• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori dan rumusan masalah penelitian serta tinjauan terhadap beberapa penelitian terkait, peneliti mengidentifikasi lima variabel independen yakni Partisipasi Penyusunan Anggaran (X1), Kejelasan Sasaran Anggaran (X2), Kualitas Sumber Daya Manusia (X3), Komitmen Organisasi (X4), dan Komunikasi (X5) yang diperkirakan mempengaruhi Kinerja Manajeral SKPD baik secara parsial maupun secara simultan, serta menguji Motivasi Kerja (Z) sebagai variabel moderating yang diperkirakan mempengaruhi hubungan antara Partisipasi Penyusunan Anggaran (X1), Kejelasan Sasaran Anggaran (X2), Kualitas Sumber Daya Manusia (X3), Komitmen Organisasi (X4), dan Komunikasi (X5) dengan Kinerja Manajerial SKPD (Y). Variabel penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat melalui diagram kerangka konseptual pada gambar 3.1 berikut ini:

Variabel Independen Variabel

Moderating

Variabel Dependen

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Partisipasi Penyusunan Anggaran

(X1)

Kejelasan Sasaran Anggaran (X2) Kualitas Sumber Daya Manusia (X3)

Motivasi Kerja (Z) Komitmen Organisasi (X4)

Komunikasi (X5)

Kinerja Manajerial SKPD (Y)

a. Hubungan Partisipasi Penyusunan Anggaran dengan Kinerja Manajerial SKPD.

Menurut Chong (2002) partisipasi anggaran adalah proses di mana pelaksana anggaran atau bawahan diberikan kesempatan untuk terlibat dan mempunyai pengaruh dalam proses penyusunan anggaran. Melibatkan para menajerial SKPD dalam sistem perencanaan berarti menghargai kebutuhan untuk sebuah lingkungan kerja yang nyaman dan ramah yang mendukung terlaksananya komunikasi yang baik karena gagasan mereka akan dihargai dan diterapkan merupakan kepuasan tersendiri (Bangun, 2009).

Dalam proses penyusunan anggaran, partisipasi manajerial SKPD sangat dibutuhkan. Semakin tinggi keikutsertaan dan keterlibatan manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam perumusan keputusan di SKPD, maka secara umum mereka akan memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keputusan yang telah dibuat. Dengan adanya tanggung jawab yang tinggi dari manajerial SKPD tersebut maka tugas pokok dan fungsi instansi diharapkan mampu memberikan hasil yang optimal.

Penelitian yang dilakukan oleh Herminingsih (2009) tentang pengaruh partisipasi dalam penganggaran dan peran managerial pengelola keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah (Studi empiris pada Pemerintah Kabupaten Demak) menunjukkan bahwa partisipasi dalam penganggaran dan peran manajerial pengelola keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah. Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa semakin tinggi partisipasi penyusunan anggaran maka semakin tinggi juga kinerja manajerial SKPD.

b. Hubungan Kejelasan Sasaran Anggaran dengan Kinerja Manajerial SKPD

Kenis, (1979) menyebutkan bahwa kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauh mana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggung-jawab atas pencapaian sasaran anggaran tersebut. Sasaran anggaran yang dinyatakan secara jelas akan memberikan reaksi yang positif berupa penurunan ketegangan kerja, efesiensi biaya, serta peningkatan kepuasan kerja pada pelaksanaan anggaran.

Penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningrum (2010) tentang pengaruh kejelasan sasaran anggaran, pengendalian akuntansi, dan sistem pelaporan terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa kejelasan sararan anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah daerah. Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa semakin baik pengetahuan tentang kejelasan sasaran anggaran maka semakin baik juga kinerja manajerial SKPD.

c. Hubungan Kualitas Sumber Daya Manusia dengan Kinerja Manajerial SKPD

Matindas (2003) menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah kesatuan tenaga manusia yang ada dalam suatu organisasi dan bukan sekedar penjumlahan karyawan-karyawan yang ada. Sumber daya manusia harus dipandang sebagai suatu sistem dimana tiap-tiap karyawan merupakan bagian yang saling berkaitan satu dengan lainnya dan bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan organisasi. Semakin baik kualitas sumber daya manusia maka akan semkin baik

Penelitian yang dilakukan oleh Maswani (2010) tentang Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia, Motivasi Kerja dan Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Aceh Tengah menunjukkan bahwa Kualitas sumber daya manusia terhadap kinerja DPKKD menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan, dimana semakin baik kualitas sumber daya manusia maka semakin mampu seseorang meningkatkan kemampuan teoritisnya atas suatu pekerjaan dan dengan sendirinya semakin baik pula kemampuan teknisnya atas pekerjaan tersebut. Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa semakin tinggi kualitas sumber daya manusia maka semakin tinggi juga kinerja manajerial SKPD.

d. Hubungan Komitmen Organisasi dengan Kinerja Manajerial SKPD Menurut Zurnali (2010), komitmen organisasi merupakan perasaan yang kuat dan erat dari seseorang terhadap tujuan dan nilai suatu organisasi dalam hubungannya dengan peran mereka terhadap upaya pencapaian tujuan dan nilai-nilai tersebut. Dengan komitmen yang kuat akan memungkinkan seseorang bisa mengeluarkan sumber daya fisik, mental dan spiritual tambahan yang bisa diperoleh, sebaliknya tanpa komitmen maka pekerjaan-pekerjaan besar akan sulit terlaksana.

Penelitian Warisno (2009) tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah Di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi menemukan bahwa kualitas sumber daya, komunikasi, motivasi, dan komitmen organisasi secara simultan berpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja SKPD. Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa semakin tinggi komitmen organisasi maka semakin tinggi pula kinerja manajerial SKPD.

e. Hubungan Komunikasi dengan Kinerja Manajerial SKPD

Herlambang (2014) mendefinisikan komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan berita atau informasi dari seseorang ke orang lain. Komunikasi merupakan hal yang penting dalam organisasi, komunikasi tidak hanya proses penyampaian informasi dan berita yang dapat dilihat, didengar, dimengeri, tetapi proses penyampaian informasi menyeluruh termasuk didalamnya perasaan dan sikap dari orang yang menyampaikan informasi tersebut. Komunikasi adalah proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok atau organisasi menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan orang lain dan lingkungan.

Penelitian yang dilakukan oleh Warisno (2008) tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi menemukan bahwa bahwa secara parsial komunikasi berpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja SKPD. Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa semakin baik komunikasi yang dilakukna dalam organisasi maka semakin tinggi juga kinerja manajerial SKPD.

f. Hubungan Motivasi Kerja dengan Kinerja Manajerial SKPD

Motivasi kerja membahas tentang bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Dengan dimilikinya motivasi yang cukup tinggi diharapkan kalangan manajerial di Satuan Kerja Perangkat Daerah mempunyai keseriusan yang cukup tinggi ketika berpartisipasi dalam pencapaian tujuan organisasi.

Penelitian yang dilakukan Rezeki (2010) tentang Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Komunikasi dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Labuhanbatu menemukan hubungan yang positif antara motivasi kerja dengan kinerja kepala dinas pada Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Labuhanbatu. Motivasi kerja berpengaruh nyata terhadap kinerja kepada dinas. Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa semakin tinggi motivasi kerja yang dimiliki oleh para pegawai maka semakin tinggi juga kinerja manajerial SKPD.

Dokumen terkait