BAB I PENDAHULUAN
D. Kerangka Teori
Kita mengenal bernacam-macam istilah demokrasi, ada yang dinamakan demokrasi konstitusional, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi rakyat, demokrasi soviet, demokrasi nasional, dan sebagainya. Semua konsep ini memakai istilah
demokrasi, yang menurut asal kata berarti “rakyat berkuasa” atau “government or rule by the people”.9
Kata demokrasi atau democracy dalam bahasa Inggris diadaptasi
9 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 50.
19
dari kata demokratie dalam bahasa Perancis pada abad ke-16. Namun, asal kata sebenarnya berasal dari bahasa Yunani demokratia, yang diambil dari kata demos berarti rakyat, kratos/kratein berarti kekuasaan/berkuasa (memerintah)10
Perkataan demokrasi yang terbentuk dari dua pokok kata Yunani di atas, maknanya adalah cara memerintah oleh rakyat.11 Demokrasi mempunyai arti penting bagi masyarakat yang menggunakannya sebab dengan demokrasi hak masyarakat untuk menentukan sendiri jalannya organisasi negara dijamin.12 Oleh sebab itu hampir semua pengertian yang diberikan untuk istilah demokrasi ini selalu memberikan posisi penting bagi rakyat kendati secara operasional implikasinya rakyat diletakkan pada posisi penting dalam asas demokrasi ini.13
Diantara sekian banyak aliran pikiran yang dinamakan demokrasi, ada dua kelompok aliran yang paling penting, yaitu demokrasi konstitusional dan satu kelompok aliran yang menamakan dirinya demokrasi, tetapi bersandar pada komunisme. Perbedaan keduanya yaitu, demokrasi
10Ni’matul Huda, Ilmu Negara, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 200.
11Ibid.
12Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 19
20
konstitusional mencita-citakan pemerintah yang terbatas kekuasaannya, suatu negara hukum (rechtsstaat), yang tunduk pada rule of law. Sebaliknya demokrasi yang mendasarkan dirinya pada komunisme mecita-citakan pemerintah yang tidak boleh dibatasi kekuasaannya (machtsstaat).14 Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara memberi pengertian bahwa pada tingkat terakhir rakyat memberikan ketentuan dalam masalah-masalah pokok yang mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijaksanaan negara, oleh karena kebijakan tersebut menentukan kehidupan rakyat.15
Dalam kaitan ini patut pula dikemukakan bahwa Hendry B. Mayo memberikan defenisi sistem politik yang demokratis ialah dimana kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suatu terjaminnya kebebasan politik. 16
14Ni’matul Huda, op.cit, hlm. 202
15Deliar Noer, Pengantar ke Pemikiran Politik, (Jakarta: CV Rajawali, 1983), hlm. 207.
21
Lebih lanjut B. Mayo menyatakan bahwa demokrasi didasari oleh beberapa nilai, yakni:17
1. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga.
2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah.
3. Menyelenggaran pergantian pimpinan secara teratur. 4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum.
5. Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat, kepentingan, serta tingkah laku.
6. Menjamin tegaknya keadilan.
Untuk menjalankan demokrasi tentunya diperlukan berbabgai lembaga yang dapat melaksanakan nilai-nilai tersebut, yaitu:18
1. Suatu pemerintahan yang bertanggungjawab.
2. Suatu dewan perwakilan rakyat yang dapat mewakili golongan-golongan dan kepentingan-kepentingan dalam masyarakat yang dipilih dengan Pemilihan Umum yang bebas dan rahasia dan atas dasar sekurang-kurangnya dua calon untuk setiap kursi.
17Miriam Budiarjo, op.cit, hlm. 62
22
3. Suatu organisasi politik yang mencakup satu atau lebih partai politik.
4. Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat.
5. Sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak-hak asasi dan mempertahankan keadilan.
Dari berbagai literatur yang mennelaah tentang tolak-tarik antara peranan negara dan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari telaah demokrasi. Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa yang berkuasa penuh yaitu rakyat. Rakyatlah yang akan menentukan arah kebijakan ke depan. Dengan begitu rakyatlah yang berkuasa dalam menilai kebijaksanaan negara, oleh karena kebijaksanaan pemerintah tersebut menentukan kehidupan rakyat itu sendiri. Untuk itu ditekankan kepada rakyat, kedaulatan berada di tangan rakyat. Agar dapat memaksimalkan perannya dalam menunjang sistem guna keberlangsungan suatu Negara.
b) Teori Pemilihan Umum
Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan salah satu media demokrasi yang digunakan untuk mewujudkan partisipasi rakyat. Pemilu dianggap penting dalam proses dinamika
23
kehidupan berbangsa dan bernegara, Pemilihan Umum sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suatu negara demokrasi, jika kita melihat hampir seluruh negara demokrasi melaksanakan Pemilihan Umum.
Dalam negara hukum yang demokratis, kegiatan memilih orang atau sekelompok orang menjadi pemimpin idealnya dilakukan melalui pemilu dengan berasaskan prinsip pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (LUBERJURDIL). Adapun yang dimaksud dengan pemilihan yang bersifat19 :
a. Langsung.
Bahwa rakyat pemilih mempunyai hak untuk secara langsung memberikan suaranya, menurut hati nuraninya tanpa perantara dan tanpa tingkatan.
b. Umum.
Pada dasarnya semua warganegara yang memenuhi persyaratan minimal dalam usia, yaitu telah berusia 17 tahun atau telah atau telah kawinn berhak dalam pemilihan, dan telah berusia 21 tahun berhak dipilih. Jadi pemilihan bersifat umum berarti pemilihan yang berlaku menyeluruh bagi setiap/semua
24
warganegara, menurut persyaratan asasi (basic) tertentu, seperti tersebut diatas. Persyaratan lain-lain, yang teknis atau politis, tidaklah dihubungkan dengan praktek pelaksanaannya dan tujuan pemilihan serta fungsi badan/lembaga yang disusun.
c. Bebas.
Tiap warganegara yang berhak memilih dalam menggunakan haknya dijamin keamanannya untuk melakukan pemilihan menurut hai nuraninya tanpa adanya pengaruh, tekanan atau paksaan dari siapapun/dengan apapun.
d.Rahasia.
Para pemilih dijamin oleh peraturan, tidak akan di ketahui oleh pihak siapapun dan dengan jalan apapun, siapapun siapa yang dipilihnya. Pemilih memberikan suaranya pada surat suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain kepada siapa suaranya diberikan (secret ballot)
e. Jujur.
Dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum, penyelenggara, pelaksana, pemerintah dan partai politik peserta pemilu, pengawas dan pemantau
25
pemilu, termasuk pemilih, serta semua pihak yang terlibat secara tidak langsung, harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
f. Adil
Dalam menyelenggarakan pemilu, setiap pemilih dan partai politik peserta pemilu mendapatkan perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak manapun.
Pengisian lembaga perwakilan dalam praktek ketatanegaraan lazimnya dilaksanakan melalui Pemilihan Umum. Pasca perubahan amandemen UUD 1945, semua anggota lembaga perwakilan dan bahkan presiden serta Kepala Daerah dipilih dengan mekanisme Pemilihan Umum. Pemilihan Umum menjadi agenda yang diselenggarakan secara berkala di Indonesia.
Menurut Ibnu Tricahyo dalam bukunya yang berjudul Reformasi Pemilu, mendefinisikan Pemilihan Umum sebagai berikut: Secara universal Pemilihan Umum adalah instrumen mewujudkan kedaulatan rakyat yang bermaksud membentuk pemerintahan yang absah serta sarana mengartikulasikan
26
aspirasi dan kepentingan rakyat.20 Definisi di atas menjelaskan bahwa Pemilihan Umum merupakan isntrumen untuk mewujudkan kedaulatan rakyat, membentuk pemerintahan yang absah serta sebagai sarana mengartikulasi aspirasi dan kepentingan rakyat.
Negara Indonesia mengikutsertakan rakyatnya dalam rangka penyelenggaraan negara. Kedaulatan rakyat dijalankan oleh wakil rakyat yang duduk dalam parlemen dengan sistem perwakilan (representative democracy) atau demokrasi tidak langsung (indirect democracy). Wakil-wakil rakyat ditentukan sendiri oleh rakyat melalui Pemilu (general election) Soedarsono mengemukakan lebih lanjut dalam bukunya yang berjudul Mahkamah Konstitusi Pengawal Demokrasi, bahwa yang dimaksud dengan Pemilihan Umum adalah sebagai berikut: secara berkala agar dapat memperjuangkan aspirasi rakyat. Pemilihan Umum adalah syarat minimal bagi adanya demokrasi dan diselenggarakan dengan tujuan memilih wakil rakyat, wakil daerah, presiden untuk membentuk pemerintahan demokratis.21
Penjelasan di atas menyebutkan bahwa Pemilihan Umum merupakan syarat minimal adanya demokrasi yang bertujuan
20Ibnu Tricahyo, Reformasi Pemilu Menuju Pemisahan Pemilu Nasional dan Lokal, (Jakarta: Intrans Publishing, 2009), hlm. 6.
21Soedarsono, Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal Demokrasi, (Jakarta: Setjen dan Kepanitraan MKRI, 2006), hlm. 1.
27
memilih wakil-wakil rakyat, wakil daerah, presiden untuk membentuk pemerintahan demokratis. Kedaulatan rakyat dijalankan oleh wakil-wakil rakyat yang duduk di dalam lembaga perwakilan. Kedaulatan rakyat atas penyelenggaraan pemerintahan dijalankan oleh presiden dan Kepala Daerah yang juga dipilih secara langsung. Anggota legislatif maupun Presiden dan Kepala Daerah karena telah dipilih secara langsung, maka semuanya merupakan wakil-wakil rakyat yang menjalankan fungsi kekuasaan masing-masing. Kedudukan dan fungsi wakil rakyat dalam siklus ketatanegaraan yang begitu penting dan agar wakil-wakil rakyat benar-benar bertindak atas nama rakyat, maka wakil rakyat tersebut harus ditentukan sendiri oleh rakyat, yaitu melalui Pemilihan Umum.
Menurut Jimly Asshidiqqie pentingnya penyelenggaraan Pemilihan Umum secara berkala tersebut dikarenakan beberapa sebab diantaranya sebagai berikut: 1) pendapat atau aspirasi rakyat cenderung berubah dari waktu ke waktu; 2) kondisi kehidupan masyarakat yang dapat juga berubah; 3) pertambahan penduduk dan rakyat dewasa yang
28
dapat menggunakan hak pilihnya; 4) guna menjamin regulasi kepemimpinan baik dalam cabang eksekutif dan legislatif.22
Berdasarkan pernyataan di atas bahwa beberapa sebab pentingnya Pemilihan Umum diantaranya adalah aspirasi rakyat cenderung berubah, kondisi kehidupan rakyat berubah, pertambahan penduduk dan regulasi kepemimpinan. Pemilihan Umum menjadi sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Kondisi kehidupan rakyat yang cenderung berubah memerlukan adanya mekanisme yang mewadahi dan mengaturnya yaitu melalui proses Pemilihan Umum. Setiap penduduk dan rakyat Indonesia yang telah dewasa memiliki hak untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Regulasi kepemimpinan baik cabang eksekutif maupun legislatif akan terlaksana secara berkala dengan adanya Pemilihan Umum.
c) Teori Hak Asasi Manusia Sipil dan Politik
Hak asasi adalah hak yang bersifat mendasar dan pokok yang dimiliki manusia. Asal usul gagasan mengenai hak asasi manusia bersumber dari teori hak kodrati (natural rights theory) dan awal mula teori kodrati mengenai hak itu bermula dari teori hukum kodrati
(natural law theory), dan dapat dirunut kembali sampai jauh ke belakang hingga ke zaman kuno dengan filsafat
22Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2006), hlm. 169-171.
29
Stoika hingga ke zaman modern melalui tulisan hukum kodrati Santo Thomas Aquinas. Dalam teori hukum kodratinya, Santo Thomas Aquinas berpijak pada pandangan thomistik yang mempotulasi hukum kodrati sebagai bagian dari hukum Tuhan yang sempurna dan dapat diketahui melalui penggunaan nalar manusia.23
Hak asasi merupakan perangkat asas-asas yang timbul dari nilai-nilai yang kemudian menjadi kaidah-kaidah yang mengatur perilaku manusia dalam hubungan dengan manusia yang lain. Hak asasi adalah hak yang melekat secara otomatis pada manusia itu sendiri. Dapat dilihat jika secara struktural hak asasi masnusia merupakan kontrak sosial antara negara dan warganegara. Pemenuhan hak asasi manusia merupakan keharusan negara agar warganegaranya dapat hidup sesuai dengan harkat martabat kemanusiaannya. Hak asasi manusia yang di jamin oleh negara tertulis dalam undang-undang nomor 39 Tahun 1999.
UUD 1945 sebelum diubah dengan Perubahan Kedua pada tahun 2000, hanya memuat sedikit ketentuan yang dapat dikaitkan dengan pengertian hak asasi manusia.
30
pasal yang biasa dinisbatkan dengan pengertian hak asasi manusia adalah:24
1)Pasal 27 ayat (1) yang berbunyi, “Segala warga negarabersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”;
2) Pasal 27 ayat (2) yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”;
3) Pasal 28 yang berbunyi, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”;
4) Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”;
5) Pasal 30 ayat (1) yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”;
6) Pasal 31 ayat (1) yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”;
24Jimly Asshiddiqie, S.H, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta Rajawali Pers, 2013), hlm. 352.
31
7) Pasal 34 yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”.
HAM di dalam UUD 1945 dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok, yaitu hak sipil dan politik; hak ekonomi, sosial, dan budaya; hak atas pembangunan dan hak khusus lain; serta tanggung jawab negara dan kewajiban asasi manusia. Selain itu, terdapat hak yang dikategorikan sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable rights) yang meliputi hak untuk hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut.
Adapun hak sipil politk adalah hak yang bersumber dari martabat dan melekat pada setiap manusia yang dijamin dan dihormati keberadaannya oleh negara agar manusia bebas menikmati hak-hak dan kebebasannya dalam bidang sipil politik yang pemenuhannya ditanggung oleh negara. Salah satu bentuk hak sipil politik adalah hak untuk memperoleh kedudukan yang sama dalam pemerintahan, hak tersebut mencakup hak untuk bebas memilih dan dipilh. Hak dalam membangun negara secara langsung dan ikut serta
32
menjadi aparat pemerintah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Secara historis, prinsip tanggung jawab negara memiliki kaitan erat dengan hak asasi manusia. Hak asasi manusia yang dewasa ini telah diatur dalam hukum hak asasi manusia internasional pada awalnya dikembangkan melalui (prinsip) tanggung jawab negara atas perlakuan terhadap orang asing (state responsibility for the treatment of aliens).25
Secara jelas undang-undang tidak menyebutkan pengertian tentang hak sipil dan politik, namun dapat di simpulkan bahwa hak-hak sipil dan politik adalah hak yang bersumber dari martabat dan melekat pada setiap manusia yang dijamin dan dihormati keberadaannya oleh negara agar manusia bebas menikmati hak-hak dan kebebasannya dalam bidang sipil dan politik yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara.26 Dengan kata lain, hak sipil dan politik adalah hak asasi dan kebebasan dasar manusia yg pemenuhan, penghormatan dan perlindungannya sangat ditentukan ada atau tidaknya hukum yg menjamin dan
25Satya Arinanto, Hukum Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: PUSHAM UII, 2015), hlm 81.
33
kekuasaan yang taat hukum serta memberikan kepastian hukum menjamin penegakannya jika ada pelanggaran.27
Indonesia pada 30 September 2005 meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak–hak manusia, yaitu Kovenan Internasional tentang Hak–hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights–ICESCR) dan Kovenan Internasional tentang Hak–hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights-ICCPR).28 Ratifikasi ini menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia, karena negara Indonesia telah mengikatkan diri secara hukum. Antara lain pemerintah telah melakukan kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan, baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU.
Hak sipil dan politik membuka jalan bagi terpenuhinya empat kebebasan dasar yang mencakup hak atas kebebasan berekspresi dan berkomunikasi, hak atas kebebasan berkumpul, hak atas kebebasan berorganisasi, dan hak untuk turut serta dalam pemerintahan. Saat ini
27Suparman Marzuki, Hak Sipil dan Politik, (Yogyakarta: Pusham UII, 2010), hlm 17.
34
rakyat Indonesia telah menikmati juga kebebasan hak sipil politik. Rakyat tidak hanya bebas mendirikan partai-partai politik sebagai wahana untuk memperjuangkan aspirasi politiknya. Rakyat bebas pula untuk mendirikan perkumpulan masyarakat adat, dan lain sebagainya. Perwujudan hak atas kebebasan berorganisasi ini sangat vital bagi upaya rakyat untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Selain itu, tumbuhnya organisasi-organisasi rakyat dari bawah ini akan memperkuat masyarakat sipil yang diperlukan bagi berlangsungnya sistem politik dan pemerintahan yang demokratis.