• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

5) Laut China Selatan

1.6 Kerangka Teori

Dalam melakukan suatu penulisan karya ilmiah diperlukan adanya analisis menggunakan teori. Teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, kontruksi, defenisi untuk menerangkan suatu fenomenal social secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antara konsep.4 Dalam hal ini penulis akan menguraikan teori dan konsep yang berkaitan dengan penelitian.

1.6.1 Terorisme

Secara etimologi, perkataan “teror” berasal dari bahasa latin “terrere” yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dalam perkataan “to fright”, yang dalam bahasa Indonesia berarti “menakutkan” atau “mengerikan”.5 Rumusan terorisme secara terminologis, sampai saat ini masih menjadi perdebatan meskipun sudah ada ahli yang merumuskan dan dirumuskan di dalam perundang-undangan. Kamus Webster’s New School and Office Dictionary oleh Noah Webster, A

Fawcett Crest Book, menyebutkan bahwa teror sebagai kata benda berarti : Extreme afaer, ketakutan yang amat sangat One who excites extreme afaer, atau

seseorang yang gelisah dalam ketakutan yang amat sangat. The ability to cause

such afaer, kemampuan menimbulkan ketakutan.6

4 Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi. 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Hal.37

5 Mardenis, Pemberantasan Terorisme. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2011, hal.85

6 ibid

Sedangkan terorisme sebagai kata kerja adalah the use of violence,

intimidation, to gain and end; especially, a system of government rulling by teror;

penggunaan kekerasan, ancaman, dan sejenisnya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan akhir/tujuan, teristimewa sebagai suatu system pemerintahan yang ditegakkan dengan teror. Ada beberapa sarjana maupun lembaga yang membentuk satu defenisi terorisme yakni :

•Menurut Walter Laquer

“ terrorism has been defined as the substate application of violence

or threatened violence intended to show panic in society, to awaken or even overthrow the incumbents, and to bring about political change. It shades on occasion into guerilla warfare (although unlike guerilla, terrorist are unable or enwilling to take or hold territory) and even a substitute for war between states.7

• Menurut The Central Intelligence Agency (CIA) :

“the threat or use of violence for political purpose by individual or group, wheter acting for, or in opinion to established governmental authority, when such actions are intenmded to shock or intimidate at target group wider than the immediate victims.

•Menurut Konvensi PBB 1937 : Segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada Negara dengan maksud menciptakan bentuk teror tehadap orang-orang tertentu atau kelompok atau masyarakat luar.

7 Lukman Hakim, Terorisme di Asia Tenggara, Surakarta: FSIS, 2004 hal. 9

•Menurut W J S Purwadarminta : Praktik-Praktik tindakan teror, penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha untuk mencapai sesuatu (khususnya tujuan politik).

Menurut Wilkinson Tipologi Terorisme yang dikutip dari Juliet Lodge ada beberapa macam yaitu :

1. Terorisme epifenomenal (teror dari bawah) dengan ciri-ciri tak terencana rapi, terjadi dalam konteks perjuangan yang sengit;

2. Terorisme revolusioner (teror dari bawah) yang bertujuan revolusi atau perubahan radikal atas sistem yang ada dengan ciri-ciri selalu merupakan fenomena kelompok, sturuktur kepemimpinan, program ideologi, konspirasi, elemen para militer;

3. Terorisme subrevolusioner (teror dari bawah) yang bermotifkan politis, menekan pemerintah untuk mengubah kebijakan atau hukum, perang politis dengan kelompok rival, menyingkirkan pejabat tertentu yang mempunyai ciri-ciri dilakukan oleh kelompok kecil, bisa juga individu, sulit diprediksi, kadang sulit dibedakan apakah psikopatologis atau criminal;

4. Terorisme represif (teror dari atas atau terorisme negara) yang bermotifkan menindas individu atau kelompok (oposisi) yang tidak dikehendaki oleh penindas (rezim otoriter atau totaliter) dengan cara likuidasi dengan ciri-ciri berkembang menjadi teror masa, ada aparat teror, polisi rahasia, teknik penganiayaan, penyebaran rasa kecurigaan dikalangan rakyat, wahana untuk paranoid pemimpin.8

8Muladi, 2002, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Reformasi Hukum di Indonesia, Habibie Center, Jakarta hlm. 15.

1.6.2 Regionalisme

Synder berpendapat bahwa region atau kawasan diartikan sebagai sekumpulan Negara yang memiliki kedekatan geografis karena berada dalam satu wilayah tertentu. Meskipun demikian, kedeatan geografis saja tidak cukup untuk menyatukan negara dalam satu kawasan. Hettne dan Soderbaun mengemukakan bahwa kedekatan geografis tersebut perlu didukung adanya kesamaan budaya, ketertarikan sosial budaya dan sejarah yang sama. Dengan demikian, syarat terbentuknya satu kawasan dapat terpenuhi secara geografis dan struktural. Dengan logika ini, maka seharusnya semua kawasan di dunia dapat menjadi sekumpulan Negara yang mendeklarasikan diri mereka sebagai satu kawasan yang sama. Namun pada kenyataannya, tidak semua kawasan memiliki intensitas interaksi dan kemajuan yang sama antara satu kawasan dengan yang lainnya.9

Kesamaan budaya, ekonomi, politik, ideologi, dan geografis dalam suatu wilayah diasumsikan dapat memunculkan organisasi yang lebih efektif. Organisasi regional telah siap untuk bekerjasama, dan pengalaman organisasi regional yang sukses akan mempengaruhi dan mendorong kea rah integrasi yang lebih jauh.

Regionalisme dapat menghasilkan “model masyarakat” atau “model Negara”. Bentuk regionalism dapat dibedakan berdasarkan kriteria geografis, militer/politik, ekonomi, atau transaksional, bahasa, agama, kebudayaan, dan lain-lain. Tujuan utama dari organisasi regional adalah untuk menciptakan perjanjian

9 Wiwien Apriliani, Kevinder, Muhammad Fitriady, Teori Regionalisme, dapat diakses di

http://skiasyik.wordpress.com/2008/04/. Diakses tanggal 26 Februari 2016

perdamaian dan kerjasama yang saling menguntungkan di berbagai aspek and penguatan area saling ketergantungan pada Negara-negara superpower.

Organisasi regional pasca perang dunia II terdiri dari tiga tipe yaitu :10

1. Organisasi regaional gabungan. Dibentuk dari banyak tujuan dan melakukan banyak aktivitas. Contoh : OAS, OAU, Liga Arab,dll. 2. Organisasi pertahanan regional. Sebagai organisasi militer antar Negara dalam satu wilayah tertentu. Contoh : SEATO, NATO, Pakta Warsawa,dll.

3. Organisasi fungsional. Bekerja dengan pendekatan fungsional terhadap integrasi regional. Contoh : OPEC, ASEAN, NAFTA, dll. Kawasan yang dapat memulai interaksi antar Negara di dalamnya, akan terus berkembang karena efek kerjasama “spilovers” hingga akhirnya tercipta integrasi kawasan. Hal ini berbeda dengan kawasan lain yang tidak memiliki kerjasama kawasan. Maka kawasan tersebut akan tertinggal dibanding kawasan tersebut akan tertinggal disbanding kawasan lain.

Sementara itu, berdasar “New Regional Theory”, perkembangan regionalisme tergantung pada tiga hal. Yakni, dukungan dari kekuatan besar di dalam kawasan (regional great power), tingkat integrarasi antar Negara dalam kawasan, dan saling kepercayaan antar Negara dalam kawasan. Melalui teori ini, dapat dipahami bahwa mengapa satu kawasan lebih tertinggal dibanding yang lainnya adalah karena adalah karena permasalahan kekuatan dan keinginan Negara yang bersangkutan untuk membentuk satu kawasan. Bisa jadi suatu

10 ibid.

kawasan tidak tercipta integrasi karena memang integrasi tersebut tidak diinginkan dan diupayakan oleh para great powers.

Selain teori di atas, Hennet membagi tingkatan regionalisme ke dalam lima tahapan yang meningkat secara gradual. Lima tahapan ini menunjukkan kematangan suatu kawasan seiring dengan meningkatnya intensitas hubungan internasional antar Negara di kawasan. Tahapan ini dapat menjawab pertanyaan mengapa satu kawasan dapat lebih maju dibandingkan dengan kawasan yang lain dan persyaratan apa yang harus diupayakan agar tercipta integrasi kawasan yang lebih matang. Tahapan tersebut adalah :11

1. Simple Geographic unit of States

Kriteria :

• Tidak adda kerjasama dan interaksi rutin antar Negara di dalam kawasan

• Kerjasama terjadi hanya ketika ada ancaman, dan kerjasama tersebut juga berakhir ketika ancaman sudah berakhir.

• Sangat bergantung pada sumber daya pribadi, yakni pada masing-masing Negara.

2. Set of Social Interactions

Kriteria :

• Dalam kawasan sudah tercipta interaksi antar Negara namun hanya diatur norma atau institusi informal

3. Collective Defense Organization

11 ibid.

Kriteria :

• Negara mulai bersekutu dengan Negara lain yang memiliki pemikiran yang sama di dalam suatu kawasan untuk melawan ancaman bersama atau musuh bersama.

• Ada perjanjian formal yang mengikat dan mengatur Negara-negara dalam suatu kawasan.

• Ada kombinasi kekuatan, meski bukan berupa penggabungan apalagi peleburan

4. Security Community

Kriteria :

• Interaksi antar masyarakat sipil antar Negara sudah mulai dikembangan

• Tercipta hubungan yang damai antar Negara dalam kawasan

• Adanya kesepakatan untuk memilih menggunakan cara-cara damai untuk menyelesaikan masalah

5. Region State

Kriteria :

• Kawasan sudah memiliki identitas bersama yang berbeda dari kawasan lain

• Kawasan memiliki kapabilitas bersama sebagai suatu kawasan

• Kawasan memiliki legitimasi sebagai satu kesatuan regional

1.6.3 Komunitas Keamanan

Karl W. Deutch mendefenisikan komunitas keamanan sebagai kelompok negara yang telah terintegrasi sedemikian rupa sehingga bisa dikatakan bahwa hubungan damai antar negara di dalamnya telah terjalin dengan mapan dan dalam waktu yang cukup lama.12 Komunitas keamanan memiliki sifat bahwa interaksi damai yang terjalin diantara negara yang bergabung dalam sebuah komunitas keamanan lebih cenderung untuk mengendalikan konflik yang ada ataupun timbul dalam komuntas tanpa menghilangkan perbedaan yang ada diantara negara-negara anggota komunitas.

Bentuk komunitas yang dapat sesuai dengan defenisi Deutch tersebut sama dengan konsep pembentukan ASEAN Political-Security Community (komuntas politik keamanan ASEAN). Dalam pembentuakan ASEAN Political-Security Community juga menginginkan terciptanya keinginan untk membentuk adanya rasa kebersamaan (we feeling) sehingga dengan munculnya rasa tersebut akan membentuk ASEAN yang bukan lagi sebagai organisasi internasional melainkan sebagai komunitas regional yang telah mengalami integrasi. Hal inilah yang senantiasa ingin dibangun oleh setiap anggota ASEAN untuk mencapai integrasi tersebut maka dibentuklah ASEAN Vision yang semula direncanakan pada tahun 2020 kemudian dipercepat menjadi tahun 2015.

Mengikuti defenisi yang diperkenalkan oleh Karl Deutsch pada pertengahan tahun 1950-an, suatu komunitas keamanan diartikan sebagai kelompok rakyat yang terintegrasi pada satu titik dimana terdapat jaminan nyata bahwa para anggota komunitas tersebut tidak akan berperang satu sama lain secara fisik,

12

M. Rajendran, ASEAN Foreign Relations The Shift to Collective Action, Kuala Lumpur : Arena Buku sdn.hbd, 1985, hal 5.

melainkan akan menyelesaikan perselisihan di antara mereka dengan cara lain yang lebih bermartabat. Deutsch mengobservasi ada dua bentuk komunitas keamanan, yaitu Amalgamated Security Community dan Pluralistic Security

Community.

Amalgamated Security Community ada ketika terjadi penggabungan dua

atau lebih unit-unit yang tadinya independen ke dalam satu unit yang lebih besar, sengan satu tipe pemerintahan bersama setelah terjadinya amalgamasi, misalanya Amerika Serikat. Pluralistic Security Community sebagai alternative yang tetap mempertahankan interdepedensi hukum dari pemerintahan-pemerintahan yang terpisah. Negara-negara dalam PSC ini memliki kesesuaian nilai-nilai inti yang didorong dari institusi-institusi bersama, dan tanggung jawab bersama untuk membangun identitas bersama dan loyalitas serta rasa “kekitaan” dan terintegrasi pada satu titik dimana komunitas tersebut memiliki dependable expectations of

peaceful change.13

Konsep APSC (ASEAN Political-Security Community) sebagai salah satu tonggak Komunitas ASEAN berupaya memuat prinsip-prinsip yang tidak saja dimaksudkan untuk membangun budaya hubungan damai tetapi juga untuk menciptakan situasi yang damai di dalam negeri masing-masing para anggota negara-negara ASEAN. Sehingga dengan terbentuknya rasa kekitaan (we feeling) yang akan mendorong terbentuknya integrasi regional akan menjadikan komunitas keamanan sebagai bentuk kerja sama yang saling membantu dalam menghadapi isu-isu keamanan baik yang berasal dari dalam negeri sesama anggota ASEAN maupun isu yang dating dari luar, seperti misalnya isu terorisme yang dihadapi

13

CPF Luhulima, et al, Masyarakat Asia Tenggara Menuju Komunitas ASEAN 2015, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2008, hal 73.

kawasan Asia Tenggara menjadikan adanya kerja sama di antara negara-negara anggota ASEAN untuk memberantas terorisme melalui ASEAN Convention on

Counter Terrorism.

1.7 Metode Penelitian

Dokumen terkait