• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Dalam Pengalihan Kredit

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PARA PIHAK

A. Problematika Dalam Pengalihan Kredit

Wanprestasi dan perbuatan melawan hukum merupakan dua istilah di antara istilah lainnya yang terdapat di dalam Hukum Perdata, khususnya di bidang Hukum Perikatan. Apabila karakteristik dari kedua istilah tersebut diperbandingkan, maka ditemukan persamaan dan perbedaan yang hal tersebut tentu sangat berguna, khususnya bagi para akademisi maupun praktisi hukum serta bagi masyarakat pada umumnya.

Apabila ada yang berpendapat bahwa wanprestasi termasuk ke dalam unsur perbuatan melawan hukum, maka hal tersebut tidak sepenuhnya salah.

Sebaliknya, apabila ada yang berpendapat bahwa perbuatan melawan hukum adalah bagian dari unsur suatu wanprestasi, maka hal tersebut dapat pula untuk dibenarkan. Ketentuan mengenai wanprestasi dan perbuatan melawan hukum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diatur pada Buku Ketiga.

Salah satu persoalan yang timbul dari pengaturan mengenai wanprestasi dan perbuatan melawan hukum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah tidak ditemukan definisi yang tegas dan jelas dari pembentuk kitab terhadap istilah tersebut. Persoalan itu tentunya harus segera diatasi dengan menambahkan definisi dari kedua istilah tersebut dalam pembentukan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang baru nantinya.

Dapat dijelaskan bahwawanprestasi (ingkar janji) merupakan perkara yang timbul akibat tidak dipenuhinya sebuah perjanjian, baik secara tertulis ataupun tidak tertulis. Perbuatan melawan hukum merupakan perkara yang timbul akibat dirugikannya satu pihak akibat tindakan pihak lain, tidak ada perjanjian sebelumnya. 60

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peralihan piutang yang terjadi antara Penggugat dan Tergugat diawali ketika Penggugat membeli dengan itikad baik atas dasar kredit dari Turut Tergugat II, yang dijual oleh Turut Tergugat I dengan Program Penjualan Aset Kredit VI (“PPAK IV”), sebagaimana yang tertuang dalam Perjanjian Jual Beli Piutang tanggal 25 Februari 2004 dan Perubahan Atas Perjanjian Jual Beli Piutang No. SP.005/PPAK VI/BPPN/0404, tanggal 7 April 2004 dan Perjanjian Pengalihan Piutang dan Akta CessieNomor 23 tanggal 25 Februari 2004, yang dalam gugatan tersebut disebut dengan istilah

“Perjanjian Jual Beli Piutang dan AktaCessie”.

Dapat dilihat bahwa hubungan hukum yang terjadi diantara para pihak yang bersengketa adalah perjanjian tertulis berupa Perjanjian Jual Beli Piutang dan Akta Cessie yang didasarkan pada perjanjian kredit.

Berdasarkan uraian di atas, definisi sederhana terhadap apa yang dimaksud dengan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, yang dimaksud dengan wanprestasi atau ingkar janji adalah “tidak dipenuhinya sebuah perjanjian (baik perjanjian yang dibuat secara tertulis ataupun tidak tertulis)”. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum adalah “perbuatan yang

60 Hamler, Karakteristik Wanprestasi Dan Perbuatan Melawan Hukum, hal. 1.

menimbulkan suatu kerugian (perbuatan tersebut tidak diawali dengan suatu perjanjian)”.61

Untuk menguatkan pendapat di atas, penjelasan terkait wanprestasi dan perbuatan melawan hukum dapat dijelaskan berikut ini, apabila atas perjanjian yang disepakati terjadi pelanggaran, maka dapat diajukan gugatan wanprestasi, karena ada hubungan kontraktual antara pihak yang menimbulkan kerugian dan pihak yang menderita kerugian. Apabila tidak ada hubungan kontraktual antara pihak yang menimbulkan kerugian dan pihak yang menderita kerugian, maka dapat diajukan gugatan perbuatan melawan hukum.

Menurut teori klasik yang membedakan antara gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum, tujuan gugatan wanprestasi adalah untuk menempatkan penggugat pada posisi seandainya perjanjian tersebut terpenuhi (put the plaintiff to theposition if he would have been in had thecontract been performed).62

Dengan demikian ganti rugi tersebut adalah berupa kehilangan keuntungan yang diharapkan atau disebut dengan istilah expectation loss atau winstderving.

Sedangkan tujuan gugatan perbuatan melawan hukum adalah untuk menempatkan posisi penggugat kepada keadaan semula sebelum terjadinya perbuatan melawan hukum. Sehingga ganti rugi yang diberikan adalah kerugian yang nyata atau reliance loss. 63

61Ibid, hal 3.

62Marvita Langi, Akibat Hukum Terjadinya Wanprestasi Dalam Perjanjian Jual Beli, Lex Privatum, Vol. Iv/No. 3/Mar/2016

63Ibid

Kriteria untuk menentukan masuk atau tidaknya suatu peristiwa hukum untuk dinyatakan sebagai wanprestasi secara garis besar adalah tidak dipenuhinya suatu perjanjian, baik yang dibuat secara tertulis ataupun tidak tertulis. Tidak dipenuhinya suatu perjanjian itu sendiri adalah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang telah diperjanjikan atau terlambat memenuhi kewajiban yang telah diperjanjikan atau telah memenuhi kewajiban, akan tetapi tidak sebagaimana yang telah diperjanjikan. Dengan demikian, fakta adanya kewajiban yang harus dilaksanakan oleh salah satu pihak, berikut fakta adanya kewajiban tertentu yang telah dilanggar oleh pihak tersebut, haruslah mampu dijelaskan dan ditunjukkan oleh pihak lain dari subyek perjanjian tersebut.

Kriteria untuk menentukan masuk atau tidaknya suatu peristiwa hukum untuk dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang menimbulkan kerugian yang mana perbuatan tersebut tidak diawali dengan suatu perjanjian. Unsur kerugian adalah unsur yang utama untuk perbuatan melawan hukum. Dengan demikian, unsur tidak dipenuhinya suatu perjanjian adalah unsur yang utama untuk wanprestasi atau ingkar janji. Sebaliknya, unsur menimbulkan kerugian adalah unsur yang utama untuk perbuatan melawan hukum.

Sedangkan untuk pengertian dari perbuatan melawan hukum yang diatur di dalam pasal 1365 KUHPerdata mengalami perkembangan dalam teori hukum.

Semula pengertian melawan hukum hanya diartikan secara sempit yaitu perbuatan yang melanggar undang-undang saja. Akan tetapi, kemudian Hoge Raad dalam kasus yang terkenal Lindenbaum melawan Cohen memperluas pengertian melawan hukum bukan hanya sebagai perbuatan yang melanggar undang-undang,

tetapi juga setiap perbuatan yang melanggar kepatutan, kehati-hatian, dan kesusilaan dalam hubungan antara sesame warga masyarakat dan terhadap benda orang lain.64Perbuatan melawan hukum lebih diartikan sebagai perbuatan yang

“melukai” daripada pelanggaran terhadap kontrak, sebab gugatannya tidak didasarkan dengan adanya hubungan kontraktual. Tetapi sejak munculnya kasus Lindenbaum melawan Cohen, pandangan mengenai perbuatan melawan hukum hanya berlawanan dengan hak dan kewajiban hukum yang menurut Undang-Undang saja telah berubah dan dapat dikatakan bahwa adanya hubungan kontraktual dapat dilakukan gugatan melawan hukum.Berdasarkan ketentuan pasal tersebut, pada dasarnya, suatu perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang karena kesalahan, kelalaian atau kurang hati-hati, membawa kerugian bagi orang lain, sehingga mewajibkan si pelaku mengganti kerugian.65

Berdasarkan hal itu maka unsur-unsur perbuatan melawan hukum antara lain adalah adanya suatu perbuatan, perbuatan tersebut melawan hukum, adanya kesalahan atau kelalaian atau kurang hati-hati dari si pelaku, adanya kerugian bagi korban, dan adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian. Untuk dapat dikatakan suatu perbuatan melawan hukum, selain perbuatan yang melawan undang-undang, maka perbuatan tersebut harus dapat dibuktikan bertentangan dengan hak orang lain, bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri, bertentangan dengan kesusilaan, bertentangan dengan kehati-hatian atau keharusan dalam pergaulan masyarakat yang baik.

64Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa, 2004. Jakarta, Kencana, Hal. 121.

65Harumi Chandraresmi, Kajian Mengenai Gugatan Melawan Hukumterhadap Sengketa Wanprestasi,Privat Law Vol. V No. 1 Januari-Juni 2017

Terjadinya wanprestasi dalam penelitian ini, diawali ketika Penggugat telahmenandatangani perjanjian jual beli piutang dan akta Cessie, ternyata dokumen barang jaminan tersebut di atas tidak dapat diserahkan oleh Turut Tergugat I kepada Penggugat, karena ternyata masih disimpan dan dikuasai olehTergugat;

Meskipun Tergugat telah disurati oleh Penggugat, dan juga pernah mengadakan pertemuan tanggal 30 April 2004 di Kantor Tergugat, Tergugat tetap bersikeras untuk menyimpan dokumen jaminan tersebut, dan tidak menghormati hak-hak Penggugat yang memperolehnya berdasarkan Perjanjian Jual Beli Piutang dan Akta Cessiedari Pemerintah Republik Indonesia tersebut di atas, Penggugat merasa sangat dirugikan oleh perbuatan dan tindakan Tergugat tersebut;

Sesuai dengan uraian diatas ketika salah satu pihak dalam perikatan tidak dapat melaksanakan kewajibannya maka pihak tersebut dikatakan wanprestasi.

Dalam hal ini tergugat selaku penyimpan jaminan dapat dinyatakan wanprestasi dalam memenuhi kewajibannya kepada penggugat.

Namun demikian, pada akhirnya terlepas dari semua uraian di atas, kewenangan untuk menyatakan suatu perbuatan sebagai wanprestasi atau perbuatan melawan hukum, terletak pada pada putusan pengadilan dalam lingkup sistem peradilan perdata apabila para pihak tidak mampu menyelesaikan sengketa dalam lingkup Hukum Perikatan secara mandiri atau bahkan para pihak tidak mau mengakui kesalahan, kekhilafan, atau kekeliruannya yang nyata.

2. Ketidakpastian Hukum Akibat Lemahnya Etika Bisnis

Etika bisnis bisa berarti nilai-nilai dan norma-norma moral yang berlaku bagi praktek bisnis,66 Etika bisnis menyangkut hati nurani pengusaha untuk membedakan antara apa yang baik dan apa yang buruk, serta menetapkan nilai-nilai yang patutdikejar.67

Tujuan etika bisnis bukan mengubah keyakinan moral seseorang, melainkan untuk meningkatkan keyakinan itu sehingga orang percaya pada dirisendiri dan akan memberlakukannya di bidang bisnis 68

Etika bisnis secara khusus menyangkut tigamacam kegiatan.

a. Penerapan prinsipprinsip etika umum pada kasus atau praktek -praktek khusus dalam bisnis. Pada gilirannya akan diperoleh prinsip-prinsipetika yang khusus berlaku untuk bidang bisnis.

b. Etika bisnis tidak hanya menyangkutpenerapan prinsip-prinsip etika pada bidang kegiatan bisnis. Lebih dari itu, etika bisnis menyangkut apayang disebut metaetika. Disini etika bisnis hendak menyoroti, seperti apakah perilaku dan tindakan yangdinilai secara etis atau tidak pada individu dapat jugadikenakan pada organisasi atau perusahaan.

c. Menyangkut praanggapan-praanggapanmengenai bisnis.

Karena bisnis dijalankan dalamsuatu sistem ekonomi maka etika bisnis disinihendaknya menyoroti moralias, sistem ekonomiumumnya serta sistem ekonomi suatu Negara khususnya.69

66 K.Bertens, Etika Bisnis Menjadi Urusan Siapa,Pusat Pengembangan Etika, UnrversitasAtmajaya, 1993, hlm. 2

67 B.M.Kuntjoro Jakti, Etika Bisnis dan Peraturan Perdagangan Secara Sektoral dan Regional, Jakarta, 1989, hlm.1.

68 O.P. Simorangkir, Etik dan Moral Perbankan, Ind-Hill Co., Jakarta, 1983, hlm.31.

69 F MagnisSuseno, OpCit, hal. 167

Secara umum, prinsip-prinsip etika bisnis meliputi:70 a. Prinsip otonomi.

Otonomi adalah sikapdan kemampuan manusia untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Orang yang otonom adalah orang yang tidak saja sadar akankewajibannya dan bebas mengambil keputusan dan tindakan berdasarkan kewajibannya, melainkan orang yang bersedia mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya serta dampak darikeputusan dan tindakan itu. Atas keputusan dantindakan itu. Alas keputusan dan tindakannya dituntutuntuk bertanggung jawab:

1) bertanggung jawaab kepada dirinya sendiri ataukepada nuraninya;

2) bertanggung jawab kepada orang-orang yangmempercayakan kepadanya;

3) bertanggung jawab kepada pihak-pihak yangterlibat dengannya;

4) bertanggung jawab kepada pihak ketiga, yaitumasyarakat seluruhnya yang secara tidaklangsung terkena akibat dari keputusan dantindakannya.

b. Prinsip kejujuran.

Kejujuran perjanjian menemukan wujudnya dalam berbagai aspek:

1) dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dankontrak;

2) dalam penawaran barang dan jasa dengan mutuyang baik;

3) dalam hubungan kerja dalam perusahaan.

70 A. Sonny Keraf, Op Cit, hal. 70-75

c. Prinsip tidak berbuat jahat dan prinsipberbuat baik. Kedua prinsip ini sesungguhnya berintikan prinsip moral sikap baik kepada orang lain.

d. Prinsip keadilan. Prinsip ini menuntut agar kita memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya.

e. Prinsip hormat kepada diri sendiri.

Dalam sikap-sikap dasar etika bisnis tentunya harus sama, oleh karena setiap etika yang pantas disebut etika mempertanyakan norma-norma kelakuan manusia sebagai manusia dan bukan sebagai anggota kelompok tertentu.71 Etika bisnis, juga merupakan bagian bagian dari budaya dan keberadaan masyarakat yang bersangkutan danmenjawab tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat itu. Oleh karena itu etika bisnismasyarakat Indonesia mesti mencerminkan kekhususan budaya, peradaban, nilai-nilai ciri keagamaan dan pandangan dunia masyarakat Indonesia. Etika bisnis lndonesia harus bersumber pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Dalam kaitannya dengan hubungan antar pelaku bisnis di bidang hukum perjanjian yang juga merupakan bagian dari perikatan, dalam sistem hukum di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dalam Buku Ill.Pasal-pasal yang benar-benar menyangkut kontrak hanyalah Pasal 1313sampaidengan Pasal 1351.

Buku III KUH Perdata merupakan sistem yang terbuka, yaitu orang boleh mengadakan perjanjian baik yang sudah diatur dalam Undang-undang maupun

71 Bambang Eko Turisno, Etika Bisnis Dalam Hubungannya Dengan Transformasi Global Dan Hukum Kontrak Serta Perbuatan Melawan Hukum, MMH, Jilid 40 No. 3 Juli 2011

yang tidak diaturoleh Undang-undang.72Hukum kontrak Indonesia maupun Belanda berdasarkan pada asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam pasal 1338 KUH Perdata ayat (1)yang menyatakan:

“Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undangbagi mereka yang membuatnya.”

Asas kebebasan berkontrak dibatasi oleh Droit Economique (hukum ekonomi dalam arti sempit) yang merupakan peraturan-peraturan hukum administrasi negara yang membatasi kebebasan berkontrak demi pemerataan, keadilan dan kesejahteraan bangsa.73

Pemerintah melalui beraneka peraturan hukum administrasi negara mensyaratkan berbagai perijinan atau menentukan batas harga atau syarat-syarat lain,demi tetap terpeliharanya keseimbangan ekonomi serta pemerataan sosial di dalam masyarakat. Pembatasan asas kebebasan brkontrak dalam KUH Perdata terdapat dalam ayat selanjutnya dari Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata:

“ Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undangundang.

Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik. ”

Pembatasan selanjutnya terdapat dalam pasal 1339 KUH Perdata:

"Persetujuan-persetujuan tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan, diharuskan oleh kepatuhan, kebiasaan atau oleh undang-undang."

72Purwahid Patrik, Asas Itikad Baik dan Kepatutan dalam Perjanjian,Semarang, Fakultas Hukum Undip, 1982, hal. 3.

73 Sunaryati Hartono, Pengaturan tentang perl)uatan curang di bidang bisnis (sebagai suatu pranata hukum untuk menumbuhkan iklim dan sistem ekonomi yang sehat dan adil berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945), Jakarta, 1991, hal. 2.

Pembatasan-pembatasan tersebut, yaitupembatasan sebagaimana diharuskan oleh undan-gundang,kepatutan serta adanya itikad baik pada hakekatnya merupakan salah satu sendi dari nilai-nilaietis yang seharusnya menjadi pedoman para pengusaha.Nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku bagi praktek bisnis merupakan etika bisnis." Etika bisnis inginmenjamin bahwa dalam bisnis bukan hanya orang-orang bisnis tetapi juga manusia berlaku sesuai dengan martabat mereka sebagai manusia."

Tentang Perbuatan melawan hukumdikemukakan dalam Pasal 1365 KUH Perdata:

"Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain,mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikerugian tersebut".

Pasal 1365 KUH Perdata hanya mengatur apabilaseseorang mengalami kerugian karena perbuatanmelawan hukum yang dilakukan oleh orang lainterhadap dirinya, akan dapat mengajukan tuntutan ganti kerugian. Pasal 1365 KUH Perdata mengatursyarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapatmenuntut ganti kerugian karena melawan hukum.

Pengertian perbuatan melawan hukum telahdiperluas oleh Yurisprudensi Belanda sejak tahun 1919 yang diikuti Yurisprudensi di Indonesia sebagaisuatu perbuatan atau kelalaian atau melanggar hak orang lain, atau bertentangan dengan kewajibanhukum si pelaku, atau bertentanqan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan sikap hati-hatiyang perlu diperhatikan di dalam pergaulan masyarakat terhadap kepentingan lahiriah maupunmilikorang lain.74

74 Sunaryati Hartono, Pengaturan tentang perl)uatan curang di bidang bisnis (sebagai suatu pranata hukum untuk menumbuhkan iklim dan sistem ekonomi yang sehat dan adil berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945), Jakar1a, 1991, hal. 12.

Suatu perbuatan melawan hukum tidak hanyamerupakan perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang tetapi,juga merupakan perbuatanyang bertentangan dengan hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku,atau bertentangan dengan kesusilaan dan sikap hati-hati yang dituntut dalam pergaulan masyarakat.75

Jadi, sekalipun seseorang (atau suatu badanhukum) tidak melanggar undang-undang, atau melanggar hak orang lain, atau tidak bersikap bertentangan dengan kebiasaan, akan tetapi apabila ia tidak cukup menunjukkan sikap hati-hali dan tenggang rasa terhadap kepentingan orang lain didalam masyarakat, maka ia telah dapat dianggap bertentangan dengan kesusilaan dan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum. 76

Dalam penelitian ini ditemukan hal yang telah merugikan Penggugat yang didasarkan pada lemahnya penerapan etika bisnis dari Tergugat, dimana Tergugat masih melakukan perhitungan utang dan penagihan kepada Turut Tergugat II, meskipun kedudukan semua kreditur yang berasal dari perjanjian kredit baik antara peserta kredit sidikasi, maupun perjanjian kredit dan jaminan antara bank-bank asal termasuk Tergugat dengan Turut Tergugat II telah beralih demi hukum kepada Turut Tergugat I berkaitan dengan program penyehatan perbankan nasional dan kemudian beralih kepada Penggugat. Lebih jauh lagi, Tergugat masih melakukan penagihan seperti mendaftarkan tagihan dalam kepailitan Turut Tergugat II untuk jumlah Rp 6.984.963.579,- (enam milyar sembilan rateulaspdan

75 Ibid, hal. 10

76 Ibid, hal. 12

puluh empat juta sembilan ratus enam puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh sembilan rupiah);

Perbuatan Tergugat tersebut sangat menimbulkan ketidakpastianhukum bagi Penggugat, karena sebelum aset kredit yang menjadi objek perkara ini dapat dijual oleh Turut Tergugat I selaku otoritas yang paling berwenang untuk menjualnya yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada Penggugat, antara Turut Tergugat II dengan Turut Tergugat I telah membuat perjanjian perdamaian sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Perdamaian tanggal 13 Februari2004;

Sesuai keterangan Turut Tergugat I dalam perjanjian perdamaian tersebut, maka jelaslah Tergugat telah menyerahkan semua tagihan/piutang berikut semua jaminan-jaminannya yang berasal dari perjanjian kredit sindikasi dalam perkara ini kepada Turut Tergugat I sehubungan dengan program penyehatan perbankan nasional yang diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia;

Perbuatan Tergugat yang masih melakukan penagihan terhadap Turut Tergugat II merupakan hal yang berlawanan dengan hukum, karena Tergugat sesungguhnya telah menyerahkan dan melepaskan semua hak tagih/piutang berikut hak-haknya selaku agen fasilitas, agen jaminan berikut hak-hak preferen/hak hipotik/hak tanggungan, hak-hak yang diistimewakan yang melekat, hak gadai, jaminan pribadi, jaminan perusahaan, yang berkaitan dengan kredit sindikasi kepada Turut Tergugat II berkaitan dengan program penyehatan perbankannasional;

Dikaitkan dengan penerapan etika dalam berbisnis, dimana tergugat cenderung tidak menghormati kesepakan yang telah dibuat bersama dengan penggugat, maka hal tersebut bisa di kategorikan bahwa penggugat belum sepenuhnya menjunjung tinggi dan melaksanakan itikad baik seperti yang digariskan dalam etika bisnis.

B. Bentuk Perlindungan Hukum Dalam Pengalihan Piutang

Dokumen terkait