15
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi,12 dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya.
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi perbandingan/pegangan teoritis.13 Teori yang digunakan sebagai analisis yuridis akibat hukum dari daftar akta yang tidak disahkan oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah” ini adalah;
a. Teori Kepastian Hukum
Dalam dunia ilmu, teori menempati kedudukan yang penting karena memberikan sarana kepada kita untuk bisa merangkum serta memahami masalah yang kita bicarakan secara lebih baik.14 Teori adalah suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang dijadikan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.15
Menurut Mukti Fajar, teori adalah suatu penjelasan yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai fenomena menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum.16
12JJJ Mwuisman, dengan Menyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-ilmun sosial,(Jilid I), Jakarta,FE UI,1996,hal.203
13M.Solly Lubis, Filsafat dan Ilmu penelitian, Mandar Maju Bnadung,1994,hal.80.
14 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 259
15 M. Solly Lubis, Op.cit.
16 Mukti Fajar et.al, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: PT.
Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 134
16
Kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, mengenai suatu kasus ataupun permasalahan yang bagi si pembaca menjadi bahan perbandingan.17 Kerangka teori tesebut bertujuan untuk menyajikan cara-cara bagaimana mengorganisasi dan menginterpretasi (menafsirkan) hasil-hasil penelitian dan menghubungkan dengan hasil terdahulu.18
Kerangka teori mempunyai kegunaan paling sedikit mencakup hal-hal sebagai berikut:19
a) Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.
b) Teori sangat berguna di dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkebangkan definisi-definisi.
c) Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang diteliti.
d) Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mengkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.
e) Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan padaa pengetahuan peneliti.
Sehubungan dengan uraian singkat diatas, adapun yang menjadi kerangka teori pada penelitian ini adalah teori kepastian hukum dan teori perlindungan hukum.
a. Teori Kepastian hukum
Kepastian adalah perihal (keadaan) yang pasti, ketentuan atau ketetapan.20 Sedangkan hukum adalah kumpulan peraturan-peraturan atau
17 M. Solly Lubis, Op.Cit, hlm. 80
18 Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Bhineka Cipta, 1996), hlm. 19
19 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 121
17
kaidah-kaidah dalam suatu kehidupan bersama, keseluruhan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan pelaksanaanya dengan suatu sanksi.21 Jadi, kepastian hukum adalah peraturan-peraturan yang telah diatur secara pasti dan jelas.
Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman perilaku bagi semua orang. Sebagaimana dikenal dengan istilah ubi jus incertum, ibi jus nullum (dimana tiada kepastian hukum, disitu tidak ada hukum).22
Lon Fuller mengemukakan bahwa terdapat 8 (delapan) asas sebagai landasan dan syarat-syarat legitimasi bagi implementasi asas legalitas (kepastian hukum), yakni:23
a) Hukum dipresentasikan dalam aturan-aturan umum b) Hukum harus dipublikasi
c) Hukum harus non retroaktif (tidak berlaku surut) d) Hukum harus dirumuskan secara jelas
e) Hukum harus tidak mengandung pertentangan antara hukum yang satu dengan yang lain
f) Hukum harus tidak menuntut atau mewajibkan sesuatu yang mustahil g) Hukum harus relatif konstan
h) Pemerintah sejauh mungkin berpegangan teguh pada aturan-aturan hukum (yang diciptakan sendiri atau yang diakuinya)
Pendapat Lon Fuller diatas dapat dikatakan bahwa harus ada kepastian antara peraturan dan pelaksanaannya, dengan demikian sudah
20 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta:
Gunung Agung, 2002), hlm. 85
21 Sudikno Mertokusumo dan H. Salim Hs, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 24
22Ibid, hal 82
23 Arief Sidharta, Op.Cit, hlm 8
18
memasuki ranah aksi, perilaku, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif dijalankan.
Menurut Gustaf Radbruch, keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan adalah tiga terminologi yang sering dilantunkan di ruang-ruang kuliah dan kamar-kamar peradilan, namun belum tentu dipahami hakikatnya atau disepakati maknanya. Gustaf Radbruch pernah mengatakan bahwa hukum yang baik adalah ketika hukum tersebut memuat nilai keadilan, kepastian hukum dan kegunaan. Artinya, meski ketiganya merupakan nilai dasar hukum, namun masing-masing nilai mempunyai tuntutan yang berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga ketiganya mempunyai potensi untuk saling bertentangan dan menyebabkan adanya ketegangan antara ketiga nilai tersebut.24
Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu.25
Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas
24 Jaka Mulyata, Keadilan, Kepastian, dan Akibat hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor: 100/PUU-X/2012 Tentang Judicial Review Pasal 96 Undang-Undang Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Tesis, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2015
25 Ridwan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 23.
19
dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis dalam artian dia menjadi sistem norma dengan norma lain, sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang ditimbulkan karena ketidakpastian aturan dapat berbentuk kontestasi norma, reduksi norma atau distrosi norma.26 Untuk menjawab permasalahan pertama dalam penelitian ini, yaitu terkait dengan pemenuhan asas kepastian hukum dalam pengaturan tentang tugas Majelis Pengawas Daerah, digunakan teori kepastian Hukum oleh Pendapat Lon Fuller diatas dapat dikatakan bahwa harus ada kepastian antara peraturan dan pelaksanaannya, dengan demikian sudah memasuki ranah aksi, perilaku, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif dijalankan. Pembahasan pertama membahas tentang bagaimana tugas Majelis Pengawas Daerah dalam melakuikan pengawasan terhadap Notaris, apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan oleh Undang- undang, karena tugas yang diberikan oleh Menteri kepada Majelis pengawas Daerah merupakan tugas yang memberikan kepastian Hukum kepada Masyarakat dengan cara mengawasi semua kegiatan yang dilakukan Notaris, yang dalam hal ini Notaris memberikan pelayan hukum terhadap Masyarakat dengan cara dapat membuat Akta otentik kepada Mayarakat.
26Ibid, hlm. 89
20 b. Teori kepastian hukum
Jan M. Otto mengemukakan bahwa kepastian hukum dalam situasi tertentu mensyaratkan sebagai berikut:27
a) Tersedia aturan-aturan hukum yang jelas atau jernih, konsisten dan mudah diperoleh (accesible), yang diterbitkan oleh kekuasaan negara;
b) Bahwa instansi-instansi penguasa (pemerintahan) menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya;
c) Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan isi dan karena itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap aturan-aturan tersebut;
d) Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum; dan
e) Bahwa keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.
Selanjutnya untuk menjawab permaslahan kedua dalam penelitian ini, yaitu terkait bagaimana pengaturan tentang Buku daftar akta menurut ketentuan Undang- undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris an teori Jan M.Otto, karena dalam teori ini dijelaskan bahwa tersedia aturan hukum yang jelas atau jernih,konsisten dan mudah diperoleh (accesible). Yang diterbitkan oleh kekuasaan Negara, dan Bahwa instansi- instansi penguasa ( pemerintahan) menerapkan aturan- aturan hukum tersebut,secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya. Teori menjelaskan adanya peraturan yang diterbitkan oleh kekuasaan Negara yang mengatur tentang suatu kewajiban yang wajib dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Dalam hal ini buku dafar akta merupakan salah satu kewajiban yang dimiliki dan dibuat oleh Notaris yang sudah di atur dalam Undang. Kewajiban yang telah diatur dalam
27Arief Sidharta, Ethika Hukum, (Bandung: Laboraturium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, 2008), hlm 85
21
undang ini wajib dibuat dan dilaksanakan oleh Notaris untuk tercapainya kepastian Hukum yang diberikan Notaris terhadap masyarakat melalui penandatangan dan paraf yang dilakukan oleh Majelis pengawas daerah, demi terlaksananya dan memberikan kepastian hukum terhadap kebenaran laporan buku daftar akta yang diberikan Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah.
c. Teori tanggungjawab
Teori tanggungjawab hukum menurut Hans kelsen “ suatu konsep yang terkait dengan konsep kewajiban hukum adalah konsep tanggungjawab hukum, seorang yang bertanggungjawab secara hukum atas perbuatan tertentu bahwa ia dapat dikenakan suatu snksi dalam kasus perbuatannya bertentangan/ berlawanan hukum. Bahwa seorang bertanggungjawab hukum dan secara subyektif berrti bahwa dia bertanggungjawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan.28
Menurut Abdul Abdul Muhammad teori tanggungjawab dalam perbuatan melanggar hukum, dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:29
a. Tanggungjawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan senagaja, tergugat harus sudah melakukan perbuatan sedemikian rupa hingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.
28 Hans kelsen,Teori umum hukum dan Negara,Dasar- dasar ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Deskriptif, Empiris,terjemahan Somardi (Jakarta:BEE media Indonesia.200t,hlm.81.
29 Abdulkadir Muhamad,hukum Perusahaan Indonesia,Citra Aditya Bakti,2010,hl,.503.
22
b. Tanggungjawab akibat perbuatan melanggar hukum dilakukan karena kelalaian, didasarkan pada konsep kesalahan, yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur.
c. Tanggungjawab Mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa mempersoalkan kesalahan, didasarkan pada perbuatannya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannyatetap bertanggungjawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.
Selanjutnya untuk menjawab permasalahan ketiga dalam penelitian ini, yaitu terkait dengan akibat hukum dari buku aftar akkta Notaris yang tidak ditandatangani dan diparaf kepada Majelis pengawas daerah, penulis mengaitkan teori tanggungjawab dengan permasalahan ketiga. Notaris yang memiliki kewajiban untuk membuat Buku daftar akta Notaris dan wajib untuk menandatangani dan memparaf buku daftar akta tersebut kepada Majelis pengawas Daerah. Akibat dari tidak ditandatangani dan diparaf buku daftar akta tersebut kepada Majelis pengawas daerah sehingga mengakibatkan timbulnya akibat hukum terhadap Notaris, dan notaris yang melakukan pelanggaran harus bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukian oleh notaris tersebut dengan tidak melakukan pemberian paraf dan penandatanganan buku daftar akta Notaris kepada Majelis pengawas Daerah. Sanksi yang diberikan kepada Notaris diatur dalam pasal 65A Undang-undang nomor 2 tahun 2014 perubahan atas undang- undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris.
23 2. Konsepsi
Konsep adalah bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatudari abstrack menjadi konkrit, yang disebut dengan Operational Definition,30 Dari Analisis Yuridis akibat dari daftar akta yang tidak didsahkan oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah, sehingga perlu dibuat defenisi konseptual tersebut agar makna variabel yang ditetapkan dalam topik ini tidak menimbulkan multitafsir dan terjadinya perbedaan penafsiran ( dissenting Opinion).
a. Buku daftar Akta adalah Pelaporan tiap bulannya oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah sesuai dengan daerah Kerja Notaris.31
b. Notaris Menurut pasal 1 ayat 1 UUJN, Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud Undang-undang ini. Menurut Sutrisno,pasal 1 UUJN tersebut merupakan pegertian mengenai notaris secara umum, untuk defenisi apa itu Notaris, diuraikan lebih lanjut di dalam pasal 15 ayat (1) UUJN. Jadi bila digabung pasal 1 angka 1 dengan pasal 15 ayat (1), terciptalah defenisi Notaris, yaitu. 32
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik,mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturang perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan,untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian
30Samadi Surya Barata,Metodologi Penelitian,Raja Grafindo,jakarta,2008,hlm.28.
31 http://www.google.co.id/amp/s/adityapatria.wordpress.com/20014/06/01/administrasi-dasar-kantor-notaris-beberapa-istilah-dasar-for-dummies/amp/diakses pada tanggal.16.04.2018.
32Sutrisno, Diklat kuliah tentang Komentar atas undang-undang Jabatan Notaris,Buku 1,Medan,2007,hlm,117.
24
tanggal pembuatan akta, memberikan grosse,salinan, dan kutipan akta,semuanya sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lainatau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-undang.
c. Majelis Pengawas Daerah ( MPD)
Majelis Pengawas adalah suatu badan pemerintahan yang dibentuk oleh Kementrian Hukum Dan Hak Asasi Manusia yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap notaris.