3.1 Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan hasil abstraksi dan sintesis teori dari kajian pustaka yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan teori keagenan (agency theory) sebagai dasar penelitian. Teori keagenan (agency theory) menjelaskan hubungan antara principal (pemegang saham) dan agent (manajemen). Dua jenis masalah dalam hubungan keagenan tersebut, yaitu masalah kompensasi manajerial dan masalah asimetri informasi (Jensen dan Meckling, 1976). Masalah kompensasi manajerial dapat dipecahkan melalui negosiasi tentang kompensasi manajerial dan program kepemilikan saham untuk manajemen, sedangkan masalah asimetri informasi dapat dipecahkan melalui peran auditor independen yang memberikan jasa keyakinan (assurance
services) kepada pemegang saham bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh
manajemen terbebas dari salah saji material dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Dalam hubungan keagenan, principal membutuhkan auditor eksternal sebagai pihak yang dianggap independen dalam memberikan jasa keyakinan yang berkualitas (kualitas audit laporan keuangan yang baik). Meskipun auditor eksternal dibayar oleh klien, auditor tersebut harus menjaga independensinya kepada publik, bukan kepada klien. Itulah sebabnya auditor eksternal disebut juga akuntan publik. Audit yang berkualitas dari akuntan publik ini diharapkan akan
menghasilkan informasi laporan keuangan yang handal (reliable). Publik terutama pasar cenderung merespon positif terhadap informasi keuangan yang handal sehingga perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan dengan kualitas informasi yang handal cenderung memiliki price to earnings ratio yang tinggi.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti dapat merumuskan permasalahan yang akan diteliti, kemudian membangun hipotesis berdasarkan kajian teori dan penelitian sebelumnya. Untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak, peneliti melakukan analisis regresi linear berganda (multiple linear regression
analysis) untuk pengujian sebelum dan setelah memasukkan variabel kontrol
terhadap data-data yang telah dikumpulkan. Selanjutnya peneliti menarik simpulan dari hasil analisis yang dilakukan. Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Kajian Teoritis:
1. Teori Keagenan
Kajian Empiris:
1. Brahmana dan Hooy (2011) 2. Myers et al. (2005) 3. Jhonson et al. (2002) 4. Chang et al. (2010) 5. Wang (2005) 6. Boubaker et al. (2008) 7. Loderer et al. (2009) 8. Choi dan Jeter (1992) 9. DeAngelo (1981) 10. Geiger dan
Raghunandan (2002) 11. Chow dan Rice (1982) 12. Davidson dan Neu
(1993) 13. Francis (1984) 14. Palmrose (1986) 15. Jang dan Lin (1993) Rumusan Masalah Hipotesis Uji Statistik Hasil Kesimpulan dan Saran
3.2 Konsep Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir kemudian disusun konsep penelitian yang merupakan hubungan logis dari landasan teori dan kajian empiris yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Penelitian ini meneliti pengaruh karakteristik audit eksternal yaitu audit tenure, ukuran kantor akuntan publik, dan opini audit pada price to earnings ratio perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008 sampai 2012 dengan mengoperasikan dua variabel kontrol yaitu ukuran perusahaan klien dan usia perusahaan klien.
Audit tenure diduga berpengaruh negatif pada price to earnings ratio
karena semakin lama audit tenure maka potensi ancaman independensi akan semakin tinggi dan pasar cenderung merespon negatif sehingga price to earnings
ratio cenderung rendah. Ukuran KAP diduga berpengaruh positif pada price to earnings ratio, dengan kata lain perusahaan yang laporan keuangannya diaudit
oleh KAP besar cenderung memiliki price to earnings ratio yang lebih tinggi daripada perusahan yang laporan keuangannya diaudit oleh KAP kecil. Hal ini disebabkan oleh KAP besar cenderung memiliki dukungan sumber daya yang lebih besar daripada KAP kecil. Opini audit diduga berpengaruh positif pada price
to earnings ratio, atau dengan kata lain perusahaan yang laporan keuangannya
mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian cenderung memiliki price to
earnings ratio yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena opini wajar tanpa
pengecualian merupakan opini audit yang menunjukkan bahwa laporan keuangan yang disajikan telah terbebas dari salah saji yang material dan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku,
sehingga pasar cenderung merespon positif diterbitkannya laporan keuangan yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian. Konsep tersebut disajikan dalam Gambar 3.2 berikut ini.
Gambar 3.2. Konsep Penelitian
Karakteristik Audit Eksternal
Audit Tenure Opini Audit Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) Price to Earnings Ratio Variabel Kontrol Ukuran Perusahaan Klien Usia Perusahaan Klien
3.3 Hipotesis Penelitian
3.3.1 Pengaruh Audit Tenure pada Price to Earnings Ratio
Myers et al. (2005) menemukan bahwa dalam hubungan antara auditor dan klien yang lama (long audit tenure), klien lebih cenderung melaporkan salah saji yang berdampak pada pelaporan laba yang meningkat atau lebih tinggi dari yang seharusnya. Chen et al. (2008) mengungkapkan bahwa regulator (pemerintah dan badan penyusun standar auditing) khawatir terhadap audit tenure yang lama karena auditor cenderung lebih berkompromi pada pilihan metode akuntansi dan pelaporannya karena auditor "terlalu akrab" dengan manajemen dan karena auditor ingin mempertahankan klien untuk keberlangsungan usaha KAP-nya. Dalam literatur akuntansi, keadaan ini dikenal sebagai “familiarity threat atau ancaman keakraban”. Oleh karena itu, sejumlah pihak berpendapat bahwa audit
tenure yang lama dapat mengurangi independensi auditor sehingga berdampak
pada penurunan kualitas audit.
Semakin lama auditor eksternal menyediakan jasa audit kepada klien maka semakin tinggi kecenderungan auditor tersebut bersikap tidak independen terhadap pekerjaan auditnya. Dengan demikian, hipotesis untuk pengaruh audit
tenure pada price to earnings ratio adalah:
H1: Audit tenure berpengaruh negatif pada price to earnings ratio. Artinya, semakin lama auditor eksternal menyediakan jasa audit laporan keuangan kepada emiten klien, maka price to earnings ratio emiten klien semakin rendah.
3.3.2 Pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik pada Price to Earnings Ratio Kantor Akuntan Publik (KAP) yang besar memiliki kekuatan monitoring yang lebih tinggi yang menghasilkan kualitas dan kredibilitas informasi laporan keuangan yang lebih tinggi (DeAngelo, 1981; Dopuch dan Simunic, 1982; Titman dan Trueman, 1986; dan Beatty, 1986). Dengan demikian, hipotesis untuk pengaruh ukuran kantor akuntan publik pada price to earnings ratio adalah: H2: Ukuran kantor akuntan publik berpengaruh positif pada price to earnings
ratio. Artinya, emiten klien yang diaudit oleh KAP yang berafiliasi dengan the big four memiliki price to earnings ratio yang lebih tinggi.
3.3.3 Pengaruh Opini Audit pada Price to Earnings Ratio
Wang (2005) menemukan bahwa pasar merespon secara negatif terhadap harga pasar emiten yang menerima opini wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan dan opini buruk lainnya (opini tidak wajar sampai opini tidak menyatakan pendapat). Sebaliknya respon positif diterima emiten yang memperoleh opini wajar tanpa pengecualian. Czerney et al. (2013) menambahkan bahwa perusahaan yang menerima pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan lebih sering melakukan restatement (penyajian kembali laporan keuangan) pada periode pelaporan berikutnya. Dengan demikian, hipotesis untuk pengaruh opini audit pada price to earnings ratio adalah:
H3: Opini audit berpengaruh positif pada price to earnings ratio. Artinya, emiten klien yang memperoleh opini wajar tanpa pengecualian dari suatu KAP memiliki price to earnings ratio yang lebih tinggi.
BAB IV