• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsepsional

Teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.12 Kerangka teori yakni kerangka pemikiran atau butir pendapat teori si penulis mengenai sesuatu kasus ataupun permasalahan yang bagi si peneliti menjadi bahan perbandingan.13

Adanya teori yang dipergunakan atau yang dijadikan pisau analisis dalam penelitian tentunya bertujuan untuk menerangkan atau menjelaskan gejala spesifik tertentu terjadi14 dan suatu kerangka teori harus diuji untuk menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya.15

Fungsi dari teori dalam penelitian adalah untuk menyusun dan mengklasifikasikan atau mengelompokkan penemuan-penemuan dalam sebuah peneltian, membuat ramalan atau prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang sesuai dengan objek yang harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.16

12Kbbi.web.id/teori, diakses pada tanggal 28 Juni 2016

13Ediwarman, Monograf Metodologi Penelitian Huk um (Medan:Softmedia, 2015), hal 90

14Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Azas-azas, Penyunting : M.Hisyam, (Jakarta: FE-UI, 1996), hal 203

15Ibid, hal 216

16M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal 17

Teori yang dijadikan menjadi pisau analisis adalah teori dasar yang mana teori ini juga menjadi teori hukum. Dalam pengantarnya ketika membahas tentang teori hukum, Satjipto Raharjo17 mengemukakan bahwa :

Dalam dunia ilmu teori menempati kedudukan yang penting.Ia memberikan sarana kepada kita untuk bisa merangkum serta memahami masalah yang kita bicarakan secara lebih baik. Hal yang semula tampak tersebar dan berdiri sendiri bisa disatukan dan ditunjukkan kaitannya satu sama lain secara bermakna. Teori dengan demikian memberikan penjelasan dengan cara mengorganisasikan dan mengestimasikan masalah yang dibicarakan

Bertolak dari uraian di atas maka teori yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah Teori Studi Hukum Kritis (Critical Legal Studies), Teori Keadilan, dan Teori Hukum Kepribadian Bangsa ( The Personality Law)

1) Teori Studi Hukum Kritis (Critical Legal Studies)

Critical Legal Studies (selanjutnya disingkat dengan CLS) merupakan aliran modern dalam teori hukum. Teori ini diperkenalkan pada tahun 1970 an di Amerika Serikat. Dimulai pada tahun 1977, inisiatif untuk membentuk CLS ini datang dari beberapa ahli hukum, seperti Horwitz, Duncan Kennedy, Trubek, Mark Tushner dan Roberto Ungo.

Pada masa itu, praktek hukum menampilkan 2(dua) wajah keadilan yang kontras. Di satu sisi, beberapa pengadilan dan beberapa bagian dari profesi hukum telah menjadi juru bicara bagi kelompok masyarakat tidak beruntung. Tetapi di sisi lain, pada saat yang bersamaan, hukum menampilkan sosoknya yang dilengkapi

17 Satjipto Raharjo, Ilmu Huk um, (Bandung : Alumni, 1986) , hal 224

dengan sepatu boot dan berlaku represif dan membasmi setiap anggota masyarakat yang membangkang18.

Terdapat 2 (dua) tema yang dominan dalam kritik yang dilancarkan CLS ini, yaitu :

(1) institusi-institusi hukum sudah tercemar dari dalam, ikut menyebabkan ketiadaan ketertiban sosial secara keseluruhan, dan hukum bekerja terutama sebagai alat kekuasaan. Dalam tema ini, keberpihakan hukum yang sangat jelas, yang menguntungkan golongan kaya dan merugikan serta menipu golongan miskin yang tidak terbantahkan.

(2) Kritik terhadap legalisme liberal (liberal legalism) itu sendiri, adalah mengenai gagasan bahwa tujuan keadilan dapat dicapai melalui system peraturan dan prosedur yang objektif, tidak memihak dan otonom.19Esensi pemikiran CLS terletak pada kenyataan bahwa hukum adalah politik. Dari pemikiran law is politics itu, CLS berarti sudah langsung menolak dan menyerang keyakinan para positivis dalam ilmu hukum20.

CLS mengkritik hukum yang berlaku, yang nyatanya memihak ke politik dan sama sekali tidak netral. CLS berusaha untuk membuktikan bahwa di balik hukum dan tatanan sosial yang muncul ke permukaan sebagai sesuatu yang netral, sebenarnya di dalamnya penuh dengan muatan kepentingan tertentu yang bias kultur, ras, gender, bahkan kepentingan ekonomi.21 Mengutip N.D. White, menurut Juwana tujuan CLS ini untuk mendelegitimasi klaim kebenaran, membongkar kuasa dan dominasi untuk membentuk sistem yang adil dan setara, sehingga doktrin-doktrin hukum yang telah terbentuk dapat direkonstruksi untuk mencerminkan pluralism nilai yang ada. 22

18 Philipe Nonet dan Philip Selznick, Huk um Responsif: Pilihan di Masa Transisi (Law and Society in transition : Toward Resposive Law), diterjemahkan o leh Rafael E Bosco, (Jakarta : HuMA, 2003), hal 3.

19Ibid, hal 4

20 Hari Chand, dikutip dalam Juwana, hal 7. Lihat juga Roberto Mangabeira Unger, The Critical Legal Studies Movement ( Cambridge : Harvard University Press, 1986), hal 1.

21Peter Fitzpatrik, dikutip dalam Munir Fuady, Aliran Huk um Kritis (Paradigma Ketidak berdayaan Huk um),(Bandung : Citra Aditya Bakti,2003), hal 5

22 Juwana, op.cit, hal 7-8

Untuk melakukan proses delegetimasi terhadap doktrin hukum yang telah terbentuk aliran CLS menggunakan metode trashing, deconstruction dan genealogy.

Ketiga metode ini menurut Hikmahanto Juwana merupakan pisau analisa CLS untuk membongkar legitimasi doktrin hukum yang memapankan status quo dalam doktrin hukum23

1) Trashing adalah teknik untuk mematahkan atau menolak pemikiran hukum yang telah terbentuk. Teknik ini dilakukan menunjukkan kontradiksi dan kesimpulan yang bersifat sepihak berdasarkan asumsi yang meragukan24

2) Deconstruction adalah membongkar pemikiran hukum yang telah terbentuk.

Dengan melakukan pembongkaran maka dapat dilakukan rekonstruksi pemikiran hukum.25

3) Genealogy adalah penggunaan sejarah dalam menyampaikan argumentasi.

Genealogy digunakan karena interpretasi sejarah kerap didominasi oleh mereka yang memilki kekuatan.26Interpretasi sejarah ini yang kemudian digunakan untuk memperkuat suatu konstruksi hukum27

Pasal 27 dan 29 Permenristekdikti ini penerapannya belum dapat dipakai sepenuhnya untuk semua penyelenggara Perguruan Tinggi, khususnya Pasal 27 ayat (6), mengatur latar belakang kualifikasi Dosen yang mengajar di program studi Diploma ( D3, D4) paling rendah lulusan magister atau magister terapan yang relevan dengan program studi belum dapat diterapkan pada Perguruan Tinggi berbentuk akademi di Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Penerapan Pasal 29 ayat (3) dan (4), jumlah Dosen yang ditugaskan untuk mengajar di program studi, belum dapat diterapkan pada Perguruan Tinggi berbentuk Akademi Program Studi Diploma 3 di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara.

23 Juwana, ibid, hal 8

24 Juwana, ibid, hal 8

25 Ratnapala, Suri, Jurisprudence, (Cambridge : Cambridge University Pers, 2009), hal 8

26 Ratnapala, Suri, ibid, hal 8

27 Juwana, op.cit, hal 8

Dalam memandang masalah hukum, CLS menolak perbedaan antara teori dan praktek, dan menolak juga perbedaan antara fakta dan nilai, yang merupakan karakteristik dari liberalisme. Oleh karena itu, maka CLS menolak kemungkinan adanya teori murni (pure theory), serta lebih menekankan pada teori yang memiliki daya pengaruh terhadap transformasi sosial yang praktis.28

Menurut Peter Fitzpatrick, CLS mempunyai komitmen yang besar pula terhadap emansipasi kemanusiaan. Karena hal itulah, maka tidak mengherankan apabila pada perkembangannya di kemudian hari Critical Legal Studies ini melahirkan Feminist Legal Theory dan Critical Race Theory21.

CLS dipandang tepat dipergunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini dengan pertimbangan sebagai berikut :

1) CLS menolak perbedaan antara teori dan praktek. Pada Pasal 27 ayat (6) Permenristekdikti No. 44/2015 ditentukan Dosen program diploma tiga dan program diploma empat harus berkualifikasi akademik paling rendah lulusan magister atau magister terapan yang relevan dengan program studi.

Prakteknya, Perguruan Tinggi berbentuk akademi di luar ibukota provinsi (Kabupaten Toba Samsoir dan Tapanuli Utara) masih terdapat Dosen yang mengajar di program studi berlatar belakang pendidikan sarjana (S1).Sehingga terjadi perbedaan antara teori dan praktek

2) CLS menolak perbedaan antara fakta dan nilai. Pasal 29 ayat (4) Permenristekdikti No. 44/2015 menentukan bahwa jumlah Dosen tetap yang ditugaskan secara penuh waktu untuk menjalankan proses pembelajaran pada

28 Unger, op.cit, hal 24

setiap program studi paling sedikit 6 (enam) orang. Fakta yang terjadi, bahwa untuk di Perguruan Tinggi berbentuk akademi di luar ibukota provinsi (Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Tapanuli Utara), masih dijumpai di setiap program studi untuk melaksanakan proses pembelajaran jumlah Dosen kurang dari 6 (enam) orang

3) CLS mempunyai komitmen terhadap emansipasi kemanusiaan. Untuk penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, khususnya di luar ibukota provinsi (Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara) dapat terselenggara berkat adanya peran serta masyarakat. Dengan berdirinya Perguruan Tinggi tersebut dapat meningkatkan emansipasi kemanusiaan. Hal ini juga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya.

2) Teori Keadilan

Teori Keadilan dikembangkan oleh Plato, Hans Kelsen, H.L.A. Hart, John Stuart Mill dan John Rawls. Prinsip keadilan menurut Hart adalah bahwa individu mempunyai kedudukan yang setara antara satu dengan lainnya Pengembangan lain teori keadilan adalah John Rawls.

John Rawls menekankan pentingnya melihat keadilan sebagai kebajikan utama yang harus dipegang teguh oleh dan sekaligus menjadi semangat dasar dari pelbagi lembaga sosial dasar masyarakat Memperlakukan keadilan sebagai kebajikan utama, berarti memberikan kesempatan secara adil dan sama bagi setiap orang untuk mengembangkan serta menikmati harga diri dan martabatnya sebagai manusia. Harga diri dan martabat manusia tidak bisa diukur dengan kekayaan ekonomis, sehingga harus dimengerti jauh bahwa keadilan lebih luas melampaui status ekonomi seseorang. Tinggi dan luhurnya martabat itu ditandai dengan kebebasan, karena itu juga kebebasan

harus mendaptkan prioritas dibandingkan dengan keuntungan-keuntungan ekonomis yang bisa dicapai seseorang29.

Beberapa konsep keadilan yang dikemukakan oleh Filsuf Amerika di akhir abad ke-20, John Rawls, seperti A Theory of Justic, Political Liberalism, dan The Law of Peoples, yang memberikan pengaruh pemikiran cukup besar terhadap diskursus nilai-nilai keadilan30

John Rawls berpendapat bahwa keadilan hanya dapat ditegakkan apabila Negara melaksanakan keadilan, berupa setiap orang hendaknya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kebebasan dasar (basic liberies), dan perbedaan sosial dan ekonomi hanya hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga memberi manfaat yang besar bagi mereka yang berkedudukan paling tidak beruntung, dan bertalian dengan jabatan serta kedudukan yang terbuka bagi semua orang berdasarkan persamaan kesempatan yang layak.

Ada dua tujuan dari Teori Keadilan menurut John Rawls sebagaimana dikutip Damanhuri Fattah :

1. Teori keadilan mengartikulasikan sederet prinsip-prinsip umum keadilan yang mendasari dan menerapkan berbagai keputusan moral yang sungguh-sungguh dipertimbangkan dalam keadaan-keadaan khusus kita. Yang dia maksudkan

“keputusan moral” adalah sederet evalusai moral yang telah kita buat dan sekiranya menyebabkan tindakan sosial kita. Keputusan moral yang sungguh dipertimbangkan menunjukkan pada evaluasi moral yang kita buat secara refleksif.

2. Rawls mengembangkan suatu teori keadilan sosial yang lebih unggul dari teori utilitarianisme. Rawls memaksudkannya “rata-rata” (average utilitarianisme). Maksudnya adalah bahwa institusi sosial dikatakan adil jika diabdikan untuk memaksimalkan keuntungan dan kegunaan. Sedang utilitarianisme rata-rata memuat pandangan bahwa institutsi sosial dikatakan

29 Fuady, op.cit, hal 5-6

30Pan Mohammad Faiz, Teori Keadilan John Rawls, dalam Jurnal Konstitusi, Volume 6 Nomor 1 (April 2009), hal 135

adil jika hanya diandaikan untuk memaksimalisasi keuntungan rata-rata perkapita.31

Untuk kedua versi utilitarianisme tersebut “ keuntungan didefenisikan sebagai kepuasan atau keuntungan yang terjadi melalui pilihan-pilihan. Rawls mengatakan bahwa dasar kebenaran teorinya membuat pandangannya lebih unggul dibanding kedua versi utilitarianisme.Prinsip-prinsip keadilan yang ia kemukakan lebih unggul dalam menjelaskan keputusan moral etis atas keadilan sosial32

Rawls menyajikan tentang keadilan sosial. Keadilan sosial merupakan “ prinsip kebijaksanaan rasional, yang diterapkan pada konsep kesejahteraan agresif (hasil pengumpulan) kelompok”33.Subjek utama keadilan sosial adalah struktur masyarakat, atau lebih tepatnya, cara lembaga-lembaga sosial utama mendistribusikan hak dan kewajiban fundamental serta menentukan pembagian keuntungan dari kerjasama sosial.

Bertitik tolak dari pengertian teori keadilan John Rawls, maka Pasal 27 dan 29 Permenristekdikti No. 44/2015 tentang standar kecukupan dan kualifikasi Dosen pada program studi, penerapannya belum dapat sepenuhnya untuk semua peyelenggara Perguruan Tinggi, khususnya Pasal 27 ayat (6), (7) menyebutkan latar belakang kualifikasi Dosen yang mengajar di program studi Diploma (D3, D4) paling rendah lulusan magister atau magister terapan yang relevan dengan program studi belum dapat diterapkan pada Perguruan Tinggi berbentuk Akademi Program Studi Diploma 3 di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara, karena tidak mencerminkan

31 Daman Huri Fatah, “Teori Keadilan Menurut John Rawls”dalam Jurnal Jurnal TAPIs Vol 9 No. 2 Juli-Desember 2013, hal 32

32 ibid

33John Rawls, A Theory of Justice Teory Keadilan,(Yogjakarta: Pustaka Pelajar,2006), hal 26

keadilan bagi Dosen dan penyelenggara Perguruan Tinggi. Demikian halnya Pasal 29 ayat (3) dan (4) tentang jumlah Dosen yang ditugaskan untuk mengajar di program studi, belum dapat diterapkan pada Perguruan Tinggi di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara berbentuk Akademi Program Studi Diploma 3

Lebih lanjut John Rawls menegaskan bahwa program penegakan keadilan yang berdimensi kerakyatan haruslah memperhatikan dua prinsip keadilan, yaitu :

1. Memberikan hak dan kesempatan yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas seluas kebebasan yang sama bagi setiap orang.

2. Mampu mengatur kembali kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi sehingga dapat memberikan keuntungan yang bersifat timbal balik (reciprocal benefits)bagi setiap orang, baik mereka yang berasal dari kelompok beruntung maupun tidak beruntung.34

Dengan demikian, prinsip perbedaan menuntut diaturnya struktur dasar masyarakat sedemikian rupa sehingga kesenjangan prospek mendapat kesejahteraan, pendapatan, otoritas diperuntukkan bagi keuntungan orang-orang yang paling kurang beruntung. Ini berarti keadilan sosial harus diperjuangkan untuk dua hal, yang meliputi :

1. Melakukan koreksi dan perbaikan terhadap kondisi ketimpangan yang dialami kaum lemah dengan menghadirkan institutsi-institusi sosial, ekonomi, dan politik yang memberdayakan.

2. Setiap aturan harus memposisikan diri.

Masing-masing pandangan para ahli tentang teori keadilan berbeda fokus kajiannya. Esensi keadilan menurut Hans Kelsen adalah sesuai dengan norma-norma

34 Ibid

yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Sedangkan John Rawls, memandang keadilan dari keadilan sosial.

Teori keadilan John Rawls dipandang tepat digunakan dalam penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut :

1) Pertama, John Rawls mencoba merumuskan dua prinsip keadilan distributive, sebagai berikut : pertama, the greatest equal principle, bahwa setiap orang kualifikasi Dosen pada program studi, untuk penyelenggara Perguruan Tinggi di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara harus diberikan kebebasan yang seluas-luasnya agar tercipta keadilan (prinsip kesamaan hak).

2) Kedua, ketidak samaan sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa sehingga perlu diperhatikan asas atau dua prinsip berikut, yaitu the different principle dan the principle of fair equlity of opportunity. Keduanya diharapkan memberikan keuntungan terbesar bagi orang-orang yang kurang beruntung, serta memberikan penegasan bahwa dengan kondisi dan kesempatan yang sama, semua posisi dan jabatan harus terbuka bagi semua orang (prinsip perbedaan objektif). Artinya prinsip kedua tersebut menjamin proporsionalitas pertukaran hak dan kewajiban para pihak, sehingga secara wajar (objektif) diterima adanya perbedaan pertukaran asalkan memenuhi syarat good faith and fairness. Dengan demikian, prinsip pertama dan prinsip kedua tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.36.

35 Muhammad Taufik, Filsafat John Rawls Tentang Teori Keadilan (Jurnal Mukadimmah, Vol 19, 2013) hal, 51

36 Ibid,

Bertolak dari dari pemahaman rumusan kedua teori keadilan John Rawls, maka Pasal 27 dan 29 Permenristekdikti No. 44/2015 tentang standar kecukupan dan lualifikasi Dosen, bagi penyelenggara Perguruan Tinggi di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara, harus dipandang sebagai ketidak samaan sosial dan ekonomi John Rawls menyatakan bahwa keadilan pada dasarnya merupakan prinsip dari

kebijakan rasional yang diaplikasikan untuk konsepsi jumlah dari kesejahteraan seluruh kelompok dalam masyarakat. Untuk mencapai keadilan, maka rasional jika seseorang memaksakan pemenuhan keinginannya sesuai dengan prinsip kegunaan, karena dilakukan untuk memperbesar keuntungan bersih dari kepuasan yang akan diperoleh anggota masyarakatnya.37

Bertolak dari pemahaman rumusan teori keadilan John Rawls, maka Pasal 27 dan 29 Permenrsitekdikti No. 44/2015 tentang standar kecukupaan dan kualifikasi Dosen pada program studi, bagi penyelenggara Perguruan Tinggi di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara, dipandang sebagai kebijakan rasional untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh kelompok masyarakat dimana Perguruan Tinggi tersebut berada.

3)Teori Hukum Kepribadian Bangsa (The Personality Law)

Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia sebagai landasan filosofi bangsa adalah Pancasila yang memiliki nilai-nilai yang mulia sebagai hukum kepribadian bangsa Indonesia (Personlity law),38 di dalamnya terkandung nilai-nilai yang ilahiah yakni nilai berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, bermusyawarah dan serta berkeadilan.

37 John Rawls, A Theory of Justice (Massachusetts : The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, 1971), hal 103

38 Personality Law atau hukum kepribadian bangsa adalah merupakan ajaran hukum yang dikembangkan oleh Tan Kamello seorang Guru Besar ahli hukum perdata di Universitas Sumatera Utara.

Menurut Tan Kamello, Personality Law atau hukum kepribadian bangsa adalah merupakan sitem hukum yang memiliki nilai-nilai, asas-asas, dan norma-norma, yang berasal dari kultur masyarakat Indonesia dengan tetap menyesuaikan diri dengan dinamika luar. Untuk itu pembangunan hukum nasional adalah merupakan sub sistem pembangunan nasional yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia dari proses interaksi dari berbagai elemen kekuatan yang filosofi, landasan konstitusional, dan landasan politik dengan memperhatikan kemampuan sumber daya manusia, sumber daya alam, dan keuangan Negara serta pengaruh kekuatan nasional, regional dan global39

Negara adalah wadah bangsa untuk mencapai cita-cita atau tujuan bangsa. Tujuan negara adalah merupakan kepentingan utama daripada tatanan suatu negara40

Tidak ada suatu negara yang tidak mempunyai tujuan. Tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Paragraf Empat, yakni :

“…Untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenapbangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukankesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial …”41

Selain itu, dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditetapkan : “Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat)”.

Jelaslah bahwa negara Republik Indonesia adalah suatu negara hukum yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, membentuk suatu

39 Tan Kamello, Memperkenalkan Model Sistem Pembangunan Hukum di Indonesia (Kumpulan Tulisan Pemikiran Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Medan, 2012)

40 Soehino, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta, 2000, hal. 147.

41 Sekretariat Jenderal MPR RI, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Jakarta, 2002, hal. 3.

masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (negara hukum dan negara kesejahteraan)42

Pancasila adalah dasar dan ideologi negara sekaligus dasar filosofis negara sehingga Pancasila merupakan rujukan dari setiap materi muatan peraturan perundangundangan43Dengan demikian, pengaturan pendidikan nasional Indonesia harus merujuk pada Pancasila sebagai dasar filosofi negara dan itu berarti bahwa landasan filosofis pendidikan nasional adalah Pancasila.

Pancasila sebagai landasan filosofis negara mengandung arti bahwa pendidikan nasional Indonesia mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila tersebut. Dengan demikian, pendidikan nasional Indonesia adalah:

1. Pendidikan yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Pendidikan yang berperikemanusiaan

3. Pendidikan yang menceriminkan persatuan Indonesia

4. Pendidikan yang berdasarkan pada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam persmusyawaratan dan perwakilan (demokratis)

5. Pendidikan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pendidikan nasional yang pancasilais di atas harus tercermin dalam setiap komponen pendidikan nasional lainnya, seperti kurikulum, pengelolaan, pendanaan, dan lain sebagainya yang merupakan karakteristik atau ciri khas pendidikan nasional Indonesia dan membedakannya dari sistem pendidikan negara lain.

42 C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Ilmu Negara (Umum dan Indonesia), (Jakarta:Pradnya Paramita,2001) hal 147.

43.Penjelasan Pasal 2 UU No.12 thn 2011 tentang Pembentukan Peraturan perundangundangan

Pandangan keadilan dalam hukum nasional bangsa Indonesia tertuju pada dasar negara, yaitu Pancasila, yang mana sila kelimanya berbunyi : “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah yang dinamakan adil menurut konsepsi hukum nasional yang bersumber pada Pancasila.

Menurut Kahar Masyhur, mengemukakan pendapatnya tentang apakah yang dinamakan adil, terdapat tigal hal tentang pengertian adil.44

(1) “Adil” ialah : meletakan sesuatu pada tempatnya

(2) “Adil” ialah : menerimahak tanpa lebih dan memberikan orang lain tanpa kurang

(3) “Adil” ialah : memberikan hak setiap yang berhak secara lengkap tanpa lebih tanpa kurang antara sesama yang berhak dalam keadaan yang sama, dan penghukuman orang jahat atau yang melanggar hukum, sesuai dengan kesalahan dan pelanggaran”.

Bertitik tolak dari pengertian pendidikan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka Pasal 27 dan 29 Permenristekdikti No. 44/2015 tentang standar kecukupan dan kualifikasi Dosen pada program studi, penerapannya belum dapat dipakai sepenuhnya untuk semua peyelenggara Perguruan Tinggi, khususnya Pasal 27 ayat (6), mengatur latar belakang kualifikasi Dosen yang mengajar di program studi Diploma (D3, D4) paling rendah lulusan magister atau magister terapan yang relevan dengan program studi tidak adil jika diterapkan pada Perguruan Tinggi berbentuk akademik program studi Diploma 3 di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara.

Adil dan keadilan adalah pengakuan dan perlakukan seimbang antara hak dan kewajiban. Apabila ada pengakuan dan perlakukan yang seimbang hak dan kewajiban, dengan sendirinya apabila kita mengakui “hak hidup”, maka sebaliknya

44 Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak (Jakarta: Kalam Mulia, 1985), hal 71

harus mempertahankan hak hidup tersebut denga jalan bekerja keras, dan kerja keras yang dilakukan tidak pula menimbulkan kerugian terhadap orang lain, sebab orang lain juga memiliki hak yang sama (hak untuk hidup) sebagaimana halnya hak yang ada pada diri individu.45

Bertitik tolak dari pengertian pendidikan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, penerapan Pasal 29 ayat (3) dan (4) Permenristekdikti No. 44/2015 belum dapat diterapkan di Akper HKBP karena jumlah Dosen tetap hanya 25 % dari jumlah semua Dosen. Jumlah Dosen tetap yang ditugaskan secara penuh waktu untuk

Bertitik tolak dari pengertian pendidikan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, penerapan Pasal 29 ayat (3) dan (4) Permenristekdikti No. 44/2015 belum dapat diterapkan di Akper HKBP karena jumlah Dosen tetap hanya 25 % dari jumlah semua Dosen. Jumlah Dosen tetap yang ditugaskan secara penuh waktu untuk

Dokumen terkait