Bab 4. RENCANA AKSI A. Intervensi
B. Critical Enablers
4.5. Lingkungan yang Mendukung
4.5.3. Penguatan Sistem Kesehatan
4.5.3.1. Memperkuat Layanan HIV melalui LKB
Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) bertujuan untuk menguatkan sistem layanan kesehatan primer (Puskesmas) yang terintegrasi dengan pencegahan berbasis komunitas seperti PMTS dan Pengurangan Dampak Buruk NAPZA melalui kerjasamaantara pemerintah kabupaten/ kota, pengelola layanan kesehatan, masyarakat sipil, komunitas serta populasi kunci dan ODHA. Ini semua agar dapat meningkatkan cakupan pencegahan dan pengobatan IMS dan HIV, memperluas layanan HIV bagi populasi kunci pada fasilitas layanan kesehatan primer dan komunitas, serta memperluas pengobatan ARV melalui layanan yang terdesentralisasi.
Implementasi kebijakan untuk memperluas tes HIV dan inisiasi dini ARV kepada populasi kunci (SUFA) diperluas dari 13 kabupaten/ kota menjadi 75 kabupaten/ kota pada tahun 2015. Untuk melakukan antisipasi peningkatan tes HIV dan inisiasi dini ART di tingkat kabupaten/ kota, Puskesmas perlu ditingkatkan kapasitasnya untuk dapat memulai pengobatan ARV dengan mentoring klinis dari Rumah Sakit setempat. Dalam kerangka tersebut, jaringan layanan LKB perlu diperkuat dan diperluas untuk mencakup lebih dari 5 Puskesmas di tingkat kabupaten/ kota khususnya di kabupaten/ kota dengan kinerja tinggi. Kelompok kerja LKB perlu dikuatkan di tingkat kabupaten/ kota dengan koordinasi yang erat antara layanan dan pencegahan berbasis komunitas seperti PMTS dan Pengurangan Dampak Buruk NAPZA.
Integrasi layanan HIV dan Kespro termasuk IMS dalam konteks PMTS perlu mendapatkan perhatian khusus terutama di tingkat layanan primer. IMS dan HIV harus diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan seksual dan reproduksi, dan layanan HIV juga perlu terintegrasi dengan layanan kesehatan ibu dan anak serta layanan kesehatan jiwa dalam konteks pemulihan adiksi untuk pengguna NAPZA.
Integrasi layanan HIV dan TB perlu mendapatkan perhatian khusus, tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga layanan primer. Masih banyak tantangan dihadapi dalam rangka mengkombinasikan kedua layanan ini, walaupun banyak di antara pasien HIV adalah juga terinfeksi TB, dan sebaliknya, pasien TB adalah ODHA. Tidak hanya pedoman dan tatalaksana kolaborasi TB-HIV perlu diperbarui, tetapi juga upaya peningkatan kapasitas dan penyiapan infrastrukturnya, baik dalam hal manajemen maupun sumber daya manusianya. Kelompok Kerja TB-HIV perlu dikuatkan di tingkat kabupaten/ kota untuk mendorong koordinasi yang lebih erat antar layanan TB dan HIV di sektor kesehatan.
Kolaborasi TB-HIV di beberapa lokasi membutuhkan tindakan yang lebih intensif, seperti di lingkungan pemasyarakatan, ataupun di berbagai lokasi di Tanah Papua. Untuk membantu percepatan ketersediaan layanan TB-HIV yang berkualitas, dibutuhkan dukungan teknis. Beberapa rumah sakit yang memiliki kerjasama erat dengan perguruan tinggi setempat dapat menjadi model dalam pengembangan integrasi yang lebih menyeluruh, termasuk rujukan dan dukungan sosial terkait kepatuhan minum obat.
4.5.3.2. Meningkatkan Kapasitas SDM Kesehatan Khususnya untuk Meningkatan
Pengetahuan Teknis, Memberikan Layanan Berkualitas dan Mendorong Terciptanya Layanan Ramah Komunitas
Investasi perlu dialokasikan untuk mendorong terciptanya layanan berkualitas dan ramah komunitas. Pelatihan dan dukungan di tingkat layanan hingga di tingkat layanan primer perlu diberikan untuk meningkatan kemampuan teknis dalam memberikan layanan terkait HIV dengan mentoring klinis secara terstruktur. Pelatihan dan dukungan perlu diberikan dengan fokus untuk menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap perempuan, ODHA, populasi kunci. Secara khusus perlu pula diberikan dukungan untuk peningkatan kapasitas terkait Hak Asasi Manusia dan Jender.
Penguatan laboratorium melalui pelaksanaan sistem EQAS, termasuk upaya peningkatan kualitas program.
4.5.3.3. Meningkatkan Kualitas Informasi Kesehatan dan Program HIV, serta
Kapasitas Pengelolaan dan Analisis Data Khususnya di Propinsi dan Kabupaten/ Kota
Penguatan diperluas bagi pengumpulan data rutin seperti Sistem Informasi HIV dan AIDS (SIHA) maupun sistem surveilans penyakit, untuk memenuhi kebutuhan data yang berkualitas di tingkat propinsi dan kabupaten/ kota khususnya di 75 kabupaten/ kota dengan kinerja tinggi, dan meningkatkan kapasitas daerah untuk melakukan integrasi,
interpretasi, dan menggunakan data secara efektif untuk perencanaan maupun pemantauan.
Infrastruktur dan kapasitas sumber daya Puskesmas untuk berpartisipasi aktif dalam SIHA perlu terus ditingkatkan, khususnya dalam memperbaiki keteraturan pelaporan dan interkonektivitas data di tingkat Puskesmas.
Pelaporan informasi kesehatan perlu dibuat secara real-time dan sistematis melalui HIV
Zero Portal dengan memberikan fokus pada pemantauan laporan cascade mulai dari
pencegahan, tes HIV, pengobatan HIV hingga retensi pengobatan di tingkat nasional, propinsi serta kabupaten/ kota. Pengembangan indikator layanan ramah komunitas perlu menjadi perhatian sektor kesehatan.
Evaluasi proses secara rutin perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan penanggulangan AIDS khususnya LKB/ PMTS/ SUFA.
Perlu pula diperhatikan pemantauan efektivitas pengobatan melalui pemeriksaan CD4 dan viral load sesuai dengan pedoman WHO dengan menyertakan Early Warning
Indicators Monitoring, Surveillance of pre-treatment, HIV DR/ PDR dan Surveillance of Acquired HIVDR/ ADR.
Perlu ada pengukuran kualitas hidup ODHA sebagai dampak dari program dengan menggunakan instrumen yang teruji. Pengembangan indikator layanan ramah komunitas perlu menjadi perhatian sektor kesehatan.
Perlu keterlibatan perguruan tinggi untuk mendukung penelitian implementasi dan penelitian evaluasi, dengan fokus di 75 kabupaten/ kota prioritas.
4.5.3.4. Menguatkan Manajemen Rantai Pasokan (SCM) bagi Pencegahan dan
Pengobatan HIV
Dukungan juga perlu diberikan untuk eksplorasi dan ekspansi penggunaan ICT dalam melakukan intervensi berbasis komunitas. Alat monitoring pasokan berbasis komunitas seperti iMonitor+ perlu digunakan untuk mendapatkan umpan balik terhadap perbaikan manajemen mata rantai pasokan (SCM) khususnya kondom, pelicin, alat suntik steril, dan ARV serta obat-obatan terkait HIV.
4.5.3.5. Menguatkan Kapasitas Perencanaan dan Pembiayaan Sektor Kesehatan
untuk AIDS di tingkat Propinsi, Kabupaten/ Kota
Keberlanjutan upaya penanggulangan HIV dan AIDS tergantung pada tingkat pendanaan yang memadai untuk mendukung dan memperkuat upaya penanggulangan. Dengan menurunnya dukungan dana luar negeri bagi upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, perlu didorong adanya alokasi dana yang memadai tidak hanya di tingkat nasional namun juga di tingkat propinsi, kabupaten/ kota bagi upaya penanggulangan AIDS nasional.
Sektor kesehatan perlu memperkuat kapasitas perencanaan dan pembiayaan untuk penanggulangan AIDS tidak hanya di tingkat nasional namun juga di tingkat propinsi,
kabupaten/ kota. Dengan implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS, transisi pembiayaan pencegahan dan pengobatan HIV oleh JKN dalam sistem BPJS perlu direncanakan dengan seksama sebagai upaya keberlanjutan program. Rencana transisi yang serupa juga perlu direncanakan di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota mengikuti kebijakan jaminan sosial yang berlaku di daerah setempat.