• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepuasan Konsumen Dalam Perspektif Islam 12

Dalam dokumen Disusun Oleh: RIZKI RINALDI NIM (Halaman 31-36)

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Kepuasan Konsumen

2.1.1. Kepuasan Konsumen Dalam Perspektif Islam 12

Dalam menentukan kepuasan konsumsi bagi seorang muslim harus berorientasi dalam mengoptimalkan maslahah bukan memaksimalkan. Karena dalam rasionalitas islam menganggap prinsip lebih banyak tidak selalu lebih baik (the more isn’t always the better). Maslahah akan terwujud ketika nilai berkah optimum dapat terpenuhi. Oleh karena itu kandungan berkah sangat mempengaruhi preferensi konsumen pada saat akan mengonsumsi barang. Hal ini menjadikan konsumen akan selalu mengoptimalkan berkah dalam usaha mengoptimalkan maslahah.

Dalam ilmu ekonomi Islam, kepuasan seorang muslim disebut dengan qona‟ah. Kepuasan dalam Islam (qona‟ah) merupakan cerminan kepuasan seseorang baik secara batiniah maupun lahiriah. Kepuasan dalam Islam berkaitan dengan keimanan yang melahirkan rasa syukur. Kepuasan menurut Islam harus mempertimbangkan beberapa hal berikut: Barang atau jasa yang dikonsumsi harus halal, dalam mengonsumsi barang atau jasa tidak berlebih-lebihan dan Tidak mengandung riba.

13

Dalam ekonomi islam kepuasan dikenal dengan maslahah, dengan pengertian tepenuhi kebutuhan baik bersifat fisik maupun spiritual. Islam sangat mementingkan keseimbangan kebutuhan fisik dan nonfisik yang didasarkan atas nilai-nilai syariah. Seorang muslim untuk mencapai tingkat kepuasan harus mempertimbangkan beberapa hal,yaitu barang yang dikonsumsi adalah halal, baik secara dzatnya maupun secara memperolehnya, tidak bersikap isrof (royal) dan tabzir(sia-sia).

2.2. Prinsip Amanah

Amanah merupakan fondasi dasar dalam relasi sosial manusia, definisi amanah sangat luas cakupannya. Amanah melingkupi seluruh hal yang berhubungan dengan interpersonal sesama umat manusia dan relasi dengan Sang pencipta, yaitu Allah.

Katsir (2013) amanah ialah segala kewajiban atau tanggung jawab agama yang meliputi persoalan dunia dan akhirat yang semuanya itu bertuju kepada manusia.

Dari perspektif bahasa, amanah bersumber dari bahasa arab yang memiliki arti aman, jujur, atau dapat dipercaya. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa (2013) amanah adalah sesuatu yang dititipkan kepada orang lain, setia, dan dapat dipercaya. Amanah adalah suatu kepercayaan yang diberikan kepada seseorang untuk ditunaikan kepada yang berhak Amirin(2007). Orang yang amanah ialah orang yang mampu melaksanakan kewajiban yang diberikan.

Amanah dalam perspektif agama Islam memiliki makna dan kandungan yang luas, di mana seluruh makna dan kandungan tersebut bermuara pada satu pengertian yaitu setiap orang merasakan bahwa Allah swt senantiasa menyertainya dalam setiap urusan yang dibebani kepadanya, dan setiap orang memahami denganpenuh keyakinan bahwa kelak ia akan dimintakan pertanggung jawaban atas urusan tersebut.

Dalam sudut pandang islam (Al-Qur‟an dan Hadis), amanah dapat dilihat dari bermacam aspek. Dalam Al-Quran terdapat enam kata amanah, yaitu Al-Qur'an surat Al Ahzab: 72, amanah sebagai tugas atau kewajiban; surat Al Baqorah: 283, amanah sebagai hutang atau janji yang harus ditunaikan; surat An Nisa’:58, amanah berupa kewajiban yang wajib disampaikan kepada yang berhak;

surat Al Anfal: 27, mengenai memelihara amanah; surat Al Mukminun: 8, imbauan menjaga amanah; dan surat Al Mangarij: 32 imbauan menjaga amanah.

Dalam Hadist, amanah bisa didapatkan dalam sejumlah hadis mengenai amanah, misalkan, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya” (H.R. Muslim).

“Apabila seseorang membicarakan sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh ke kiri dan ke kanan (karena yang dibicarakan itu rahasia, maka itulah amanah (yang harus dijaga)”. (HR. Abu Dawud).

15

Ada beberapa indikator dalam amanah antara lain: patuh terhadap hukum, bertanggung jawab terhadap tugas (baik dalam konteks ibadah maupun terhadap muamalah), kesetiaan komitmen, teguh dalam memegang janji, kejujuran pada diri sendiri, menjaga hubungan silaturahmi, dan menjaga alam. Adapun uraian dari aspek dan indikator sebagai berikut:

1. Amanah terhadap hak-hak Allah

Pemenuhan hak-hak Allah pada dasarnya merupakan aspek amanah yang bersifat vertical. Sebagai status hamba yang diemban manusia menjadikannya memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya atas hak-hak Allah SWT. Dengan pendekatan ini hubungan Allah dengan manusia jelas diatur dalam hukum syariat Islam sehingga lebih tepatnya disebut dengan hablumminallah.

Selain hubungan vertikal secara langsung kepada Allah SWT, untuk menegakkan syariat-syariat Islam agar lebih terarah dalam menjalankan amanah-amanah Allah SWT perlu juga pemenuhan hukum-hukum syariattersebut. Hukum syariat tersebut dapat membatasi untuk melakukan perbuatan-perbuatanyang dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama.

2. Amanah terhadap hak-hak manusia.

Bertanggung jawab merupakan dasar yang wajib dijalankan dalam menjalankan amanah agar dapat ditunaikan sesuai keinginan pemberi amanah. Tanggung jawab terhadap tugas dalam konteks hubungan antar manusia merupakan indikator amanah yang sangat penting.

3. Amanah terhadap hak-hak alam.

Dalam menjalankan suatu kegiatan apapun yang terdapat dimuka bumi ini tak pernah lepas dari kekuatan alam.Alam merupakan bagian penting untuk keberlanjutan suatu entitas tanpa kehadiran dan kemauan alam maka apa yang dikehendaki manusia tak akan dapat tercapai.

Dalam sistem ekonomi Islam salah satu prinsip yang harus ditegakkan adalah prinsip amanah. Amanah bermakna mengembalikan hak apa saja kepada pemilik aslinya, tidak meraup suatu yang melampaui bagiannya serta tidak mengambil hak orang lain, bisa itu berupa harga atau upah Qardhawi(177). Allah berfirman:

اَهِل ۡهَأ ََٰٰٓلِإ ِتََٰنََٰمَ ۡلۡٱ ْاوُّدَؤُ ت نَأ ۡمُكُرُمَۡيَ ََّللَّٱ َّنِإ۞

ْاوُمُكَۡتَ نَأ ِساَّنلٱ َ ۡيَۡ ب مُت ۡمَكَح اَذِإَو يرِصَب ا َۢ

َعيَِسَ َناَك ََّللَّٱ َّنِإ ٓۗ

ٰٓۦِهِب مُكُظِعَي اَّمِعِن ََّللَّٱ َّنِإ ِِۚلۡدَعۡلٱِب ا َ

٨٥

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Q.S. An-Nisa‟[4]: 58).

Bidang usaha dengan amanah dikenal dalam Islam berupa menjual dengan sistem murabahah, yakni pedagang memberitahukan kriteria, kualitas, dan harga barang dagangan kepada konsumen tidak disertai dengan melebihkannya. Amanah

17

bertambah penting saat seseorang membentuk serikat dagang (musyarakaf), melakukan bagi hasil (mudharabah), atau menitipkan barang untuk menjalankan proyek yang telah disepakati bersama (wadi'ah).

Menurut Tsamara (2006), amanah tidak hanya memiliki penjelasan terpercaya atau dipercaya, akan tetapi juga adanya indikator didalamnya guna tercapainya amanah, indikator tersebut adalah tanggung jawab, tepat janji serta transparan.

Dalam dokumen Disusun Oleh: RIZKI RINALDI NIM (Halaman 31-36)

Dokumen terkait