BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kerangka Pikir
Media adalah suatu pembawa pesan dalam kegiatan pembelajaran.
Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran. Media juga merupakan sumber belajar yang memungkinkan anak didik memeroleh pengetahuan dan keterampilan. Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk memberikan atau menyampaikan pesan kepada seseorang guna meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Salah satu jenis media yang efektif dalam menyampaikan materi pembelajaran adalah media gambar.
Penggunaan media cerita bergambar bagi peningkatan kemampuan membaca nyaring merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang efektif pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Pembelajaran ini bertujuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan berbahasa murid memerlukan membaca nyaring. Program yang kaya dengan membaca nyaring dibutuhkan untuk semua murid karena membantu murid memperoleh fasilitas menyimak, memperhatikan sesuatu secara lebih baik, memahami suatu cerita, mengingat secara terus menerus pengungkapan kata-kata, serta mengenali kata-kata baru yang muncul dalam konteks lain.
Penggunaan media bergambar dilakukan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan membaca nyaring karena permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan guru adalah cara mengatasi rendahnya kemampuan membaca nyaring murid. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti melakukan penelitian tentang penggunaan media cerita bergambar bagi peningkatan kemampuan membaca nyaring.
Dalam penelitian ini difokuskan pada salah satu pemanfaatan media bergambar yang dijadikan alat bantu belajar-mengajar di kelas berupa bentuk cerita bergambar. Pemanfaatan media ini akan digunakan untuk mengoptimalkan pembelajaran kegiatan membaca nyaring. Hasil penerapan tersebut merupakan bahan analisis untuk mengungkap dan menghasilkan
temuan penelitian ini. Secara sederhana, alur penelitian ini digambarkan seperti berikut ini :
Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini adalah :
Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pikir Pembelajaran Bahasa Indonesia
Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis
Membaca Nyaring
Temuan Siklus N Kurikulum 2013
Analisis Media Cerita
Bergambar
31 BAB III
PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kemampuan
membaca nyaring pada jenjang sekolah dasar. Pada sisi lain, tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk lebih meningkatkan profesionalisme guru dalam proses mengajar. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bersiklus yang terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa pada semester genap tahun ajaran 2020/2021.
Subjek penelitian sebanyak 20 murid yang terdiri dari 8 orang murid laki-laki dan 12 orang murid perempuan.
C. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini yaitu media cerita bergambar dan kemampuan membaca nyaring. Kedua fokus penelitian ini dioperasionalkan sebagai berikut:
1. Media cerita bergambar adalah media yang merupakan reproduksi bentuk asli dalam dimensi yang berupa foto atau lukisan.
2. Kemampuan membaca nyaring adalah kegiatan menyuarakan tulisan dari pembaca yang melibatkan penglihatan, ingatan, pendengaran, dan ingatan yang bersangkut paut dengan otot-otot manusia yang bertujuan untuk menangkap serta informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, tiap siklus terdiri dari 3x pertemuan sesuai dengan perubahan yang akan dicapai.
Pertemuan pertama dan kedua untuk proses pembelajaran, dan pertemuan ketiga untuk kegiatan penilaian kemampuan membaca nyaring. Tiap siklus terdiri atas beberapa kegiatan sesuai dengan hakikat penelitian. Kegiatan-kegiatan pada siklus II merupakan pengulangan dan perbaikan dari Kegiatan-kegiatan siklus I. Adapun bagan siklus penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.2. Bagan Penilitian Tindakan Kelas Adaptasi Model Kurt Lewin 1946 (Arikunto, 2013:16)
Pengamatan
Perencanaan
Pengamatan
Pelaksanaan Refleksi
Pelaksanaan Refleksi
Siklus I
Siklus II Perencanaan
Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan sebagai berikut:
Siklus I
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahap yang paling pertama dilakukan sebelum tahap-tahap selanjutnya. Sekaligus pada tahap ini dilakukan semua persiapan yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung. Beberapa bentuk kegiatan yang dilakukan pada perencanaan adalah sebagai berikut:
1) Mempelajari dan menelaah kurikulum yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan selama penelitian berlangsung.
2) Melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam hal penggunaan pendekatan, metode, model pembelajaran, dan strategi yang digunakan.
3) Mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan kendala-kendala yang dihadapi guru dalam proses belajar mengajar.
4) Setelah menemukan faktor penghambat dan kesulitan guru tersebut, kemudian merumuskan alternatif pendekatan, metode, model pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang akan digunakan.
5) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
6) Membuat lembar observasi kegiatan guru dan murid.
7) Membuat alat evaluasi.
2. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk mengimplementasikan semua yang direncanakan pada tahap perencanaan, atau dengan kata lain
tahap ini merupakan tindak lanjut dari tahap perencanaan. Hal-hal yang dilakukan pada tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kesiapan murid untuk mengikuti proses belajar.
2) Guru memberikan orientasi pada murid tentang tujuan pembelajaran dan memperkenalkan model pembelajaran yang akan dipakai saat proses belajar.
3) Membahas materi pelajaran menggunakan media cerita bergambar.
4) Membimbing murid yang mengalami hambatan atau kesulitan dalam belajar.
5) Melakukan evaluasi untuk mengetahui peningkatan hasil belajar murid pada akhir pembelajaran.
3. Observasi
Tahap selanjutnya adalah melakukan observasi pada pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat yaitu lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas murid. Selain hal tersebut, pada tahap ini juga dilakukan observasi berbagai dinamika kegiatan proses belajar mengajar yang dapat mempengaruhi kegiaatn pembelajaran.
4. Refleksi
Seluruh hasil pembelajaran yang diperoleh pada tahap-tahap sebelumnya melalui lembar observasi akan direfleksi pada tahap ini, kemudian menilai dan mempelajari hasil belajar murid pada siklus I, dan
hasil refleksi inilah yang selanjutnya dijadikan acuan bagi peneliti untuk merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya.
Siklus II 1. Perencanaan
Beberapa hal yang dilakukan pada tahap perencanaan pada siklus II adalah sebagai berikut:
1) Setelah melakukan refleksi pada siklus I dan apabila ditemukan kekurangan dan kelemahan-kelemahan, maka pada tahap ini dilakukan perencanaan dengan mencari alternatif perbaikannya.
2) Melanjutkan tahap perencanaan yang telah dilakukan pada siklus I dengan beberapa perbaikannya.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II adalah melanjutkan langkah-langkah yang telah dilakukan pada siklus I dan melaksanakan beberapa perencanaan baru yang dirancang dan disesuaikan dengan materi yang ada pada siklus II dan dari hasil perbaikan pada siklus I.
3. Observasi
Proses observasi yang dilakukan pada siklus II sama dengan proses observasi yang dilakukan pada siklus I, yaitu peneliti melakukan pengamatan dan mencatat seluruh aktivitas guru dan murid selama proses belajar mengajar berlangsung berdasarkan lembar observasi yang telah dibuat.
4. Refleksi
Pada tahap refleksi ini peneliti meninjau kembali hal-hal yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya serta hasil yang diperoleh murid dengan membandingkan proses dan hasil belajar murid pada siklus I dengan siklus II dan hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi pada siklus I dan siklus II dianalisis untuk mendapatkan kesimpulannya.
E. Instrument Penelitian
Adapun instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas murid dalam proses belajar dan hasil belajar murid di dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1) Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman murid terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus setelah diberikan serangkaian tindakan.
2) Wawancara dilaksanakan dengan subjek penelitian pada setiap akhir pembelajaran yang akan digunakan sebagai bahan refleksi untuk tindakan selanjutnya. Wawancara dimaksud untuk (a) mengetahui secara lebih mendalam terhadap latar kesulitan yang dihadapi murid dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan, (b) mengetahui sejauhmana murid telah benar-benar menunjukkan kinerja yang diharapkan dalam membaca nyaring.
3) Pengamatan difokuskan untuk segala aktivitas murid apakah terlibat aktif dalam pelaksanaan tindakan, peneliti yang mengajar guru kelas III dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai teman sejawat.
4) Catatan lapangan bertujuan untuk melengkapi data hasil wawancara dan observasi. Catatan ini memuat interaksi murid dan guru selama pembelajaran kooperatif dan perencanaan pembelajaran yang telah tersusun.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1. Sumber Data. Sumber data adalah personal penelitian yang terdiri dari peneliti, guru, dan murid.
2. Jenis data :
a. Data kualitatif adalah data hasil observasi tentang aktivitas murid dalam mengikuti proses pembelajaran.
b. Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dari tes setiap akhir siklus.
3. Cara pengambilan data :
a. Data mengenai tingkat kemampuan membaca nyaring yang dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar setiap akhir siklus.
b. Data mengenai aktivitas murid yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi selama proses pembelajaran dibantu oleh seorang observer.
G. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Untuk analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif yaitu rata-rata dan persentase, tabel frekuensi, persentase nilai
terendah dan tertinggi, sedangkan analisis kualitatif yang digunakan adalah kategorisasi skor skala 5. Menurut Nurkancana (2014 : 45) bahwa skor skala 5 minimal adalah pembagian yang terdiri dari 5 tingkatan penguasaan.
Tabel 3.1 Kategori Skor Murid Tingkat Penguasaan Kategori
85 – 100 Sangat Tinggi
65 – 84 Tinggi
55 – 64 Sedang
35 – 54 Rendah
0 – 34 Sangat Rendah
Sumber : Arikunto (2013:46)
H. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila (1) terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa dari siklus I ke siklus II, (2) Nilai ketuntasan individu atau nilai KKM mencapai skor 70 dan ketuntasan secara klasikal mencapai 80% dari 20 murid.
39 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian di lapangan dengan metode kuantitatif. Data ini didapatkan dari hasil tes kemampuan membaca nyaring melalui pengggunaan media cerita bergambar. Aspek-aspek yang dinilai dalam penelitian ini adalah (1) Ketepatan intonasi, (2) Ketepatan artikulasi, dan (3) Kelancaran Membaca Nyaring. Setelah melaksanakan penelitian tindakan melalui penggunaan media cerita bergambar dalam pembelajaran yang terdiri dari dua siklus kegiatan, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan Pertemuan pertama dan kedua adalah membacakan media ceita bergambar seri sedangkan pertemuan ketiga adalah membuat cerita berdasarkan gambar seri yang diberikan lalu menceritakan cerita yang telah dibuatnya. Berikut ini hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Deskripsi Tindakan Pada Siklus I a. Pertemuan 1 (Senin, 19 Juli 2021)
1) Tahap Perencanaan
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.
b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan secara nyaring olah setiap murid pada pembelajaran tatap muka.
c) Menyiapkan pedoman observasi
2) Tahap Pelaksanaan a) Berdoa bersama.
b) Mengabsen murid.
c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.
d) Memotivasi murid.
e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.
g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
i) Guru membagi media cerita bergambar ke semua murid kelas III.
j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.
k) Setiap murid membacakan media cerita bergambar yang telah dibagikan pada saat pertemuan tatap muka, kemudian murid juga membacakan kembali dengan nyaring dan menceritakan media cerita bergambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri.
l) Guru memberikan evaluasi.
Tahap pelaksanaan pada pertemuan 1, setiap murid diarahkan memperhatikan cerita bergambar seri yang dibagikan dengan judul “Angin Puting Beliung”. Setelah itu, minta murid membacakan nyaring cerita pada gambar “Angin Puting Beliung” pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Guru memberi contoh cara membacakan cerita yang ada pada media cerita bergambar dengan baik dan benar. Guru memberikan
kesempatan kepada setiap murid mempelajari kembali media cerita bergambar “Angin Puting Beliung”, kemudian setiap murid diarahkan menceritakan kembali media gambar menggunakan bahasa sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di tersebut diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada bagian lampiran 1.
b. Pertemuan 2 (Kamis, 22 Juli 2021) 1) Tahap Perencanaan
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.
b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan nyaring olah setiap murid pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
c) Menyiapkan pedoman observasi 2) Tahap Pelaksanaan
a) Berdoa bersama.
b) Mengabsen murid.
c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.
d) Memotivasi murid.
e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.
g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
i) Guru membagi media gambar ke semua murid kelas III.
j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.
k) Setiap murid membacakan media gambar yang telah dibagikan, kemudian murid juga menceritakan media gambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
l) Guru memberikan evaluasi.
Tahap pelaksanaan pada pertemuan 2, setiap murid diarahkan memperhatikan media cerita bergambar yang dibagikan dengan judul
“Gunung Meletus”. Setelah itu, minta murid membacakan cerita pada gambar “Gunung Meletus” pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
Guru memberi contoh cara membacakan cerita yang ada pada media gambar dengan baik dan benar. Guru memberikan kesempatan kepada setiap murid mempelajari kembali media gambar seri “Gunung Meletus”, kemudian setiap murid diarahkan membacakan kembali secara nyaring media cerita bergambar pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada lampiran 2.
c. Pertemuan 3 (Sabtu, 24 Juli 2021) 1) Tahap Perencanaan
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.
b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan nyaring olah setiap murid.
c) Menyiapkan pedoman observasi 2) Tahap Pelaksanaan
a) Berdoa bersama.
b) Mengabsen murid.
c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.
d) Memotivasi murid.
e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.
g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
i) Guru membagi media cerita bergambar ke semua murid kelas III.
j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.
k) Setiap murid membacakan nyaring media cerita bergambar yang telah dibagikan, kemudian murid juga menceritakan media cerita bergambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
l) Guru memberikan evaluasi.
Tahap pelaksanaan pada pertemuan 3, setiap murid diarahkan memperhatikan cerita bergambar yang dibagikan dengan judul “Akibat Tidak Mencuci Tangan”. Setelah itu, minta murid membaca nyaring cerita yang ada pada media cerita bergambar yang sudah diamati lalu arahkan kembali semua murid menceritakan media cerita bergambar menggunakan bahasa sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada lampiran 3.
Pada tabel 4.4 (terlampir) data nilai akhir kemampuan membaca nyaring murid kelas III SDN Kalase’rena Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa, nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus I hanya 63,45 dan masih perlu ditingkatkan. Maka dari itu penelitian ini akan dilanjutkan ke siklus II.
Deskripsi peningkatan kemampuan membaca nyaring murid secara kuantitatif berdasarkan hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.5 : Statistik Skor Penguasaan Murid pada Tes Siklus I Statistik Nilai Statistik
Subjek 20
Skor Ideal 100
Skor Maksimum 77
Skor Minimum 40
Skor Rata-Rata 63,45
KKM 70
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 20 murid diperoleh skor maksimum 77, skor minimum 40, dan rata-rata kelas hanya 63,45 berada di bawah nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 70 dari skor ideal 100.
Apabila skor hasil kemampuan membaca nyaring melalui pennggunaan media cerita bergambar dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.6 : Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Kemampuan Membaca Nyaring Murid Pada Siklus I No. Skor Kategori Frekuensi Persentase
1. 0 – 34 Sangat Rendah - 0 %
2. 35 – 54 Rendah 1 5 %
3. 55 – 64 Sedang 10 50 %
4. 65 – 84 Tinggi 9 45 %
5. 85 – 100 Sangat Tinggi - 0 %
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tidak ada murid yang berada dalam kategori sangat rendah (0%), terdapat 1 murid yang berada dalam kategori rendah (5%), kategori sedang 10 murid (50%), kategori tinggi hanya 9 murid (45%), dan tidak terdapat murid yang berada dalam kategori sangat tinggi (0%) pada siklus I. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan membaca nyaring yang diperoleh murid melalui
penggunaan media cerita bergambar pada siklus I mencapai rata-rata 63,45 dan berada dalam kategori sedang.
Apabila peningkatan kemampuan membaca nyaring murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 : Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Pada Siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0 – 64 Tidak Tuntas 11 55%
65 – 100 Tuntas 9 45%
Jumlah 20 100
Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 20 murid hanya 9 murid (45%) yang tuntas belajarnya dan yang tidak tuntas sebanyak 11 murid (55%). Artinya masih banyak murid yang memerlukan perbaikan. Oleh karena itu, akan diusahakan perbaikan pada siklus II.
3) Tahap Observasi
Pada tahap observasi siklus I tercatat sikap yang terjadi pada setiap murid terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Sikap murid tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap murid selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
Adapun sikap murid dari siklus I adalah sebagai berikut :
1. Pada siklus I tampak masih ada murid yang tidak hadir mengikuti pelajaran baik itu yang tidak hadir tanpa keterangan maupun yang sakit.
2. Perhatian murid pada siklus I masih belum fokus dan gairah belajar masih kurang.
3. Murid yang bertanya mengenai materi yang diajarkan oleh guru pada siklus I ini masih kurang dan didominasi oleh murid yang pintar saja.
4) Tahap Refleksi
Pada siklus I, proses pembelajaran diawali dengan pengenalan media cerita bergambar. Penggunaan media cerita bergambar ini pada awalnya masih banyak murid yang kurang tertarik dengan ditandainya beberapa aspek yang masih memiliki skor rendah, yakni aspek ketepatan intonasi dan aspek artikulasi perlu untuk diperbaiki. Cara membaca nyaring murid juga cenderung tidak memerhatikan tanda baca.
2. Deskripsi Tindakan Pada Siklus II a. Pertemuan 1 (Senin, 26 Juli 2021)
1) Tahap Perencanaan
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.
b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan nyaring olah setiap murid.
c) Menyiapkan pedoman observasi 2) Tahap Pelaksanaan
a) Berdoa bersama.
b) Mengabsen murid.
c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.
d) Memotivasi murid.
e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.
g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
i) Guru membagi media cerita bergambar ke semua murid kelas III.
j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.
k) Setiap murid membacakan nyaring media cerita bergambar yang telah dibagikan, kemudian murid juga menceritakan media gambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
l) Guru memberikan evaluasi.
Tahap pelaksanaan pada pertemuan 1, setiap murid diarahkan memperhatikan media cerita bergambar yang dibagikan dengan judul
“Gempa Bumi”. Setelah itu, minta murid membacakan nyaring cerita pada gambar “Gempa Bumi” pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
Guru memberi contoh cara membacakan cerita yang ada pada media cerita bergambar dengan baik dan benar. Guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa mempelajari kembali media cerita bergambar seri “Gempa Bumi”, kemudian setiap murid diarahkan membaca nyaring media cerita bergambar pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada lampiran 5.
b. Pertemuan 2 (Kamis, 29 Juli 2021) 1) Tahap Perencanaan
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.
b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan nyaring olah setiap murid.
c) Menyiapkan pedoman observasi 2) Tahap Pelaksanaan
a) Berdoa bersama.
b) Mengabsen murid.
c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.
d) Memotivasi murid.
e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.
g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.
h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
i) Guru membagi media cerita bergambar ke semua murid kelas III.
j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.
k) Setiap murid membacakan nyaring media cerita bergambar yang telah dibagikan, kemudian siswa juga menceritakan media cerita bergambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.
l) Guru memberikan evaluasi.
Tahap pelaksanaan pada pertemuan 2, setiap murid diarahkan memperhatikan media gambar bercerita yang dibagikan dengan judul
“Banjir”. Setelah itu, minta murid membaca nyaring cerita pada gambar
“Banjir” pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Guru memberi contoh cara membacakan cerita yang ada pada media cerita bergambar dengan baik dan benar. Guru memberikan kesempatan kepada setiap murid mempelajari kembali media cerita bergambar “Banjir”, kemudian setiap murid diarahkan membaca nyaring dan menceritakan kembali media cerita bergambar menggunakan bahasa sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada lampiran 6.
c. Pertemuan 3 (Sabtu, 31 Juli 2021) 1) Tahap Perencanaan
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita
a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita