BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan A elihat
bahwa pada tahun 1999 potensi perusahaan-perusahaan perbankan masih dalam
bahwa
ekonom sia. Bahkan beberapa diantara perusahaan
s mengalami merger dengan bank lain. Bank-bank tersebut hitung = 2,11
Dengan dk = n-2 = 83 dan
Oleh karena t hitung > t tabel maka Ho diterima, jadi korelasi yang terjadi mempunyai arti.
ltman Z-Score kita dapat m
posisi dikhawatirkan mengalami kebangkrutan. Hal ini bisa dipahami tahun 1999 perusahaan masih belum bisa lepas dari dampak krisis
i yang melanda Indone perbankan haru
antara lain PT Bank Bali Tbk dan PT Bank Universal Tbk yang merger menjadi PT Bank Permata Tbk bersama PT Bank Unibank Tbk dan bank lain.
Penyebab utama dari memburuknya kinerja perbankan ini adalah bertumpuknya utang yang tidak bisa dibayar, terutama utang-utang jangka pendeknya, sehingga mempengaruhi working capital perusahaan. Mayoritas
perusahaan mengalami working capital negatif. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator kebangkrutan karena working capital negatif menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu membayar utang-utang jangka pendeknya.
rata-rat
Nilai yang ikut mempengaruhi rendahnya nilai Z-Score adalah nilai retained earning yang menurun dalam dua tahun terakhir. Sedang harga saham ketiga bank tersebut terus mengalami penurunan drastis. PT Bank Bali Tbk pada tahun 1999 memiliki harga saham sebesar Rp 450,00 per lembar dengan rata-rata semester harga saham pertama tahun berikutnya senilai Rp 437,00 menjadi Rp 75,00 per lembar pada tahun 2000 dengan
a harga saham semester pertama tahun berikutnya senilai Rp 53,33 . PT Bank Unibank memiliki harga saham pada tahun 1999 sebesar Rp 125,00 menjadi Rp 40,00 per lembar di tahun 2000 dengan harga saham rata-rata semester pertama tahun berikutnya senilai Rp 166,67 menjadi Rp 36,67 pada tahun berikutnya. Dan PT Bank Universal pada tahun 1999 memiliki harga saham Rp 125,00 menjadi Rp 45,00 per lembar pada tahun 2000 dan pada tahun 1999 rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya senilai Rp112,5 menjadi Rp 26,6 pada semester pertama pada tahun 2001. Hal ini menunjukkan reaksi pasar yang negative terhadap harga saham yang beredar di masyarakat.
Walaupun pemerintah telah menyuntikkan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) namun tetap membuat bank-bank merasa kesulitan karena pengenaan suku bunga BLBI yang tinggi pula. Hal ini diperparah dengan adanya masyarakat yang menarik semua simpanannya di
bank secara besar-besaran (rush) yang menyebabkan aset perbankan kosong melompong.
nurunan dari Rp 8.276,00 menjadi Rp 4.925,00 per lembarnya
ucuti sehingga tingkat p
Tahun 2000 gelombang dampak krisis ekonomi di bidang perbankan belum juga pulih. Hal ini nampak pada nilai Z-Score yang masih sama seperti tahun 1999. Mayoritas perusahaan memperoleh nilai Z-Score di bawah 1,2 yang berarti potensi kebangkrutan masih relatif besar .Rata-rata harga saham pada perusahaan-perusahaan perbankan di tahun 2000 mengalami pe
dan reaksi pasar terhadap harga saham-saham tersebut yang dihitung dari rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya juga mengalami penurunan dari Rp 262,21 menjadi Rp 143,3 per lembarnya
Di tahun 2000 muncul kasus Bank BNI yang mengalami pengenaan Bank Dalam Pengawasan (BDP) berkaitan dengan adanya kredit macet Grup Texmaco yang mencapai Rp 10 Trilyun. Hal ini menyebabkan nilai Z-Score turun lagi di bawah 1,2 menjadi -0,481 yang mulanya di tahun 1999 dengan nilai Z-Score sebesar -0,448. Setelah BNI masuk dalam kategori BDP maka oleh BPPN kredit macet tersebut dil
rofitabilitas BNI bisa meningkat walaupun sedikit menjadi 0.25 %. Sedangkan harga saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) menurun drastis dari Rp 300,00 per lembar menjadi Rp 95,00 per lembarnya. Dan rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya juga mengalami penurunan yaitu dari Rp 216,67 menjadi Rp 76,67 per lembarnya.
Pada tahun 2001 masih banyak perusahaan perbankan yang mempunyai nilai Z-Score kurang dari 1,2 masih relatif sama dengan tahun sebelumnya. Mayoritas harga saham pada tahun ini masih mengalami penurunan. Hal ini bisa kita lihat pada rata-rata harga saham yang menurun dari Rp 7.925,00 per lembar menjadi Rp 7.325,00 per lembarnya. Namun reaksi p
ang luar negeri yang jatuh tempo tidak bisa terb
saham PT Bank International Indonesia
asar yang tercermin dari harga saham selama 6 bulan setelah pubilkasi malah mengalami kenaikan dari Rp 143,3 pada tahun 2000 menjadi Rp 188,75 per lembarnya.
Bahkan di tahun 2001 ini muncul kasus BII yang melibatkan pihak BPPN (Bank Penyehatan Perbankan Nasional). Dalam lampiran 15 jelas terlihat bahwa nilai Z-Score selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 1999, 2000 dan 2001 masih dibawah 1,2.
Hal ini terjadi karena ut
ayar sehingga menyeret BPPN untuk turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut. Hal ini terjadi karena Grup Sinar Mas yang merupakan pemegang saham 18 % mempunyai ketidakmampuan dalam membayar surat utang di luar negeri. Sedangkan harga
Tbk pada tahun terakhir terus mengalami penurunan dari Rp 100,00 pada tahun 1999 menjadi Rp 40,00 pada tahun 2000 dan di tahun 2001 menjadi Rp 25,00 per lembarnya. Seiring dengan rendahnya nilai Z- Score selama tiga tahun berturut turut dari -0,105 tahun 1999, -0,125 di tahun 2000 dan -0,308 di tahun 2001. Untuk harga saham rata-rata semester pertama PT Bank International Indonesia Tbk mengalami kenaikan dan
penurunan, harga saham rata-rata semester pertama setelah publikasi pada tahun 1999 senilai Rp 95,83 dan menurun pada tahun 2000 menjadi Rp 27,5 sedangkan pada tahun 2001 naik menjadi Rp 39,17 per lembar.
Pada tahun 2002 nilai Z-Score perusahaan-perusahaan perbankan masih saja sama dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu masih berada di wilayah yang diprediksi bangkrut. Hal ini terutama dipengaruhi indikator yang pertama yaitu working capital /total assets. Working capital tahun ini meningkat sedikit dibanding tahun sebelumnya. Seperti terlihat pada lampiran 1
keadaan dan kondisi.Un
0. Harga saham pada tahun ini rata-rata naik dari Rp 7,325,00 per lembar pada tahun 2001 menjadi Rp 11.985,00 per lembar pada tahun 2002. Rata-rata harga saham 6 bulan setelah pubilkasi yang mencerminkan reaksi pasar yang terjadi pada tahun ini mengalami peningkatan yang semula Rp 188,75 pada tahun 2001 menjadi Rp 251,67 pada tahun 2002.
Pada tahun 2003 kondisi perusahaan-perusahaan perbankan masih juga sama dengan tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya nilai Z-Score yang masih dibawah 1,2. Nilai z-score yang diperoleh perusahaan-perusahaan perbankan tersebut memang mengalami peningkatan namun hanya beberapa persen saja. Sehingga tidak merubah
tuk harga saham pada tahun ini semakin meningkat seiring meningkatnya nilai Z-Score. Rata-rata harga saham pada tahun ini meningkat menjadi Rp 15.676,00 per lembarnya. Demikian pula rata-rata harga saham bulan Januari sampai bulan Juni setelah publikasi meningkat dari Rp 251,7 menjadi Rp 421,18 pada tahun ini.
BAB V