BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Kerangka Konseptual dan Hipotesis
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ada tidaknya serta kuat lemahnya hubungan antara variabel dependen berupa audit report lag dengan variabel independen berupa Solvabilitas, Total asset turnover ratio, debt to equity
ratio, ukuran perusahaan, opini auditor dan total revenue. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan bahwa keenam variabel tersebut berpengaruh terhadap Audit report lag.
Berdasarkan tinjauan pustaka, penelitian terdahulu yang sudah diuraikan, maka kerangka konseptual ini dapat digambarkan pada gambar berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Keterangan :
Y = Audit Report Lag X1 = Solvabilitas
X2 = Total Asset Turnover Ratio X3 = Debt to Equity Ratio X4 = Ukuran Perusahaan
AUDIT REPORT LAG
(Y) Solvabilitas (X1)
Total Asset Turnover Ratio (X2)
Debt to Equity Ratio (X3)
X5 = Opini Auditor X6 = Total Revenue
a. Solvabilitas Terhadap Audit Report Lag
Solvabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang. Analisis solvabilitas difokuskan terutama pada reaksi dalam neraca yang menunjukkan kemampuan untuk melunasi utang lancar dan utang tidak lancar. Solvabilitas dalam hal ini diukur dengan menghitung Debt to total asset dengan membandingkan antara jumlah aktiva (total asset) dengan jumlah utang (baik jangka pendek ataupun jangka panjang). Rasio ini dingunakan untuk mengetahui sejauh mana utang perusahaan dapat ditutupi oleh aktiva yang dimiliki serta mengindikasikan tingkat kesehatan perusahaan. Menurut Lianto dan Kusuma (2010 : 12), semakin besar tingkat utang terhadap tingkat aktiva sebuah perusahaan mencerminkan tingginya resiko keuangan perusahaan tersebut.
Tingginya resiko ini menunjukkan adanya kemungkinan bahwa perusahaan tersebut tidak bisa melunasi kewajiban atau hutangnya berupa pokok pinjaman maupun bunga. Perusahaan harus memperhatikan bagaimana utang yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat ditutup oleh aktivanya karena hal ini dapat berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan (Audit report lag).
b. Total Asset Turnover Ratio Terhadap Audit Report Lag
Menurut Syamsuddin (2009 : 19) Total Asset Turnover Ratio merupakan rasio yang dingunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap
rupiah aktiva. Variabel ini dingunakan untuk mengukur efisiensi pemakaian aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan. Apabila pada pemakaian aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan memperoleh hasil yang baik maka hal ini berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan (Audit report lag).
c. Debt to Equity Ratio Terhadap Audit Report Lag
Menurut Indriyani dan Supriyati (2012 : 32), debt to equity ratio (DER) merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan antara kewajiban dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya dan dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesulitan keuangan perusahaan. Tingginya debt to equity ratio mencerminkan tingginya resiko keuangan perusahaan. Risiko perusahaan yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
Kesulitan keuangan adalah berita buruk bagi citra perusahaan dimata publik. Hal ini menyebabkan manajemen akan menunda pelaporan keuangannya. Dengan adanya penundaan pelaporan keuangan maka perusahaan tersebut tidak memiliki ketepatan waktu dalama pelaporan keuangan dimana hal ini merupakan sangat penting pada setiap perusahaan. Maka dari itu perusahaan harus memperhatikan kemampuannya modalnya dalam memenuhi kewajibannya karena berpengaruh sendiri terhadap ketepatan pelaporan keuangan (Audit report lag).
d. Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Report Lag
Ukuran perusahaan adalah jumlah total asset yang dimiliki perusahaan.
Perusahaan yang memiliki total asset yang besar umumnya merupakan perusahaan yang besar. Menurut Iskandar dan Trisnawati (2010 : 9) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki total asset yang besar memiliki hubungan dengan ketepatan waktu laporan keuangan, perusahaan besar diduga akan menyelesaikan proses auditnya lebih cepat dibandingkan perusahaan kecil, hal ini disebabkan oleh adanya internal control yang baik dan kemampuan perusahaan untuk mendorong auditornya agar dapat menyelesaikan pekerjaan audit secara tepat waktu. Selain itu perusahaan-perusahaan yang lebih besar juga memiliki sumber daya untuk membayar audit fees yang lebih tinggi sehingga pekerjaan audit dapat segera dilakukan setelah tahun buku berakhir. Perusahaan harus memperhatikan jumlah asset yang dimilikinya karena berpengaruh terhadap ketepatan pelaporan keuangan (Audit report lag).
e. Laporan Audit Terhadap Audit Report Lag
Laporan audit adalah tahap akhir dari keseluruhan proses audit. Menurut Kartika (2009 : 12), Auditor sebagai pihak yang independen di dalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan, akan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diauditnya. Perusahaan yang diberikan opini atau pendapat unqualified opinion oleh auditor cenderung ingin mengungkapkan laporan keuangannya dengan cepat kepada publik. Sebaliknya perusahaan yang diberikan qualified opinion cenderung memiliki audit report lag yang lebih
panjang, hal ini dikarenakan auditor membutuhkan waktu dan usaha untuk mencari prosedur audit ketika mengkonfirmasi kualifikasi audit. Apabila auditor dalam menyerahkan laporan auditnya juga mengalami kendala dalam waktu maka ini juga berpengaruh nantinya terhadap ketepatan pelaporan waktu keuangan.
f. Total Revenue Terhadap Audit Report Lag
Menurut Zaki Baridwan (2008 : 27) berpendapat bahwa revenue adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya selama satu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha. Proses produksi yang dilakukan oleh produsen akan menghasilkan sejumlah barang, atau produk. Produk inilah yang merupakan jumlah barang yang akan dijual dan hasilnya merupakan jumlah penerimaan bagi seorang produsen, Sebuah perusahaan harus memperhatikan bagaimana jalannya proses produksi dalam perusahaannya karena berpengaruh langsung terhadap total revenue yang akan diterima nantinya. Jika total revenue mengalami kendala atau penundaan dalam proses penerimaanya maka nantinya hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan
2. Hipotesis
Hipotesis merupakan penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi (Erlina, 2011:42). Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang
relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik.
Berdasarkan rumusan masalah, tinjauan pustaka, tinjauan penelitian terdahulu, dan kerangka konseptual sebelumnya, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 : Solvabilitas berpengaruh secara parsial terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
H2 : Total Asset Turnover Ratio berpengaruh secara parsial terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
H3 : Debt to Equity Ratio berpengaruh secara parsial terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
H4 : Ukuran Perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
H5 : Opini Auditor berpengaruh secara parsial terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
H6 : Total Revenue berpengaruh secara parsial terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
H7 : Solvabilitas, total asset turnover ratio, debt to equity ratio, ukuran perusahaan, opini auditor, dan total revenue berpengaruh secara simultan terhadap Audit Report Lag pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah metode asosiatif yang bersifat kausal. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang menghubungkan dua variabel atau lebih, dengan hubungan yang bersifat kasual yaitu hubungan sebab akibat antara variabel independen dengan variabel dependen (Erlina, 2011:74). Dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab akibat antara solvabilitas, total asset turnover ratio, debt to equity ratio, ukuran perusahaan, opini auditor, dan total revenueterhadap audit report lag.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar diBursa Efek Indonesia tahun 2011-2015 yang diperoleh melalui internet dengan men-download melalui situs resmi www.idx.co.id. BEI dipilih sebagai tempat penelitian karena BEI merupakan Bursa Efek diIndonesia yang memiliki catatan historis yang panjang dan lengkap mengenai perusahaan yang sudah go public.
Jadwal penelitian dilakukan sesuai dengan jadwal yang tertera pada tabel berikut ini:
Tabel 3.1
Sumber : Data Olahan Peneliti
3.3 Batasan Operasional
Penelitian ini memiliki batasan, yaitu:
1. Penelitian ini dilakukan tahun 2011-2015
2. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi merupakanwilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang menjadi karakteristik atau kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009).
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Food and Beverageyang terdaftar diBursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2015.
Sampel adalah satu jumlah terbatas dari individu yang diambil dari populasi, dan diduga representative sifatnya. Ada pengecekan statistik yang dilakukan. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan metode Purposive Sampling, yaitu mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu.
Tabel 3.2
Kriteria Penarikan Sampel
Data Perusahaan sektorFood and Beverage yang terdaftar di BEI 15 Perusahaan yang tidak memenuhi rasio-rasio keuangan yang digunakan sebagai pengukur variabel
2
Perusahaan yang tidak memiliki laporan auditor independen 1
Perusahaan yang dijadikan sampel 12
3.5 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu sumber data penelitian yang diperoleh tidak langsung dari obyeknya, tetapi dari sumber lain baik lisan maupun tulisan. Peneliti menggunakan data sekunder dengan alasan: (1) data lebih mudah didapatkan dibanding data primer (2) tidak memakan banyak biaya.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari website Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan cara men-download melalui situs www.idx.co.id.
Menurut sifatnya data dalam penelitian ini termasuk data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data sekunder, pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah studi pustaka, dengan mengumpulkan data dari jurnal, abstrak, dan buku yang berkaitan dengan penelitian. Tahap kedua adalah studi dokumentasi, dengan mengumpulkan data berupa laporan keuangan dan infomasi lain yang berkaitan dengan penelitian melalui media internet situs www.idx.co.id dengan cara men-download laporan keuangan perusahaan yang dibutuhkan.
3.7 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
3.7.1 Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas dilambangkan dengan X. Menurut Erlina (2011:37), variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen, atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel tak bebas (variabel dependen) dan mempunyai hubungan yang positif maupun negatif bagi variabel dependen lainnya. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Solvabilitas, total asset turnover ratio, debt to equity ratio, ukuran perusahaan, opini auditor, dan total revenue.
1. Solvabilitas
Solvabilitas dalam hal ini diukur dengan menghitung Debt to total asset dengan membandingkan antara jumlah aktiva (total asset) dengan jumlah utang (baik jangka pendek ataupun jangka panjang). Rasio ini dingunakan untuk mengetahui sejauh mana utang perusahaan dapat
ditutupi oleh aktiva yang dimiliki serta mengindikasikan tingkat kesehatan perusahaan.
2. Total Asset Turnover Ratio
Total asset turnover ratio merupakan rasio yang dingunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva. Variabel ini dingunakan untuk mengukur efisiensi pemakaian aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan.
π»π»πππ«π«ππππ π¨π¨πππππ«π«π«π«ππ π»π»π»π»π»π»π»π»πππ¨π¨π«π«π»π» πΉπΉπππ«π«π¨π¨ππ =π·π·π«π«π»π»π·π·π»π»πππππππ»π» (πππππππ«π«ππ) π»π»πππ«π«ππππ π¨π¨π¨π¨π«π«π¨π¨π¨π¨ππ 3. Debt to Equity Ratio (DER)
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melunasi total kewajibannya dengan menggunakan ekuitas. DER dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
π«π«π«π«πΉπΉ =π»π»πππ«π«ππππ π²π²π«π«π²π²πππ·π·π¨π¨π«π«πππ»π»
π»π»πππ«π«ππππ π«π«π¨π¨π»π»π¨π¨π«π«ππππ πΏπΏ ππππππ%
4. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat dinilai dengan menggunakan total asset. Total asset merupakan jumlah dari aktivalancar, aktiva tetap, aktiva tak berwujud.Ukuran perusahaan diukur menggunakan log total aktiva perusahaan yang tercantum dalam laporan keuangan perusahaan pada akhir periode.
5. Opini Auditor
Opini auditor adalah pendapat yang diberikan oleh auditor independen atas laporan keuangan yang disajikan oleh suatu perusahaan. Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (PSA 29 SA Seksi 508) ada 5 jenis pendapat (opini) akuntan, yaitu:
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (unqualified opinion with explanatory language)
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion) 4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion)
5. Pernyataan tidak memberi pendapat (disclaimer opinion)
Opini auditor dalam penelitian ini diukur dengan melihat jenis opini yang diberikan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan perusahaan. Dalam penelitian ini pendapat auditor dibedakan menjadi dua kelompok dummy yaitu perusahaan yang menerima pendapat unqualified opinion diberi kode 1 dan perusahaan yang menerima pendapat selain unqualified opinion diberi kode 0.
6. Total Revenue
Ada beberapa macam penerimaan, salah satunya adalah Total Revenue (Penerimaan total). Total Revenue merupakan jumlah seluruh penerimaan perusahaan dari hasil penjualan sejumlah produk (barang yang dihasilkan).
Untuk menghitung Total Revenue dapat dingunakan rumus : π»π»πΉπΉ = π·π·π»π»π¨π¨π·π·π«π« πΏπΏ πΈπΈπ»π»πππ»π»π«π«π¨π¨π«π«πΈπΈ
Price (P) merupakan harga jual perunit. Sedangkan Quantity (Q) merupakan jumlah produk yang dihasilkan.
3.7.2 Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat dilambangkan dengan Y. Menurut Erlina (2011:36), Variabel ini dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel terikat ini merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel sebab atau variabel bebas. Jadi variabel dependen adalah konsekuensi dari variabel independen. Dalam penelitian ini, variabel dependennya adalah audit report lag yang diukur secara kuantitatif dalam jumlah hari, yaitu lamanya/rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal ditertibkannya laporan audit (Kartika, 2009).
Tabel 3.3
Definisi Operasional Variabel Jenis
Variabel
Definisi Indikator Skala
Variabel
Tanggal Pelaporan audit-tanggal akhir tahun Rasio
Variabel
Debt to
SIZE = Log.total aktiva Rasio
Opini
1 = perusahaan yang merupakan unqualified opinion
0 = perusahaan yang mendapatkan opini selain unqualified opinion
Sumber: hasil olahan peneliti
3.8 Teknik Analisis Data
3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran dari fenomena atau karakteristik dari data. Karakteristik data yang digambarkan adalah karakteristik distribusinya (Jogiyanto, 2004:163). Analisis statistik deskriptif meliputi jumlah, maksimum,
minimum, nilai rata-rata (mean), standar deviasi. Untuk data yang berupa kategori digunakan sub menu deskriptif frequencies (Situmorang dan lufti, 2012:20).
3.8.2 Metode Analisis Data
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah solvabilitas, total asset turnover ratio, debt to equity ratio, ukuran perusahaan, opini auditor, dan total revenue berpengaruh terhadap audit report lag. Untuk itu akan dingunakan teknik analisis regresi linier berganda. Sebelum analisis ini dilaksanakan, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi klasik untuk menghasilkan nilai parameter model penduga yang sah. Nilai tersebut akan terpenuhi jika hasil uji asumsi klasiknya memenuhi asumsi normalitas, multikolinearitas, heterokedastisitas, dan autokorelasi.
3.8.2.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk memastikan bahwa sampel yang diteliti terbebas dari ganggua n normalitas, multikolinearitas, heterokedastisitas, dan autokorelasi.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2012:160). Model regresi yang baik memiliki distribusi data yang normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas ini dapat dilakukan melalui:
a. Analisis Grafik
Menurut Ghozali (2012: 160), Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya dengan melihat histogram hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Dasar pengambilan keputusan dari analisis normal probability plot adalah sebagai berikut:
β’ Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka menunjukkan pola distribusi normal.
Model regresi memenuhi asumsi normalitas.
β’ Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal serta tidak menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Analisis Statistik
Untuk mendeteksi normalitas data, dapat pula dilakukan melalui analisis statistik Kolmogorov-Smirnov Test (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:
HO = Data residual berdistribusi normal.
HA = Data residual tidak berdistribusi normal.
Dasar pengambilan keputusan dalam uji K-S adalah sebagai berikut:
β’ Apabila probabilitas nilai Z uji K-S signifikan secara statistik ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.
β’ Apabila probabilitas nilai Z uji K-S tidak signifikan secara statistik maka HO diterima, yang berarti data terdistribusi normal.
2. Uji Multikolonearitas
Menurut Ghozali (2012:105), uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya antar variabel independen tidak terjadi korelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam model regresi dapat dilihat dari Tolerance Value atau lawannya Variance Inflation factor (VIF) dengan membandingkan sebagai berikut (Ghozali, 2012:106):
a. Jika nilai tolerance > 10 persen dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
b. Jika nilai tolerance < 10 persen dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
3. Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2012:139) Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID dimana Sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi β Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, menyebar kemudian menyempit) mengidentifikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang tidak jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
4. Uji Autokorelasi
Menurut Ghozali (2012:110) uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Suatu jenis pengujian yang umumnya digunakan untuk mengetahui adalah autokorelasi yang dikembangkan oleh J.Durbin dan G.
Watson yang disebut sebagai statistic Durbin-Watson. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai d dari hasil perhitungan dengan nilai d1 dan du dari table Durbin-Watson. Hipotesis yang akan diuji adalah:
HO: tidak ada autokorelasi HA: ada autokorelasi
3.8.3 Uji Hipotesis
Menurut Priyatno (2009:47), analisis regresi linier berganda digunakan untuk meramalkan variabel dependen jika variabel independen dinaikkan dan diturunkan. Penelitian ini digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh rasio solvabilitas, total asset turnover ratio, debt to equity ratio, ukuran perusahaan, opini auditor dan total revenue terhadap audit report lag dengan model dasar sebagai berikut:
ππ = ππ + π·π·πππΏπΏππ + π·π·π·π·πΏπΏπ·π· + π·π·π·π·πΏπΏπ·π· + π·π·π·π·πΏπΏπ·π· + π·π·π·π·πΏπΏπ·π· + π·π·π·π·πΏπΏπ·π· + π«π« Keterangan:
Y = Lamanya hari penyelesaian audit (audit report lag) Ξ± = Konstanta
X1 = Solvabilitas
X2 = Total asset turnover ratio X3 = Debt to equity ratio X4 = Ukuran Perusahaan
X5 = Opini auditor X6 = Total Revenue
Ξ² = Koefisien Regresi Setiap Variabel Ξ΅ = Error (Tingkat Kesalahan)
1. Pengujian Signifikansi Serentak (Uji F)
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara serentak (simultan) terhadap variabel dependen apakah pengaruhnya signifikan atau tidak (Ghozali, 2012:98). Tahap-tahap pengujian sebagai berikut:
a. Merumuskan Hipotesis Ho: Ξ² 1 = Ξ² 2 = Ξ² 3= Ξ²4= Ξ²5
H
= 0 artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama (simultan) dari variabel independen terhadap variabel dependen.
a: Ξ² 1 = Ξ² 2 = Ξ² 3= Ξ²4= Ξ²5
b. Menentukan taraf signifikansi
β 0 artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama (simultan) dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Signifikan atau tidaknya pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen dilakukan dengan melihat probabilitas dari F rasio seluruh variabel independen pada taraf uji Ξ± = 5 %.
c. Kriteria pengambilan keputusan
β’ Jika probabilitas lebih kecil daripada Ξ± maka Ho ditolak dan Ha diterima yang memiliki arti bahwa variabel independen secara
bersama-sama memiliki pengaruh signifikansi terhadap variabel dependen.
β’ Jika probabilitas lebih besar daripada Ξ± maka Ho diterima dan Ha ditolak yang memiliki arti bahwa variabel independen secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Dapat juga digunakan perbandingan signifikansi Fhitung
2. Pengujian Signifikansi Parsial (Uji t)
Uji statisttik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen, apakah pengaruhnya signifikan atau tidak (Ghozali, 2012:98) Tahap-tahap pengujian sebagai berikut:
a. Merumuskan Hipotesis Ho
H
: Ξ²= 0, artinya tidak terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen.
a
b. Menentukan taraf signifikansi
: Ξ²β 0, artinya terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Signifikan atau tidaknya pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dilakukan dengan melihat probabilitas dari t rasio seluruh variabel independen pada taraf uji Ξ± = 5 %.
c. Kriteria pengambilan keputusan
β’ Jika probabilitas lebih kecil daripada Ξ± maka Ho ditolak dan Ha
β’ Jika probabilitas lebih besar daripada Ξ± maka H
diterima yang memiliki arti bahwa variabel independen memiliki pengaruh signifikansi terhadap variabel dependen.
o diterima dan Ha
ditolak yang memiliki arti bahwa variabel independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Dapat juga digunakan perbandingan signifikansi Thitung
H
dengan ketentuan:
o diterima jika Thitung < T
o diterima jika Thitung < T