BAB IV METODE PENELITIAN
4.1.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Variabel diukur dalam waktu yang bersamaan saat penelitian berlangsung. Penelitian menggunakan data primer untuk mengetahui prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMPN 1 Denpasar pada tahun 2016. Penelitian ini merupakan non eksperimental karena tidak dilakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian serta hanya melakukan pengambilan data dalam satu waktu.
4.1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian akan di lakukan di SMP Negeri 1 Denpasar yang berlokasi Jalan Surapati. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli 2016.
4.2. Subjek dan Sampel
4.2.1 Subjek Penelitian
a. Populasi target penelitian ini adalah remaja putri.
b. Populasi terjangkau adalah remaja putri di SMP N 1 Denpasar tahun 2016.
c. Sampel dari penelitian ini adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi yang telah ditetapkan.
4.2.2 Kriteria Subjek
4.2.2.1 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1. Kriteria Inklusi
Siswi SMP Negeri 1 Denpasar
Telah menandatangani inform concent dan bersedia menjadi responden
Hadir saat penelitian berlangsung
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah adanya penyakit yang dapat menimbulkan gejala gangguan cemas.
4.2.3 Besaran Sampel
n : Besarnya sampel untuk tiap kelompok α : Tingkat kemaknaan (α ditetapkan 0,05%) Zα : 1,96
p : Proporsi penelitian = 50% (0,5) q : 100% - 50% = 50% (0,5)
24
d : Tingkat ketepatan absolut. Pada penelitian ini digunakan tingkat ketepatan absolut 10%
=
n = 96,04 dibulatkan menjadi 100.
Dengan penghitungan rumus tersebut didapatkan jumlah sampel minimal adalah 100 orang.
4.2.4 Teknik Penentuan Sampel
Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik Random Cluster, dimana subjek sudah berbentuk kelompok dan pemilihan sampel dengan memilih kelompok secara acak.
4.3. Variabel
4.3.1 Identifikasi Variabel
Variabel penelitian dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
(1) Gangguan Cemas (2) Remaja Putri
4.3.2 Definisi Operasional Variabel (1) Gangguan Cemas
Gejala cemas diukur melalui pertanyaan pada kuisioner GAD 7. Kuisioner GAD 7 sendiri memiliki sensitivitas 89% dan spesifisitas 82%. Pertanyaan akan dijawab oleh responden pada instrumen kuesioner. Cara pengukurannya dengan menggunakan kuesioner GAD 7 yang terdiri atas 7 pertanyaan yaitu apakah selama 2 minggu ini, anda terganggu oleh masalah-masalah berikut:
a. Merasa gelisah, cemas atau amat tegang
b. Tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa khawatir c. Terlalu mengkhawatirkan berbagai hal
d. Sulit untuk santai
e. Sangat gelisah sehingga sulit untuk duduk diam f. Menjadi mudah jengkel atau lekas marah
g. Merasa takut seolah-olah sesuatu yang mengerikan mungkin terjadi
Responden akan menjawab pertanyaan ini dengan pilihan “tidak pernah”,
“beberapa hari”, “lebih dari separuh waktu yang dimaksud”, dan “hampir setiap hari” dimana skornya untuk masing-masing pertanyaan adalah 0-3 sehingga rentang skornya adalah dari 0 sampai 21. Interpretasinya adalah jika skornya 8 atau lebih maka responden kemungkinan memiliki gangguan cemas yang dapat dikonfirmasi kembali dengan evaluasi lebih lanjut. Selain itu, berdasarkan tingkat kecemasan, jika skornya 0-5, orang tersebut memiliki kecemasan mild, skor 6-10
26
untuk kecemasan moderate, skor 11-15 untuk kecemasan moderately severe dan skor 15 ke atas untuk kecemasan severe.
(2) Remaja Putri
Menurut WHO, masa remaja terdiri dari masa remaja awal dan masa remaja akhir. Peneliti tertarik untuk meneliti tentang usia remaja awal yaitu pada usia 10-14 tahun. Remaja dengan usia 10-14 tahun biasa di temukan pada bangku sekolah, yaitu tingkat SMP.
4.4. Bahan dan Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner yang diambil berdasarkan kuesioner GAD 7.
4.5. Protokol Penelitian
Gambar 4.5.1. Langkah Penelitian
Persiapan Sebelum Penelitian
Populasi Target
Populasi Terjangkau
Sampel
Pemberian Kuisioner
Analisis Data
Sebelum melakukan penelitin akan dilakukan diajukan permohonan surat izin untuk meminta persetujuan pikak sekolah untuk menjadikan siswi-siswinya sebagai subjek penelitian
Saat penelitian subjek penelitian diberikan penjelasan latar belakang dan tujuan dari penelitian. Setelah subjek menyetujui lembar persetujuan responden, subjek akan diberikan kuisioner. Setelah menyelesaikan kuisioner, akan diakukan interpretasi pada subjek.
4.6 Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan software komputer. Semua data yang diperoleh pertama kali akan dimasukkan dalam Excel dan ditransfer pada program SPSS (sebuah program statistik) untuk dianalisis.
Analisis data dalam penelitian ini adalah dari analisis univariat. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian yang menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel.
28 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1 Karakteristik Dasar Sosiodemografi
SMPN 1 Denpasar merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama negeri di Denpasar. Sekolah ini terletak di Jalan Surapati Denpasar yang merupakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sehingga sistem pembelajarannya pun lebih maju dan modern. SMPN 1 Denpasar telah banyak melahirkan siswa-siswa berprestasi dan telah banyak pula menjuarai berbagai macam perlombaan baik di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun di tingkat internasional. Hingga saat ini SMPN 1 Denpasar merupakan sekolah terfavorit di Bali. Pada tahun 2015, sekolah ini menjadi peraih Nilai Ujian Nasional (NUN) tertinggi di Provinsi Bali.
Tabel 5.1 Distribusi, Rerata, Standar Deviasi dan Proporsi Karakteristik Dasar Sosiodemografi Remaja Putri di SMP Negeri 1 Denpasar
Variabel Frekuensi
Dari tabel diatas, dapat dilihat distribusi frekuensi dan proporsi dari karakteristik dasar sosiodemografi dari remaja putri berdasarkan usia dan kelas. Dimana usia responden berkisar antara usia 11 tahun sampai usia 14 tahun. Sedangkan distribusi kelas responden terbagi ke dalam tiga kelas yaitu kelas VII, VIII dan IX.
Rerata usia sampel adalah 12,91 (±0,866). Dimana terdapat 1 orang (1%) responden yang berusia 11 tahun, 39 orang (39%) berusia 12 tahun, 28 orang (28%) yang berusia 13 tahun dan yang berusia 14 tahun berjumlah 32 orang (32%).
30
Responden terbanyak adalah yang duduk di kelas IX dengan jumlah frekuensi 35 orang (35%). Responden yang duduk di bangku kelas VII berjumlah 34 orang (34%) dari jumlah keseluruhan. Sisanya duduk di bangku kelas VIII dengan jumlah 31 orang (31%).
Dari tabel 5.1 dapat kita lihat bahwa proporsi tingkat kecemasan tertinggi terdapat pada tingkat mild yaitu sebesar 69%, pada moderate sebesar 26%, pada tingkat moderately severe sebesar 4% dan jumlah subyek dengan gangguan cemas yang terendah dengan proporsi 1% adalah pada tingkat severe.
5.1.2 Prevalensi Gangguan Cemas Pada Remaja Putri Tabel 5.2 Prevalensi Gangguan Cemas pada Remaja Putri
Dari Tabel 5.2 terlihat bahwa sebesar 78% (78 orang) remaja putri di SMPN 1 Denpasar tidak mengalami gangguan cemas, sedangkan 22%
(22 orang) mengalami gangguan cemas. Dimana sebagian besar siswi di SMP 1 Denpasar tidak mengalami gangguan cemas.
Gangguan Cemas Frekuensi
(n=100)
Proporsi (%)
Cemas 22 22%
Tidak Cemas 78 78%
5.1.3 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Usia
Tabel 5.3 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Usia
Umur Interpretasi Total P
Cemas Tidak cemas f(%)
11 1 (100%) 0 (0%) 1 (100%)
12 9 (23,07%) 30 (76,93%) 39 (100%)
13 4 (14,28%) 24 (85,72%) 28 (100%) 0,194
14 8 (25%) 24 (75%) 32 (100%)
Total 22 78 100 (100%)
Dari tabel 5.3 terlihat bahwa siswi yang memiliki gangguan cemas pada usia 11 tahun sebanyak 1 orang (100%) dan tidak ada atau 0 siswi (0%) yang tidak memiliki gangguan cemas. Pada siswi yang berusia 12 tahun terdapat 9 orang (23,07%) yang memiliki gangguan cemas, sedangkan 30 orang (76,93%) siswi tidak memiliki gangguan cemas. Pada kelompok siswi yang berusia 13 tahun, 4 orang (14,28%) memiliki gangguan cemas dan 24 orang (85,72%) orang lainnya tidak memiliki gangguan cemas. Terdapat 8 orang (25%) siswi yang berusia 14 tahun yang memiliki gangguan cemas dan 24 orang (75%) siswi tanpa gangguan cemas. Dari hasil olah data dengan program SPSS ditemukan nilai chi-square sebesar 0,194.
32
5.1.4 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Kelas Tabel 5.4 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Kelas
Kelas Interpretasi Total P VII yang memiliki gejala cemas sebanyak 7 subyek (20,58%), sedangkan yang dengan yang tidak dengan gejala gangguan cemas sebanyak 27 orang (79,42%). Pada kelompok kelas VIII, subyek yang dengan cemas sebanyak 6 orang (19,35%) dan yang tanpa gangguan cemas sebanyak 25 orang (80,65%). Dan pada kelas IX, yang tidak cemas 26 orang (74,29%) dan yang cemas sebanyak 9 (25,71%) orang yang menjadikan kelas IX kelompok dengan jumlah siswi yang memiliki gangguan cemas tertinggi.
Dari hasil olah data dengan program SPSS ditemukan nilai chi-square sebesar 0,8.
5.2 Pembahasan
5.2.1 Prevalensi Gangguan Cemas pada Remaja Putri Berdasarkan Skor GAD 7
Karakteristik dasar sosiodemografi dari siswi SMP Negeri 1 Denpasar adalah usia dan tingkatan kelas. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan subyek penelitian yang merupakan wanita muda atau yang kerap disebut remaja putri. Pemilihan remaja putri sebagai subyek pada
penelitian ini ditunjang dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Uran pada tahun 2016 yang menyatakan adanya perbedaan signifikan pada jenis kelamin dengan pengaruhnya terhadap kecenderungan mengalami gangguan cemas. Ditemukan data yang menunjukkan jika remaja putri memang lebih rentan terkena gangguan kejiwaan, khususnya gangguan cemas yang diakibatkan oleh perbedaan tingkat stress yang didapat oleh remaja putri dan remaja putra. Sekresi hormone kortisol erat kaitanya dengan usia, pubertas dan jenis kelamin (Uran, 2016).
Pada penelitian ini, peneliti menemukan hasil prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar sebesar 22%. Dimana, angka ini terbilang cukup tinggi. Tetapi hasil dari penelitian ini berbeda dengan penelitian Juariah yang meneliti tentang prevalensi gangguan cemas pada remaja kelas VII dan VIII yang sudah mengalami pubertas, dimana hanya terdapat 1,2% sampel yang mengalami gangguan cemas, dan prevalensi gangguan cemas dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Juariah ini terbilang rendah (Juariah, 2009).
Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah kuisioner GAD 7. Dimana kuisioner GAD 7 ini memiliki total skor tertinggi sebesar 21 poin dengan cut-off point pada skor 8. Dengan hasil skor 8 keatas, sample dinyatakan memiliki gejala yang cukup untuk dinyatakan memiliki gangguan cemas. Sementara interpretasi GAD 7 juga dibagi dalam beberapa tingkatan kecemasan. Jika skornya 0-5, orang tersebut memiliki kecemasan mild, skor 6-10 untuk kecemasan moderate, skor 11-15 untuk kecemasan moderately severe dan skor 15 ke atas untuk kecemasan severe.
34
Dengan tetapan interpretasi GAD 7 tersebut, penelitian ini mendapatkan proporsi sebesar 69% pada tingkat mild, 26% pada tingkat moderate, 4% pada tingkat moderately severe dan 1% pada tingkar severe.
Hasil ini menunjukkan jika lebih dari setengah sampel ada pada tingkat kecemasan mild.
5.2.2 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Karakteristik Demografi Subyek penelitian ini berasal dari siswi SMP Negeri 1 Denpasar yang terdiri dari kelas VII, VIII, dan VIII. Subyek pun terbagi dalam beberapa golongan usia yang terdiri dari usia 11, 12, 13 dan 14 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Uran menunjukkan bahwa remaja putri lebih cenderung dirujuk ke klinik psikiatris dengan berbagai keluhan.
Kebanyakan remaja putri datang dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan cemas. Pada studi yang dilakukan oleh Uran, hasil dari penelitiannya mengenai hubungan antara jenis kelamin dan usia terhadap kecemasan menunjukkan hasil signifikan pada intervensi kesehatan mental. Dimana, peningkatan emosi dan masalah perilaku sangat meningkat pada masa remaja yang dikaitkan dengan masa peralihan atau pubertas. Masa pubertas pada perempuan biasanya dimulai pada usia 9-14 tahun dimana sampel dalam penelitian ini keseluruhan masih pada masa pubertas.
a. Usia
Dari data yang di dapatkan dari penelitian ini, peneliti mendapatkan variasi usia remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar yang terdiri dari usia 11, 12, 13, dan 14 dengan rata-rata usia sampel 12,9 (SD0,87). Kelompok usia 12 menjadi kelompok dengan jumlah sampel terbanyak yaitu sebesar 39 sampel dari total keseluruhan sebesar 100 sampel.
Distribusi gangguan cemas pada remaja putri berdasarkan usia menunjukkan jika pada kelompok usia 11 tahun ditemukan 1 orang siswi dengan gangguan cemas, pada usia 12 tahun terdapat 9 orang dengan gangguan cemas, pada usia 13 tahun ditemukan 4 orang dengan gangguan cemas dan 8 orang dengan gangguan cemas pada kelompok usia 14. Pada hasil yang didapatkan oleh peneliti, dapat dilihat bahwa kelompok usia 12 tahun memberikan kontribusi terbesar dalam tingginya prevalensi cemas di SMP Negeri 1 Denpasar.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Leikanger pada tahun 2011 yang mencari tahu hubungan antara usia dan jenis kelamin terhadap gangguan cemas. Dari penelitian Leikanger, jumlah sampel yang dinyatakan paling banyak mengalami gangguan cemas adalah dari usia 14 tahun. Dalam berbagai tipe gangguan kecemasan, kelompok remaja putri yang berusia 14 tahun banyak ditemukan (Leikanger, 2011).
Pada hasil uji chi-square didapatkan nilai 0,194 dimana hasil ini menyatakan bahwa variabel tingkatan kelas tidak signifikan berpengaruh
36
pada gangguan cemas sedangkan nilai yang menunjukkan pengaruh signifikan adalah <0,05.
b. Tingkatan Kelas
Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa dari 3 kelompok tingkatan kelas yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX, kelompok kelas IX memiliki jumlah presentase gangguan cemas terbesar. Terdapat 9 siswi di kelas IX yang mengalami gangguan cemas dengan presentase sebesar 25,7%. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh stressor yang berbeda dari kelompok kelas lainnya. Seperti yang kita ketahui jika Ujian Nasional akan dihadapi oleh kelas IX dan kelas IX memiliki bobot kesulitan dalam pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan tingkatan kelas lainnya.
Persiapan menjelang Ujian Nasional bagi siswi di SMP Negeri 1 Denpasar memberikan peran pada meningkatnya stressor pada remaja putri. Ditambah lagi dengan peraihan Nilai Ujian Nasional tertinggi seprovinsi Bali yang kerap diperoleh oleh siswi SMP Negeri 1 Denpasar yang menyebabkan para pelajar di sekolah tersebut harus belajar lebih giat untuk mempertahankan prestasi tersebut. Kecemasan pada siswi kelas IX dalam menghadapi Ujian Nasional mungkin juga berkenaan dengan khawatirnya siswi kelas IX akan kemungkinan tidak lulus dalam Ujian Nasional. Teori kecemasan siswi dalam Ujian Nasional juga dikuatkan dengan penelitian dari Nurlaila pada tahun 2011 yang menyatakan bahwa kecemasan siswa meningkat sejalan dengan tingkatan kelas yaitu ketika menghadapi evaluasi atau ujian, perbandingan sosial dan beberapa pengalaman kegagalan. Ketika sekolah memberikan pengalaman
kegagalan dalam evaluasi ujian, kecemasan siswa menjadi semakin meningkat. Ujian akhir sekolah atau saat ini sering disebut Ujian Akhir Nasional merupakan salah satu sumber kecemasan siswa (Nurlaila, 2011).
Selain Ujian Nasional, hal lain yang dapat menyebabkan kecemasan pada remaja putri yang duduk dikelas IX, kebingungan untuk menentukan sekolah untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) juga bisa menjadi salah satu penyebab. Faktor keluarga, lingkungan, internal, dan sosial dari remaja putri pun bisa menjadi penyebab lain bagi remaja putri untuk mengalami gangguan cemas.
Namun pada hasil uji chi-square didapatkan nilai 0,8 dimana hasil ini menyatakan bahwa variabel tingkatan kelas tidak signifikan berpengaruh pada gangguan cemas sedangkan nilai yang menunjukkan pengaruh signifikan adalah <0,05.
5.3 Keterbatasan Penelitian
Penelitian mengenai prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar memiliki keterbatasan dalam beberapa hal, diantaranya kurangnya literatur sebelumnya yang dapat dijadikan referensi pada penelitian ini, kurangnya waktu penelitian yang disebabkan oleh padatnya jadwal pelajaran para siswi sehingga pengisian kuisioner dan kurang maksimal. Terdapat juga kemungkinan adanya sampel yang tidak jujur dalam mengisi kuisioner karena belum memahami sepenuhnya pertanyaan yang ada pada kuisioner oleh karena terbatasnya waktu yang diberikan dari pihak sekolah.
38 BAB VI
PENUTUP
6.1. Simpulan
Dari hasil penelitian terhadap remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, pada karakteristik dasar sosiodemografi didapat rerata usia yaitu 12,91 (SD0,87), responden terbanyak duduk di kelas IX. Pada tingkat kecemasan, remaja paling banyak mengalami kecemasan mild. Prevalensi gejala cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar adalah sebesar 22 orang dari 100 sampel yang diambil (22%) dan dari hasil uji chi-square ditemukan bahwa variabel usia dan kelas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap gangguan cemas.
6.2. Saran
Angka prevalensi gangguan cemas pada remaja putri didapatkan cukup tinggi, terutama dikalangan remaja. Kepada guru Bimbingan Konseling (BK) diharapkan lebih bisa memberikan komunikasi, informasi dan edukasi kepada remaja putri mengenai apa itu fase peralihan yang mereka alami seperti perubahan bentuk tubuh, hormonal dan lain-lainnya. Bagi akademisi dan peneliti penelitian ini dapat dijadikan sebuah studi pendahuluan pada bidang kecemasan dan kelainan psikologi lainnya.
39
Andri & Dewi Y., 2007. Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik dan Berbagai Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan. Maj Kedokt Indon 57 (7) 234-236.
Christina, T., 2014. Hubungan Peran Teman Sebaya dengan Kecemasan Remaja Putri pada Masa Pubertas dalam Menghadapi Perubahan Fisik di SMP Swasta Betania Medan. USU Repository.
Dixon, T. 2011., Understanding Anxiety Problems. Help-For : http://help-for.com [Diakses 5 Desember 2015].
Guyton, A.C. & Hall, J.E., 2014. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Elsevier Inc. : Twelfth edition.
Indarjo, S., 2009. Kesehatan Jiwa Remaja. KEMAS, 7 (2), 48-57.
Juariah, L., 2009. Gambaran Tingkat Kecemasan Remaja Kelas VII dan VIII yang Mengalami Pubertas di SMP Budi Luhur – Cimahi. Jurnal Kesehatan Kartika.
Junita,, 2013. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan dan Tingkat Kecemasan Remaja Putri saat Mengalami Menarche di SMP Negeri 10 Medan Tahun 2013. Usu Repository.
Lee, A. & Hankin, B.L., 2009. Insecure Attachment, Dysfunctional Attitudes, and Low Self-Esteem Predicting Prospective Symptoms of Depression and Anxiety During Adolescence. Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology, 38 (2), 219–231.
Leikanger, Einar, et al., Sex and Age-related Anxiety in A Community Sample of Norwegian Adolescents. Sacdinavian Journal of Psychology, 53, 150-157.
Uran, Pinar & Sertcelik, Mehmet., Evaluation of Child and Adolescent Psychiatry Consultation in A Tertiary University Hospital. The Europan Research Journal, 2-3.
Nurlaila, Siti,. Pelatihan Efikasi Diri untuk Menurunkan Kecemasan pada Siswa-Siswi yang Akan Menghadapi Ujian Akhir Nasional. GUIDENA 1 (1), 2-3.
Rapee R.M., 2012. Anxiety disorders in children and adolescents: Nature, development, treatment and prevention. IACAPAP e-Textbook of Child and Adolescent Mental Health : http://iacapap.org [Diakses 29 Oktober 2015].
40
Suryani, L. & Syahniar, Z., 2013. Penyesuaian Diri pada Masa Pubertas.
KONSELOR Jurnal Ilmiah Konseling, 2 (1), 136 – 140.
Tandirerung, L.H. & Aminah H.S. 2014. Tingkat Kecemasan Remaja karena Perubahan Fisik pada Usia 13-15 Tahun. Journal of Pediatric Nursing 1 (2), 105-108.
Yani, Widyastuti (2010). Kesehatan Reproduksi. Edisi 3. Yogyakarta : Fitramaya.
41
LAMPIRAN Lampiran 1
JADWAL KEGIATAN
No Kegiatan
Bulan
X XI XII
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Persiapan Proposal
2 Refleksi awal -Diskusi alternatif -Mencari Sampel -Merancang Penelitian 3 Pelaksanaan
4 Penyusunan draft laporan 5 Penyelesaian laporan dan
analisis
42
Lampiran 2
FORMULIR BIODATA SUBJEK (Diisi oleh responden)
Identitas Pribadi
Nama :
Tempat, tanggal lahir : Alamat Rumah :
Usia :
Kelas :
Riwayat Penyakit : Jumlah Saudara :
Lampiran 3
LEMBAR KUESIONER
Nama : Umur : Tanggal lahir :
Petunjuk Pengisian
Kuesioner ini terdiri dari berbagai pernyataan yang mungkin sesuai dengan pengalaman dalam hidup anda sehari-hari. Terdapat empat pilihan jawaban yang disediakan untuk setiap pernyataan.
Selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab dengan cara memberi tanda silang (X) pada setiap nomor yang paling sesuai dengan pengalaman Anda selama 2 minggu terakhir. Tidak ada jawaban yang benar ataupun salah, karena itu isilah sesuai dengan keadaan diri Anda yang sesungguhnya, yaitu berdasarkan jawaban pertama yang terlintas dalam pikiran Anda sendiri.
( Pilihlah salah satu penyataan yang anda anggap sesuai dengan diri anda saat ini, dengan memberi tanda silang (x) pada huruf di depan penyataan yang anda pilih )
44 1 Merasa gelisah, cemas, atau
amat tegang
0 1 2 3
2 Tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa
5 Sangat gelisah hingga sulit untuk duduk diam
0 1 2 3
6 Menjadi mudah jengkel atau lekas marah
0 1 2 3
7 Merasa takut seolah-olah sesuatu yang mengerikan mungkin terjadi
0 1 2 3
Lampiran 4
LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN Judul Penelitian :
Prevalensi Gangguan Cemas pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Denpasar Tahun 2016
Latar Belakang
Gangguan cemas merupakan prevalensi tertinggi dari gangguan kejiwaan.
Secara keseluruhan, prevalensi dari gangguan kecemasan adalah 24.9%. Hasil dari salah satu studi menunjukkan pada 10 remaja yang sudah mengalami pubertas didapatkan 8 remaja mengatakan cemas saat mengalami pubertas.
Pada masa pubertas, banyak yang perubahan yang ditemukan pada remaja putri. Diantaranya perubahan fisik, perubahan pola perilaku, masa transisi dan masalah-masalah yang para remaja alami. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan remaja putri cenderung mengalami gangguan psikologis atau gangguan suasana hati, dimana gangguan suasana hati yang paling sering dialami remaja putri adalah gangguan cemas.
Manfaat Penelitian
Memberikan informasi mengenai prevalensi gejala gangguan cemas pada remaja putri, dan juga memberi gambaran pada remaja putri tentang psikologis remaja
46
Lampiran 5
TABEL ANALISIS SPSS Frekuensi usia
Usia
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Crosstable Interpretasi dan usia
% within Interpretasi 100.0% 100.0% 100.0%
Chi-Square Tests
a. 2 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .22.
48
% within Interpretasi 100.0% 100.0% 100.0%
Chi-Square Tests
a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.82.
Frekuensi interpretasi skor
Interpretasi
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Cemas 22 22.0 22.0 22.0
TidakCemas 78 78.0 78.0 100.0
Total 100 100.0 100.0