• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI ......................................................................... 12-38

2.4 Kerangka Berpikir

Bagi remaja, yang sedang dalam masa pencarian jati diri, media merupakan alat utama bagi mereka untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Remaja akan selalu mencari dan tertarik pada trend terbaru. Salah satunya adalah dalam hal berpakaian. Dalam hal ini, gaya berpakaian yang dimaksud adalah gaya berpakaian yang berasal dari Korea.

Artis-artis dari Korea yang penampilannya menarik bisa menjadi role model bagi remaja lainnya dalam hal berpakaian. Dari sinilah perilaku modeling itu muncul. Dengan berpenampilan menarik seperti artis yang menjadi role-model-nya, remaja mengharapkan pujian dari teman-teman sebayanya.

Belajar mengobservasi telah memberikan dampak yang cukup kuat terhadap tingkah laku sosial-antisosial anak atau remaja. Dalam hal ini, Bandura telah merancang tiga dampak utama dari pengamatan terhadap tingkah laku individu yang dijadikan model yaitu (1) remaja memperoleh pola-pola respons baru, ketika dia berfungsi sebagai pengamat, (2) pengamatan terhadap tingkah laku model dapat memperkuat atau memperlemah respons-respons yang tidak diharapkan (yang ditolak), dan (3) mengamati tingkah laku yang lain dapat mendorong remaja/anak untuk melakukan kegiatan yang sama (Yusuf, 2011).

Dalam kaitannya dengan ketiga dampak di atas, interaksi sosial remaja dalam kelompok sebaya dapat merangsang/menstimulasi pola-pola respons baru melalui belajar dengan cara mengamati (observational learning). Di sini kelompok sebaya telah memberikan kesempatan belajar kepada remaja untuk

mengimitasi berbagai tingkah laku para anggota kelompok lainnya. Pengaruh teman sebaya yang menjadi model dapat mencegah atau membolehkan pola-pola tingkah laku yang relatif tidak pasti (kebiasaan) dalam seting yang terstruktur. Walaupun begitu, pengalaman-pengalaman baru dapat mencegah atau memperkuat dampaknya terhadap kegiatan moral atau sosial (Yusuf, 2011).

Menurut penulis, self-control berpengaruh dalam fenomena ini. Bandura (1971) mengemukakan bahwa untuk berperilaku secara efektif, seseorang harus bisa mengantisipasi akibat yang mungkin muncul dalam peristiwa yang berbeda-beda dan mengatur perilakunya sesuai dengan akibat tersebut. Tanpa kemampuan tersebut, seseorang akan bertindak secara tidak produktif, atau beresiko. Informasi mengenai akibat yang mungkin muncul didapat dari stimuli lingkungan, misalnya lampu lalu lintas, komunikasi verbal, pesan gambar, tempat yang mencolok, orang, atau benda, atau perilaku orang lain.

Sesuai dengan pendapat Bandura (1971), seseorang harus bisa memperhitungkan akibat dari setiap tindakan yang diambilnya. Dalam fenomena tren berpakaian dari Korea ini, individu yang ingin mengikutinya harus bisa memperhitungkan akibat dari tindakannya dalam meniru gaya berpakaian tersebut. Contohnya, apakah perilaku meniru ini berdampak pada aspek-aspek hidup individu (seperti interaksi sosial, keuangan, moral, dsb) yang melakukannya atau tidak adalah sesuatu yang harus diperhitungkan.

Self-concept mencerminkan tendensi seseorang terhadap berbagai aspek dari tindakannya baik secara positif maupun negatif. Dalam pendekatan Social Learning Theory, self-concept negatif didefinisikan dalam kaitannya dengan

banyaknya self-reinforcement negatif. Sebaliknya, self-concept positif didefinisikan dalam kaitannya dengan banyaknya self-reinforcement positif (Bandura, 1971).

Dalam Social Learning Theory, self-reinforcement adalah pengendali tindakan seseorang. Disfungsi pada sistem self-reinforcement bisa mengakibatkan self-punishment yang berlebihan dan kondisi yang tidak menguntungkan yang bisa mempertahankan perilaku yang merusak. Banyak individu yang mengalami stress karena standar yang mereka buat terlalu tinggi, karena perilaku mereka tidak sebanding dengan role-model yang memiliki prestasi tinggi (Bandura, 1971).

Tindakan role-model yang memiliki status lebih besar kemungkinannya untuk berhasil dan memiliki nilai fungsional yang lebih besar bagi pengamatnya daripada role-model yang memiliki kemampuan intelektual, kejuruan, dan sosial yang lebih rendah. Dalam situasi dimana orang tidak yakin dengan pemahaman tentang tindakan yang ditiru, mereka mengandalkan karakteristik role-model dan simbol yang menunjukkan status (misalnya gaya berpakaian) yang menunjukkan penanda nyata kesuksesan di masa lalu (Bandura, 1971). Dalam hal ini, artis-artis dari Korea adalah role-model yang tepat bagi remaja untuk mempelajari dan meniru gaya berpakaian ini, karena mereka terkenal dan memiliki prestasi dalam bidangnya.

Fitts (dalam Agustiani, 2006) mengemukakan bahwa self-concept merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena self-concept seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan

lingkungan. Fitts juga mengatakan bahwa self-concept berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. dengan mengetahui self-concept seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami tingkah laku orang tersebut.

Remaja yang melihat cara berpakaian artis-artis dari Korea akan mempelajari hal tersebut dan akan dijadikan kerangka acuan (frame of reference) dalam hal berpakaian. Kerangka acuan tersebut akan dijadikan landasan baginya untuk menentukan pakaian seperti apa yang akan dia pakai di masa depan. Sesuai dengan pendapat Bandura (1971), remaja yang menjadikan artis Korea sebagai role-model dalam berpakaian akan membuat standar mengenai bagaimana cara berpakaian ala Korea.

Dalam penelitian ini, penulis hendak melihat apakah ada pengaruh signifikan antara self-control dan self-concept terhadap perilaku modeling remaja tentang tren berbusana dari Korea. Adapun variabel-variabel self-control yang akan digunakan adalah berdasarkan aspek-aspek self-control menurut Averill (dalam Wahid, 2007), yaitu behavioral control, cognitive control, dan decisional control. Variabel-variabel self-concept yang akan digunakan adalah berdasarkan dimensi eksternal dari aspek self-concept yang dikemukakan oleh Fitts (dalam Agustiani, 2006), yang terdiri dari diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri moral, dan diri sosial. Semua variabel tersebut akan dilihat apakah mempengaruhi perilaku modeling secara signifikan.

Gambaran hubungan antar variabel self-control, self-concept, dan perilaku modeling pada remaja berkaitan dengan trend berbusana dari Korea, beserta

aspek-aspek yang hendak diukur dan dicari pengaruhnya digambarkan oleh peneliti seperti pada gambar 2.1.

Gambar 2.1.

Pengaruh antara self-control dan self-concept terhadap perilaku modeling Self-Control Self-concept Perilaku Modeling pada Remaja terhadap Trend Berbusana dari Korea Behavioral Control Cognitive Control Decisional Control Diri Keluarga Diri Sosial Diri Moral Diri Pribadi Diri Fisik Diri Penilai Diri Perilaku Diri Identitas

Dokumen terkait