• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pemikiran Teoritis 1 Pengertian Manajemen

UCAPAN TERIMAKASIH

10. Bagaimana promosi yang dilakukan agar produk-produk BMT ini dikenal masyarakat?

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 1 Pengertian Manajemen

Pengertian Manajemen dapat merujuk kepada orang/sekelompok orang atau bisa kepada proses. Dalam hal pengertian manajemen ini menunjuk kepada proses, maka manajemen dapat diberi batasan sebagai perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan lain-lain sumberdaya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Keempat fungsi tersebut merupakan kunci bagi keberhasilan suatu manajemen. 14

Manajemen sebagaimana di definisikan oleh (Stoner) adalah proses perencanaan, pengorganisasian dan penggunakan sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi tang telah ditetapkan. 15

Pemahaman terhadap konsep manajemen tidak dapat dipisahkan dari konsep organisasi. Secara sederhana organisasi adalah tempat orang-orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu sebagai elemen mendasar. Masalah pokok manajemen organisasi tidak lain adalah bagaimana mengelola dan mengalokasikan sumber daya (manusia, modal, fisik, uang, dll) untuk mencapai sasaran atau tujuannya.

Stoner, dkk. (1996 dalam Burhanuddin) mendefinisikan manajemen adalah kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan terus menerus dalam membentuk dan menjalankan organisasi. Semua organisasi mempunyai penanggung jawab terhadap organisasi untuk mencapai sasarannya, orang tersebut adalah manajer. Memperkuat pendapat Stoner itu, Gibson, (1996 dalam Burhanuddin) mendefinisikan manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu individu atau lebih untuk mengkordinasikan berbagai aktivitas untuk mencapai hasil lebih baik yang tidak dapat dicapai apabila individu bertindak sendiri sendiri.

14

Baga, Lukman M, dkk. Koperasi dan Kelembagaan Agribisnis, 2009, h.135

15

20 3.1.2 Fungsi dan Proses Manajemen

Para pakar manajemen sejak akhir abad ke-XIX, mendefinisikan manajemen dalam empat fungsi spesifik, yaitu Planning, Organizing, Directing,

dan Controlling. Perkembangan terkini, para pakar manajemen Amerika

cenderung hanya menganut tiga fungsi utama yaitu Planning, Organizing, dan Controlling sebab dianggap bahwa Directing sebenarnya termasuk dalam fungsi perencanaan (Gibson, et. al., 1996:174 dalam Burhanuddin). Proses manajemen adalah cara sistematik yang sudah ditetapkan dalam melakukan kegiatan yang menekankan manajer terlibat dalam aktivitas yang saling terkait dalam fungsi- fungsi manajemen untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang diinginkan.

Dalam praktek, penerapan fungsi pengendalian dalam manajemen modern dikaitkan dengan orientasi peningkatan kualitas secara menyeluruh. Konsep ini dikenal sebagai Total Quality Management (TQM) dan istilah total mengandung makna every process, every job and every person (Lewis and Smith, 1994 dalam Burhanuddin).

Pengertian TQM dibedakan dalam dua aspek (Goetsch and Davis, 1994 dalam Burhanuddin). Aspek pertama menguraikan pengertian TQM yaitu pendekatan dalam menjalankan bisnis/usaha yang berupaya memaksimalkan daya saing melalui penyempurnaan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan li

ngkungan organisasi. Aspek kedua adalah cara mencapainya dan berkaitan dengan 10 karakteristik TQM. Creech (1996 dalam Burhanuddin) di sisi lain mengemukakan terdapat lima pilar untuk berhasil menerapkan TQM, yaitu produk, proses, organisasi, pemimpin dan komitmen.

1. Perencanaan

Perencanaan dapat didefinisikan sebagai penentuan terlebih dahulu apa yang harus dikerjakan, kapan harus di kerjakan dan siapa yang mengerjakan. Dalam perencanaan ini terlibat unsur penentuan, yang berarti bahwa perencanaan tersebut tersirat pengambilan keputusan.

21 2. Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah proses menejerial yang berkelanjutan. Tujuan dari pengorganisasian adalah untuk mengelompokann kegiatan, sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya yang di miliki organisasi agar pelaksanaan dari suatu rencana dapat dicapai secara efektif dan efisien. Langkah pertama dalam pengorganisasian ini yang umumnya harus dilakukan sesudah perencanaan adalah proses mendesain organisasi yaitu penentuan struktur organisasi yang paling memadai untuk strategi, orang, teknologi dan tugas organisasi.

3. Kepemimpinan

Menurut (Stogdill dalam Baga et al), kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas kelompok untuk tujuan tertentu. (Stoner dalam Baga et al) memberikan definisi kepemimpinan manajerial sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.

4. Pengendalian

Menurut (Mockler dalam Baga et al), pengendalian adalah suatu upaya yang sistematis untuk menetapkan standar prestasi dengan sasaran perencanaan, merancang sistem umpan balik informasi dengan membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar yang terlebih dahulu ditetapkan, menentukan apakah ada penyimpangan dan mengukur signifikasi penyimpangan yang di perlukan untuk menjamin bahwa penggunaan sumberdaya sedapat mungkin dengan cara yang paling efektif dan efisien guna tercapainya sasaran perusahaan.16

3.1.3 Sistem Penggajian (Renumerasi)

Para peneliti dan praktisi manajemen telah berusaha mengembangkan pemahaman terhadap hubungan antara struktur organisasi dengan kinerja, sikap karyawan, kepuasan kerja dan berbagai variabel lain yang dianggap penting. Namun usaha pemahaman tersebut terhambat oleh kerumitan hubungan diantara

16

22 variabel-variabel tersebut dan kesulitan dalam mengukur dan menentukan konsep struktur organisasi itu (Gibson, et. al., 1996: 235 dalam Burhanuddin).

Oleh sebab itu, dimensi sistem penggajian dan sistem karir dimasukkan dalam ranah struktur organisasi untuk kemudian menjadi variabel sendiri dalam ranah manajemen sumberdaya manusia sebagai cabang ilmu manajemen yang mendalami masalah tersebut. Sistem penggajian (renumerasi) atau sistem kompensasi merupakan hal yang paling mendasar dari manajemen sumberdaya manusia sebab adanya tenaga dan pikiran yang dicurahkan untuk mendapatkan kompensasi. Kompensasi dapat mencakup insentif untuk meningkatkan motivasi karyawan yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas karyawan. Kompensasi didefinisikan sebagai what employees receive in exchange for their

work, including pay and benefits. (Werther, 1994 dalam Burhanuddin).

Definisi lain menyebutkan Compensation refers to all forms of financial returns, tangible services, and benefits employees recieve as part of an

employment relationship. (Milkovich, 1988 dalam Burhanuddin) Pengertian ini

menjelaskan bahwa kompensasi merupakan hal penting karena pendapatan dan benefit lainnya pada dasarnya merupakan sesuatu untuk memenuhi banyak kebutuhan karyawan. Selain itu juga pendapatan dan benefit lain merupakan simbol prestise, kekuasaan, prestasi dan status karyawan dalam masyarakat. Setiap orang yang menukarkan jasanya kepada organisasi dengan harapan akan memperoleh imbalan. Penentuan besarnya kompensasi memerlukan banyak pertimbangan.

Milcovich (1988 dalam Burhanuddin) menciptakan suatu model yang menggambarkan faktor-faktor yang terlibat dalam pengambilan keputusan dalam hal kompensasi bagi karyawan. Pada model tersebut dapat dilihat bahwa faktor- faktor yang berada di luar teknik kompensasi sebenarnya bertujuan untuk menciptakan efisiensi serta equity bagi karyawan dan perusahaan.

Model ini memperlihatkan secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan maupun ketidakpuasan karyawan dalam hal kompensasi. Hal ini dibandingkan dengan beban pekerjaan serupa yang ditangani karyawan setingkat di organisasi lain, misalnya tentang karakteristik pekerjaan, hasil yang didapat dari sisi non finansial, pendapatan yang pernah diperoleh karyawan

23 sebelumnya, pendapatan yang diperoleh karyawan setingkat di organisasi lain serta pendapatan yang diperolehnya di organisasi. Kompensasi langsung berupa upah/gaji dan insentif, sedangkan kompensasi tidak langsung dapat berupa tunjangan-tunjangan.

Dalam hal ini (Flippo dalam Burhanuddin) membedakan tiga jenis kompensasi, yaitu kompensasi dasar, kompensasi variabel, dan kompensasi tambahan tunjangan. Kompensasi dasar berupa upah/gaji biasanya didasarkan pada hasil evaluasi pekerjaan. Evaluasi pekerjaan jika dikaji bersamaan dengan

survey atas dasar tarif-tarif yang dibayar oleh perusahaan pesaing, akan membantu

perumusan kebijakan upah dan gaji yang memadai. Ini berarti penyusunan kebijakan upah atau gaji harus konsisten dengan kondisi internal dan kondisi eksternal organisasi.

3.1.4 Sistem Karir

Dalam manajemen sumberdaya manusia, sistem karir karyawan merupakan bagian dari program pengembangan, penghargaan dan pemeliharaan (maintaining) karyawan. Dalam kondisi kompetisi perusahaan industri terdapat suatu kendala yang dirasakan setiap perusahaan, yaitu keterbatasan tersedianya sumberdaya manusia yang handal agar perusahaan mampu bertahan. Untuk mengatasi masalah tersebut sering perusahaan mengambil jalan pintas dengan membajak atau memberi tawaran karir dan penghargaan yang lebih menarik dibandingkan dengan perusahaan asal.

Khusus mengenai sistem karir, rotasi dan penghargaan diakui oleh para ahli dan kalangan praktisi manajemen bisnis dapat menunjang produktivitas kerja para karyawan, sebab faktor tersebut berpengaruh terhadap motivasi kerja. Kaitan antara sistem karir dan rotasi kerja dengan motivasi kerja diungkapkan oleh Mondy dkk (1999 dalam Burhanuddin) bahwa transfer karyawan dari satu bidang ke bidang kerja lainnya diantaranya adalah untuk menumbuhkan kepuasan kerja dalam diri karyawan.

Sementara itu kepuasan kerja amat berpengaruh terhadap motivasi kerja para karyawan suatu perusahaan. Hal senada dikemukakan oleh Robert Kreitner dkk (1998 dalam Burhanuddin) bahwa rotasi kerja adalah bagian dari sistem karier karyawan yang bertujuan untuk menciptakan variasi pekerjaan bagi

24 karyawan, sebab firms often find it necessary to reorganize, to make positions available in the primary promotion channels. Another reason is to satisfy employees personal desires and is an effective dealing with personality clashes.

3.1.5 Efisiensi Usaha

Efisiensi usaha merupakan ukuran keberhasilan manajemen dalam mengelola sumberdaya perusahaan yang dikenal dengan istilah the six M’s, yaitu

Man, Material, Machines, Methods, Money and Market. Efisiensi merupakan

ukuran produktivitas dari managerial skill suatu organisasi/ perusahaan. Hanya perusahaan yang efisien yang akan mampu bertahan dalam pasar yang kompetitif.

Boediono (1986 dalam Burhanuddin), mengemukakan bahwa efisiensi manajemen pada koperasi dapat diukur dengan cooperative effect yaitu seberapa banyak anggota koperasi yang bisa diangkat dari bawah garis kemiskinan. Pendapat Boediono lebih menekankan efisiensi koperasi pada efisiensi pengembangan dan efisiensi pemenuhan kebutuhan anggotanya.

Konsep efisiensi dalam kajian ini lebih menekankan pada efisiensi usaha koperasi dan manfaat yang diberikan koperasi kepada anggotanya. Pengukuran efisiensi usaha menggunakan rasio keuangan yang umum digunakan dalam perusahaan seperti rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio pengungkit (leverage

ratio) dan rasio provitabilitas Riyanto (1995 dalam Burhanuddin). Sedangkan

pengukuran efisiensi di tingkat anggota akan menggunakan konsep Hanel dan Boediono.

3.1.6 Kinerja Keuangan

Dalam mengukur efisiensi modal kerja suatu koperasi dapat diukur dengan menggunakan beberapa rasio diantaranya rasio likuiditas, aktivitas, solvabilitas dan profitabilitas. Hasil dari perhitungan rasio tersebut dapat memberikan gambaran tentang efisien dan tidak efisien keadaan suatu koperasi apabila dibandingkan dengan angka rasio standar.

25 Rasio keuangan dapat dibagi kedalam tiga bentuk umum yang sering dipergunakan yaitu : Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas ( Leverage ), dan Rasio Rentabilitas. 17

1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajian financial jangka pendek yang berupa hutang–hutang jangka pendek (short time debt) Menurut Horne ”Sistem pembelanjaan yang baik Current Ratio harus berada pada batas

200% dan Quick Ratio berada pada 100%”. Adapun yang tergabung dalam rasio

ini adalah :

Current Ratio ( Rasio Lancar)

Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.

Quick Ratio ( Rasio Cepat )

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid .

2. Ratio Solvabilitas disebut juga ratio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (bank). Adapun Rasio yang tergabung dalam Ratio Leverage adalah :

Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)

Merupakan Perbandingan antara hutang–hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya.

17 www.shelmi-wordpress.com

26

Total Debt to Total Asset Ratio ( Rasio Hutang terhadap Total Aktiva)

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva yang diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang.

3. Rasio Rentabilitas disebut juga sebagai Rasio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Yang termasuk dalam ratio ini adalah :

Gross Profit Margin ( Margin Laba Kotor).

Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.

Net Profit Margin (Margin Laba Bersih).

Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.

Earning Power of Total investment

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto.

Return on Equity (Pengembalian atas Ekuitas)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen.

3.1.7 Analisis RADAR

Metode analisis rasio RADAR merupakan penyempurnaan analisis rasio keuangan. Tujuannya untuk memberikan gambaran yang menyeluruh tentang perusahaan dan kemungkinan perkembangannya. Analisis RADAR memberikan wawasan jangka menengah dan jangka panjang, hal ini berbeda dengan analisis rasio tradisional (Du-pont) yang bersifat jangka pendek. Analisis keuangan metode RADAR dalam perbankan yang umum dilakukan penelitian

27 mengelompokkan rasio dalam lima kelompok besar yaitu: analisis likuiditas untuk segi liquidity, analisis solvabilitas untuk segi capital adequacy, analisis productivity, analisis profitabilitas untuk segi profitabillity, analisa pertumbuhan untuk segi growth possibility.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian

Dewasa ini koperasi konvensional mengalami keterpurukan. Banyak kalangan yang memiliki pandangan bahwa masalah tersebut terjadi karena kinerja manajemen yang kurang baik. Seiring berkembangnya paham ekonomi syariah, muncul koperasi syariah yang saat ini mulai berkembang dan jumlahnya meningkat.

Analisis Perbandingan Kinerja Manajemen Koperasi Syariah dan Koperasi Konvesional

Kondisi Kinerja Manajemen Koperasi Syariah dan Koperasi

Konvensional Deskriptif Analisis Manajerial Fungsi dan Proses Manajemen

Sistem Penggajian Sistem Karir Efisiensi Usaha

Potensi Perkembangan Koperasi Jasa Keuangan Syariah BMT Bina Ummat

28

IV METODE PENELITIAN

4.1 Metode Penelitian

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dalam penelitian kualtitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen.

Penelitian kualitatif dari sisi definisi lain dikemukakan bahwa hal itu merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok orang. Hal terpenting adalah upaya memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku baik individu maupun sekelompok orang.

Oleh karena itu disimpulkan dalam meneliti skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif yakni penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.18

4.2Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian

Dalam penelitian ini, tidak ada site khusus tempat peneliti melakukan penelitiannya karena pengambilan data tidak dilakukan hanya di satu tempat. Penentuan tempat penelitian dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan dan kriteria, yang menjadi tempat dilakukannya penelitian ini antara lain :

a. Koperasi Syariah KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera b. Koperasi KPDK (Non Syariah)

18

29 4.2.2 Waktu Penelitian

Berdasarkan dimensi waktu, penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan penelitian cross sectional karena penelitian ini mengambil satu bagian dari gejala pada satu waktu tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan tentang fenomena perkembangan koperasi syariah dan koperasi non syariah di tahun 2011. Penelitian ini dilakukan antara bulan Mei dan Juni 2011.

4.3Jenis dan Sumber Data 4.3.1 Jenis Data

Jenis data yang dikemukakan melalui penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder.

1. Data Primer adalah data yang secara langsung diambil dari objek penelitian, baik oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Misalnya melalui wawancara.

2. Data Sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Misalnya melalui data statistik, hasil riset, majalah, koran, internet dan lain sebagainya,

4.3.2 Sumber Data

Dalam penelitian ini, penulis mendapatkan sumber data dari hasil wawancara dan studi literatur. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu antara 2 pihak yakni ada pewawancara dan terwawancara.

Studi literatur (kajian pustaka) merupakan penelusuran literatur yang bersumber pada buku, media, pakar ataupun hasil penelitian orang lain yang bertujuan untuk menyusun dasar teori yang kita gunakan dalam melakukan penelitian.

4.4 Metode Penarikan Sampel dan Pengumpulan Data

Metode penarikan sampel yang di gunakan adalah purposive sampling yakni teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Purposive sampling juga bisa berarti sampling yang menentukan target kelompok tertentu. Ketika

30 populasi yang diinginkan untuk penelitian ini sangat langka atau sangat sulit untuk ditemukan dan diajak untuk menyelesaikan studi maka digunakanlah purposive sampling dalam penelitian ini.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data kualitatif yaitu berupa19 :

1. Field Research

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi lapangan dengan melakukan wawancara dengan beberapa informan dan mencari data yang mendukung objek pembahasan yang terjadi di lapangan. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat terstruktur dimana peneliti telah mempersiapkan pertanyaan sebagai pedoman wawancara yang akan diajukan dan kemudian membacakan pertanyaan yang telah disiapkan kepada informan. Namun peneliti tidak membatasi jawaban informan, sehingga informan dalam penelitian ini mampu menjawab bebas sesuai dengan pendapatnya. Tapi, tidak menutup kemungkinan peneliti melakukan wawancara yang tidak berstruktur.

2. Library Research

Studi kepustakaan (Library Research) yang dilakukan dalam mengumpulkan data penelitian ini adalah mempelajari beberapa literatur- literatur seperti buku, skripsi atau tesis terdahulu, majalah, artikel, penulusuran internet serta dokumen lain yang mendukung untuk mendapatkan data sekunder dan tulisan yang relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.

4.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur sebagai tekhnik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis. Setiap responden diberi pertanyaan yang sama yang kemudian dicatat untuk mengumpulkan data. Metode ini menerapkan teori ke dalam situasi deskriptif atau situasi sosial nyata

31 yang akan diteliti. Selain itu peneliti menggunakan metode RADAR untuk melihat kinerja keuangan dari kedua koperasi yang diteliti.

32

V GAMBARAN UMUM KOPERASI

5.1 KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera 5.1.1 Pendahuluan

Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Ummat Sejahtera berdiri, bermula dari keprihatinan realitas perekonomian masyarakat lapis bawah yang tidak siap dalam mengantisipasi perubahan masyarakat global.

Tahun 1996 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orsat Rembang menggerakkan organisasi dengan mendirikan sebuah lembaga keuangan alternatif yakni usaha simpan pinjam melalui gerakan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Perkembangan lembaga ini mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat sehingga pada Tahun 1998 berubah menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU), lalu kemudian pada Tahun 2002 berubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam Syari’ah (KSPS) BMT Bina Ummat Sejahtera sampai pada akhirnya pada Tahun 2006 berubah menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS).

Sebagaimana motto KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera yaitu sebagai “Wahana Kebangkitan Ekonomi Ummat” Dari Ummat Untuk Ummat Sejahtera

Untuk Semua., maka menurut KJKS sangat penting menumbuhkan dan

mengembangkan potensi ekonomi rakyat serta mewujudkan demokrasi ekonomi yang mempunyai ciri–ciri demokratif, keterbukaan dan kekeluargaan.

5.1.2 Sasaran

KJKS memiliki jaringan dan pengalaman yang sudah cukup luas dan ingin terus mengembangkan usahanya sebagai lembaga keuangan syariah dengan sasaran memberdayakan pengusaha kecil menjadi mayarakat yang berpotensi handal, sebagai lembaga intermediary dengan menghimpun dan menyalurkan dana untuk mengembangkan ekonomi produktif bagi kemaslahatan masyarakat, proaktif dalam berbagai program pengembangan sarana sosial kemasyarakatan, mengangkat harkat dan martabat fakir miskin ke tingkat yang lebih baik serta mewujudkan kehidupan yang seimbang dalam keselamatan, kedamaian,

33 kesejahteraan dan pemerataan keadilan ekonomi antara kaum fakir miskin dengan aghniya (kaum berpunya).

5.1.3 Motto

”Wahana Kebangkitan Ekonomi Ummat Dari Ummat Untuk Ummat Sejahtera Untuk Semua”

5.1.4 Visi

Visi dari KJKS BMT Bina Ummah Sejahtera adalah menjadi Lembaga Keuangan Mikro Syariah terdepan dalam pendampingan usaha kecil yang mandiri.

5.1.5 Misi

KJKS BMT Bina Ummah Sejahtera mempunyai misi yakni :

1. Membangun lembaga jasa keuangan mikro syari’ah yang mampu memberdayakan jaringan ekonomi mikro syari’ah, sehingga menjadikan ummat yang mandiri.

2. Menjadikan lembaga jasa keuangan mikro syari’ah yang tumbuh dan berkembang melalui kemitraan yang sinergi dengan lembaga syari’ah lain, sehingga mampu membangun tatanan ekonomi yang penuh kesetaraan dan keadilan.

3. Mengutamakan mobilisasi pendanaan atas dasar ta’awun dari golongan aghniya, untuk disalurkan ke pembiyaan ekonomi kecil dan menengah serta mendorong terwujudnya manajemen zakat, infaq dan shodakoh, guna mempercepat proses menyejahterakan ummat, sehingga terbebas dari dominasi ekonomi ribawi.

4. Mengupayakan peningkatan permodalan sendiri, melalui penyertaan modal dari para pendiri, anggota, pengelola dan segenap potensi ummat, sehingga menjadi lembaga jasa keuangan mikro syariah yang sehat dan tangguh.

5. Mewujudkan lembaga yang mampu memberdayakan, membebaskan dan membangun keadilan ekonomi ummat, sehingga menghantarkan ummat Islam sebagai Khoera Ummat.

BMT Bina Ummat Sejahtera merupakan lembaga jasa keuangan mikro syariah menetapkan budaya kerja dengan prinsip syariah yang mengacu pada

34 sikap akhlaqul karimah dan kerahmatan.Sikap tersebut terinspirasi dengan empat

Dokumen terkait