BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.3 Model Teoritik
2.3.1 Kerangka Pemikiran
Pada dasarnya kerangka berfikir (framework of thinking) sama dengan kerangka teoritis (theoretical framework). Kerangka berfikir dapat diartikan sebagi model konseptual mengenai bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor atau variable yang telah dikenali (diidentifikasi) sebagai masalah yang penting sekali. Penentuan dari suatu variable atau faktor dipertimbangkan untuk diteliti, karena merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah, benar-benar didasarkan pada teori yang relevan (Sekaran, 2000).
Pencitraan WIN-HT dalam Kuis Kebangsaan
Oposisi Negosiasi
Hegemoni Dominan
Pemaknaan Penonton
Universitas Sumatera Utara
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan. Metode penelitian perlu dibedakan dari teknik pengumpulan data yang merupakan teknik yang lebih spesifik untuk memperoleh data (Soehartono, 2008: 9).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menjaring informasi, dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu obyek, dihubungkan dengan pemecahan suatu masalah, baik dari sudut pandangan teoritis maupun praktis. Ada dua hal yang ingin dicapai dalam penelitian kualitatif, yaitu: (1) menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena sosial dan memperoleh suatu gambaran yang tuntas terhadap proses tersebut, dan (2) menganalisis makna yang ada di balik informasi, data dan proses suatu fenomena sosial itu (Nawawi, 1995: 209).
Penelitian kualitatif yang peneliti gunakan adalah pendekatan analisis resepsi, yaitu penelitian yang mendasarkan pada kesadaran atau cara subjek dalam memahami objek dan peristiwa dengan pengalaman individu. Analisis resepsi dapat melihat mengapa khalayak memaknai sesuatu secara berbeda, faktor-faktor psikologis dan sosial apa yang mempengaruhi perbedaan tersebut, dan konsekuensi sosial yang muncul (Anggara, 2012: 32).
Teknik yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengambilan sampel yang lebih mendasar daripada alasan atau pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian dan merupakan teknik pengambilan sampel yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif (Pawito, 2007).
3.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah sesuatu yang diteliti baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi). Subjek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai
kesimpulan hasil penelitian. Di dalam subjek penelitian terdapat objek penelitian (Azwar, 2009: 35).
Istilah yang digunakan untuk menyebut subjek penelitian dalam penelitian kualitatif adalah informan. Sebagai subjek, para informan tidak diterapkan suatu perlakuan tertentu, tetapi yang bersangkutan tetap menjalankan kehidupan kesehariannya seperti biasa. Dalam hal ini sisi naturalistik kehidupan informan tidak dikontrol peneliti. Asumsi yang dikedepankan adalah bahwa seorang informan adalah yang paling tahu tentang dirinya sehingga peneliti harus dapat menggali objek yang diteliti pada informannya (Idrus, 2009: 24).
Subjek penelitian atau informan dalam penelitian ini adalah penonton.
Karakteristik informan dikategorikan dengan pertimbangan sebagai berikut:
- usia (diatas 17 tahun),
- jenis kelamin (laki-laki/perempuan), - pendidikan (minimal SMA/Sarjana),
- pekerjaan (misalnya: pelajar/ mahasiwa/ dosen/ pedagang/ wartawan, pegawai negeri atau swasta/ ibu rumah tangga dan sebagainya),
- frekuensi menonton (minimal 3 kali).
Informan yang diteliti berjumlah 4 orang dan berlokasi di kota Medan.
Informan I dipilih berdasarkan tingkat pendidikannya, peneliti memilih mahasiswa yang sudah pernah mempelajari komunikasi dan politik. Informan II peneliti memilih dosen/ahli politik, dikarenakan berpengalaman dari segi keilmuan. Informan III peneliti memilih mahasiswa yang tidak pernah mempelajari komunikasi dan politik. Informan IV peneliti memilih ibu rumah tangga yang tidak memiliki kegiatan apapun di luar rumah. Keberagaman informan ini bertujuan untuk mendapatkan pemaknaan yang bervariasi dari setiap informan yang terpilih dan mereka dipilih secara purposive sampling, karena berdasarkan tujuan penelitian dan kriteria informan yang dicari.
3.3 Objek Penelitian
Objek penelitian adalah sifat keadaan dari suatu benda, orang atau yang menjadi pusat perhatian dan sasaran penelitian. Sifat keadaan yang dimaksud dapat berupa kuantitas dan kualitas yang dapat pula berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan, penilaian, sikap pro-kontra, simpati-antipati, keadaan batin, dan juga berupa proses (Azwar, 2009: 35).
Universitas Sumatera Utara
Objek penelitian adalah pencitraan WIN-HT dalam tayangan Kuis Kebangsaan di RCTI yang tayang setiap hari pada pukul 09.30 WIB.
3.4 Kerangka Analisis
Penelitian kualitatif ini didesain dengan menggunakan analisis resepsi.
Pendekatan analisis resepsi digunakan karena pada dasarnya audiens aktif meresepsi teks dan tidak dapat lepas dari pandangan moralnya, baik pada taraf mengamati, meresepsi atau dalam membuat kesimpulan. Dengan analisis resepsi ini, peneliti berupaya untuk mengetahui bagaimana khalayak memahami dan menginterpretasi isi pesan (memproduksi makna) berdasarkan pengalaman (story of life) dan pandangannya selama berinteraksi dengan media. Dengan kata lain pesan-pesan media secara subjektif dikonstruksikan khalayak secara individual.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data kualitatif menggunakan metode pengamatan yang umumnya digunakan dari tradisi kualitatif seperti wawancara, observasi, dan diskusi (Bungin, 2007). Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan, adalah:
1. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Bungin, 2007:
108).
2. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindera mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindera lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. Karena itu, observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindera mata serta dibantu dengan panca indera lainnya (Bungin, 2007: 115).
3. Dokumenter
Metode dokumenter adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalm metodologi penelitian sosial. Teknik ini digunakan untuk menelusuri data historis. Teknik dokumenter terbagi dua yaitu dokumenter resmi dan pribadi. Sebagian besar data tersedia dalam metode documenter adalah berbentuk surat, catatan harian, cendera mata dan laporan. Sifat utama dari data tidak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam.
Kumpulan data berbentuk tulisan ini disebut dokumen dalm arti luas termasuk monument, artefak, foto, tape, mikrofin, disc, CD, harddisk, flashdisk, dan sebaginya (Bungin, 2007: 122).
4. Kepustakaan
Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literatur. Data yang diperoleh melalui tinjauan pustaka dengan mempelajari buku-buku, jurnal, dan sebagainya yang di anggap punya relevansi dengan fokus masalah yang mendukung penelitian.
3.6 Teknik Analisis Data
Proses analisis data dalam penelitian ini menggunakan tahapan coding.
Coding adalah proses yang melibatkan pelabelan atau mengindeks semua data menggunakan kode yang tercantum dalam codebook. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menggunakan kode dalam mencari data untuk mengidentifikasi semua segmen teks dimana kode tertentu disebutkan, sehingga analisis data dapat difokuskan pada segmen tertentu (Hennink, 2011: 225).
Coding dilakukan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematisasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Dengan demikian pada gilirannya peneliti dapat menemukan makna dari data yang dikumpulkannya (Poerwandari, 2005: 150).
Menurut Strauss dan Corbin (Poerwandari, 2005), ada tiga tahapan coding dalam analisis data, yaitu:
1. Open Coding, adalah proses mengidentifikasi, mengelompokkan dan menggambarkan fenomena yang ditemukan dalam teks.
Universitas Sumatera Utara
2. Axial Coding, adalah proses mengaitkan kategori antara satu dengan yang lain, melalui kerangka berpikir induktif ataupun deduktif.
3. Selective Coding, adalah proses memilih satu kategori sebagai kategori inti, menghubungkan secara sistematis ke kategori-kategori lain, melakukan validasi hubungan-hubungan tersebut, dan dimasukan ke dalam kategori-kategori yang diperlukan lebih lanjut untuk perbaikan dan pengembangan.
Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam menggunakan analisis resepsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber seperti yang sudah dijabarkan di bagian teknik pengumpulan data yaitu, melalui wawancara, observasi/pengamatan, yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan maupun dari dokumen tambahan yang diperoleh selama melakukan peneltian.
2. Melakukan reduksi data dengan cara mengumpulkan seluruh transkrip wawancara sekaligus open coding yang mengandung informasi penting berkaitan dengan masalah penelitian.
3. Kemudian peneliti mulai melakukan pemetaan aspek-aspek yang terkait dengan fenomena yang dibahas dalam penelitian sekaligus memisahkan transkrip wawancara masing-masing informan. Pada tahap ini informasi penting sudah ditandai pada tahap sebelumnya yakni, open coding. Maka selanjutnya peneliti akan menyeleksi kalimat mana yang akan dijadikan kutipan dan memindahkan ke table axial coding sesuai dengan konsepnya.
4. Berikutnya data tersebut disusun dalam bentuk narasi deskriptif, sehingga terbentuk rangkaian informasi yang berurutan sesuai kerangka berpikir yang induktif (khusus-umum) ke dalam table selective coding.
5. Mencatat temuan-temuan yang didapat dari hasil penelitian sesuai yang tertera pada table selective coding.
6. Hasil temuan tersebut kemudian dikembangkan dan dianalisis secara mendalam.
7. Menarik kesimpulan berdasarkan analisis untuk menjawab permasalahan penelitian.
8. Melakukan cross-check kepada informan agar tidak terdapat kesalahan pemaknaan pada penelitian
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Deskripsi Kuis Kebangsaan
Kuis Kebangsaan pertama kali tayang di salah satu stasiun televisi swasta nasional, yaitu RCTI (Rajawali Citra Televisi). Kuis ini tayang perdana pada hari Selasa, tanggal 1 Oktober 2013 pada pukul 10.00 dan 17.00 WIB dihari yang sama. Latar belakang tempat yang digunakan bertulisankan Kuis Kebangsaan dan berada di dalam studio. Warna yang umum ditampilkan bernuansa biru serta jingga dengan menampilkan visualisasi yang berganti-ganti. Saat tayang pertama kali kuis tersebut dibawakan oleh seorang pembawa acara wanita. Pembawa acara mengucapkan salam, lalu memperkenalkan diri, kemudian menjelaskan tentang kuis, seperti jika pembawa acara mengatakan Wiranto-Hary Tanoesoedibjo, penelepon nanti akan menjawab dengan password “Bersih, Peduli, Tegas”, kemudian menjelaskan jika kuis tersebut bertujuan untuk menguji pengetahuan dan wawasan peserta yang mengikuti kuis, khususnya tentang Indonesia seperti sejarah, geografi, pengetahuan umum, hingga hal-hal terbaru tentang Indonesia dan memberitahu hadiah yang akan dipersembahkan, sebab setiap hari hadiah yang dipersembahkan berbeda. Setelah itu, pembawa acara memperkenalkan dua orang tamu yang menemaninya untuk mengisi kuis tersebut. Selanjutnya, pembawa acara mengajak pemirsa di rumah untuk mengikuti kuis dengan menghubungi langsung via telepon di nomor (021) 5360583 untuk daerah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) atau (021) 5360582 untuk penelepon di luar Jabodetabek. Dua orang yang beruntung bisa mengikuti kuis tersebut secara langsung.
Penelepon yang berhasil menghubungi secara langsung terlebih dahulu mengucapkan password “Bersih, Peduli, Tegas”, setelah pembawa acara mengatakan WIN-HT, lalu ditanyakan nama dan daerah asal oleh si pembawa acara. Setelah menjawab, penelepon diberikan lima pilihan huruf, yaitu huruf W, I, N, H dan T di layar kaca. Penelepon memilih huruf yang telah ditawarkan, selanjutnya pembawa acara mempersilahkan tamu yang tadi sudah diperkenalkan
Universitas Sumatera Utara
untuk membacakan soal yang akan ditanyakan. Soal dibacakan oleh si penanya beserta pilihan jawaban, kemudian penelepon menjawab pertanyaan tersebut. Jika jawaban benar, si penanya akan mengatakan benar, begitupun sebaliknya jika jawaban salah si penyanya akan mengatakan salah. Setelah itu, si penanya akan membacakan pernyataan yang lebih lengkap dan mendukung terkait soal tersebut.
Begitu juga dengan penelepon yang kedua, cara yang dilakukan sama.
Kedua penelepon yang beruntung akan mendapatkan hadiah yang dipersembahkan, kemudian si pembawa acara akan mengatakan jika pajak hadiah ditanggung oleh Wiranto-Hary Tanoesoedibjo dan kuis tersebut dipersembahkan atau disponsori oleh Wiranto-Hary Tanoesoedibjo. Hadiah yang dipersembahkan setiap hari berganti, seperti handphone, mesin cuci, alat elektronik, alat memasak, dan lain-lain. Setelah semua selesai, si pembawa acara pamit undur diri dan mengatakan untuk tidak lupa menyaksikan Kuis Kebangsaan yang akan tayang setiap hari pada pukul 10.00 dan 17.00 WIB, lalu mengucapkan salam.
Format kuis yang seperti itu tidak berlangsung lama. Pihak penyelenggara kuis memajukan jam tayang kuis pada pagi hari menjadi pukul 09.30 WIB, dimana lebih cepat setengah jam dari waktu sebelumnya. Selain itu, cara mengikuti kuis yang awalnya menggunakan via telepon langsung, berganti menjadi harus daftar terlebih dahulu via web. Pembawa acara menjelaskan tata cara mengikuti kuis, dimana peserta kuis harus mendaftar terlebih dahulu di situs www.rcti.tv/winht, dengan mengisi nama, usia, nomor telepon, alamat, asal provinsi, serta pekerjaan. Pendaftar yang beruntung terpilih, kemudian akan dihubungi terlebih dahulu via telepon oleh tim Kuis Kebangsaan, untuk verifikasi data seputar nama lengkap, alamat lengkap sesuai KTP serta NPWP jika ada dan dijelaskan tentang tata cara mengikuti kuis saat on air, serta diberi tahu sedikit petunjuk tentang pertanyaan. Sehingga, pada saat kuis yang berdurasi hanya sekitar 5 menit tersebut tayang, waktu yang digunakan dapat lebih singkat.
Selebihnya tentang password, pilihan huruf, yang membacakan soal hingga yang mempersembahkan hadiah tersebut tetap sama formatnya.
4.1.2 Latar Belakang Informan
Informan I adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Informan I adalah seorang perempuan yang memiliki bentuk wajah bulat, hidaung yang tidak terlalu mancung dan berukuran sedang, mata besar dan bulat, alisnya tegas dan memiliki ketebalan bibir sedang. Kesehariannya memakai jilbab dan kacamata yang tidak pernah lepas saat berada di luar rumah atau kosan. Ia biasa memakai kemeja atau kaos lengan panjang disertai celana jeans panjang dan sesekali memakai rok. Informan I memiliki postur badan yang tinggi sekitar 163 cm dengan berat badan 55 kg membuat tubuhnya lebih kelihatan berisi, tinggi dan proposional untuk ukuran perempuan seusianya.
Perempuan kelahiran kota Metro yang terletak di Provinsi Lampung, pada tanggal 10 September 1992. Ia merupakan gadis keturunan suku batak toba dan mandailing, dengan ayah bermarga Tampubolon, sedangkan ibu Siregar. Anak pertama dari empat bersaudara, dengan satu orang adik perempuan dan dua orang adik laki-laki. Ia menghabiskan masa sekolahnya dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) si kota Sibolga, Sumatera Utara.
Informan I merupakan siswa yang pintar dan rajin di sekolahnya saat SMA, hingga di akhir masa kelulusan SMA ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah melalui jalur PMP. Jalur tersebut mengantarnya lulus dan diterima di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU pada tahun 2010. Setelah masuk dan bergabung menjadi mahasiswi Ilmu Komunikasi USU, dengan kemauannya sendiri ia masuk dan magang menjadi salah satu anggota di UKM USU yaitu Pers Mahasiswa Suara USU. Di sana ia banyak belajar hal seputar jurnalistik dan segala aspeknya hingga ia diangkat menjadi Sekertaris Umum Pers Mahasiswa Suara USU periode 2012 hingga 2013. Selain itu, ia juga aktif sebagai anggota seni tari di Lembaga Kesenian USU dan pernah menjabat sebagai Sekertaris Inisiasi tahun 2012. Segala kesibukan itu tetap dapat ia atasi tanpa terlalu mengganggu aktivitas perkuliahannya.
Kesehariannya di kampus cukup banyak dikenal oleh junior atau senior maupun mahasiswa atau mahasiswi dari departemen lain. Pribadi yang ceria, rajin, tekun dan sederhana membuatnya cepat menyesuaikan diri dengan
Universitas Sumatera Utara
lingkungan sekitar. Namun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Persma Suara USU tempat ia menimba ilmu selain di kelas saat jam mata kuliah berlangsung. Ia juga memiliki beberapa teman akrab yang saling mendukung satu sama lain.
Sejak memasuki masa perkuliahan, ia tinggal dan menyewa satu kamar di Jalan Prof. A. Sofyan No. 24 yang berdekatan dengan gedung perkuliaan FISIP tempat ia menimba ilmu. Hal ini sengaja ia pilih agar tidak jauh dari kampus dan mengirit biaya transportasi serta waktu. Informan I mengisi waktu kosongnya dengan menonton televisi, ia merupakan salah satu penggemar FTV (Film Televisi) yang setiap hari ditayangkan oleh SCTV. Hampir seluruh judul FTV pernah ia tonton apabila tidak ada kegiatan di luar. Informan I pertama kali menonton Kuis Kebangsaan saat berada di kosan di sela-sela waktunya saat menonton televisi, sewaktu tidak ada jam perkuliahan atau saat hari libur. Ia tidak sengaja menonton kuis tersebut saat mau mengganti ke siaran lain, tetapi karena rasa penasaran akan kuis tersebut, ia kemudian menyaksikannya hingga selesai.
Informan II adalah seorang staf pengajar sekaligus alumni dari Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Informan II adalah seorang wanita yang memiliki bentuk wajah lonjong, hidung yang tidak terlalu mancung, mata bulat, serta bibir yang tipis. Ia memiliki tinggi badan sekitar 160 cm dan berat badan sekitar 42 kg.
Ia selalu menggunakan jilbab yang lebar dipadukan dengan baju terusan panjang setiap hari jika ada kegiatan di luar rumah, termasuk saat berada di kampus. Ia sering tampil dengan busana berwarna lembut, walau terkadang ia juga memberanikan diri menggunakan warna yang cerah.
Informan II lahir di Medan, 24 September 1987. Ayahnya berdarah Banjar, sedangkan sang ibu berdarah campuran Aceh dan Jawa. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Walaupun memiliki adik perempuan, namun ia mengaku tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat. Hal tersebut dikarenakan perbedaan sifat yang begitu kentara.
Kedua orangtua informan II mendidik anak-anaknya dalam lingkungan agama yang kuat serta demokratis. Baik urusan pendidikan, pekerjaan, ataupun pasangan hidup, dipercayakan sepenuhnya kepada anak-anaknya. Walaupun ketiga saudaranya sudah menikah dan usia Informan II sudah cukup memasuki
jenjang pernikahan, ia mengaku tidak mendapat paksaan dari pihak keluarga. Saat ini Informan II masih tinggal dengan kedua orangtua dan seorang saudara laki-lakinya.
Informan II memiliki sifat yang ramah, periang namun sangat tegas. Ia sering melibatkan diri dalam diskusi panjang mengenai banyak hal. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, hingga film dan musik. Tidak jarang ia pulang larut malam karena terlalu asyik mengobrol dengan dosen ataupun teman-temannya.
Dengan wawasannya yang luas serta sifatnya yang ramah, ia tidak sulit mengakrabkan diri dengan orang lain. Namun jika ada seseorang atau sesuatu hal yang ia anggap berlaku salah, ia tidak segan menunjukkan ketegasannya melalui ucapannya yang blak-blakan dan bernada ketus.
Informan II memiliki hobi menonton film dan membaca. Film favoritnya adalah “Confucius”, sedangkan buku favoritnya adalah “Budaya Konsumerisme”
yang ditulis oleh Jean Baudillard. Setelah menonton film atau membaca buku yang dianggapnya bagus, ia selalu merekomendasikannya pada teman bahkan mahasiswanya di kelas.
Saat masih berstatus mahasiswa, informan II pernah menjadi kakak mentor agama Islam bagi mahasiswi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Walau tidak lagi aktif sebagai mentor, ia masih menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan adik-adik bimbingannya ataupun dengan kawan-kawan sesama mentor. Ia juga sering menghabiskan waktunya untuk sekedar berdiskusi atau berkumpul dengan teman-temannya di Kede Keupie Ulee Kareng, Mie Sop Kampung dan Warung Steak and Shake.
Informan II juga aktif dalam kegiatan di luar kampus, seperti menjadi guru bagi anak-anak jalanan, menyelenggarakan bakti sosial serta melakukan penelitian sosial ke daerah di luar kota Medan. Kesibukan membuat ia jarang berada di rumah, namun saat di rumah ia masih menyempatkan diri menyaksikan acara di televisi disela ia mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pertama kali menyaksikan Kuis Kebangsaan, informan II juga secara tidak sengaja. Saat itu ia menyaksikan Kuis Kebangssan yang tayang pada sore hari,
Informan III juga merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Medan.
Universitas Sumatera Utara
Informan III lahir di Medan, 17 Maret 1992 merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Selain kuliah, kini ia bekerja sebagai honorer pada kantor pemerintahan di Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan (Dinas Perkim).
Ia memiliki keahlian dibidang desain rumah, gambar dan merancang bangunan sekolah, mesjid, perkantoran dan tempat umum seperti taman, mall, tempat rekreasi dan lain-lain. Tak hanya menggambar dan mendesain, ia juga mampu dibidang merencanakan anggaran biaya. Hal ini didukung sebab ia merupakan lulusan salah satu SMK Negeri di Kota Medan pada bidang bangunan dan pernah menjuarai lomba siswa SMK tingkat nasional. Selain tugas kantor dan tugas kuliah, ia juga menerima pesanan rancangan bangunan dari luar, jika ada kantor, perusahaan atau orang yang mau menggunakan jasanya untuk mendesain atau merancang kantor dan rumah mereka. Biaya yang ia tawarkan masih standard dan tidak tinggi, sebab ia sadar ia masih pemula yang masih harus banyak belajar.
Laki-laki yang lahir dan besar di kota Medan tinggal bersama orang tua di daerah Simalingkar. Ia berperawakan cukup tinggi untuk ukuran laki-laki seusianya, putih, mata hampir cipit, hidung mancung, serta dengan sedikit jerawat di pipi. Kesehariannya berpenampilan sederhana, suka memakai kaos dan jaket, hanya memakai kemeja saat bekerja dan kuliah, ditambah celana jeans dan sepatu.
Mahasiswa berdarah minang ini, selain bekerja dan kuliah, biasanya juga membantu ibunya berjualan nasi dan menjaga warung internet (warnet) yang
Mahasiswa berdarah minang ini, selain bekerja dan kuliah, biasanya juga membantu ibunya berjualan nasi dan menjaga warung internet (warnet) yang