F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Menurut para ahli, teori adalah seperangkat gagasan yang berkembang disamping mencoba secara maksimal untuk memenuhi kriteria tertentu, meskipun mungkin saja hanya memberikan kontribusi parsial bagi keseluruhan teori yang lebih umum.18
Teori adalah ungkapan mengenai hubungan kausal yang logis diantara perubahan (variable) dalam bidang tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai kerangka berfikir (frame of thingking) dalam memahami serta menangani segala permasalahan yang timbul dalam bidang tersebut.19
18 Otje Salman dan Anton F. Susanto, Teori Hukum, Mengingat Mengumpulkan dan Membuka Kembali, (Bandung: Refika Aditama, 2013), hlm. 23.
19 Bintaro Tjokroamidjoyo dan Mustofa Adijoyo, Teori dan Strategi Pembangunan Nasional, (Jakarta: Hadi Masagung, 1998), hlm. 12.
Teori merupakan prinsip ajaran pokok yang dianut untuk mengambil suatu tindakan atau untuk memecahkan suatu masalah. Teori yang dignakan sebagai suatu landasan atau alasan mengenai suatu variabel bebas tertentu dimasukkan ke dalam penelitian karena berdasarkan teori
tersebut bahwa variabel bersangkutan bisa mempengaruhi variabel yang tidak bebas atau merubah salah satu penyebab.
Kerangka teori akan digunakan sebagai landasan berfikir untuk menganalisa permasalahan yang diteliti.20 Menurut M. Solly Lubis, “kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis, baik disetujui maupun tidak disetujui, yang dijadikan masukan dalam membuat kerangka berfikir dalam penulisan”.21
Penelitian pada tesis ini membahas mengenai pemidanaan pelaku usaha dan/atau kegiatan tanpa izin lingkungan di wilayah hukum Polrestabes Medan yang terkhusus para pelaku usaha dan/atau kegiatan yang memiliki akta pendirian perusahaan mulai dari tahun 2012 sampai dengan 2014 (masa peralihan hadirnya legalitas atau peraturan perundang-undangan berkaitan dengan izin lingkungan) semenjak dikeluarkannya peraturan peundang-undangan yakni Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. Adapun variabel yang terdapat dalam permasalahan yang diangkat dalam tesis ini terdiri dari beberapa variabel, yakni: pemidanaan izin lingkungan; pelaku usaha dan/atau kegiatan; dan Satreskrim Polrestabes Medan. pembahasan yang akan dikaji dalam penelitian tesis ini adalah tentang pengaturan hukum terhadap pelaku usaha dan/atau kegiatan di Kota Medan berkaitan dengan izin lingkungan; implementasi pemidanaan pelaku usaha dan/atau
20 Sumardi Suryabrata, Metode Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 6-7.
21M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm. 80.
kegiatan tanpa izin lingkungan di wilayah hukum Polrestabes Medan; pengaruh faktor penegakan hukum dalam pemidanaan pelaku usaha dan/atau kegiatan tanpa izin lingkungan di wilayah hukum Polrestabes Medan. kajian tersebut penulis bedah dengan mempergunakan beberapa teori sebagai pisau analisisnya, diantaranya:
a. Stufenbau Theory (Hans Kelsen)
Dalam hal pembahasan mengenai pengaturan pemidanaan izin lingkungan terhadap para pelaku usaha dan/atau kegiatan di wilayah hukum Polrestabes Medan yang menyangkut peraturan perundang-undangan berkaitan perizinan dan lembaga penerbit perizinan; pejabat Kepolisian Resor Kota Besar Medan melaku penyidik, serta para pelaku usaha dan/atau kegiatan dengan akta pendirian perusahaan mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2014(masa peralihan hadirnya legalitas atau peraturan perundang-undangan berkaitan dengan izin lingkungan), maka terori hukum yang dipergunakan untuk mengupasnya adalah “Stufenbau Theory” yaitu teori mengenai sistem hukum yang dicetuskan oleh Hans Kelsen, yang menyatakan bahwa:
“Sistem hukum merupakan sistem anak tangga dengan kaidah berjenjang dimana norma hukum yang paling rendah harus berpegangan pada norma hukum yang paling tinggi, dan kaidah hukum yang tertinggi (seperti konstitusi) berpegangan pada norma hukum yang paling mendasar (grundnorm)”. Konsepsi hukum dalam ajaran
“Stufenbau Theory” adalah norma dasar suatu tatanan hukum. Norma dasar suatu tatanan hukum adalah peraturan yang lebih dari tata hukum sebagai peraturan fundamental dari berbagai norma tata hukum positif. Teori ini kemudian
dikembangkan oleh Adolf Merkl yang melihat hukum sebagai suatu sistem yang terdiri dari suatu susunan norma-norma yang berbentuk piramida.22
Dalam kaitannya pemidanaan pelaku usaha dan/atau kegiatan tanpa izin lingkungan di wilayah hukum Polrestabes Medan, pihak kepolisian selaku penyidik mempedomani Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang termaktub pada Pasal 109 yang berbunyi “Setiap orang yang melakukan usaha dan/ atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan sebagai mana yang dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (3) tahun dan denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah)”.23
22Hans Kelsen General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell, 1945 dalam Attamimi A. Hamid A, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara; Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan Dalam Kurun Waktu Pelita 1-IV, Disertasi Ilmu Hukum Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hal 287.
23 Syamsul Arifin, Op.Cit., hlm. 367.
Undang-undang tersebut berlaku semenjak diundangkan yakni tertanggal 3 Oktober 2009 serta dinyatakan mencabut dan tidak memberlakukan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Di satu sisi, berkaitan dengan izin lingkungan yang dimaksud dalam Undang-undang ini yang dijelaskan pada Pasal 1 angka 35 Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada sertiap orang yang melakukan usaha dan / atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai prasarat untuk memperoleh
izin usaha dan/ atau kegiatan. Secara terperinci untuk kewajiban usaha dan/ atau kegiatan yang wajib serta lembaga yang menerbitkan perizinan telah diatur dalam Pasal 36 sampai Pasal 41 pada Undang-undang ini berikut ketentuan lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Namun disisi lain, hingga dikeluarkan Undang-undang ini terjadi kekosongan berkaitan dasar hukum perizinan lingkungan sampai muncul Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. Memang meskipun demikian telah diatur dalam Pasal 126 Undang-undang ini mengatur tentang Peraturan pelaksana, nyatanya terjadi kekosongan peraturan pelaksana hampir 3 tahun yakni sampai Peraturan Pemerintah tersebut dikeluarkan pada tanggal 23 Februari 2012. Walaupun telah mengakomodir kekosongan pelaksanaan Pasal 36 sampai Pasal 40 Undang-undang ini. Senyatanya masih terdapat permasalahan pelaksanaan perizinan yaitu mendasarkan pada Pasal 36 Ayat (4) UUPPLH bahwasannya izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, Gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya.
Wilayah Kota Medan semenjak adanya Undang-undang Perlidungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) ini dan Peraturan Pemerintah tentang Izin Lingkungan dari tahun 2012, baru pada tahun 2013 muncul peraturan daerahnya untuk pelaksanaan pelayanan peizinan berkaitan izin lingkungan.
Peraturan Daerah yang berkaitan dengan pelaksanaan perizinan tentang izin lingkungan di wilayah Provinsi Sumatera Utara khususnya di Kota Medan diantaranya adalah Peraturan Walikota Medan Nomor 13 Tahun 2013 tentang Izin Lingkungan. Mengingat bahwasanya setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang
dapat menimbulkan dampak besar dan penting ataupun dampak yang tidak penting terhadap lingkungan hidup diwajibkan menyusun dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL), dan setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori amdal wajib memiliki dokumen UKL-UPL. Pada tataran tingkat daerah sebagai pelaksana otonomi daerah perlu diatur peraturan pelaksana sesuai dengan kewenangan pemerintah daerah dalam pelayanan perizinan.
b. Teori Pertanggungjawaban Hukum
Guna membahas permasalahan berkaitan pemidanaan pelaku usaha dan/atau kegiatan tanpa izin lingkungan di wilayah hukum Polrestabes Medan, yakni pertanggung jawaban hukum para pelaku usaha dan/atau kegiatan sehubungan tindak pidana yang dilakukan terkhusus kepemilikan izin lingkungan aktivitasnya. Maka teori hukum yang dipergunakanuntuk menjawab permasalahan tersebut adalah teori pertanggung jawaban hukum. Pada umumnya konsep pertanggungjawaban hukum (liability) akan merujuk pada tanggungjawaban dalam bidang hukum pidana.
mengingat fokus penelitian pada tesis ini adalah Mengenai pertanggungjawaban dalam pelaku usaha dan/atau kegiatan melaksanakan aktivitasnya tanpa pengurusan atau kepemilikan izin lingkungan. Sesuai dengan Pasal 109 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, para pelaku usaha dan/atau kegiatan dapat dikenakan pidana penjara dan denda.
Menurut Hans Kelsen tentang Teori pertanggungjawaban hukum, menyatakan bahwa: “Seseorang yang bertanggung jawab secara hukum atas perbuatan tertentu
bahwa dia dapat dikenakan suatu sanksi dalam kasus perbuatannya bertentangan/
berlawanan hukum, sanksi dikenakan deliquet, karena perbuatannya sendiri yang membuat orang tersebut bertanggung jawab”. Subjek responsibility dan subjek kewajiban hukum adalah sama. Dalam teori tradisional, ada dua jenis pertanggung jawaban, yaitu: pertanggung jawaban berdasarkan kesalahan (based on fault); dan pertanggung jawaban mutlak (absolute responsibility).24
Dalam perkembangannya teori pertanggung jawaban dikenal ada 3 (tiga) prinsip pertanggung jawaban didalam hukum, yaitu:
Dalam tanggung jawab mutlak, suatu perbuatan yang menimbulkan akibat yang dianggap merugikan oleh pembuat Undang-undang dan ada suatu hubungan antara perbuatan dengan akibatnya.
Tiada hubungan antara keadaan jiwa si pelaku dengan akibat dari perbuatannya.
25
1) Prinsip tanggung jawaban berdasarkan atas adanya unsur kesalahan (fault liability atau liability based on fault principle);
2) Prinsip tanggung jawab berdasarkan atas praduga (rebuttable presumption of liability principle);
3) Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability principle atau absolut liability atau non-fault liability principle).
Dikaitkan dengan penelitian pda tesis ini, maka para pelaku usaha dan/atau kegiatan yang wajib AMDAL dan/atau UKL-UPL tidak memiliki izin lingkungan
24Jimly Asshiddiqie, Ali Safa’at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, (Jakarta: Konstitusi Press, 2006), hlm. 61.
25Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hlm. 503.
terdapat pertanggung jawaban pidana. Dalam pertanggung jawaban secara pidana, sesuai teori adalah “tiada pidana tanpa kesalahan”.26
Menurut Soerjono Soekanto bahwasanya secara teoritis penegakan hukum merupakan “kegiatan menyerasihkan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantab dan mengejawantahkan, dan sikap tindakan sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan,memelihara, dan mempertahankan kedamaian hidup”.
Jadi bagi pemilik atau pengurus ataupun pelaku usaha dan/atau kegiatan yang melakukan kegiatan industri ataupun pemanfataan diatas suatu lahan yang wajib Amdal maupun UKL-UPL wajib memiliki atau mengurus perizinan yaitu izin lingkungan. Bilamana pelaku usaha akan memulai atau pada tahap perencanaan usaha dan/atau kegiatan mengabaikan pengurusan perizinan lingkungan dan mempunyai niat untuk mengabaiakan izin tersebut serta hanya langsung mengurus ijin usaha, maka dapat dikenakan sanksi pidana. Dalam penelitian tesis ini penggunaan teori pertanggung jawaban hukum guna menganalisis permasalahan yang diangkat yaitu untuk mengetahui implementasi pemidanaan pelaku usaha dan/atau kegiatan tanpa izin lingkungan di wilayah hukum Polrestabes Medan.
c. Teori Faktor Penegakan Hukum
27
26Michael J. Allendan Chairul Huda dalam Mahmud Mulyadi, “Niat jahat (Mens Rea) Dalam Tindak Pidana Korupsi”, Program Studi Magister IImu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, April 2016, hlm. 4
27Soerjono Soekanto, Faktor Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta:
Grafindo Persada, 2012), hlm. 5.
Lebih lanjut, Soerjono Soekanto menyebutkan
bahwa terdapat 5 (lima) faktor yang bersifat netral dan mempengaruhi didalam penegakan hukum, yaitu: