(131863) (175818) 40 (219772) 50 (263727) 60 (307681) 70 (351636) 80 Persentase anggota TNI
5.2. Kerangka Kerja dan Indikator Utama
5.2.1. Kerangka Kerja
Monitoring dan evaluasi dijalankan mengikuti suatu kerangka kerja sistem yang dapat menilai setiap tahap pelaksanaan program, mulai dari tahap input, proses kegiatan, output, hasil sampai dengan dampak program, sebagaimana tergambar pada diagram berikut:
Gambar 5.1. Kerangka Kerja Monitoring dan Evaluasi
Sumber: Diadaptasi dari ‘Rugg et al (2004). Global advances in HIV/AIDS monitoring and evaluation. New Direction for Evaluation. Hoboken, NJ Wiley Periodicals. Inc.’ dalam ‘UNAIDS working document (2006). M&E of HIV Prevention Programmes for Most-At-Risk Populations’.
5.2.2. Indikator Input
Indikator input meliputi pengeluaran dana baik oleh mitra pengembangan nasional maupun internasional, pengembangan kebijakan HIV dan AIDS serta status implementasi kebijakan tersebut, dan penguatan kelembagaan yang mencakup kelembagaan KPA (berikut seluruh sektor yang menjadi anggota) baik di tingkat nasional maupun daerah. Indikator ini penting untuk menilai perkembangan keberlanjutan program.
Indikator input yang perlu didapatkan dari tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/ kota setidaknya adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan dana nasional (pusat dan daerah) untuk program HIV dan AIDS berdasarkan kategori sumber pendanaan. Metode pengumpulan data:
National AIDS Spending Assessment (NASA). Frekuensi pengukuran: setiap
dua tahun sekali. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN. (Target konsultasikan dengan Bpk. Kemal)
2. Terlaksananya penilaian National Commitment and Policy untuk menilai kemajuan implementasi kebijakan program HIV dan AIDS. Metode
pengumpulan data: pengkajian dengan melakukan diskusi dengan mitra kerja pemerintah dan OMS di tingkat nasional dengan menggunakan kuesioner NCPI. Frekuensi pengukuran: setiap dua tahun sekali. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN.
3. Jumlah KPAK yang telah memenuhi perkembangan institusi sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Metode pengumpulan data: Penilaian penguatan kelembagaan. Frekuensi pengukuran: setiap setahun sekali. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN.
4. Jumlah Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang mendapat bantuan dana untuk program HIV berdasarkan sumber pemerintah dan internasional. Metode pengumpulan data: pemantauan rutin KPAN. Frekuensi pengukuran: setiap setahun sekali. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN
5. Jumlah OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) populasi kunci yang mendapat peningkatan kapasitas dalam pengetahuan dan kemampuan advokasi kebijakan. Metode pengumpulan data: Diskusi dengan mitra kerja pemerintah dan OMS di tingkat nasional dengan menggunakan kuesioner NCPI. Frekuensi pengukuran: setiap dua tahun sekali. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN.
6. Adanya kebijakan yang non diskriminatif dan sesuai dengan prinsip HAM dan keseteraan gender pada ODHA, populasi kunci dan kelompok rentan lainnya yang diimplementasikan secara efektif di nasional dengan menggunakan instrument NCPI. Metode pengumpulan data: Diskusi dengan mitra kerja pemerintah dan OMS di tingkat nasional dengan menggunakan kuesioner NCPI. Frekuensi pengukuran: setiap dua tahun sekali. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN.
5.2.3. Indikator Kegiatan
Indikator kegiatan mencakup pelaksanaan program nasional, yaitu perluasan dan peningkatan pencegahan kombinasi HIV, perluasan dan peningkatan mutu layanan perawatan, dukungan dan pengobatan, pengurangan infeksi HIV vertical, perluasan cakupan mitigasi dampak, penciptaan lingkungan yang mendukung serta peningkatan keberlanjutan program.
1. Jumlah rumah sakit yang telah menyediakan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) dan pencegahan penularan dari Ibu ke Anak (PPIA). Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: dua tahun sekali. Penanggung jawab: Kemenkes.
2. Jumlah Puskesmas dengan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: satu tahun sekali. Penanggung jawab: Kemenkes.
3. Jumlah Kab/Kota yang memiliki layanan perawatan, dukungan dan pengobatan. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: satu tahun sekali. Penanggung jawab: Kemenkes. 4. Jumlah Kab/kota dengan fasilitas layanan pencegahan penularan dari ibu ke
anak. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: secara adhoc. Penanggung jawab: Kemenkes.
5. Jumlah Puskesmas dengan fasilitas layanan pencegahan penularan dari ibu ke anak prong 1 dan 2 serta 1,2,3 dan 4. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: secara adhoc. Penanggung jawab: Kemenkes.
5.2.4. Indikator Output
Indikator output adalah cakupan program khususnya terhadap populasi kunci. Cakupan program nasional diukur terhadap seluruh populasi kunci yang dijangkau oleh program pencegahan, program perawatan, dukungan dan pengobatan serta pengurangan infeksi HIV vertikal. Rincian target tahunan indikator cakupan program terdapat pada table 5.1 – 5.8. indikator ini penting untuk menilai secara berkala perkembangan program di lapangan.
1. Persentase populasi kunci yang terjangkau program pencegahan. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin dan estimasi (Kemkes). Frekuensi pengukuran: setiap tahun. Penanggung jawab: OMS dan sekretariat KPAN.
2. Persentase ODHA yg mengetahui status HIV. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin dan estimasi. Frekuensi pengukuran: bulanan. Penanggung jawab: Kemenkes.
3. Persentase ODHA Dewasa (>14 th) yang memenuhi syarat ART mendapatkan ART. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan dan estimasi. Frekuensi pengukuran: triwulanan. Penanggung jawab: Kemenkes.
4. Persentase ODHA Anak (≤14 th) yang memenuhi syarat ART mendapatkan ART. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin dan estimasi. Frekuensi pengukuran: triwulanan. Penanggung jawab: Kemenkes.
5. Proporsi ODHA yang tetap mengkonsumsi ARV dalam 12 bulan. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan kohort rutin. Frekuensi pengukuran: setiap tahun. Penanggung jawab: Kemenkes.
6. Persentase pasien koinfeksi TB-HIV yang mendapat pengobatan ARV. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: triwulanan. Penanggung jawab: Kemenkes.
7. Persentase ibu hamil di tes HIV. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: setiap bulan. Penanggung jawab: Kemenkes.
8. Persentase Ibu Hamil HIV mendapat ARV. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: setiap bulan. Penanggung jawab: Kemenkes.
9. Persentase bayi lahir hidup dari Ibu HIV mendapat ARV profilaksis. Metode pengumpulan data: berasal dari data laporan rutin. Frekuensi pengukuran: setiap bulan. Penanggung jawab: Kemenkes
10. Proporsi rumah tangga miskin yang menerima dukungan ekonomi selama 3 bulan. Metode pengumpulan data: berasal dari data survey. Frekuensi pengukuran: setiap tahun dan 5 tahun sekali. Penanggung jawab: Kemensos, dan TNP2K
11. Proporsi ODHA yang mengikuti program JKN. Metode pengumpulan data: berasal dari data survey khusus. Penanggung jawab: Sekretariat KPAN.
12. Jumlah kasus kekerasan berbasis gender. Frekuensi pengukuran: setiap tahun. Metode pengumpulan data: laporan rutin. Penanggung jawab: Kemeneg PP, Komnas Perempuan, dan IPPI.
5.2.5. Indikator Hasil
Indikator hasil untuk melihat sejauh mana hasil pelaksanaan program telah dapat merubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman dari kelompok kunci, baik perilaku pencegahan maupun perilaku pengobatan. Indikator ini penting untuk menilai perkembangan efektifitas program.
1. Persentase remaja usia 15-24 tahun populasi umum yang memiliki pengetahuan komprehensif HIV dan AIDS. Metode pengumpulan data: berasal dari data survey, SDKI, Riskesdas. Frekuensi pengukuran: setiap lima tahun. Penanggung jawab: BKKBN, Kemenkes.
2. Persentase populasi kunci yang memiliki pengetahuan komprehensif HIV dan AIDS. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
3. Persentase remaja wanita dan pria usia 15-24 tahun yang mulai melakukan hubungan seks sebelum usia 15 tahun. Metode pengumpulan data: SDKI remaja. Frekuensi pengukuran: 5 tahun sekali. Penanggung jawab: BKKBN dan BPS.
4. Persentase wanita dan pria (15-49 tahun) memiliki pasangan seks lebih dari satu dan menggunakan kondom pada hubungan seks terakhir. Metode pengumpulan data: SDKI. Frekuensi pengukuran: 5 tahun sekali. Penanggung jawab: BPS.
5. Persentase wanita pekerja seks yang melaporkan menggunakan kondom dengan klien terakhir mereka. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
6. Persentase wanita pekerja seks yang melaporkan menggunakan kondom dengan klien seminggu terakhir mereka. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN
7. Persentase LSL yang melaporkan menggunakan kondom pada hubungan seks anal terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
8. Persentase LSL yang melaporkan menggunakan kondom secara konsisten pada hubungan seks anal dalam sebulan terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
9. Persentase Waria yang melaporkan menggunakan kondom pada hubungan seks anal terakhir . Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
10. Persentase Waria yang melaporkan menggunakan kondom secara konsisten pada hubungan seks anal dalam seminggu terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
11. Persentase pengguna NAPZA suntik (Penasun) yang melaporkan penggunaan kondom pada hubungan seks terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
12. Persentase pengguna NAPZA suntik (Penasun) yang melaporkan penggunaan kondom konsisten pada hubungan seks sebulan terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
13. Persentase pengguna NAPZA suntik (Penasun) yang menggunakan alat suntik steril pada saat menyuntik terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS,
SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
14. Persentase pengguna NAPZA suntik (Penasun) yang menggunakan alat suntik steril pada saat menyuntik sebulan terakhir. Metode pengumpulan data: IBBS, SCP. Frekuensi pengukuran: 4 tahun sekali dan setahun sekali. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan dan KPAN.
15. Prevalensi Sifilis pada populasi kunci. Metode pengumpulan data: Sentinel Sero-Survey. Frekuensi pengukuran: setiap tahun. Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan.
5.2.6. IndikatorDampak
Indikator dampak digunakan untuk melihat dampak program terhadap epidemi HIV, yang diukur dengan prevalensi HIV pada populasi kunci, dan populasi umum untuk Tanah Papua.
1. Prevalensi HIV pada ibu hamil usia 15-49 tahun. Metode pengumpulan data: Sentinel surveilans ANC. Frekuensi pengukuran: setiap tahun. Penanggung jawab: Kemkes
2. Prevalensi HIV pada populasi kunci. Metode pengumpulan data: Sentinel surveilans, IBBS. Frekuensi pengukuran: setiap tahun dan empat tahun sekali. Penanggung jawab: Kemkes
3. Jumlah infeksi HIV baru pada populasi kunci. Metode pengumpulan data: Studi khusus (Modeling). Penanggung jawab: Kementerian Kesehatan.
4. Jumlah/persentase ODHA yang mendapatkan diskriminasi dari suami/istri atau pasangannya, atau anggota keluarga lainnya karena status HIV positif dalam 12 bulan terakhir. Metode pengumpulan data: Studi khusus, studi diskriminasi.
5. Persentase ODHA yang ditolak oleh layanan kesehatan (termasuk layanan kesehatan gigi), akses pendidikan dan tempat kerja karena status HIV positif. Metode pengumpulan data: Studi khusus.