SKRIPSI
PREVALENSI GANGGUAN CEMAS PADA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 1 DENPASAR
I GUSTI AYU AGUNG BELLA JAYANINGRUM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR
2016
i
SKRIPSI
PREVALENSI GANGGUAN CEMAS PADA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 1 DENPASAR
I GUSTI AYU AGUNG BELLA JAYANINGRUM 1302005202
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA 2016
ii
iii
iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya tulis yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila kemudian hari terbukti bahwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain sebagai hasil pemikiran saya sendiri, maka gelar dan ijazah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.
Denpasar, Yang menyatakan
Materai Rp 6.000,-
I Gst. AA.Bella Jayaningrum
v
KATA PENGANTAR
Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha esa, karena hanya atas asung wara nugraha-Nya/kurnia-Nya, disertasi ini dapat diselesaikan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ, pembimbing utama yang dengan penuh perhatian telah memberikan dorongan, semangat, bimbingan, dan saran selama penulis mengikuti program S1, khususnya dalam penyelesaian skripsi ini.
Ucapan yang sama juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr I Ketut Suastika Sp.PD-KEMD atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program S1 di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih ini juga ditujukan kepada Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang dijabat oleh Dr. dr I Putu Gede Purwa Samatra Sp.S(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program S1 pada PSPD FK Universitas Udayana. Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. dr I Putu Astawa Sp.OT(K), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan program S1. Pada kesempatan ini, penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Sekolah SMP N 1 Denpasar atas izin untuk melakukan penelitian di SMP N 1 Denpasar.
Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian skripsi ini, serta kepada penulis sekeluarga.
vi
ABSTRAK
PREVALENSI GANGGUAN CEMAS PADA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 1 DENPASAR
Cemas adalah perasaan tidak pasti atau tidak menentu terhadap ancaman atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang jelas. Cemas adalah salah satu gangguan kejiwaan yang paling sering terjadi pada remaja dan merupakan satu dari beberapa gangguan yang paling sering terjadi pada pertengahan masa kanak-kanak hingga pertengahan masa remaja. Tujuan studi ini untuk mengetahui prevalensi gangguan cemas pada remaja putri. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif cross-sectional analisis menggunakan kuisioner. Sebanyak 100 orang remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini. Data yang diperoleh dari kuisioner antara lain karakteristik sosiodemografi meliputi usia dan tingkatan kelas. Rerata usia 12,9 tahun (SD=0,87), sampel terbanyak terdapat pada kelompok usia 12 tahun dengan jumlah 39 orang (39%). Pada variabel kelas, sampel terbanyak terdapat pada kelas XI yaitu dengan jumlah 35 orang (35%). Sebanyak 22% remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar mengalami gangguan cemas.
Kata kunci: cemas, remaja putri, prevalensi
vii
ABSTRAK
PREVALENCE OF ANXIETY DISORDER AMONG FEMALE ADOLESCENTS IN SMP NEGERI 1 DENPASAR
Anxiety is a uncertain feeling toward threat of fear that will happen which happen without certain reason. Anxiety disorder is one of psychiatric disorders which often occur in adolescent and one of several disorders that most frequently occur in the middle of childhood and adolescence. The purpose of this study is to find out the prevalence of anxiety disorder among female adolescent. Study design that has been used is descriptive cross-sectional analysis with questionnaire as the instrument. A hundred female adolescents were used as the sample of this study. Data that has been gained from the questionnaire are the sociodemographic characteristics such as ages and grade levels. Age average is 12,9 years old (SD=0,87), the biggest sample was found in 12 years old group with the number of 39 people (39%). In grade levels variable, the biggest sample was found in grade IX with the number of 35 people (35%). As much as 22% of female adolescent in SMP Negeri 1 Denpasar were experiencing anxiety disorder.
Keyword: anxiety, female adolescent, prevalence
viii
RINGKASAN
Cemas didefinisikan sebagai suatu emosi dan merupakan pengalaman subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk diobservasi secara langsung. Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar atau konfliktual. Pada saat anak- anak beranjak menjadi remaja, banyak terjadi perubahan biologis, psikologis maupun sosial. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial). Pada masa remaja beberapa jenis gangguan jiwa yang banyak terjadi dengan berbagai stresor yang ada, dapat timbul berbagai kondisi negatif seperti gangguan cemas. Namun data mengenai prevalensi gejala cemas pada remaja putri belum mencukupi maka hal ini tidak dilihat sebagai suatu masalah. Pada karya ilmiah ini prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar akan di paparkan.
Penyebab dari gangguan cemas cukup beragam, diantaranya transimisi di lingkungan keluarga, faktor genetik, faktor tempramental, faktor keluarga dan orang tua, pengalaman hidup (adanya latar belakang pengalaman buruk dalam hidup), dan penyimpangan kognitif (memiliki keyakinan bahwa ada ancaman bagi hidupnya dimana sebenarnya ancaman tersebut tidak ada).
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif cross-sectional.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2016 di SMP Negeri 1 Denpasar.
Data diperoleh dari data primer yang didapatkan dengan kuisioner GAD-7 sebagai instrumen.
ix
SUMMARY
Anxiety is defined as an emotion and an individual subjective experience, has its own power and is difficult to observe directly. Anxiety is a response to a threat that the source is unknown, internal, vague or conflictual. By the time children grow up and become an adolescence, they will change biologically, psychologically and socially. But generally the physical maturation process occurs faster than the mental maturation process (psychosocial). In adolescence phase, some types of mental disorders that frequently occur with a variety of stressors that may arise various negative conditions such as anxiety disorder. However, the data of the prevalence of anxiety symptoms in adolescent girls is insufficient that is why it does not seen as a problem. In this research, the prevalence of anxiety disorders in female adolescent in SMP Negeri 1 Denpasar will be described.
The cause of anxiety disorders are quite diverse, including family transmission, environment, genetic factors, emotional factors, family factors and the elderly, life experiences (the background of bad experiences in life), and cognitive distortions (belief in threat that does not exist).
This study is using a descriptive cross-sectional study. This study was conducted on July 23, 2016 at SMP Negeri 1 Denpasar. Data obtained from primary data that is gained by questionnaire GAD-7 as an instrument.
x
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... .iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ... iv
KATA PENGANTAR ... .v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... .vii
RINGKASAN ... viii
SUMMARY ... ix
DAFTAR ISI ... .x
DAFTAR TABEL ... .xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... .xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Gangguan Cemas ... 6
2.1.1. Definisi dan Epidemiologi... 6
2.1.2. Faktor Resiko ... 7
2.1.3. Gejala pada Gangguan Cemas ... 7
2.2. Remaja Putri ... 8
2.2.1. Definisi dan Epidemiologi ... 8
2.2.2. Perubahan-perubahan pada Fase Pubertas ...10
2.3. Gangguan Cemas pada Remaja Putri ...14
BAB III KERANGKA DAN KONSEP BERFIKIR 3.1. Kerangka Berpikir ...20
3.2. Kerangka konsep ...21
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian...22
4.1.1. Desain Penelitian ...22
4.1.2. Waktu dan Tempat Penelitian...22
4.2. Subjek dan Sampel Penelitian ...22
4.2.1. Subjek Penelitian ...22
4.2.2. Kriteria Subjek ...23
4.2.2.1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi...23
xi
4.2.3. Besaran Sampel...23
4.2.4. Teknik Penentuan Sampel ...24
4.3. Variabel ...24
4.3.1. Identifikasi Variabel...24
4.3.2. Definisi Operasional Variabel ...25
4.4. Bahan dan Instrumen Penelitian ...26
4.5. Protokol Penelitian ...26
4.6. Analisis Data ...27
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian ... 28
5.1.1. Karakteristik Dasar Sosiodemografi ... 28
5.1.2. Prevalensi Gangguan Cemas Pada Remaja Putri ... 30
5.1.3. Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Usia ... 31
5.1.4. Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Kelas ... 32
5.2. Pembahasan ...32
5.2.1. Prevalensi Gangguan Cemas pada Remaja Putri Berdasarkan Skor GAD 7 ...32
5.2.2. Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Karakteristik Demografi ...34
5.3. Keterbatasan Penelitian ...37
BAB VI PENUTUP ... 38
6.1. Simpulan ...38
6.2. Saran ...38
DAFTAR PUSTAKA ...39
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 5.1. Distribusi, Rerata, Standar Deviasi dan Proporsi Karakteristik Dasar Sosiodemografi Remaja Putri di SMP Negeri 1
Denpasar ...29
Tabel 5.2. Prevalensi Gangguan Cemas Pada Remaja Putri ...30
Tabel 5.3. Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Usia ...31
Tabel 5.4. Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Kelas ...32
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 3.2.1 Skema Kerangka Konsep ...21 Gambar 4.5.1 Langkah Penelitian ...26
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan...41
Lampiran 2 Formulir Biodata Subjek ...42
Lampiran 3 Lembar Kuesioner ...43
Lampiran 4 Lembar Persetujuan Responden ...45
Lampiran 5 Tabel Analisis SPSS ...46
1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Cemas adalah perasaan tidak pasti atau tidak menentu terhadap ancaman atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang jelas. Cemas juga dapat didefinisikan sebagai suatu emosi dan merupakan pengalaman subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk diobservasi secara langsung. Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar atau konfliktual (Tandirerung, 2014).
Kecemasan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain transmisi keluarga, genetik, faktor tempremen, faktor keluarga dan orang tua, kejadian dalam hidup, dan ketidaktertarikan kognitif atau fobia sosial (Rapee, 2012).
Beberapa pengaruh lainnya adalah jenis kelamin (dimana kecenderungan dialami oleh perempuan), usia, jurusan, dan gambaran demografis lainnya. Secara keseluruhan, sekitar 5% dari anak dan remaja di Negara timur memiliki kriteria untuk gangguan cemas selama periode waktu yang ditentukan dimana penderita gangguan cemas ini didominasi oleh remaja putri (Rapee, 2012). Di Indonesia angka kecemasan mencapai 6,7%. Menurut National Comorbidity Survey prevalensi kecemasan pada laki-laki 2% dan perempuan 4,3% (Suryani &
Syahniar, 2013).
Cemas merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang paling sering terjadi pada remaja, dan dari berbagai hasil studi yang ada menunjukkan prevalensi dari gangguan cemas meningkat dengan signifikan (Lee & Hankin, 2009). Gangguan
2
cemas merupakan satu dari beberapa gangguan yang paling sering terjadi pada pertengahan masa kanak-kanak hingga pertengahan masa remaja (dimana masa ini biasa disebut masa peralihan atau masa pubertas) (Rapee, 2012).
Remaja biasa didefinisikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional. Seluruh tubuh akan mengalami perubahan pada masa pubertas.
Baik dibagian luar maupun dibagian dalam tubuh, baik dalam struktur tubuh maupun fungsinya. Pada umumnya, remaja akan mengalami berbagai kesulitan dan masalah dalam melakukan penyesuaian diri terhadap dirinya dan lingkungan pada masa pubertas (Suryani & Syahniar, 2013).
Remaja akan mengalami berbagai kondisi selama masa puber. Perubahan- perubahan pesat yang terjadi selama masa puber menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman dan mengakibatkan perilaku yang kurang baik.
Perubahan-perubahan fisik menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya.
(Suryani & Syahniar, 2013).
Pada saat anak-anak beranjak menjadi remaja, banyak terjadi perubahan biologis, psikologis maupun sosial. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial). Pada masa remaja beberapa jenis gangguan jiwa yang banyak terjadi dengan berbagai stresor yang ada, dapat timbul berbagai kondisi negatif seperti cemas, depresi, bahkan memicu munculnya gangguan psikotik (Indarjo, 2009).
Perkembangan pada masa remaja yang diiringi dengan berkembangnya kapasitas intelektual, stress dan harapan-harapan baru yang dialami remaja
membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Bentuk gangguan perasaan, salah satunya adalah kecemasan yang merupakan respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara objektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Adapun tanda dan gejala kecemasan mulai tingkat ringan sampai berat yaitu takut, gelisah, kurangnya kontak mata, fokus terhadap diri, kesulitan konsentrasi, peningkatan pernafasan dan jantung, nafsu makan berkurang (Juariah, 2009).
Hasil dari salah satu studi yang dilakukan dengan cara wawancara dan observasi menunjukkan pada 10 remaja yang sudah mengalami pubertas didapatkan 8 remaja mengatakan cemas saat mengalami pubertas. Dari studi tersebut ditemukan remaja yang mengalami penurunan minat belajar karena kurangnya konsentrasi pada suatu masalah, persepsi negatif tentang timbulnya pubertas, takut terjadi perubahan fisik dan ada pula yang beranggapan pubertas adalah masa-masa yang menakutkan dimana hawa nafsu tidak terkontrol dan 2 orang remaja mengatakan tidak mengalami cemas saat pubertas, mereka menganggap pubertas merupakan hal yang biasa terjadi (Juariah, 2009).
Masa remaja merupakan usia di antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang secara biologis yaitu antara umur 10 sampai 19 tahun. Peristiwa penting yang terjadi pada gadis remaja ialah datang haid yang pertama kali (menarche), biasanya sekitar umur 10 sampai 16 tahun. Data demografi menunjukkan bahwa penduduk di dunia jumlah populasi remaja merupakan populasi yang besar. Menurut World Health Organization sekitar seperlima dari penduduk dunia dari remaja berumur 10 - 19 tahun. Sekitar sembilan ratus juta berada dinegara sedang berkembang (Junita, 2013).
4
Data demografi di Amerika Serikat menunjukkan jumlah remaja berumur 10 - 19 tahun sekitar 15 % populasi. Di Asia Pasifik jumlah penduduknya merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10 - 19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik kelompok umur 10 - 19 tahun adalah 22 %, yang terdiri dari 50,9 % remaja laki - laki dan 49,1 % remaja perempuan (Junita, 2013).
Remaja putri yang mempunyai kecenderungan nerotis dalam usia pubertas, banyak mengalami konflik batin dari datangnya menstruasi pertama yang dapat menimbulkan beberapa tingkah laku patologis, meliputi kecemasan kecemasan berupa fobia, wujud minat yang sangat berlebih, rasa berdosa atau bersalah yang sangat ekstrim yang kemudian menjelma menjadi reaksi paranoid (Junita, 2013).
Dari arsip Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2014 kota Denpasar, peneliti mendapatkan data mengenai Nilai Ujian Nasional (NUN) dari seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Denpasar. Dari arsip tersebut, SMP Negeri 1 Denpasar dinyatakan meraih hasil NUN tertinggi di kota Denpasar, dengan rata-rata NUN 47,013. Peneliti ingin menjadikan siswi di SMP Negeri 1 Denpasar yang notabene merupakan SMP dengan peraih NUN tertinggi di kota Denpasar sebagai objek penelitian mengenai gangguan kecemasan dikalangan remaja putri.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka penulis berminat untuk melakukan penelitian dengan tema prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas masalah yang dapat dirumuskan adalah bagaimana prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di Denpasar.
1.3.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Peneliti
Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah untuk menambah pengetahuan peneliti tentang prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar pada, dan sebagai sarana informasi untuk melakukan penelitian di masa mendatang .
1.4.2. Bagi Praktisi Kesehatan
Memberikan gambaran kepada petugas pelayanan kesehatan tentang prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar dan sebagai referensi untuk memahami gangguan cemas dikalangan remaja putri.
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Gangguan Cemas
2.1.1. Definisi dan Epidemiologi
Cemas adalah perasaan tidak pasti atau tidak menentu terhadap ancaman atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang jelas. Cemas juga dapat didefinisikan sebagai suatu emosi dan merupakan pengalaman subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk diobservasi secara langsung. Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar atau konfliktual (Tandirerung, 2014).
Teori mengenai kecemasan diperkenalkan oleh Freud pada tahun 1980.
Freud melihat kecemasan sebagai bagian penting dari sistem kepribadian, hal yang merupakan suatu landasan dan pusat dari perkembangan perilaku neurosis dan psikosis (Andri & Dewi, 2007).
Cemas kerap di deskripsikan sebagai perasaan gelisah yang dihubungkan dengan suatu antisipasi terhadap bahaya, ini berbeda dengan rasa takut, yang merupakan bentuk respon emosional terhadap bahaya yang obyektif, walaupun manifestasi fisiologik yang ditimbulkannya sama cemas merupakan suatu bentuk pengalanan yang umum, tapi dapat ditemui dalam bentuk yang berbeda pada gangguan psikiatrik dan gangguan medis (Indarjo, 2009).
Diagnosis mengenai cemas ditegakkan apabila gejala cemas mendominasi dan menyebabkan distres (rasa tertekan) atau gangguan yang nyata (Indarjo, 2009).
Gangguan kecemasan cenderung di alami oleh wanita dari pada laki-laki pada umumnya. Berdasarkan gambaran demografis, terdapat bukti bahwa status sosialekonomi yang rendah dapat meningkatkan resiko kecemasan. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa gangguan cemas memiliki prevalensi yaitu 24,9% yang menjadikannya gangguan kejiwaan dengan prevalensi tertinggi dari pada gangguan psikiatris lainnya (Rapee, 2012). Di Indonesia angka kecemasan mencapai 6,7%. Menurut National Comorbidity Survey prevalensi kecemasan pada laki-laki 2% dan perempuan 4,3% (Suryani & Syahniar, 2013).
2.1.2. Faktor Resiko
Terdapat beberapa faktor resiko dari gangguan cemas, diantaranya transimisi di lingkungan keluarga, faktor genetik, faktor tempramental, faktor keluarga dan orang tua, pengalaman hidup (adanya latar belakang pengalaman buruk dalam hidup), dan penyimpangan kognitif (memiliki keyakinan bahwa ada ancaman bagi hidupnya dimana sebenarnya ancaman tersebut tidak ada) (Rapee,2012).
2.1.3. Gejala pada Gangguan Cemas
Gejala yang paling berhubungan dengan gangguan cemas adalah penghindaran dari apapun yang dianggap sebagai bahaya. Gejala dari gangguan cemas meliputi gejala yang ada pada tubuh, fikiran serta tingkah laku (Dixon, 2011).
Saat merasa cemas akan adanya sesuatu yang dianggap sebagai ancaman atau bahaya, tubuh kita akan : bernafas lebih cepat, jantung berdetak cepat, merasa
8
pusing, merasakan adanya ‘kupu-kupu’ di dalam perut, merasa sakit hingga perlu untuk pegi ke toilet, adanya reaksi alergi, bibir kering juga susah untuk menelan, dan berkeringat lebih banyak (Dixon, 2011).
Gejala lainnya, biasanya merupakan sesuatu yang ada dalam fikiran kita seperti rasa takut, memberi sugesti kepada diri sendiri bahwa tubuhnya sakit, berfikir bahwa orang-orang sedang melihat kearah kita, khawatir akan kehilangan kendali hingga menimbulkan hal yang memalukan diri sendiri, dan berfikir untuk melarikan diri ke tempat yang dirasa aman (Dixon, 2011).
Tingkah laku saat gejala cemas muncul biasanya seperti meminta ijin untuk pergi keluar dan melakukan sesuatu, terburu-buru untuk melarikan diri dari suatu tempat atau situasi yang membuat kita merasa cemas, khawatir berlebihan, menghindari sesuatu, obsesif dan kompulsif (fikiran yang tidak terkendali dan usaha untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan kecemasannya), berjalan menghindari keramaian dan mencari sesuatu untuk diminum atau mengkonsumsi obat sebelum melakukan sesuatu yang akan menimbulkan stress (Dixon, 2011).
2.2. Remaja Putri
2.2.1. Definisi dan Epidemiologi
Menurut World Health Organization (WHO) masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang berlangsung antara usia 10-19 tahun. Masa remaja terdiri pada masa remaja awal (dengan kisaran umur 10-14 tahun) dan masa remaja (14-17 tahun) (Indarjo, 2009).
Data dari WHO pada tahun 2009 menunjukkan jika jumlah remaja di dunia ini saat ini mencapai ± 1,2 milyar dan satu dari lima orang di dunia ini adalah remaja. Di Asia Tenggara, jumlah remaja mencapai ± 18% - 25 % dari seluruh populasi di daerah tersebut.Sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang.
Data demografi di Amerika Serikat menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun adalah 15 % dari populasi. Di Asia Pasifik dimana penduduknya merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10 - 19 tahun.
Jumlah remaja di Indonesia menurut Sensus Penduduk pada tahun 2010 sebanyak 43,5 juta atau sekitar 18% dari jumlah penduduk (Tandirerung, 2014).
Masa remaja merupakan sebuah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif (Tandirerung, 2014).
Banyak terjadi perubahan pada masa remaja, diantaranya adalah perubahan biologis, psikologis maupun sosial. Anak remaja tidak dapat dikatagorikan sebagai anak-anak lagi, tetapi belum dapat dianggap sebagai orang dewasa. Sayangnya, proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari pematangan kejiwaan atau psikososial dari anak itu sendiri (Indarjo, 2009). Perubahan fisik pada remaja sangat penting karena perubahan fisik akan terjadi pada saat seorang remaja mengalami masa dimana remaja mulai tumbuh dengan lebih cepat atau lambat dan mengalami perubahan-perubahan pada bentuk tubuhnya (Tandirerung, 2014).
10
2.2.2 Perubahan-perubahan pada Fase Pubertas
Pubertas biasa diartikan sebagai awal kehidupan seks dewasa, sedangkan menarche merupakan permulaan siklus menstruasi. Periode pubertas terjadi
karena peningkatan berangsur-angsur sekresi hormon gonadotropin oleh hipofisis, dimulai pada sekitar tahun kedelapan kehidupan, dan biasanya mencapai puncak pada awal pubertas dan menstruasi, yaitu antara usia 11 dan 16 tahun pada anak perempuan (rata-rata usia 13 tahun) (Guyton & Hall, 2014).
Seperti halnya pada laki-laki, kelenjar hipofisis dan ovarium infantile mampu menjalankan fungsi penuh apabila dirangsang secara tepat. Tetapi karena alasan yang masih belum diketahui, hypothalamus tidak mensekresikan jumlah Gonadotropin-releasing Hormone (GnRH) yang bermakna selama masa kanak-
kanak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hypothalamus mampu mensekresikan hormone GnRH, tetapi tidak ada signal yang tepat dari beberapa daerah otak yang lain yang menyebabkan terjadinya sekresi. Oleh karena itu, kini diyakini bahwa timbulnya pubertas di rangsang oleh berbagai proses pematangan yang berangsur di tempat lain di otak, kemungkinan di suatu tempat pada sistem limbik (Guyton & Hall, 2014).
Pada masa pubertas, banyak yang perubahan yang ditemukan pada remaja putri. Diantaranya perubahan fisik, perubahan pola perilaku, masa transisi dan masalah-masalah yang para remaja alami (Yani, 2010).
Perubahan Fisik
Pubertas pada anak perempuan akan muncul pada umur 10 sampai 16 tahun. Salah satu tanda yang khas pada remaja adalah terjadinya pubertas. Hal ini mengakibatkan perubahan sikap dan tingkah laku seperti mulai memperhatikan penampilan diri, mulai tertarik dengan lawan jenis, berusaha menarik perhatian dan muncul perasaan cinta yang kemudian akan timbul dorongan seksual. Karena pada masa remaja cenderung memiliki tingkat seksual yang tinggi sehubungan dengan mulai matangnya hormon seksual dan organ-organ reproduksi (Yani, 2010).
Dari perubahan fisik pada perempuan yang pertama kali muncul adalah membesarnya payudara atau tumbuhnya rambut kemaluan. Selanjutnya, tumbuhnya rambut di ketiak. Seiring dengan perubahan ini, tubuh perempuan bertambah tinggi, pinggul berkembang menjadi lebih lebar dibandingkan tubuhnya. Menstruasi pertama (menarche) terjadi di akhir siklus pubertas.
Awalnya, siklus menstruasi berlangsung sangat tidak teratur dan selama beberapa tahun pertama, remaja perempuan mungkin tidak mengalami ovulasi di setiap siklus. Dalam beberapa kasus, remaja perempuan belum subur sampai dua tahun setelah periode dimulai. Pada masa pubertas terjadi suatu pertumbuhan fisik yang cepat disertai banyak perubahan, termasuk di dalamnya pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) sehingga tercapai kematangan yang ditunjukkan dengan kemampuan melaksanakan fungsi reproduksi. Perubahan yang terjadi pada pertumbuhan tersebut dikuti munculnya tanda-tanda sebagai berikut (Yani, 2010).
12
1. Tanda-tanda Seks Primer pada Wanita
Semua organ reproduksi wanita berkembang selama masa puber. Tetapi tingkat kecepatan antara organ satu dan lainnya berbeda. Sebagai tanda kematangan organ reproduksi pada perempuan adalah datangnya haid. Ini adalah permulaan dari serangkaian pengeluaran darah, lendir dan jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala, yang akan terjadi kira-kira setiap 28 hari. Hal ini berlangsung terus sampai menjelang masa menopause (Christina, 2014).
2. Tanda-tanda Seks Sekunder pada Wanita
Tumbuhnya rambut-rambut pada bagian ketiak, kulit wajah, dan pada kemaluan. Pinggul pun menjadi berkembang, membesar dan membulat. Hal ini sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak di bawah kulit. Pembesaran payudara juga terjadi pada remaja putri, hal ini terjadi sesuai pula dengan berkembang dan makin besarnya kelenjar susu sehingga payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat (Christina, 2014).
Kulit remaja putri, seperti halnya laki-laki juga menjadi lebih kasar, lebih tebal, pori-pori membesar. Akan tetapi berbeda dengan laki-laki kulit pada wanita tetap lebih lembut. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat pun menjadi lebih aktif, sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat (Christina, 2014).
Disamping itu terjadi juga pembesaran otot yang mengakibatkan terbentuknya bahu, lengan dan tungkai kaki terjadi menjelang akhir pubertas.
Remaja putri juga akan mengalami perubahan suara dimana suaranya akan berubah semakin merdu, akan tetapi suara serak jarang terjadi pada wanita (Christina, 2014).
Perubahan Perilaku
Akibat dari perubahan masa puber pada para remaja adalah ingin menyendiri, bosan (akan kegiatan sehari-hari yang biasa ia lakukan), inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi yang tinggi, hilangnya kepercayaan diri, terlalu sederhana (Christina, 2014).
Masa Transisi
Pada usia remaja, terdapat masa transisi yang akan dialami. Masa transisi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Transisi Fisik yang Berkaitan dengan Perubahan Bentuk Tubuh
Bentuk tubuh remaja sudah berbeda dengan anak-anak, tetapi belum sepenuhnya menampilkan bentuk tubuh orang dewasa. Hal ini menyebabkan kebinggungan peran, didukung pula dengan sikap masyarakat yang kurang konsisten.
2. Transisi dalam Kehidupan Emosi
Perubahan hormonal dalam tubuh remaja berhubungan erat dengan peningkatan hubungan emosi. Remaja sering memperlihatkan ketidakstabilan emosi. Remaja tampak sering gelisah, cepat tersinggung, melamun, dan sedih, tetapi di lain sisi akan gembira, tertawa ataupun marah-marah.
3. Transisi dalam Kehidupan Sosial
Lingkungan sosial anak semakin bergeser ke luar dari keluarga, di mana lingkungan teman sebaya mulai memegang peranan penting. Pergeseran ikatan pada teman sebaya merupakan upaya remaja untuk mandiri (melepaskan ikatan dengan keluarga).
14
4. Transisi dalam Nilai-nilai Moral
Remaja mulai meninggalkan nilai-nilai yang dianutnya dan menuju nilai- nilai yang dianut orang dewasa. Saat ini remaja mulai meragukan nilainilai yang diterima pada waktu anak-anak dan mulai mencari nilai sendiri.
5. Transisi dalam Pemahaman
Remaja mengalami perkembangan kognitif yang pesat sehingga mulai mengembangkan kemampuan berpikir abstrak (Christina, 2014).
Masalah yang Dihadapi
Masalah umum yang dialami remaja berkaitan dengan tumbuh kembang dari remaja putri antara lain : masalah yang berkaitan dengan lingkungan rumahnya (seperti relasi dengan anggota, keluarga, disiplin, dan pertentangan dengan orangtua), masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan sekolah, kondisi fisik dan penampilan, emosi (temperamen yang meledak-ledak, suasana hati berubah-ubah), penyesuaian sosial (minder, sulit bergaul, pacaran, penerimaan oleh teman sebaya, peran pemimpin), masalah pekerjaan (tugas rumah), nilai-nilai (moral, penyalahgunaan obat-obatan, dan hubungan seksual), masalah yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis (seperti putus pacar, proses pacaran, dan lain-lain) (Christina, 2014).
2.3. Gangguan Cemas pada Remaja Putri
Perkembangan perilaku remaja pada masa pubertas ditandai dengan perubahan perubahan akibat pubertas yaitu :
1. Perkembangan Perilaku Pengetahuan Remaja
Perkembangan pengetahuan remaja, merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan pengetahuan. Pada periode ini, para remaja sudah memiliki pemikiran dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang nyata dan tidak nyata. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak cara pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasil yang diperoleh. Para remaja bukan hanya menerima informasi apa adanya, akan tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengubahnya dengan pemikiran mereka sendiri. Para remaja juga mampu menggabungkan pengalaman masa lalu dan pangalaman sekarang untuk mengubahnya menjadi pendapat (Christina, 2014).
2. Perkembangan Perilaku Sosioemosional Remaja
Perubahan suasana hati para remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Akibat dari perubahan masa puber pada para remaja adalah ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi yang tinggi, hilangnya kepercayaan diri dan terlalu sederhana (Christina, 2014).
Saat perubahan pada masa puber mulai terjadi, remaja biasanya menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga dan seringnya bertengkar pada teman-teman dan pada anggota keluarga. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya ataupun identitas diri. Disamping itu, remaja yang sedang mengalami pubertas akan merasa bosan dengan rutinitas yang sebelumnya sangat
16
digemari seperti permainan, tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial dan kehidupan pada umumnya. Remaja menjadi terbiasa untuk tidak mau berprestasi karena sering timbul perasaan akan keadaan fisik yang tidak normal (Christina, 2014).
Ciri-ciri dari bagian awal puber adalah munculnya reaksi murung, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis karena pengaruh yang sangat kecil. Pada masa ini remaja merasa khawatir, gelisah, dan cepat marah. Sedih, mudah marah, dan suasana hati yang negatif sangat sering terjadi selama masa pramenstruasi dan awal periode menstruasi. Dengan semakin matangnya keadaan fisik remaja, ketegangan lambat laun akan berkurang dan remaja sudah mulai mampu mengendalikan emosinya (Christina, 2014).
Kurangnya rasa percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik yang menurun dan karena adanya pengaruh yang negatif datang dari orangtua maupun dari teman-temannya. Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan remaja menjadi sangat sederhana dalam segala penampilannya karena takut orang lain akan memperhatikan perubahan yang dialaminya dan akan memberi komentar yang buruk (Christina, 2014).
Faktor-faktor tersebut mempengaruhi remaja putri sehingga membuatnya cenderung mengalami gangguan psikologis atau gangguan mood, gangguan mood yang paling sering dialami oleh remaja putri yang sedang dalam masa pubertas adalah gangguan cemas. Tidak jarang remaja putri mengalami gangguan cemas karena tidak teratasinya masalah-masalah yang ia alami saat masa pubertas (Christina, 2014).
Faktor yang dapat menjadi pencetus seseorang merasa cemas dapat berasal dari diri sendiri (faktor internal) maupun dari luar dirinya (faktor eksternal).
Namun demikian pencetus ansietas dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu : ancaman terhadap integritas diri, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari guna pemenuhan terhadap kebutuhan dasarnya dan ancaman terhadap sistem diri yaitu adanya sesuatu yang dapat mengancam terhadap identitas diri, harga diri, kehilangan status/peran diri, dan hubungan interpersonal (Christina, 2014).
Perilaku remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, disatu sisi remaja mempunyai keinginan kuat untuk mengadakan interaksi sosial dalam upaya mendapatkan kepercayaan dari lingkungan, di sisi lain ia mulai memikirkan kehidupan secara mandiri, terlepas dari pengawasan orang tua dan sekolah. Salah satu bagian perkembangan masa remaja yang tersulit adalah penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan interpersonal yang awalnya belum pernah ada, juga harus menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Tandirerung, 2014).
Secara psikologis kecemasan tersebut merupakan perkembangan- perkembangan negatif berbagai masalah sebelumnya yang semakin menguat yang diakibatkan oleh tiga hal, yaitu : kurangnya pengetahuan sehingga kurang mampu menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan serta tidak mampu menerima apa yang dialaminya, kurangnya dukungan dari orangtua, teman sebaya atau lingkungan masyarakat sekitar dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan tekanan yang ada (Christina, 2014).
18
Selain itu, ciri khas dari remaja putri saat mengalami pubertas adalah menarche, atau biasa disebut dengan menstruasi pertama kalinya. Gejala-gejala
fisik yang umum terjadi selama remaja putri mengalami menstruasi yaitu : adanya perubahan berat badan, pembekakan pada bagian-bagian tubuh tertentu, ketidaknyamanan karena nyeri dan pembesaran pada payudara, sakit kepala atau migraine, nyeri dan pegal-pegal pada otot, disminore, perubahan nafsu makan,
perubahan kondisi kulit seperti jerawat atau bisul, perubahan tidur, mual-mual dan kejang akibat dinding-dinding otot uterus yang perlahan-lahan mengerut (Junita, 2013).
Di sisi lain, menarche membawa dampak tersendiri bagi perubahan mood atau psikologis remaja. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh faktor hormonal dan situasional misalnya saat datang haid, wanita cenderung menjadi pemarah, mudah tersinggung, atau cepat lelah. Dampak lain yang sering muncul adalah cemas. Rasa cemas yang muncul bisa jadi disebabkan oleh ketidaknyamanan yang dirasakan oleh remaja putri pada saat ia mengalami menstruasi karena perubahan fisik disamping terjadinya perubahan pada faktor hormonal (Junita, 2013).
Biasanya kecemasan muncul sebagai reaksi normal terhadap suatu yang menekan, dan karena itu berlangsung sebentar. Kecemasan bisa berpengaruh buruk pada remaja putri jika frekuensi timbulnya sering kali. Kecemasan dapat timbul dengan sendirinya atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi. Kecemasan suatu keadaan emosional yang ditandai oleh rangsangan fisiologis, perasaan-perasaan tegang yang tidak menyenangkan, perasaan ketakutan, persangkaan (firasat) serta perasaan ngeri terhadap masa depan (Christina, 2014).
Dampak tersebut dapat mencakup keadaan fisik maupun psikis dari segi fisik akan berpengaruh pada penurunan kondisi kesehatan secara umum, meliputi gangguan denyut jantung, peredaran darah, gangguan pernafasan, sistem daya tahan tubuh, sistem metabolisme dan seterusnya (Christina, 2014).
Sedangkan dari segi psikis dapat memunculkan gejala-gejala tingkah laku, seperti adanya kecenderungan menarik diri dari kehidupan sosial, berhalusinasi, berfantasi, menutup diri, pesimis, merasa tidak bahagia, cemas, depresi, merasa tidak dicintai, stress, kesulitan berkonsentrasi, agresif dan bertemperamen panas (Christina, 2014).
20 BAB III
KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN
3.1. Kerangka Berpikir
Berdasarkan uraian latar belakang, rumusan masalah, dan kajian pustaka maka dapat dirumuskan kerangka berpikir sebagai berikut.
Gangguan cemas merupakan prevalensi tertinggi dari gangguan kejiwaan.
Kebanyakan gangguan cemas pertama kali muncul saat masa kanak-kanak dan remaja. Secara keseluruhan, prevalensi dari gangguan kecemasan adalah 24.9%.
Hasil dari salah satu studi menunjukkan pada 10 remaja yang sudah mengalami pubertas didapatkan 8 remaja mengatakan cemas saat mengalami pubertas.
Pada remaja putri awal pubertas dan menstruasi, yaitu antara usia 11 dan 16 tahun pada anak perempuan (rata-rata usia 13 tahun). Pada masa pubertas, banyak yang perubahan yang ditemukan pada remaja putri. Diantaranya perubahan fisik, perubahan pola perilaku, masa transisi dan masalah-masalah yang para remaja alami.
Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan remaja putri cenderung mengalami gangguan psikologis atau gangguan suasana hati, dimana gangguan suasana hati yang paling sering dialami remaja putri adalah gangguan cemas.
3.2. Kerangka Konsep
Gambar 3.2.1 Skema Kerangka Konsep Perubahan Fisik
Perubahan Perilaku
Masa Transisi
Masalah yang Dialami
Ganggguan Cemas Remaja Putri
22 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Rancangan Penelitian
4.1.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Variabel diukur dalam waktu yang bersamaan saat penelitian berlangsung. Penelitian menggunakan data primer untuk mengetahui prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMPN 1 Denpasar pada tahun 2016. Penelitian ini merupakan non eksperimental karena tidak dilakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian serta hanya melakukan pengambilan data dalam satu waktu.
4.1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian akan di lakukan di SMP Negeri 1 Denpasar yang berlokasi Jalan Surapati. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli 2016.
4.2. Subjek dan Sampel
4.2.1 Subjek Penelitian
a. Populasi target penelitian ini adalah remaja putri.
b. Populasi terjangkau adalah remaja putri di SMP N 1 Denpasar tahun 2016.
c. Sampel dari penelitian ini adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi yang telah ditetapkan.
4.2.2 Kriteria Subjek
4.2.2.1 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1. Kriteria Inklusi
Siswi SMP Negeri 1 Denpasar
Telah menandatangani inform concent dan bersedia menjadi responden
Hadir saat penelitian berlangsung
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah adanya penyakit yang dapat menimbulkan gejala gangguan cemas.
4.2.3 Besaran Sampel
n : Besarnya sampel untuk tiap kelompok α : Tingkat kemaknaan (α ditetapkan 0,05%) Zα : 1,96
p : Proporsi penelitian = 50% (0,5) q : 100% - 50% = 50% (0,5)
24
d : Tingkat ketepatan absolut. Pada penelitian ini digunakan tingkat ketepatan absolut 10%
=
n = 96,04 dibulatkan menjadi 100.
Dengan penghitungan rumus tersebut didapatkan jumlah sampel minimal adalah 100 orang.
4.2.4 Teknik Penentuan Sampel
Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik Random Cluster, dimana subjek sudah berbentuk kelompok dan pemilihan sampel dengan memilih kelompok secara acak.
4.3. Variabel
4.3.1 Identifikasi Variabel
Variabel penelitian dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
(1) Gangguan Cemas (2) Remaja Putri
4.3.2 Definisi Operasional Variabel (1) Gangguan Cemas
Gejala cemas diukur melalui pertanyaan pada kuisioner GAD 7. Kuisioner GAD 7 sendiri memiliki sensitivitas 89% dan spesifisitas 82%. Pertanyaan akan dijawab oleh responden pada instrumen kuesioner. Cara pengukurannya dengan menggunakan kuesioner GAD 7 yang terdiri atas 7 pertanyaan yaitu apakah selama 2 minggu ini, anda terganggu oleh masalah-masalah berikut:
a. Merasa gelisah, cemas atau amat tegang
b. Tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa khawatir c. Terlalu mengkhawatirkan berbagai hal
d. Sulit untuk santai
e. Sangat gelisah sehingga sulit untuk duduk diam f. Menjadi mudah jengkel atau lekas marah
g. Merasa takut seolah-olah sesuatu yang mengerikan mungkin terjadi
Responden akan menjawab pertanyaan ini dengan pilihan “tidak pernah”,
“beberapa hari”, “lebih dari separuh waktu yang dimaksud”, dan “hampir setiap hari” dimana skornya untuk masing-masing pertanyaan adalah 0-3 sehingga rentang skornya adalah dari 0 sampai 21. Interpretasinya adalah jika skornya 8 atau lebih maka responden kemungkinan memiliki gangguan cemas yang dapat dikonfirmasi kembali dengan evaluasi lebih lanjut. Selain itu, berdasarkan tingkat kecemasan, jika skornya 0-5, orang tersebut memiliki kecemasan mild, skor 6-10
26
untuk kecemasan moderate, skor 11-15 untuk kecemasan moderately severe dan skor 15 ke atas untuk kecemasan severe.
(2) Remaja Putri
Menurut WHO, masa remaja terdiri dari masa remaja awal dan masa remaja akhir. Peneliti tertarik untuk meneliti tentang usia remaja awal yaitu pada usia 10-14 tahun. Remaja dengan usia 10-14 tahun biasa di temukan pada bangku sekolah, yaitu tingkat SMP.
4.4. Bahan dan Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner yang diambil berdasarkan kuesioner GAD 7.
4.5. Protokol Penelitian
Gambar 4.5.1. Langkah Penelitian
Persiapan Sebelum Penelitian
Populasi Target
Populasi Terjangkau
Sampel
Pemberian Kuisioner
Analisis Data
Sebelum melakukan penelitin akan dilakukan diajukan permohonan surat izin untuk meminta persetujuan pikak sekolah untuk menjadikan siswi-siswinya sebagai subjek penelitian
Saat penelitian subjek penelitian diberikan penjelasan latar belakang dan tujuan dari penelitian. Setelah subjek menyetujui lembar persetujuan responden, subjek akan diberikan kuisioner. Setelah menyelesaikan kuisioner, akan diakukan interpretasi pada subjek.
4.6 Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan software komputer. Semua data yang diperoleh pertama kali akan dimasukkan dalam Excel dan ditransfer pada program SPSS (sebuah program statistik) untuk dianalisis.
Analisis data dalam penelitian ini adalah dari analisis univariat. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian yang menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel.
28 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1 Karakteristik Dasar Sosiodemografi
SMPN 1 Denpasar merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama negeri di Denpasar. Sekolah ini terletak di Jalan Surapati Denpasar yang merupakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sehingga sistem pembelajarannya pun lebih maju dan modern. SMPN 1 Denpasar telah banyak melahirkan siswa-siswa berprestasi dan telah banyak pula menjuarai berbagai macam perlombaan baik di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun di tingkat internasional. Hingga saat ini SMPN 1 Denpasar merupakan sekolah terfavorit di Bali. Pada tahun 2015, sekolah ini menjadi peraih Nilai Ujian Nasional (NUN) tertinggi di Provinsi Bali.
Tabel 5.1 Distribusi, Rerata, Standar Deviasi dan Proporsi Karakteristik Dasar Sosiodemografi Remaja Putri di SMP Negeri 1 Denpasar
Variabel Frekuensi
(N=100)
Rerata, SD atau proporsi (%)
Usia 12,91 (±0,866)
11 tahun 1 1%
12 tahun 39 39%
13 tahun 28 28%
14 tahun 32 32%
Kelas
VII 34 34%
VIII 31 31%
IX 35 35%
Tingkat Kecemasan
Mild 69 69%
Moderate 26 26%
Moderately Severe 4 4%
Severe 1 1%
Dari tabel diatas, dapat dilihat distribusi frekuensi dan proporsi dari karakteristik dasar sosiodemografi dari remaja putri berdasarkan usia dan kelas. Dimana usia responden berkisar antara usia 11 tahun sampai usia 14 tahun. Sedangkan distribusi kelas responden terbagi ke dalam tiga kelas yaitu kelas VII, VIII dan IX.
Rerata usia sampel adalah 12,91 (±0,866). Dimana terdapat 1 orang (1%) responden yang berusia 11 tahun, 39 orang (39%) berusia 12 tahun, 28 orang (28%) yang berusia 13 tahun dan yang berusia 14 tahun berjumlah 32 orang (32%).
30
Responden terbanyak adalah yang duduk di kelas IX dengan jumlah frekuensi 35 orang (35%). Responden yang duduk di bangku kelas VII berjumlah 34 orang (34%) dari jumlah keseluruhan. Sisanya duduk di bangku kelas VIII dengan jumlah 31 orang (31%).
Dari tabel 5.1 dapat kita lihat bahwa proporsi tingkat kecemasan tertinggi terdapat pada tingkat mild yaitu sebesar 69%, pada moderate sebesar 26%, pada tingkat moderately severe sebesar 4% dan jumlah subyek dengan gangguan cemas yang terendah dengan proporsi 1% adalah pada tingkat severe.
5.1.2 Prevalensi Gangguan Cemas Pada Remaja Putri Tabel 5.2 Prevalensi Gangguan Cemas pada Remaja Putri
Dari Tabel 5.2 terlihat bahwa sebesar 78% (78 orang) remaja putri di SMPN 1 Denpasar tidak mengalami gangguan cemas, sedangkan 22%
(22 orang) mengalami gangguan cemas. Dimana sebagian besar siswi di SMP 1 Denpasar tidak mengalami gangguan cemas.
Gangguan Cemas Frekuensi
(n=100)
Proporsi (%)
Cemas 22 22%
Tidak Cemas 78 78%
5.1.3 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Usia
Tabel 5.3 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Usia
Umur Interpretasi Total P
Cemas Tidak cemas f(%)
11 1 (100%) 0 (0%) 1 (100%)
12 9 (23,07%) 30 (76,93%) 39 (100%)
13 4 (14,28%) 24 (85,72%) 28 (100%) 0,194
14 8 (25%) 24 (75%) 32 (100%)
Total 22 78 100 (100%)
Dari tabel 5.3 terlihat bahwa siswi yang memiliki gangguan cemas pada usia 11 tahun sebanyak 1 orang (100%) dan tidak ada atau 0 siswi (0%) yang tidak memiliki gangguan cemas. Pada siswi yang berusia 12 tahun terdapat 9 orang (23,07%) yang memiliki gangguan cemas, sedangkan 30 orang (76,93%) siswi tidak memiliki gangguan cemas. Pada kelompok siswi yang berusia 13 tahun, 4 orang (14,28%) memiliki gangguan cemas dan 24 orang (85,72%) orang lainnya tidak memiliki gangguan cemas. Terdapat 8 orang (25%) siswi yang berusia 14 tahun yang memiliki gangguan cemas dan 24 orang (75%) siswi tanpa gangguan cemas. Dari hasil olah data dengan program SPSS ditemukan nilai chi- square sebesar 0,194.
32
5.1.4 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Kelas Tabel 5.4 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Kelas
Kelas Interpretasi Total P
Cemas Tidak cemas f(%) VII 7 (20,58%) 27 (79,42%) 34 (100%)
VIII 6 (19,35%) 25 (80,65%) 31 (100%) 0,8 IX 9 (25,71%) 26 (74,29%) 32 (100%)
Total 22 78 100 (100%)
Dari Tabel 5.4 terlihat bahwa berdasarkan kelas, kelompok kelas VII yang memiliki gejala cemas sebanyak 7 subyek (20,58%), sedangkan yang dengan yang tidak dengan gejala gangguan cemas sebanyak 27 orang (79,42%). Pada kelompok kelas VIII, subyek yang dengan cemas sebanyak 6 orang (19,35%) dan yang tanpa gangguan cemas sebanyak 25 orang (80,65%). Dan pada kelas IX, yang tidak cemas 26 orang (74,29%) dan yang cemas sebanyak 9 (25,71%) orang yang menjadikan kelas IX kelompok dengan jumlah siswi yang memiliki gangguan cemas tertinggi.
Dari hasil olah data dengan program SPSS ditemukan nilai chi-square sebesar 0,8.
5.2 Pembahasan
5.2.1 Prevalensi Gangguan Cemas pada Remaja Putri Berdasarkan Skor GAD 7
Karakteristik dasar sosiodemografi dari siswi SMP Negeri 1 Denpasar adalah usia dan tingkatan kelas. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan subyek penelitian yang merupakan wanita muda atau yang kerap disebut remaja putri. Pemilihan remaja putri sebagai subyek pada
penelitian ini ditunjang dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Uran pada tahun 2016 yang menyatakan adanya perbedaan signifikan pada jenis kelamin dengan pengaruhnya terhadap kecenderungan mengalami gangguan cemas. Ditemukan data yang menunjukkan jika remaja putri memang lebih rentan terkena gangguan kejiwaan, khususnya gangguan cemas yang diakibatkan oleh perbedaan tingkat stress yang didapat oleh remaja putri dan remaja putra. Sekresi hormone kortisol erat kaitanya dengan usia, pubertas dan jenis kelamin (Uran, 2016).
Pada penelitian ini, peneliti menemukan hasil prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar sebesar 22%. Dimana, angka ini terbilang cukup tinggi. Tetapi hasil dari penelitian ini berbeda dengan penelitian Juariah yang meneliti tentang prevalensi gangguan cemas pada remaja kelas VII dan VIII yang sudah mengalami pubertas, dimana hanya terdapat 1,2% sampel yang mengalami gangguan cemas, dan prevalensi gangguan cemas dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Juariah ini terbilang rendah (Juariah, 2009).
Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah kuisioner GAD 7. Dimana kuisioner GAD 7 ini memiliki total skor tertinggi sebesar 21 poin dengan cut-off point pada skor 8. Dengan hasil skor 8 keatas, sample dinyatakan memiliki gejala yang cukup untuk dinyatakan memiliki gangguan cemas. Sementara interpretasi GAD 7 juga dibagi dalam beberapa tingkatan kecemasan. Jika skornya 0-5, orang tersebut memiliki kecemasan mild, skor 6-10 untuk kecemasan moderate, skor 11-15 untuk kecemasan moderately severe dan skor 15 ke atas untuk kecemasan severe.
34
Dengan tetapan interpretasi GAD 7 tersebut, penelitian ini mendapatkan proporsi sebesar 69% pada tingkat mild, 26% pada tingkat moderate, 4% pada tingkat moderately severe dan 1% pada tingkar severe.
Hasil ini menunjukkan jika lebih dari setengah sampel ada pada tingkat kecemasan mild.
5.2.2 Gambaran Kejadian Cemas Berdasarkan Karakteristik Demografi Subyek penelitian ini berasal dari siswi SMP Negeri 1 Denpasar yang terdiri dari kelas VII, VIII, dan VIII. Subyek pun terbagi dalam beberapa golongan usia yang terdiri dari usia 11, 12, 13 dan 14 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Uran menunjukkan bahwa remaja putri lebih cenderung dirujuk ke klinik psikiatris dengan berbagai keluhan.
Kebanyakan remaja putri datang dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan cemas. Pada studi yang dilakukan oleh Uran, hasil dari penelitiannya mengenai hubungan antara jenis kelamin dan usia terhadap kecemasan menunjukkan hasil signifikan pada intervensi kesehatan mental. Dimana, peningkatan emosi dan masalah perilaku sangat meningkat pada masa remaja yang dikaitkan dengan masa peralihan atau pubertas. Masa pubertas pada perempuan biasanya dimulai pada usia 9-14 tahun dimana sampel dalam penelitian ini keseluruhan masih pada masa pubertas.
a. Usia
Dari data yang di dapatkan dari penelitian ini, peneliti mendapatkan variasi usia remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar yang terdiri dari usia 11, 12, 13, dan 14 dengan rata-rata usia sampel 12,9 (SD0,87). Kelompok usia 12 menjadi kelompok dengan jumlah sampel terbanyak yaitu sebesar 39 sampel dari total keseluruhan sebesar 100 sampel.
Distribusi gangguan cemas pada remaja putri berdasarkan usia menunjukkan jika pada kelompok usia 11 tahun ditemukan 1 orang siswi dengan gangguan cemas, pada usia 12 tahun terdapat 9 orang dengan gangguan cemas, pada usia 13 tahun ditemukan 4 orang dengan gangguan cemas dan 8 orang dengan gangguan cemas pada kelompok usia 14. Pada hasil yang didapatkan oleh peneliti, dapat dilihat bahwa kelompok usia 12 tahun memberikan kontribusi terbesar dalam tingginya prevalensi cemas di SMP Negeri 1 Denpasar.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Leikanger pada tahun 2011 yang mencari tahu hubungan antara usia dan jenis kelamin terhadap gangguan cemas. Dari penelitian Leikanger, jumlah sampel yang dinyatakan paling banyak mengalami gangguan cemas adalah dari usia 14 tahun. Dalam berbagai tipe gangguan kecemasan, kelompok remaja putri yang berusia 14 tahun banyak ditemukan (Leikanger, 2011).
Pada hasil uji chi-square didapatkan nilai 0,194 dimana hasil ini menyatakan bahwa variabel tingkatan kelas tidak signifikan berpengaruh
36
pada gangguan cemas sedangkan nilai yang menunjukkan pengaruh signifikan adalah <0,05.
b. Tingkatan Kelas
Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa dari 3 kelompok tingkatan kelas yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX, kelompok kelas IX memiliki jumlah presentase gangguan cemas terbesar. Terdapat 9 siswi di kelas IX yang mengalami gangguan cemas dengan presentase sebesar 25,7%. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh stressor yang berbeda dari kelompok kelas lainnya. Seperti yang kita ketahui jika Ujian Nasional akan dihadapi oleh kelas IX dan kelas IX memiliki bobot kesulitan dalam pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan tingkatan kelas lainnya.
Persiapan menjelang Ujian Nasional bagi siswi di SMP Negeri 1 Denpasar memberikan peran pada meningkatnya stressor pada remaja putri. Ditambah lagi dengan peraihan Nilai Ujian Nasional tertinggi seprovinsi Bali yang kerap diperoleh oleh siswi SMP Negeri 1 Denpasar yang menyebabkan para pelajar di sekolah tersebut harus belajar lebih giat untuk mempertahankan prestasi tersebut. Kecemasan pada siswi kelas IX dalam menghadapi Ujian Nasional mungkin juga berkenaan dengan khawatirnya siswi kelas IX akan kemungkinan tidak lulus dalam Ujian Nasional. Teori kecemasan siswi dalam Ujian Nasional juga dikuatkan dengan penelitian dari Nurlaila pada tahun 2011 yang menyatakan bahwa kecemasan siswa meningkat sejalan dengan tingkatan kelas yaitu ketika menghadapi evaluasi atau ujian, perbandingan sosial dan beberapa pengalaman kegagalan. Ketika sekolah memberikan pengalaman
kegagalan dalam evaluasi ujian, kecemasan siswa menjadi semakin meningkat. Ujian akhir sekolah atau saat ini sering disebut Ujian Akhir Nasional merupakan salah satu sumber kecemasan siswa (Nurlaila, 2011).
Selain Ujian Nasional, hal lain yang dapat menyebabkan kecemasan pada remaja putri yang duduk dikelas IX, kebingungan untuk menentukan sekolah untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) juga bisa menjadi salah satu penyebab. Faktor keluarga, lingkungan, internal, dan sosial dari remaja putri pun bisa menjadi penyebab lain bagi remaja putri untuk mengalami gangguan cemas.
Namun pada hasil uji chi-square didapatkan nilai 0,8 dimana hasil ini menyatakan bahwa variabel tingkatan kelas tidak signifikan berpengaruh pada gangguan cemas sedangkan nilai yang menunjukkan pengaruh signifikan adalah <0,05.
5.3 Keterbatasan Penelitian
Penelitian mengenai prevalensi gangguan cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar memiliki keterbatasan dalam beberapa hal, diantaranya kurangnya literatur sebelumnya yang dapat dijadikan referensi pada penelitian ini, kurangnya waktu penelitian yang disebabkan oleh padatnya jadwal pelajaran para siswi sehingga pengisian kuisioner dan kurang maksimal. Terdapat juga kemungkinan adanya sampel yang tidak jujur dalam mengisi kuisioner karena belum memahami sepenuhnya pertanyaan yang ada pada kuisioner oleh karena terbatasnya waktu yang diberikan dari pihak sekolah.
38 BAB VI
PENUTUP
6.1. Simpulan
Dari hasil penelitian terhadap remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, pada karakteristik dasar sosiodemografi didapat rerata usia yaitu 12,91 (SD0,87), responden terbanyak duduk di kelas IX. Pada tingkat kecemasan, remaja paling banyak mengalami kecemasan mild. Prevalensi gejala cemas pada remaja putri di SMP Negeri 1 Denpasar adalah sebesar 22 orang dari 100 sampel yang diambil (22%) dan dari hasil uji chi-square ditemukan bahwa variabel usia dan kelas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap gangguan cemas.
6.2. Saran
Angka prevalensi gangguan cemas pada remaja putri didapatkan cukup tinggi, terutama dikalangan remaja. Kepada guru Bimbingan Konseling (BK) diharapkan lebih bisa memberikan komunikasi, informasi dan edukasi kepada remaja putri mengenai apa itu fase peralihan yang mereka alami seperti perubahan bentuk tubuh, hormonal dan lain-lainnya. Bagi akademisi dan peneliti penelitian ini dapat dijadikan sebuah studi pendahuluan pada bidang kecemasan dan kelainan psikologi lainnya.
39
Andri & Dewi Y., 2007. Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik dan Berbagai Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan. Maj Kedokt Indon 57 (7) 234-236.
Christina, T., 2014. Hubungan Peran Teman Sebaya dengan Kecemasan Remaja Putri pada Masa Pubertas dalam Menghadapi Perubahan Fisik di SMP Swasta Betania Medan. USU Repository.
Dixon, T. 2011., Understanding Anxiety Problems. Help-For : http://help-for.com [Diakses 5 Desember 2015].
Guyton, A.C. & Hall, J.E., 2014. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Elsevier Inc. : Twelfth edition.
Indarjo, S., 2009. Kesehatan Jiwa Remaja. KEMAS, 7 (2), 48-57.
Juariah, L., 2009. Gambaran Tingkat Kecemasan Remaja Kelas VII dan VIII yang Mengalami Pubertas di SMP Budi Luhur – Cimahi. Jurnal Kesehatan Kartika.
Junita,, 2013. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan dan Tingkat Kecemasan Remaja Putri saat Mengalami Menarche di SMP Negeri 10 Medan Tahun 2013. Usu Repository.
Lee, A. & Hankin, B.L., 2009. Insecure Attachment, Dysfunctional Attitudes, and Low Self-Esteem Predicting Prospective Symptoms of Depression and Anxiety During Adolescence. Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology, 38 (2), 219–231.
Leikanger, Einar, et al., Sex and Age-related Anxiety in A Community Sample of Norwegian Adolescents. Sacdinavian Journal of Psychology, 53, 150-157.
Uran, Pinar & Sertcelik, Mehmet., Evaluation of Child and Adolescent Psychiatry Consultation in A Tertiary University Hospital. The Europan Research Journal, 2-3.
Nurlaila, Siti,. Pelatihan Efikasi Diri untuk Menurunkan Kecemasan pada Siswa- Siswi yang Akan Menghadapi Ujian Akhir Nasional. GUIDENA 1 (1), 2- 3.
Rapee R.M., 2012. Anxiety disorders in children and adolescents: Nature, development, treatment and prevention. IACAPAP e-Textbook of Child and Adolescent Mental Health : http://iacapap.org [Diakses 29 Oktober 2015].
40
Suryani, L. & Syahniar, Z., 2013. Penyesuaian Diri pada Masa Pubertas.
KONSELOR Jurnal Ilmiah Konseling, 2 (1), 136 – 140.
Tandirerung, L.H. & Aminah H.S. 2014. Tingkat Kecemasan Remaja karena Perubahan Fisik pada Usia 13-15 Tahun. Journal of Pediatric Nursing 1 (2), 105-108.
Yani, Widyastuti (2010). Kesehatan Reproduksi. Edisi 3. Yogyakarta : Fitramaya.
41
LAMPIRAN Lampiran 1
JADWAL KEGIATAN
No Kegiatan
Bulan
X XI XII
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Persiapan Proposal
2 Refleksi awal -Diskusi alternatif -Mencari Sampel -Merancang Penelitian 3 Pelaksanaan
4 Penyusunan draft laporan 5 Penyelesaian laporan dan
analisis
42
Lampiran 2
FORMULIR BIODATA SUBJEK (Diisi oleh responden)
Identitas Pribadi
Nama :
Tempat, tanggal lahir : Alamat Rumah :
Usia :
Kelas :
Riwayat Penyakit : Jumlah Saudara :
Lampiran 3
LEMBAR KUESIONER
Nama : Umur : Tanggal lahir :
Petunjuk Pengisian
Kuesioner ini terdiri dari berbagai pernyataan yang mungkin sesuai dengan pengalaman dalam hidup anda sehari-hari. Terdapat empat pilihan jawaban yang disediakan untuk setiap pernyataan.
Selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab dengan cara memberi tanda silang (X) pada setiap nomor yang paling sesuai dengan pengalaman Anda selama 2 minggu terakhir. Tidak ada jawaban yang benar ataupun salah, karena itu isilah sesuai dengan keadaan diri Anda yang sesungguhnya, yaitu berdasarkan jawaban pertama yang terlintas dalam pikiran Anda sendiri.
( Pilihlah salah satu penyataan yang anda anggap sesuai dengan diri anda saat ini, dengan memberi tanda silang (x) pada huruf di depan penyataan yang anda pilih )