• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Kristen Satya Wacana Semester 1 tahun ajaran 2015/2016. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran Sejarah dengan menerapkan model pembelajaran Make a Match. Penelitian Tindakan Kelas ini berupaya untuk memperbaiki pelaksanaan proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kualtas hasil belajar.

Menurut pendapat Kurt Lewin (Kunandar, 2011:42) penlitian tindakan kelas adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri dari atas empat tahap, yakni: Perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

B. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 2 SMA Kristen Satya Wacana Salatiga. Siswa kelas X MIA 2 berjumlah 25 siswa terdiri dari:

Laki-laki : 12 siswa Perempuan : 13 siswa

C. Bentuk Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini adalah penelitian yang melibatkan guru mata pelajaran Sejarah.

D. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber: 1. Siswa

Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar 2. Guru

Untuk melihat tingkat keberhasilan model pembelajaran Make a Match dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.

(2)

3. Observer dan Kolaborator

Observer dan kolaborator dimaksudkan sebagai sumber data untuk melihat implementasi Penelitian Tindakan Kelas secara komperhensif, baik dari diri siswa maupun guru pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Tes, observasi, Angket, dokumentasi, dan diskusi.

1. Tes

Tes dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa (Kunandar, 2011:279). Bentuk tes dipergunakan adalah Tes esay.

2. Observasi

Observasi diprgunakan untuk pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperlihatkan tingkah lakunya (Slamento, 1986:108). Dan observasi berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait bersama prosesnya (Suwarsih Madya. 2009: 62)

3. Angket .

Terdiri dari serangkaian pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis, digunakan untuk mengetahui pendapat siswa tentang model pembelajaran Make a Match.

4. Dokumentasi.

Dokumentasi membantu untuk mengumpulkan data penelitian, yang ada kaitannya dengan permasalahan penelitian tindakan kelas (Rochiati Wiriatmadja, 2005 :121). Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang silabus dan rencana pembelajaran, nilai tes dan rata-rata mata pelajaran Sejarah, buku teks yang dipergunakan dalam pembelajaran.

(3)

F. Prosedur Penelitian

Dalam peneltian tindakan kelas ini, menunjuk pada model Kurt Lewin yang terdiri dari empat langkah, yaitu:

1. Perencanaan (Planning) 2. Aksi dan tindakan (Acting) 3. Observasi (Observing) 4. Refleksi (Reflecting)

Keempat langkah model Kurt Lewis tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. PTK Model Kurt Lewin

Dalam penelitian tindakan kelas peneliti melaksanakan dua siklus sebagai penelitian hasil belajar siswa dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai yaitu meningkatkan hasil belajar siswa.

SIKLUS 1

1. Tahap Perencanaan (Planning) meliputi:

a. Menyusun Rencana Pelaksanaa Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan silabus. b. Menyiapkan instrumen (Lembar pengamatan guru dan angket siswa).

c. Membuat evaluasi (Post Test) dan kunci jawaban. d. Membuat Hand out untuk siswa.

e. Menyiapkan lembar kertas kerja untuk siswa dalam membuat pertanyaan. Acting

Planning Observing

(4)

2. Tahap tindakan (Action) meliputi: Kegiatan Awal

a. Menyiapkan LCD dan 13 kartu soal dan13 kartu jawaban. b. Siswa menerima penjelasan guru mengenai tujuan pembelajaran. c. Siswa mendengarkan materi dan tanya jawab.

d. Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai model pembelajaran Make a match

Kegiatan inti

a. Dengan model pembelajaran ceramah guru menjelaskan siswa tentang Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya

b. Guru membagi menjadi 2 kelompok di dalam kelas, dalam 2 kelompok terdiri dari kelompok soal dan kelompok jawaban.

c. Setiap kelompok yang terdiri dari 13 siswa, dan karena jumlah siswa di dalam kelas berjumlah 25 siswa, guru juga ikut bermain supaya jumlah menjadi genap 26. d. Kemudian 1 siswa dari kelompok pemegang kartu soal membacakan pertanyaan

untuk kelompok jawaban, dan bagi kelompok jawaban yang merasa mempunyai kartu jawaban dari kelmpok pemegang karu soal bisa langsung berdiri mencocokkan kartu jawabannya.

e. Setelah dicocokkan kartu soal dan kartu jawaban, 2 siswa tersebut diminta berdiri di depan kelas untuk mempresentasikan hasil dari kartu soal dan kartu jawaban mereka.

f. Para siswa yang lain dipersilakan untuk mengajukan pertanyaan kepada 2 siswa tersebut yang sedang melakukan presentasi sehingga tercipta diskusi di dalam kelas g. Setelah 2 siswa tadi dipasangkan melalui model belajar Make a Match dan selesai melakukan presentasi, siswa dari kelompok soal kembali bergatian membacakan pertanyaan untuk mencari pasangan siswa lain dari kelompok kartu jawaban dan selanjutnya kembali melakukan presentasi.

h. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.

(5)

a. Siswa diberikan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa

b. Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi individu yang telah diberikan guru secara individu.

c. Pembelajaran selesai dan ditutup oleh guru.

d. Siswa dibagikan angket untuk mengetahui tanggapan mengenai kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran Make a Match.

3. Tahap observer (Observation)

a. Observer mengamati aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran Make a Match pada saat melakukan penelitian.

b. Observer mencatat setiap perubahan guru dalam melakukan penelitian dalam menerapkan model Make a Match pada lembar pengamatan guru.

4. Tahap refleksi (Reflection).

a. Ada siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang dibuat oleh temannya. b. Ada siswa yang kurang percaya diri pada saat presentasi jawaban.

c. Melakukan diskusi kepada obsever untuk siklus selanjutnya. d. Menganalisis hasil pelajaran siswa.

e. Menganalisis angket siswa terhadap model pembelajaran Make a Match.

Berdasarkan refleksi pada siklus 1, dapat disimpulkan bahwa peneliti akan melaksanakan siklus selanjutbya agar pembelajaran lebih efektif dan hasil belajar siswa lebih meningkat dari sebelumnya, sesuai yang diharapkan.

SIKLUS II

1. Tahap Perencanaan (Planning)

a. Identifikasi masalah berdasarkan siklus 1.

b. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pemelajaran (RPP) berdasarkan silabus. c. Menyusun kembali instrumen (Lembar Pengamatan guru dan angket siswa). d. Menyusun kembali format evaluasi (Post Test dan kunci jawaban).

e. Menyiapkan materi pelajaran tentang Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Kediri.

f. Menyiakan kembali kartu soal dan kartu jawaban untuk siswa dengan soal dan jawaban yang bebeda dari siklus I.

(6)

2. Tahap tindakan (Action) meliputi:

Kegiatan Awal

a. Guru menyiapkan kembali LCD dan kartu make a match untuk siswa. b. Siswa menerima penjelasan guru mengenai tujuan pembelajaran.

c. Siswa mendengarkan penjelasan materi dari guru tentang Kerajaan Mataram kuno dn kerajaan kediri.

d. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang prosedur pelaksanaan pembelajaran Make a Match.

e. Tanya jawab.

Kegiatan Inti

a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.

b. Setelah itu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kartu soal dan kartu jawaban.

c. Setiap kelompok yang terdiri dari 13 siswa, dan karena jumlah siswa di dalam kelas berjumlah 25 siswa, guru juga ikut bermain supaya jumlah menjadi genap 26.

d. Kemudian 1 siswa dari kelompok pemegang kartu soal membacakan pertanyaan untuk kelompok jawaban, dan bagi kelompok jawaban yang merasa mempunyai kartu jawaban dari kelmpok pemegang karu soal bisa langsung berdiri mencocokkan kartu jawabannya.

e. Setelah dicockkan katu soal dan kartu jawaban, 2 siswa tersebut diminta berdiri di depan kelas untuk mempresentasikan hasil dari kartu soal dan kartu jawaban mereka.

f. Para siswa yang lain dipersilakan untuk mengajukan pertanyaan kepada 2 siswa tersebut yang sedang melakukan presentasi sehingga tercipta diskusi di dalam kelas.

g. Setelah 2 siswa tadi dipasangkan melalui model belajar Make a Match dan selesai melakukan presentasi, siswa dari kelompok soal kembali bergatian membacakan

(7)

pertanyaan untuk mencari pasangan siswa lain dari kelompok kartu jawaban dan selanjutnya kembali melakukn presentasi.

h. Siswa bersama dengan guru menyipmpulkan materi pelajaran

Kegiatan Akhir.

a. Siswa diberi evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa.

b. Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi individu yang telah diberikan guru secara individu.

c. Pelajaran selesai dan ditutup oleh guru.

d. Siswa dibagikan angket untuk mengetahui tanggapan mengenai kegiatan pembelajaran dengan metode Make a Match.

3. Tahap Observer (Observation)

a. Observer mengamati aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran Make a Match.

b. Observer mencatat setiap perubahan guru dalam melakukan peneltian dalam menerapkan model pembelajaran Make a Match. pada lembar pengamatan guru. 4. Tahap Refleksi (Reflection).

a. Siswa sangat antusias dan semangat dalam pelajaran sejarah dengan model pembelajaran Make a Match.

b. Siswa mulai tertarik dengan model pembelajaran Make a Match. c. Siswa mulai percaya diri saat melakukan presentasi di depan kelas.

Dari refleksi pada siklus II dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa dengan ketuntasan klasikal mencapai 100% pada mata pelajaran Sejarah, sehingga kegiatan penelitian tidak dilakukan ke siklus selanjutnya.

G. Indikator Keberhasilan

Adapun yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian adalah Hasil belajar siswa Sejarah meningkat yaitu semua siswa mendapatkan nilai 100 dan mencapai kriteria ketuntasan minimum 100% (KKM) siswa memilki skor yang diperoleh dari hasil pengamatan dalam proses belajar mengajar.

(8)

Tingkat keberhasilan model pembelajaran Make a Match dikatakan berhasil. H. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis deskriptif komparatif. Penelitian Dskriptif merupakan penelitian untuk memberikan uraian mengenai fenomena atau gejala sosial yang diteliti dengan mendeskripsikan tentang nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih berdasarkan indikator-indikator dari variabel yang diteliti (Iskandar, 2008:-61).

Penelitian Komparatif penelitian ini membandingkan satu variabel atau lebih dengan sempel besar, tujuan penelitian komparatif adalah untuk menguji teori sehingga ditemukan perbedaan dan kesamaan. (Iskandar, 2008:62)

Gambar

Gambar 2. PTK Model Kurt Lewin

Referensi

Dokumen terkait

Pembelajaran di kelas merupakan penerapan metode pembelajaran Jigsaw II dalam mata pelajaran Sosiologi pada kelas XI IPS 1 SMAN 2 Salatiga yang akan dilakukan dengan dua siklus,

Dalam penelitian ini, siklus kegiatan dirancang dengan penelitian tindakan kelas. Kegiatan dilaksanakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus tahap rencana tindakan, setiap siklus meliputi: perencanaan ( planning ), pelaksanaan tindakan (

Prestasi belajar mata pelajaran Kewirausahaan (variabel X) adalah hasil yang diperoleh siswa dari kegiatan penyelesaian tahap evaluasi mata pelajaran kewirausahaan pada

Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti Hubungan Fasilitas Belajar dan Interaksi Sosial dengan Kemandirian Belajar Siswa Kelas X pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA

Pelaksanan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dua siklus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran

Apa bila dalam tiga siklus yang dilaksanakan belum dapat mengatasi masalah maka akan dilakukan tindakan perbaikan pada siklus selanjutnya, hingga tujuan yang

Berdasarkan materi pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini dibatasi hanya 3 siklus. Menetapkan kelas akan digunakan sebagai kelas penelitian. Pemilihan kelas