Gambar 2.7. Kerangka konsep penelitian Perawatan mulut dengan
menggunakan sodium bikarbonat atau NaCl 0,9%
Jenis kelamin
Hitung neutrofil absolut
Kesehatan mulut
Status gizi
Regimen kemoterapi
Mukositis oral Variabel bebas
Variabel tergantung
Variabel perancu Anak dengan keganasan
hematologi
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain penelitian
Uji klinis terbuka dengan randomisasi.
3.2 Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan di RSUP Haji Adam Malik, Medan setelah mendapat persetujuan etik. Waktu penelitian 10bulan.
3.3 Populasi dan sampel
Populasi target adalah anak yang menderita keganasan. Populasi terjangkau adalah anak dengan keganasan hematologi yang akan menjalani kemoterapi di RSUP Haji Adam Malik, Medan. Sampel adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.4 Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan consecutivesampling.
3.5 Perkiraan besar sampel
Penelitian ini menggunakan rumus besar sampel untuk penelitian analitik komparatif kategorik tidak berpasangan.53
Rumus:
𝑍𝛼√2𝑃𝑄+ 𝑍𝛽 𝑃1𝑄1 + 𝑃2𝑄2 P
1- P
2n1=n2 = Y
2
Keterangan:
n1 : jumlah subjek yang dialokasikan ke dalam kelompok sodium bikarbonat n2 : jumlah subjekyang dialokasikan ke dalam kelompok NaCl 0,9%
Zα : standar normal deviasi untuk α 5%, yaitu 1,96 Zβ : standar normal deviasi untuk β 20%, yaitu 0,842
P1 : proporsi subjek yang tidak mengalami mukositis oral pada kelompok sodium bikarbonat yangdidapatdari pustaka atau berdasarkan penelitian sebelumnya0,3.46
Q1 : 1 – P1 = 1 – 0,3 = 0,7
P1-P2 : selisih proporsi kesembuhan minimal antara kelompok sodium
bikarbonat dankelompok NaCl 0,9% yangdianggap bermakna, ditetapkan 0,2
P2 : proporsi subjek yang tidak mengalami mukositis oral pada kelompok NaCl 0,9%, yaitu P1 – (P1 – P2) = 0,3 -0,2 = 0,1
Q2 : 1 – P2 = 1 – 0,1 = 0,9
Y : intra class correlation akibat pengukuran berulang antar pengukuran, ditetapkan 0,3
Berdasarkan rumus di atas, besar sampel minimal untuk masing-masing kelompok adalah 34 orang.
3.6 Kriteria inklusi dan eksklusi 3.6.1. Kriteria inklusi
1. Anak yang baru terdiagnosis menderitakeganasan hematologiyang akan menjalani kemoterapi
2. Anak dan keluarga memahami dan mampu menerapkan protokol perawatan mulut
3.6.2 Kriteria eksklusi
1. Anak dengan mukositis oral sebelum kemoterapi dimulai 2. Anak dalam kondisi kritis dan/atau tidak sadar
3. Anak tidak dalam kondisi imunosupresi selain akibat penyakit yang diderita ataupun pengobatan terkait penyakitnya
3.7 Persetujuan penelitian
Semua subjek penelitian akan diminta persetujuan dari orang tua setelah dilakukan penjelasan terlebih dahulu.
3.8 Etika penelitian
Persetujuan penelitian akan diminta dari Komite Etik Penelitian Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.9 Cara kerja dan alur penelitian 3.9.1. Instrumen penelitian
1. Kuesioner, digunakan untuk mengumpulkan data terkait karakteristik subjek penelitian. Karakteristik subjek penelitian meliputi latar belakang pendidikan orang tua, usia, jenis kelamin, jenis kanker, status gizi, hasil
laboratorium sebelum memulai kemoterapi terutama yang terkait sistem hematologi dan regimen kemoterapi yang didapat.
2. Skala penilaian stadium mukositis oral, pada penelitian ini menggunakan WHO Oral Toxicity Scale.
3. Lembar observasi.
4. Kamera, untuk dokumentasi penelitian.
3.9.2. Persiapan alat dan bahan penelitian 3.9.2.1. Larutan sodium bikarbonat
Larutan sodium bikarbonatdibuat dengan mencampurkan 10 gram sodium bikarbonat atau 20 tablet generik sodium bikarbonat 500 mg dalam 1 liter air steril.46 Larutan kumur sodium bikarbonat dibuat sesaat sebelum subjek penelitian berkumur, oleh karena itu subjek penelitian ataupun keluarga akan diberikan kemasan obat berbahan plastikyang diberi label „B‟ yang mengandung 4 tablet sodium bikarbonat 500 mg (setara dengan 2 gram sodium bikarbonat) dalam bentuk bubuk yang harus dilarutkan terlebih dahulu dalam 200 ml air steril sesaat sebelum subjek penelitian berkumur. Campuran larutan ini digunakan untuk 1 kali berkumur.Air steril diperoleh dengan cara memasak air bersih hingga mendidih dan tetap membiarkan air tersebut mendidih selama 20 menit, setelah itu airdipindahkan kedalam wadah kaca dan didinginkan sampai mencapai suhu ruangan.
3.9.2.2. Larutan NaCl 0,9%
Larutan NaCl 0,9%dalam kemasan 500 mlyang tersedia di pasaran atau depo farmasi yang sudah siap pakai. Larutan NaCl 0,9% mengandung natrium sebanyak 154 mEq,yang jika dikonversikan dalam satuan ukuran gram akan didapatkan 3,542 gram natrium/500 ml. Sediaan garam dapur mengandung natrium dalam bentuk garam klorida sebesar 38,758 mg/100 gram garam dapur, sehingga dapat dibuat larutan yang serupa dengan NaCl 0,9% dengan melarutkan 3,65 gram garam dapur dalam 200 ml air steril. Larutan kumur inidibuat sesaat sebelum subjek penelitian berkumur, oleh karena itu subjek penelitian ataupun keluarga akan diberikan kemasan obat berbahan plastik yang diberi label „N‟ yang mengandung 3,65 gram garam dapur yang harus dilarutkan terlebih dahulu dalam 200 ml air steril sesaat sebelum subjek penelitian berkumur. Campuran larutan ini digunakan untuk 1 kali berkumur. Air steril diperoleh dengan cara memasak air bersih hingga mendidih dan tetap membiarkan air tersebut mendidih selama 20 menit, setelah itu air dipindahkan kedalam wadah kaca dan didinginkan sampai mencapai suhu ruangan.
3.9.3. Cara kerja
1. Menentukan subjek penelitian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Memberikan informasi mengenai penelitian yang dilakukan dan meminta persetujuan dari subjek penelitian atau orang tua/wali.
3. Menjelaskan mengenai protokol perawatan mulut yang akan dilakukan.
4. Menentukan alokasi subjek penelitian apakah mendapat larutan sodium bikarbonat atau normal salin.
5. Melakukan pengumpulan data-data lainnya yang meliputi latar belakang orang tua, status antopometri, kondisi kesehatan rongga mulut, hasil laboratorium terutama yang berkaitan dengan sistem hematologi dan regimen kemoterapi yang didapat.
6. Melakukan monitoring sebelum kemoterapi dan intervensi berupa perawatan mulut dimulai (T0), 2 minggu setelah kemoterapi dan intervensi (T1), dan 4 minggu setelah kemoterapi dan intervensi (T2). Hal-hal yang dievaluasi:
Kepatuhan melakukan perawatan mulut
Kondisi rongga mulut. Evaluasi kesehatan mulut dilakukan oleh
Departemen Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSUP Haji Adam Malik, Medan sebelum kemoterapi dimulaiatau jika ada masalah gigi dan mulut yang perlu dikonsultasikan. Penilaian rutin juga dilakukan oleh peneliti maupun subjek atau orang tua/wali dengan menggunakan WHO Oral Toxicity Scale. Selama 2 minggu pertama penilaian dilakukan setiap hari, selanjutnya penilaian dapat dilakukan setiap minggu kecuali jika didapatkan kondisi mukositis derajat 3 atau lebih.
Derajat mukositis oral berdasarkan WHO Oral Toxicity Scale, yaitu:
Derajat 0 : tidak ada keluhan
Derajat 1 (ringan) : rasa panas dimulut dan hiperemis
Derajat 2 (sedang) : adanya eritema oral dan ulserasi tunggal, masih dapatmakan makanan padat
Derajat 3 (berat) : ulserasi pada beberapa tempat dan hanya dapat menelan makanan dalam bentuk cair
Derajat 4 (berat) : pemberian makanan dan minuman per oral sudah tidakmemungkinkan, membutuhkan nutrisi parenteral
Parameter hematologi, terutama hitung neutrofil absolut
Status gizi
3.9.4. Alur penelitian
Kelompok A Sodium bikarbonat
Kelompok B NaCl 0,9%
Randomisasi
Evaluasi setelah 2 minggu intervensi (T1):
Mukositis oral ●Parameter hematologi
Kesehatan mulut ●Status gizi
Pengolahan data
Hasil dan pelaporan
Anak dengan keganasan hematologi yang mendapat kemoterapi, memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi
Evaluasi setelah 4 minggu intervensi (T2):
Mukositis oral ●Parameter hematologi
Kesehatan mulut ●Status gizi Penilaian awal (T0):
Kesehatan mulut
Parameter hematologi
Status gizi
3.10 Identifikasi variabel
Variabel bebas Skala
Perawatan mulut Nominal
Variabel tergantung
Mukositis oral (derajat mukositis oral) Ordinal Variabel perancu
Usia Numerik
Jenis kelamin Nominal
Hitung neutrofil absolut Ordinal
Kesehatan mulut Nominal
Status gizi Ordinal
Regimen kemoterapi Ordinal
3.11 Definisi operasional Variabel
penelitian Definisi operasional Cara ukur Hasil ukur Perawatan
mulut
Berkumur
Suatu rangkaian tindakan yang meliputi evaluasi kondisi mulut secara berkala, edukasi pasien dan keluarga, penyikatan gigi, flossing dan berkumur.16,42 Suatu tindakan membasuh mulut dengan menggerak-gerakan air atau cairan tertentu dalam mulut, yang dalam penelitian ini dilakukan selama minimal 30 detik.16,42
Mukositis Peradangan pada mukosa WHO Oral Mukositis oral
oral ditandai dengan timbulnya kemerahan sampai dengan terjadinya ulserasi dalam yang dapat disertai dengan perdarahan.1,2,27
Waktu sebelum kemoterapi dan intervensi dimulai
Terhitung 2 minggu setelah kemoterapi dan intervensi dimulai
Terhitung 4 minggu setelah kemoterapi dan intervensi dimulai Usia Usia subjek penelitian
dihitung dari tanggal lahir sampai dengan tanggal sebelum dilakukan penelitian. Umur dihitung dalam tahun.
Pembagian jenis seksual yang ditentukan secara
Mengisi kuesioner
0: Laki-laki 1: Perempuan
biologis dan anatomis yang dinyatakan dalam jenis kelamin laki-laki dan jenis
Jumlah neutrofil dalam
darah, dikatakan
neutropenia jikahitung neutrofil absolut (ANC)
<1500/mm3
ANC = neutrofil (%)x jumlah leukosit total.54
Kondisi kesehatan rongga mulut, baik mukosa maupun
Status gizi Gambaran keadaan gizi anak berdasarkan berat badan menurut tinggi badan. Apabila berat badan menurut tinggi badan pada grafik WHO 2006 > +1 atau pada grafik CDC 2000>
110% maka dilakukan juga pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Apabila terdapat edema, ascites, dan/atau organomegali maka dilakukan penilaian status gizi berdasarkan lingkar lengan atas (LLA).55
Pengukuran
Kombinasi terapi sitostatika yang diberikan untuk
membunuh atau
menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, disesuaikan dengan jenis keganasan.29
3.12 Rencana pengolahan dan analisis data
Variabel nominal dan ordinal dideskripsikan dalam jumlah dan proporsi,
sedangkan variabel numerik akan dideskripsikan dalam rerata dan simpangan baku atau nilai tengah, minimum dan maksimun.
Analisis univariat dilakukan terhadap masing masing variabel untuk memperoleh karakteristik demografis.
Analisis survival digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan
bermakna pada onset mukositis oral antara kelompok yang mendapat larutan sodium bikarbonat dan NaCl 0,9%.
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbandingan proporsi
mukositis oral pada kedua kelompok. Uji yang digunakan adalah uji Chi Square, tetapi apabila syarat uji Chi Square tidak terpenuhi maka uji alternatif lainnya adalah uji Fischer’s Exactatau uji Mann-Whitney.
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak statistik, dimana nilai P< 0.05 dianggap signifikan.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini diikuti oleh sebanyak 69 orang anak yang menderita keganasan hematologi yang menjalani kemoterapi di RSUP Haji Adam Malik yang telah memenuhi kriteria inklusi. Subjekpenelitian (pasien) dibagi menjadi dua kelompok yaitu 35 anak mendapat perawatan mulut dengan larutan kumur sodium bikarbonat (SB) dan 34 anak mendapat larutan kumur NaCl 0,9%.Karakteristik subjek penelitian disajikan pada tabel 4.1. Pada kedua kelompok, mayoritas subjek penelitian berjenis kelaminlaki-laki dan menderita LLA, dengan rerata usia antar kedua kelompok tidak berbeda signifikan.Proporsi pasien dengan status gizi yang buruk lebih besar pada kelompok SB dibandingkan kelompok NaCl 0,9%, 42,9% versus 29,4%, namun jika dianalisis lebih lanjut tidak terdapat perbedaan yang bermakna antar kedua kelompok (P=0.295). Proporsi kesehatan mulut dan hitung neutrofil absolutdi kedua kelompoktidak berbeda.Terdapat 4 jenis regimen kemoterapi di kedua kelompok, dimana proporsi jenis regimen kemoterapi yang didapat oleh subjek penelitian di kedua kelompok hampir sama, dengan regimen kemoterapi yang paling banyak digunakan adalah metotreksat/vinkristin, dan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok (P=0.806).
Gambar 4.1 Diagram CONSORT
Menolak berpartisipasi (n = 3)
2
Tabel 4.1 Karakteristik demografi subjek penelitian
Pendidikan orang tua, n (%)
SD 3 (8,0) 2 (5,9)
Hemoglobin, rerata (SB), g/dl 7,27 (2,58) 7,58 (2,03)
Hematokrit, rerata (SB), % 22,95 (8,72) 23,42 (6,53)
Leukosit, rerata (SB), 103/uL 25,14 (40,87) 55,16 (119,19) Trombosit, rerata (SB), 103/uL 66,64 (79,69) 107,17 (108,65) ANC, n (%)
< 1500/uL 17 (48,6) 17 (50,0)
≥ 1500/Ul 18 (51,4) 17 (50,0)
Tabel 4.2 Perbandingan hasil pengamatan pada saat minggu ke-2 dan ke-4
Leukosit, rerata (SB), 103/uL
T1 17,41 (22,86) 29,1 (67,03) 0.544c
T2 11,41 (10,62) 11,5 (23,76) 0.138c
Trombosit, rerata (SB), 103/uL
T1 85,36 (96,95) 196,1 (178,23) 0.018c
T2 122,99 (119,12) 241,62 (198,82) 0.056c
ANC, n (%)
T1 < 1500/uL 15 (53,6) 13 (41,9) 0.554b
≥ 1500/uL 13 (46,4) 18 (58,1)
T2 < 1500/uL 9 (39,1) 11 (44,0) 0.582b
≥ 1500/uL 14 (60,9) 14 (56,0)
aChi Square, bFischer’s Exact, cMann-Whitney
Status gizi, kesehatan mulut, derajat mukositis dan parameter hematologi setelah intervensi dapat dilihat pada tabel 4.2. Pada penilaian awal, sebelum pasien memulai kemoterapi dan melakukan perawatan mulut (T0), masing-masing pasien dipastikan tidak sedang mengalami mukositis oral. Pada saat T1, tepatnya selamaminggu ke-2 intervensi, mulai terjadi mukositis oral dimana proporsi mukositis oral sebesar 65,5% pada kelompok SB dan 54,8% pada kelompok NaCl 0,9%. Dapat dilihat juga bahwa proporsi terbanyak pasien yang mengalami mukositis oral dan dengan tingkat keparahan mukositis oral paling berat adalah pada saat T1, dimana sebesar 17,2% dan 12,9% pasienpada kelompok SB dan NaCl 0,9% mengalami mukositis oral derajat 2. Pada saat T2, proporsi mukositis oral pada kelompok SB dan NaCl 0,9% mengalami penurunan menjadi 47,8% dan 48%. Tingkat keparahan mukositis oral juga mengalami penurunan, dimana tidak terdapat lagi pasien dengan mukositis oral derajat 2.
Analisis dengan uji Chi square dan uji Fisher’s exactmenunjukan tidak terdapat perbedaan bermakna pada proporsi mukositis oral antara kedua kelompok(P=0.399 pada saat T1; P=0.768 pada saat T2) maupun dalam masing-masing kelompok setelah 2 minggu dan 4 minggu intervensi (P=0.180 pada kelompok SB; P=1.000 pada kelompok NaCl 0,9%).
Tabel 4.3 Jumlah kejadian dan derajat mukositis oral selama pemantauan Minggu Hari Kelompok Derajat mukositis oral
(paling berat)
Kurva survival Kaplan Meier digunakan untuk mengetahui onset mukositis oral. Pada saat T2, terdapat 7 pasien pada kelompok NaCl 0,9% yang mengalami mukositis oral berulang dan terdapat 9 pasien pada kelompok SB yang mengalami mukositis oral berulang. Karena terdapat kejadian mukositis
berulang maka kurva survival Kaplan Meier terbagi menjadi dua, yakni 2 minggu dan 4 minggu setelah intervensi (Gambar 4.2 dan 4.3).
Rerata durasi mukositis oral pada kelompok SB dan NaCl 0,9% adalah 4,86 hari (IK 95%, 3,28 – 6,40) dan 7,39 hari (IK 95%, 5,88 – 8,91). Analisis dengan uji Mann-Whitney menunjukan adanya perbedaan bermakna pada durasi mukositis oral antara kedua kelompok (P=0.004).
Gambar 4.2 Kurva survival Kaplan Meier untuk onset mukositis oral 2 minggu setelah intervensi
Rerataonset mukositis oral pada pasien yang mendapat sodium bikarbonat dan NaCl 0,9% adalah 11,32 haridan 11,82 hari. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis perawatan mulut dengan onset mukositis oral.
Tabel 4.4Rerata survival onset mukositis oral 2 minggu setelah intervensi Variabel n Jumlah
Gambar 4.3 Kurva survival Kaplan Meier untuk onset mukositis oral 4 minggu setelah intervensi
Rerata onset mukositis oral pada pasien yang mendapat sodium bikarbonat dan NaCl 0,9% adalah 7,40 haridan 10,79 hari. Ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis perawatan mulut dengan onset mukositis oral.
Tabel 4.5 Rerata survival onset mukositis oral 4 minggu intervensi Variabel n Jumlah
Hubungan antara faktor-faktor risiko seperti jenis kelamin, hitung neutrofil absolut (ANC), status gizi, kesehatan mulut, dan regimen kemoterapi terhadap kejadian mukosistis oral juga dianalisis lebih lanjut.
Tabel 4.6Hubungan faktor risiko terhadap kejadian mukositis oral Faktor risiko Mukositis oral
P RR IK 95%
Ya Tidak Jenis kelamin, n (%)
Laki-laki 26 (61,9) 16 (38,1) 0.645a 1,11 0,69 – 1,79
Perempuan 10 (55,6) 8 (44,4)
ANC, n (%)
< 1500 18 (64,3) 10 (35,7) 0.461a 1,17 0,77 – 1,78
≥ 1500 17 (54,8) 14 (45,2)
Status gizi, n (%)
Kurang dan buruk 30 (58,8) 21 (41,2) 1.000b 0,94 0,53 – 1,67
Baik 5 (62,5) 3 (37,5)
Kesehatan mulut, n (%)
Buruk 21 (84) 4 (16) 0.001a 1,96 1,28 – 2,98
Baik 15 (42,9) 20 (57,1)
Regiemn kemoterapi, n (%)
MTX 31 (60,8) 20 (39,2) 1.000a 1,09 0,57 – 2,04
Non MTX 5 (55,6) 4 (44,4)
aChi Square, bFischer’s Exact
Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa kesehatan mulut secara bermakna berhubungan dengan kejadian mukositis oral (P=0.001). Anak dengan kesehatan mulut yang buruk mempunyai kemungkinan 1,96 kali untuk mengalami mukositis oral dibandingkan dengan anak yang memiliki kesehatan mulut baik.
BAB 5 PEMBAHASAN
Mukositis oral sering ditemukan pada pasien yang mendapat kemoterapi dan/atau radioterapi sebagai terapi antikanker.1,2Pada pasien yang mendapat kemoterapi, keadaan ini timbul akibat adanya interaksi yang kompleks antara kerusakan jaringan mulut, keadaan lingkungan di rongga mulut, derajat penekanan sumsum tulang dan faktor predisposisi intrinsik pasien.1,7,27,28Pada penelitian ini angka kejadian mukositis oral sebesar 47,9%, angka ini sedikit berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, hal ini dimungkinkan karena terdapat perbedaan pada populasi target. Penelitian ini hanya melibatkan pasien dengan keganasan hematologi yaitu leukemia limfoblastik akut, leukemia mieloblastik akut, limfoma non Hodgkin, dan limfoma Hodgkin. Seperti kita ketahui, risiko mukositis oral akan berbeda tergantung dari jenis keganasan yang diderita.21,28
Penelitian di Mesir, India, dan Maroko melaporkan angka kejadian mukositis oral berturut-turut sebesar 58,1%, 53,3%, dan 55,6%. Pada penelitian tersebut kelompok pasien yang dievaluasi mencakup pasien anak dengan keganasan hematologi dan tumor solid. Sayangnya, penelitian di India tidak menjelaskan apakah setiap pasien melakukan perawatan mulut atau tidak, sedangkan pada penelitian di Mesir proporsi mukositis oral hanya dinilai dalam lingkup pasien-pasien yang mengalami komplikasi oral selama masa
kemoterapi.5,6,21 Penelitian di Hongkong dan Adelaide melaporkan angka kejadian mukositis oral pada anak dengan keganasan hematologi dan tumor solid yang menjalani kemoterapi berturut-turut 41% dan 42,5%, namun mukositis oral yang dinilai pada penelitian di Hongkong hanya yang bersifat ulseratif (derajat 2 atau lebih menurut kriteria WHO).20,56 Penelitian di Brazil yang melibatkan anak dengan keganasan hematologi, khususnya LLA, melaporkan angka kejadian mukositis oral sebesar 46%. Namun sama halnya dengan penelitian di India, pada penelitian ini tidak diketahui apakah protokol perawatan mulut diterapkan atau tidak.21
Efek mukotoksik timbul tidak lama setelah kemoterapi dimulai, puncaknya terjadi pada hari ke-7 atau ke-10 terapi.27 Menurut tinjauan literatur lain, mukositis oral umumnya terjadi 3-4 hari setelah kemoterapi dimulai, puncaknya 7-14 hari kemudian, dan akan mengalami penyembuhan dalam waktu 5-10 hari.35,57Pada penelitian ini, mukositis oral mulai terjadi selama minggu ke-2 intervensi dimana proporsi mukositis oral sebesar 65,5% pada kelompok sodium bikarbonat (SB) dan 54,8% pada kelompok NaCl 0,9% dengan rerata onset mukositis oral secara keseluruhan adalah 9,59 hari. Dapat dilihat juga bahwa tingkat keparahan mukositis oral paling berat adalah pada saat T1. Hal serupa juga dilaporkan pada penelitian di Maroko dimana onset mukositis oral adalah 10,5 ± 6,8 hari.21 Adapun penelitian di Adelaide menunjukan bahwa hari ke-8 dan ke-9 setelah pemberian kemoterapi berhubungan secara bermakna dengan risiko terjadinya mukositis oral.56
Pada penelitian ini terdapat dua kelompok yang mendapat perawatan mulut dengan larutan kumur yang berbeda, yakni dengan larutan kumur sodium bikarbonat (SB) dan NaCl 0,9%, dan yang akan dinilai adalah angka kejadian mukositis oral setelah 4 minggu intervensi. Pada akhir masa pengamatan, kejadian mukositis oral pada kelompok SB dan NaCl 0,9% sebesar 47,8% dan 48%. Terdapat penurunan sebesar 17,7% pada kelompok SB dan 6,8% pada kelompok NaCl 0,9% pada kelompok NaCl 0,9%, namun secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna pada angka kejadian mukositis oral antara kedua kelompok.
Penurunan proporsi mukositis oral lebih terlihat pada kelompok SB, hal ini dimungkinkan karena larutan kumur sodium bikarbonat mempunyai efek meningkatkan pH saliva sehingga menetralisir pH asam dalam rongga mulut, yang nantinya membantu dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme tahan asam di rongga mulut, sedangkan NaCl 0,9% hanya merupakan larutan garam fisiologis yang tidak mempunyai senyawa biologis aktif.12,42,50 Walaupun begitu, penelitian di Jepang pada pasien yang menjalani transplantasi sumsum tulang melaporkan hasil yang baik dengan menggunakan larutan kumur NaCl 0,9% sebagai bagian dari protokol perawatan mulut. Penelitian ini dilakukan selama tiga tahun, mulai dari tahun 2003-2006, dan terbagi menjadi dua tahap yakni tahap uji klinis dan tahap penerapan protokol perawatan mulut. Hasil dari penelitian ini melaporkan adanya penurunan bermakna angka kejadian mukositis oral ulseratif dari 76% menjadi 20%.49 Beberapa penelitian yang menilai
efektivitas NaCl 0,9% atau SB sebagai larutan kumur telah dilakukan, namun pada penelitian-penelitian tersebut NaCl 0,9% ataupun SB lebih sering dibandingkan dengan larutan kumur lain sehingga hasil dari penelitian-penelitian tersebut kurang tepat apabila ingin dibandingkan dengan hasil penelitian saat ini.12,16,42,47,48
Terdapat dua penelitian yang membandingkan NaCl 0,9% dan sodium bikarbonat sebagai larutan kumur yaitu penelitian di Tamilnadu dan di New York.
Penelitian di Tamilnadu yang membandingkan efektivitas antara larutan kumur sodium bikarbonat dan NaCl 0,9% melaporkan bahwa larutan sodium bikarbonat lebih efektif dalam mengurangi derajat keparahan mukositis oral dibandingkan NaCl 0,9%, namun penelitian ini dilakukan pada pasien dewasa dengan kanker orofaringeal yang mendapat radioterapi.17 Penelitian lain di New York pada pasien dengan keganasan hemotologi melaporkan tidak ada perbedaan angka kejadian mukositis oralantara kelompok yang menggunakan NaCl 0,9% dan sodium bikarbonat, namun insiden mukositis oral lebih rendah pada kelompok dengan NaCl 0,9%.52Perlu diketahui bahwa penelitian di New York dan yang dilakukan saat ini mempunyai karakteristik sampel yang berbeda dan ukuran sampel yang sedikit. Oleh karena itu, efektivitas NaCl 0,9% dan sodium bikarbonat dalam mencegah mukositis oral masih sulit untuk disimpulkan.
Beberapa luaran lain yang dapat dinilai pada penelitian ini antara lain, selama pengamatan pada minggu ke-3 dan ke-4 terjadi mukositis oral berulang
pada kedua kelompok, namun rerata waktu timbulnya mukositis oral lebih cepat pada kelompok SB. Walaupun begitu, terdapat perbedaan bermakna pada durasi mukositis oral antara kelompok SB dan NaCl 0,9%, dimana durasi mukositis oral pada kelompok SB lebih pendek, yakni 4,86 hari. Penelitian di Tamilnadu melaporkan hasil yang berbeda, dimana pada kelompok SB waktu untuk timbulnya mukositis oral lebih lama dibandingkan kelompok NaCl 0,9%, namun durasi mukositis oral tidak dipaparkan pada penelitian tersebut.17Penelitian di Korea Selatan pada pasien leukemia juga melaporkan bahwa onset mukositis oral lebih lama pada kelompok SB, namun penelitian tersebut membandingkan sodium bikarbonat dengan klorheksidin dan populasi target merupakan pasien berusia diatas 18 tahun.46Berbedanya populasi target dan ukuran sampel yang sedikit serta masih terbatasnya penelitian terkait larutan kumur SB dan NaCl 0,9% harus menjadi pertimbangan dalam menarik kesimpulan terhadap luaran-luaran tersebut.
Pada penelitian saat ini didapatkan juga tidak adanya perbedaan bermakna antara kelompok yang menggunakan larutan kumur SB dan NaCl 0,9% terhadap derajat mukositis oral. Satu-satunya penelitian yang melaporkan pengaruh pemakaian SB dan NaCl 0,9% terhadap derajat mukositis oral yakni penelitian di Tamilnadu yang menunjukan hasil yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan saat ini.17 Terbatasnya penelitianterkait perbandingan larutan kumur SB dan NaCl 0,9% terhadap derajat mukositis oral menyebabkan sulitnya
mengambil kesimpulan mengenai efek larutan SB ataupun NaCl 0,9% terhadap derajat mukositis oral.
Seperti yang kita ketahui, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya mukositis baik yang terkait pasien maupun yang terkait terapi.
Penelitian dan tinjauan literatur menyatakan bahwa pasien yang berusia dibawah 20 tahun, berjenis kelamin perempuan, menderita keganasan hematologi, dalam kondisi imunosupresi atau neutropenia, dengan status gizi dan kesehatan mulut yang buruk, mempunyai riwayat episode mukositis sebelumnya, mendapat kemoterapi dengan metotreksat, serta sedang menjalani kemoterapi fase induksi memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami mukositis oral.
Penelitian dan tinjauan literatur menyatakan bahwa pasien yang berusia dibawah 20 tahun, berjenis kelamin perempuan, menderita keganasan hematologi, dalam kondisi imunosupresi atau neutropenia, dengan status gizi dan kesehatan mulut yang buruk, mempunyai riwayat episode mukositis sebelumnya, mendapat kemoterapi dengan metotreksat, serta sedang menjalani kemoterapi fase induksi memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami mukositis oral.