BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Penerapan Good Corporate Governance merupakan keharusan dalam perusahaan untuk memenuhi tuntutan efisiensi dan pencapaian profit dan tujuan. Agar penerapan GCG di perusahaan dapat berjalan dengan baik, maka dalam perusahaan perlu dilengkapi beberapa perangkat antara lain dewan komisaris, dewan direksi, komisaris independen dan komite yang ada dibawah dewan komisaris serta struktur kepemilikan modal perusahaan. Sesuai dengan teori perusahaan yang menerapkan tata kelola adalah perusahaan yang memenuhi kepentingan pemegang saham yaitu memaksimalkan kekayaan. Dengan demikian penerapan GCG secara optimal akan mampu mendorong peningkatan profitabilitas perusahaan.
Ukuran dewan direksi dalam perusahaan menunjukkan seberapa besar kemampuan dewan direksi dalam memberdayakan segala sumber daya dengan efektif dan efisien dalam menjalankan perusahaan. Ukuran dewan direksi yang lebih besar dapat memonitor proses pelaporan keuangan dengan lebih efektif dibandingkan ukuran dewan direksi yang lebih kecil, sehingga semakin besar ukuran dewan direksi, maka semakin tinggi profitabilitas yang dapat dicapai.
Dewan komisaris memiliki peran dan tanggung jawab memberikan nasehat dan pengawasan kepada dewan direksi. Semakin banyak jumlah modal yang diinvestasikan oleh investor ke dalam suatu perusahaan maka akan semakin banyak jumlah dewan komisaris yang dibutuhkan. Apabila dewan komisaris berhasil menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik maka kinerja dewan
direksi akan semakin baik pula. Sehingga semakin besar komposisi dewan komisaris, maka akan semakin tinggi profitabilitas perusahaan yang dapat dicapai. Classens et al (1996) mengemukakan bahwa kepemilikan perusahaan oleh institusional seperti Bank akan menurunkan kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan bila dibandingkan dengan struktur kepemilikan yang dimiliki oleh dewan direksi atau dewan komisaris. Apabila perusahaan tersebut dimiliki oleh instansi seperti bank, ketika perusahaan menghadapi masalah yang berhubungan dengan keuangan, maka perusahaan akan lebih mudah mendapatkan suntikan dana dari institusi tersebut. Hal ini berarti bahwa perusahaan tidak akan langsung mengalami kerugian. Dengan demikian semakin tinggi persentase kepemilikan institusional dalam perusahaan maka akan dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Peningkatan kepemilikan managerial dapat menyelaraskan kepentingan manajer dan pemegang saham, sehingga dapat meningkatkatkan profitabilitas perusahaan. Sebaliknya kepentingan manajemen dan kepentingan pemegang saham yang mungkin bertentangan, menyebabkan manajer mengutamakan kepentingan pribadi. Semakin besar kepemilikan manajerial dalam perusahaan maka manajemen akan lebih giat untuk meningkatkan kinerjanya karena manajemen mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi keinginan dari pemegang saham yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Manajemen akan lebih berhati-hati dalam mengambil suatu keputusan, karena manajemen akan ikut merasakan manfaat secara langsung dari keputusan yang diambil. Oleh karena itu, semakin besar jumlah kepemilikan oleh manajerial, maka akan semakin tinggi profitabilitas perusahaan yang dapat dicapai.
Sementara komisaris independen dalam menjalankan fungsinya untuk memberikan penilaian independen yang dapat menjadi pertimbangan manajemen dalam pengambilan keputusan agar tidak terjadi konflik kepentingan antara pemegang saham (kepemilikan institusional) dan manajemen. Melalui perannya dalam menjalankan fungsi pengawasan, komisaris independen dapat mempengaruhi pihak manajemen dalam menyusun laporan keuangan sehingga berpengaruh terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan.
Penerapan GCG dalam perusahaan seperti dewan direksi, dewan komisaris, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan komisaris independen terhadap profitabilitas perusahaan dapat digambarkan dalam kerangka konseptual sebagai berikut :
Gambar 3.1 Kerangka konsep penerapan GCG terhadap profitabilitas Kinerja dewan direksi yang sesuai dengan yang diharapkan oleh pemegang saham akan membuat operasi perusahaan berjalan dengan lancar, dan akan meningkatkan profitabilitas perusahaan. Teori keagenan yang dikemukan oleh Jensen and Meckling (1976) bahwa masalah keagenan yang dihadapi oleh pemegang saham mengacu kepada kesulitan investor untuk memastikan dananya
Dewan Direksi (X1) Profitabilitas (Y) Dewan Komisaris (X2) Kepemilikan Institusional (X3) Kepemilikan Manajerial (X4) Komisaris Independen (X5)
tidak disalahgunakan oleh manajemen perusahaan untuk mendanai kegiatan yang tidak mendatangkan menguntungkan. Untuk menjamin hal tersebut komisaris independen memberikan penilaian independen yang dapat menjadi pertimbangan dewan direksi dalam pengambilan keputusan. Melalui perannya dalam menjalankan fungsi pengawasan, komisaris independen dapat mempengaruhi pihak manajemen dalam mengambil keputusan sehingga berpengaruh terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan. sehingga disimpulkan adanya pengaruh antara dewan direksi dengan komisaris independen terhadap profitabilitas perusahaan.
Dewan komisaris mengawasi kinerja yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Permasalahan dalam penerapan corporate governance adalah adanya
CEO yang memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan dewan komisaris. Efektivitas pengawasan dewan komisaris dalam menyeimbangkan kekuatan CEO tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat indepedensi dari dewan komisaris tersebut. Oleh sebab itu dewan komisaris perlu untuk membentuk komisaris independen yang benar-benar independensi dari keinginan pemilik saham dan manajemen, sehingga komisaris independen akan mengurangi kecurangan pelaporan keuangan.
Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif. Tindakan pengawasan yang dilakukan oleh investor institusional dapat mendorong manajemen untuk lebih memfokuskan perhatiannya terhadap kinerja perusahaan. Kepemilikan institusional juga memiliki pengaruh terhadap pembuatan keputuan tentang investasi yang besar dalam perusahaan. Untuk memaksimalkan monitoring, dewan komisaris membentuk komisaris independen dalam membantu dewan
komisaris dalam fungsinya sebagai dewan pengawas. Oleh sebab itu keberadaan komisaris independen bisa memperkuat pengaruh kepemilikan institusional terhadap profitabilitas perusahaan.
Kepemilikan manajerial merupakan pemegang saham yang juga sekaligus pemilik dalam perusahaan dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan sehingga bisa saja manajer melakukan berbagai cara di luar dari ketentuan untuk memaksimalkan keuntungan. Komisaris independen berfungsi untuk melakukan pengawasan secara independen kepada manajemen agar apa yang dilakukan oleh manajer perusahaan sesuai dengan ketentuan yang ada dalam perusahaan.
Intensitas pengawasan yang terus menerus mensyaratkan aktivitas dan perhatian dari komisaris independen di dalam mengawasi kegiatan perseroan. Kesungguhan dan kesanggupan komisaris independen untuk benar-benar independen dan mampu menolak pengaruh, intervensi atau tekanan dari manajemen ataupun pemegang saham yang memiliki kepentingan atas keputusan tertentu. Oleh sebab itu komisaris independen dituntut untuk terhindar dari unsur benturan kepentingan berbagai kepentingan pihak tertentu. Adanya komisaris independen diharapkan mampu meningkatkan fungsi dewan komisaris sehingga tercipta GCG di dalam perusahaan. Oleh sebab itu keberadaan komisaris independen bisa memperkuat pengaruh manajemen dan struktur kepemilikan terhadap profitabilitas perusahaan.
Kerangka konsep pengaruh dewan direksi, dewan komisaris, kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial terhadap profitabilitas perusahaan
dengan komisaris independen sebagai variabel moderating dapat dibuat dalam kerangka konseptual sebagai berikut :
Gambar 3.2 Kerangka konsep pengaruh dewan direksi, dewan komisaris, kepemilikian institusional, dan kepemilikan manajerial terhadap profitabilitas perusahaan dengan komisaris independen sebagai variabel moderating