• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: IHDAR CHAIR ILHAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: IHDAR CHAIR ILHAM"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA NYARING MENGGUNAKAN MEDIA CERITA BERGAMBAR PADA

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MURID KELAS III SDN KALASERE’NA

KEC. BONTONOMPO KAB. GOWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Skripsi Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

IHDAR CHAIR ILHAM 105401105517

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

SURAT PERJANJIAN Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, benar bahwa saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuat oleh siapapun)

2. Dalam penyusunan skripsi ini, selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.

3. Saya tidak melakukan perjanjian (plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.

4. Apabila melanggar perjanjian seperti yang tertera pada butir 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Makassar,01 Agustus 2021 Yang Membuat Perjanjian

IHDAR CHAIR ILHAM

(5)

v

MOTO

Allahummasalli alaa saidina Muhammad Asyhadu allaailahaillallah wa asyhaduanna

Muhammadarrasulullah

Hidup adalah realita yang penuh dengan tantangan dan masalah, Tantangan dan masalah dalam hidup tak akan teratasi dengan berpangku tangan,

Tak akan terselesaikan hanya dengan membaca nyaring, Namun haruslah dengan kerja keras dan doa.

Masalah bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi Masalah akan menjadikan hidup lebih berwarna ………

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan kepada ayahanda “Muhammad Ilcham”, ibundaku “Nurwahidah” tercinta, yang telah memberikan dukungan moral atau spritual dan material selama

ananda mengikuti pendidikan serta kepada saudaraku yang tersayang yang telah mencurahkan kasih sayang yang tulus, yang

selalu berdoa untuk keselamatanku, yang mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hati sehingga menjadi tumpuan

bagiku untuk meraih kesuksesan

ABSTRAK

(7)

vii

IHDAR CHAIR ILHAM. 2021. Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Menggunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa, FKIP, Unismuh Makassar dibimbing oleh Sulfasyah dan Abdan Syakur.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring pada mata pelajaran bahasa Indonesia pada murid kelas III SDN Kalase’rena Kec.

Bontonompo Kab. Gowa melalui penggunaan media cerita bergambar. Subjek penelitian ini adalah murid kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab.

Gowa dengan jumlah murid 20 orang yang terdiri dari 8 orang murid laki-laki dan 12 orang murid perempuan. Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, tiap siklus terdiri dari 3x pertemuan sesuai dengan perubahan yang akan dicapai. Pertemuan pertama dan kedua untuk proses pembelajaran, dan pertemuan ketiga untuk kegiatan penilaian kemampuan membaca nyaring. Tiap siklus terdiri atas beberapa kegiatan sesuai dengan hakikat penelitian. Kedua siklus tersebut dilakukan selama 2 bulan ditambah dengan merangkum semua hasil penelitian yang ada.

Hasil temuan dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan membaca nyaring pada mata pelajaran bahasa Indonesia pada murid kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa melalui penggunaan media cerita bergambar adalah dari siklus I yang ketuntasan belajarnya hanya mencapai 50%

dengan rata-rata 63,45 kemudian naik menjadi 100% pada siklus II dengan rata- rata 83,35 Sehubungan dengan kesimpulan di atas, maka disarankan kepada guru supaya dapat memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam aspek membaca nyaring.

Kata Kunci : Kemampuan Membaca Nyaring, Media Cerita Bergambar.

KATA PENGANTAR

(8)

viii Assalamu Alaikum Wr.Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt, karena atas limpahan rahmat taufik dan karuniaNyalah sehingga skripsi yang berjudul

“Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Menggunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa” dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sang pemimpin yang patut kita teladani yakni Nabiyullah Muhammad saw, para sahabat dan keluarganya yang patut kita jadikan sebagai uswatun hasanah dalam melaksanakan segala aktivitas demi kesejahteraan dan kemakmuran hidup dunia dan akhirat kelak.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis sangat berhutang budi dan sepatutnya berterima kasih kepada Ayahanda Muhammad Ilcham, Ibunda Nurwahidah, yang ikhlas mendoakan, membimbing, dan selalu mendukung dan memotivasi penulis hingga seperti sekarang. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya disampaikan kepada : Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Aliem Bahri, S.Pd, M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulfasyah, M.A, Ph.D, Dosen Pembimbing I, Abdan Syakur, S.Pd., M.Pd., Dosen Pembimbing II, Segenap pegawai administrasi Universitas Muhammadiyah

(9)

ix

Makassar, yang telah memberikan pelayanan administrasi kepada penulis, Hj.

Syohoriah, S.Pd., Kepala Sekolah SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab.

Gowa, dan Abd Rasyid, S.Pd guru kelas III, serta para guru dan staf SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah ini, sekaligus membantu dalam proses penelitian.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan sehingga penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Makassar, 01 Agustus 2021

Penulis

DAFTAR ISI

(10)

x

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

SURAT PERJANJIAN ... iv

MOTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Kajian Teori ... 8

1. Penelitian Relevan ... 8

2. Media ... 10

1) Pengertian Media ... 10

2) Jenis – Jenis Media ... 11

3) Fungsi Media Pembelajaran ... 13

4) Kriteria Pemilihan Media ... 14

5) Penggunaan Media Cerita Bergambar ... 17

3. Kemampuan Membaca Nyaring ... 20

1) Pengertian Membaca Nyaring ... 20

2) Manfaat Membaca Nyaring ... 22

3) Indikator Membaca Nyaring ... 23

4) Strategi Membaca Nyaring ... 25

5) Pelaksanaan Pengajaran Membaca Nyaring di Kelas 26

B. Kerangka Pikir ... 28

(11)

xi

BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN ... 31

A. Jenis Penelitian ... 31

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 31

C. Fokus Penelitian ... 31

D. Prosedur Penelitian ... 32

E. Instrument Penelitian ... 36

F. Teknik Pengumpulan Data ... 37

G. Teknik Analisis Data ... 37

H. Indikator Keberhasilan Pembelajaran... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 39

A. Hasil Penelitian ... 39

1. Deskripsi Tindakan Pada Siklus I ... 39

2. Deskripsi Tindakan Pada Siklus II ... 47

B. Pembahasan ... 56

BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 57

A. Simpulan ... 57

B. Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 58

LAMPIRAN – LAMPIRAN ... 60

RIWAYAT HIDUP ... 101

(12)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berbagai informasi di era digital saat ini semakin mudah diterima dan semakin gencar masuk ke negara kita. Hal ini disebabkan oleh semakin bervariasi dan canggihnya media informasi, baik media informasi media cetak maupun elektronik. Hasil-hasil penelitian serta kemajuan ilmu dan teknologi begitu cepat dipublikasikan dan disebarkan. Akibatnya, banyak informasi yang tidak sempat diserap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kecepatan membaca yang masih perlu ditingkatkan.

Membaca memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir seluruh aspek kehidupan manusia pada era digitalisasi seperti sekarang ini menuntut kemampuan membaca yang efektif.

Bahkan, dapat dikatakan bahwa membaca merupakan kebutuhan primer manusia modern.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut masyarakat gemar membaca. Melalui membaca, masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan baru untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan hidup pada masa mendatang. Membaca merupakan sebuah jembatan bagi siapa saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan akademik, maupun di dunia pekerjaan.

(13)

Dalam dunia pendidikan, kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting karena sangat menentukan kualitas dan keberhasilan seseorang di dalam studinya. Farida Rahim (2012:2) mengemukakan bahwa “membaca pada hakikatnya adalah sesuatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, pikiran, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca merupakan suatu proses yang kompleks dan rumit. Artinya pada kegiatan membaca terlibat kegiatan berpikir seperti mengingat, memahami, membedakan, menganalisis, mengorganisasi, dan menerapkan hal-hal yang terkandung di dalam bacaan. Murid yang mempunyai minat baca yang tinggi akan memperoleh pemahaman yang tinggi terhadap bacaan yang dibacanya.

Kemampuan membaca setiap murid dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut sangat menunjang kecepatan dan keefektifan membaca. Faktor kemampuan internal dan eksternal menyebabkan kecepatan dan keefektifan membaca murid berbeda dengan kecepatan dan keefektifan membaca oleh murid yang lain.

Mengenai cara membaca dikenal empat macam, yaitu : biasa, melihat dengan cepat, mengulas, dan kecepatan tinggi. Seseorang dapat dikatakan memahami isi bacaan secara baik apabila ia dapat (a) mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan atau mengetahui maknanya, (b) menghubungkan makna konotatif maupun denotatif, (c) mengetahui seluruh makna secara kontekstual, dan (d) membuat pertimbangan nilai isi bacaan yang didasarkan pada pengalamannya.

(14)

Kemampuan membaca nyaring merupakan kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan, intonasi yang tepat agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, sikap ataupun pengalaman. Membaca nyaring perlu diterapkan guru dalam pembelajaran sebab merupakan hal yang menyenangkan bagi murid. Kegiatan membaca nyaring sangat penting karena banyak keuntungan yang diperoleh murid. Oleh karena itu, guru perlu membuat suatu program kegiatan membaca nyaring yang efektif.

Pembelajaran membaca nyaring di SD hendaknya berorientasi pada standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia. Standar kompetensi dasar membaca nyaring yang diamanatkan kurikulum sulit direalisasikan apabila pembelajaran membaca nyaring masih menggunakan model konvensional. Hal ini disebabkan terlalu rumitnya prosedur yang harus dijalani oleh guru dan murid, serta waktu yang dibutuhkan cukup lama. Akibatnya guru merasa terbebani dengan jam mengajar yang relatif padat dan alokasi waktu yang tersedia relatif sempit.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada bulan Februari 2021, kemampuan membaca nyaring pada murid Kelas III di SDN Kalase’rena Kec.

Bontonompo Kab. Gowa masih rendah, guru cenderung lebih dominan pada pembelajaran teori kebahasaan sehingga menyebabkan kemampuan membaca nyaring belum tercapai secara maksimal. Terbukti murid masih belum mampu membaca nyaring dengan baik. Kekurangmampuan murid dalam membaca nyaring umumnya disebabkan karena metode yang digunakan sangat monoton dan tidak menggunakan media pembelajaran yang dapat menarik minat baca

(15)

seorang murid. Selain itu juga diperoleh informasi bahwa Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan SDN Kalase’rena pada mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 70 dengan ketuntasan klasikal 80 %. Nilai KKM untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu 70 namun nilai rata-rata murid kelas III untuk tahun ajaran 2020/2021 semester genap hanya mencapai 68,50. Dari 20 murid yang terdaftar pada tahun ajaran 2020/2021 terdapat 11 murid yang mendapat nilai di bawah KKM dan hanya 9 murid yang mendapatkan nilai di atas KKM yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan media pembelajaran inovatif melalui penggunaan media gambar cerita dengan maksud agar murid dapat tertarik dalam membaca nyaring sebuah cerita.

Manfaat membaca secara umum adalah pembaca dapat belajar dari pengalaman orang lain. Dengan membaca buku, murid dapat menyerap atau mengetahui berbagai ragam informasi yang sangat berharga baginya. Selain itu, manfaat khusus membaca adalah pembaca dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tua. Hernowo (2016 : 18) mengemukakan bahwa membaca juga dapat menumbuhkan saraf-saraf baru di otak sekaligus membentuk jaringan baru.

Berdasarkan uraian di atas manfaat membaca dapat dipastikan bahwa murid yang tidak memiliki kemampuan membaca akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan serta akan mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Oleh sebab itu, pengajaran membaca perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh guru terutama oleh guru bahasa Indonesia di Sekolah dasar.

Mengukur tingkat kemampuan membaca di sekolah dasar, diperlukan pilihan-pilihan media pembelajaran dan kegiatan membaca oleh guru di samping

(16)

perhatian pada materi dan isi bacaan. Berkaitan dengan hal itu, menurut hemat penulis suatu media pembelajaran membaca nyaring yang menarik dan perlu dikembangkan karena selama ini belum dilakukan secara maksimal oleh guru bahasa Indonesia di SD, yaitu media cerita bergambar. Murid perlu dilatih dan disuguhi pelajaran membaca nyaring dengan menggunakan media cerita bergambar.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul ”Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Menggunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana Proses Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Menggunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa?

2. Bagaimana Hasil Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Menggunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa?

(17)

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui proses peningkatan kemampuan membaca nyaring

menggunakan media cerita bergambar pada mata pelajaran bahasa Indonesia murid kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa.

2. Untuk mengetahui hasil peningkatan kemampuan membaca nyaring menggunakan media cerita bergambar pada mata pelajaran bahasa Indonesia murid kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

a. Media cerita bergambar dalam penelitian ini bermanfaat sebagai salah satu media pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

b. Penelitian ini bermanfaat sebagai acuan dalam pembelajaran peningkatan kemampuan membaca nyaring.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam usaha memperbaiki serta meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Manfaat Praktis a. Bagi murid

Dapat menjadi alat ukur dalam mengetahui kemampuan membaca nyaring murid sehingga dapat mendukung peningkatkan kemampuan membaca nyaring murid di masa mendatang.

(18)

b. Bagi guru

Sebagai informasi dan acuan ilmiah bagi guru untuk melaksanakan evaluasi terhadap program yang telah dilakukan, sekaligus mengembangkan dan meningkatkan program yang akan dilaksanakan.

c. Bagi peneliti

Dapat dijadikan acuan bagi peneliti lain untuk menggunakan media cerita bergambar pada mata pelajaran bahasa Indonesia sebagai guru professional.

(19)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Penelitian Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Susana Beto (2016). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar dapat meningkatkan proses kemampuan membaca nyaring murid. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata kelas kemampuan membaca nyaring awal yang semula 60 pada siklus I mengalami peningkatan rata-rata kelas menjadi 66 dan pada siklus II rata-rata kelas menjadi 76.

Penelitian yang dilakukan oleh Ayu Setiani (2019). Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada Siklus I dan Siklus II penggunaan media cerita bergambar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia terbukti telah meningkatkan kemampuan membaca murid. Hal tersebut terlihat dari hasil persentase ketuntasan belajar murid pada tahap Pra Siklus 40%, Siklus I sebesar 60%

dan meningkat pada siklus II yaitu sebesar 80%. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran buku cerita bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca murid pada pelajaran Bahasa Indonesia pada murid Kelas III SD Negeri 84 Kota Bengkulu.

Penelitian yang dilakukan oleh Yeni Anindya Sari (2014). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar dapat meningkatkan proses pembelajaran membaca nyaring. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan dalam merespon guru saat melakukan tanya jawab

(20)

tentang isi cerita yaitu sebesar 50% dan peningkatan dalam menyimpulkan isi cerita yang dibacanya yaitu sebesar 41,67%. Hal ini menyebabkan kemampuan membaca nyaring murid meningkat. Peningkatan kemampuan membaca nyaring melalui media cerita bergambar pada siklus I sebesar 5,06, kondisi awal 63 meningkat menjadi 68,06. Pada siklus II meningkat sebesar 12,59, kondisi awal 63 meningkat menjadi 75,59.

Penelitian yang dilakukan oleh Julia Ismail (2019). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar dapat meningkatkan proses membaca nyaring siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata kelas kemampuan membaca nyaring dari siklus I, siswa yang tuntas berjumlah 9 orang (42%) dari jumlah keseluruhan murid (21 siswa), sementara 12 siswa (57%) belum berhasil. Pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar sebesar (38%), sehingga siswa yang berhasil pada siklus II berjumlah 17 siswa (80%) dan belum berhasil (19%).

Penelitian yang dilakukan oleh Gina Purwati (2019). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar dapat meningkatkan keterampilan membaca nyaring siswa. Hal ini ditunjukkan pada nilai rata-rata siswa 62 dengan kategori baik, siklus II memperoleh nilai rata-rata 81 dengan kategori sangat baik. Sedangkan keterampilan membaca nyaring melalui media cerita bergambar pada kegiatan prasiklus memperoleh persentase 62% dengan kategori baik, pada siklus I memperoleh 64% dengan kategori baik, kemudian pada siklus II meningkat sebesar 88% dengan kategori sangat baik.

Berdasarkan penelitan di atas, persamaan dari penelitian ini adalah menggunakan menggunakan media cerita bergambar dalam meningkatkan

(21)

kemampuan membaca nyaring murid, sedangkan perbedaannya adalah terdapat pada lokasi penelitian yang berbeda sehingga karakteristik murid pun berbeda.

2. Media

1) Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang artinya tengah, perantara atau pengantar. Kata media, merupakan bentuk jamak dari kata

“medium”, yang secara etimologi berarti perantara atau pengantar. Dagun (2016:634 ) mengemukakan bahwa media merupakan perantara/penghubung yang terletak antara dua pihak, atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk.

Putri (2011:20) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.Jadi media pembelajaran adalah alat bantu yang dapat digunakan untuk pembelajaran. Sadiman (2012:7) juga mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dalam hal ini adalah proses merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga proses belajar dapat terjalin.

Arsyad (2014:4) mengemukakan bahwa media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan atau pendapat, sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. Dalam konteks dunia

(22)

pendidikan, Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2014:3) mengungkapkan bahwa media secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa media adalah alat untuk menyampaikan informasi kepada penerima dan segala sesuatu yang dapatdigunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatianagar terjadi komunikasi yang efektif dan efisien.

2) Jenis-jenis Media

Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran pun mengalami perkembangan melalui pemanfaatan teknologi itu sendiri.

Berdasarkan teknologi tersebut, Azhar Arsyad (2011:32) mengklasifikasikan media atas empat kelompok, yaitu : a) Media hasil teknologi cetak, b) Media hasil teknologi audio-visual, c) Media hasil teknologi yang berdasarkan computer, dan d) Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.

Riyana (2014:170) mengemukakan bahwa media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung pada sudut mana melihatnya.

(23)

a. Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi atas:

1) Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.

2) Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Jenis media yang tergolong ke dalam media visual adalah: film slide, foto, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis dan lain sebagainya.

3) Media audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya.

Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.

b. Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat dibagi ke dalam:

1) Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak, seperti radio dan televisi. Melalui media ini peserta didik dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadian yang aktual secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus.

2) Media yang memunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu, seperti film slide, film, video, dan lain sebagainya.

c. Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi ke dalam:

1) Media yang diproyeksikan,

(24)

2) Media yang tidak diproyeksikan, seperti gambar, foto, lukisan, radio, dan lain sebagainya.

3) Fungsi Media Pembelajaran

Fungsi media dalam proses pembelajaran menurut Daryanto (2016:8), adalah sebagai berikut :

a) Menyaksikan benda dan makhluk hidup yang ada di masa lampau, sukar didapat dan sukar diamati secara langsung.

b) Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung.

c) Mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau terjadi di masa lampau.

d) Dengan mudah membandingkan sesuatu.

e) Dapat melihat secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat, atau sebaliknya.

f) Mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang sukar diamati secara langsung.

g) Melihat bagian-bagian yang tersembunyi dari suatua alat.

h) Dapat menjangkau audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu objek secara serempak.

i) Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat dan temponya masing- masing.

Menurut Yudhi Munadi (2013:37), fungsi media pembelajaran berdasarkan analisis yang didasarkan pada medianya dan didasarkan pada penggunanya terbagi menjadi lima, yaitu :

(25)

a) Fungsi media pembelajaran sebagai sumber belajar, sebagai penyalur, penyampai dan penghubung.

b) Fungsi semantik, menambah perbendaharaan kata yang benar-benar dipahami peserta didik.

c) Fungsi manipulatif, mengatasi batas-batas ruang dan waktu dan mengatasi keterbatasan inderawi.

d) Fungsi psikologis, media pembelajaran memiliki fungsi atensi, fungsi afektif dan kognitif, imajinatif dan motivasi.

e) Fungsi sosio-kultural, mengatasi hambatan sosiokultural antarpeserta komunikasi.

Berdasarkan penjelasan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dala. kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada murid. Murid yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya ingatan bertahan, dibandingkan dengan murid yang belajar lewat mendengarkan dan melihat. Media juga mampu membangkitkan dan membawa murid ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosional dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat murid belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman belajar terhadap materi ajar.

(26)

4) Kriteria Pemilihan Media

Setiap media memunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi kemampuannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya.

Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki pendidik dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran. Di samping itu, memberikan kemungkinan pada pendidik untuk menggunakan berbagai jenis media secara bervariasi.

Sedangkan apabila kurang memahami karakteristik media tersebut, pendidik akan dihadapkan kepada kesulitan dan cenderung bersikap spekulatif. Maka, sebelum menggunakan media dalam pembelajaran, pendidik harus memahami karakteristik, jenis serta pengelompokan media yang akan digunakannya. Pendidik harus menyakinkan dirinya bahwa media yang akan digunakan tersebut, benar-benar bisa memberikan nilai positif terhadap kualitas pembelajaran yang akan dilakukan.

Penggunaan media dalam proses pembelajaran bertujuan untuk mempermudah murid dalam memahami materi pembelajran. Hal ini berkaitan pada pemilihan media yang harus disesuaikan dengan kebutuhan murid sehingga media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan murid. Menurut zugol (dalam H. Rayandra Asyar, 2012:80), beberapa faktor yang dapat digunakan dalam memilih media meliputi :

a) Tujuan dan manfaat b) Murid

c) Metode pembelajaran, dan

(27)

d) Kemampuan teknologi yang tersedia.

Sementara Dina Indriana (2011:28-31), menyebutkan faktor –faktor yang menentukan tepat atau tidaknya pemilihan media pembelajaran sebagai berikut :

a) Kesesuaian dengan tujuan pengajaran, ialah menyesuaikan media pengajaran dengan tujuan umum maupun khusus yang ada pada setiap mata pelajaran.

b) Kesesuaian media pembelajaran dengan materi yang diajarkan, selain itu juga mempertimbangkan dengan tingkat kedalaman yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.

c) Kesesuaian dengan fasilitas pendukung, kondisi lingkungan, dan waktu.

Sebab ini merupakan faktor terpenting, jika tidak terdapat fasilitas pendukung maka media yang baik akan sia-sia dan tidak dimanfaatkan dengan sempurna.

d) Kesesuaian dengan karakteristik murid, pendidik harus mengetahui karakteristi murid untuk bisa disesuaikan dengan media pembelajaran yang akan digunakan.

e) Kesesuaian dengan gaya belajar murid, sebab gaya belajar murid sangat mempengaruhi efektifitas penggunaan media pembelajaran.

f) Kesesuaian dengan teori yang digunakan, penggunaan media tidak boleh dilakukan dengan hanya merujuk pada pilihan guru, tetapi harus menggunakan teori.

(28)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam memilih media harus memperhatikan kriteria yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di kelas. Salah satu indikator keberhasilan dalam proses kegiatan belajar di kelas dengan penggunaan media yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik

5) Penggunaan Media Cerita Bergambar

Sebelum menjelaskan pengertian media gambar, terlebih dahulu diuraikan pengertian kata gambar. Sugono, dkk. (2012:123) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa gambar adalah tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan, dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan lain sebagainya pada kertas tersebut; lukisan. Di antara media pembelajaran, media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini dikarenakan murid lebih menyukai gambar daripada tulisan, apalagi jika gambar dibuat dan disajikan sesuai derngan persyaratan yang baik, sudah tentu akan menambah semangat murid dalam mengikuti proses pembelajaran.

Di bawah ini beberapa pengertian media gambar, di antaranya :

a. Media cerita bergambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual ke dalam bentuk 2 dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, strip, opaque proyektor (Hamalik, 2014:87).

b. Media cerita bergambar adalah media yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana saja (Sadiman, 2012:32).

(29)

c. Media cerita bergambar merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa serta ukurannya relatif terhadap lingkungan.

Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa media gambar adalah alat atau sarana yang berupa gambar yang dapat menimbulkan daya tarik dan dapat mempengaruhi murid. Gambar tersebut merupakan cerita atau peristiwa. Media gambar juga merupakan perwujudan lambang dari hasil peniruan-peniruan benda, pemandangan, curahan pikiran, atau ide-ide yang divisualisasikan ke dalam bentuk 2 dimensi. Bentuknya dapat berupa gambar situasi dan lukisan yang berhubungan dengan pokok bahasan.

Penggunaan media pembelajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru- murid dan interaksi murid dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu, fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang dipergunakan guru. Hamalik (2014:12) mengatakan bahwa secara garis besar fungsi utama penggunaan media gambar adalah :

a. Fungsi edukatif; artinya mendidik dan memberikan pengaruh positif pada pendidikan.

b. Fungsi sosial; artinya memberikan informasi yang autentik dan pengalaman berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama kepada setiap orang.

c. Fungsi ekonomis; artinya memberikan produksi melalui pembinaan prestasi kerja secara maksimal.

(30)

d. Fungsi politis; berpengaruh pada politik pembangunan.

e. Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan menimbulkan ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan yang modern.

Menurut Rahadi (2013:32) ada beberapa karakteristik media gambar, sebagai berikut :

a. Harus autentik, artinya dapat menggambarkan objek atau peristiwa seperti jika murid melihat langsung.

b. Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok dalam gambar tersebut.

c. Ukuran gambar proporsionsl, sehingga murid mudah membayangkan ukuran yang sesungguhnya benda atau objek yang digambar.

d. Memadukan antara keindahan dengan kesesuiannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

e. Gambar harus message. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan gambar yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Sadiman (2012:45) menguraikan bahwa kelebihan yang dimiliki oleh media gambar adalah sifatnya konkret dan lebih realistis dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan bahasa verbal, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita, memperjelas masalah bidang apa saja, harganya murah dan mudah didapat serta digunakan. Sementara kelemahan media gambar, meliputi: hanya

(31)

menampilkan persepsi indera mata, ukurannya terbatas hanya dapat dilihat oleh sekelompok murid, gambar diinterpretasikan secara personal dan subjektif, serta gambar disajikan dalam ukuran yang sangat kecil, sehingga kurang efektif dalam pembelajaran.

Dengan demikian, media gambar merupakan salah satu teknik media pembelajaran yang efektif kerena mengombinasikan fakta dan gagasan secara jelas, kuat dan terpadu melaui pengungkapan kata-kata dan gambar.

3. Kemampuan Membaca Nyaring 1) Pengertian Membaca Nyaring

Rahim (2012:24) menjelaskan bahwa membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan bersuara dengan memperhatikan struktur kata (akata, kata majemuk dan frasa) dan kalimat, intonasi, dan jeda. Ellis dkk (Rahim, 2012:23) membaca nyaring adalah aktifitas atau kegiatan membaca bersuara dengan memperhatikan ekspresi serta intonasi dengan tujuan yang menghasilkan siswa yang lancar membaca.

Membaca nyaring dapat juga diartikan sebagai kegiatan membaca yang memperhatikan 5 indikator membaca yaitu, pelafalan, lafal yang diucapkan dalam membaca harus sesuai dengan EYD. Intonasi, tinggi rendahnya suara yang diucapkan sesuai dengan alur cerita. Volume, membaca dengan suara yang dapat didengar oleh semua pendengarnya. Kelancaran, membaca dengan lancer dan tidak mengeja. Jeda, memperhatikan tanda baca yang ada dalam membaca supaya mengetahui dengan benar isi teks bacaan.

(32)

Setiowati (2007:15) menyatakan bahwa membaca nyaring adalah cara membaca dengan bersuara, yang perlu diperhatikan adalah pelafalan vokal maupun konsonan, nada atau lagu ucapan, penguasaan tanda-tanda baca, pengelompokan kata atau frase ke dalam satuan-satuan ide, kecepatan mata dan ekspresi. Membaca nyaring yang baik menuntut agar si pembaca memiliki kecepatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh, karena dia haruslah melihat pada bahan bacaan untuk memelihara kontak mata dengan para pendengar. Pembaca juga harus mengelompokkan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas maknanya bagi para pendengar. Membaca nyaring adalah membaca dengan bersuara yang bertujuan supaya pendengarnya juga mengetahui isi teks bacaan tersebut. Tetapi pendengar juga tidak akan bisa mengetahui isi teks bacaan dengan jelas kalau teks bacaan yang dibacakan tidak jelas, maka dari itu pembaca nyaring juga harus memperhatikan lafal, jeda, volume, intonasi serta membaca dengan lancar.

Pembaca nyaring dengan ekspresi yang sesuai dalam isi teks bacaan akan membuat pendengarnya lebih mudah mengetahui isi cerita.

Dapat diambil kesimpulan dari pendapat tersebut bahwa keterampilan membaca nyaring adalah membaca bersuara dengan memperhatikan ejaan serta lafal, sehingga dapat menghasilkan suara bacaan yang baik dan benar.

Membaca nyaring atau membaca bersuara merupakan jenis kompetensi membacayang menuntut persyaratan yang ketat. Membaca nyaring bukan sekedar menyuarakan huruf. Jika hal ini yang terjadi maka pemahaman materi yang dibaca akan gagal diperoleh. Membaca nyaring atau membaca

(33)

bersuara merupakan kelanjutan dari membaca permulaan. Pada membaca permulaan tekanan ada pada kelancaran dan ketepatan penyuaraan huruf, pada membaca nyaring atau membaca bersuara difokuskan pada tekanan kata, lagu kalimat atau intonasi, jeda, dan menguasai tanda baca, keempatnya harus tepat. Jika ketepatan ini diabaikan, maka murid akan mengalami kesulitan pada waktu membaca dalam hati atau membaca intensif. Mereka hanya bisa membaca tetapi sulit menemukan pemahaman yang dikandung dalam bacaan.

Dapat diambil kesimpulan dari pendapat tersebut bahwa membaca nyaring adalah membaca bersuara dengan memperhatikan lafal dan intonasi.

Tarigan (Alek dan Achmad 2010:74) mengungkapkan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui bahasa kata-kata tulis. Pendapat lain dikemukakan oleh Lado (Alek dan Achmad 2010:75) bahwa membaca adalah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya. Abbas (2006:101) menjelaskan bahwa membaca merupakan kemampuan berbahasa yang bersifat reseptif.

2) Manfaat Membaca Nyaring

Kemampuan membaca nyaring memang sangat diperlukan. Rahim (2012:124-125) mengemukakan bahwa membaca nyaring untuk murid merupakan kegiatan berharga yang bisa meningkatkan keterampilan menyimak, menulis, dan membantu perkembangan murid untuk mencintai buku dan membaca cerita sepanjang hidup mereka.

(34)

Kegiatan yang paling penting untuk membangun pengetahuan dan keterampilan berbahasa murid memerlukan membaca nyaring. Program yang kaya dengan membaca nyaring dibutuhkan untuk semua murid karena membantu murid memperoleh fasilitas menyimak, memperhatikan sesuatu secara lebih baik, memahami suatu cerita, mengingat secara terus menerus pengungkapan kata-kata, serta mengenali kata-kata baru yang muncul dalam konteks lain.

Selain itu, manfaat membaca nyaring tidak hanya dirasakan oleh murid tetapi juga dapat dirasakan oleh guru. Rahim (2012:124) mengemukakan bahwa membaca bersuara mengonstribusikan seluruh perkembangan murid dalam banyak cara, di antaranya adalah sebagai berikut :

a. Membaca nyaring memberikan guru suatu cara yang tepat dan valid untuk mengevaluasi kemajuan keterampilan membaca yang utama, khususnya pemenggalan kata, frasa, dan untuk menemukan kebutuhan pengajaran yang spesifik.

b. Membaca nyaring memberikan latihan berkomunikasi lisan untuk pembaca dan bagi yang mendengar untuk meningkatkan keterampilan menyimaknya.

c. Membaca nyaring juga bisa melatih murid untuk mendramatisasikan cerita dan memerankan pelaku yang terdapat dalam cerita.

d. Membaca nyaring menyediakan suatu media dimana guru dengan bimbingan yang bijaksana, bisa bekerja untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian diri, terutama lagi dengan murid yang pemalu.

(35)

3) Indikator Membaca Nyaring

Asmani (2011:188) mengemukakan bahwa ada 5 indikator kemampuan membaca nyaring yaitu :

a) Pelafalan, lafal yang diucapkan dalam membaca tidak menunjukkan ciri kedaerahan dan sesuai dengan EYD. Tidak membaca dengan menggunakan logat daerahnya masing-masing namun menggunakan EYD.

Pendengar akan merasa nyaman dan mudah menangkap isi bacaan ketika pembaca membacakan teks dengan baik dan benar.

b) Intonasi, tinggi rendahnya suara yang diucapkan sesuai dengan alur cerita dan tidak terburu-buru dalam membaca. Pembaca harus membaca dengan ekspresi dan intonasi yang tepat sehingga pendengar akan dengan mudah mengetahui isi teks cerita bacaan.

c) Volume, membaca dengan suara keras dan terdengar oleh semua pendengarnya. Supaya pendengar dapat mengetahui isi teks bacaan maka pembaca harus membaca teks bacaan dengan suara yang keras sekiranya dapat didengar oleh semua pendengarnya.

d) Kelancaran Membaca, membaca dengan jelas dan lancar dengan mengeja kata demi kata. Hal tersebut akan membingungkan pendengar, karena tidak jelas ketika didengarkan dan akan menyulitkan pendengar ketika akan mengetahui isi dari teks bacaan. Maka dari itu pembaca harus membaca teks bacaan dengan lancar tanpa ada kata yang dieja.

e) Jeda, memperhatikan tanda baca yang ada dalam bacaan supaya dapat mengetahui isi dari teks bacaan. Tanda baca dalam suatu teks bacaan juga

(36)

sangat berpengaruh pada si pembaca dan pendengar untuk mengetahui isi teks bacaan. Jika teks bacaan dibaca tidak dengan memperhatikan tanda baca maka pembaca dan pendengar pun akan kebingungan dalam mengetahui isi teks bacaan.

4) Strategi Membaca Nyaring

Dalam pelaksanaan membaca nyaring, ada murid yang sudah lancar membaca dan ada juga murid yang mengalami kesulitan dalam membaca.

Dalam hal ini guru harus memperhatikan tingkat kemampuan membaca murid. Beto (2016:19-20) menjelaskan tentang strategi guru dalam menghadapi murid yang mengalami kesulitan dalam membaca, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Bacalah bacaan atau cerita untuknya dan bicarakanlah gambar-gambar, orang-orang dan kejadiannya.

b. Kemudian, baca ulang sambal menunjukkan setiap kata sembari jari anda bergerak mengikuti garis tulisan.

c. Ajaklah murid anda menyimak dan memperhatikan kata-kata pada saat anda sedang membaca.

d. Bacalah ulang cerita bersama-sama, kadang-kadang berhentilah sejenak agar murid meneruskan membaca sendiri sebuah kata atau menyelesaikan sebuah kalimat.

e. Pada saat kemampuan dan rasa percaya diri murid meningkat, doronglah dia untuk banyak membaca materi tersebut dan kurangi peranan anda dalam membaca materi.

(37)

f. Pada saat murid membacakan materi untuk anda, ingatlah untuk memujinya pada saat dia membaca sebuah kalimat dengan benar, mengoreksi kesalahannya sendiri, dan mengucapkan sebuah kata setelah anda membantunya.

g. Sebaiknya jangan membuat pertanyaan negatif atau memusatkan perhatian pada kesalahan-kesalahannya. Jika dia belum benar dalam membaca sebuah kata, jelaskan belum benar dalam membaca sebuah kata, jelaskan maksudnya misalnya arti sebuah kata atau beri contoh benda atau kata yang dimaksudkan.

h. Jika dia tetap belum dapat memahami kata tersebut dengan benar, bacalah sendiri kata tersebut, kemudian mintalah agar dia meneruskan membaca.

5) Pelaksanaan Pengajaran Membaca Nyaring di Kelas

Pengajaran membaca nyaring dilaksanakan di kelas rendah (kelas I, II, dan III). Menurut Tarigan (2012:26), daftar keterampilan berikut ini sangat menolong para guru dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam membaca nyaring pada kelas rendah.

Kelas I :

1. Menggunakan ucapan yang tepat.

2. Menggunakan frase yang tepat (kata demi kata).

3. Menggunakan intonasi suara yang wajar agar makna mudah terpahami.

4. Memiliki perawakan dan sikap yang baik serta merawat buku dengan baik.

5. Menguasai tanda-tanda baca sederhana, seperti: titik (.) koma (,) tanda tanya (?) tanda seru (!).

(38)

Kelas II :

1. Membaca dengan terang dan jelas.

2. Membaca dengan penuh perasaan, ekspresi.

3. Membaca tanpa tertegun-tegun, tanpa terbata-bata.

KELAS III :

1. Membaca dengan penuh perassaan, ekspresi.

2. Mengerti serta memahami bahan bacaan.

Pembelajaran membaca nyaring lebih ditekankan pembelajaran membaca nyaring oleh guru. Dalam hal ini guru sebagai model, murid memperhatikan guru dalam membaca nyaring tersebut. Buku “The New Read-Aloud Handbook” yang populer di Amerika Serikat (dalam Rahim,

2012 : 126-127) meninjau keuntungan dan kesenangan murid pada membaca nyaring dan apa yang boleh/tidak boleh dilakukan dalam membaca nyaring, adalah sebagai berikut :

1. Mulai membacakan cerita pada awal pertama di kelas.

2. Sebelum membaca cerita atau puisi, akrabilah lebih dahulu materi bacaan tersebut. Dengan demikian, guru akan mengetahui bagian cerita yang perlu mendapat tekanan, kata atau konsep yang diperlukan sebelum membaca untuk menghindari kebingungan, dan suasana hati yang perlu ditampilkan.

3. Wacana yang panjang sebaiknya diperpendek, supaya pengajaran membaca lebih lancar, dan latihlah membaca suatu cerita atau bagian cerita dengan nyaring sebelum membacakannya pada murid.

(39)

4. Selalu mendiskusikan isi bahan bacaan dengan murid untuk membangkitkan minat murid pada buku.

5. Suruh murid duduk dengan senang dalam setengah lingkaran di sekitar anda dan singkirkan semua gangguan. Adakan kontak mata selama membaca cerita berlangsung.

6. Duduk pada kursi rendah dekat murid dan peganglah buku sedemikian rupa sehingga mereka bisa melihat ilustrasi.

7. Jadikan kegiatan ini mengasyikkan, ekspresikanlah emosi-emosi yang dibangkitkan oleh cerita atau puisi dan bawalah sastra ke dalam suasana yang hidup melalui gerakan, sound effect, dan perubahan nada suara.

8. Apabila memungkinkan doronglah murid berpartisipasi dalam membaca, misalnya mereka mungkin ingin menceritakan buku atau mendeklamasikan suatu puisi.

9. Secara periodik, berilah mereka pertanyaan untuk meningkatkan pemahaman dan minat murid.

10. Jika tidak mungkin menyelesaikan seluruh bagian atau bab pada suatu bacaan, cobalah berhenti pada bagian cerita yang menegangkan.

B. Kerangka Pikir

Media adalah suatu pembawa pesan dalam kegiatan pembelajaran.

Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran. Media juga merupakan sumber belajar yang memungkinkan anak didik memeroleh pengetahuan dan keterampilan. Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk memberikan atau menyampaikan pesan kepada seseorang guna meningkatkan

(40)

efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Salah satu jenis media yang efektif dalam menyampaikan materi pembelajaran adalah media gambar.

Penggunaan media cerita bergambar bagi peningkatan kemampuan membaca nyaring merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang efektif pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Pembelajaran ini bertujuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan berbahasa murid memerlukan membaca nyaring. Program yang kaya dengan membaca nyaring dibutuhkan untuk semua murid karena membantu murid memperoleh fasilitas menyimak, memperhatikan sesuatu secara lebih baik, memahami suatu cerita, mengingat secara terus menerus pengungkapan kata-kata, serta mengenali kata-kata baru yang muncul dalam konteks lain.

Penggunaan media bergambar dilakukan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan membaca nyaring karena permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan guru adalah cara mengatasi rendahnya kemampuan membaca nyaring murid. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti melakukan penelitian tentang penggunaan media cerita bergambar bagi peningkatan kemampuan membaca nyaring.

Dalam penelitian ini difokuskan pada salah satu pemanfaatan media bergambar yang dijadikan alat bantu belajar-mengajar di kelas berupa bentuk cerita bergambar. Pemanfaatan media ini akan digunakan untuk mengoptimalkan pembelajaran kegiatan membaca nyaring. Hasil penerapan tersebut merupakan bahan analisis untuk mengungkap dan menghasilkan

(41)

temuan penelitian ini. Secara sederhana, alur penelitian ini digambarkan seperti berikut ini :

Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini adalah :

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pikir Pembelajaran Bahasa Indonesia

Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis

Membaca Nyaring

Temuan Siklus N Kurikulum 2013

Analisis Media Cerita

Bergambar

(42)

31 BAB III

PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kemampuan

membaca nyaring pada jenjang sekolah dasar. Pada sisi lain, tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk lebih meningkatkan profesionalisme guru dalam proses mengajar. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bersiklus yang terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa pada semester genap tahun ajaran 2020/2021.

Subjek penelitian sebanyak 20 murid yang terdiri dari 8 orang murid laki-laki dan 12 orang murid perempuan.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini yaitu media cerita bergambar dan kemampuan membaca nyaring. Kedua fokus penelitian ini dioperasionalkan sebagai berikut:

1. Media cerita bergambar adalah media yang merupakan reproduksi bentuk asli dalam dimensi yang berupa foto atau lukisan.

(43)

2. Kemampuan membaca nyaring adalah kegiatan menyuarakan tulisan dari pembaca yang melibatkan penglihatan, ingatan, pendengaran, dan ingatan yang bersangkut paut dengan otot-otot manusia yang bertujuan untuk menangkap serta informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, tiap siklus terdiri dari 3x pertemuan sesuai dengan perubahan yang akan dicapai.

Pertemuan pertama dan kedua untuk proses pembelajaran, dan pertemuan ketiga untuk kegiatan penilaian kemampuan membaca nyaring. Tiap siklus terdiri atas beberapa kegiatan sesuai dengan hakikat penelitian. Kegiatan- kegiatan pada siklus II merupakan pengulangan dan perbaikan dari kegiatan siklus I. Adapun bagan siklus penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 2.2. Bagan Penilitian Tindakan Kelas Adaptasi Model Kurt Lewin 1946 (Arikunto, 2013:16)

Pengamatan

Perencanaan

Pengamatan

Pelaksanaan Refleksi

Pelaksanaan Refleksi

Siklus I

Siklus II Perencanaan

(44)

Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan sebagai berikut:

Siklus I

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan tahap yang paling pertama dilakukan sebelum tahap-tahap selanjutnya. Sekaligus pada tahap ini dilakukan semua persiapan yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung. Beberapa bentuk kegiatan yang dilakukan pada perencanaan adalah sebagai berikut:

1) Mempelajari dan menelaah kurikulum yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan selama penelitian berlangsung.

2) Melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam hal penggunaan pendekatan, metode, model pembelajaran, dan strategi yang digunakan.

3) Mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan kendala-kendala yang dihadapi guru dalam proses belajar mengajar.

4) Setelah menemukan faktor penghambat dan kesulitan guru tersebut, kemudian merumuskan alternatif pendekatan, metode, model pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang akan digunakan.

5) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

6) Membuat lembar observasi kegiatan guru dan murid.

7) Membuat alat evaluasi.

2. Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk mengimplementasikan semua yang direncanakan pada tahap perencanaan, atau dengan kata lain

(45)

tahap ini merupakan tindak lanjut dari tahap perencanaan. Hal-hal yang dilakukan pada tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi kesiapan murid untuk mengikuti proses belajar.

2) Guru memberikan orientasi pada murid tentang tujuan pembelajaran dan memperkenalkan model pembelajaran yang akan dipakai saat proses belajar.

3) Membahas materi pelajaran menggunakan media cerita bergambar.

4) Membimbing murid yang mengalami hambatan atau kesulitan dalam belajar.

5) Melakukan evaluasi untuk mengetahui peningkatan hasil belajar murid pada akhir pembelajaran.

3. Observasi

Tahap selanjutnya adalah melakukan observasi pada pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat yaitu lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas murid. Selain hal tersebut, pada tahap ini juga dilakukan observasi berbagai dinamika kegiatan proses belajar mengajar yang dapat mempengaruhi kegiaatn pembelajaran.

4. Refleksi

Seluruh hasil pembelajaran yang diperoleh pada tahap-tahap sebelumnya melalui lembar observasi akan direfleksi pada tahap ini, kemudian menilai dan mempelajari hasil belajar murid pada siklus I, dan

(46)

hasil refleksi inilah yang selanjutnya dijadikan acuan bagi peneliti untuk merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya.

Siklus II 1. Perencanaan

Beberapa hal yang dilakukan pada tahap perencanaan pada siklus II adalah sebagai berikut:

1) Setelah melakukan refleksi pada siklus I dan apabila ditemukan kekurangan dan kelemahan-kelemahan, maka pada tahap ini dilakukan perencanaan dengan mencari alternatif perbaikannya.

2) Melanjutkan tahap perencanaan yang telah dilakukan pada siklus I dengan beberapa perbaikannya.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II adalah melanjutkan langkah- langkah yang telah dilakukan pada siklus I dan melaksanakan beberapa perencanaan baru yang dirancang dan disesuaikan dengan materi yang ada pada siklus II dan dari hasil perbaikan pada siklus I.

3. Observasi

Proses observasi yang dilakukan pada siklus II sama dengan proses observasi yang dilakukan pada siklus I, yaitu peneliti melakukan pengamatan dan mencatat seluruh aktivitas guru dan murid selama proses belajar mengajar berlangsung berdasarkan lembar observasi yang telah dibuat.

(47)

4. Refleksi

Pada tahap refleksi ini peneliti meninjau kembali hal-hal yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya serta hasil yang diperoleh murid dengan membandingkan proses dan hasil belajar murid pada siklus I dengan siklus II dan hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi pada siklus I dan siklus II dianalisis untuk mendapatkan kesimpulannya.

E. Instrument Penelitian

Adapun instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas murid dalam proses belajar dan hasil belajar murid di dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :

1) Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman murid terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus setelah diberikan serangkaian tindakan.

2) Wawancara dilaksanakan dengan subjek penelitian pada setiap akhir pembelajaran yang akan digunakan sebagai bahan refleksi untuk tindakan selanjutnya. Wawancara dimaksud untuk (a) mengetahui secara lebih mendalam terhadap latar kesulitan yang dihadapi murid dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan, (b) mengetahui sejauhmana murid telah benar-benar menunjukkan kinerja yang diharapkan dalam membaca nyaring.

3) Pengamatan difokuskan untuk segala aktivitas murid apakah terlibat aktif dalam pelaksanaan tindakan, peneliti yang mengajar guru kelas III dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai teman sejawat.

(48)

4) Catatan lapangan bertujuan untuk melengkapi data hasil wawancara dan observasi. Catatan ini memuat interaksi murid dan guru selama pembelajaran kooperatif dan perencanaan pembelajaran yang telah tersusun.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah :

1. Sumber Data. Sumber data adalah personal penelitian yang terdiri dari peneliti, guru, dan murid.

2. Jenis data :

a. Data kualitatif adalah data hasil observasi tentang aktivitas murid dalam mengikuti proses pembelajaran.

b. Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dari tes setiap akhir siklus.

3. Cara pengambilan data :

a. Data mengenai tingkat kemampuan membaca nyaring yang dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar setiap akhir siklus.

b. Data mengenai aktivitas murid yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi selama proses pembelajaran dibantu oleh seorang observer.

G. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Untuk analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif yaitu rata-rata dan persentase, tabel frekuensi, persentase nilai

(49)

terendah dan tertinggi, sedangkan analisis kualitatif yang digunakan adalah kategorisasi skor skala 5. Menurut Nurkancana (2014 : 45) bahwa skor skala 5 minimal adalah pembagian yang terdiri dari 5 tingkatan penguasaan.

Tabel 3.1 Kategori Skor Murid Tingkat Penguasaan Kategori

85 – 100 Sangat Tinggi

65 – 84 Tinggi

55 – 64 Sedang

35 – 54 Rendah

0 – 34 Sangat Rendah

Sumber : Arikunto (2013:46)

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila (1) terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar murid Kelas III SDN Kalase’rena Kec. Bontonompo Kab. Gowa dari siklus I ke siklus II, (2) Nilai ketuntasan individu atau nilai KKM mencapai skor 70 dan ketuntasan secara klasikal mencapai 80% dari 20 murid.

(50)

39 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian di lapangan dengan metode kuantitatif. Data ini didapatkan dari hasil tes kemampuan membaca nyaring melalui pengggunaan media cerita bergambar. Aspek-aspek yang dinilai dalam penelitian ini adalah (1) Ketepatan intonasi, (2) Ketepatan artikulasi, dan (3) Kelancaran Membaca Nyaring. Setelah melaksanakan penelitian tindakan melalui penggunaan media cerita bergambar dalam pembelajaran yang terdiri dari dua siklus kegiatan, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan Pertemuan pertama dan kedua adalah membacakan media ceita bergambar seri sedangkan pertemuan ketiga adalah membuat cerita berdasarkan gambar seri yang diberikan lalu menceritakan cerita yang telah dibuatnya. Berikut ini hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Deskripsi Tindakan Pada Siklus I a. Pertemuan 1 (Senin, 19 Juli 2021)

1) Tahap Perencanaan

a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.

b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan secara nyaring olah setiap murid pada pembelajaran tatap muka.

c) Menyiapkan pedoman observasi

(51)

2) Tahap Pelaksanaan a) Berdoa bersama.

b) Mengabsen murid.

c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.

d) Memotivasi murid.

e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.

g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.

i) Guru membagi media cerita bergambar ke semua murid kelas III.

j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.

k) Setiap murid membacakan media cerita bergambar yang telah dibagikan pada saat pertemuan tatap muka, kemudian murid juga membacakan kembali dengan nyaring dan menceritakan media cerita bergambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri.

l) Guru memberikan evaluasi.

Tahap pelaksanaan pada pertemuan 1, setiap murid diarahkan memperhatikan cerita bergambar seri yang dibagikan dengan judul “Angin Puting Beliung”. Setelah itu, minta murid membacakan nyaring cerita pada gambar “Angin Puting Beliung” pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Guru memberi contoh cara membacakan cerita yang ada pada media cerita bergambar dengan baik dan benar. Guru memberikan

(52)

kesempatan kepada setiap murid mempelajari kembali media cerita bergambar “Angin Puting Beliung”, kemudian setiap murid diarahkan menceritakan kembali media gambar menggunakan bahasa sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di tersebut diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada bagian lampiran 1.

b. Pertemuan 2 (Kamis, 22 Juli 2021) 1) Tahap Perencanaan

a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.

b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan nyaring olah setiap murid pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.

c) Menyiapkan pedoman observasi 2) Tahap Pelaksanaan

a) Berdoa bersama.

b) Mengabsen murid.

c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.

d) Memotivasi murid.

e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.

g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

(53)

h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.

i) Guru membagi media gambar ke semua murid kelas III.

j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.

k) Setiap murid membacakan media gambar yang telah dibagikan, kemudian murid juga menceritakan media gambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.

l) Guru memberikan evaluasi.

Tahap pelaksanaan pada pertemuan 2, setiap murid diarahkan memperhatikan media cerita bergambar yang dibagikan dengan judul

“Gunung Meletus”. Setelah itu, minta murid membacakan cerita pada gambar “Gunung Meletus” pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.

Guru memberi contoh cara membacakan cerita yang ada pada media gambar dengan baik dan benar. Guru memberikan kesempatan kepada setiap murid mempelajari kembali media gambar seri “Gunung Meletus”, kemudian setiap murid diarahkan membacakan kembali secara nyaring media cerita bergambar pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada lampiran 2.

(54)

c. Pertemuan 3 (Sabtu, 24 Juli 2021) 1) Tahap Perencanaan

a) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penggunaan media cerita bergambar.

b) Membuat dan menyusun media cerita bergambar yang akan dibacakan nyaring olah setiap murid.

c) Menyiapkan pedoman observasi 2) Tahap Pelaksanaan

a) Berdoa bersama.

b) Mengabsen murid.

c) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.

d) Memotivasi murid.

e) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

f) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.

g) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

h) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan.

i) Guru membagi media cerita bergambar ke semua murid kelas III.

j) Guru menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada setiap murid.

k) Setiap murid membacakan nyaring media cerita bergambar yang telah dibagikan, kemudian murid juga menceritakan media cerita bergambar tersebut menggunakan kata-kata sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung.

(55)

l) Guru memberikan evaluasi.

Tahap pelaksanaan pada pertemuan 3, setiap murid diarahkan memperhatikan cerita bergambar yang dibagikan dengan judul “Akibat Tidak Mencuci Tangan”. Setelah itu, minta murid membaca nyaring cerita yang ada pada media cerita bergambar yang sudah diamati lalu arahkan kembali semua murid menceritakan media cerita bergambar menggunakan bahasa sendiri pada saat pertemuan tatap muka berlangsung. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada pertemuan yang dapat dilihat pada lampiran 3.

Pada tabel 4.4 (terlampir) data nilai akhir kemampuan membaca nyaring murid kelas III SDN Kalase’rena Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa, nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus I hanya 63,45 dan masih perlu ditingkatkan. Maka dari itu penelitian ini akan dilanjutkan ke siklus II.

Deskripsi peningkatan kemampuan membaca nyaring murid secara kuantitatif berdasarkan hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.5 : Statistik Skor Penguasaan Murid pada Tes Siklus I Statistik Nilai Statistik

Subjek 20

Skor Ideal 100

Skor Maksimum 77

Skor Minimum 40

(56)

Skor Rata-Rata 63,45

KKM 70

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 20 murid diperoleh skor maksimum 77, skor minimum 40, dan rata-rata kelas hanya 63,45 berada di bawah nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 70 dari skor ideal 100.

Apabila skor hasil kemampuan membaca nyaring melalui pennggunaan media cerita bergambar dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.6 : Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Kemampuan Membaca Nyaring Murid Pada Siklus I No. Skor Kategori Frekuensi Persentase

1. 0 – 34 Sangat Rendah - 0 %

2. 35 – 54 Rendah 1 5 %

3. 55 – 64 Sedang 10 50 %

4. 65 – 84 Tinggi 9 45 %

5. 85 – 100 Sangat Tinggi - 0 %

Jumlah 20 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tidak ada murid yang berada dalam kategori sangat rendah (0%), terdapat 1 murid yang berada dalam kategori rendah (5%), kategori sedang 10 murid (50%), kategori tinggi hanya 9 murid (45%), dan tidak terdapat murid yang berada dalam kategori sangat tinggi (0%) pada siklus I. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan membaca nyaring yang diperoleh murid melalui

Gambar

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pikir  Pembelajaran Bahasa Indonesia
Gambar 2.2.  Bagan Penilitian Tindakan Kelas Adaptasi Model Kurt Lewin 1946 (Arikunto, 2013:16)
Tabel  di  atas  menunjukkan  bahwa  dari  20  murid  diperoleh  skor  maksimum  77, skor minimum  40, dan rata-rata kelas hanya 63,45  berada  di bawah nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 70 dari skor ideal 100
Tabel  di  atas  menunjukkan  bahwa  pada  siklus  I,  dari  20  murid  hanya  9  murid  (45%)  yang  tuntas  belajarnya  dan  yang  tidak  tuntas  sebanyak 11 murid (55%)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tindakan kelas ini, indikator yang telah dicapai siswa adalah adanya peningkatan keterampilan menyimak cerita anak pada mata pelajaran Bahasa Indonesia

Melalui Penelitian Tindakan Kelas diharapkan mampu meningkatkan keterampilan menyimak cerita melalui teknik Paired Storytelling dengan media Audiovisual pada mata pelajaran

Tujuan penelitian ini adalah: (1) meningkatkan keterampilan menyimak siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia tentang cerita rakyat tahun ajaran 2015/2016 melalui

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada materi zat tunggal

Untuk itu, maka diperlukan tindakan nyata dalam upaya “Peningkatan Minat Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Pendidkan Agama Kristen dengan Media Cerita

Memperhatikan hasil penelitian Siklus I yang dikemukakan di atas, dapat diketahui rata-rata kemampuan siswa dalam menyimak cerita pendek pada mata pelajaran Bahasa

Setelah melakukan 3 siklus penelitian pada pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan media cerita bergambar yang dilakukan oleh peneliti

Abstrak: Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dua siklus ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2019/2020 di SMP Negeri 2 Belitang, Kabupaten Sekadau,