BAB II PENGATURAN PENGALIHAN PIUTANG DALAM
B. Pengalihan Piutang dan Akibat Hukumnya
2. Akibat Cessie Terhadap Jaminan
Kegiatan pemberian kredit tidak dapat dilepaskan dari kegiatan pemberian jaminan yang dilakukan oleh debitur kepada kreditur. Meskipun adanya jaminan tersebut tidak merupakan suatu keharusan, namun demi melindungi kepentingan kreditur guna menjamin pelunasan dan/atau pembayaran kembali atas setiap jumlah uang yang terhutang dan wajib dibayar oleh debitur kepada kreditur, maka dapat disepakati adanya pemberian jaminan oleh debitur kepada kreditur.
Dengan demikian perjanjian pemberian jaminan ini bersifat accessoir dimana perjanjian kredit adalah sebagai perjanjian pokoknya. Suatu piutang yang timbul dari perjanjian kredit dapat dikatakan sebagai benda yang dimiliki oleh kreditur. Oleh sebab itu, layaknya seorang pemilik suatu kebendaan, kreditur berhak untuk mengalihkan piutangnya kepada pihak ketiga manapun berdasarkan pertimbangan baiknya sendiri tanpa diperlukan adanya persetujuan dari pihak manapun. Pengalihan piutang yang dilakukan oleh kreditur ini dilakukan secara cessie.54
Pengalihan piutang yang dilakukan oleh kreditur kepada pihak ketiga secara cessie tidak mengakibatkan berakhirnya perjanjian kredit. Berkenaan dengan hal ini, perjanjian pemberian jaminan yang bersifat accessoir dari perjanjian kredit itu juga tetap berlaku. Pengalihan hak dan kewajiban tersebut dengan demikian meliputi juga pengalihan hak dan kewajiban kreditur berdasarkan suatu perjanjian pemberian jaminan yang merupakan accessoir dari perjanjian kredit yang bersangkutan. Apabila suatu piutang yang dialihkan itu
54 Klau Victor Apryantho, Analisis Pengalihan Piutang Secara Cessie, Indonesian Banker‟s Club.
timbul dari suatu perjanjian kredit dan dijamin dengan Hak Tanggungan, maka jika kredit tersebut dialihkan oleh kreditur dengan cara cessie, hak kreditur sebagai pemegang Hak Tanggungan akan berpindah dan beralih kepada pihak ketiga yang menerima pengalihan kredit yang dimaksud. Hal ini diatur dalam Pasal 16 UUHT yang menyatakan bahwa:
1. Jika piutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan beralih karena cessie, subrogasi, pewarisan, atau sebab-sebab lain, Hak Tanggungan tersebut ikut beralih karena hukum kepada kreditor yang baru.
2. Beralihnya Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib didaftarkan oleh kreditur yang baru kepada Kantor Pertanahan.
3. Pendaftaran beralihnya Hak Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan mencatatnya pada buku-tanah Hak Tanggungan dan buku-tanah hak atas tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat Hak Tanggungan dan sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan.
4. Tanggal pencatatan pada buku-tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tanggal hari ketujuh setelah diterimanya secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftaran beralihnya Hak Tanggungan dan jika hari ketujuh itu jatuh tempo pada hari libur, catatan itu diberi bertanggal hari kerja berikutnya.
5. Beralihnya Hak Tanggungan mulai berlaku bagi pihak ketiga pada hari tanggal pencatatan.”
6. Berdasarkan ketentuan Pasal 16 UUHT di atas dan dengan memperhatikan penjelasan pasal tersebut di dalam UUHT, beralihnya Hak Tanggungan yang diatur di dalam ketentuan ini terjadi karena hukum.
Oleh sebab itu maka hal tersebut tidak perlu dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah. Pencatatan beralihnya Hak Tanggungan ini cukup dilakukan berdasarkan akta yang membuktikan beralihnya piutang yang dijamin kepada kreditor yang baru.
Menanggapi ketentuan Pasal 16 ayat (1) UUHT, Sutan Remy Sjahdeini berpendapat sebagai berikut:55 “Ketentuan ini sangat penting bagi praktik perbankan. Dalam praktik perbankan, sering kredit bank, dalam arti sebagai piutang bank, diambil alih oleh bank lain. Dengan kata lain, terjadi penggantian kreditor dengan nasabah debitor yang sama. Hal ini sering pula terjadi dalam hal kredit sindikasi, yaitu peserta sindikasi dari pasar sindikasi perdana (primary market of syndicated loan) menjual penyertaannya kepada peserta sindikasi baru dalam pasar sekunder (secondary market of syndicated loan). Jual beli penyertaan sindikasi kredit tersebut sering terjadi bagi kredit-kredit sindikasi yang berbentuk transferable loan facility. Transaksi penjualan penyertaan sindikasi kredit ini lazim disebut debt sale.”
Dengan melihat uraian-uraian di atas, jelas bahwa pengalihan piutang dengan cara cessie mengalihkan juga hak dan wewenang kreditur lama kepada kreditur baru. Pengalihan ini terjadi juga terhadapa jaminan Hak Tanggungan yang berkaitan dengan perjanjian kredit yang menimbulkan piutang yang
55 Sutan Remy Sjahdeni, Kredit Sindikasi Proses Pembentukan dan Aspek Hukum, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1997, hal. 86
dialihkan. Dalam hal hak tanggungan tersebut dibebankan untuk menjamin hutang debitur kepada satu kreditur berdasarkan satu perjanjian kredit, pengalihan hak tanggungan ini dapat dilakukan dengan lebih mudah karena tidak perlu melibatkan banyak pihak. Sebagai kreditur yang baru, pihak ketiga dapat dengan segera menerima sertipikat hak tanggungan dan melakukan pendaftaran pengalihan hak tanggungan dari kreditur lama kepada dirinya.
Dalam suatu perjanjian kredit bank, bank mengatur berbagai macam klausul di dalamnya, yang mana bila dilihat dari sudut pandang hukum perikatan, maka syarat dan ketentuan dari perjanjian kredit ini termasuk ke dalam perjanjian sepihak. Dikatakan perjanjian sepihak karena tidak terdapat tawar menawar antara debitur dan bank. Inilah yang kemudian disebut sebagai perjanjian standar atau perjanjian baku. Secara umum isi perjanjian kredit berisi pihak pemberi kredit, tujuan pemberian kredit, besarnya biaya proyek, besarnya kredit yang diberikan bank, tingkat bunga kredit, biaya-biaya lain, jangka waktu pengembalian, jadwal pengembalian, jadwal pembayaran, jaminan kredit, syarat yang harus dipenuhi sebelum dicairkan, kewajiban nasabah selama kredit belum dilunasi, serta hak-hak yang dimiliki bank selama kredit belum lunas, termasuk berisi klausul mengenai adanya cessie.
Bank mengatur di dalam perjanjian kredit bahwa debitur menyetujui dan sepakat untuk memberikan hak sepenuhnya kepada bank untuk menyerahkan piutang (cessie) dan atau tagihan bank terhadap debitur berikut semua janji-janji accesoir-nya, termasuk hak-hak atas jaminan kredit kepada pihak lain yang ditetapkan oleh bank sendiri setiap saat jika diperlukan oleh bank. Dengan
demikian terkaitnya pengalihan piutang secara cessie karena bank mengaturnya dalam perjanjian kredit yang dibuatnya, dan hal ini mengikat debitur sebagai pihak yang memohon kredit dan menandatangani perjanjian kredit tersebut.
Hubungan hukum yang terjadi antara debitur dengan kreditur lama atau bank bermula dari adanya perjanjian kredit.56 Perjanjian kredit dituangkan dalam bentuk tertulis dalam bentuk perjanjian baku. Klausula mengenai cessie merupakan salah satu isi dari perjanjian kredit bank yang kemudian disepakati oleh debitur, bahwa bank sewaktu-waktu jika diperlukan dapat melakukan pengalihan piutang atau tagihan bank terhadap debitur termasuk jaminan kredit debitur kepada pihak ketiga. Ketika debitur menyetujui perjanjian tersebut dan bersedia menandatangani perjanjian kredit tersebut, seketika itulah timbul hubungan hukum utang piutang antara debitur dan kreditur yang merupakan hubungan asal sebelum adanya peristiwa cessie.
Dengan dilakukannya pengalihan piutang atas nama (cessie) oleh bank kepada pihak ketiga maka muncullah hubungan hukum antara bank yang kemudian disebut kreditur lama dengan pihak ketiga yang kemudian disebut kreditur baru. Hubungan hukum yang selanjutnya muncul dari cessie adalah hubungan hukum antara kreditur baru dengan debitur. Sejak berlaku efektifnya suatu pengalihan piutang, kreditur lama tidak lagi berhak untuk menerima pembayaran dan/atau pelunasan hutang debitur kepadanya. Setiap pembayaran dan/atau pelunasan hutang debitur merupakan hak kreditur baru dan dibayarkan oleh debitur kepada kreditur baru.
56 J. Satrio, Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie & Percampuran Hutang, (Bandung: Alumni, 1991), hal. 25
Piutang yang dialihkan di dalam perjanjian cessie itu memberikan hak tagih kepada penerima cessie atas setiap dan seluruh jumlah-jumlah uang yang wajib dibayarkan oleh debitur kepada kreditur berdasarkan perjanjian kredit.
Pengalihan piutang yang dilakukan oleh bank selaku kreditur tersebut mengakibatkan beralihnya hak tagih atau piutang atas debitur yang bersangkutan kepada pihak ketiga yang kemudian menggantikan kedudukan kreditur lama sebagai kreditur yang baru.57 Dalam cessie, pengambilalihan piutang bank oleh pihak ketiga bukan berarti hanya piutang saja yang diambilalih, tetapi disertai juga dengan pengambilalihan hak dan kewajiban bank, termasuk beralihnya jaminan utang debitur.
Pengalihan piutang secara cessie tidak mengakibatkan berakhirnya perikatan yang telah ada yang dibuat antara kreditur dengan debitur. Perikatan yang lama tetap ada dan berlaku serta mengikat debitur maupun kreditur yang menerima pengalihan piutang yang dimaksud. Dengan demikian yang terjadi adalah pengalihan seluruh hak dan kewajiban kreditur berdasarkan perjanjian kredit yang ada kepada pihak ketiga yang selanjutnya menjadi kreditur baru.58
Dalam praktek perbankan, akibat hukum pengalihan piutang dapat digambarkan seperti contoh kasus dibawah ini tentang Analisis Yuridis Pengalihan Piutang Secara Cessie dan Akibat Hukumnya Terhadap Jaminan Utang Debitur.59
57 Puteri Natalia Sari, “Pengalihan Piutang secara Cessie dan Akibatnya Terhadap Jaminan Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia, Tesis Program Magister Kenotariatan”, (Jakarta:
UI, 2010), hal. 24
58 Ibid
59 Yuristia Eka Erwanda, Analisis Yuridis Pengalihan Piutang Secara Cessie Dan Akibat Hukumnya Terhadap Jaminan Utang Debitur (Studi Kasus Atas Putusan Pn Pekanbaru No.
22/Pdt.G/2016/Pn.Pbr)
Kasus dalam putusan tersebut, dimana cessionaris bernama Nelmawati yang membeli piutang tagihan atas nama dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru (Cedent) mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Pekanbaru untuk menggugat cessus-nya yang bernama Ema Damayanti yang mengalami kredit macet dan tidak lagi diketahui keberadaannya agar Pengadilan Negeri Pekanbaru memberikan izin untuk dapat membaliknamakan Setifikat Hak Milik Nomor: 4297/Labuh Baru Barat tanggal 17 Desember 2009 dan Surat Ukur Nomor: 5688/Labuh Baru Barat/2009 tanggal 17 Desember 2009 atas nama Tergugat (Ema Damayanti) ke atas nama Penggugat (Nelmawati) pada Kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Pekanbaru, dimana Sertifikat Hak Milik dan Surat Ukur tersebut merupakan surat keterangan atas sebidang tanah yang diatasnya berdiri bangunan permanent seluas 153 M2 (seratus lima puluh tiga meter persegi) yang berada di Kelurahan Labuh Baru Barat Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru yang dijadikan jaminan oleh Tergugat (Ema Damayanti) untuk memperoleh Kredit Pemberian Rumah (KPR) dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru bertindak sebagai Cedent dengan menjual piutang dan mengalihkan hak atas tagihan (Cessie) kepada Nelmawati selaku cessionaris dengan dituangkan dalam 2 (dua) Akta Notaris berjudul Perjanjian Jual Beli Piutang dan Pengalihan Hak Atas Tagihan (Cessie). Dengan ditandatanganinya 2 (dua) Akta Notaris tersebut, maka beralihlah seluruh hak dan kewajiban PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru selaku kreditur lama berdasarkan perjanjian kredit yang ada kepada
Nelmawati (Cessionaris) yang menjadi kreditur baru, sehingga beralih pula Setifikat Hak Milik Nomor: 4297/Labuh Baru Barat tanggal 17 Desember 2009 dan Surat Ukur Nomor: 5688/Labuh Baru Barat/2009 tanggal 17 Desember 2009 yang dijadikan jaminan untuk memperoleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari pihak PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru kepada Nelmawati.
Berdasarkan pertimbangan atas bukti yang diajukan oleh Penggugat yaitu Akta Perjanjian Jual Beli Piutang dan Akta Pengalihan Hak Atas Tagihan (Cessie), telah ternyata bahwa PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
melakukan jual beli piutang dan mengalihkan hak tagih atas piutang dengan debitur atas nama Tergugat (Ema Damayanti) kepada Penggugat, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa benar antara Penggugat dengan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. telah terjadi jual beli piutang dan pengalihan hak atas tagihan (cessie) terhadap utang Tergugat, sehingga dengan demikian, maka petitum surat gugatan Penggugat yang meminta Majelis Hakim untuk menyatakan sah jual beli piutang dan pengalihan hak atas tagihan (cessie) antara Penggugat dengan pihak PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru beralasan hukum untuk dikabulkan.
Berdasarkan pertimbangan atas bukti yang diajukan oleh Penggugat yaitu Akta Perjanjian Jual Beli Piutang dan Akta Pengalihan Hak Atas Tagihan (Cessie), telah ternyata bahwa PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
melakukan jual beli piutang dan mengalihkan hak tagih atas piutang dengan debitur atas nama Tergugat (Ema Damayanti) kepada Penggugat, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa benar antara Penggugat dengan PT. Bank Tabungan
Negara (Persero) Tbk. telah terjadi jual beli piutang dan pengalihan hak atas tagihan (cessie) terhadap utang Tergugat, sehingga dengan demikian, maka petitum surat gugatan Penggugat yang meminta Majelis Hakim untuk menyatakan sah jual beli piutang dan pengalihan hak atas tagihan (cessie) antara Penggugat dengan pihak PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pekanbaru beralasan hukum untuk dikabulkan.
Pengalihan piutang secara cessie tidak mengakibatkan berakhirnya perjanjian kredit yang dibuat antara kreditur dengan debitur, hanya mengakibatkan beralihnya hak tagih atau piutang atas debitur yang bersangkutan (cedent) kepada pihak ketiga yang kemudian menggantikan kedudukan kreditur lama (cessus) sebagai kreditur yang baru (cessionaris), termasuk beralihnya jaminan debitur yang digunakan untuk menjamin pelunasan utangnya sepanjang peralihan tersebut dilakukan dengan perjanjian yang sah sesuai hukum yang berlaku.
BAB III
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PARA PIHAK DALAM PENGALIHAN KREDIT SINDIKASI
A. Problematika Dalam Pengalihan Kredit 1. Wanprestasi
Wanprestasi dan perbuatan melawan hukum merupakan dua istilah di antara istilah lainnya yang terdapat di dalam Hukum Perdata, khususnya di bidang Hukum Perikatan. Apabila karakteristik dari kedua istilah tersebut diperbandingkan, maka ditemukan persamaan dan perbedaan yang hal tersebut tentu sangat berguna, khususnya bagi para akademisi maupun praktisi hukum serta bagi masyarakat pada umumnya.
Apabila ada yang berpendapat bahwa wanprestasi termasuk ke dalam unsur perbuatan melawan hukum, maka hal tersebut tidak sepenuhnya salah.
Sebaliknya, apabila ada yang berpendapat bahwa perbuatan melawan hukum adalah bagian dari unsur suatu wanprestasi, maka hal tersebut dapat pula untuk dibenarkan. Ketentuan mengenai wanprestasi dan perbuatan melawan hukum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diatur pada Buku Ketiga.
Salah satu persoalan yang timbul dari pengaturan mengenai wanprestasi dan perbuatan melawan hukum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah tidak ditemukan definisi yang tegas dan jelas dari pembentuk kitab terhadap istilah tersebut. Persoalan itu tentunya harus segera diatasi dengan menambahkan definisi dari kedua istilah tersebut dalam pembentukan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang baru nantinya.
Dapat dijelaskan bahwawanprestasi (ingkar janji) merupakan perkara yang timbul akibat tidak dipenuhinya sebuah perjanjian, baik secara tertulis ataupun tidak tertulis. Perbuatan melawan hukum merupakan perkara yang timbul akibat dirugikannya satu pihak akibat tindakan pihak lain, tidak ada perjanjian sebelumnya. 60
Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peralihan piutang yang terjadi antara Penggugat dan Tergugat diawali ketika Penggugat membeli dengan itikad baik atas dasar kredit dari Turut Tergugat II, yang dijual oleh Turut Tergugat I dengan Program Penjualan Aset Kredit VI (“PPAK IV”), sebagaimana yang tertuang dalam Perjanjian Jual Beli Piutang tanggal 25 Februari 2004 dan Perubahan Atas Perjanjian Jual Beli Piutang No. SP.005/PPAK VI/BPPN/0404, tanggal 7 April 2004 dan Perjanjian Pengalihan Piutang dan Akta CessieNomor 23 tanggal 25 Februari 2004, yang dalam gugatan tersebut disebut dengan istilah
“Perjanjian Jual Beli Piutang dan AktaCessie”.
Dapat dilihat bahwa hubungan hukum yang terjadi diantara para pihak yang bersengketa adalah perjanjian tertulis berupa Perjanjian Jual Beli Piutang dan Akta Cessie yang didasarkan pada perjanjian kredit.
Berdasarkan uraian di atas, definisi sederhana terhadap apa yang dimaksud dengan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, yang dimaksud dengan wanprestasi atau ingkar janji adalah “tidak dipenuhinya sebuah perjanjian (baik perjanjian yang dibuat secara tertulis ataupun tidak tertulis)”. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum adalah “perbuatan yang
60 Hamler, Karakteristik Wanprestasi Dan Perbuatan Melawan Hukum, hal. 1.
menimbulkan suatu kerugian (perbuatan tersebut tidak diawali dengan suatu perjanjian)”.61
Untuk menguatkan pendapat di atas, penjelasan terkait wanprestasi dan perbuatan melawan hukum dapat dijelaskan berikut ini, apabila atas perjanjian yang disepakati terjadi pelanggaran, maka dapat diajukan gugatan wanprestasi, karena ada hubungan kontraktual antara pihak yang menimbulkan kerugian dan pihak yang menderita kerugian. Apabila tidak ada hubungan kontraktual antara pihak yang menimbulkan kerugian dan pihak yang menderita kerugian, maka dapat diajukan gugatan perbuatan melawan hukum.
Menurut teori klasik yang membedakan antara gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum, tujuan gugatan wanprestasi adalah untuk menempatkan penggugat pada posisi seandainya perjanjian tersebut terpenuhi (put the plaintiff to theposition if he would have been in had thecontract been performed).62
Dengan demikian ganti rugi tersebut adalah berupa kehilangan keuntungan yang diharapkan atau disebut dengan istilah expectation loss atau winstderving.
Sedangkan tujuan gugatan perbuatan melawan hukum adalah untuk menempatkan posisi penggugat kepada keadaan semula sebelum terjadinya perbuatan melawan hukum. Sehingga ganti rugi yang diberikan adalah kerugian yang nyata atau reliance loss. 63
61Ibid, hal 3.
62Marvita Langi, Akibat Hukum Terjadinya Wanprestasi Dalam Perjanjian Jual Beli, Lex Privatum, Vol. Iv/No. 3/Mar/2016
63Ibid
Kriteria untuk menentukan masuk atau tidaknya suatu peristiwa hukum untuk dinyatakan sebagai wanprestasi secara garis besar adalah tidak dipenuhinya suatu perjanjian, baik yang dibuat secara tertulis ataupun tidak tertulis. Tidak dipenuhinya suatu perjanjian itu sendiri adalah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang telah diperjanjikan atau terlambat memenuhi kewajiban yang telah diperjanjikan atau telah memenuhi kewajiban, akan tetapi tidak sebagaimana yang telah diperjanjikan. Dengan demikian, fakta adanya kewajiban yang harus dilaksanakan oleh salah satu pihak, berikut fakta adanya kewajiban tertentu yang telah dilanggar oleh pihak tersebut, haruslah mampu dijelaskan dan ditunjukkan oleh pihak lain dari subyek perjanjian tersebut.
Kriteria untuk menentukan masuk atau tidaknya suatu peristiwa hukum untuk dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang menimbulkan kerugian yang mana perbuatan tersebut tidak diawali dengan suatu perjanjian. Unsur kerugian adalah unsur yang utama untuk perbuatan melawan hukum. Dengan demikian, unsur tidak dipenuhinya suatu perjanjian adalah unsur yang utama untuk wanprestasi atau ingkar janji. Sebaliknya, unsur menimbulkan kerugian adalah unsur yang utama untuk perbuatan melawan hukum.
Sedangkan untuk pengertian dari perbuatan melawan hukum yang diatur di dalam pasal 1365 KUHPerdata mengalami perkembangan dalam teori hukum.
Semula pengertian melawan hukum hanya diartikan secara sempit yaitu perbuatan yang melanggar undang-undang saja. Akan tetapi, kemudian Hoge Raad dalam kasus yang terkenal Lindenbaum melawan Cohen memperluas pengertian melawan hukum bukan hanya sebagai perbuatan yang melanggar undang-undang,
tetapi juga setiap perbuatan yang melanggar kepatutan, kehati-hatian, dan kesusilaan dalam hubungan antara sesame warga masyarakat dan terhadap benda orang lain.64Perbuatan melawan hukum lebih diartikan sebagai perbuatan yang
“melukai” daripada pelanggaran terhadap kontrak, sebab gugatannya tidak didasarkan dengan adanya hubungan kontraktual. Tetapi sejak munculnya kasus Lindenbaum melawan Cohen, pandangan mengenai perbuatan melawan hukum hanya berlawanan dengan hak dan kewajiban hukum yang menurut Undang-Undang saja telah berubah dan dapat dikatakan bahwa adanya hubungan kontraktual dapat dilakukan gugatan melawan hukum.Berdasarkan ketentuan pasal tersebut, pada dasarnya, suatu perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang karena kesalahan, kelalaian atau kurang hati-hati, membawa kerugian bagi orang lain, sehingga mewajibkan si pelaku mengganti kerugian.65
Berdasarkan hal itu maka unsur-unsur perbuatan melawan hukum antara lain adalah adanya suatu perbuatan, perbuatan tersebut melawan hukum, adanya kesalahan atau kelalaian atau kurang hati-hati dari si pelaku, adanya kerugian bagi korban, dan adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian. Untuk dapat dikatakan suatu perbuatan melawan hukum, selain perbuatan yang melawan undang-undang, maka perbuatan tersebut harus dapat dibuktikan bertentangan dengan hak orang lain, bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri, bertentangan dengan kesusilaan, bertentangan dengan kehati-hatian atau keharusan dalam pergaulan masyarakat yang baik.
64Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa, 2004. Jakarta, Kencana, Hal. 121.
65Harumi Chandraresmi, Kajian Mengenai Gugatan Melawan Hukumterhadap Sengketa Wanprestasi,Privat Law Vol. V No. 1 Januari-Juni 2017
Terjadinya wanprestasi dalam penelitian ini, diawali ketika Penggugat telahmenandatangani perjanjian jual beli piutang dan akta Cessie, ternyata dokumen barang jaminan tersebut di atas tidak dapat diserahkan oleh Turut Tergugat I kepada Penggugat, karena ternyata masih disimpan dan dikuasai olehTergugat;
Meskipun Tergugat telah disurati oleh Penggugat, dan juga pernah mengadakan pertemuan tanggal 30 April 2004 di Kantor Tergugat, Tergugat tetap bersikeras untuk menyimpan dokumen jaminan tersebut, dan tidak menghormati hak-hak Penggugat yang memperolehnya berdasarkan Perjanjian Jual Beli Piutang dan Akta Cessiedari Pemerintah Republik Indonesia tersebut di atas, Penggugat merasa sangat dirugikan oleh perbuatan dan tindakan Tergugat tersebut;
Sesuai dengan uraian diatas ketika salah satu pihak dalam perikatan tidak dapat melaksanakan kewajibannya maka pihak tersebut dikatakan wanprestasi.
Dalam hal ini tergugat selaku penyimpan jaminan dapat dinyatakan wanprestasi dalam memenuhi kewajibannya kepada penggugat.
Namun demikian, pada akhirnya terlepas dari semua uraian di atas, kewenangan untuk menyatakan suatu perbuatan sebagai wanprestasi atau perbuatan melawan hukum, terletak pada pada putusan pengadilan dalam lingkup sistem peradilan perdata apabila para pihak tidak mampu menyelesaikan sengketa dalam lingkup Hukum Perikatan secara mandiri atau bahkan para pihak tidak mau mengakui kesalahan, kekhilafan, atau kekeliruannya yang nyata.
2. Ketidakpastian Hukum Akibat Lemahnya Etika Bisnis
Etika bisnis bisa berarti nilai-nilai dan norma-norma moral yang berlaku
Etika bisnis bisa berarti nilai-nilai dan norma-norma moral yang berlaku