagaimana yang sudah dijabarkansebelumnya, bahwa kesalehan dan penyimpangan sosial ditentukan oleh pengaruh dari agama yang diyakininya. Agama dapat menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang saleh dan beradab.385Dalam membentuk sebuah masyarakat yang patuh dan beradab adalah dengan terlebih dahulu membentuk keyakinan (iman) individu-individunyanya.
Dalam kaitan ini individu manusia menjadi rusak karena menipisnya iman dalam dirinya. Dan demikian sebaliknya individu manusia menjadi baik itu tidak lain karena tebal dan kuatnya keimana dalam dirinya. Kadar keimanan seseorang berpengaruh besar terhadap tingkah laku diri manusia. Oleh karena itu, berangkat dari pengaruhsituasi pengalaman pendiri gerakan dakwah ini (Maulana Ilyas),386 tidak jarang dalam diri kelompok Jamaah Tabli>ghTemboro menamakan gerakan dakwah mereka dengan gerakan iman.387
Kenapa iman menjadi sangat pokok bagi Jamaah Tabli>gh dalam interaksi sosial, hal ini tidak lain karena iman yang tertancap kuat dalam diri seseorang
385 Pengertian semacam ini mengandaikan bahwa agama berperan langsung terhadap kontrol sosial. Lihat Bryan S. Turner, Relasi Agama & Teori Sosial Kontemporer, (Yogyakarta: IRCiSod, 2012), 22.
386 Maulana Ilyas mengatakan, kalau boleh dilekatkan pada gerakan dakwah ini sebuah nama, maka sebutan yang tepat adalah dakwah kepada keimanan.
387
akan mampu menyadarkan diritentang konsekwensi berbagai akibat perbuatan yang dilakukannya. Iman akan dapat mengkondisikan seseorang menjadi selalu awas akan rasa kehadiran Tuhan dalam setiap kesempatan dari detik ke detik eksistensinya.388
Sebagaimana sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa kerusakan moral Mewat tidak lain disebabkan oleh menipis dan memudarnya keimanansehingga membuat mereka bertingkah dan berperilaku Jahiliah "pra Islam", meraka tidak menyadari konsekwensi dari perbuatan yang mereka lakukan, mereka tidak merasa bahwa Tuhan senantiasa awas secara detail terhadap sekecil apapun perbuatan mereka.
Porak porandanya keimanan Mewat itulah yang menjadi acuan utama pengalaman dakwah Jamaah Tabli>gh hingga akhirnya melahirkan sebuah aksi konkrit dalam bentuk gerakan
khuru>j fi sabi>lilla>h
hingga kemudian berhasil mengentaskan Mewat dari "kejahiliahannya".Pengalaman ini menjadi "frame
"para pengikut Jamaah Tabli>gh dalam melihat dunia sosial dimasyarakat.Cara pandang di atas menjadi sebuah pedoman gerakan ini sampaiterus menerus melakukan aksi-aksi dakwah dalam rangka mengentaskan saudara-saudara seiman lainnyayang terjebak dalamkemaksiatan. Karena pengalaman Mewat itu sangat mungkin – bagi Jamaah Tabli>gh – juga berlangsung terhadap umat Islam dibelahan dunia yang lain,sebagaimana gerakan dakwah ini juga akan tetap melakukan dakwahnya sebagai ikhtiar mengontrol dan memelihara keimanan dalam masyarakat yang sudah baik keimanan dan akhlaknya.
388Mula>na> Muhammad Yu>suf al-Kadahla>wi>, H{aya>t al-S{ah}a>bah, Juz 3, (Lahu>re-Pa>kista>n, KutubKha>nah Faid}i>, t.t), 1-2.
Hal itu karena pengaruh jaman modern, dalam pandangan Jamaah Tabli>gh,modernitas begitu sengit memberikan dampak negatif terhadap keimanan seseorang.Ambisi mengejar kenikmatan dunia dan meraih kepuasannya membutakan matahati manusia sehingga demi meraihnyamenggunakan segala macam cara, seperti korupsi,memanipulasi, mengkonsumsi obat-obatan terlarang demi sebuah kepuasan, seks bebas, dan lain sebagainya.
Kenyataan demikian seperti dikemukakan oleh pemikir Barat, Giddens, bahwaapa yang dikenal dengan era modern yang disebut sebagai pencerahan ternyata juga menyimpan kubangan kerusakan moral dan kegelapan (iman) yang tidak dangkal.389
Oleh karenanya menurut Jamaah Tabli>gh gerakan dakwah demi membentengi keimanan harus terus hidup dan diperjuangkan. Dakwah adalah hidup ini, dan hidup ini adalah dakwah. Dalam rangka kepercayaan semacama ini Jamaah Tabli>gh Temboro sebagaimana Jamaah Tabli>gh yang di belahan lainnya senantiasa memelihara semangat keyakinan dakwah ini.
Khuru>j
adalah gerakan tanpa henti.Hal inisebagaimana apa yang sudah dikatakan oleh Kiai Utsman, bahwaGerak dakwah Jamaah Tabli>gh ini adalah hidup itu sendiri, artinya selamanafas kehidupanmasih ada maka dakwah bagi Jamaah Tabli>ghsuatu keniscayaan hingga sampai kelak Allah memanggil mereka untuk kembali (mati).390Khuru>j fi> sabili>llah
adalah cara mengembalikan atau mempertahankan keimanan. Di Temboro Jamaah Tabli>gh senantiasa mengajak atau mengingatkan
389Anthony Giddens, Konsekwensi-konsekwensi Modernitas, Tarj. Norhadi, cet. 4, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011), 9.
warga untuk selalu meluangkan waktunya melaksanakan
Khuru>j fi> sabili>llah
sebagai upaya dalam menumbuhkan dan atau mengokohkan keimanan.
Secara historis usaha yang dilakukan oleh Jamaah Tabli>gh dapat ditemukan dalam permulaan Islam. Permulaan Islam memperjuangkan iman ke tengah-tengah masyarakat Jahiliyah. Iman menjadi dasar utama sebagai pondasi akhlak sosial umat Islam.391
Perjuangan iman ini sedemikian penting karena keimananmampu menjadi pengendalitindakan individu kepada berbagai hal positif sehingga iman pantasmenjadi prasyarat yang tidak dapat ditawardalam rangka membentuk masyarakat
t}ayyibatun wa rabb al-ghafu>r
, yaitu sebuah tatanan sosial yang dipenuhi dengan kaharmonisan, keberkahan, dan ridha Allah s.w.t.Dengan begitu kimanan bagi Jamaah Tabli>ghmempunyai dua fungsi. Pertama keimana dapat menjadi solusi dari berbagai timbulnya bentuk-bentuk kejahatan yang selalu membayang-bayangi interaksi kehidupan sosial. Kedua keimanan menjadi benteng dan alat kontrol untuk tetap menjadi individu-individu yang baik. Dari individu-individu-individu-individu ini akan terbentuk lingkungan yang baik, mulai dari keluarga sebagai lingkungan terkecilnya kemudian dari keluargaini akan lahir masyarakat yang baik dan bermanfaat bagi sesama.
Kenapa kondisi sosial yang baik perlu terus dipertahankan dan dipelihara hal itu karena berhubungan erat dengan pembentukan bangunan generasi yang akan datang. Jamaah Tabli>gh Temboro memandang regenerasi masa depan yang akan datang sangat bergantung terhadap lingkungan sosialnya. Oleh karenanya kondusifitas keimanan masyarakat perlu terus menerus dirawat melalui
391
individunya, dengan merawat keimanan ini secara otomatis sudah melakukan kontrol sosial.392
Dari pada itu keimanan oleh Jamaah Tabli>gh dapat menjadi pendorong terjadinya perubahan ke arah yang positif dan mempertahankannya, keimanan pula oleh Jamaah Tabli>ghdapat memberikan vitalitas dan progresifitas dakwah melakukan gerakan perubahan atau mempertahankan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Konsep iman sebagai keyakinan berorientasi nilai dalam gerakan dakwah Jamaah Tabli>ghyang secara langsung berdampak signifikan terhadap lingkungan sosial serta dapat menjadikontrol sosial dapat digambarkan sebagai berikut:
Iman/Kontrol
individu lingkungan sosial
keluarga