• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

3.2 Kerangka Pemikiran

Kerangka berpikir yang melandasi sistem pendukung keputusan berbasis spasial untuk penentuan lokasi pengembangan industri ini terbagi menjadi beberapa tahapan utama. Tahap pertama adalah merumuskan tujuan sistem dengan jelas yang dalam hal ini adalah untuk menentukan lokasi pengembangan industri hilir minyak kelapa sawit yang terbaik.

Tahap kedua dilakukan pengumpulan data-data entitas spasial yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan beserta dengan atribut-atribut yang diperlukan. Entitas-entitas yang terlibat dalam hal ini adalah Kebun Kelapa Sawit (KKS), Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PKS), Jaringan Jalan, dan Wilayah.

Identifikasi Kebutuhan Perancangan Prototype Pembentukan Prototype Evaluasi Prototype Sesuai Kebutuhan? Produk Rekayasa Tidak => Perbaikan Ya

Gambar 3-2 Langkah-langkah Penelitian Basic Digital Map Wilayah Peta Lokasi Pabrik CPO Peta Lokasi KKS Layering Relation Viewing Analisis Spasial View Informasi View Teranalisis Data Overlay Shape File Peta Lokasi Pelabuhan Peta Jalur Transportasi Eksisting MULAI Peta Tematik Lainnya Shortest Path (Algoritma Dijkstra) Data Tabular Analisis Interaksi Spasial Simulasi Sistem Kesesuaian Lahan Valuasi SELESAI

Tahap ketiga, entitas-entitas yang teridentifikasi tersebut selanjutnya dipetakan lokasi geografisnya dalam sistem informasi geografis yang dibangun dalam penelitian ini dalam bentuk layer-layer data. Untuk data berupa image manual, dilakukan scanning untuk mendapatkan data digital. Proses layering disini merupakan proses untuk memisahkan kategori-kategori layer yang ada dalam data digital. Hasil dari layering ini adalah data vektor yang sudah terbagai menjadi beberapa data layer sesuai dengan coveragenya masing-masing. Masing-masing layer akan mendapatkan informasi dari data tabular pada proses relation. Output dari proses ini adalah sebuah shape file (file yang berextensi.shp), dimana file inilah yang sudah siap digunakan untuk menampilkan informasi yang berbasis geografis.

Tahap keempat, dilakukan pengukuran dan standarisasi ukuran atas atribut-atribut yang diperlukan dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan lokasi masing-masing entitas baik yang terkait dengan kebun, pabrik, jalan maupun wilayah. Beberapa overlay yang diperlukan dalam analisis, dilakukan pada tahapan ini.

Tahap kelima, diidentifikasi dan dirumuskan kriteria-kriteria dan batasan/persyaratan-persyaratan untuk menentukan lokasi awal pengembangan industri hilir minyak kelapa sawit. Kriteria-kriteria ini diakuisisi dari pengetahuan dan pengalaman ahli dalam bidang pengembangan infrastruktur industri dan agroindustri minyak kelapa sawit. Adapun kriteria-kriteria tersebut adalah terkait dengan kesesuaian lahan untuk pengembangan industri, antara lain aspek pisik, lingkungan serta ekonomi, sosial dan politik. Kriteria-kriteria untuk aspek pisik adalah: (a) Luas area yang tersedia; (b) Kedekatan dengan perairan/kemudahan pengapalan; (c) Ketersediaan Utilitas & infrastruktur; (d) Akses (jarak) pada sumber air bersih; (e) Kondisi tanah; (f) Jarak ke jaringan jalan; (g) Kedalaman perairan. Kriteria-kriteria untuk aspek lingkungan adalah: (a) Angin; (b) Cuaca; (c) Tinggi gelombang; (d) Kecepatan arus; (e) Pasang surut; (f) Angin; (g) Sedimentasi; (h) Alur laut. Sementara untuk aspek ekonomi, sosial dan politik yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah: (a) Biaya investasi infrastruktur industri; (b) Biaya operasional pengelolaan kawasan; (c) Kemudahan perizinan;

(d) Pajak dan pungutan-pungutan lain; (e) Dukungan masyarakat; dan (f) Ketersediaan tenaga kerja.

Tahap keenam dilakukan evaluasi atas kriteria dan batasan yang ada untuk menentukan kesesuaian lahan untuk pengembangan industri hilir inti minyak kelapa sawit. Output dari analisis ini adalah alternatif-alternatif lokasi pengembangan industri yang memungkinkan di wilayah kajian.

Atas dasar alternatif-alternatif yang teridentifikasi, selanjutnya pada tahapan ketujuh, dilakukan analisis interaksi spasial yang terkait dengan jarak, waktu tempuh dan biaya transportasi yang dalam hal ini direpresentasikan dalam bahasa umum analisis jaringan spasial sebagai cost. Analisis interaksi spasial ini dilakukan dengan menggunakan algoritma Djikstra yang digambarkan prosesnya dalam bentuk diagram pada Gambar 3-3. Interaksi spasial ini dilakukan baik antara PKS dengan KKS maupun antara PKS dengan alternatif lokasi pengembangan industri hilir.

Output dari tahap ketujuh berupa matrik interaksi jarak, waktu tempuh dan biaya selanjutnya digunakan pada tahap kedelapan untuk menentukan volume interaksi antar enttitas tersebut diatas yang diakibatkan oleh kepentingan pasokan bahan baku. Proses penentuan ini dilakukan menggunakan model transportasi dengan fungsi tujuan meminimalkan biaya dan dengan kendala-kendala yang terkait dengan batasan suplai, permintaan dari masing-masing entitas dan waktu tempuh maksimum agar kualitas TBS masih memenuhi persyaratan pengolahan di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. Proses ini dilakukan dalam multi periode (tahunan) untuk mengakomodasi produktivitas dari tanaman kelapa sawit yang berakibat pada kemampuan suplainya. Diagram alir proses ini ditunjukkan pada Gambar 3-4.

Atas dasar kesesuaian lahan dan interaksi spasial yang telah dianalisa pada tahap-tahap sebelumnya, tahap kesembilan ini merupakan tahapan pengambilan keputusan alternatif lokasi pengembangan industri yang terbaik. Tahapan ini dilakukan dengan menggunakan spatial multi criteria decision tool IKG2012 yang dibangun dalam penelitian ini. Diagram alir yang menggambarkan proses pengambilan keputusan ini diperlihatkan pada Gambar 3-5.

Gambar 3-3 Diagram Alir Model Shortest Path dengan Algoritma Djikstra

START

+ Tetapkan node dan bobot untuk setiap lintasan + Tentukan node AWAL (I) dan TUJUAN (j)

+ Tandai semua node selain node AWAL sebagai UNVISITED + Bentuk himpunan node yang telah dikunjungi, sebut sebagai

himpunan VISITED

+ Masukkan node AWAL ke dalam himpunan VISITED + Set CURRENT = node AWAL

+ Tentukan tetangga-tetangga dari CURRENT yang termasuk dalam

himpunan UNVISITED + Ambil bobot yang paling kecil sebagai

node SELANJUTNYA

Bila ditemukan lintasan dari node X ke node SELANJUTNYA yang jumlah bobotnya ternyata LEBIH BESAR dari lintasan

CURRENT ke node SELANJUTNYA, maka hapus X dari himpunan VISITED

Masukkan node SELANJUTNYA ke dalam himpunan VISITED

Apakah CURRENT = node TUJUAN? Set CURRENT = node SELANJUTNYA Tidak

Ya

C(i,j)

Gambar 3-4 Diagram Alir Penentuan Volume Interaksi Spasial Multi Periode For Tahun (t) = 1 to Batas

Proyeksi (p) MULAI Umur Tanaman, Luas Kebun, Demand PKS D( j) Hitung Kapasitas Produksi KKS S(i)

Dapatkan Cost c(i,j) dari berkas Shortest Path

Model Shortest Path dengan Algoritma Djikstra

Hitung Volume Interaksi Spasial x(i,j)

X(i,j) t Volume Interaksi (Ton) SELESAI

Gambar 3-5 Penentuan Alternatif Lokasi Pengembangan Industri dengan Spatial MCDM

Keseluruhan tahapan proses yang dijelaskan diatas, diterjemahkan dalam sebuah sistem pendukung keputusan spasial yang dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan lokasi pengembangan industri hilir minyak kelapa sawit maupun untuk keperluan industri lainnya yang mirip.

Penentuan Lokasi Pengembangan Industri Hilir

Minyak Kelapa Sawit

Kriteria Evaluasi Kendala/

Persyaratan Lokasi

Alternatif Lokasi yang Sesuai

Kendala/peta alternatif yang layak Peta Kriteria Matriks keputusan (Decision matrix) Decision rule Pengurutan alternatif Analisa sensitivitas Rekomendasi Final Preferensi pengambil keputusan Bobot Kriteria