BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangk
Dalam melakukan suatu penelitian diperlukan adanya kerangka teoritis sebagaimana yang dikemukan oleh Ronny H. bahwa “untuk memberikan landasan yang mantap pada umumnya setiap penelitian harus selalu disertai dengan pemikiran teoritis”. 14 Di dalam suatu teori sedikitnya terdapat tiga unsur, yakni: Pertama, penjelasan mengenai hubungan antara berbagai unsur dalam suatu teori. Kedua, Teori menganut sistem deduktif, yaitu bertolak dari suatu yang umum dan abstrak menuju suatu yang khusus dan nyata. Ketiga, Teori memberikan penjelasan atau gejala yang dikemukakannya. Fungsi teori dalam suatu penelitian adalah untuk memberikan pengarahan kepada penelitian yang akan dilakukan.15 Hukum merupakan sarana untuk mengatur kehidupan sosial. Tujuan hukum adalah mewujudkan keadilan (rechtsgerechtigheid), kemanfaatan (rechtsutiliteit) dan kepastian hukum (rechtszekerheid).16
Ketentuan kepailitan merupakan aturan yang mempunyai tujuan untuk melakukan pembagian harta debitor kepada para krediturnya dengan melakukan sita umum terhadap seluruh harta debitor yang selanjutnya dibagikan kepada kreditur sesuai dengan hak proporsinya. Ketentuan kepailitan ini merupakan pelaksanaan
14
Ronny. H Soemitro. Metodelogi Penelitian Hukum. (Jakarta: Ghali, 1982). Hal. 37
15
Sutan Remy Sjahdeini. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi
Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia. (Jakarta: Institur Bankir Indonesia, 1993).
Hal 8
16
Achmad Ali. Menguak Tabir Hukum;Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis. (Jakarta: PT. Gunung Agung, Tbk, 2002). Hal. 85
lebih lanjut dari ketentuan Pasal 1131 juncto 1132 KUHPerdata, dimana merupakan realisasi dari prinsip paritas creditorium dan prinsip pari passu prorate parte.17
Penelitian ini menggunakan Teori Thomas H. Jackson yang menyatakan : “ A more profitable line of persuit might be to be view bankruptcy as a system
designed to mirror the agreement one would expect the creditors to form among themselves were they able to negotiate such an agreement from an ex ante position. It is this approach that I characterize as the “creditors” bargain”.18
Teknik dasar teori ini adalah menyaring hukum kepailitan melalui model “a
creditor’s bargain” dimana apabila seseorang yang kehilangan kepemilikannya
dalam kepailitan ditunjukkan untuk menyetujui terlebih dahulu adanya kerugian. Pembebasan debitor dapat menjadi penyebab motivasi dari sebagian besar pembagian piutang kepada kreditur antara lain: Asset disusun sedemikian sehingga mereka dapat dialokasikan di antara pemegang klaim melawan debitor atau kekayaan debitor; Tagihan ditentukan sedemikian sehingga peserta-peserta di dalam proses pembagian mungkin dipertemukan; Peraturan menentukan siapa yang diprioritaskan diantara penagih-penagih akan mendapatkan apa dan dalam kedudukan sebagai apa.19 Menurut Jackson, ketiga pertimbangan tersebut memungkinkan bahwa kreditur tidak terjamin pada umumnya akan setuju kepada system kolektif sebagai pengganti rencana pemulihan piutang individu karena tidak ada kreditur tunggal.
17
M. Hadi Shubhan., Op.Cit., hal 67 18
Sunarmi. Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum Kepailitan di Indonesia. (Medan: Pustaka Bangsa, 2008). Hal 19
19
Teori “a creditor’s bargain” ini kemudian dikembangkan kembali oleh
Thomas H. Jackson dan Robert E. Scott yang menyatakan bahwa tujuan utama dari
kepailitan adalah untuk memaksimalkan kesejahteraan kelompok secara bersama-sama (dikenal dengan Teori Creditor’s Wealth Maximization) merupakan teori yang paling banyak dianut dalam hukum kepailitan. Jackson merumuskan hukum kepailitan dari persfektif ekonomi sebagai “An aclilicary, parallel system of debt-
collection law” sedangkan keadaan pailit adalah cara melaksanakan suatu putusan
tentang apa yang akan dilakukan terhadap harta debitor.
Kritik David Gray Carlson terhadap versi efesiensi dari kontraktarianisme akan terpusat pada kekayaan, bahwa semua atau kebanyakan kreditur akan menawar untuk mendapatkan otoritas yang setara dalam kepailitan. Menurut Jackson semua kreditur setuju untuk mendapatkan prioritas yang setara dalam kepailitan dan hal itulah disebut dengan “tawar-menawar kreditor (creditor’s bargain). Kesetaraan kreditur pada debitor pada gilirannya adalah esensi dari kepailitan. Kreditur benar-benar mempunyai pandangan yang setara terhadap kesempatan mereka dalam hal kebangkrutan debitor. Kreditur hanya peduli dengan memaksimalkan recovery mereka. Di dalam kepailitan terdapat enam teori menurut Vanessa Finch, yaitu:20
1. Creditor’s Wealth Maximization; 2. Contraction Approach;
3. The Communitarian Vision;
20
Freddy Simanjuntak. Penangguhan Eksekusi (Stay) Benda Agunan Dalam Kepailitan:
4. The Forum Vision; 5. The Etchical Vision; dan
6. The Multiple Value / Electic Approach.
Berdasarkan ke-enam teori diatas yang paling banyak dianut adalah teori
creditor’s wealth maximization. Hukum kepailitan adalah suatu prosedur tentang
penagihan dan pembayaran utang yang berlaku secara kolektif terhadap debitor yang sudah tidak mampu membayar lagi dan segala harta debitor yang ada menjadi boedel pailit untuk pelunasan utangnya kepada kreditur.
Dalam rangka restrukturisasi ekonomi, Indonesia memerlukan suatu sistem hukum yang lebih efektif dibidang perdagangan. Oleh karena sejak Indonesia melakukan privatisasi terhadap ekonomi yang semula didominasi oleh Negara, perekonomian akan semakin lebih bertumpu pada pasar daripada perencanaan kordinasi ekonomi serta memperluas sektor manufaktur. Hal ini berarti membutuhkan sistem hukum yang mampu memberikan kepastian terhadap harapan-harapan dan penyelesaian secara efektif sengketa ekonomi.21 Sektor kehidupan masyarakat yang mengalami perkembangan dengan cepat antara lain adalah kegiatan di bidang ekonomi. Berbagai rezim hukum di bidang ekonomi mengalami perubahan menyesuaikan dengan model hubungan ekonomi yang diciptakan untuk memperlancar aktivitas ekonomi. Kebutuhan pengembangan hukum terkait dengan
21
aktivitas perekonomian sangat penting bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang menapak jalan kebangkitan dari krisis ekonomi.
Salah satu produk hukum yang diperlukan dalam menunjang pembangunan perekonomian nasional adalah peraturan yang mengatur mengenai kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Sehingga dengan demikian Hukum Kepailitan Indonesia juga mengalami perubahan, yakni perubahan atas Undang-undang tentang kepailitan (FaillissementsVerordening Stb 1905 No. 217 jo Stb 1906 No. 348) ditetapkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang pada tanggal 22 April 1998, yaitu dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang tentang Kepailitan.22
Perpu Nomor 1 Tahun 1998 yang berlaku tanggal 20 Agustus 1998 dan selanjutnya Perpu Nomor 1 Tahun 1998 tersebut dikuatkan menjadi UU Nomor 4 Tahun 1998 dan direvisi kembali setahun kemudian sejak disahkan oleh DPR.23 Latar belakang dikeluarkannya Perpu No.1 Tahun 1998 dikarenakan beberapa pertimbangan, salah satunya seperti gejolak moneter yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 memberikan pengaruh yang tidak menguntungkan terhadap perekonomian nasional, dan menimbulkan kesulitan yang besar dikalangan dunia usaha untuk meneruskan kegiatannya termasuk dalam memenuhi kewajiban kepada
22
Ahmad Yani & Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis: Kepailitan. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002). Hal 3
23
Amandemen UU Nomor 4 Tahun 1998 ini kemudian dilakukan pada 18 Oktober 2004 dengan keluarnya UU Nomor 37 Tahun 2004.
krediturnya.24 Adanya revisi terhadap peraturan kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran diharapkan dapat memecahkan sebagian persoalan penyelesaian utang-piutang, untuk itu perlu adanya mekanisme penyelesaian sengketa yang adil, cepat, terbuka, efektif, melalui suatu pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Umum yang dibentuk secara khusus dan diberikan tugas khusus untuk menangani, memeriksa, dan memutuskan berbagai sengketa tertentu di bidang perniagaan termasuk di bidang kepailitan dan penundaan pembayaran.25 UUK dan PKPU di dasarkan pada beberapa asas, yaitu: Asas Keseimbangan, Asas Kelangsungan Usaha, Asas Keadilan, dan Asas Integritas.
Lembaga hukum kepailitan merupakan perangkat yang disediakan oleh hukum untuk menyelesaikan utang-piutang di antara debitor dan kreditur. Filosofi hukum kepailitan adalah untuk mengatasi permasalahan apabila seluruh harta debitor tidak cukup untuk membayar seluruh hutang-hutangnya kepada seluruh krediturnya. Hakikat tujuan adanya kepailitan adalah proses yang berhubungan dengan pembagian harta kekayaan dari debitor terhadap para krediturnya. Kepailitan merupakan jalan keluar untuk proses pendistribusian harta kekayaan debitor yang nantinya merupakan boedel pailit secara pasti dan adil.26 Kepailitan adalah sita umum atas barang-barang milik debitor untuk kepentingan kreditur secara bersama. Semua barang dieksekusi dan hasilnya dikurangi dengan biaya eksekusi. Sehingga dalam hal ini UU Kepailitan
24
Sutan Remy Sjahdeini. Loc. Cit., hal 32 25
Ibid
26
kelihatannya lebih berpihak kepada kepentingan kreditur. Parameter suatu undang-undang yang baik adalah diukur dari aspek filosofis, sosiologis dan yuridis. Undang-undang idealnya mempunyai kekuatan berlaku mengikat karena memang peraturan tersebut diterima secara sukarela oleh masyarakat bukan karena dipaksakan berlakunya oleh penguasa. Ketentuan dalam UU Nomor 4 Tahun 1998 belum sepenuhnya berdasarkan asas pemberian perlindungan yang seimbang bagi para pihak yang terkait dan berkepentingan dalam kepailitan sebagaimana diatur dalam Pasal 1 UU Nomor 4 Tahun 1998. Oleh karena itu pada tanggal 18 Oktober 2004, UU Nomor 37 Tahun 2004 dilahirkan untuk menyempurnakan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam UU Nomor 4 Tahun 1998.27
27 Ibid
2. Kerangka Konsep
Menghindari kesimpangsiuran dalam menafsirkan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, dikemukakan beberapa definisi operasional sebagai berikut:
1. Kepailitan adalah Sita umum atas semua harta kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang.28
2. Debitor Pailit adalah Debitor yang sudah dinyatakan pailit pada putusan Pengadilan.29
3. Insolvensi adalah Suatu keadaan dimana debitor tidak mampu membayar.30 4. Kurator adalah Balai Harta Peninggalan dan orang perorangan yang
berdomisili di Indonesia yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan/ atau membereskan harta pailit, serta terdaftar pada Kementerian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan.31
5. Pengadilan Niaga adalah Pengadilan dalam lingkup peradilan umum yang mengeluarkan putusan pailit dan putusan penundaan kewajiban pembayaran utang.32
28
Pasal 1 angka (1) UUK dan PKPU
29
Pasal 1 angka (4) UUK dan PKPU
30
Penjelasan Pasal 57 ayat (1) UUK dan PKPU
31
Pasal 70 UUK dan PKPU
32
6. Kreditur Preferen (yang diistimewakan) adalah Kreditur yang oleh undang-undang, semata-mata karena sifat piutangnya, mendapatkan pelunasan terlebih dahulu.33
7. Hak istimewa adalah Suatu hak yang diberikan oleh undang-undang kepada seorang kreditur yang menyebabkan ia berkedudukan lebih tinggi daripada yang lain, semata-mata berdasarkan sifat piutang itu.34
8. Hak Tanggungan adalah Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan utang tertentu, memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.35
9. Objek Hak Tanggungan adalah terdiri atas hak-hak atas tanah serta benda-benda yang berkaitan dengan tanah.36
10. Akta Pemberian Hak Tanggungan adalah Akta PPAT yang berisi pemberian hak tanggungan kepada kreditur tertentu sebagai jaminan untuk pelunasan piutangnya.37
33
Jono. Hukum Kepailitan. (Jakarta: Sinar Grafika, 2008). Hal 5
34
Pasal 1134 UUK dan PKPU
35
Pasal 1 ayat (1) UUHT
36
Pasal 4 UUHT
37
11. Sertifikat Hak Tanggungan adalah Tanda bukti adanya hak tanggungan yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.38
12. Pemberi Hak Tanggungan adalah Orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak tanggungan yang bersangkutan.39
13. Pemegang Hak Tanggungan adalah Orang perorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang.40
14. Harta Pailit adalah Segala kekayaan yang dimiliki debitor dalam bentuk benda bergerak maupun benda tetap yang merupakan objek dari tugas kurator.41 15. Eksekusi adalah Pelaksanaan putusan pengadilan atau salinan akta-akta yang
mempunyai kekuatan eksekutorial.42
16. Hukum Eksekusi adalah Hukum yang mengatur tentang pelaksanaan hak-hak kreditur dalam suatu perjanjian kredit (utang-piutang) yang dijamin dengan harta kekayaan tertentu milik debitor, apabila debitor tersebut ternyata tidak memenuhi prestasinya.43
38
Pasal 14 ayat (1) UUHT
39
Pasal 8 ayat (1) UUHT
40
Pasal 9 UUHT
41
Pasal 69 ayat (1) UUK dan PKPU 42
Rudhy A. Lontoh, et. al., Penyelesaian Utang Piutang Melalui Pailit atau Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang. (Bandung: Alumni, 2001). Hal 540
43
Sri Soedewi Masjchoen Sofyan. Hukum Perdata: Hukum Benda, Cet. 5. (Yogyakarta: Liberty, 2001). Hal 31
G. Metode Penelitian 1. Spesifikasi Penelitian
Penelitian (research) berarti pencarian kembali. Pencarian yang dimaksud adalah terhadap pengetahuan yang benar (ilmiah), karena hasil dari pencarian akan dipakai untuk menjawab permasalahan tertentu.44
Penelitian pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya, kecuali itu maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam tehadap fakta hukum tersebut untuk kemudian yang ditimbulkan di dalam gejala yang bersangkutan.45
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian ini maka penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu menggambarkan semua gejala dan fakta serta menganalisa permasalahan yang ada sekarang, berkaitan dengan Hak Eksekutorial Kreditur Preferen Dalam Kepailitan Debitor. Pendekatan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif atau pendekatan perundang-undangan. Pendekatan ini digunakan untuk mengadakan pendekatan terhadap permasalahan dengan cara melihat dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai hak eksekusi kreditur preferen dengan tujuan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum.
44
Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003). Hal. 19
45
2. Sumber Data
Oleh karena penelitian ini menggunakan pendekatan hukum normatif, yaitu dengan melakukan library research untuk mengumpulkan data sekunder dengan menggunakan bahan hukum yang terdiri dari:
a. Bahan hukum primer, yaitu peraturan perundang-undangan serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Yang diantaranya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan Undang-Undang Hak Tanggungan.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang diperoleh dengan melakukan penelitian literatur, yaitu melakukan penelitian atas pendapat dan pemikiran para ahli hukum yang dituangkan dalam literatur hukum, karya tulis ilmiah bidang hukum serta bentuk-bentuk tulisan lainnya yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.
c. Bahan hukum tersier46, yaitu bahan yang memberikan pertunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
46
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif. (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2003). Hal 33.
Menyebutkan bahwa bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang, pada dasarnya mencakup:
1. Bahan-bahan yang memberikan petunjuk kepada bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang lebih dikenal dengan nama bahan acuan bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum, contohnya, abstrak perundang-undangan, direktori pengadilan, ensiklopedia hukum, indeks majalah hukum dan kamus hukum.
2. Bahan-bahan primer, sekunder dan tersier diluar bidang hukum, misalnya, bidang sosiologi, ekonomi, ilmu politik, filsafat dan lain sebagainya, yang oleh para peneliti hukum dipergunakan untuk melengkapi ataupun menunjang data penelitiannya.
3. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengadakan studi dokumen. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data sekunder yaitu melalui studi pustaka dengan mempelajari bahan hukum sekunder yaitu perundang-undangan, buku-buku bacaan yang berhubungan dengan hukum kepailitan dan kreditur preferen, putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap, hasil seminar ataupun hasil seminar penelitian yang dituangkan dalam bentuk buku ataupun makalah, serta bahan lainnya yang berhubungan dengan permasalahan yang ditelitI, didukung juga oleh kamus hukum dan tambah pedoman wawancara dengan Bapak Syuhada selaku Anggota Teknis Hukum Kantor Balai Harta Peninggalan Medan.
4. Analisa Data
Analisa data dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau untuk menguji hipotesis-hipotesis penelitian yang telah dinyatakan sebelumnya. Analisis data adalah proses penyederhanaan data dan penyajian data dengan mengkelompokkannya dalam suatu bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasi.47 Penelitian ini mengunakan analisis normatif sehingga bahan-bahan kepustakaan adalah sumber dari penelitian yang kemudian diolah menggunakan metode induktif dan deduktif serta kemudian dilakukan pembahasan untuk menyelesaikan
47
permasalahan yang ada. Analisa data merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.48 Yang dilakukan dalam analisis data adalah menginventarisasi semua ketentuan hukum positif yang menyangkut tentang kepailitan, hak tanggungan, hukum jaminan, kedudukan dan hak kreditur preferen dalam hal terjadi kepailitan debitor.
48
BAB II
KEDUDUKAN KREDITUR PREFEREN
DALAM KEPAILITAN
A. Kepailitan
1. Pengertian dan Syarat Kepailitan
Secara tata bahasa, kepailitan berarti segala yang berhubungan dengan “pailit”. Istilah “pailit” dijumpai dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan Inggris. Dalam bahasa Perancis, istilah “faillite” artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran. Orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar utangnya disebut dengan Le failli. Didalam bahasa Belanda dipergunakan istilah faillit yang mempunyai arti ganda yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Sedangkan dalam bahasa Inggris digunakan istilah to fail, dan didalam bahasa latin dipergunakan istilah failire.
Dalam Black’s Law Dictionary pailit atau “Bankrupt adalah “the state or
condition of the person (individual, partnership, corporation, municipality) who is unable to pay its debt as they are, or become due”. The term includes a person against whom an involuntary petition has been filed, or who has filed a voluntary petition, or who has been adjudged a bankrupt.49
49
Dari pengertian yang diberikan dalam Black’s Law Dictionary dapat dilihat bahwa pengertian pailit dihubungkan dengan “ketidakmampuan untuk membayar” dari seorang debitor atas utang-utangnya yang telah jatuh tempo. Ketidakmampuan itu harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri, maupun atas permintaan orang ketiga (diluar debitur), suatu permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan, maksud pengajuan permohonan tersebut adalah sebagai suatu bentuk pemenuhan asas “publisitas” dari keadaan tidak mampu membayar dari seorang debitor. Tanpa adanya permohonan tersebut ke pengadilan, maka pihak ketiga yang berkepentingan tidak akan pernah tahu keadaan tidak mampu membayar dari debitor. Keadaan ini kemudian akan diperkuat dengan suatu putusan pernyataan pailit oleh Hakim Pengadilan, baik itu merupakan putusan yang mengabulkan ataupun menolak permohonan kepailitan yang diajukan.50 Defenisi kepailitan itu sendiri tidak ditemukan dalam Faillisements Verordening maupun dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1998. Kepailitan adalah pembeslahan massal dan pembayaran yang merata serta pembagian yang seadil-adilnya diantara para kreditur dengan dibawah pengawasan pemerintah. Selanjutnya dijelaskan :
1. Pembeslahan massal, mempunyai pengertian bahwa dengan adanya vonis kepailitan, maka semua harta pailit kecuali yang tercantum dalam Pasal 20
Faillissement Verordening, dibeslag untuk menjamin semua hak-hak kreditur.
50 Ibid
2. Pembayaran yang merata serta pembagian yang seadil-adilnya menurut posisi piutang dari para kreditur yaitu:
a. Golongan kreditur separatis (hypotik, gadai).
b. Golongan kreditur preferen (Pasal 1139 dan 1149 KUHPerdata). c. Golongan kreditur konkuren.
3. Dengan di bawah pengawasan pemerintah. Artinya, bahwa pemerintah ikut campur dalam pengertian mengawasi dan mengatur penyelenggaraan penyelesaian boedel si pailit, dengan mengerahkan alat-alat perlengkapannya yaitu:
a. Hakim pengadilan niaga b. Hakim komisaris
c. Kurator (weeskamer / BHP)
Setelah keluarnya UU No. 37 Tahun 2004, pengertian pailit dijumpai dalam Pasal 1 angka (1) yang menyebutkan: “Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini”. Dilakukan penyitaan secara umum dimaksudkan untuk menghindari para kreditur bertindak sendiri-sendiri, agar semua kreditur memperoleh manfaat dari harta kekayaan debitor pailit, dengan cara dibagi menurut perimbangan hak tagihan atau tuntutan mereka masing-masing.
Permohonan pernyataan pailit dapat dilakukan jika persyaratan kepailitan telah terpenuhi. Dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU disebutkan bahwa syarat kepailitan adalah “debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya”. Ketentuan tersebut mengisyaratkan bahwa untuk dapat mempailitkan debitor harus:
1. Mempunyai 2 (dua) atau lebih kreditur, dan
2. Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
Rasio kepailitan adalah jatuhnya sita umum atas semua harta benda debitor untuk kemudian setelah dilakukan rapat verifikasi tidak tercapai accord, dilakukan proses likuidasi atas seluruh harta benda debitor untuk kemudian dibagi-bagikan hasil perolehan kepada semua krediturnya sesuai tata urutan kreditur tersebut menurut undang-undang. Dengan demikian jika seorang debitor hanya memiliki satu kreditur saja, maka kepailitan akan kehilangan rasionya, itulah sebabnya diisyaratkan adanya
consursus creditorium. Berdasarkan Pasal 2 ayat (1), dapat diketahui bahwa
pernyataan pailit merupakan suatu putusan pengadilan. Sehingga itu berarti bahwa sebelum adanya suatu putusan pengadilan, seorang debitor tidak dapat dinyatakan dalam keadaan pailit. Dengan adanya pengumuman putusan pernyataan, maka berlakulah ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata atas seluruh harta kekayaan debitor
pailit, yang berlaku umum bagi semua kreditur konkuren dalam kepailitan tanpa terkecuali, untuk memperoleh pelunasan atas seluruh piutang-piutang konkuren mereka. Sebelumnya rumusan ini diberikan oleh Pasal 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan.
Syarat debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu “utang"51 yang telah