KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Sugiyono (2013) menyebutkan bahwa kerangka konsep akan menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen dengan variabel dependen.
UKURAN PERUSAHAAN (X1)
NILAI PERUSAHAAN
(Y) RISK BASED CAPITAL
(RBC) (X3)
PERTUMBUHAN PREMI NETTO
(X4) KEBIJAKAN PENDANAAN
(X2)
LABA PERUSAHAAN (X5)
Gambar 3.1
Kerangka Konseptual
3.1.1 Hubungan Ukuran Perusahaan dengan Nilai Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Karena semakin besar perusahaan, biasanya mereka mempunyai kekuatan tersendiri dalam menghadapi masalah bisnis dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba tinggi karena didukung oleh asset yang besar, sehingga asset yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar dapat menghasilkan laba yang besar.
Sehingga dengan berlabanya perusahaan menjadikan kepercayaan orang akan melakukan investasi semakin besar, dan biasanya kaitannya kepada nilai Nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnnya. Semakin tinggi harga saham maka semakin tinggi pula nilai perusahaan tersebut. Karena biasanya laba perusahaan merupakan indikator dalam penentuan nilai perusahaan dan dengan peningkatan nilai perusahaan yang baik maka akan meyakinkan investor dalam menginvestasikan dananya dan umumnya ukuran perusahaan akan menjadi salah satu tolak ukur keyakinan investor dan juga nasabah dalam menginvestasikan dananya untuk dikembangkan dan pada umumnya perusahaan yang besar terlihat dari jumlah total asset yang dimilikinya.
3.1.2 Hubungan Kebijakan Pendanaan Dengan Nilai Perusahaan
Hubungan manajer dengan pemegang saham di dalam agency theory digambarkan sebagai hubungan antara agent dan principal. Manajer sebagai agent dan pemegang saham sebagai principal. Manajer harus mengambil keputusan bisnis terbaik untuk meningkatkan kekayaan pemegang saham. Atau dengan kata lain meningkatkan nilai perusahaan untuk para pemiliknya. Nilai perusahaan sendiri sangat ditentukan oleh kebijakan keuangan salah satunya adalah kebijakan pendanaan yang menggambarkan komposisi pembiayaan dalam struktur keuangan perusahaan. Semakin besar perusahaan akan membutuhkan modal yang semakin besar pula, yang biasanya dipenuhi manajemen dengan menggunakan sumber-sumber dana eksternal atau dengan kata lain berhutang. Bila ada pajak penghasilan perusahaan, kebijakan berhutang atau pendanaan akan menaikan nilai perusahaan karena beban bunga hutang dapat mengurangi pajak yang dibayarkan.
Hutang juga dapat digunakan untuk mengendalikan penggunakan free cash flow secara berlebihan oleh pihak manajemen, sehingga mengurangi investasi yang sia-sia, dengan demikian akan meningkatkan nilai perusahaan. Dalam komposisi tertentu, hutang akan menigkatkan produktivitas perusahaan yang secara otomatis akan meningkatkan nilai perusahaan. Tetapi jika komposisi itu menjadi berlebihan maka yang terjadi adalah penurunan nilai perusahaan. Bahkan jika jumlah hutang jangka panjang sama dengan jumlah ekuitas, maka dapat dipastikan perusahaan mengalami defisit.
3.1.3 Hubungan Risk Based Capital (RBC) Dengan Nilai Perusahaan
Risk Based Capital merupakan pengukuran Batas Tingkat Solvabilitas
yang disyaratkan dalam undang-undang dalam mengukur tingkat kesehatan keuangan sebuah perusahaan asuransi untuk memastikan pemenuhan kewajiban Asuransi dan Reasuransi dengan mengetahui besarnya kebutuhan modal perusahaan sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi perusahaan dalam mengelola kekayaan dan kewajibannya. Sehingga jikalau RBC yang telah disyaratkan OJK minimal 200%, maka regulasi ini harus dapat dipenuhi agar dana invesatasi nasabah dapat terbayar, artinya jika RBC tersebut sudah diatas 120%
yang ditetapkan pemerintah berarti kewajiban perusahaan kepada investor dapat dipenuhi tanpa adanya keragu-raguan dalam keuangan perusahaan. Kaitanyanya dengan nilai perusahaan bahwa dengan nilai RBC diatas 200% atau bahkan bisa naik menindikasi bahwa perusahaan tersebut telah baik dalam menjalankan bisnisnya dan berlaba. Hal ini mengindikasikan terhadap nilai perusahaan yang tinggi disebabkan perusahaan tersebut dapat memiliki RBC yang tinggi diatas minimal penetapan yang dipersyaratkan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69/POJK.05/2016 tentang penyelenggaraan usaha perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi dan perusahaan reasuransi syariah.
3.1.4 Hubungan Pertumbuhan Jumlah Premi Dengan Nilai Perusahaan
Pada dasarnya ujung tombak kemajuan perusahaan asuransi adalah penerimaan dari penjualan asuransi dengan banyaknya premi yang masuk ke
perusahaan asuransi, dimana dengan premi yang masuk tersebut perusahaan dapat mengelolanya di pasar bursa maupun dipasar saham. Pengelolaan yang baik terhadap premi yang masuk menjadikan perusahaan dapat mengembangkan perusahaannya ke arah yang lebih baik. Pertumbuhan premi dapat dilihat perusahaan baik dalam jangka waktu triwulan maupun priode. Premi yang masuk sejalan dengan jumlah nasabah atau pemegang polis yang ada di perusahaan tersebut. Pertumbuhan yang terjadi pada jumlah premi yang masuk dapat mengindikasi bahwa aktivitas operasional dalam penjulan asuransi dilakukan perusahan dengan baik sehingga hal ini akan berdampak pada tingginya laba perusahaan, dengan makin baiknya laba yang ada pada perusahaan maka akan berdampak pada perusahaan. Biasanya investor secara umum melihat baik tidak perusahaan dari laba atau profit yang tinggi, laba yang tinggi bersumber dari aktivitas penjualan polis dan peningkatan jumlah premi yang masuk pada perusahaan asuransi. Dengan demikian makin banyak premi yang masuk maka laba perusahaan semakin baik dan akan berdampak pada nilai perusahaan yang semakin tinggi dan sebaliknya juga jika premi yang masuk dari satu priode ke priode lainnya mengalami penurunan maka dapat di asumsikan bahwa nilai perusahaan yang tercermin pada perusahaan tersebut buruk.
.
3.1.5 Hubungan Laba Perusahaan Dengan Nilai Perusahaan
Laba perusahan merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam kaitannya menjalankan perusahaan dalam suatu priode. Indikasi yang terjadi ialah
jika laba perusahaan tersebut baik maka sudah dapat dijadikan tolak ukur bahwa aktivitas operasional perusahaan berjalan dengan semestinya dan sebaliknya. Hal ini akan berdampak baik dan berbanding lurus dengan nilai perusahaan. Dengan besarnya laba perusahaan maka nilai perusahaan akan tinggi pula dan sebaliknya jika rendahnya laba perusahaan maka nilai perusahaan dapat dikatakan buruk.
Biasanya para investor dalam menginvestasikan dananya, faktor utama yang dilihatnya adalah laba perusahaan tersebut walaupun faktor ini bukan faktor mutlak yang dilakukan investor dalam melakukan investasinya.