Kerangka konsep dibangun untuk menunjukkan hubungan pengaruh antara masing-masing variabel dalam suatu penelitian. Adapun kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan dibawah ini :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian
Harga Saham (Y) EPS (X3)
DER (X2) DPS (X1)
Dewan Komisaris Independen (X5)
ROA (X4)
26
3.1.1 Pengaruh Dividend Per Share terhadap Harga Saham
Dividend Per Share (DPS) atau Dividen suatu bagian dari keuntungan bersih
setelah pajak dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Karena dividen merupakan keuntungan dalam berinvestasi pada saham, maka pihak manajemen harus memperhatikan kebijakan deviden yang akan ditetapkan dalam peningkatan minat investor untuk menanamkan modalnya. Maka dengan DPS yang tinggi akan mencerminkan bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik karena dapat membayar deviden dengan jumlah yang tinggi, sehingga dapat menarik minat para investor untuk membeli saham perusahaan tersebut (Syahedah, et al., 2017).
Dengan demikian Semakin tinggi nilai DPS suatu perusahaan, maka investor semakin tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut. Hal ini tentu akan mengakibatkan harga saham mengalami kenaikan.
Smith & Azis (2017) hasil penelitian menunjukkan DPS berpengaruh positif terhadap harga saham. Hal ini menunjukan bahwa dengan nilai tambah pasar DPS sangan relevan untuk digunakan sebagai acuan investor dalam menilai kinerja perusahaan dalam menciptakan nilai pasar, di karenakan DPS dapat mengukur prestasi perusahaan berdasarkan nilai tambah pasar yang diciptakan perusahaan selama periode tertentu. Safitri (2018) hasil penelitian menunjukkan DPS tidak berpengaruh terhadap harga saham. Informasi DPS perusahaan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan bukan merupakan hal yang utama diperhatikan oleh investor dalam membuat keputusan dalam investasinya, karena tidak selamanya laba bersih yang diperoleh perusahaan dialokasikan sebagai dividen , bisa saja perusahaan mengalokasikan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
27
laba bersih yang didapatnya untuk perluasan usaha atau melakukan investasi aktiva tetap, investasi jangka panjang dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam membagikan sisa laba perusahaan dalam bentuk tunai (cash dividen) ataupun dividen saham (stock dividen) kepada pemegang saham yang dapat menjadi stimulus kepada para investor lain dalam membeli saham yang ditawarkan perusahaan tersebut kurang. Hal ini akan menyebabkan permintaan saham diperusahaan tersebut berkurang sehingga harga saham akan menurun.
3.1.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Harga Saham
Debt to Equity Ratio merupakan Menggambarkan sampai sejauh mana modal
pemilik dapat menutupi hutang-hutang pada pihak luar. Salah satu rasio leverage yang diperhatikan oleh investor adalah Debt to Equity Ratio. Menurut Darsono dan Ashari (2005) bahwa Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman.
Debt to Equity Ratio merupakan salah satu ratio leverage yang diperhatikan oleh
investor karena DER dapat menunjukkan komposisi pendanaan dalam membiayai aktivitas operasionalnya antara pendanaan sendiri atau memanfaatkan hutang-hutangnya. Dalam konteks teoritis terdapat hubungan yang negatif antara kenaikan harga saham dengan tingkat hutang yang dilakukan. DER yang tinggi menunjukkan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luar, sehingga beban perusahaan juga semakin berat. Nilai perusahaan akan menurun jika perusahaan menggunakan utang lebih dari modal sendiri. (Sudana, 2011) Bagi investor, semakin besar DER akan semakin tidak menguntungkan
28
karena semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan. Semakin besar DER, maka semakin rendah harga saham perusahaan karena perusahaan harus membayar utang dan investor semakin tidak tertarik untuk membeli saham perusahaan
Novasari (2013) hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang signifikan antara DER terhadap tingkat harga saham. Artinya semakin tinggi nilai DER maka akan diikuti semakin tinggi tingkat harga saham perusahaan yang bersangkutan. Harga saham perusahaan umumnya dapat menjadi tolak ukur atau memonitor perusahaan dalam penelitian ini DER mempengaruhi tingkat harga saham perusahaan yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena tingkat DER tidak berpengaruhi secara langsung sehingga tidak langsung akan semakin meningkatkan harga saham.Tingkat DER yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor perusahaan sehingga dapat mengurangi perilaku oportunistik manajer. Safitri (2013) hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam berinvestasi investor tidak memperhatikan DER sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya kerena setiap peningkatan atau penurunan DER tidak mempengaruhi perubahan harga saham. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya kenaikan dan karena ada 2 macam modal yang bisa digunakan oleh perusahaan untuk menjalankan perusahaan yaitu modal internal dan modal eksternal. Modal internal lebih disukai perusahaan dibanding dengan modal eksternal sehingga hal ini menyebabkan banyak perusahaan yang mempunyai pendapatan yang tinggi cenderung akan meminjam dalam jumlah yang sedikit, tetapi ada juga perusahaan yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
29
mempunyai penghasilan yang sedikit cenderung akan menggunakan hutang untuk operasional yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa investor tidak terlalu mementingkan DER dalam menentukan apakah membeli atau menjual saham, karena setiap perusahaan pasti mempunyai hutang dan hutang pada taraf tertentu juga nantinya akan meningkatkan kinerja produksi suatu perusahaan. Investor dalam hal ini lebih memperhatikan jenis saham dari perusahaan tersebut. Saham dalam kelompok JII merupakan saham syariah yang mempunyai batasan hutang yang berbasis bunga adalah kurang dari 82% sehingga dengan adanya batasan tersebut hutang perusahaan menjadi terkendali dan tidak sensitif saat terjadi kenaikan suku bunga. Kondisi ini megakibatkan investor percaya terhadap pengelolaan hutang perusahaan dalam peningkatan kinerja perusahaan,sehinggabesar kecilnya DER suatu perusahaan tidak dijadikan sebagai pertimbangan yang utama dalam pengambilan keputusan investasi saham dalam kelompok JII.
3.1.3 Pengaruh Earning Per Share terhadap Harga Saham
Earning Per Share merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan
(laba) yang diperoleh investor atau pemegang saham per lembar sahamnya. EPS merupakan indikator dasar yang digunakan oleh para investor dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan. Semakin tinggi laba perusahaan, maka semakin tinggi pula nilai EPS dan begitu pula sebaliknya. Investor umumnya tertarik terhadap perusahaan yang memiliki EPS yang tinggi sehingga permintaan terhadap saham tersebut akan meningkat. Dengan demikian, harga saham juga akan ikut meningkat.
30
Pratiwi (2018) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa earnings per share memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Pada umunya manajemen perusahaan atau calon pemegang saham akan tertarik akan earnings per share yang tinggi, karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar sahamnya. pada sisi lain, investor tertarik dengan earnings per share yang tingi karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan. Maulana (2014) Earning Per Share (EPS) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, hal ini menunjukkan bahwa variabel EPS tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga saham pada perusahaan makanan dan minuman. Perusahaan sering kali tidak membagikan keuntungan yang diperoleh dalam bentuk dividen kepada pemegang saham, dimana tujuan para investor menanamkan modalnya selain mengharapkan return yang diperoleh dari capital again adalah untuk mendapatkan return yang diperoleh dari dividen. Perusahaan tidak membagikan dividen, misalnya dikarenakan keadaan perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang serius sehingga tidak memungkinkan untuk membayar dividen, ataupun adanya kebutuhan dana yang sangat besar karena investasi yang sangat menarik sehingga harus menahan seluruh pendapatan untuk membelanjai investasi tersebut. Akan tetapi kebanyakan dari pemegang saham lebih menyukai pembayaran dividen pada saat ini dari pada menundanya, karena dengan pembayaran dividen sekarang maka penerimaan uang tersebut sudah pasti, sedangkan apabila ditunda ada kemungkinan bahwa apa yang diharapkan meleset. Oleh karena itu para investor menilai bahwa EPS yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
31
tinggi belum tentu dapat memberikan return yang diinginkan sehingga tidak bias digunakan untuk memprediksi harga saham.
3.1.4 Pengaruh Return On Asset terhadap Harga Saham
Return On Asset merupakan rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan
profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan atau laba pada tingkat pendapatan, aset dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim, 2003). Return On Assets adalah rasio yang mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.
Rasio ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor (Riyanto, 2000). Semakin besar ROA menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar (Ang, 1997). Semakin tinggi ROA menunjukkan semakin tinggi keberhasilan kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan keuntungan atas aktiva yang digunakan sehingga menunjukkan semakin kecil resiko yang harus dihadapi investor dalam penanaman modalnya di perusahaan tersebut. Menurut Arifin (2004) semakin tinggi ROA semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atas aktiva yang digunakan sehingga resiko yang dihadapi investor dalam penanaman modalnya semakin kecil.
Semakin tinggi keuntungan yang dihasilkan perusahaan akan menjadikan investor tertarik akan nilai saham. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, semakin banyak investor yang tertarik untuk membeli saham suatu perusahaan maka semakin besar kemungkinan harga saham perusahaan di pasar modal mengalami kenaikan.
32
Pratiwi (2018) menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Profitabilitas (ROA) pada suatu perusahaan yang rendah mengindikasikan perusahaan tersebut tidak mencerminkan laba yang signifikan sehingga investor enggan untuk berinvestasi, akibatnya harga saham akan turun. Pada sisi lain, profitabilitas (ROA) yang tinggi berdampak positif karena investor akan tertarik pada ROA perusahaan yang tinggi, dengan begitu permintaan saham akan naik sehingga nantinya akan menaikkan harga saham.
Safitri (2013) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam berinvestasi investor tidak memperhatikan ROA sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya. Saham dalam kelompok JII merupakan saham syariah yang mempunyai batasan dalam perolehan pendapatan yaitu total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha adalah kurang dari 10%, sehingga saat suku bunga terjadi penurunan maka pendapatan perusahaan cenderung stabil dan investor lebih tertarik pada perusahaan yang mempunyai pendapatan yang stabil karena akan mempunyai risiko yang kecil terhadap aset yang sudah ditanamkannya. Adanya batasan perolehan pendapatan tidak halal tersebut maka investor sudah percaya terhadap perusahaan dalam pengoptimalan laba atas asset yang sudah ditanamkannya dan investor tidak menjadikan ROA sebagai pertimbangan karena rasio ini tidak mempertimbangkan deviden maupun capital gain yang didapat oleh seorang investor, dengan peningkatan aset atau asset yang mengalami pertumbuhan maka nilai deviden yang dibayarkan akan cenderung menurun karena pendapatan dari perusahaan cenderung digunakan untuk meningkatkan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
33
aset perusahaan, sedangkan seorang investor akan cenderung mempertimbangkan peningkatan mengenai dana investasi yang akan ditanamkan.
3.1.5 Dewan Komisaris Independen terhadap harga saham
Dewan Komisaris Independen merupakan anggota dewan komisaris perusahaan yang berasal dari pihak independen dan tidak memiliki hubungan afisiliasi dengan perusahaan. Variabel ini diukur dengan jumlah komisaris yang berasal dari pihak independen dibagi dengan jumlah keseluruhan dewan komisaris suatu perusahaan.
Menurut pedoman Komite Nasional Kebijakan Governance ( KNKG 2006) jumlah komisaris independen harus dapat menjamin mekanisme pengawasan berjalan dengan efektif dan sesuai dengan peraturan perundang – undangan.
Dengan semakin baiknya kinerja dewan komisaris independen maka tingkat kepercayaan investor pada perusahaan tersebut pun ikut meningkat yang berdampak kepada tingginya permintaan akan saham dan meningkatnya harga saham perusahaan tersebut.
Helfi (2017) menyatakan komisaris Independen berpengaruh signifikan terhadap harga saham. hubungan searah dan positif antara komisaris independen terhadap harga saham sesuai dengan teori karena jika komisaris independen ditambahin satu maka harga saham akan meningkat. Sitorus (2017) Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap harga saham karena belum mampu melakukan pengawasan yang lebih efektif terhadap manajer perusahaan. Penambahan proporsi dewan komisaris independen dimungkinkan hanya untuk memenuhi ketentuan formal sementara pemegang saham mayoritas masih memegang peranan penting sehingga kinerja
34
dewan tidak maksimal. proporsi dewan komisaris independen yang besar belum mampu menunjukkan perannya dalam memonitor manajemen dan menjadi penengah antara kepentingan manajemen dan pemegang saham. hal ini biasa dikarenakan pelaksanaan yang belum optimal dan penerapannya masih baru.
3.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji kebenarannya, melalui analisis data yang relevan. Kebenaran dugaan sementara akan diketahui setelah dilakukan penelitian terhadap data variabel.
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Dividend Per Share (DPS) berpengaruh positif terhadap harga saham.
2. Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif terhadap harga saham.
3. Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap harga saham.
4. Return On Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap harga saham.
5. Dewan Komisaris Independen berpengaruh positif terhadap harga saham.
6. DPS, DER, EPS, ROA dan DKI berpengaruh terhadap harga saham.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB IV
METODE PENELITIAN