TELAAH PUSTAKA
B. Kerangka Teori 1.Kedisiplinan 1.Kedisiplinan
a. Pengertian Kedisiplinan
Disiplin merupakan tindakan manajer untuk mendorong anggota organisasi memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut. Dengan kata lain, pendisiplinan karyawan adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku karyawan sehingga para karyawan tersebut secara suka rela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para karyawan lain serta meningkatkan prestasi kerjanya menurut Siagian (2008). Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang yang berlaku. (Malayu, 2007).
b. Bentuk bentuk kedisiplinan kerja
Menurut Mangkunegara (2004:129), mengatakan ada dua bentuk disiplin diantaranya yaitu:
1) Disiplin preventif
Disiplin preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai mengikuti dan mematuhi pedoman kerja, aturan-aturan yang telah digariskan oleh perusahaan. Dengan cara preventif, pegawai dapat memelihara dirinya terhadap peraturan-peraturan perusahaan. Pemimpin perusahaan yang mempunyai tanggung jawab dalam membangun iklim organisasi dengan disiplin
13
preventif. Begitu juga pegawai harus dan wajib mengetahui, memahami pedoman kerja serta peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Disiplin preventif suatu sistem yang berhubungan denga kebuutuhan untuk semua bagian sistem yang ada dalam organisai. Jika sistem organisasi baik, maka diharapkan akan lebih mudah menegakkan disiplin kerja.
2) Disiplin korektif
Disiplin korektif adalah upaya untuk menggerakkan pegawai dalam menyatakan suatu peraturan dan menggerakkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada perusahaan. Pada disiplin korrektif, pegawai yang melanggar disiplin perlu diberikan sanksi adalah untuk memperbaiki pelanggar, memelihara peraturan yang berlaku, dan memberikan pelajaran kepada pelanggar.
Sedangkan menurut Handoko (2001:208) mengatakan ada tiga tipe kegiatan pendisiplinan yaitu:
1) Disiplin Preventif
Disiplin preventif adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para pegawai agar mengikuti standar dan aturan sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat dicegah. 2) Disiplin Korektif
Disiplin korektif adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap atura-aturan dan mencoba
untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut. Sebagai contoh tindakan ini dapat berupa peringatan atau skorsing. Adapun sasaran tindakan untuk memperbaiki pelanggaran dan untuk mencegah para pegawai yang lain supaya tidak melakukan hal yang serupa.
3) Disiplin progresif
Disiplin progresif adalah memberikan hukuman-hukuman yang lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang berulang, sebagai contih sistem disiplin progresif adalah sebagai berikut:
Teguran secara lisan oleh pengawas, teguran tertulis, dengan catatan dalam file personalia, skorsing, diturunkan pangkatnya (Demosi), pemutusan hubungan kerja atau dipecat.
c. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Faktor–faktor yang mempengaruhi kedisiplinan adalah sebagai berikut (Fathoni, 2006) Tujuan dan kemampuan, keteladanan pimpinan, dan keadilan.
Semua organisasi atau perusahaan pasti mempunyai standar perilaku yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pekerjaan dan menginginkan para karyawan untuk mematuhinya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas.
15
Adapun 5 indikator yang mempengaruhi disiplin kerja karyawan (Dharma, 2003) adalah:
1) Kehadiran karyawan setiap hari
Karyawan wajib hadir di perusahaannya sebelum jam kerja, dan pada biasanya digunakan sarana kartu kehadiran pada mesin absensi.
2) Ketepatan jam kerja
Penetapan hari kerja dan jam kerja diatur atau ditentukan oleh perusahaan. Karyawan diwajibkan untuk mengikuti aturan jam kerja, tidak melakukan pelanggaran jam istirahat dan jadwal kerja lain, keterlambatan masuk kerja, dan wajib mengikuti aturan jam kerja per hari.
3) Mengenakan pakaian kerja dan tanda pengenal
Seluruh karyawan wajib memakai pakaian yg rapi dan sopan, dan mengenakan tanda pengenal selama menjalankan tugas kedinasan. Bagi sebahagian besar perusahaan biasanya menyediakan pakaian seragam yang sama untuk semua karyawannya sebagai bentuk simbol dari kebersamaan dan keakraban di sebuah perusahaan.
4) Ketaatan karyawan terhadap peraturan.
Adakalanya karyawan secara terang–terangan menunjukkan ketidakpatuhan, seperti menolak melaksanakan tugas yang seharusnya dilakukan. Jika tingkah laku karyawan menimbulkan
dampak atas kinerjanya, para pemimpin harus siap melakukan tindakan pendisiplinan.
5) Tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugas.
Disiplin dapat ditunjukkan melalui tanggung jawab. Apakah seorang pegawai menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan dengan tepat waktu atau tidak akan memperlihatkan bagaimana sikap pegawai terhadap perusahaan. Pegawai yang disiplin dalam kerja akan memberikan tanggung jawab yang tinggi pula pada pekerjaan. Termasuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna. 2. Fasilitas Kerja
a. Pengertian Faslilitas kerja
Menurut Moekijat (2001 : 155) secara sederhana yang dimaksud dengan fasilitas adalah suatu sarana fisik yang dapat memproses suatu masukan (input) menuju keluaran (output) yang diinginkan. Selanjutnya menurut Buchari (2001 : 12) fasilitas adalah penyedia perlengkapan–perlengkapan fisik untuk memberikan kemudahan kepada penggunanya, sehingga kebutuhan-kebutuhan dari pengguna fasilitas tersebut dapat terpenuhi.
Ditambahkan oleh Bary (2002: 67) fasilitas kerja adalah sebagai sarana yang diberikan perusahaan untuk mendukung jalannya nada perusahaan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan oleh pemegang kendali.
17
Pandjojo dan husnan (2002: 37), “pelayanan yang bersifat
memberikan fasilitas adalah kegiatan yang secara normal perlu diurus oleh para karyawan sendiri dalam kehidupan sehari
harinya”.
Sementara itu menurut Tjiptono (2006: 19) fasilitas adalah sumber daya fisik yang harus ada sebelum suatu jasa ditawarkan kepada konsumen.
Ditambahkan oleh Harmizar (2003: 155) menyatakan dengan sederhana fasilitas adalah suatu sarana fisik yang dapat memproses suatu masukan (input) menjadi keluaran (output).
b. Karakteristik fasilitas kerja
Menurut Hartanto (2000: 501) karakteristik dari sarana pendukung dalam proses aktivitas perusahaan adalah
1) Mempunyai bentuk fisik
2) Dipakai atau digunakan secara aktif dalam kegiatan normal perusahaan
3) Mempunyai jangka waktu kegunaan relative permanen lebih dari satu periode akuntansi atau lebih dari satu bulan.
4) Memberikan manfaat di masa yang akan datang.
Dari teori diatas dapat diketahui bahwa fasilitas kerja merupakan sarana atau wahana atau alat untuk mempermudah aktivitas perusahaan dan juga untuk mensejahterakan karyawan agar para karyawan dapat melaksanakan pekerjaannya dengan
baik. Jadi fasilitas kerja adalah sesuatu yang harus disediakan oleh perusahaan, baik fasilitas yang disediakan secara langsung maupun fasilitas pendukung untuk kemudahan dan kenyamanan bagi karyawan dalammelakukan pekerjaan. Menyadari akan pentingnya fasilitas kerja bagi karyawan maka perusahaan dituntut untuk menyediakan dan memberikan fasilitas kerja karena keberhasilan suatu perusahaan tidak pernah terlepas dari pemberian fasilitas kerja.
c. Jenis-jenis Fasilitas Kerja dan tujuannya.
Menurut Sofyan (2001 : 22) jenis –jenis fasilitas kerja terdiri dari :
1) Mesin dan peralatannya yang merupakan keseluruhan peralatan yang tujuannya digunakan untuk mendukung proses produksi yang ada di perusahaan.
2) Prasarana ,yaitu fasilitas pendukung yang igunakan untuk memperlancar aktivitas perusahaan, diantaranya adalah jembatan, jalan, dan lainnya.
3) Fasilitas yang mendukung aktivitas kegiatan yang ada di perkantoran, seperti perabot kantor (meja, kursi, lemari, dan lainnya).
4) Peralatan inventaris, yaitu peralatan yang dianggap sebagai alat –
19
kendaraaan yang tujuannya untuk mempermudah transportasi karyawan.
5) Tanah, yaitu asset yang terhampar luas baik yang digunakan ditempat bangunan, maupun yang merupakan lahan kosong yang digunakan untuk aktivitas perusahaan.
6) Bangunan, yaitu fasilitas yang tujuannya mendukung aktivitas sentral kegiatan perusahaan utama seperti perkantoran dan pergudangan.
7) Alat transportasi, yaitu semua jenis peralatan yang digunakan untuk tujuannya membantu terlaksananya aktivitas perusahaan seperti truk, traktor, mobil, motor, dan lainnya.
Sedangkan Alex S. Nitisemito (2000 : 181) jenis – jenis fasilitas yang menyenangkan dapat ditafsirkan secara luas antara lain tempat rekreasi kafetaria, tempat olah raga, balai pengobatan, tempat ibadah, kamar kecil yang bersih, pendidikan untuk anak dan sebagainya.
d. Indikator fasilitas kerja
Indikator fasilitas kerja harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan karyawan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Indikator fasilitas menurut Faisal (2005 ;22) adalah: 1. Sesuai dengan kebutuhan,
2. Mampu mengoptimalkan hasil kerja, 3. Mudah dalam penggunaan,
4. Mempercepat proses kerja, 5. Penempatan ditata dengan benar. 3. Pelatihan Kerja
a. Pengertian Pelatihan
Menurut Gomes (1997 : 197), “Pelatihan adalah setiap usaha untuk
memperbaiki prestasi kerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya. Idealnya, pelatihan harus dirancang untuk mewujudkan tujuan – tujuan organisasi, yang pada waktu bersamaan juga mewujudkan tujuan – tujuan para pekerja secara perorangan. Pelatihan sering dianggap sebagai aktivitas yang paling umum dan para pimpinan mendukung adanya pelatihan karena melalui pelatihan, para pekerja akan menjadi lebih trampil dan karenanya akan lebih produktif sekalipun manfaat – manfaat tersebut harus diperhitungkan dengan waktu yang tersita ketika pekerja sedang dilatih.
Pelatihan menurut Gary Dessler (1997 : 263) adalah “Proses
mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan
dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”.
b. Analisis kebutuhan pelatihan
Dalam penelitian McNamara,2011 Kebutuhan pelatihan di masyarakat sering dihubungkan dengan life stage atau tahap kehidupan manusia. Dikalangan karyawan perusahaan swasta juga dikenal pelatihan penjenjangan karier.Cara penetapan kebutuhan pelatihan pada
21
penjenjangan karier juga didasarkan pada analisis tugas.Pelatihan ini umumnya juga untuk promosi. Dikalangan karyawan perusahaan swasta juga ada pelatihan-pelatihan keterampilan. Analisis kebutuhan pelatihan antara lain adalah
1. Perencanaan Program pelatihan
Perencanaan program pelatihan merupakan kegiatan merencanakanpogram pelatihan secara menyeluruh. Kegiatan perencanaaan pelatihan pada umumnya adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan pengelola dan staf pembantu program pelatihan b. Menetapkan tujuan pelatihan
c. Menetapkan bahan ajar pelatihan
d. Menetapkan metode-metode yang akan digunakan e. Menetapkan alat bantu pelatihan
f. Menetapkan cara evaluasi pelatihan g. Menetapkan instruktur pelatihan
h. Menyusun rencana kegiatan dan jadwal pelatihan i. Menghitung anggaran yang dibutuhkan
2. Penyusunan bahan pelatihan
Bahan yang perlu disiapkan antaranya adalah : a. Tujuan belajar
b. Bahan ajar
c. Pustaka pendukung
e. Alat-alat bantu belajar
Peran instruktur : Peran instruktur berperan penting dalam seluruh kegiatan persiapan ini.Khususnya dalam penyiapan bahan ajar dan segala hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Para pengelola dan staf pembantu menyiapkan segala hal yang bersangkutan dengan proses penyelenggaraan pelatihan dalam aspek teknis, seperti penyiapan tempat pelatihan, penginapan, kertas, alat tulis dan sebagainya.
3. Pelaksanaan Pelatihan
Pelaksanaan pelatihan mengikuti rencana yang telah ditetapkan.Akan tetapi dalam pelaksanaanya selalu banyak masalah yang memerlukan pemecahan.Pemecahan masalah sering berakibat adanya keharusan mengubah beberapa dalam rencana tetapi perubahan dan penyesuaian apapun yang dilakukan harus selalu berorientasi pada upaya mempertahankan kualitas pelatihan,menjaga kelancaran proses pelatihan dan tidak merugikan kepentingan partisipan.
4. Penilaian Pelatihan
Sasaran evaluasi / penilaian adalah partisipan pelatihan ,instruktur,penyelenggara pelatihan ,bahan pelatihan dan alat bantu belajar dan program pelatihan.
23
1) Partisipan pelatihan: Penilaian bertujuan mengukir perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan setiap partisipan sebagai hasil pelatihan.
2) instruktur: Penilaian bertujuan mengukur kekuatan dan kelemahan instruktur dalam pelaksanaan tugas.
3) Penyelenggara pelatihan: Penilaian bertujuan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan dalam penyelengaraan teknis program pelatihan.
4) Bahan pelatihan dan alat bantu belajar: Penilaian bertujuan mengukur keefektifannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan pelatihan.
5) Program pelatihan: Penilaian bertujuan mengukur keefektifan dan keefesienan program pelatihan,dipandang dari segi hasil yang dicapai partisipan dalam bandingannya dengan biaya yang dikeluarkan.
c. Tujuan pelatihan
Tujuan pelatihan menurut Moekijat (1995:55) adalah:
1) Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif.
2) Untuk mengembangkan pengetahuan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.
3) Untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kerja sama dengan teman-teman pegawai dan pimpinan.
Alasan pentinganya diadakan pelatihan menurut Hariandja (2002:168):
a. Karyawan yang baru direkrut sering kali belum memahami secara benar bagaimana melakukan pekerjaan.
b. Perubahan – perubahan lingkungan kerja dan tenaga kerja. Perubahan – perubahan disini meliputi perubahan – perubahan dalam teknologi proses seperti munculnya teknologi baru atau munculnya metode kerja baru.
c. Meningkatkan daya saing perusahaan dan memperbaiki produktivitas.
d. Menyesuaikan dengan peraturan – peraturan yang ada, misalnya standar pelaksanaan pekerjaan yang dikeluarkan oleh asosiasi industri dan pemerintah, untuk menjamin kualitas produksi atau keselamatan dan kesehatan kerja.
d. Indikator pelatihan
Dalam penelitian Ary Setiawan (2016) terdapat 5 indikator pelatihan kerja yaitu:
1. Tingkat kesesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan kerja karyawan.
2. Tingkat ketepatan metode pelatihan yang digunakan dengan penyampaian materi
3. Kesesuaian materi pelatihan dengan pekerjaan
25
5. Kecukupan waktu yang diberikan untuk memahami materi pelatihan
e. Manfaat Pelatihan
Manullang (1990:47) memberikan batasan tentang manfaat nyata yang dapat diperoleh dengan adanya program pelatihan yang dilaksanakan oleh organisasi / perusahaan terhadap karyawan. Manfaatnya antara lain: meningkatkan rasa puas karyawan, pengurangan pemborosan ,mengurangi ketidakhadiran dan turn over karyawan,memperbaiki metode dan sistem kerja,menaikan tingkat penghasilan,mengurangi biaya-biaya lembur,mengurangi biaya pemeliharaan mesin-mesin,mengurangi keluhan-keluhan karyawan.
Manfaat lain yang diperoleh dari latihan kerja yang dilaksanakan oleh setiap organisasi perusahaan menurut Soeprihanto (1997:24) adalah kenaikan produktivitas, kenaikan moral kerja, menurunnya pengawasan, menurunkan tingkat kecelakaan kerja, kenaikan stabilitas kerja, dan mengembangkan kebutuhan pribadi.
4. Produktivitas Kerja
Produktivitas memiliki perana penting dalam pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan. Produktivitas didefinisikan sebagai rasio antara output dan input, atau rasio antara hasil produk dengan total sumber daya yang digunakan (Evianto,2004:47). Produktivitas mengandung arti sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhansumberdaya yang digunakan (input). Dengan kata lain bahwa
produktivitas memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah pada pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Kedua yaitu efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya (Umar,1998). a. Pengertian Produktivitas kerja
Filosofia mengenai produktivitas mengandung arti keinginan dan usaha dari setiap manusia untuk selalu meningkatkan mutu kehidupan dan penghidupannya. Kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan kehidupan hari esok tentunya harus lebih baik dari hari ini, pandangan yang memberi spirit pada produktivitas (Mulyono,2004:3). Pandangan ini memberi arti yang dalam karena memungkinkan setiap orang yang memahaminya dan menerapkan dalam berproduksi maka hasilnya semakin hari semakin baik, mengutamakan bekerja dengan mengacu kepada efektif dan efisien.
Menurut Simanjuntak (1987: 30) produktivitas mengandung pengertian filosofis, definisi kerja, dan teknis operasional. Secara filosofis, produktivitas mengandung pengertian pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan lebih baik dari hari ini.
Menurut pendapatan Ravinto(1986:16), bahwa produktivitas mengandung sebuah pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk dari seorang tenaga kerja. Pendapat lain
27
mengartikan produktivitas sebagai kemampuan seperangkat sumber-sumber ekonomi untuk menghasilkan sesuatu atau diartikan juga sebagai perbandingan antara pengorbanan (output) dengan penghasilan (input).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas merupakan kemampuan sumber-sumber daya yang ada diperusahaan, dimana sumber itu harus dimanfaatkan secara efektif dan efisien agar tercapai tujuan perusahaan, atau sebagai perbandingan antara pengorbanan (output) dengan hasil yang dicapai (input).
b. Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas kerja
Beberapa factor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Sudarmayanti dalam Suhadi, 2010: 21, yaitu:
1. Sikap mental, berupa: motivasi kerja, disiplin kerja, etika kerja. 2. Pendidikan: pada umumnya orang yang berpendidikan memiliki
tingkat kesadaran akan pentingnya produktivitas, hal ini dapat mendorong seseorang melakukan tindakan produktif.
3. Keterampilan: pada aspek tertentu apabila seorang karyawan lebih terampil maka akan lebih mampu bekerja dan menggunakan fasilitas kerja dengan baik.
4. Manajemen: berkaitan dengan system yang diterapkan oleh pimpinan untuk mengelola serta mengendalikan bawahannya. Apabila manajemennya tepat maka akan menimbulkan semangat
yang lebih tinggi sehingga mendorong pegawai untuk melakukan tindakan produktif.
c. Indikator produktivitas.
Menurut gomes (2003:160), terdapat 5 indikator produktivitas kerja yaitu : 1. Pengetahuan. 2. Ketrampilan. 3. Kemampuan. 4. Sikap. 5. Perilaku d. Manfaat produktivitas
Dalam skripsi (Suhadi, 2010: 33) terdapat dua manfaat produktivitas, yaitu:
1. Manfaat mikro: penurunan ongkos-ongkos per unit, peningkatan kontribusi pajak dan pemerintah, penghemat sumber-sumber daya masukan, menunjang hubungan kerja lebih baik, peningkatan kualitas produk atau jasayang dihasilkan, peningkatan daya bayar dan motivasi.
2. Manfaat makro: membuka kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui penghasilan dan penurunan harga-harga barang dan jasa di pasar, penghematan sumber daya alam, perbaikian keaadaan kerja dan mutu hidup termasuk jam kerja yang pendek.
29