• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA DAN/ATAU KEGIATAN BERKAITAN DENGAN IZIN LINGKUNGAN

D. Macam-macam Pelaku Usaha Wajib Izin Lingkungan

Berdasarkan Pasal 36 UUPPLH menyatakan izin lingkungan adalah:

a) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib Amdal atau UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan;

b) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan berdasarkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 atau rekomendasi UKL-UPL.

Pasal 37 ayat (1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib menolak permohonan izin lingkungan apabila permohonan izin tidak tidak dilengkapi dengan amdal UKL-UPL.

Dalam Pasal 1 butir 11 UUPPLH menyatakan Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Pasal 1 butir 10 Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup adalah keputusan yang menyatakan kelayakan lingkungan hidup dari suatu rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Amdal.

Amdal dan UKL-UPL juga merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan Izin Lingkungan. Pada dasarnya proses penilaian Amdal atau pemeriksaan UKL-UPL merupakan satu kesatuan dengan proses permohonan dan penerbitan Izin Lingkungan.

Menurut Pasal 22 ayat (1) UUPPLH, setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal. Kemudian dalam Pasal 24 UUPPLH Dokumen amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 merupakan dasar penetapan keputusan kelayakan lingkungan hidup.

Pasal 22 ayat (2) menjelaskan, dampak penting dimaksud ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:

a. besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;

b. luas wilayah penyebaran dampak;

c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;

d. banyaknya komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak;

e. sifat kumulatif dampak;

f. berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau

g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 23 ayat (1) UUPPLH, menjelaskan kriteria usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting yang wajib dilengkapi dengan amdal terdiri atas:

a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;

b. eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan;

c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemborosan dan kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya;

d. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;

e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya;

f. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, dan jasad renik;

g. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati;

h. kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara; dan/atau

i. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup.

Pasal 34 UUPPLH, mengenai UKL-UPL menjelaskan bahwa:

(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) wajib memiliki UKL-UPL.

(2) Gubernur atau bupati/walikota menetapkan jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.

Pasal 35 UUPPLH, menjelaskan bahwa:

(1) Usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) wajib membuat surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

(2) Penetapan jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria:

a. tidak termasuk dalam kategori berdampak penting sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1); dan

b. Ketentuan lebih lanjut mengenai UKL-UPL dan surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 40 UUPPLH, menjelaskan bahwa:

(1) Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.

(2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan.

(3) Dalam hal usaha dan/atau kegiatan mengalami perubahan, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib memperbarui izin lingkungan.

Kemudian menurut Pasal 4 Permenlh No. 5 Tahun 2012 Wajib Amdal, ayat (1) Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang:

a. memiliki skala/besaran lebih kecil daripada yang tercantum dalam Lampiran I; dan/atau

b. tidak tercantum dalam Lampiran I tetapi mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, dapat ditetapkan menjadi jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal diluar Lampiran I.

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal dan izin lingkungan ditetapkan berdasarkan:

a. Potensi dampak penting

Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan:

1) besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;

2) luas wilayah penyebaran dampak;

3) intensitas dan lamanya dampak berlangsung;

4) banyaknya komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak;

5) sifat kumulatif dampak;

6) berbalik atau tidak berbaliknya dampak;

7) kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;

8) referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang Amdal.

b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul.

Lampiran I Permenlh No. 5 Tahun 2012 menetapkan beberapa jenis usaha/kegiatan yang wajib memiliki Amdal, yaitu:

a. Bidang Multisektor;

b. Bidang Pertahanan;

c. Bidang Pertanian;

d. Bidang Kehutanan;

e. Bidang Perhubungan;

f. Bidang Teknologi Satelit;

g. Bidang Perindustrian;

h. Bidang Pekerjaan Umum;

i. Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

j. Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral;

k. Bidang Pariwisata;

l. Bidang Ketenaganukliran;

m. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3); dan n. Bidang Kesehatan.

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib memiliki Amdal sesuai dengan Ketentuan Pasal 34 ayat (1) wajib memiliki izin lingkungan. Secara pada ayat (2) ditetapkan berdasarkan Peraturan Gubernur atau Walikota/Bupati.

Dalam konteks ini di wilayah hukum Polrestabes Medan sesuai dengan lampiran Peraturan Walikota Medan Nomor 29 Tahun 2010 tentang Kewajiban Menyusun Dokumen Lingkungan Hidup Berupa Amdal, Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, atau SPK pengelolaan dan pemanfaatan limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan di Kota Medan.

BAB III

IMPLEMENTASI PEMIDANAAN PELAKU USAHA DAN/ATAU