• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Produksi CPO dan Keterlibatan Sistem Transportasi .1 Proses Produksi

DAFTAR LAMPIRAN

2.2 Agroindustri Minyak Kelapa Sawit dan Potensi Pengembangannya .1 Agroindustri Minyak Kelapa Sawit

2.2.4 Proses Produksi CPO dan Keterlibatan Sistem Transportasi .1 Proses Produksi

Pengolahan kelapa sawit merupakan proses untuk memperoleh minyak dan kernel dari buah kelapa sawit melalui proses perebusan, pemipilan,

No Negara Produksi Pangsa Produksi

1 Indonesia 23.2 43.61%

2 Malaysia 19.3 36.28%

3 Negara Lainnya 10.7 20.11%

pelumatan, pengempaan, pemisahan, pengeringan dan penimbunan. Pengolahan kelapa sawit yang dilakukan secara mekanis dan fisika dapat berperan dengan baik jika tersedia bahan baku yang sesuai dan kinerja pabrik yang baik (Pardamean, 2008).

Proses produksi CPO dan keterkaitannya dengan transportasi digambarkan secara umum pada Gambar 2-6. Tandan buah segar (TBS) yang berasal dan diangkut dari kebun menggunakan truck pertama kali diterima di stasiun penerimaan buah untuk ditimbang di jembatan timbang dan ditampung sementara di penampungan buah (loading ramp). Loading ramp dilengkapi dengan pintu hidrolis sehingga memudahkan pengisian TBS ke lori untuk proses berikutnya.

Lori-lori yang telah berisi TBS dikirim ke stasiun perebusan (sterilizer) dengan cara ditarik menggunakan capstand yang digerakkan oleh motor listrik hingga memasuki sterilizer. Tujuan dari perebusan TBS yaitu untuk menghentikan perkembangan asam lemak bebas (ALB) atau free fatty acid (FFA), memudahkan pemipilan, pengurangan kadar air dan penyempurnaan dalam proses pengolahan inti sawit.

TBS berikut lori yang telah direbus dikirim ke bagian pemipilan dan dituangkan ke alat pemipil (thresher) dengan bantuan hosting crane. Proses pemipilan terjadi akibat tromol berputar pada sumbu yang mendatar yang membawa TBS ikut berputar sehingga membanting-banting TBS tersebut dan menyebabkan brondolan lepas dari dari tandannya. Brondolan yang keluar dari bagian bawah pemipil ditampung oleh sebuah screw conveyor untuk dikirim ke bagian digesting dan pressing. Sementara tandan kosong yang keluar dari bagian belakang pemipil ditampung oleh elevator dan yang kemudian dikirim ke hopper untuk dijadikan pupuk.

Brondolan yang telah terpipil dari stasiun pemipilan diangkut ke bagian pengadukan/pencacahan (digester). Tujuan utama dari proses digesting yaitu mempersiapkan daging buah untuk proses pressing/pengempaan. Sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah dengan kerugian yang sekecil-kecilnya. Hasil cacahan langsung masuk ke alat pengempaan yang berada persis di bagian bawah digester.

Minyak kasar yang dihasilkan dari proses press harus dibersihkan dari kotoran, baik yang berupa padat (solid), lumpur (sludge), maupun air. Tujuan dari proses pemurnian agar diperoleh minyak dengan kualitas sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak. Selanjutnya CPO yang dihasilkan dikirimkan ke tanki penyimpanan.

Gambar 2-6 Proses Produksi CPO dan Keterlibatan Transportasi

2.2.4.2 Sistem Transportasi Produk

Produk CPO setelah berada dalam tanki penyimpanan, siap didistribusikan kepada konsumen. Dalam pendistribusiannya, sebelum produk sampai ke tangan konsumen harus melalui tahap pengiriman, penimbunan dan pengapalan.

Pengiriman yang dimaksudkan disini adalah membawa atau mengeluarkan produk minyak kelapa sawit dari pabrik ke unit berikutnya. Unit ini dapat berupa stasiun penimbunan atau langsung pengapalan. Untuk keperluan pengiriman produk, dilakukan pembongkaran dan pemuatan ke alat/kendaraan pengangkut.

Penimbunan dilakukan untuk menunggu saat produk minyak kelapa sawit dikapalkan atau digunakan oleh industri lainnya. Penimbunan dilakukan di

penjagaan dan pengawasan dilakukan oleh pihak bulking station. Untuk menjaga dan menjamin kualitas dari produk yang disimpan, pihak bulking station harus melakukan tindakan-tindakan yang perlu dan sesuai.

Menurut Pahan (2010) ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada pengapalan komoditas CPO ini, antara lain, bentuk perdagangan (commercial

term) yang digunakan, pelaku dalam sistem pengapalan dan kapal pengangkut. a. Bentuk Perdagangan

Bentuk perdagangan yang umum digunakan pada perdagangan CPO di Indonesia yaitu free on board (FOB) dan Cost Insurance and Freight (CIF) (Pahan, 2010). Pada FOB, kewajiban penjual dalam jenis transaksi ini yaitu menyediakan dan memasukkan barang ke kapal dalam kuantitas, kualitas dan tempat yang disepakati. Namun, penjual harus menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kelancaran proses transaksi, termasuk dokumen ekspor. Kewajiban pembeli dalam hal ini yaitu mencari kapal, menyediakan ruangan dalam kapal, menetapkan pelabuhan, menginformasikan waktu sandar, serta menanggung semua biaya dan risiko terhadap barang sejak melewati bibir tanki termasuk pembongkarannya. Bentuk-bentuk perdagangan yang lainnya, dapat dilihat pada Gambar 2-7 yang dikutip dari International Chamber of Commerce (ICC).

Pada CIF, kewajiban penjual menyediakan seluruh fasilitas agar barang yang diperdagangkan sampai di pelabuhan tujuan yang dijanjikan. Namun, risiko (bukan biaya) selama pengangkutan menjadi tanggung jawab pembeli yang dilimpahkan ke asuransi atas biaya penjual. Kewajiban pembeli yaitu melakukan pembongkaran serta pengurusan seluruh dokumen yang diperlukan.

b. Pelaku dalam Sub-Sistem Pengapalan

Pengapalan merupakan titik peralihan pemilikan, tanggung jawab, biaya dan lain-lain dari pihak penjual ke pihak pembeli. Dalam unsur ini, banyak yang terlibat seperti pihak pengapal (shippers), pemilik kapal (ship owner), perantara (broker), agen pengapalan, surveyor, dan pembeli yang saling terkait. Ketimpangan pada salah satu mata rantai ini akan menyebabkan kericuhan dalam seluruh sistem.

Gambar 2-7 Titik Serah Barang dalam Perdagangan Internasional

c. Kapal Pengangkut

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap kapal yang akan disewa, antara lain: 1) Kesesuaian kapal untuk perdagangan minyak sawit, termasuk negara pemilik (nationality), bendera tempat kapal terdaftar (flag), umur kapal, jenis tanki dan pelapisannya, serta ukuran tanki dan pompa; 2) Pemilik kapal terbiasa dengan terminologi kebersihan sawit. Awak kapal secara kesatuan menyadari fungsi mereka sebagai pembawa dan pemelihara barang yang dibawa. Disamping itu, pemilik kapal juga paham tentang lay days (kelambatan) penundaan dan praktik sesuai dengan kontrak perdagangan minyak sawit. Dalam hal ini berlaku ketentuan the last three cargo yang berarti dipersyaratkan kapal tersebut hanya mengangkut MKS pada 3 pelayaran sebelumnya; 3) Kapal harus terklasifikasi, disertifikasi, dan diasuransikan dengan baik dan 4) Produk dalam kapal harus dihindari dari kontaminasi logam berat .

Meskipun penjualan minyak sawit Indonesia umumnya dilakukan secara FOB, tidak berarti bahwa penjual dapat sesukanya memuat barang ke dalam tanki yang sudah ditunjuk oleh penjual. Penjual tetap memiliki kewajiban untuk memeriksa kesiapan dan kebersihan kapal untuk memuat minyak yang diperdagangkan. Jika ditemukan tanki kapal yang tidak layak digunakan untuk memuat minyak sawit, penjual wajib memberitahukan kepada pembeli. Keputusan pemuatan ada di tangan pembeli dengan risiko pada pembeli pula.