• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Berfikir

Dalam dokumen ANALISIS KETEPATAN PREDIKSI POTENSI KEBA (Halaman 38-45)

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.4 Kerangka Berfikir

Informasi tentang kinerja perusahaan yang tercermin dari laporan posisi keuangan, laporan rugi laba, dan aliran kas perusahaan serta informasi lain yang terkait dengan laporan keuangan dapat diperoleh dari laporan keuangan perusahaan.

Dalam penelitian sebelumnya dilakukan oleh Beaver tahun 1966 telah membuktikan bahwa secara empiris rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat prediksi kegagalan pada sebuah perusahaan, meskipun tidak semua rasio dapat memprediksi dengan sama baiknya dan tidak dapat memprediksi dengan tingkat keberhasilan yang sama. Beaver

menggunakan Univariate Analysis. Beaver mempertemukan sampel

perusahaan yang gagal dengan yang tidak gagal kemudian meneliti rasio keuangan selama lima tahun sebelum perusahaan gagal dan menemukan bahwa ternyata rasio keuangan perusahaan yang tidak gagal berbeda dengan perusahaan yang gagal (Adnan dan Taufiq,2001:183)

Studi lain dilakukan oleh Altman (1984) telah menemukan ada lima rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi

kebangkrutan perusahaan beberapa saat sebelum perusahaan tersebut bangkrut. (Supardi dan Mastuti, 2003:74) hasil analisa menunjukkan bahwa rasio keuangan (profitability, liquidity dan solvency) bermanfaat untuk memprediksi kebangkrutan dengan tingkat keakuratan 95 % setahun sebelum perusahaan bangkrut. Tingkat keakuratan tersebut turun menjadi 72 % untuk periode dua tahun sebelum bangkrut, 48 % untuk periode tiga tahun sebelum perusahaan bangkrut, 29 % untuk periode empat tahun sebelum bangkrut dan 36 % untuk periode lima tahun sebelum bangkrut. Hasil penelitian ini menunjukkan penurunan kekuatan prediksi rasio keuangan untuk periode waktu yang lebih lama (Adnan dan Taufiq,2001:184)

Model untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan perbankan yang digunakan oleh Altman yaitu Rasio Modal Kerja Terhadap Total Aktiva, Rasio Laba Ditahan Terhadap Total Aktiva, Rasio Pendapatan Sebelum Bunga Dan Pajak Terhadap Total Aktiva, Rasio Harga Pasar Modal Sendiri Terhadap Nilai Buku Total Kewajiban dan Rasio Penjualan Terhadap Total Aktiva. Dari kombinasi rasio tersebut dimasukkan dalam model prediksi Altman dengan persamaan sebagai berikut :

Z-Score = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,10X3 +0,420X4+ 0,998X5

a. Apabila nilai Z-Score diatas 2,90 (Z-Score > 2,90) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.

b. Apabila nilai Z-Score antara 1,20 sampai 2,90 (1,20 < Z-Score < 2,90) perusahaan berada dalam daerah kelabu (grey area).

c. Apabila nilai Z-Score dibawah 1,20 (Z-Score < 1,20) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang berpotensi bangkrut.

Setyarini dan Abdul Halim (1999) melakukan studi potensi kebangkrutan perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan analisis Z-Score Altman sebagai indikator tingkat kesehatan atau potensi kebangkrutan perusahaan. Indikator Z-Score untuk seluruh sample 38 perusahaan, apabila dikelompokkan dalam kategori sehat (skor > 2,9), grey area (skor antara 1,2 dan 2,9) dan bangkrut (skor <1,20. Dengan kesimpulan adanya perbedaan potensi kebangkrutan secara signifikan antara sebelum dan pada masa krisis dan analisis Z-Score yang digunakan merefer pada Altman lebih ditujukan pada sektor perbankan. (Supardi dan Masuti,2003:75)

Liby (1975) memperluas penelitian Altman dan Beaver menemukan bahwa rasio-rasio profitability, activity, liquidity dan indebtness dapat memprediksi kebangkrutan bank. Hal ini juga sesuai dengan Robertson (1985) yang menyatakan kebangkrutan dipengaruhi oleh rasio-rasio likuiditas, solvabitas, produktifitas dan profitabilitas. Studi yang dilakukan Zmijewski (1983) menambah validitas rasio keuangan

sebagai alat deteksi kegagalan keuangan perusahaan (Achmad dan Kartiko,2003:61)

Berdasarkan teori-teori dan penelitian-penelitian diatas peneliti menegaskan bahwa rasio-rasio keuangan dapat digunakan dalam memprediksi tingkat kegagalan suatu usaha. Hal ini dapat dijelaskan bahwa hasil analisis rasio dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola perusahaannya. Sebagai contohnya rasio leverage yang terdiri dari selisih antara total aktiva dan total kewajiban, apabila total aktiva lebih banyak daripada total kewajibannya maka dapat diketahui bahwa perusahaan tersebut dapat memenuhi kewajibannya dan potensi kegagalan usahanya atau potensi kebangkrutannya kecil begitupun sebaliknya jika total kewajibannya lebih besar dari total aktivanya maka perusahaan dapat mengalami kegagalan usaha atau potensi kebangkrutan besar karena perusahaan tidak mampu membayar kewajiban- kewajibannya.

Analisis rasio menggunakan analisis Altman Z-Score sudah terbukti dapat digunakan untuik memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan karena dalam formula Altman tersebut mengkombinasikan beberapa rasio yang mengukur tingkat likuiditas, aktivitas, profitabilitas suatu perusahaan.

Rasio-rasio tersebut antara lain working capital/total assets yang mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan. Apakah perusahaan dapat membayar semua kewajibannya dari total aktiva . Retained earning/total

assets yang merupakan rasio profitabilitas yang mendeteksi atau mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam periode tertentu. Dan rasio-rasio yang lain yang dikombinasikan sehingga menghasilkan kesimpulan besar kecilnya potensi kebangkrutan perusahaan tersebut.

Berdasarkan pemahaman di atas maka analisis Altman Z-Score dapat digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan perbankan. Salah satu pihak yang berkepentingan mengetahui seberapa besar potensi kebangkrutan yang dimiliki perusahaan adalah para calon investor saham. Para calon investor saham akan tertarik untuk membeli saham jika saham yang ditanamkannya dalam perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi investor. Tingkat keuntungan yang tinggi yang diharapkan oleh investor akan terpenuhi jika perusahaan mampu menghasilkan profit yang tinggi pula dalam perusahaan. Profit yang tinggi akan mencerminkan kinerja yang baik dari manajemen perusahaan dan akan mampu mempertahankan going concernnya. Jika potensi kebangkrutan perusahaan bernilai besar maka dapat dimungkinkan bahwa calon investor kurang tertarik untuk menanamkan sahamnya di perusahaan itu karena investor tidak mau dibebani kerugian karena colapsnya perusahaan. Oleh karena harga saham tergantung dari kekuatan permintaan dan penawaran pasar maka jika permintaan saham berkurang harga saham akan turun pula. Sehingga dapat dirumuskan bahwa jika potensi kebangrutan yang diperoleh dengan model

Altman Z-Score semakin besar maka harga saham di pasar bursa akan turun.

Laporan Keuangan Working Capital To Total Assets Retained Earning To Total Assets Earning Before Interest and Taxes To Total Assets Market Value of Equity to Book Value of Total Debt Sales to Total Assets

Perhitungan Model Altman Z-Score

BANGKRUT Analisis Prediksi Potensi Kebangkrutan SEHAT (TIDAK BANGKRUT) TERMASUK GREY AREA Harga Saham

Dalam dokumen ANALISIS KETEPATAN PREDIKSI POTENSI KEBA (Halaman 38-45)

Dokumen terkait