IMPLEMENTASI PEMIDANAAN PELAKU USAHA DAN/ATAU KEGIATAN TANPA IZIN LINGKUNGAN
A. Pertanggungjawaban Pidana Terkait Izin Lingkungan
Ketentuan Pasal 109 UUPPLH menyebutkan adanya kata “setiap orang”, kata setiap orang ini menunjuk kepada siapa yang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana. Pengertian “setiap orang” dalam Pasal 1 angka (32) UUPPLH adalah orang perorangan atau badan usaha baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Menurut Hans Kelsen tentang Teori pertanggungjawaban hukum, menyatakan bahwa: “Seseorang yang bertanggung jawab secara hukum atas perbuatan tertentu bahwa dia dapat dikenakan suatu sanksi dalam kasus perbuatannya bertentangan/
berlawanan hukum, sanksi dikenakan deliquet, karena perbuatannya sendiri yang membuat orang tersebut bertanggung jawab”. Subjek responsibility dan subjek kewajiban hukum adalah sama. Dalam teori tradisional, ada dua jenis pertanggung jawaban, yaitu: pertanggung jawaban berdasarkan kesalahan (based on fault); dan pertanggung jawaban mutlak (absolute responsibility).64
64Jimly Asshiddiqie, Ali Safa’at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, (Jakarta: Konstitusi Press, 2006), hlm. 61.
Dalam tanggung jawab mutlak, suatu perbuatan yang menimbulkan akibat yang dianggap merugikan oleh pembuat Undang-undang dan ada suatu hubungan antara perbuatan dengan akibatnya.
Tiada hubungan antara keadaan jiwa si pelaku dengan akibat dari perbuatannya.
Suatu badan hukum merupakan suatu badan (entity) yang keberadaannya terjadi karena hukum atau Undang-Undang, dan sebagai subjek hukum secara materil badan hukum mencakup hal-hal sebagai berikut:65
1. Kumpulan atau asosiasi modal yang ditujukan untuk menggerakkan kegiatan perekonomian dan/atau tujuan khusus lainnya;
2. Kumpulan modal ini dapat melakukan perbuatan hukum (rechtshandelling) dalam hubungan-hubungan hukum (rechtsbestrekking), dan ini menjadi tujuan dari sifat dan keberadaan badan hukum, sehingga badan hukum dapat digugat atau menggugat di depan Pengadilan;
3. Modal yang dikumpulkan selalu diperuntukkan bagi kepentingan tertentu, berdasarkan pada ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Sebagai suatu perkumpulan modal, maka kumpulan modal tersebut harus dipergunakan untuk dan sesuai dengan maksud dan tujuan yang sepenuhnya yang diatur dalam statuta atau anggaran dasarnya, serta menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku;
4. Kumpulan modal tersebut mempunyai pengurus yang akan bertindak untuk mewakili kepentingan badan hukum, yang berarti adanya pemisahan antara keberadaan harta kekayaan yang tercatat atas nama kumpulan modal ini dengan pengurusan harta kekayaan tersebut oleh pengurus;
65 Gunawan Wijaya, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas: Resiko Sanksi Pemilik, Direksi &
Komisaris, (Jakarta: PT. Forum Sahabat), hlm. 15-16.
5. Keberadaan modal badan hukum tersebut tidak dikaitkan dengan keanggotaan tertentu, setiap orang yang memenuhi syarat dan persyaratan yang diatur dalam statuta atau anggaran dasarnya dapat menjadi anggota badan hukum dengan segala hak dan kewajibannya;
6. Tanggungjawab badan hukum dibedakan dari tanggungjawab pendiri, anggota, maupun pengurus badan hukum tersebut.
Badan hukum dalam ruang geraknya dimaksudkan untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat luas, sehingga tujuan memajukan kesejahteraan umum yang diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan guna meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.
Badan hukum dapat melakukan suatu tindak pidana melalui pejabat yang memiliki kedudukan dan kekuasaan untuk berperan sebagai otak dari suatu badan usaha tersebut. Pejabat yang dimaksud adalah mereka yang mengendalikan badan usaha tersebut, baik sendirian maupun bersama-sama dengan pejabat yang lain yang mencerminkan dan mewakili pikiran atau kehendak dari badan hukum tersebut. Para pengendali badan hukum tersebut dalam pengertian luas terdiri dari para direktur dan manajer.
Tindak pidana yang dilakukan badan usaha seringkali tidak kelihatan karena kompleksitas dan dilakukan dengan perencanaan yang matang, serta pelaksanaannya yang rapi dan terkoordinasi serta memiliki dimensi ekonomi. Selanjutnya, tidak tampaknya tindak pidana yang dilakukan korporasi oleh karena dari tingkat
penyelidikan, penyidikan dan penuntutan bahkan dalam penegakan hukumnya lemah karena ketentuan hukum positif yang mengaturnya masih dapat dimultitafsirkan serta ketidak-acuhan masyarakat atas tindak pidana yang telah dilakukan oleh badan hukum.66
a. Tindakan ilegal dari badan hukum dan agen-agennya berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosial ekonomi bawah dalam hal prosedur administrasi, karenanya yang digolongkan kejahatan badan hukum tidak hanya tindakan kejahatan atas hukum pidana, tetapi juga pelanggaran atas hukum perdata dan hukum administrasi;
Tindak pidana lingkungan yang dilakukan untuk dan/atau atas nama badan hukum, setidak-tidaknya didalamnya terdapat, bahwa:
b. Baik badan hukum (sebagai subjek hukum perorangan atau legal persons) dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku kejahatan, dimana dalam antara dan kualitas pembuktian dan penuntutan;
c. Motivasi kejahatan yang dilakukan badan hukum bukan hanya bertujuan untuk keuntungan pribadi, melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan organisasional. Tidak menutup kemungkinan motif tersebut ditopang pula oleh norma operasional (internal) dan sub-kultur organisasional.
66 Alvi Syahrin, Ketentuan Pidana dalam UUPPLH, (Jakarta: PT. Sofmedia, 2011), hlm. 55.
Permasalahan utama tiap masyarakat bukan hanya menginginkan perusahaan yang besar, melainkan apa yang dapat diharapkan terhadap perusahaan besar tersebut guna melayani kepentingan masyarakat dalam upaya mewujudkan cita-cita masyarakat yang sejahtera.
Menurut Erman Rajagukguk, pembangunan yang komprehensif harus memperhatikan hak-hak asasi manusia, keduanya tidak dalam posisi yang berlawanan, dan dengan demikian pembangunan akan mampu menarik partisipasi masyarakat.67
Menurut Sonny Keraf, konsep tanggungjawab sosial dan moral perusahaan bahwa suatu perusahaan bertanggungjawab atas tindakan dan kegiatan bisnisnya yang mempunyai pengaruh atas orang-orang tertentu, masyarakat, serta lingkungan dimana perusahaan itu beroperasi. Secara positif perusahaan diharapkan untuk ikut melakukan kegiatan tertentu yang tidak semata-mata didasarkan pada perhitungan keuntungan kontan yang langsung, melainkan juga demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, perlu ikut Badan hukum sebagai subjek hukum tidak hanya menjalankan kegiatannya sesuai dengan prinsip ekonomi (mencari keuntungan yang sebesar-besarnya) tetapi juga mempunyai kewajiban untuk mematuhi peraturan hukum di bidang ekonomi yang digunakan pemerintah guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.
67 Erman Rajagukguk, Peranan Sanksi Dalam Pembangunan Pada Era Globalisasi:
Implikasinya Bagi Pendidikan Sanksi di Indonesia, (Jakarta: Fakultas Sanksi UI, 1999), hlm. 7.
memikirkan dan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi kepentingan hidup bersama dalam masyarakat. Keperdulian perusahaan terhadap lingkungan hidup, kelestarian hutan, kesejahteraan masyarakat sekitar, dan seterusnya akan menciptakan iklim yang lebih menerima perusahaan akan selalu menimbulkan sikap protes, permusuhan, dan penolakan atas kehadiran perusahaan itu beserta produknya, tidak hanya dari masyarakat setempat di sekitar perusahaan itu melainkan juga sampai pada tingkat Internasional.68
Beberapa peran yang diharapkan terhadap badan hukum didalam proses modernisasi atau pembangunan, diantaranya memperhatikan dan membina kemampuan sumber alam dan lingkungan hidup.69
Menurut Suparmoko, ada pendapat yang menyatakan bahwa memburuknya lingkungan bukan merupakan akibat dari industrialisasi melainkan karena kapitalisme dalam industrialisasi tersebut. Pemilikan swasta terhadap alat-alat produksi, perekonomian pasar, dan motif mencari laba, telah menyebabkan perekonomian terikat pada tujuan demi untuk pertumbuhan ekonomi. Terget pertumbuhan seringkali mengabaikan dampak negatif yang merusak lingkungan asalkan banyak barang baru Menyerasikan antara lingkungan hidup dengan pembangunan bukan hal yang mudah, sehingga perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjuan yang berwawasan lingkungan.
68 Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998), hlm. 122-126.
69 Hamzah Hatrik, Asas Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Sanksi Pidana Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 24-25.
dapat diciptakan, dan mungkin sekali tidak mempertimbangkan apakah sumberdaya alam itu dapat diperbaharui atau tidak. Terjadinya kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan, kebanyakan dilakukan dalam konteks menjalankan suatu usaha ekonomi dan sering juga merupakan sikap penguasa maupun pengusaha yang tidak menjalankan atau melalaikan kewajiban-kewajibannya dalam pengelolaan lingkungan hidup.70
Menurut Barda Nawawi Arief, untuk adanya pertanggungjawaban pidana harus jelas dahulu siapa yang dapat dipertanggungjawabkan, artinya harus dipastikan dahulu siapa yang dinyatakan sebagai pelaku suatu tindak pidana tertentu. Masalah ini menyangkut masalah subjek tindak pidana yang pada umumnya sudah dirumuskan oleh pembuat Undang-Undang untuk pidana yang bersangkutan. Setelah pelaku ditentukan, selanjutnya bagaimana mengenai pertanggungjawaban pidananya.71
Pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kegiatan industri atau sejenisnya, tentu saja lingkungan hidup perlu mendapat perlindungan hukum. Hukum pidana dapat memberikan sumbangan dalam perlindungan hukum bagi lingkungan hidup. Dari sudut pandang hukum lingkungan, kemungkinan untuk mengatur masalah-masalah lingkungan hidup dengan bantuan hukum pidana sangat terbatas serta perlu memperhatikan pembatasan-pembatasan yang terkandung dalam penerapan hukum pidana tersebut, seperti asas legalitas.
70 M. Suparmoko, Ekonomi Sumberdaya alam dan Lingkungan (Suatu Pendekatan Teoritis), (Yogyakarta: BPFE, 1997), hlm. 56-57.
71 Muladi dan Dwidja Prayitno, Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Sanksi Pidana, (Bandung: Sekolah Tinggi Sanksi, 1991), hlm. 66-67.
Mengenai sifat pertanggungjawaban badan hukum dalam hukum Pidana terdapat beberapa cara atau sistem perumusan yang ditempuh oleh pembuat Undang-Undang, yaitu:
a. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pengurusnya yang bertanggungjawab;
b. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjawab;
c. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab.
Pemidanaan badan hukum dilakukan dengan menjatuhkan sanksi pidana
“denda” dan untuk individu pengurus badan hukum diterapkan sanksi pidana berupa
“penjara” (maupun “denda”). Maka unsur “barang siapa” dalam delik lingkungan atas dasar UUPPLH mengandung muatan bahwa “orang” yang menjadi “pelaku delik”
menjangkau “individu” dan “badan hukum”. Pasal 1 angka 32 UUPPLH menopangnya: “Orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum”.
Berdasarkan Pasal 116 UUPPLH disebutkan bahwa apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada: a. Badan usaha; dan/atau b. Orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.