SRAN 2015-2019
Penanggulangan HIV dan AIDS di IndonesiaPer 1 September 2015
Komisi Penanggulangan HIV dan AIDS Nasional Tahun 2015
Bab 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia
Dengan terbitnya Peraturan Presiden nomor 75 tahun 2006 maka kedudukan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menjadi kuat untuk memimpin dan mengelola penanggulangan AIDS secara menyeluruh, sistematis dan terkoordinasi pada semua tingkatan. Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) Penanggulangan AIDS tahun 2007-2010 adalah dokumen strategi pertama yang menggunakan perencanaan berbasis biaya. Kemudian, SRAN tahun 2010-2014 yang disusun berdasarkan arahan kebijakan RPJMN 2010-2014, telah digunakan sebagai acuan bagi semua pelaksana penanggulangan AIDS termasuk mitra kerja pembangunan nasional dan internasional. SRAN untuk 5 tahun mendatang, disusun mengacu pada RPJMN 2015-2019, dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan, untuk mempertahankan momentum penanggulangan HIV dan AIDS yang sedang bergerak menuju kemandirian pendanaandan integrasi program ke dalam sistem pemerintah dan masyarakat. Dokumen ini terdiri dari 7 Bab, yang diawali dengan Bab 1 Pedahuluan, termasuk kerangka pikir serta proses penyusunannya; Bab 2 Situasi epidemi serta upaya penanggulangan; Bab 3 Visi, tujuan, target dan strategi; Bab 4 Rencana aksi; Bab 5 Monitoring dan evaluasi; Bab 6 Pelaksanaan SRAN di daerah; dan Bab 7 Kebutuhan sumber daya, termasuk mobilisasi sumber daya manusia dan sumber pendanaan.
1.2. Perubahan Lingkungan
Perubahan lingkungan yang terjadi baik secara nasional maupun global menjadi bahan pertimbangan untuk penetapan kebijakan ke depan. Beberapa perubahan lingkungan yang terjadi adalah sebagai berikut:
Pada Tahun 2011
Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB tahun 2011 mengadopsi Komitmen Politik tentang HIV dan AIDS dan menetapkan target global yang akan dicapai pada tahun 2015.
KTT ASEAN tahun 2011 di Bali yang dipimpin oleh Indonesia, mengadopsi Deklarasi Komitmen Getting to Zero, yang memperkuat komitmen dan target tingkat global. Negara-negara anggota ASEAN bersama-sama menetapkan target dalam inisiatif yang disebut dengan ASEAN Cities Getting to Zero. Dalam inisiatif ini, Indonesia berperan sebagai leading country, dan bersama-sama anggota ASEAN, merencanakan dan berbagi praktik terbaik untuk mengatasi epidemi HIV di kota-kota terpilih.
Indonesia secara aktif mendukung resolusi ESCAP regional dan berkomitmen untuk meningkatkan akses universal terhadap HIV dan AIDS melalui pengobatan, perawatan dan dukungan secara intensif.
Pada Tahun 2014-2015
Laporan dunia menunjukkan bahwa epidemi HIV di dunia mulai menunjukkan penurunan. Hal ini menunjukkan keberhasilan pencapaian tujuan ke-6 MDGs. Tujuan penanggulangan AIDS dunia yang dicanangkan UNAIDS untuk mengakhiri epidemi dengan 3 Zero (Zero infeksi baru, Zero kematian terkait AIDS, Zero stigma dan diskriminasi) telah dipandang sebagai tujuan yang aspirasional. Ke depan MDGs akan digantikan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Disini, HIV dan AIDS diintegrasikan sebagai salah satu tujuan kesehatan dan pembangunan sosial.
Perubahan penting lainnya adalah krisis ekonomi global, yang berakibat pada berkurangnya pendanaan HIV dan AIDS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pada banyak negara yang masih bergantung dari pendanaan luar negeri. Oleh sebab itu, demi keberlanjutan program penanggulangan HIV dan AIDS penting untuk menyiapkan exit
strategy dari ketergantungan pendanaan luar negeri.
1.3 Penyusunan SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS Tahun 2015-2019
SRAN penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2015-2019 disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan SRAN sebelumnya tahun 2010-2014, dan sejalan dengan kerangka RPJMN tahun 2015-2019. Penyusunan SRAN tahun 2015-2019 dilakukan mengikuti kerangka pikir sebagaimana diuraikan pada gambar 1.1.
Gambar 1.1. Kerangka Pikir SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS Tahun 2015-2019
* Diadaptasi dari Landasan Pikir Sistem Kesehatan Nasional (Perpres nomor 72 tahun 2012).
Penyusunan SRAN dilakukan dengan merujuk ke dokumen-dokumen perencanaan yang sudah ada, yaitu Rencana Aksi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak, Strategi Pencegahan Infeksi Menular Seksual, Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS pada Lelaki yang Seks dengan Lelaki, Rencana Aksi Pengurangan Dampak Buruk NAPZA, Rencana Strategi Penanggulangan AIDS pada Lingkungan Pemasyarakatan dan Rencana Aksi Penanggulangan AIDS pada Remaja. Dokumen perencanaan yang lebih khusus akan dikembangkan mengikuti arahan SRAN ini, antara lain, untuk Kerjasama Media dan Pemanfaatan Media Sosial, Rencana Monitoring dan Evaluasi, untuk Pekerja Migran, dan Agenda Penelitian.
Proses Pengembangan SRAN menggunakan prinsip perencanaan berfokus pada proses yang sistematis melibatkan semua pemangku kepentingan.
Gambar 1.2. Proses Pengembangan SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS Tahun 2015-2019
Untuk mendapatkan analisis yang berbasis evidens, beberapa langkah khusus dilakukan dalam pengembangan SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2015-2019:
1. Kajian Paruh Waktu Pelaksanaan SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS
tahun 2010-2014 yang mencakup berbagai sumber informasi, termasuk hasil kajian-kajian tematik, hasil survei dan surveilans serta hasil-hasil penelitian. 2. Pertemuan dan Lokakarya Konsultasi Nasional dilakukan secara bertahap
sejak pertengahan tahun 2013 hingga bulan Oktober 2014. Pembahasan dilakukan secara sistematis dan tematik, dengan mengundang partisipasi aktif pemangku kepentingan baik dari tingkat nasional maupun daerah, termasuk unsur pemerintah, masyarakat sipil, mitra pembangunan nasional dan international.
Konsultasi nasional pertama pada 14 Juni 2013 mengenai kajian paruh waktu dari 10 target Pertemuan Tingkat Tinggi Sidang Umum PBB 2011 yang mengadopsi Deklarasi Politik tentang HIV dan AIDS.
Konsultasi nasional kedua diadakan tanggal 26-28 Agustus 2013 dengan mengundang seluruh propinsi di Indonesia untuk membahas isu-isu, rekomendasi serta respon prioritas terhadap HIV dan AIDS dari perspektif
pemangku kepentingan sub-nasional. Diskusi dibagi menjadi 8 tema: (1) Pencegahan HIV melalui transmisi seksual dan penularan HIV dari ibu ke anak, (2) Pengurangan dampak buruk bagi Penasun, (3) Sistem kesehatan dan pengobatan yang berkelanjutan, (4) Sistem masyarakat, (5) Orang muda dan pendidikan HIV dan AIDS, (6) Isu jender, (7) Perlindungan sosial, dan (8) Kebijakan.
Konsultasi nasional ketiga diadakan pada 3 Oktober 2013, yang secara spesifik mengidentifikasi isu-isu dan membuat rekomendasi untuk memperbaiki pelaksanaan SRAN 2010-2014, serta membuat rekomendasi dan mengidentifikasi prioritas SRAN 2015-2019.
Konsultasi keempat diadakan pada tanggal 29-31 Oktober 2013 dengan mengundang kementerian/ lembaga serta propinsi dan kabupaten/ kota untuk mendiskusikan pencegahan penularan seksual dan pengurangan dampak buruk NAPZA.
Konsultasi kelima diadakan pada minggu pertama bulan Desember 2013 bersama lembaga yang bertanggung jawab pada pelaksanaan dan pengembangan SRAN 2015-2019 dan penyelarasannya dengan pengembangan nasional dan perencanaan sektoral.
Analisis Investasi (Investment Case Analysis - ICA), dilakukan dengan pemodelan matematika menggunakan data survei dan surveilans nasional yang tersedia sampai dengan pertengahan tahun 2014.
Konsultasi keenam dilakukan pada tanggal 7 April 2014 untuk mengumpulkan masukan tentang apa yang perlu diubah serta memasukkan informasi tambahan dari Kelompok Kerja (Pokja) KPA Nasional.
Konsultasi ketujuh diselenggarakan pada tanggal 21-22 April 2014 melalui lokakarya nasional penyusunan SRAN 2015-2019, mengundang seluruh mitra terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah untuk membahas bersama rancangan yang telah dihasilkan pada proses sebelumnya.
Konsultasi kedelapan diselenggarakan pada tanggal 27-29 April 2014 berupa lokakarya nasional LSL, mengundang pemangku kepentingan terkait, kementerian/ lembaga, komunitas, mitra kerja nasional dan international. Pertemuan terakhir adalah Country Dialogue Rancangan SRAN 2015-2019
dipimpin oleh Menteri Kesehatan, dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2014, untuk mendiskusikan rancangan isi SRAN serta mengumpulkan tanggapan dari perwakilan tingkat nasional baik dari pemerintah maupun dari masyarakat sipil serta mitra-mitra pembangunan internasional. Semua masukan yang disampaikan selama pertemuan tersebut, menjadi bahan untuk finalisasi SRAN 2015-2019.
Bab 2. EPIDEMI DAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS 2.1. Epidemi HIV Global dan Regional Asia Pasifik
Secara global epidemi HIV mengalami penurunan, dimana perkiraan jumlah infeksi baru pada orang dewasa dan anak-anak menjadi sekitar 2,3 juta pada tahun 2012, atau 33% penurunan sejak tahun 2001. Infeksi baru pada anak-anak berkurang menjadi 260 ribu pada tahun 2012, atau turun 52% dari tahun 2001. Kematian akibat AIDS turun 30% sejak puncaknya tahun 2005, sejalan dengan meningkatnya akses ke pengobatan ARV. Demikian pula di tingkat Asia-Pasifik, pada tahun 2012 diperkirakan ada 350 ribu infeksi baru, atau turun 26% sejak tahun 2001. Lebih banyak orang yang pernah mendapat pengobatan ARV, yaitu sekitar 1,25 juta orang pada tahun 2012. Jika mengikuti persyaratan minum obat sesuai pedoman WHO tahun 2010, cakupan pengobatan ARV di regional Asia-Pasifik adalah 51%, peningkatan 46% dari tahun 2009. Dengan semakin kuatnya bukti-bukti ilmiah yang mengindikasikan efektivitas pengobatan ARV sebagai cara pencegahan, maka hal ini mendorong percepatan perluasan tes HIV dan pengobatan ARV yang segera. Syarat pengobatan diubah agar pasien dapat lebih awal memulai pengobatan. Dengan mendorong lebih banyak orang menerima pengobatan lebih dini dan patuh minum obat, maka obat akan semakin efektif.
Gambar 2.1. HIV Terkonsentrasi pada Populasi Kunci dan Kota di Asia Pasifik
2.2. Epidemi HIV di Indonesia
Kementerian Kesehatan (Kemenkes), berdasarkan hasil pemodelan matematika AIDS
Epidemic Modeling (AEM), memperkirakan pada tahun 2012 di Indonesia ada 591.823
orang yang hidup dengan HIV (ODHA). Jumlah ODHA tertinggi ada di Propinsi DKI Jaya, propinsi-propinsi di Pulau Jawa dan di Tanah Papua. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 mencapai 21.511 orang dewasa. Sedangkan pada tahun 2013, jumlah infeksi baru HIV yang dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan mencapai 29.037 orang. Peningkatan angka ini merupakan akibat adanya penambahan yang cukup banyak, jumlah layanan tes HIV pada tahun 2013 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Perkiraan prevalensi HIV pada populasi umum di seluruh Indonesia adalah 0,4% pada tahun 2012, sementara di Tanah Papua 2,3%. Berikut ini adalah peta epidemi HIV pada penduduk dewasa di masing-masing propinsi, dimana prevalensi berkisar antara 0,1% sampai dengan 3,5%.
Gambar 2.2. Peta Epidemi HIV di Indonesia, Tahun 2012
Umumnya terkonsentrasi pada populasi kunci kecuali Tanah Papua sudah sampai ke populasi umum. Prevalensi HIV di Indonesia 0,4% dan Tanah Papua 2,3%.
Estimasi jumlah ODHA sekitar 590 ribu orang
Sumber: Estimasi jumlah populasi kunci dan ODHA, Kemkes, 2012
Tingkat epidemi HIV di Indonesia berbeda-beda baik menurut area geografis maupun populasi kunci. Secara umum HIV terkonsentrasi pada populasi kunci kecuali di Tanah Papua sudah memasuki populasi umum. Semuanya pada saat ini menunjukkan tanda tanda stabilisasi epidemi. Kecenderungan pertumbuhan prevalensi HIV di masa yang akan datang relatif lebih kecil dibandingkan proyeksi pertumbuhan epidemi yang dilakukan 5 tahun yang lalu. Namun demikian, pemodelan secara matematika
menunjukkan bahwa epidemi HIV masih akan terus meningkat, jika tidak dilakukan upaya yang lebih intensif untuk menekan laju pertumbuhan ini.
Gambar 2.3. Kecenderungan Prevalensi HIV di kalangan Populasi Kunci 2000-2019
Sumber: Hasil sementara AEM, Kemenkes RI 2014
Hasil STBP, SSH dan SCP ini memberikan informasi tentang prevalensi HIV dan infeksi menular seksual (IMS) pada populasi kunci seperti di bawah ini:
Penasun
Prevalensi HIV pada penasun menunjukkan penurunan dari 53% di tahun 2007 menjadi 41% di tahun 2011. Pada kelompok lokasi sampel yang berbeda (Tangerang, Yogyakarta, Pontianak) tampak terjadi kenaikan prevalensi HIV rata-rata dari 27% di tahun 2009 menjadi 39,5% di tahun 2013. Pada periode waktu yang sama, proporsi penasun berbagi alat suntik pada saat terakhir menyuntik mengalami kenaikan di 3 kabupaten/kota tersebut, yaitu 18% menjadi 26% di Yogkarta, 36% menjadi 47% di Tangerang, dan 23% menjadi 45% di Pontianak. LSL
Data yang sama menunjukkan adanya peningkatan prevalensi HIV pada LSL yang signifikan. Pada STBP 2007 dan 2011, prevalensi HIV pada LSL naik dari 5,3% menjadi 12%, dan STBP 2009 dan 2013 naik dari 7% menjadi 12,8%. Hasil STBP 2013 menunjukkan prevalensi HIV tertinggi pada LSL ditemukan di lokasi survei
Kota Tangerang, Kota Yogyakarta, dan Kota Makasar antara 19%-20%. Prevalensi gonore juga mengalami peningkatan di 3 kabupaten/kota tersebut dari 17% menjadi 21% dan klamidia meningkat dari 17% menjadi 23%. Keadaan ini sangat mungkin berhubungan dengan masih rendahnya konsistensi penggunaan kondom saat hubungan seks anal terakhir seperti ditunjukkan di Kota Surabaya yaitu dari 75,9% pada STBP 2011 menjadi 53% pada SSH/SCP 2013.
Waria
Hasil STBP 2007 dan SSH/SCP 2013 menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada waria mengalami penurunan yang cukup berarti yaitu dari 23,8% menjadi 19% di 22 kabupaten/kota dimana Kota Malang tercatat mengalami penurunan yang paling signifikan dari 16,8% menjadi 9,2%.
Sejalan dengan penurunan prevalensi HIV pada waria, terjadi pula penurunan prevalensi IMS seperti yang dilaporkan pada STBP 2011 dan SSH/SCP 2013 di beberapa lokasi survei. SSH/SCP 2013 mengindikasikan prevalensi sifilis menurun signifikan dari 27,5% menjadi 16,2% pada waria. Perubahan yang signifikan terjadi di Kota Malang dan Bandung dimana prevalensi sifilis turun masing-masing dari 26,4% menjadi 14% dan dari 20,8% menjadi 4,2%. Penurunan prevalensi IMS lainnya juga terjadi pada STBP 2009 dan 2013 pada wilayah survei yang berbeda. Prevalensi klamidia turun dari 24% menjadi 19,8% pada waria di Kota Malang, Kota Samarinda, Kota Pontianak, dan Kota Makasar. Prevalensi gonore juga mengalami penurunan pada periode waktu yang sama. WPSL dan WPSTL
Prevalensi HIV pada WPSL mengalami penurunan yang signifikan di Jakarta dan Bandung seperti yang dapat dilihat dari hasil SSH/SCP 2013 dan STBP 2013, yaitu dari 10,5% menjadi 3,8% dan dari 20,7% menjadi 9,4%, sedangkan kota Malang mengalami peningkatan secara signifikan dari 36,4% menjadi 59,1%. Secara keseluruhan, prevalensi sifilis pada WPSTL menurun dari 9,8% pada STBP 2011 menjadi 5,7% pada SSH/SCP 2013 di 15 lokasi survei. Prevalensi sifilis pada WPSTL menurun signifikan di 5 dari 15 lokasi survei tersebut, yaitu Deli Serdang dari 16,6% menjadi 4,8%, Kota Batam dari 11,6% menjadi 3,3%, Kota Bandung dari 10,4% menjadi 2,8%, Kota Surabaya dari 12,4% menjadi 4,6% dan Kota Batang dari 13,4% menjadi 1,2%.
Penurunan prevalensi IMS pada WPS juga tercatat pada STBP 2009 dan STBP 2013 di 9 lokasi survei lainnya (Kota Palembang, Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, Samarinda, Bitung, Makasar, Sorong, dan Mimika). Prevalensi klamidia turun dari 39,5% menjadi 30,8% pada WPSTL dan dari 42,4% menjadi 40% pada WPSL. Prevalensi gonore mengalami penurunan pada periode waktu yang sama. Perubahan perilaku merupakan tantangan pada kelompok WPS. Jumlah rata-rata pelanggan WPSL cenderung mengalami kenaikan pada STBP 2011 dan SSH/SCP 2013. Penggunaan kondom pada hubungan seks terakhir sangat bervariasi di
berbagai tempat pada kedua survei tersebut. Terjadi penurunan yang signifikan pada proporsi WPSL dalam penggunaan kondom pada hubungan seks komersial terakhir di Kota Denpasar, yaitu dari 90% menjadi 76,5%, akan tetapi pada periode waktu yang sama terjadi kenaikan yang signifikan proporsi penggunaan kondom pada hubungan seks komersial terakhir secara umum di lokasi survei dari 49,6% menjadi 65,5%. Tercatat pula bahwa penurunan yang signifikan dari proporsi ini terjadi di Kota Bandung dari 35,1% menjadi 12,5% dan di Kota Malang dari 44,9% menjadi 24,2%.
Gambar 2.4. Kecenderungan Prevalensi HIV di Tanah Papua 2000-2019
Tanah Papua
Berdasarkan hasil STBP tahun 2013 pada populasi umum usia 15-49 tahun di Tanah Papua, 2,3% populasi terinfeksi HIV dimana 2,3% pada laki-laki dan 2,2% pada perempuan. Hasil survei juga menunjukkan hubungan yang signifikan antara sirkumsisi pada laki-laki dengan infeksi HIV, dimana infeksi HIV terjadi pada 2,4% laki-laki yang tidak disirkumsisi dan 0,1% pada laki-laki yang disirkumsisi. Pada perempuan, asosiasi yang signifikan terjadinya infeksi HIV adalah pada orang yang melakukan hubungan seks dengan imbalan pada satu tahun terakhir sebesar 3,5%, sedangkan 2,2% perempuan terinfeksi HIV tidak melakukannya. Secara statistik tidak ada perbedaan signifikan antara prevalensi HIV pada STBP tahun 2006 (2,4%) dan 2013 (2,3%) di Tanah Papua.
Prevalensi sifilis aktif dilaporkan sebesar 4,7% pada laki-laki dan 4,2% pada perempuan. Diantara laki-laki yang tidak sirkumsisi ditemukan prevalensi cukup tinggi yaitu 4,8% jika dibandingkan dengan laki-laki yang disirkumsisi sebesar 1,1%.
Hasil STBP juga menunjukkan perilaku seksual berisiko masih terus terjadi di Tanah Papua, seperti melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak tetap pada satu tahun teakhir, termasuk dengan pasangan seks yang diberikan imbalan pada laki-laki sebesar 12,7% dan perempuan 3,6%. Penggunaan kondom pada hubungan seks komersial terakhir pada laki-laki mengalami kenaikan signifikan dari 14,1% (STBP 2006) menjadi 40,3% (STBP 2013). Hal ini mengindikasikan adanya kenaikan yang positif pada perilaku seks yang aman.
Pemodelan epidemi HIV menggunakan AEM menunjukkan bahwa masih akan terjadi peningkatan jumlah infeksi baru bila tidak ada penambahan dan peningkatan intervensi. Berikut ini adalah proyeksi jumlah infeksi baru di wilayah Non Papua dan Papua bila tidak ada peningkatan intervensi.
Gambar 2.5. Proyeksi Jumlah Infeksi Baru di Wilayah Non Papua tanpa Intervensi sesudah 2013 sd tahun 2030
Pada wilayah di luar Papua, tampak bahwa pada periode tahun 2010-2014, jumlah total infeksi baru pertahun relatif stabil pada kisaran 60 ribu orang. Perhitungan matematis ini menggunakan data STBP sampai dengan tahun 2013. Jumlah infeksi baru pada Penasun menurun kemudian tampak stabil, dan menetap pada WPS. Penambahan yang besar sampai dengan tahun 2030 adalah pada kalangan LSL. Jika tidak dilakukan intervensi yang intensif mulai saat ini - berdampak pada semakin tingginya infeksi baru pada wanita risiko rendah.
Gambar 2.6. Proyeksi Jumlah Infeksi Baru di Tanah Papua tanpa Intervensi sesudah 2013 sd tahun 2030
Gambar yang menjelaskan situasi epidemi HIV di Tanah Papua menunjukkan adanya penurunan jumlah infeksi baru pada periode tahun 2010-2014, dari sekitar total 8 ribu orang menjadi sekitar 6 ribu orang per tahun. Penurunan terbesar tampak terjadi pada pelanggan pekerja seks. Namun, jika tidak ada intensifikasi upaya penanggulangan AIDS, maka infeksi baru belum akan turun, bahkan akan cenderung naik lagi.
2.3. Penanggulangan Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia
2.3.1. Perkembangan Program
Pada tahun 2006, pemerintah menerbitkan Perpres nomor 75 sebagai tonggak intensifikasi penanggulangan AIDS, yang dilanjutkan dengan terbitnya berbagai peraturan kementerian. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia kemudian terus ditingkatkan dengan memperkuat manajemen dan kapasitas layanan. Koordinasi multi-sektor dilakukan melalui KPA Nasional dan pengembangan layanan kesehatan yang dipimpin Kementerian Kesehatan menjadi elemen utama penanggulangan AIDS, yang meningkatkan keterlibatan masyarakat sipil dan dukungan mitra kerja pembangunan internasional.
Sejak dilaksanakannya SRAN 2010-2014, telah terjadi pengembangan kapasitas dan upaya yang memfokuskan sasaran primer pada populasi kunci dan daerah dengan beban penyakit terbesar. Cakupan program telah meningkat sejalan dengan perluasan penanggulangan, dan layanan telah tersedia di semua propinsi, di kabupaten/ kota prioritas, baik layanan pemerintah maupun non pemerintah.
Perubahan kebijakan berdampak pada penguatan kelembagaan, peningkatan pendanaan, penguatan sistem layanan kesehatan dan sistem komunitas. Berikut ini adalah beberapa data perkembangan penanggulangan HIV dan AIDS dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013.
Indikator Capaian 2010/ 2011 Capaian 2012/ 2013
Jumlah kebijakan AIDS Nasional, Prop, Kab/ Kota 2010 137 2013 245
Jumlah pengeluaran AIDS 2010 USD 69 juta 2012 USD 87 juta
Jumlah LASS 2010 180 2013 194
Jumlah PTRM 2010 61 2013 84
Jumlah distribusi kondom 2010 2.156.173 2013 10.497.206
Jumlah layanan test HIV 2010 338 2013 1.062
Jumlah klien test HIV 2010 300.577 2013 1.080.000
Jumlah layanan ART 2010 tad 2013 404
Jumlah klien ART 2010 19.572 2013 39.418
Jumlah bumil test HIV 2011 21.103 2013 100.926
Jumlah bumil dapat ART 2011 601 2013 1.544
Tabel 2.1. Beberapa Perkembangan Program:
Peningkatan Kebijakan, Pendanaan, Layanan, Kegiatan dan Klien
2.3.2. Temuan Kajian Paruh Waktu
Pertemuan konsultasi nasional dalam rangka Kajian Paruh Waktu bertujuan mengkaji implementasi SRAN 2010-2014 terkait cakupan, efektivitas dan keberlanjutan program, dengan tema sebagai berikut: a) Pencegahan (Transmisi Seksual; Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan NAPZA Suntik; Pengurangan Dampak Buruk di Lapas; Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak; Pencegahan HIV pada Remaja); b) Pengobatan, Dukungan dan Perawatan (termasuk tes HIV); c) Mitigasi Dampak (termasuk asuransi sosial); d) Penciptaan Lingkungan Kondusif (termasuk HAM, stigma dan diskriminasi); dan e) Kemitraan dan Keterlibatan Komunitas.
Laporan Kajian Paruh Waktu mencatat perkembangan positif selama tahun 2010-2014. Hal ini termasuk percepatan implementasi program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS); Pengenalan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB); Implementasi peningkatan jumlah tes HIV dan akses pengobatan ARV pada tahun 2013-2015; Memperluas kriteria minum obat ARV menjadi CD4 ≤ 350, ditambah populasi risiko tinggi (WPS, LSL, Penasun dan Waria), pasien TB, dan ODHA yang memiliki pasangan berstatus HIV negatif tanpa melihat nilai CD4, serta pengobatan seumur hidup untuk ODHA wanita hamil. Laporan juga menyampaikan terjadinya peningkatan cakupan layanan melalui peningkatan jumlah unit pelayanan pencegahan dan pengobatan. Dengan demikian, jumlah orang
yang mengakses layanan tersebut pun meningkat.
Laporan kajian paruh waktu menyimpulkan bahwa, walaupun ada penguatan kebijakan dan program, namun demikian efektifitas
Kajian Paruh Waktu SRAN 2010-2014:
Cakupan pengobatan pada tahun 2012 baru 17%
pelaksanaan SRAN 2010-2014 untuk mencapai target dampak epidemi ternyata belum sepenuhnya memenuhi harapan. Cakupan pengobatan pada tahun 2012 baru 17% dari perkiraan ODHA yang membutuhkan pengobatan, penggunaan kondom secara konsisten pada WPSL dan pelanggannya masih belum optimal (di bawah 60%), cakupan PPIA 14-16% (walaupun meningkat, tapi masih dibawah 20%), serta cakupan pengobatan pada anak hanya 15%. Prevalensi HIV pada beberapa Populasi Kunci belum menunjukkan penurunan, kecuali pada Penasun dan WPSTL. Sementara itu, prevalensi HIV pada LSL meningkat dua kali lipat.
Target 70% pendanaan HIV dan AIDS dari sumber domestik pada tahun 2014 tampaknya belum tercapai. Lebih dari 50% pendanaan masih bersumber dari luar negeri. Rencana memperluas program penanggulangan HIV dan AIDS yang telah dimulai tidak akan berhasil tanpa kelanjutan dukungan luar negeri dan tanpa meningkatkan pendanaan dari sumber domestik, termasuk pendanaan pemerintah pusat dan daerah serta meningkatkan pengobatan yang dicakup JKN melalui BPJS.
2.3.3. Temuan Investment Case Analysis
AIDS Epidemic Modeling (AEM) dan Investment Case Analysis (ICA) dipakai dalam Kajian
Paruh Waktu, yang memberikan pilihan strategis yang menjadi dasar pengembangan SRAN 2015-2019. Pemodelan dilakukan pada kombinasi hasil dari 3 intervensi yang dianggap memiliki dampak yang besar terhadap epidemi: (1) Model Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) yang merupakan integrasi pemberian layanan yang berkesinambungan mulai dari tingkat komunitas seperti PMTS, (2) Perluasan
Strategic Use of ARV (SUFA), dan (3)
Perluasan praktik-praktik terbaik untuk meningkatkan cakupan dan efektivitas intervensi. Perhitungan ini memasukkan 141 kabupaten/ kota prioritas yang saat ini masih menerima dukungan dana GFATM, dimana di dalamnya terdapat 75 kabupaten/ kota pelaksana program LKB dengan tambahan SUFA (Strategic Use of ARV). Keseluruhan 141 kabupaten/ kota prioritas ini sudah sejak akhir tahun 2013 dipersiapkan untuk melaksanakan LKB pada akhir tahun 2014. Dalam analisis, dibuat beberapa skenario epidemi HIV, baik untuk Tanah Papua maupun Non Papua. Skenario pertama adalah baseline, yang dibuat dengan memasukkan data, dimulai dari data sejak awal kejadian AIDS di Indonesia sampai dengan data terakhir yaitu hasil STBP tahun 2013 dan hasil surveilans maupun laporan tahun 2013. Proyeksi yang dihasilkan dari pemodelan adalah skenario jika intervensi yang dilakukan sama dengan yang sudah dilakukan sampai dengan tahun 2013. Beberapa skenario berikutnya dibuat untuk melihat kondisi dengan perbedaan
I
ntervensi yang optimal untuk tahun 2015-2019: Memilih sebagian yaitu 75 dari 141 kabupaten/ kota prioritas dengan tingkat kinerja tinggi, yaitu yang memiliki tingkat risiko penularan, beban penyakit dan kesiapan lokal yang tinggi.intensitas program, yang dilihat dari cakupan program dan kualitas pelaksanaan program.
Skenario yang maksimal adalah kondisi dengan cakupan program 80% populasi kunci yang dilakukan di semua kabupaten/ kota, dengan tingkat kinerja yang tinggi pula yaitu 80% sesuai dengan praktik terbaik pelaksanaan program HIV. Sementara skenario paling minimal adalah sama dengan baseline. Diantara keduanya, pertama dilakukan analisis jika program penanggulangan HIV dan AIDS dilakukan di 141 kabupaten/ kota prioritas dengan tingkat kinerja yang sedang dan kedua memilih sebagian yaitu 75 dari 141 kabupaten/ kota prioritas tersebut untuk mengimplementasikan tingkat kinerja yang tinggi, khususnya pada kota dengan tingkat risiko penularan, beban penyakit, dan kesiapan lokal yang tinggi.
Hasil analisis dampak epidemiologis dari ICA ini menggunakan: 1) Jumlah infeksi baru per tahun; 2) Jumlah infeksi HIV yang bisa dicegah; 3) Jumlah ODHA; 4) Jumlah kematian terkait AIDS; 5) Jumlah kematian yang dicegah; dan 6) Jumlah DALY yang diselamatkan.
Analisis kemudian dilakukan untuk melihat efektivitas dari biaya yang dikeluarkan dan keuntungan epidemiologisnya, dan melihat kembalinya hasil investasi untuk program AIDS terhadap perhitungan ekonomi mengenai biaya yang tidak harus dikeluarkan di tahun mendatang karena investasi yang dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Analisis juga dilakukan untuk perhitungan dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penanggulangan AIDS.
Sebagaimana telah diprediksi, semakin cepat melakukan perluasan program dengan tingkat kinerja yang tinggi, maka ini akan menghasilkan dampak epidemi yang maksimal. Namun demikian, kebutuhan dana untuk skenario ini juga lebih besar sehingga ada kesenjangan antara kebutuhan dana dengan ketersediaan dana. Oleh sebab itu, dengan mencoba beberapa skenario, maka akan dipilih skenario yang optimal, yaitu dengan dana yang tersedia (termasuk dana yang akan dimobilisasi-dengan mempertimbangkan kemungkinannya) dapat dicapai dampak epidemiologis yang optimal. Oleh sebab itu, sangat penting dalam menetapkan strategi adalah, menentukan prioritas upaya penanggulangan. Perlu dimaksimalkan efektivitas dan efisiensi, dengan memilih lokasi dengan tingkat risiko penularan dan beban penyakit tertinggi serta kesiapan lokal, maka efektivitas dapat dimaksimalkan. Perlu juga mengkaji kembali satuan biaya program, agar sejauh mungkin dapat dikurangi. Selain memobilisasi dana luar negeri, ke depan, perlu mobilisasi dana dalam negeri, khususnya dana daerah. Berdasarkan data hasil IBBS tahun 2007 dan 2011 ditemukan bahwa pekerja seks remaja/ orang muda (KAP muda) dibawah usia 25 tahun lebih rendah terpapar program pencegahan dibandingkan dengan yang diatas 25 tahun . dalam hal penggunaan kondom usia 25 tahun juga lebih rendah dan melakukan tes HIV.
Sedangkan untuk LSL muda juga lebih rendah terpapar program pencegahan dan untuk penasun muda juga lebih rendah melakukan tes HIV.
Bab 3. VISI, TUJUAN dan STRATEGI 3.1. Prinsip Kebijakan
Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia bertujuan untuk memastikan tercapainya akses universal terhadap layanan pencegahan, pengobatan dan mitigasi dampak HIV dan AIDS; berfokus pada populasi kunci (termasuk remaja populasi kunci dan pekerja migran) di daerah geografis yang paling berisiko; memperkuat dan mempertahankan layanan terintegrasi yang efektif secara biaya dan berkualitas tinggi; lingkungan kondusif yang bebas stigma dan diskriminasi, sensitif jender dan berorientasi pada Hak Asasi Manusia; serta menerapkan prinsip tata kelola yang baik, transparansi dan akuntabilitas.
Dalam pengembangan kebijakan nasional, prinsip-prinsip yang dipegang adalah sebagai berikut: (1) Memperhatikan nilai-nilai agama, budaya serta norma sosial dan penghargaan terhadap manusia. (2) Merespon masalah sosial dan pembangunan, secara terstruktur, melibatkan pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan masyarakat sipil. (3) Kemitraan antara masyarakat sipil, ODHA, pemerintah dan mitra pembangunan. (4) Dukungan sosial dan ekonomi berfungsi memberdayakan ODHA dan mereka yang terdampak untuk mempertahankan kualitas hidup.(5) Exit strategy dari ketergantungan sumber dana luar negeri.
3.2. Visi, Tujuan Umum dan Tujuan Khusus
Visi
Mengakhiri epidemi HIV di Indonesia sebagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat pada tahun 2030; dan tercapainya akses pencegahan, pengobatan dan mitigasi dampak secara merata bagi semua orang yang membutuhkan, tanpa kecuali.
Tujuan umum
SRAN penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2015-2019 ditujukan untuk percepatan pencapaian “3 Zero” (Zero infeksi baru, Zero kematian terkait AIDS dan Zero stigma dan diskriminasi) dengan cara mencegah penularan HIV; meningkatkan dengan segera akses pengobatan HIV, meningkatkan retensi pengobatan, meningkatkan kualitas hidup ODHA; mitigasi dampak sosial ekonomi epidemi HIV pada individu, keluarga dan masyarakat untuk menjaga produktivitas dan sumber daya manusia Indonesia.
Tujuan khusus
1. Menyediakan pencegahan kombinasi HIV yang efektif, termasuk pengobatan sebagai pencegahan, bagi populasi kunci dan pasangannya;
2. Menyediakan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan yang berkualitas, mudah diakses, harga terjangkau dan ramah bagi ODHA;
3. Memperluas pengobatan ARV kepada semua ibu hamil di kabupaten/ kota prioritas untuk menghilangkan penularan vertikal dari orang tua ke bayinya,
dan memberikan akses ke pengobatan ARV kepada semua anak yang terinfeksi HIV;
4. Meningkatkan akses untuk mitigasi dampak epidemi HIV, termasuk dukungan ekonomi dan sosial untuk ODHA, anak-anak dan keluarga terdampak yang hidup dalam kesulitan;
5. Menciptakan lingkungan kondusif yang mempromosikan penanggulangan HIV dan AIDS yang efektif dan pemenuhan Hak Asasi Manusia di semua tingkatan, memberdayakan masyarakat sipil untuk memiliki peran berarti dan mengurangi stigma dan diskriminasi pada populasi kunci dan ODHA serta mereka yang terdampak HIV dan AIDS. Hal ini termasuk mengembangkan kebijakan, koordinasi, manajemen, monitoring dan evaluasi epidemi dan penanggulangannya serta penelitian implementasi dan operasional.
6. Menempatkan penanggulangan HIV dan AIDS nasional dalam mekanisme program yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan jangka menengah dan jangka panjang.
Dalam rangka mencapai visi dan tujuan di atas, ada 4 (empat) skenario penanggulangan AIDS. Asumsi masing-masing skenario didasarkan pada cakupan program dan efektifitasnya.
1. Skenario 1: Skenario baseline dimana diasumsikan tidak ada peningkatan intervensi pada tahun 2013-2030.
2. Skenario2: “LKB Kinerja Medium” diasumsikan implementasi program LKB dan PMTS di 141 kabupaten/ kota dengan cakupan pencegahan pada populasi kunci sebesar 70% dan 45% cakupan pengobatan pada tahun 2020 (dengan 75% efektifitas pengobatan).
3. Skenario 3: “LKB Kinerja Tinggi di 47 kabupaten/ kota SUFA, dan Kinerja Medium di 94 Kota” sampai dengan tahun 2016; dan 75 kabupaten/ kota SUFA dengan Kinerja Tinggi dan 66 kabupaten/ kota Kinerja Sedang mulai tahun 2017.
4. Skenario 4: “LKB Kinerja Tinggi”, dimana diasumsikan implementasi program LKB dan PMTS serta SUFA dan lainnya diintensifkan di 141 kabupaten/ kota dengan cakupan pencegahan pada populasi kunci sebesar 80% dan 60% cakupan pengobatan pada tahun 2020 (dengan 75% efektifitas pengobatan).
Gambar 3.1. Jumlah Infeksi Baru Per Tahun Pada Orang Dewasa, 2013-2030
Skenario baseline: 74 ribu th 2019 dan 102 ribu th 2030
Skenario pilihan: 40 ribu th 2019 (turun 38%) dan 20 ribu th 2030 (turun 69%) Infeksi baru HIV yang dapat dicegah: 34 ribu th 2019 dan 81 ribu th 2030
Dari 4 pilihan strategis di atas, skenario 3 (tiga) menunjukkan pilihan yang paling optimal. Idealnya, semua 141 kabupaten/ kota prioritas melaksanakan upaya dengan tingkat kinerja tinggi, namun, selain terkendala oleh tingginya kebutuhan sumber dana, mencapai kesiapan yang maksimal dari keseluruhan kabupaten/ kota dalam waktu singkat tampaknya belum mampu dilaksanakan. Jika ditargetkan semua kabupaten/ kota berkinerja pada tingkat medium, beberapa kota sesungguhnya dapat menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik. Oleh sebab itu, skenario ketiga, dipilih karena upaya untuk mendorong kinerja yang tinggi dapat difokuskan pada kabupaten/ kota prioritas tertinggi, yaitu yang telah menjalankan inisiatif SUFA. Adapun pelaksanaan SUFA ini dilakukan secara bertahap, mulai dari 13 kabupaten/ kota, saat ini sudah bergerak menjadi 47 kabupaten/ kota hingga tahun 2016; dan pada awal tahun 2017, total 75 kabupaten/ kota harus sudah melaksanakan SUFA dibawah payung LKB secara berkualitas.
Pilihan strategis ini, mencakup minimal 70% penjangkauan terhadap populasi kunci, dimana pada pengguna NAPZA suntik dapat mencapai 80%. Sedangkan jumlah infeksi baru turun 38% pada tahun 2019, jika dibandingkan jumlah infeksi baru pada tahun 2014.
Gambar 3.2. Jumlah ODHA Dewasa, 2015-2030
Skenario baseline: 778 ribu th 2019 dan 1.081 ribu th 2030
Skenario pilihan: 712 ribu th 2019 (jumlah ODHA akan meningkat dahulu karena efektifitas ARV, dari baseline 2014 menjadi naik 12%) dan 538 ribu th 2030 (turun 17%)
Jumlah ODHA lebih sedikit: 65 ribu th 2019 (turun 8%) dan 543 ribu th 2030 (turun 50%)
Dengan memilih skenario 3 (tiga), diharapkan jumlah ODHA pada tahun 2019 berkurang 8,4% dan berkurang 50% pada tahun 2030. Untuk mencapai hal itu, maka minimal 40% dari ODHA yang memenuhi syarat (sesuai dengan Permenkes nomor 21 tahun 2013), dapat menerima pengobatan ARV.
Gambar 3.3. Jumlah Kematian ODHA Dewasa per Tahun, 2015-2030
Skenario baseline: 48 ribu th 2019 dan 72 ribu th 2030
Skenario pilihan: 37 ribu th 2019 (turun 20%) dan 41 ribu th 2030 (turun 25%) Jumlah kematian akibat AIDS yang dapat dicegah: 10 ribu th 2019 dan 31 ribu th 2030
Proyeksi matematika dengan pilihan skenario 3 (tiga), sebagaimana digambarkan di atas, menunjukkan penurunan kematian akibat AIDS 15% pada tahun 2019 dan 25% pada tahun 2030, jika dibandingkan jumlah kematian akibat AIDS pada tahun 2014. Dasar ini memperhitungkan seberapa besarkah cakupan yang dapat dicapai pada tahun 2030, sebagai berikut:
a. Baseline (kondisi saat ini), karena merupakan kondisi yang terjadi saat ini, cakupan tidak mengalami perubahan.
b. LKB kinerja medium, untuk daerah GF konsensus adalah cakupan yang akan dicapai 75% pada tahun 2030, untuk daerah non GF adalah 40%.
c. LKB kinerja tinggi, untuk daerah GF konsensus adalah cakupan yang akan dicapai 80% pada tahun 2030, untuk daerah non GF adalah 40%.
d. LKB kinerja tinggi di semua kabupaten/ kota, konsensus adalah cakupan yang akan dicapai adalah 80% pada tahun 2030.
3.3. Target dan Hasil Yang Diharapkan
Target dan hasil yang harus dicapai di akhir pelaksanaan SRAN 2015-2019 dibagi dalam 6 tujuan:
Target Tujuan 1: Perluasan dan Peningkatan Pencegahan Kombinasi HIV
Program pencegahan menjangkau sedikitnya 70% populasi kunci. Sedikitnya 40% ODHA mengetahui status HIV
Mengurangi jumlah infeksi baru hingga 50% dari proyeksi tahun 2014 bila tidak ada intervensi
Perubahan perilaku melalui penggunaan kondom konsisten pada 80% transaksi seks berisiko
86% Penasun menggunakan alat suntik steril secara konsisten Penurunan prevalensi IMS hingga 25% dari 2014
Pendekatan khusus untuk remaja populasi kunci dan populasi umum
Target Tujuan 2: Perluasan dan Peningkatan Mutu Layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan
Meningkatkan cakupan pengobatan ARV hingga 70% Meningkatkan cakupan pengobatan ARV untuk pasien TB Mengurangi kematian akibat AIDS hingga 50%
Meningkatkan kualitas layanan ARV (jumlah dan ketersediaan ARV untuk anak) Adherance ARV
Layanan HIV, kesehatan seksual dan reproduksi, dukungan sebaya, kekerasan dan TB terintegrasi dalam struktur layanan
Target Tujuan 3: Pengurangan Infeksi HIV Vertikal
Mengurangi jumlah infeksi HIV pada bayi yang terlahir dari ibu HIV positif
Meningkatkan akses informasi dan layanan KSR pada perempuan usia reproduksi Agar semua perempuan hamil melakukan test HIV
Semua perempuan hamil dengan HIV positif dan anak mereka di kabupaten/ kota prioritas mendapat ARV profilaksis, dan ibu mereka menerima ART seumur hidup Pelibatan laki-laki dalam program pencegahan infeksi HIV vertikal
Target Tujuan 4: Perluasan Cakupan Mitigasi Dampak
Orang terinfeksi atau terdampak HIV, termasuk anak, janda, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang membutuhkan, memiliki akses untuk mitigasi dampak termasuk kesehatan, pendidikan, psikososial dan pemberdayaan ekonomi.
Target Tujuan 5: Penciptaan Lingkungan yang Mendukung
Meningkatnya komitmen (implementasi kebijakan dan anggaran) pemerintah di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/kota pada upaya penanggulangan HIV yang mandiri dan berkelanjutan.
Memastikan adanya kebijakan yang mendukung penanggulangan HIV/AIDS yang sesuai dengan prinsip-prinsip HAM dan memperhatikan kebutuhan laki-laki, perempuan, waria (responsif gender); memastikan mereka memiliki akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dari kebijakan yang dibuat. (Masuk DO)
Pemerintah bersama dengan masyarakat sipil berperan secara signifikan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, mengubah aturan perundangan yang bersifat menghukum, kontraproduktif, menghambat akses seperti batas usia, serta permasalahan Hak Asasi Manusia dan ketidaksetaraan jender, stigma dan diskriminasi pada populasi kunci, ODHA dan anak yang terinfeksi HIV, orang terdampak HIV dan AIDS dan kelompok rentan lainnya (warga binaan laki-laki, perempuan, waria, buruh migran laki-laki, perempuan, waria, anak jalanan, pasangan dari populasi kunci, orang dengan disabilitas, kaum etnis minoritas, masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan).
Memastikan adanya sistem penanganan korban kekerasan pada populasi kunci (ODHA, perempuan dengan HIV, pekerja seks perempuan dan waria, GWL, perempuan penasun), anak dengan HIV dan anak dari ODHA, serta korban kekerasan lainnya yang rentan terhadap infeksi HIV melalui integrasi layanan kesehatan dan bantuan hukum.
Memastikan pelibatan aktif masyarakat sipil, termasuk orang yang terinfeksi dan terdampak HIV, orang muda termasuk orang muda populasi kunci dan organisasi berbasis komunitas, serta kelompok perempuan dan waria yang lebih strategis dalam perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, monitoring dan evaluasi program. Memperkuat program multi-sektor di kementerian/lembaga, termasuk
memperluas program pencegahan HIV melalui pendidikan di sekolah dan luar sekolah serta di tempat kerja.
Memastikan program pencegahan HIV melalui pendidikan formal dan informal serta pembangunan kesadaran menggunakan pendekatan yang mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat terutama kelompok populasi kunci, kelompok rentan, kelompok perempuan dan waria, termasuk melalui media sosial dan ICT secara efektif untuk mempromosikan penanggulangan HIV.
Meningkatnya kapasitas, kualitas dan efektivitas sumber daya manusia terkait HIV, memasukkan HIV dan AIDS dalam kurikulum di semua jenjang pendidikan dan pengembangan pusat-pusat pelatihan untuk pembelajaran horizontal.
Memastikan adanya peningkatan kapasitas dan kesadaran pemerintah, penyedia layanan, media dan stakeholder lainnya tentang prinsip-prinsip HAM dan kesetaraan gender di dalam pencegahan dan penanganan HIV dan AIDS.
Memperbaiki kualitas, penggunaan dan mekanisme berbagi data yang terpilah berdasarkan umur, jenis kelamin dan gender.
Adanya sistem surveilans yang berfungsi dan data yang terharmonisasi dari berbagai sumber. Monitoring dan evaluasi program difokuskan pada (1) penanganan masalah dalam proses dan kualitas layanan, (2) memantau riam (cascade) layanan HIV, (3) kesenjangan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan gender.
Penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat kabupaten/kota diperkuat melalui pengembangan kapasitas, penguatan koordinasi, integrasi layanan kesehatan dan masyarakat, dan desentralisasi layanan serta mobilisasi sumber daya yang tersedia di daerah.
Target Tujuan 6: Peningkatan Keberlanjutan Program
Mengidentifikasi dan menggunakan upaya-upaya program yang efektif secara biaya, termasuk rasionalisasi layanan, pengalihan tugas dan efisiensi biaya diagnosis, obat-obatan dan komoditas lainnya.
Meningkatkan proporsi pengeluaran pemerintah pusat, daerah dan swasta untuk upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.
Meningkatkan peran sektor swasta dalam hal pendanaan dan layanan kesehatan dalam kerangka PPM (public private mix).
3.4. Strategi
Strategi utama mengandung 4 (empat) kata kunci berikut: Pencegahan Komprehensif
Pengertian pencegahan komprehensif adalah agar jangan sampai seseorang tertular virus HIV, yang apabila ia menjadi tertular HIV agar ia dapat segera dicegah tidak masuk ke tahap AIDS serta tidak menjadi sumber penularan baru, dan kemudian dapat dimitigasi dampak sosial ekonomi pada ODHA.
Continuum of Care (CoC)
Pengertian CoC di sini adalah agar sasaran populasi kunci mendapatkan program penanggulangan AIDS secara berkesinambungan, mulai dari berbagai upaya
pencegahan berbasis komunitas seperti PMTS sampai mendapatkan layanan kesehatan seperti IMS dan tes HIV serta layanan rujukan yang komprehensif, seperti LKB sampai dengan upaya mempertahankan pengobatan. COC dapat dipadankan sebagai integrasi PMTS-LKB.
Populasi Kunci
Pengertian populasi kunci di sini adalah agar kelompok ini menjadi sasaran primer atau fokus dari pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Populasi harus dapat mengakses program yang dijalankan secara efisien dan efektif, untuk menurunkan epidemi HIV. Mereka ini terdiri dari WPS dan pelanggannya, Penasun, LSL, Waria, LBT, serta pasangan mereka.
Daerah Prioritas
Pengertian daerah prioritas adalah agar penanggulangan AIDS juga harus berfokus di daerah geografi dengan tingkat risiko penularan HIV yang tinggi, beban penyakit HIV dan AIDS yang tinggi sehingga program dapat dijalankan dengan efisien dan efektif pula untuk menurunkan epidemi HIV.
Berikut ini adalah rincian Strategi PenanggulanganAIDS periode tahun 2015-2019:
1. Menetapkan Prioritas Target Geografis
Sejak pelaksanaan SRAN periode 2010-2014, pemilihan kabupaten/ kota prioritas telah menjadi salah satu keputusan strategis. Kriteria pemilihan ini didasarkan pada tingkat risiko penularan HIV dan beban penyakit HIV dan AIDS tertinggi, serta kesiapan infrastruktur dan komitmen pemerintah kabupaten/ kota.
Belajar dari pelaksanaan sebelumnya, dari total 511 kabupaten/ kota di Indonesia, 141 kabupaten/ kota menunjukkan beban epidemi HIV yang lebih besar sehingga perlu menjadi prioritas target geografis upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia untuk mencapai dampak epidemiologis yang bermakna.
Di antara kabupaten/ kota tersebut, dipelajari bahwa terdapat kabupaten/ kota yang lebih berhasil menunjukkan dampak upaya penanggulangan yang signifikan, yang ternyata mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) berada di kota dengan jumlah penduduk yang relatif banyak, jumlah populasi kunci dan jumlah ODHA juga termasuk yang tertinggi di Indonesia, (2) memiliki infrastruktur yang relatif kuat serta ditunjang dengan komitmen daerah, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat sipilnya, sehingga dapat menunjukkan kinerja yang tinggi, dan (3) memiliki manajemen pencatatan dan pengolahan data epidemi setempat yang lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan pemantauan dampak epidemiologis upaya penanggulangan.
Pembelajaran ini menyimpulkan perlunya upaya penanggulangan yang ditujukan pada daerah yang menjadi episentrum epidemi dimana terdapat pula kesiapan infrastruktur daerah setempat untuk menghasilkan dampak penanggulangan yang optimum. Melalui
pendekatan ini dapat diidentifikasi setidaknya 75 kabupaten/ kota dengan kinerja tinggi dan 66 kabupaten/ kota dengan kinerja medium di antara 141 kabupaten/ kota prioritas, yang perlu didorong untuk secara optimal mengintensifkan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di daerah masing-masing. Upaya yang perlu dilakukan dalam strategi ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Penguatan propinsi dan KPA Kabupaten/ Kota dalam perencanaan menetapkan target dan meningkatkan efektivitas PMTS dan layanan pengotan (LKB – SUFA) termasuk koordinasi antara layanan kesehatan dan komunitas populasi kunci. 2. Dukungan kerja KPA Propinsi dan Kabupaten/ Kota untuk memastikan integrasi
HIV dalam proses perencanaan kegiatan di propinsi dan kabupaten/ kota agar didanai oleh APBD.
3. Mendorong pemangku kepentingan ditingkat daerah sebagai mitra utama dalam program HIV dan AIDS antara lain layanan kesehatan, pemerintah daerah KPA Propinsi dan Kabupaten/ Kota dan universitas lokal.
4. Membangun jaringan kabupaten/ kota priotitas tinggi dalam memobilisasi dukungan politik untuk HIV dan fasilitasi pembelajaran secara horizontal untuk kota lainnya.
Perhitungan matematika menunjukkan bahwa bila upaya penanggulangan AIDS di 75 kabupaten/ kota dengan kinerja tinggi melaksanakan upaya penanggulangan selama periode 2015-2019, maka infeksi baru HIV dapat diturunkan 38% dan kematian karena AIDS juga dapat diturunkan hingga 20%, jika dibandingkan pada tahun 2014.
2. Memanfaatkan Pencegahan Kombinasi sebagai Strategi Daya Ungkit
Pencegahan kombinasi adalah pendekatan yang mengkombinasikan pencegahan penularan baru dan program pengobatan sebagai pencegahan, dalam rangka mendukung penyediaan layanan yang komprehensif.
Mengkombinasi berbagai bentuk pencegahan yang terbukti efektif dan dapat diterima oleh komunitas dan masyarakat sekitarnya adalah satu langkah yang harus semakin diperkuat di masa yang akan datang. Pencegahan kombinasi tidak hanya berfokus pada pencegahan melalui intervensi perubahan perilaku, namun juga dengan intervensi biomedis melalui pengobatan, pencegahan positif, pengobatan sebagai pencegahan, profilaksis pra dan paska pajanan, pengurangan dampak buruk NAPZA, PMTS, sirkumsisi, konseling, kesetaraan jender, kebijakan yang mendukung, penguatan lingkungan yang kondusif, serta mobilisasi sosial komunitas dan masyarakat.
Untuk menghasilkan daya ungkit yang optimum dari pencegahan kombinasi, diperlukan penguatan keterkaitan antar berbagai layanan, khususnya layanan pencegahan yang berbasis komunitas, layanan tes dan konseling HIV, serta layanan kesehatan umum dan pengobatan IMS, HIV dan AIDS. Dibutuhkan sistem rujukan yang baik dari layanan pencegahan berbasis komunitas ke layanan kesehatan begitu pula sebaliknya, untuk memastikan populasi kunci yang terjangkau memperoleh layanan komprehensif mulai
dari intervensi perubahan perilaku, akses ke tes HIV dan konseling, sampai ke pengobatan ARV dan dukungan psiko-sosial untuk mempertahankan pengobatan dan selanjutnya memperbaiki kualitas hidup ODHA.
Pencegahan kombinasi perlu terintegrasi dalam sistem kesehatan, terutama dalam layanan publik dan layanan swasta yang dapat diakses oleh masyarakat umum dengan tujuan untuk menjaring sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Strategi ini juga perlu diterapkan pada layanan publik yang bersifat khusus, seperti pada Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan, Lokalisasi, Panti Pijat. Pemilihan tempat-tempat ini dilakukan dengan memperhatikan tingginya risiko penularan IMS dan HIV.
3. Menguatkan Layanan Komprehensif Berkesinambungan
Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) bertujuan untuk menguatkan sistem layanan kesehatan yang terintegrasi dengan pencegahan berbasis komunitas seperti PMTS melalui kerjasama erat antara pemerintah kabupaten/ kota, pengelola layanan kesehatan, masyarakat sipil, serta komunitas, populasi kunci dan ODHA.
Secara khusus LKB bertujuan untuk menguatkan sistem kesehatan yang terintegrasi dengan sistem komunitas agar dapat meningkatkan cakupan promosi, pencegahan dan pengobatan terkait HIV, diantaranya adalah sebagai berikut:
Memperluas layanan HIV bagi populasi kunci pada fasilitas layanan kesehatan primer dan komunitas, termasuk TB, IMS, Kesehatan Seksual dan Reproduksi, kekerasan, dan Hepatitis.
Menjadi rujukan kebutuhan dari komunitas ke layanan dan kembali ke komunitas. Meningkatkan respon tenaga kesehatan terhadap penanggulangan HIV dan AIDS. Memperluas pengobatan ARV melalui layanan yang terdesentralisasi.
Mitigasi dampak sosial-ekonomi.
Secara kontekstual, PMTS dan SUFA harus dilaksanakan dalam kerangka konsep LKB.
Integrasi yang baik antara sistem layanan kesehatan dan pencegahan berbasis komunitas membutuhkan perencanaan multi-sektoral untuk perluasan layanan, pemetaan hotspot, pengembangan strategi penjangkauan, dan pengembangan kemitraan dengan kelompok populasi, dan peningkatan kapasitas layanan kesehatan di tingkat kabupaten/ kota.
4. Desentralisasi dan Integrasi Layanan HIV
Terbukti bahwa pengobatan lebih dini dan kepatuhan minum ARV merupakan salah satu metode yang efektif dalam upaya pencegahan HIV. Upaya pemberian ARV secara dini dan perluasan pengobatan telah dimulai melalui inisiatif penggunaan ARV secara strategis (SUFA). Walaupun demikian, saat ini, kepatuhan minum obat masih menjadi tantangan yang perlu untuk terus diperhatikan. Integrasi layanan HIV dan TB juga perlu
mendapatkan perhatian khusus, baik di tingkat rumah sakit maupun pada tingkat layanan primer. Masih banyak tantangan dihadapi dalam rangka mengkombinasikan kedua layanan ini, tidak hanya pedoman dan tatalaksana kolaborasi TB-HIV yang perlu diperbarui, tetapi juga upaya peningkatan kapasitas dan penyiapan infrastrukturnya, baik dalam hal manajemen maupun sumber daya manusianya.
Model LKB-PMTS meningkatkan integrasi layanan terkait HIV dan pencegahan berbasis komunitas. Lebih lanjut, untuk meningkatkan kesinambungan dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas, layanan HIV harus diintegrasikan pada struktur layanan kesehatan primer. Layanan IMS dan HIV harus diintegrasikan dengan layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi, dan layanan HIV diintegrasikan dengan layanan antenatal dan layanan perawatan kronis, termasuk layanan diagnosis kanker serviks.
Kegiatan HIV perlu diintegrasikan dengan lebih baik dengan kegiatan berbasis komunitas terutama di Tanah Papua, dimana epidemi sudah pada populasi umum. Sebagai contoh, layanan berbasis komunitas perlu diperluas sebagai perpanjangan dari layanan perawatan, dukungan dan pengobatan yang berbasis pada layanan kesehatan; layanan Posyandu perlu dikaitkan dengan layanan sosial dan medis untuk ODHA; kader dari komunitas perlu diberdayakan untuk melakukan konseling untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan TB dan HIV.
5. Mengembangkan dan Memperluas Mitigasi Dampak
Mitigasi dampak dikembangkan dengan cara memaksimalkan sistem terkait pengamanan sosial yang sudah ada di Indonesia, seperti dengan terus meningkatkan dukungan bagi populasi kunci dan ODHA untuk dapat memanfaatkan skema jaminan kesehatan dan sosial.
Fokus pengembangan dan perluasan mitigasi dampak ke depan adalah agar anak yang terinfeksi dan terdampak HIV dan AIDS dapat mengakses layanan yang memberikan perlindungan sosial, pendidikan dan kesehatan. Dalam rangka tersedianya layanan yang memadai, tidak hanya langkah-langkah advokasi yang perlu dilakukan untuk memperkuat lembaga yang mampu memberikan dukungan, tetapi juga memperhatikan peningkatan kapasitas dan keahlian mitra terkait dalam bidang pengasuhan anak, perawatan, dan pemberdayaan ekonomi, serta perlindungan hukum bagi ODHA.
Penggalian sumber daya, dapat dilakukan dengan menjajaki berbagai alternatif di tingkat lokal. Sementara itu, untuk terus memperluas penyediaan dukungan ini, dokumentasi praktik di daerah dapat menjadi salah satu alat komunikasi dan pengembangan program.
6. Mewujudkan Lingkungan yang Mendukung bagi Populasi Kunci dan ODHA
Stigma, diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) diakui secara luas menjadi penghalang bagi respon nasional yang efektif terhadap HIV. ODHA masih kerap ditolak dan diusir dari keluarga dan komunitas. Hak atas pendidikan dan hak atas pekerjaan ODHA masih sering disangkal. Maraknya pelanggaran HAM menyebabkan pencegahan dan pelayanan kesehatan HIV menjadi kurang efektif. Ketika ODHA dan
populasi kunci takut akan diskriminasi, mereka akan enggan melakukan tes HIV, termasuk mengakses layanan kesehatan HIV. Ketidaksetaraan jender dan kekerasan berbasis jender, perempuan cenderung sulit menghindari relasi yang penuh paksaan dan kekerasan, semua ini membuat mereka rentan terhadap HIV.
Guna mewujudkan program pencegahan, layanan dan dukungan HIV yang efektif, maka penghalang Hak Asasi Manusia tersebut harus diatasi dengan mengintegrasikan perlindungan dan promosi HAM dan keberpihakan jender ke dalam respons HIV, meningkatkan program yang sudah berjalan yang mengatasi halangan Hak Asasi Manusia tersebut, dan memastikan bahwa program-program HIV tidak berpotensi maupun tidak melanggar HAM. Pengintegrasian tersebut harus dilakukan sejak tahapan perencanaan sampai dengan pemantauan pelaksanaan program HIV.
7. Evaluasi Proses dan Standar Mutu untuk Menguatkan Intervensi yang Berkualitas
Untuk mencapai dampak yang besar dari upaya penanggulangan, dibutuhkan intervensi yang berkualitas yang diukur dengan evaluasi proses dengan target standar mutu intervensi.
Peningkatan kualitas perlu dilakukan dengan memperhatikan detil pelaksanaan program yang diatur dalam pedoman atau prosedur kegiatan. Menambah atau mengurangi satu langkah dalam tata laksana, jika itu merupakan hasil dari evaluasi tersebut, maka ini dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan.
Mekanisme evaluasi proses atau quality assurance perlu dimiliki oleh semua pelaksana program, yang berfungsi dengan baik dan dilakukan tepat waktu. Salah satu peningkatan kualitas yang menjadi fokus ke depan adalah dalam mencari dan menemukan kasus HIV atau IMS dan memastikan pengobatan dan perawatannya, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
8. Mendukung Penguatan Sistem Komunitas
Keterlibatan masyarakat dan pemberdayaan merupakan salah satu prinsip penanggulangan HIV dan AIDS. Penguatan sistem komunitas (Community System
Strengthening - CSS) dalam penanggulangan AIDS bertujuan untuk mencapai hasil
kesehatan yang lebih baik dengan partisipasi aktif populasi terdampak serta organisasi berbasis komunitas dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi layanan dan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan bagi ODHA.
Sejak upaya penanggulangan AIDS dimulai di Indonesia, telah ada pengakuan terhadap peran penting organisasi berbasis komunitas, masyarakat terdampak, populasi kunci, komunitas dan ODHA dalam penanggulangan AIDS di Indonesia. Namun keberlanjutan dukungan terhadap komunitas merupakan tantangan seiring dengan menurunnya dukungan pendanaan internasional.
SRAN 2015-2019 bertujuan untuk memastikan keterlibatan aktif dan bermakna dari ODHA, populasi kunci, kelompok yang mewakili ODHA dan populasi kunci, serta masyarakat sipil lainnya dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di semua tingkatan hingga tingkat kecamatan dan desa.
Dukungan untuk penguatan komunitas secara bermakna perlu dilakukan mealui kemitraan bersama berbagai pemangku kepentingan di tingkat nasional dan sub – nasional, untuk mendorong partisipasi aktif komunitas dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi upaya penanggulangan AIDS. Upaya penguatan komunitas perlu dituangkan dalam bentuk alokasi anggaran, peningkatan kapasitas, bantuan teknis, penguatan manajemen organisasi dan kepemimpinan yang tersedia di tingkat nasional, propinsi serta kabupaten/ kota. Peningkatan peran masyarakat dalam pelaksanaan LKB menjadi prioritas bagi SRAN 2015-2019.
9. Mengelola Pengetahuan dan Keterampilan antar Kabupaten/ Kota
Peningkatan manajemen pengetahuan adalah salah satu prioritas SRAN 2015-2019, khususnya manajemen pengetahuan upaya penanggulangan AIDS di tingkat kabupaten/ kota untuk memfasilitasi pembelajaran secara horizontal antar kabupaten/ kota di Indonesia.
Peningkatan manajemen pengetahuan perlu dimulai dengan dokumentasi dan pemetaan kekuatan pelaksanaan upaya penanggulangan AIDS di tingkat kabupaten/ kota, khususnya di daerah dengan kinerja tinggi. Pemetaan ini menjadi dasar bagi pengembangan model pembelajaran antar kabupaten/ kota yang terstruktur dan sistematis.
Unit pengelolaan pengetahuan manajemen perlu dibentuk oleh KPAN untuk memantau pelaksanaan upaya penanggulangan secara umum, serta untuk membantu proses pemetaan dan dokumentasi yang dibutuhkan. Kriteria pemilihan lokasi pembelajaran juga perlu dikembangkan.
10. Mendorong Alokasi Dana Penanggulangan AIDS di tingkat Kabupaten/ Kota
Keberlanjutan penanggulangan HIV dan AIDS tergantung pada tingkat pendanaan yang memadai. Dengan menurunnya dukungan dana luar negeri bagi upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, perlu didorong adanya alokasi dana yang memadai tidak hanya di tingkat nasional namun juga di tingkat propinsi dan kabupaten/ kota.
Untuk ini, strategi meningkatkan pendanaan lokal perlu diinisiasi pada periode SRAN 2015-2019, misalnya dengan cara berikut:
1. Meningkatkan efisiensi biaya yang dapat diperoleh dari pelaksanaan LKB, integrasi HIV ke layanan kesehatan primer; efisiensi biaya diagnostik, obatdan komoditas lain; cara penjangkauan yang efektif yang memaksimalkan cakupan dan menghilangkanmissed-opportunity.
2. Menambah pendanaan dalam negeri dengan pendekatan baru, misalnya melalui matching funds, dimana penambahan dana lokal disandingkan dengan tambahan dana nasional; atau challenge grants, dimana kabupaten/ kota yang mengusulkan perluasan atau peningkatan kualitas layanan, akan menerima dana, dengan memastikan adanya mata anggaran HIV tersedia di APBD.
3. Mendorong dan mengakses peluang pendanaan CSR untuk program HIV:
public-private sector partnership and private philanthropy.
11. Menguatkan Penelitian, Kualitas Data serta Akselerasi Penggunaan Inovasi dan Teknologi Baru
Inovasi dan teknologi baru dapat meningkatkan efektivitas serta efisiensi intervensi untuk menanggulangi HIV, selama periode SRAN 2015-2019. Perlu ada mekanisme untuk melakukan eksplorasi inovasi dan teknologi baru yang dapat diuji serta diimplementasikan di Indonesia; memperoleh perijinan sesuai hukum yang berlaku; dan mengembangkan rencana aksi untuk pelaksanaannya.
Beberapa prioritas inovasi yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah tes HIV berbasis komunitas, pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT), penggunaan media sosial, SMS dan internet untuk kegiatan penjangkauan komunitas khususnya bagi populasi tersembunyi dan remaja; serta pencanangan intervensi PreP bagi LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki).
Terkait dengan informasi strategis, SRAN 2015-2019 perlu terus memperkuat sistem surveilans, termasuk peningkatan kualitas data dan penelitian baru terkait HIV, khususnya agar lebih diperhatikan pada tingkat propinsi dan kabupaten/ kota.
Prioritas utama adalah penguatan sistem data rutin seperti SIHA maupun surveilans penyakit dan peningkatan kualitas data, serta adanya perhatian khusus untuk memenuhi kebutuhan data di tingkat propinsi dan kabupaten/ kota, meningkatkan kapasitas daerah untuk melakukan integrasi, interpretasi, serta menggunakan data secara efektif untuk perencanaan maupun pemantauan. Penguatan sistem data disertai dengan agregasi jender, usia, dan faktor risiko.
Untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi keberhasilan SRAN 2015-2019 dibutuhkan penelitian dengan area yang cukup luas, termasuk penelitian biomedis/ klinis, epidemiologi, sosial, budaya, perilaku dan penelitian operasional/ implementasi.
Penelitian biomedis/ klinis fokus pada masalah gambaran klinik, perjalanan penyakit, perawatan serta pengobatan penyakit.
Penelitian epidemiologi fokus pada besaran, penyebaran dan latar belakang biologi, virology, lingkungan, sedangkan penelitian sosial/ budaya fokus pada fenomena sosial dalam masyarakat, termasuk perilaku dan struktur sosial masyarakat.
Agenda penelitian 2015-2019 memberikan prioritas pada penelitian operasional/ implementasi yang menunjang kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS yang mempunyai tujuan: Menghentikan penularan HIV; Memperbaiki kualitas hidup ODHA; Mengurangi dampak HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat; dan Menciptakan lingkungan kondusif program yang bebas stigma dan diskriminasi.
Perlu diidentifikasi perguruan tinggi, komunitas, dan institusi penelitian untuk mendukung penelitian implementasi dan penelitian evaluasi, dengan fokus 75 kabupaten/ kota prioritas tinggi. Evaluasi proses dan penelitian operasional dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan penanggulangan AIDS termasuk LKB/ PMTS/ SUFA dan keterlibatan komunitas. Perlu diperhatikan pemantauan efektivitas pengobatan (melalui CD4 dan viral load), sesuai dengan pedoman.
12. Menguatkan Kemitraan Internasional: Bilateral dan Multilateral
Dengan semakin menguatnya posisi Indonesia dalam kemitraan internasional, maka potensi kolaborasi serta perluasan jejaring kerja pun meningkat pesat. Indonesia menduduki beberapa posisi strategis di tingkat regional dan global dalam program penanggulangan HIV dan AIDS, antara lain adalah sebagai berikut:
Global: Indonesia diundang secara khusus oleh PCB UNAIDS (Programme Coordinating Board) untuk menyampaikan perkembangan penanggulangan AIDS
di Indonesia. Board atau dewan ini beranggotakan 22 negara anggota PBB, dengan perwakilan dari pemerintah dan masyarakat sipil. Pada tahun 2014, dewan tersebut diketuai oleh Australia memutuskan untuk kemudian melakukan kunjungan kerja ke Indonesia, dimana peserta datang dari Afrika (Zimbabwe), Amerika Latin (Brasil) serta beberapa negara Eropa.
Regional: Indonesia sebagai anggota ASEAN menjadi Lead Country untuk inisiatif
ASEAN Cities Getting to Zero. Inisiatif ini merupakan operasionalisasi langsung dari ASEAN Declaration of Commitment: Getting to Zero New HIV Infections, Zero
Related Deaths, Zero Discrimination, yang diadopsi para pimpinan negara anggota
ASEAN (Bali, 17 November 2012). Inisiatif ini menjadi contoh di seluruh dunia untuk program regional dengan pendekatan lokal (tingkat kabupaten/ kota). Nasional: Indonesia mengelola dana kemitraan untuk HIV (Indonesia Partnership
Fund), dimana donor utama pada saat ini berasal dari USAID (Amerika Serikat) dan
DFAT (Australia).
Arah kebijakan Indonesia dalam menguatkan kemitraan internasional ini adalah dengan mempertahankan peran yang telah disandang hingga saat ini dan terus berpartisipasi aktif dalam upaya penanggulangan AIDS.
Bab 4. RENCANA AKSI A. Intervensi
4.1. Pencegahan HIV
Penurunan penularan HIV dilakukan melalui perluasan pencegahan yang efektif. Hal ini perlu dilakukan pada hubungan seksual risiko tinggi dan penggunaan peralatan suntik secara bergantian. Perlu perhatian khusus pada pencegahan HIV baru di kelompok LSL. Pencegahan HIV pada populasi kunci di beberapa wilayah dengan kinerja baik, merupakan hasil kombinasi beberapa faktor berikut: a) Komitmen individu, b) Layanan ramah klien, c) Pelibatan pihak-pihak pemangku kepentingan, d) Keterlibatan aktif Dinas Kesehatan dan Puskesmas baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/ kota yang berkerja sama dengan penegak hukum dan tokoh kunci lokalisasi atau lokasi, e) Keterlibatan LSM dan OMS dalam promosi kondom dan monitoring program penggunaan kondom; f) Mobilisasi komunitas melalui intervensi sebaya, g) pendekatan Program di tempat kerja
Target perluasan pencegahan pada populasi kunci dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Target Pencegahan, Perubahan Perilaku dan Tes HIV pada Populasi Kunci (dalam %)
Indikator Populasi Kunci Baseline Sumber Data 2015 2016 2017 2018 2019 Cakupan program pencegahan komprehensif Semua 34 STBP 41 48 56 63 70 Perubahan perilaku untuk mencegah penularan HIV Semua 61 STBP 68 71 74 77 80 Populasi kunci yang mendapatkan
tes HIV Semua 29 STBP 34 40 45 50 56
4.1.1. Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual
Intervensi struktural PMTS perlu terus diperkuat untuk meningkatkan efektifitas dan dampak program pencegahan, sehingga dapat menurunkan penularan HIV melalui transmisi seksual. Promosi kondom di tempat terjadinya transaksi seksual dan di layanan IMS perlu terus dilakukan, dengan penguatan berikut:
Pengembangan pesan-pesan baru untuk komunikasi perubahan perilaku sebagai bagian dari strategi komunikasi HIV dan AIDS secara keseluruhan.
Pemanfaatan secara luas media sosial, internet dan SMS untuk menyebarluaskan informasi dan pesan-pesan komunikasi perubahan perilaku.