• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

2.3 Komunitas Politik-Keamanan ASEAN

Komunitas Politik Keamanan ASEAN dibentuk dengan tujuan mempercepat kerja sama politik kemanan di ASEAN untuk mewujudkan perdamaian di kawasan, termasuk dengan kawasan internasional. Sesuai rencana Aksi Komunitas Politik Keamanan ASEAN, Komunitas bersifat terbuka, menggunakan pendekatan keamanan komprehensif dan tidak ditujukan untuk membentuk suatu pakta pertahanan/aliansi militer maupun kebijakan luar negeri bersama (common

foreign policy). Penggunaan istilah Komunitas Keamanan ASEAN (ASEAN

Vientianne (Vientianne Action Plan/VAP) kemudian diubah menjadi Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (ASEAN Political-Security Community/APSC) sebagaimana dipakai dalam Piagam ASEAN. Pemakaian istilah baru ini didasari pengertian bahwa kerja sama ASEAN di bidang ini tidak terbatas pada aspek-aspek politk semata, tetapi juga pada aspek-aspek-aspek-aspek keamanan.

Konsep Cetak Biru APSC disusun berdasarkan kesepakatan KTT ASEAN ke-13 tahun 2007 di Singapura untuk menggantikan VAP 2004-2010. Konsep tersebut telah disahkan pada KTT ASEAN ke-14 di Thailand, tahun 2009, dan dituangkan pada KTT ASEAN ke-14 di Thailand, tahun 2009, dan dituangkan dalam Deklarasi Cha-am, Hua Hin, tentang Peta Jalan Komunitas ASEAN

(Cha-am, Hua hin Declaration on the Roadmap for the ASEAN Community). Cetak Biru

APSC tersebut terdiri atas 3 karakteristik, 11 elemen, dan 137 tindakan. Tiga karakteristik tersebut adalah:

a. Komunitas Berbasis Aturan dengan Nilai dan Norma Bersama (A

Rules-Based Community of Shared Values and Norms) terdiri dari 2

elemen dan dijabarkan dalam 58 tindakan;

b. Sebuah Wilayah Terpadu, damai dan Tangguh dengan Tanggung Jawab Bersama untuk Keamanan Menyeluruh (A Cohesive, Peaceful, Stable,

and Resilient Region with Shared Responsibility for Comprehensive Security) terbagi dalam 6 elemen dan 71 tindakan; dan

c. Kawasan yang Dinamis dan Berpandangan Keluar dalam Dunia yang Semakin Terintegrasi dan Saling Bergantung (A Dynamic and

Interdependent World) yang dijabarkan dalam 3 elemen dan 8

tindakan.

Semuanya itu diimplementasikan oleh 6 Badan Sektorsl di ASEAN yakni: a. Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers

Meeting/AMM) dengan instansi yang bertanggung jawab (focal point)

Kementrian Luar Negeri;

b. Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ASEAN Defense Ministers

Meeting/ADMM) dengan focal point Kementrian Pertahanan;

c. Pertemuan Menteri Hukum ASEAN (ASEAN Law Ministers

Meeting/ALAWMM) dengan focal point Kementrian Hukum dan

HAM;

d. Pertemuan Tingkat Menteri urusan Kejahatan Lintas Negara (ASEAN

Ministerial Meeting on Transnational Crime/ AMMTC) dengan focal

point Kepolisian RI;

e. Forum Regional ASEAN (ASEAN Regional Forum/ARF) dengan focal point Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI; dan

f. Komisi Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (Southeast Asian

Nuclear Weapon-Free Zone Commision/SEANWFZ) dengan focal

point Kementerian Luar Negeri.

Dalam penyusunan APSC, Indonesia, Indonesia memainkan perananan penting. Usul-usul Indonesia yang diterima dalam APSC, antara lain:

a. mendorong pengamatan pemilihan umum sukarela (voluntary electoral

observations);

b. membentuk Komisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Perempuan dan Anak;

c. memasukkan elemen memerangi korupsi dan pemajuan prinsip demokrasi;

d. menggagas pembentukan ASEAN Institute for Peace and Reconciliation;

e. menggagas pembentukan ASEAN Maritime Forum; f. membentuk kerja sama penanganan Illegal fishing; dan g. menyusun instrument ASEAN tentang Hak Pekerja Migran.

Kerja sama dalam kerangka APSC, sebagaimana termuat dalam cetak birunya, dielaborasi lebih spesifik dalam kerja sama bidang politik, keamanan, dan hukum yang mencakup spectrum yang luas dari permasalahan tradisional dan nontradisional, dari upaya untuk memajukan tata kepemerintahan yang baik (good

governance), menangani masalah terorisme, menanggulangi bencana alam, dan

memberantas korupsi.

a. Kerja sama Bidang Politik mencakup: 1) memajukan pemerintahan yang baik; 2) memajukan prinsip-prinsip demokrasi;

3) memajukan kedamaian dan stabilitas kawasan

4) menjamin implementasi SEANWFZ dan Rencana Aksinya; 5) memajukan kerja sama maritim ASEAN;

6) mewujudkan resolusi konflik dan penyelesaian sengketa secara damai;

7) memperkuat sentralitas ASEAN; dan

8) memajukan hubungan dengan pihak eksternal.

b. Kerja sama bidang keamanan mencakup :

1) pencegahan konflik/upaya-upaya membangun kepercayaan (Confidence Building Measure/CBM)

2) penguatan proses ARF;

3) penanganan isu keamanan non-tradisional (bajak laut, perompakan terhadap kapal, pembajakan, penyelundupan, dll). 4) Penguatan kerja sama ASEAN dalam penanganan bencana dan

tanggap darurat; dan

5) Pemajuan transparansi dan pemahaman mengenai kebijakan pertahanan dan persepsi keamanan.

c. Kerja sama Bidang Hukum mencakup:

1) pencegahan dan pemberantasan korupsi; 2) pemajuan dan Perlindungan HAM;

3) pengembangan pengaturan hukum untuk memerangi narkotika; 4) pembentukan kerja sama penaganan kejahatan lintas batas; 5) peratifikasian atas Konvensi ASEAN tentang

Kontra-Terorisme (ASEAN Convention on Counter Terrorism); 6) pembentukan kerja sama dalam isu ekstradisi; dan

7) peratifikasian Traktat tentang Bantuan Hukum terkait Masalah-Masalah Kriminalitas (Treaty on Mutual Legal Assistance in

Criminal Matters/MLAT)

Terkait dengan Cetak Biru APSC, beberapa isu yang saat ini dalam pembahasan adalah: (1) penandatanganan konsep Protokol Ketiga tentang Amandemen Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (Third Protocol to amend the

Treaty of Amity and Cooperation/TAC) dan rencana aksesi Uni Eropa, Kanada,

dan Turki terhadap TAC; (2) penyelesaian masalah-masalah hukum yang tertunda (pending legal issues) dalam Piagam ASEAN; (3) persiapan Konsep Kesepahaman tentang kegiatan SEANWFZ (Memorandum on Activities Under

the SEANWFZ) untuk Konferensi Kaji Ulang PBB tentang Traktat Non-Proliferasi

Nuklir (UN Review Conference on Nuclear Non-Profeliration Treaty); (4) pembahasan Laut Cina Selatan dan Deklarasi mengenai Aturan Para Pihak Laut Cina Selatan (Declaration on the Conduct of Parties to the South China

Sea/DOC); dan (5) Program Kerja ASEAN tentang Kejahatan Lintas Negara

(ASEAN Work Programme on Transnational Crime); dan menjadikan MLAT sebagai Perjanjian ASEAN.

2.3.1 Badan-badan sektoral Pilar Komunitas Politik-Keamanan

Mekanisme koordinasi badan-badan sektoral ASEAN yang menangani Komunitas Politik-Keamanan ASEAN dilakukan melalui ASEAN Security

Community Coordinating Conference (ASCCO). Tugas utamanya ASCCO adalah

Politik-Keamanan ASEAN 2015. ASCCO juga melakukan review dua tahunan terhadap implementasi dari Cetak Biru APSC, melalui Biennial Review yang dilaksanakan oleh Sekretariat ASEAN. Badan-badan sektoral dalam Pilar Politik-Keamanan adalah sebagai berikut.

Dokumen terkait